Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Griceline Ruth – Alumni Angkatan III SMA Athalia

Hai, salam kenal. Nama saya Griceline Ruth. Saya adalah alumni SMA Athalia angkatan III, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini saya bekerja sebagai pramugari di Singapore Airlines. Sebenarnya, saya tidak pernah menyangka kalau suatu hari saya akan bekerja sebagai seorang pramugari.

Semua berasal dari rasa penasaran saya tentang bagaimana rasanya tinggal di luar negeri, dan belajar hidup mandiri serta terekspos dengan budaya di luar Indonesia. Banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang pramugari. Kesiapan mental, kemampuan bahasa, penampilan fisik, dan sebagainya. Terkadang tantangan terberat justru datang dari diri saya sendiri. Misalnya, saat saya akan menjalani proses wawancara. Berbagai pertanyaan “bagaimana jika” terlintas begitu saja di pikiran saya.
Bagaimana jika gagal di tahap terakhir, bahkan di tahap awal?
Bagaimana jika saya tiba-tiba gugup dan tidak bisa menjawab?
Puji Tuhan, dengan persiapan yang baik serta kerendahan hati untuk meminta pertolongan-Nya dalam setiap langkah, saya bisa melewati tahap tersebut.

Bila saya ingat kembali, pendidikan karakter yang saya dapatkan ketika bersekolah di Athalia ternyata menolong saya melewati setiap tahap perjalanan karier sebagai seorang pramugari. Saat di sekolah, saya dan teman-teman yang lain selalu diingatkan untuk berdoa sebelum melakukan segala sesuatu. Tidak hanya itu, kami juga berdoa sebelum kelas dimulai, sesudah kelas berakhir, dan juga dalam kegiatan chapel yang diadakan setiap minggu.

Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat ketika saya menjalani proses training. Saat itu saya sedang menjalani tes final flight stewardess, mulai dari safety sampai service procedure. Rangkaian tes ini akan menentukan apakah seseorang sudah layak atau belum untuk bertugas. Jujur, saya sangat tegang dan sulit untuk berkonsentrasi.

penyertaan Tuhan

Tuhan Bekerja dan Penyertaan-Nya Selalu Ada Melalui Orang-Orang di Sekitar Kita

Sebelum tes dimulai saya berdoa di toilet agar diberikan kekuatan, ketenangan, dan penyertaan Tuhan dalam menjalani tes. Namun, entah mengapa tiba-tiba saya merasa ada dorongan dari dalam diri yang menginginkan agar saya juga bisa menjadi berkat bagi teman-teman yang sedang menjalani tes tersebut. Saat tes dimulai, teman saya mendapat giliran pertama. Saya berperan sebagai penumpang yang dilayani, dan dia berperan sebagai pramugari.

Saat sesi “serving the meal” karena tegang, dia melupakan nama menu yang sedang diuji, dan saya dilarang untuk memberitahukannya. Saya pun tersenyum padanya sambil berharap senyuman tersebut bisa membantu dia untuk lebih rileks. Tiba-tiba dia menjadi tenang dan bisa menyelesaikan ujiannya dengan lancar. Kurang dari lima menit sebelum saya diuji, teman saya datang dan berkata bahwa dia sangat bersyukur karena entah mengapa, senyum yang saya berikan membuat dia bisa rileks sehingga dapat menyelesaikan ujiannya dengan baik. Kata-kata tersebut adalah booster yang saya perlukan di saat yang tepat. Semua ketegangan yang saya rasakan hilang 100%.

Proses ujian berjalan lancar, bahkan hasilnya sungguh di luar ekspektasi saya. Penyertaan Tuhan ada. Ia menjawab doa saya dan memberi kekuatan tepat pada waktunya in a very surprising way. I know it was Him. Kejadian yang saya alami ini menunjukkan bahwa ketika kita mengakui Dia dalam segala jalan, Dia akan membantu meluruskan dan memberi kita petunjuk jalan mana yang perlu dipilih.

Trust God from the bottom of your heart; don’t try to figure out everything on your own. Listen for God’s voice in everything you do, everywhere you go; He’s the one who will keep you on track (Proverbs 3:5-6)

Terima kasih Tuhan Yesus.

Setiap dari kita punya cerita tentang bagaimana Tuhan menyertai diri kita di waktu yang tak terduga. Apa momen penyertaan Tuhan yang paling berkesan dalam hidupmu?

Baca juga: Tuhan Besertaku Setiap Waktu

Mengasihi Orang yang Menyakitimu? Ternyata Bisa, Lho!

Oleh: Natalia A. – Staf Karakter (PK3)

Mengasihi orang yang mengasihi kita tentu bukan hal yang sulit. Namun, bagaimana jika orang yang seharusnya mengasihi kita malah menyakiti kita? Dapatkah kita mengasihi mereka? Kata mengasihi yang awalnya terdengar manis bisa menjadi tawar bahkan pahit.

Meskipun begitu, sebagai orang yang telah menerima kasih Kristus bahkan di saat masih menjadi seteru Allah, kita dimampukan untuk mengasihi di luar standar dunia. Bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi salah satu rekan kita ini sudah mengalami proses untuk mengasihi di saat sulit, loh. Siapakah dia dan bagaimanakah kisahnya?

Mengasihi dalam Luka – Kisah Tirza Naftali, M.B.A.

Halo, saya Ibu Tirza yang saat ini melayani di Chaplain (Character and Parenting Learning Institute). Saya pernah mengalami masa-masa disakiti oleh orang yang seharusnya mengasihi saya. Namun, Tuhan beranugerah menolong dan membentuk saya hingga mampu mengasihi dengan cara yang tidak saya bayangkan sebelumnya.

“Saya berasal dari keluarga hamba Tuhan, tetapi seperti tidak ada Tuhan di dalam rumah kami. Setiap hari, Mama dan Papa berdebat tanpa alasan yang saya mengerti. Sering kali Mama menghujani Papa dengan kata-kata hinaan dan juga mengeluarkan kata-kata kasar kepada kami berdua. Waktu itu, rumah tidak menjadi tempat yang aman untuk pulang. Seperti tiada hari tanpa mendengar Mama dan Papa ribut, saya pun sering kali ribut dengan Mama.

