Bertumbuh di dalam Panggilan Sebagai Orang Tua

Bertumbuh di dalam Panggilan Sebagai Orang Tua

Tuhan memanggil tiap kita untuk melayani-Nya dengan berbagai cara. Ada yang dipanggil melayani di gereja sebagai Hamba Tuhan. Ada yang dipanggil melayani di dunia profesional, dan ada yang dipanggil untuk melayani keluarga di rumah. Setiap orang lahir di dunia dengan perannya masing-masing dan Tuhan sudah merancangkannya dengan indah bagi kita. 

Misi Tuhan dalam Panggilan Orang Tua

Begitu juga dengan menjadi orang tua. Kita tidak pernah memilih untuk menjadi orang tua, melainkan Tuhanlah yang memanggil kita untuk menjadi orang tua. Sebagai orang percaya, kita mengimani bahwa rancangan Allah adalah yang paling baik. Kita memilih untuk mengikuti jalan Allah—yang tentu tak pernah mudah—dan menjadikan keimanan kita sebagai pelita untuk menerangi jalan kita. Begitu kita dipanggil untuk menjadi orang tua, Tuhan memastikan tidak akan membiarkan kita berproses sendirian dalam perjalanan panjang itu.

Lalu, apa misi Tuhan menitipkan seorang anak kepada kita? Apakah semata-mata hanya untuk mengasuh dan mendidik anak itu? Ternyata tidak hanya untuk itu. Ada rancangan yang lebih besar yang Tuhan mau kita lakukan, yaitu bertumbuh. 

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Bertumbuh dalam Karakter Sebagai Orang Tua

Sebagai manusia, kita diminta untuk terus bertumbuh dan berkembang. Setiap waktu yang berlalu seharusnya membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Anak menjadi salah satu prasarana bagi kita untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri sendiri. Pernahkah Anda merenungkan siapa Anda 10 tahun yang lalu dibandingkan dengan sekarang? Mungkin, dulu Anda adalah seseorang yang mudah marah atau impulsif. Namun, ketika anak hadir dalam kehidupan Anda, banyak hal yang memaksa Anda untuk menahan diri. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum mengucapkan atau melakukan sesuatu. 

Bertumbuh bersama anak bukan hanya tentang mereka yang belajar dari kita, tetapi juga tentang kita yang belajar dari mereka. Anak membentuk kita menjadi orang yang lebih baik. Bersama anak, kita bertumbuh bersama mereka. Tidak hanya mereka yang belajar dari kita. Justru, kita “dididik” oleh anak dengan cara yang sudah Tuhan rancangkan!

Menjadi Orang Tua yang Bertumbuh dalam Kasih Tuhan

Menjadi orang tua adalah proses yang tidak pernah berhenti. Di setiap tahap kehidupan anak, kita juga mengalami perubahan dan perkembangan. Anak-anak adalah sarana Tuhan untuk mendidik kita, sementara kita juga memiliki peran penting dalam mendidik mereka.

Setiap hari adalah kesempatan baru untuk bertumbuh dalam kasih, kesabaran, dan pengertian. Kita diajar untuk taat dan berserah saat kehabisan kata-kata menghadapi tingkah anak yang menjengkelkan. Kita diajarkan untuk bersabar dan menggunakan kasih dalam mendidik anak. Kristus menjadi satu-satunya teladan kita dalam menjalani parenting. Kita “dipaksa” untuk bertumbuh di dalam Allah melalui kehadiran seorang anak.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Nomor 2 Tahun 2021

Selamat bertumbuh dalam karakter melalui peran kita sebagai orang tua. Anak-anak bisa menjadi salah satu sarana Tuhan mendidik kita, tetapi di sisi lain juga merupakan bagian dari peran kita sebagai orang tua. Mari terus belajar, membiarkan Tuhan mendidik kita, sambil mendidik anak-anak kita. Semuanya demi kemuliaan Allah!

Ini Kunci Menjalani Hidup Bersama Tanpa Penyesalan!

