Tahun Ajaran Baru “Melangkah dengan Iman”

Oleh: Bella Kumalasari, Staf Karakter – PK3

Mengakhiri dan memasuki tahun ajaran baru dengan situasi bekerja dan belajar dari rumah tentu bukan menjadi kebiasaan kita. Situasi ini terasa asing, mungkin aneh. Di satu sisi, suasana belajar dari rumah bisa terasa nyaman, tetapi di sisi lain juga menyedihkan dan membawa gejolak di dalam hati.

Pandemi Covid-19 seolah membawa kita masuk ke dalam ketidakpastian yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mudahnya konektivitas global melalui internet, dan hadirnya artificial intelligent, kita justru dihadapkan dengan ‘musuh’ yang bahkan tidak bisa kita lihat. Virus yang sangat kecil ini memorakporandakan seluruh rencana yang mungkin sudah kita susun sejak awal tahun atau bahkan tahun lalu.

Beberapa rencana yang telah disusun sejak lama seperti liburan atau bertemu dengan keluarga di kampung halaman terpaksa harus ditunda. Sementara itu, kebijakan-kebijakan pemerintah yang terus diperbarui membuat sebagian masyarakat kebingungan, tetapi rasanya tidak kunjung menjawab persoalan. Ajakan untuk hidup di ‘normal’ yang baru sudah dicanangkan dengan gamblang. Namun, apakah semudah itu menjalaninya?

Dapat dikatakan bahwa pandemi ini menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Mungkin kita mulai meragukan Allah, jiwa kita lelah dan terkuras, atau kita sangat khawatir dan mulai bertanya, “Sampai kapan kita akan bertahan?” Namun, alih-alih menjadi semakin terpuruk karena kondisi ini (atau kondisi lainnya kalaupun bukan virus corona), mari kita datang kepada Allah, Sang Batu Karang yang teguh.

Allah Berdaulat dalam Setiap Tahun Ajaran Baru

Allah adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu—termasuk dalam kesulitan yang kita anggap pahit. Ia mengizinkan segala sesuatu terjadi dalam kendali-Nya, bukan karena Ia gemar melihat manusia menderita, melainkan karena hikmat-Nya yang sempurna dan kasih-Nya yang tidak berubah. Allah tidak bertindak secara plin-plan. Ia tidak dikuasai oleh kebingungan atau perubahan. Dalam segala penderitaan, penyakit, bencana, atau krisis, Tuhan tetap memegang kendali. Justru karena kita tidak mampu memahami-Nya sepenuhnya, maka Ia layak dipercaya.

John Piper (2020) menyampaikan bahwa, “Kedaulatan yang memerintah atas penyakit adalah juga kedaulatan yang menopang dalam masa kehilangan. Kedaulatan yang mencabut nyawa adalah kedaulan yang juga mampu menaklukkan maut dan membawa orang-orang percaya ke surga dan kepada Kristus. Kedaulatan yang dapat menghentikan wabah virus corona. Meski sekarang tidak melakukannya, adalah kekuatan yang sama yang memelihara jiwa-jiwa yang sekarang ada di dalamnya”.

Kita mungkin tidak memahami jalan pikiran-Nya. Namun, firman-Nya mengajarkan bahwa tidak seekor burung pipit pun jatuh tanpa izin-Nya. Bahkan rambut di kepala kita pun terhitung. Maka, kita dapat yakin bahwa tidak ada virus pun hadir tanpa sepengetahuan-Nya. Kabar baiknya, kita jauh lebih berharga dibanding banyak burung pipit (Mat. 10:29–31).


Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Juni – Juli Tahun 2020

Allah yang Mengasihi Kita

Lebih dari sekadar berdaulat, Allah juga adalah Pribadi yang mengasihi kita. Roma 8:32 menyatakan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakan mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Kerelaan Allah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal telah membuktikan kasih-Nya kepada kita sekaligus menegaskan betapa Ia akan memakai seluruh kedaulatan-Nya untuk “mengaruniakan segala sesuatu kepada kita”. Ya, segala sesuatu, termasuk ketika “… kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari …” (Roma 8:36) demi kemuliaan-Nya—entahkah membawa kita melewati bahaya maut ini dengan selamat ataupun seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat selanjutnya, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Keberadaan Allah yang berdaulat sekaligus mengasihi saya membuat kita dapat melangkah dengan yakin bahwa ada tangan yang memegang hidup kita dengan sempurna meskipun kita tidak dapat melihat berpuluh-puluh langkah ke depan. Kedaulatan-Nya dalam menciptakan dunia ini, kasih-Nya dalam kisah penebusan di kayu salib dan kubur yang kosong, tidak berhenti sebagai kisah klasik beribu-ribu tahun yang lalu ataupun suatu kisah “dongeng” yang indah dalam kekekalan kelak. Ia ada saat ini, di sisi Anda dan saya, terlibat dan menentukan ini dan itu dalam setiap detik kehidupan kita, “… supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia” (1 Tes. 5:10).


Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menghidupi Tahun Ajaran Baru dalam Rengkuhan Kasih-Nya

Di tengah semua perubahan, marilah kita menyambut tahun ajaran baru dengan iman yang diperbarui. Kita memiliki Tuhan yang tidak pernah keliru dan senantiasa menyertai. Kedaulatan dan kasih-Nya bukanlah teori, melainkan kenyataan yang bisa kita alami setiap hari.

Mari mengarahkan hati kepada-Nya. Selamat memulai tahun ajaran baru di dalam rengkuhan kasih dan kedaulatan-Nya yang tak pernah berubah.

*Artikel ini merupakan sebuah refleksi dari beberapa referensi buku dan webinar, meliputi Coronavirus and Christ (John Piper, 2020), Where Is God in A Coronavirus World? (John Lennox, 2020), serta webinar apologetika mengenai kejahatan dan penderitaan oleh Bedjo Lie, M.Th.

Posted in Kisah Inspiratif and tagged , .