Seiring waktu, hal ini menjadikan saya mengalami cherophobia (ketakutan yang berlebihan akan perasaan bahagia). Saya merasa bahwa setiap kebahagiaan hanya akan diikuti oleh masalah baru. Ketika rumah sedang dalam keadaan tenang, misalnya, yang muncul di pikiran saya adalah ‘pasti setelah ini akan ada masalah baru yang muncul’.

Tekanan pun bertambah. Sebagai anak tunggal, saya dituntut untuk berprestasi dan menjadi sukses secara finansial di kemudian hari. Keinginan untuk menempuh sekolah teologi ditolak oleh mama karena mereka berpikir ketika saya menjadi hamba Tuhan, saya akan hidup “miskin”. Hal tersebut membentuk pandangan saya bahwa mama hanya ingin menjadikan saya sebagai ‘ATM’ di masa tuanya.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Maret 2024

Perjuangan Mengasihi di Tengah Kepahitan

Kejadian yang paling mengerikan bagi saya adalah ketika saya masih duduk di kelas 1 SMP. Kami tinggal di pastori gereja dan di malam itu mama dan papa bertengkar hebat. Tidak tahan dengan kecurigaan mama yang tidak berdasar, papa membawa segala macam obat asma yang dimilikinya dan mengurung dirinya di ruang pastori.

Dalam pikiran saya, papa nekat mau mengakhiri hidupnya. Saya pun menggedor-gedor pintu sambil menangis dan berteriak ‘Pa.. jangan.. buka Pa…’ Tidak ada jawaban, saya hanya melihat dari lubang pintu papa sedang mengeluarkan beberapa obat di tangannya. Saya kembali berteriak dan menangis. Di saat itu saya berkata dalam hati ‘Saat besar nanti saya harus menyingkirkan mama dari hidup saya dan papa’. Satu jam berlalu, akhirnya papa keluar dari kamarnya tanpa berkata apa pun. Saya lega masih melihat papa.

Waktu berlalu, papa sempat masuk rumah sakit. Saya meminta papa untuk menceraikan mama, tetapi papa menjawab ‘Papa sudah berjanji kepada Tuhan untuk mengasihi Mama dalam kondisi baik, buruk, sehat atau sakit’. Saat itu saya seperti menemukan oase. Saya memohon pengampunan Tuhan, tetapi saya belum bisa benar-benar memaafkan mama. Pemahaman saya terhadap Tuhan pada saat itu pun tidak benar. Menurut saya melayani Tuhan merupakan bentuk dari menyogok Tuhan agar memaafkan dan menerima saya.

Baca Juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Kasih yang Memulihkan Luka

Saya menikah dalam kondisi emosi yang tidak stabil dan masih merasa kosong. Hal ini membuat saya secara tidak sadar sering menuntut suami dan membentak anak saya secara berlebihan. Tak lama setelah papa dipanggil Tuhan, saya putus hubungan dengan mama. Saya merasa aman, tetapi rasa kekosongan itu makin besar.

Pencerahan datang melalui sebuah webinar yang dibawakan oleh Ibu Charlotte tentang luka masa lalu. Saya disadarkan bahwa sebelumnya, saya tidak pernah membiarkan Tuhan mengasihi dan mengobati luka saya yang semakin besar. Seusai momen itu, entah dari mana asalnya, saya merasakan damai yang berlimpah. Saya mencoba menghubungi mama kembali. Jauh dari perkiraan, saya dan mama saling meminta maaf dan memaafkan, Mama banyak menceritakan tentang masa lalunya, dan kami berproses untuk sembuh bersama.

Penerimaan dan belas kasih-Nya yang tanpa syarat itu yang memulihkan pengenalan saya akan Tuhan. Hal ini juga menolong saya untuk berelasi dengan mama dalam belas kasih, alih-alih penghakiman. Saya bersyukur Tuhan memberikan saya seorang suami dan juga komunitas Athalia yang mau mendengar, mendoakan, dan membangun. Ternyata semua orang berproses dan memiliki “cacat”-nya masing-masing. Justru cacat itu hadir agar kita tetap datang dan memohon belas kasih Tuhan tanpa ragu.”

Kasih Allah dan penerimaan-Nya yang utuh membuat kita mengalami anugerah kebaikan-Nya. Dia menerima kita dengan segala keburukan yang ada, bergumul bersama kita, dan menjadikan kita lebih baik. Sebelum kita mengalami kasih-Nya, kita tidak akan mampu mengasihi orang lain, bahkan mengasihi diri pun kita tidak mampu. – Charlotte Priatna

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13)

Pengalaman Sebagai Panitia Mengajarkan Menghargai Hal-Hal Kecil

Oleh: Galvin Farrel N. U. – Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023

Perkenalkan nama saya Galvin Farrel Nathanael Ulag. Saya diminta untuk menjadi Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023. Puji Tuhan, Athalia Cup akhirnya dapat dilaksanakan kembali setelah vakum kurang lebih 4 tahun. Sebenarnya, apa Athalia Cup itu? Athalia Cup adalah ajang perlombaan olahraga antar sekolah yang diselenggarakan oleh Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Tahun ini terdapat dua cabang olahraga yang diadakan, yaitu futsal dan basket. Tujuan dari Athalia Cup adalah untuk mengembangkan potensi diri secara khusus dalam bidang olahraga dan mempererat hubungan antar sekolah.

Pengalaman sebagai Panitia

Tentunya banyak sekali pengalaman yang saya peroleh sebagai panitia Athalia Cup 2023. Posisi sebagai Koordinator Bidang Pertandingan adalah salah satu posisi yang sangat penting perannya dalam Athalia Cup. Namun, tidak ada keraguan dalam hati saya saat menerima tawaran posisi tersebut. Saya berkomitmen akan bekerja keras untuk kelancaran jalannya Athalia Cup. Berada di posisi ini memberi saya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatur sebuah acara yang cukup besar dengan rapi dan memperhatikan detail-detail kecil supaya acara dapat berjalan dengan lancar. Ini tidak mudah bagi saya karena saya bukanlah orang yang rapi dalam bertugas dan memperhatikan detail-detail kecil.