Oleh: Simon Mangatur Tampubolon

“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu. (Yesaya 25:1)

“…panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia…”

Demikianlah bagian lirik lagu yang kerap dinyanyikan di saat seseorang berulang tahun. Ada harapan di dalamnya untuk lanjut usia dan mulia. Lanjut usia, menjadi tua, dan memiliki rambut putih adalah harapan setiap orang. Harapan itu akan terwujud indah bila dijalani bersama pasangan dan anggota keluarga yang lain. Hal ini dikarenakan menjadi tua akan penuh tantangan yang bila dihadapi sendiri akan membuat seseorang berpikir ulang untuk menyanyikan lirik lagu “panjang umurnya.”

Dalam pesannya kepada anak muda untuk menikmati hidup yang kelak akan dibawa ke pengadilan Allah, Pengkhotbah pada pasal 12 memberikan gambaran tantangan menjadi tua, yaitu:

  • tak ada kesenangan (ay.1);
  • tua, lemah dan tertekan (ay.2);
  • tubuh mulai gemetar, gigi ompong dan mata kabur (ay.3);
  • pendengaran berkurang (ay.4);
  • takut ketinggian, jalan susah dan impoten (ay.5).

Semua itu merupakan gambaran kehidupan yang tentunya sulit bila tidak dilalui bersama keluarga yang saling melayani didasari karena “cinta”.

Saling melayani karena mencintai syarat utama untuk menjadi tua bersama. Itulah inti dari keluarga. Ingat kata “family” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin “famulus”, yang artinya “servant” (dalam bahasa Indonesia diwakilkan dalam kata “pelayan”). Dalam dinamika untuk tua bersama, keluarga sebagai pelayan harus memiliki dua warisan ilahi yang dituliskan dalam Yesaya 25:1, yaitu kesetiaan yang teguh dan iman akan rancangan
Allah yang ajaib
.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Kesetiaan Bersama : Fondasi Keluarga yang Kuat

Kebersamaan, apalagi di saat-saat sulit, hanya bisa dilalui dengan kesetiaan yang berlandaskan kasih. Setia berarti berpegang teguh pada janji, suatu wujud tanggung jawab iman sebagai seorang pelayan. Kasih dan setia harus selalu bersama karena kasih tanpa kesetiaan hanya meninggalkan luka dan kesetiaan tanpa kasih adalah sebuah perbudakan. Untuk menjadi setia (Inggris: faithful), kita butuh “iman”. Iman inilah yang meyakini bahwa Allah melaksanakan rancangan-Nya yang ajaib.

Menjadi tua bersama keluarga tidak sekadar dihiasi masalah kesehatan fisik, tetapi juga masalah ekonomi, dan pergumulan kehidupan yang lain dapat saja mengikutinya. Untuk dapat melalui itu bersama, harus ada keyakinan iman bahwa Allah sedang mengerjakan rancangan-Nya yang ajaib sehingga ketabahan dan kekuatan akan selalu ada. Tidak mudah melihat dan memahami keajaiban rancangan Allah tersebut. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk selalu menjadi penemu hal yang baik.

Kidung Agung mengajarkan bagaimana menjadi penemu barang yang baik itu. Lihat Kidung 4: 1–4, di dalamnya ada tujuh hal yang dipuji di malam pertama: mata, rambut, gigi, bibir, pelipis, leher, buah dada. Bandingkan dengan pujian dalam Kidung Agung 7: 1–5, ada sepuluh hal yang dipuji: langkah, pinggang, pusar, perut, buah dada, leher, mata, hidung, kepala, dan rambut. Seiring bertambahnya waktu, bertambah pula pujian. Ini menandakan bertambahnya pengenalan dan bertambahnya kemampuan melihat yang baik.

Ketika semua anggota keluarga meyakini bahwa di balik apa pun yang terjadi ada rancangan Allah yang baik dan menjadikan kasih setia sebagai wujud nyata iman, menjadi tua akan dapat dilalui bersama dengan sukacita dan semangat saling melayani. Katakan, “TUA: Tuhan Untuk-Mu Aku Ada.” Amin!