Proses persiapan Athalia Cup benar-benar membentuk saya untuk memperhatikan detail-detail pekerjaan sekecil apapun. Jika ada detail yang terlewat pasti akan berdampak untuk saya sebagai Koordinator Bidang, bahkan berdampak untuk bidang lain yang bekerja sama dengan bidang pertandingan. Dari awal sampai akhir, guru pendamping selalu mengingatkan kami untuk membuat laporan pencatatan dengan detail. Pernah beberapa kali saya tidak mencatat dengan detail perlengkapan yang digunakan table Athalia Cup. Ketika saya ditanya guru pendamping, saya kesulitan untuk menjawab karena tidak mencatat dengan detail. Belajar dari pengalaman tersebut, saya membiasakan diri mencatat dengan detail setiap hasil pembahasan atau tugas bidang. Catatan yang detail ini membuat saya lebih siap ketika mendapat pertanyaan dari orang lain terkait dengan bidang pertandingan. Saya bisa menjawab dengan lancar karena apa yang saya tulis dengan detail, sangat membantu ketika ditanyakan mengenai bidang yang saya pegang.

Puji Tuhan, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini karena pengalaman yang berharga ini sangat berguna untuk masa depan saya, saat bersekolah, kuliah, dan bekerja. Melalui penyertaan Tuhan, saya belajar menjadi seorang pemimpin yang detail sehingga dapat mengarahkan pertandingan selama satu minggu dengan baik dan terstruktur.

Mundur Selangkah untuk Maju Lima Langkah: Seni Adaptasi

Oleh: Join Silaban – Guru Bahasa Indonesia SMA

Setiap orang menginginkan rencana mereka berjalan sesuai ekspektasi. Namun, ketika realita tidak sejalan, perasaan kecewa dan frustrasi bisa muncul. Akhirnya, situasi yang tidak sesuai ekspektasi itu mungkin akan mencuri damai sejahtera kita dan bisa berakibat fatal hingga depresi.

Namun, kali ini saya harus belajar menerima kenyataan yang tidak sesuai rencana saya. Saya memilih untuk mundur sejenak, mengevaluasi aspek yang perlu diperbaiki, dan berani berinovasi meski ada risiko yang harus saya hadapi. Semua ini saya lakukan dengan tujuan agar dapat melangkah lebih jauh, tidak hanya lima tetapi bahkan sepuluh langkah ke depan.

Hal ini saya alami ketika berhadapan dengan situasi pandemi dan harus beradaptasi dengan sistem belajar online di kelas 10 IPA dan IPS TA 2021/2022.

seni adaptasi

Menguji Fleksibilitas dalam Pembelajaran Online

Kala itu tepat hari Rabu. Saya siap mengajar di kelas 10 IPS 1 di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong. Sebelumnya, saya sering mendengar keluhan dari rekan guru tentang siswa yang enggan untuk on camera atau merespons selama pembelajaran daring. Masalah ini menjadi diskusi harian di ruang guru.

“Selamat pagi, Nak! Silakan On Camera!” Saya menyapa kelas dengan penuh semangat. Namun, semangat saya berbanding terbalik dengan suasana kelas online saat itu. Saya seperti berada di kuburan. Dari 24 siswa yang terdaftar di kolom partisipan, hanya ada lima orang yang mengaktifkan kamera, itu pun harus menunggu sekitar lima menit. Lalu satu-satu menyusul sampai akhirnya ada delapan orang.

Sekali lagi, saya sapa mereka. Sahutan “Selamat pagi, Bu!” sayup-sayup terdengar dari salah seorang yang mengaktifkan kamera. Namanya Lola. Lola ini saya percayakan sebagai PIC atau penanggung jawab mata pelajaran di kelas tersebut. Sejenak timbul di pikiran, “Apa mungkin Lola enggan tidak menjawab sapaan saya karena Lola adalah PIC saya?” Saat itu, saya merasa mati gaya.

Sepertinya, saya tidak siap melanjutkan pembelajaran. Namun, saya berpegang pada prinsip lebih baik mundur satu langkah untuk mencapai lima langkah ke depan. Saya memilih berdiam satu menit untuk memikirkan strategi yang dapat membangkitkan semangat kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih merdeka. Dalam momen itu, saya mencoba memahami kondisi para siswa. Saya melihat wajah-wajah mereka di layar laptop—terkurung di ruangan yang sama setiap hari, dengan ruang gerak terbatas akibat kebijakan PPKM darurat level 4. Mereka tidak hanya terjebak secara fisik, tetapi mungkin juga secara mental dan emosional. Apakah mereka merasa jenuh? Lelah? Atau mungkin sedang menghadapi tekanan dari keluarga? Saya menyadari bahwa sebelum menuntut mereka untuk lebih aktif dalam pembelajaran, saya perlu lebih dulu memahami dan berempati terhadap kondisi mereka.

Baca juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Adaptasi Strategi Baru: Mengubah Metode, Membangun Keterlibatan

Saya menyadari bahwa pendekatan yang terlalu kaku tidak akan efektif dalam situasi ini. Oleh karena itu, saya mengganti strategi. Alih-alih menekan mereka untuk on camera, saya memberi tugas sederhana. Saya meminta mereka mengambil barang favorit di ruangan mereka, serta mencari benda berbentuk segitiga dan lingkaran dari luar ruangan. Saya beri mereka waktu lima menit untuk mencari sebelum nantinya ditunjukkan kepada teman-teman mereka.

Kegiatan ini bermaksud supaya mereka sedikit bergerak dari tempat duduk ataupun ruangan mereka. Setidaknya menepis sedikit gelar untuk anak-anak zaman pandemi, “para kaum rebahan”. Alhasil, mereka refleks mengaktifkan kameranya dan beradu untuk memencet tombol reaksi “raise hand” di fitur google meet yang sedang kami gunakan. Semuanya mengaktifkan kamera.

Ini, Bu. Saya suka bantal, saya suka HP, saya suka biola, saya suka gitar.”

Antusiasme mereka dalam merespons seketika memecahkan keheningan yang ada. Mereka beradu-adu sambil memandangi apa yang dipegang teman-temannya. Hmmm, ternyata seni memberi instruksi juga sangat diperlukan.

Setelah saya menyaksikan api semangat itu ada di wajah mereka, saya berani menyampaikan kegiatan pembelajaran. Mereka akan melaporkan secara live informasi selama PPKM darurat yang telah berlangsung sejak 3 Juli kemarin sampai sekarang. Pertemuan kali ini saya rencanakan untuk mengambil penilaian. Namun, setelah melihat suasana kelas, saya tiba-tiba ada ide untuk mengubah strategi tersebut. Saya sampaikan ke mereka adaptasi rencana tersebut.

Awalnya laporan hasil observasi ditampilkan dengan satu tipe, kini bervariatif, berdiferensiasi. Ada yang menampilkan dalam bentuk pantun, talk show, lagu, presenter, infografis, bermain peran, pun musikalisasi puisi. Alhasil, performa mereka di luar ekspektasi saya. Sebelum waktu yang ditentukan, raise hand bertubi-tubi dan teman-teman sekelas menyaksikan penampilan mereka dengan haru dan penuh apresiasi. Emotikon tepuk tangan di layar menandakan mereka sangat menikmati penampilan temannya. Kami sama-sama bahagia. Inikah yang dinamakan merdeka belajar?

Baca Juga : Membangun Ketahanan Diri pada Anak sejak Dini

Fleksibilitas: Kunci Adaptasi dan Perkembangan

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa dalam situasi yang tidak sesuai harapan, adaptasi adalah kunci. Terkadang, mundur selangkah untuk mengevaluasi dan menyesuaikan strategi bisa membawa kita lebih maju di kemudian hari. Kita perlu siap mengubah strategi, keluar dari zona nyaman, dan terlebih belajar tunduk untuk pengendalian Tuhan bahwa semuanya tidak harus berjalan sesuai rencana kita.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan adaptasi dalam menghadapi tantangan?

Catatan: 
Tulisan ini sudah dimuat dalam buku yang berjudul “Mundur Selangkah Maju Lima Langkah, Sebuah Seni Mengubah Mindset Pecundang Menjadi Pemenang”. Penyunting, J. Sumardianta. Maret 2023. Hal. 96.

Harapan Baru, Awal yang Lebih Baik untuk Masa Depan

Oleh: Yanny Kusumawaty – Orang tua siswa X MIPA 2

Sebuah kapal besar dapat bersandar dengan baik di pelabuhan jika memiliki jangkar yang kuat. Jangkar akan menjaga kapal tersebut tetap stabil dan tidak terombang-ambing. Dalam Ibrani 6:19 dikatakan “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.”

Ayat ini adalah janji firman Tuhan bagi kita semua. Ketika kita memiliki pengharapan hanya pada Tuhan, maka jangkar hidup kita akan kuat. Pengharapan kita tidak akan goyah karena telah dilabukan sampai ke belakang tabir, yaitu di tempat Allah Bapa kita.

Baca Juga : Keluarga yang Bersyukur

Harapan Baru Dimulai dari Langkah Iman

Berawal dari suatu hal baru yang Tuhan letakkan di hati kami di tahun 2018, di mana kami merasa bahwa kami perlu renovasi rumah. Bukan untuk bergaya, tetapi karena kondisi bangunan rumah sudah di atas 10 tahun. Banyak bagian yang perlu diperbaiki agar lebih layak. Selain itu, rumah kami hanya memiliki dua kamar, sementara anak kami ada dua dengan gender berbeda. Belum lagi setiap Jumat, rumah kami ada persekutuan komunitas sel group. Jadi rasanya alasan untuk kami merenovasi rumah, sangat kuat. Kami sekeluarga mulai doakan hal ini sambil menabung. Kami letakkan harapan kami pada Tuhan. 

Pada tahun 2020, dunia mengalami perubahan besar dengan datangnya pandemi COVID-19. Suatu kondisi yang sangat baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Banyak orang mengalami kesulitan ekonomi dan rencana kami seolah harus ditunda. Namun, di tengah situasi sulit ini, Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga. Rumah orang tua saya yang diwariskan kepada kami 4 bersaudara tiba-tiba mendapatkan pembeli. Padahal, rumah ini sudah dipasarkan sejak tahun 2015, tetapi tidak pernah ada kesepakatan harga. Prosesnya tidak langsung berjalan lancar. Ada banyak kendala, mulai dari dokumentasi, pajak, hingga proses KPR di bank. Saat itu, pengharapan kami pasang surut. Kami sering bertanya-tanya, “Apakah rumah ini benar-benar akan terjual?”

Namun, di akhir tahun 2020, tepat di hari terakhir tutup buku bank, rumah tersebut akhirnya terjual dengan harga yang kami harapkan. Kami melihat bagaimana Tuhan membuka jalan bagi keluarga kami untuk mewujudkan harapan baru dalam merenovasi rumah.

Penyertaan Tuhan tidak sampai di situ. Kami dipertemukan dengan arsitek yang tidak hanya pintar, tetapi juga mau mendengar kebutuhan kami. Ia menggandeng kontraktor yang baik dan dapat dipercaya. Meski proses renovasi dilakukan di tengah pandemi, semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Tuhan juga menyediakan tempat tinggal sementara dengan harga yang terjangkau. Kami bisa menempatinya selama proses renovasi berlangsung. Semua kebutuhan terasa seperti telah disiapkan dengan sempurna.

Menaruh Harapan Sepenuhnya pada Tuhan

Akhirnya, pada akhir Oktober 2021, proses renovasi selesai tepat waktu. Dana yang kami miliki juga sangat cukup, hanya ada sedikit pinjaman yang kini hampir lunas. Saya bersyukur atas setiap proses ini. Saya melihat bagaimana Tuhan bertanggung jawab penuh atas apa yang telah Ia mulai dengan tidak membiarkan saya terombang-ambing tidak tentu arah.