Renungan Parents in Touch: KELUARGA YANG BERPUSAT PADA KRISTUS

keluarga kristen

Oleh: Benny Dewanto, Kepala Bagian PK3 Sekolah Athalia

Tujuan Keluarga Kristen

Gary Thomas, penulis buku-buku pernikahan, mengutarakan pandangan yang jarang dipikirkan oleh banyak orang, yaitu makna keluarga adalah tentang kekudusan, bukan semata kebahagiaan. Thomas berkata bahwa keluarga Kristen perlu memikirkan dan mengarahkan tujuan perjalanan bahteranya pada tujuan kekudusan. Bagi Thomas, makna kekudusan memiliki nilai keutamaan ketimbang kebahagiaan. Sekalipun pandangan ini tidak populer di telinga banyak pasangan, sebagai keluarga yang perlu memikirkan warisan iman bagi setiap anak-anak, pandangan ini penting untuk direnungi. 

Mari kita ikuti pemikiran Gary Thomas yang mendorong bahwa setiap keluarga Kristen seharusnya mengutamakan kekudusan ketimbang “kebahagiaan saja”. Dimulai dari pendalaman 1Korintus 7:1 yang berkata: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” Kutipan ayat ini mendorong kita untuk mengetahui mengapa Paulus menyarankan laki-laki tidak kawin. Bukankah nasihat ini terkesan bertentangan dengan pemeo pria bahwa mereka adalah mahluk yang memiliki hasrat besar untuk kawin? Rupanya Paulus hendak menyampaikan pesan tentang hasrat yang terkelola melalui kekudusan, bukan hasrat liar percabulan. Bila tidak mampu hidup dalam konsep kudus, lebih baik tidak kawin atau tidak menikah. Di luar konsep kudus, perkawinan menjadi perjalanan hasrat yang nyaris sama dengan percabulan. Kekudusanlah yang membedakan perkawinan yang benar dan dengan yang tidak benar. 

Dari sisi inilah Gary Thomas memberikan perenungan bahwa sasaran kekudusan menjadi hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Kudus adalah berbeda. Kudus adalah kekhususan, tidak serupa dengan dunia, tetapi serupa dengan Kristus. Keluarga Kristen yang berpusat pada Kristus seharusnya menjadi keluarga yang mengutamakan pertumbuhan melalui nilai-nilai Kristus. Keluarga Kristen adalah pelaku penuh hasrat tentang nilai-nilai Kristus. Sedemikian besar hasrat tersebut sehingga sekalipun harus berhadapan dengan kesulitan, sasaran kekudusan tetap dikejar ketimbang sekadar merasa bahagia. Membangun keluarga yang berpusat pada Kristus adalah keluarga yang hidup setia di dalam kuk bersama Kristus dan itulah sasaran nilai kebahagiaannya!

Baca artikel lainnya tentang Parents In Touch:

https://sekolahathalia.sch.id/perjalanan-mencari-komunitas-yang-bertumbuh-2/

https://sekolahathalia.sch.id/pit-parents-in-touch/

https://sekolahathalia.sch.id/parents-in-touch-keluarga-yang-berpusat-pada-kristus/


BERDUKA DAN BERIMAN

Oleh: Agape Ndraha, staf Sekolah Athalia

berduka dan beriman

Bagaimana Menghadapi Dukacita

 “Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman seharusnya menghadapi dukacita?

Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya (Kejadian 23:2). Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses (baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”). Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan,  karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka.

Dukacita dalam Kehidupan Orang Beriman

Dalam Roma 12:15, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka.

Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti
orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan
” (1 Tesalonika 4:13). Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya.

Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati.

Cara Pandang Kristiani Terhadap Kehidupan dan Kematian

Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti bekerja memberi buah (Filipi 1:21). Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan adalah hal yang dirindukannya.

Dalam buku Grief Obeserved, C.S. Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam permainan menyusun kartu bridge hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu jatuh dan konsekuensi fatal terjadi.