Kini, kami menikmati rumah yang telah direnovasi dengan nyaman. Semua ini adalah bukti bahwa Tuhan setia dan berkuasa. Ia tidak membiarkan kami terombang-ambing dalam ketidakpastian, karena kami memilih untuk menaruh harapan kepada-Nya.

Tidak mudah dalam melabuhkan pengharapan pada Tuhan, karena natur kita sebagai manusia pastinya menggunakan hal yang bisa dipikirkan oleh logika dan akal kita.  Sedangkan bentuk pengharapan umumnya adalah abstrak, sesuatu yang tidak terlihat, tidak nampak, hanya BERHARAP… 

Namun kembali lagi, jika Tuhan yang menaruhkan suatu yang baru dalam hidup kita untuk kita menaruhkan harapan kita pada Tuhan, percayalah, Dialah jangkar yang kuat dan sempurna, yang sangat aman bagi jiwa kita. 

Allah Yang Maha Kuasa

Saya percaya Tuhanku Maha Kuasa. Dia sanggup melakukan apa pun yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia. —Susiana, Orang Tua Siswa.

Selama empat hari pertama di HICU, Ariel berada dalam kondisi kritis. Empat hari itu pula, hati saya menangis melihat banyak selang di tubuh Ariel. Warna tubuhnya juga berubah menjadi kuning pekat sebagai efek dari sakit paru-paru yang sudah merembet ke hati. Sebagai seorang ibu, saya hanya bisa terus memohon belas kasihan Tuhan karena hanya Dia yang sanggup menyembuhkan Ariel. Saya berdoa agar dokter dan obat-obatan menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk menolong Ariel kembali pulih.

Selama Ariel dirawat di HICU, ada sesuatu yang membuat saya heran. Setiap kali makan, anak saya minta disuapi oleh papanya. Padahal, biasanya dia lebih dekat denganku. Saya melihat mereka bisa mengobrol, bercanda, dan berdoa bersama meskipun Ariel masih kesulitan bicara karena sesak napas.

Baca Juga : Harapan Baru, Awal yang Lebih Baik untuk Masa Depan

Allah Yang Maha Kuasa

Pemulihan Hati dan Tubuh oleh Allah yang Maha Kuasa

Hari keenam Ariel dirawat di HICU menjadi titik balik bagi kami. Saat itu, ia yang justru mengajak kami berdoa bersama. Saya dan suami sangat kaget sekaligus terharu. Biasanya kami yang mengajaknya berdoa. Tapi kali ini, dia yang memimpin. Ariel memegang tangan saya dan suami, kemudian menyatukannya. Dengan suara tersengal-sengal karena sesak napas, dia mulai berdoa. “Tuhan, Ariel percaya bahwa sakit ini bukan untuk membuat Ariel menderita, tapi Tuhan mau membuat keluarga Ariel lebih baik lagi.

Doa itu membuat saya dan suami kaget. Kami berdua menangis. Seketika itu pula, saya merasa Tuhan membukakan mata dan hati saya sambil berkata, “Inilah Aku yang penuh kuasa.” Saya tidak bisa berkata-kata selain mengucap syukur di dalam hati. Tuhan sudah menjamah hati anak saya sedemikian rupa hingga dalam kondisi sakit pun dia bisa melihat rencana indah yang Tuhan siapkan untuk keluarga kami.

Selama sakit sampai harus dirawat di HICU, Ariel menjalani semua rangkaian pengobatan tanpa mengeluh. Namun, saya tidak pernah menyangka, anak saya punya pemikiran seperti dalam doanya itu. Tuhan sungguh menjamah dia!

Setelah melalui berbagai proses, akhirnya kondisi Ariel membaik sehingga dipindahkan ke kamar biasa. Setelah dirawat selama hampir satu bulan di rumah sakit, akhirnya dia diizinkan pulang! Sejak saat itu, Ariel menjadi lebih dekat dengan kami, terlebih papanya. Lagi-lagi, saya diingatkan bahwa Allah yang Maha Kuasa bisa memakai peristiwa apa pun untuk membuat hubungan ayah dan anak menjadi lebih dekat. Saya percaya, semua rancangan-Nya indah karena Ia sangat mengasihi kita.

Allah yang Berdaulat

Oleh: Yanny Kusumawaty

Allah yang Berdaulat dalam Kisah Alkitab

“… dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.” (2 Tawarikh 20: 6)

Di 2 Tawarikh 20 dikisahkan tentang Yosafat yang menerima kabar bahwa bani Moab dan bani Amon datang untuk berperang melawannya. Singkat cerita, Yosafat mengalami kemenangan dalam peperangan karena ada kedaulatan Allah atas kemenangan tersebut! Lewat kisah itu dan dengan melihat realitas kehidupan sehari-hari, kita jadi tahu bahwa pernyataan tentang kedaulatan Allah tidak selalu berarti kehidupan seseorang selalu lancar dan baik-baik saja. Justru, kedaulatan Allah akan semakin nyata ketika kita berada dalam kondisi yang kurang nyaman, seperti mengalami kekalahan atau sakit.

Kedaulatan Allah dalam Hidup Saya

Tentang kedaulatan Allah, saya ingin sharing sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 September 2021, saya menerima kabar bahwa kakak mengalami pendarahan otak dan dalam kondisi koma. Saya sangat terkejut karena tidak pernah mendengar cerita kalau Cece—panggilan saya untuk kakak—mengidap penyakit apa pun.

Singkat cerita, saya berangkat ke Surabaya untuk menengok Cece yang dirawat di HCU. Saat itu, saya menyerahkan seluruh harapan untuk kesembuhan Cece kepada Tuhan sambil memohon belas kasih-Nya. Selama 11 hari Cece dalam keadaan koma. Hingga akhirnya pada hari Senin, 11 Oktober 2021, Tuhan memanggil Cece pulang ke rumah Bapa.

Saya dilanda kesedihan yang luar biasa, melebihi ketika kehilangan papa dan mama. Harapan saya untuk kesembuhan Cece tidak terwujud. Pikiran saya mulai dipenuhi oleh pertanyaan: mengapa Cece harus pulang ke rumah Bapa secepat ini? Apakah saya tidak tahu tentang kedaulatan Tuhan? Saya sangat tahu, tetapi secara manusia, saya terus meronta dan mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa. Rasanya, saya tidak terima Cece pergi begitu cepat!

Menerima Kedaulatan Allah

Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti mempertanyakan hal tersebut karena menyadari bahwa ketika membiarkan pertanyaan itu terus menguasai diri, lama-kelamaan saya bisa jadi tidak mengakui kedaulatan Tuhan. Saya mulai mengganti pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu dengan mengingat janji Tuhan di Mazmur 23: 4—Tuhan berjanji selalu menyertai, bahkan ketika kita berada di lembah kekelaman sekalipun!

Saya juga disadarkan bahwa kepergian Cece membuat saya merasakan kehadiran banyak orang yang begitu peduli dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menguatkan dan menghibur saya. Mereka melakukannya tanpa kata-kata penghiburan yang klise, tetapi tindakan nyata, yang saya maknai sebagai bagian dari penyertaan Tuhan. Saya tidak sendirian! Bukankah itu hal yang luar biasa? Imanuel!

Apakah setelah itu kesedihan di dalam hati menjadi hilang? Tidak, tetapi saya diingatkan bahwa selalu ada penyertaan Tuhan dalam hidup kita! Kedaulatan-Nya bukan digunakan secara semena-mena dan kejam terhadap manusia, karena semua yang ada di dalam hati dan pikiran Allah adalah kasih. Dalam keterbatasan manusia untuk memahami kedaulatan-Nya, yang kadang tidak menyenangkan dan tidak nyaman buat kita, mari berhenti untuk bertanya “mengapa” dan cobalah melihat lebih dalam tentang penyertaan-Nya di setiap musim kehidupan. Dengan demikian, kita akan dimampukan melewati dan menerima kejadian-kejadian tertentu, serta mengerti bahwa Tuhan selalu memegang kendali atas segala situasi yang kita hadapi!

Manfaatkan Pandemi untuk Mengembangkan Potensi Diri Remaja

Ratu Putri Hiemawan dari kelas X IPS 1.

Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

Pernahkah merasa malas mengembangkan potensi diri, atau merasa masa remaja terbuang sia-sia? Padahal, remaja dan pemuda merupakan penentu masa depan bangsa. Beberapa tahun ke depan, Indonesia akan dipimpin oleh generasi muda yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata:

“Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Kutipan ini menegaskan besarnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa. Terlebih di masa pandemi, kreativitas dan kontribusi generasi muda sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi baru yang bermanfaat.

Salah satu contoh nyata adalah hadirnya situs Aku Pintar, yang didirikan oleh Lutvianto Pebri Handoko (kelahiran 1993). Platform ini membantu pelajar menemukan minat, bakat, gaya belajar, dan jurusan kuliah secara daring. Hal ini membuktikan bahwa pemuda tetap mampu mengembangkan potensi diri di tengah keterbatasan pandemi.

Peran Teknologi Digital dalam Pengembangan Potensi Diri

Saat ini, Indonesia berada di era revolusi industri 4.0, di mana teknologi menjadi kunci utama kemajuan bangsa. Menurut data Tekno Kompas (2021), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa, dan 49,5% di antaranya berusia 19–34 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa remaja dan pemuda adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi. Oleh karena itu, sudah seharusnya teknologi dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan potensi diri selama pandemi, bukan hanya untuk hiburan semata.

Setiap Orang Memiliki Potensi yang Unik

Setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda. Ada yang unggul di satu bidang, ada pula yang memiliki banyak bakat. Namun, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk sukses, tergantung pada kemauan untuk menemukan dan mengembangkan potensinya.

Sayangnya, masih banyak siswa yang:

  • Belum menemukan potensi dirinya
  • Sudah menemukan potensi, tetapi malas mengembangkannya
  • Menjadikan pandemi sebagai alasan untuk berhenti berkembang

Padahal, keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah.

Kendala Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

1. Kendala Pembelajaran Daring dan Akses Teknologi

Pembelajaran daring dinilai kurang efektif oleh sebagian siswa karena:

  • Minimnya interaksi langsung
  • Keterbatasan akses internet di beberapa daerah
  • Adaptasi yang belum maksimal

Indonesia yang memiliki wilayah luas masih menghadapi kesenjangan akses teknologi, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan potensi diri.

2. Faktor Internal yang Menghambat

Beberapa faktor internal yang sering menghambat pengembangan potensi diri antara lain:

  • Tidak memiliki tujuan hidup yang jelas
  • Kurangnya rasa percaya diri
  • Minimnya motivasi
  • Terjebak dalam zona nyaman
  • Trauma terhadap kegagalan

Rasa takut gagal memang wajar, tetapi jangan sampai kegagalan menghentikan proses belajar dan berkembang.

3. Faktor Eksternal dari Lingkungan

Selain faktor internal, faktor eksternal juga berpengaruh besar, seperti:

  • Stigma masyarakat (misalnya seni dianggap tidak menjanjikan)
  • Stereotip gender (tari dan kecantikan hanya untuk perempuan)
  • Kurangnya apresiasi dari lingkungan sekitar

Padahal, apresiasi sekecil apa pun dapat meningkatkan motivasi, terutama bagi mereka yang baru memulai.

Masa Remaja sebagai Waktu Terbaik Mengembangkan Potensi Diri

Masa remaja bukan hanya waktu untuk bersenang-senang, tetapi juga masa penting untuk:

  • Mengenali bakat dan minat
  • Menentukan jurusan kuliah
  • Mempersiapkan masa depan

Salah memilih arah karena tidak mengenal potensi diri dapat berdampak besar di kemudian hari.

Cara Menemukan dan Mengembangkan Potensi Diri

1. Mengenali Diri Sendiri

Luangkan waktu untuk:

  • Mendengarkan suara hati
  • Jujur pada diri sendiri
  • Merefleksikan hal-hal yang disukai sejak dulu

Pandemi justru memberikan lebih banyak waktu untuk introspeksi diri.

2. Berani Mencoba Hal Baru

Cobalah:

  • Webinar
  • Lomba daring
  • Kegiatan online lainnya

Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menuju versi terbaik diri sendiri.

3. Mengembangkan Potensi secara Daring

Manfaatkan teknologi untuk:

  • Mencari sumber belajar
  • Menonton video edukatif
  • Mengikuti seminar dan perlombaan online

Internet membuka peluang tanpa batas bagi siapa pun yang mau berusaha.

Webinar, Lomba, dan Komunitas sebagai Sarana Pengembangan Diri

Mengikuti webinar memberikan banyak manfaat, seperti:

  • Materi pengembangan diri
  • Wawasan baru
  • Tips praktis dari para ahli

Selain itu, perlombaan daring memberikan kesempatan lebih luas karena tidak terhambat jarak dan biaya perjalanan.

Bergabung dengan komunitas sesuai minat melalui media sosial juga penting untuk:

  • Bertukar informasi
  • Belajar dari pengalaman orang lain
  • Mendapatkan dukungan dan motivasi

Tips Menghadapi Kesulitan dalam Mengembangkan Potensi Diri

Beberapa hal yang dapat dilakukan saat menghadapi kesulitan:

  • Menanamkan komitmen dan tujuan yang jelas
  • Menjadikan orang tua atau cita-cita sebagai motivasi
  • Tetap konsisten meskipun kondisi tidak ideal

Saya sendiri mengalami kesulitan saat les piano daring karena delay dan koneksi internet. Namun, dengan motivasi untuk cepat lulus dan membanggakan orang tua, saya tetap berusaha maksimal.

Bahkan, saya memanfaatkan pandemi dengan mengikuti ujian ABRSM secara daring, yang justru memberikan banyak keuntungan dibandingkan ujian tatap muka.

Kesimpulan: Pandemi Bukan Penghalang untuk Berkarya

Pandemi memang membawa banyak keterbatasan, tetapi juga membuka peluang baru. Dengan motivasi yang tepat, kemauan beradaptasi, dan pemanfaatan teknologi, kita tetap bisa mengembangkan potensi diri secara optimal.

Ingatlah, pandemi bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Mari manfaatkan masa pandemi ini sebaik mungkin untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Daftar Pustaka:

Riyanto, G. P. (2021). Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2021 Tembus 202 Juta. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://tekno.kompas.com/read/2021/02/23/16100057/jumlah-pengguna-internet-indonesia-2021-tembus-202-juta

Anwar, Fahrul. (2021). Lutvianto Pebri Handoko : Bantu Pelajar Dalam Memilih Minat dan Jurusan. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://youngster.id/technopreneur/lutvianto-pebri-handoko-bantu-pelajar-dalam-memilih-minat-dan-jurusan/

Dibentuk dengan Berbagi Hidup

oleh: Merry David

Dari buku Sacred Marriage karya Gary Thomas.

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Matius 7: 1–2).

Gary Thomas dalam bukunya menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam satu rumah, tetapi juga menjadi sarana pembentukan diri. Ketika dua individu berbagi hidup dalam pernikahan, mereka secara alami akan mengalami berbagai tantangan yang dapat memperkuat atau justru melemahkan hubungan. Salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan adalah kecenderungan untuk menghakimi pasangan dan menolak untuk mendengarkan.

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula pasangan kita. Jika kita hanya berfokus pada kekurangan pasangan, kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat kelebihan dan kekuatan yang bisa menjadi inspirasi bagi kita. Oleh karena itu, dalam perjalanan pernikahan, penting bagi kita untuk saling menerima, memahami, dan bertumbuh bersama, bukan saling menghakimi.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 6 Tahun 2021

Berbagi Hidup: Proses Pembelajaran dan Perubahan Diri

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan, apalagi seperti yang sering ditampilkan dalam drama Korea yang penuh dengan keindahan dan romansa. Ketika merenungi tema PIT dengan judul “Dibentuk dengan Berbagi Hidup”, saya mulai berpikir, apa saja yang sudah saya dan suami lalui sebagai pasangan? Di usia pernikahan kami yang baru 13 tahun, kami tidak hanya memiliki banyak persamaan, melainkan juga perbedaan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Gary Thomas, kita bisa belajar dan dibentuk oleh pasangan, saya pun mengalaminya. Contoh beberapa hal yang saya pelajari dari suami saya, yaitu dalam hal percaya kepada orang lain, berani berpendapat, humble, dan lain sebagainya.

Dulunya saya tidak mudah percaya dengan orang lain sehingga saya selektif dalam memilih teman. Hal ini karena saya pernah dikecewakan oleh orang yang saya percayai sehingga tidak mudah bagi saya untuk percaya kepada orang lain lagi. Namun, suami saya mengajarkan saya untuk mau belajar memercayai orang. Misalnya di dalam pekerjaan, saya mulai bisa berbagi tugas dengan rekan kerja ketika saya bekerja sebagai sekretaris. Sebelumnya, semua pekerjaan saya tangani sendiri dan rekan saya hanya melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Dampaknya, saya sering kali kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketika saya mulai belajar untuk memercayai orang lain, hidup saya tentunya menjadi lebih ringan. Dengan demikian, saya juga belajar untuk lebih rendah hati.

Baca Juga : Kenali Bahasa Kasih Pasangan: Kunci Hubungan Harmonis

Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Belajar Mempercayai Orang Lain

Dahulu, saya adalah orang yang tertutup atau antisosial. Namun, kemudian saya belajar bersedia membuka diri. Perubahan ini memungkinkan saya untuk melayani Tuhan bersama banyak orang. Apalagi ketika saya sudah menjadi orang tua dan anak saya bersekolah di Athalia. Mau tidak mau saya harus bersosialisasi dengan banyak orang tua lainnya karena di Athalia ada komunitas orang tua. Ketika saya bersedia diubah, saya merasa sangat terbantu dalam bersosialisasi dan berani ketika diminta melayani menjadi CPR lalu sekarang di BPH APC, serta berani melayani di gereja lokal kami.

Saya bersyukur suami tidak pernah menghakimi kekurangan saya ini. Dia membantu saya untuk terus memperbaiki diri. Begitu juga sebaliknya, saya juga belajar untuk tidak menghakimi kekurangan suami. Saya sadar, ketika saya menunjukkan jari telunjuk ke orang lain, sesungguhnya ada empat jari lainnya yang menunjuk ke diri saya.

Demikian sharing dari saya, kiranya Tuhan Yesus memberkati. Terima kasih.

Belajar Percaya dan Bergantung kepada Tuhan

Oleh: Andy E. Daniswara

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3: 5)

Saat kelas X, saya mendapat kesempatan menjadi pengurus OSIS. Awalnya, saya ragu karena jadwal sekolah sangat padat. Namun, dengan pengalaman di OSIS SMP, saya percaya dan memberanikan diri untuk menerima tawaran itu.

Masuk ke kepengurusan OSIS SMA, saya belajar banyak hal baru. Saya belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, dan memahami organisasi lebih dalam. Selain itu, saya juga belajar membangun hubungan baik dengan pengajar dan teman-teman.

Setahun berlalu, kepengurusan OSIS berganti. Saya dipercaya teman-teman menjadi ketua OSIS. Saya sadar bahwa semua terjadi karena jalan-Nya. Sejak awal, saya menjadikan Tuhan sebagai fondasi kepemimpinan saya. Setiap kegiatan OSIS selalu saya bawa dalam doa. Saya meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan agar bisa menjalankan tugas dengan baik.

Baca Juga : Value vs. Belief, Apakah yang Kita Pegang Benar-Benar Tulus?

Ujian Kepercayaan

Namun, pada suatu waktu, ada rencana kegiatan OSIS yang tidak mendapat izin karena bentrok dengan kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Gejolak pun muncul di dalam pengurus OSIS. Banyak yang mempertanyakan keputusan sekolah pada waktu itu. Saya pun pada waktu itu mencoba untuk bernegosiasi dengan pembimbing OSIS dan beberapa pengajar yang bersangkutan, tetapi tidak membuahkan hasil. Hal yang lebih mengesalkan lagi, kami tidak terlalu dilibatkan di dalam kegiatan sekolah yang bisa dibilang berskala besar.

Saya bergumul. Saya mulai mempertanyakan Tuhan. Kenapa pada waktu itu Tuhan seperti tidak campur tangan? Kenapa pada waktu itu Tuhan tidak membuka jalan untuk kegiatan OSIS SMA? Karena merasa seperti Tuhan tidak pernah bertindak, pada akhirnya saya kecewa dengan Tuhan.

Kekecewaan saya terhadap Tuhan berdampak hampir ke seluruh aspek hidup saya. Saya jadi jarang baca Alkitab dan saat teduh. Kepribadian saya juga mulai berubah menjadi lebih temperamental. Saya mengatakan apa saja yang ingin saya katakan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Saya menjadi congkak dan egois. Cara pandang saya dalam mengambil keputusan rapat yang biasa didasari dengan hati yang tenang dan damai berubah menjadi penuh kekesalan dan hati yang gundah. Hal ini berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak memuaskan.

Masalah demi masalah terus datang dan selalu selesai dengan tidak memuaskan. Rasanya ada yang kurang dan selalu menghalangi kebahagiaan di dalam diri. Hal ini juga terasa di dalam lingkungan OSIS. Kami, yang biasanya selalu menanggapi ledekan dan kata-kata “manis” sebagai sebuah candaan, berubah jadi lebih mudah tersulut emosinya. Waktu terus berjalan dan saya masih menyimpan rasa kecewa. Rasanya tidak mungkin pada waktu itu berdamai dengan Tuhan.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Oktober – November 2020

Berserah dan Percaya: Menyerahkan Segala Masalah kepada Tuhan

Hingga pada suatu saat di kegiatan OSIS yang diadakan di sekolah, saya menerima pesan dari ibu saya. Isi pesannya pada waktu itu: “Nak, baca Amsal 16, ya.” Dalam hati, saya bertanya-tanya maksudnya. Namun, saya mengikuti saran ibu saya dan membaca kitab yang dimaksud. Saat membacanya, beberapa ayat terngiang-ngiang terus di kepala saya yang membuat saya akhirnya kembali kepada Tuhan.

Namun, pergumulan yang dihadapi setelah itu adalah “memperbaiki” kondisi pribadi dan kondisi di dalam kepengurusan OSIS yang pada waktu itu kian memanas. Banyak hal yang menjadi beban pikiran kami. Kami hanya mengandalkan kepintaran sendiri sehingga masalah-masalah yang ada sulit sekali untuk diselesaikan. Saya akhirnya menyadari kalau ada yang salah. Setelahnya, saya mencoba untuk mendamaikan diri dengan berdoa dan membaca Alkitab.

Saya menemukan satu ayat yang saya percaya menjadi pedoman yang menguatkan saya. Amsal 3: 5 yang berbunyi, “Percayalah kepada Tuhan
dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Akhirnya, saya berdoa dan mencoba menyerahkan semua masalah yang saya hadapi, termasuk OSIS. Puji Tuhan, masalah yang ada Tuhan selesaikan dengan cara-Nya. Saya kembali menjadi pribadi yang tenang dan tidak mudah marah. Puji Tuhan, kondisi di OSIS pun lebih kondusif. Aura persahabatan kembali terasa kental di antara pengurus OSIS.

Masalah di atas membuat saya belajar untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak kecewa kepada-Nya. Berdasarkan pengalaman saya, kekecewaan tersebut justru menimbulkan masalah-masalah baru yang membuat hidup menjadi tidak damai. Dengan kita percaya, berserah, dan bergantung kepada Tuhan, Dia akan membantu kita dan menuntun kita di jalan-Nya.