Memproses Dukacita

Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka, mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup ini?”

Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya (lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”).

Tokoh yang Berduka dalam Kisah Alkitab

Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini (Ayub 3:10-11). Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan.

Penghiburan di Antara Sesama Orang Percaya

Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa cara.

  1. Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
  2. Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran.
  3. Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka.

Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku (Mazmur 119:92)

Baca juga: Memahami Dukacita

Ternyata, Inilah Kunci Keluarga Bertahan ketika Konflik

Oleh: Benny Dewanto

Seorang gadis muda datang kepada sahabatnya dengan hati yang penuh luka. Mulutnya tak mampu membendung umpatan atas segala kekesalannya. Ia bercerita mengenai opa dan omanya yang selama ini telah mengasuhnya sejak usia 3 tahun. Sebagai seorang gadis muda, ia bertumbuh di dalam lingkungan kaum muda yang memberikan banyak gaya hidup. Namun, seiring dengan hal tersebut, opa dan omanya tidak dapat mengerti seluruh perkembangan gaya hidup anak muda zaman sekarang. Tidak aneh bila tiap hari terjadi keributan besar—hanya karena perbedaan nilai hidup. Ditambah lagi ketidakhadiran orang tua kandungnya karena perceraian. Jadilah gadis ini kehilangan arah nilai hidup.

Nilai hidup adalah sebuah dasar sekaligus pengarah hidup seseorang. Seseorang dapat melihat sebuah nilai hidup sebagai sesuatu yang bernilai atau tidak, dilatari oleh banyak hal yang beragam. Artinya, nilai hidup dipengaruhi oleh suatu hal yang tertanam di dalam diri seseorang. Penanaman pemahaman tentang nilai hidup membutuhkan intensitas yang terukur dan memerlukan terang rohani agar konsep nilai itu menjadi yang benar di mata Tuhan. Penanaman tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.

Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 7:1 “… Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Di antara manusia lainnya, yang akan musnah karena nilai hidup yang tidak benar (dosa), Nuh dan keluarganya dibenarkan dan diselamatkan Tuhan. Ketaatan Nuh telah membawa keluarganya juga ikut taat masuk ke dalam bahtera. Tanpa proses penyampaian nilai hidup agar taat kepada Tuhan, tidaklah mungkin bahtera tersebut dapat diisi segala macam binatang dan Nuh sekeluarga.

Baca Juga : Athalia Learning Community New Edisi Mei 2020

Kunci Menemukan Nilai Hidup yang Benar dalam Keluarga

Untuk dapat menemukan nilai hidup yang benar di hadapan Tuhan membutuhkan hikmat. Tanpa hikmat, nilai hidup akan menjadi nilai yang bias, tidak tetap, dan mudah beralih. Hikmat mengarahkan manusia melihat apa yang dikehendaki Tuhan. Kisah Para Rasul 16:19-34 menceritakan kepala penjara yang bertobat ketika melihat Paulus dan Silas diselamatkan Tuhan. Kepala penjara mendapat hikmat bahwa peristiwa yang terjadi kepada Paulus dan Silas merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada. Melalui hikmat, dirinya mendapatkan nilai hidup tentang injil. Nilai hidup itu dibawanya kepada seisi rumahnya, dan mereka merayakan sukacita keselamatan.

Mari kita hidup dengan aliran hikmat, hari demi hari. Karena dunia tidak akan pernah berhenti menawarkan nilai-nilai hidup yang menarik. Tugas kita sebagai orang percaya adalah mula-mula menggembalakan seluruh isi rumah untuk hidup dalam nilai hidup keselamatan. Jangan biarkan kita kering akan hikmat agar dapat melihat nilai hidup yang benar.

Yakobus 1:5 mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah …”. Kehadiran hikmat Allah akan menolong keluarga kita berjalan dengan penuh bijaksana. Melangkahlah bersama keluarga kita dengan hikmat Allah. Tuhan menolong kita semua.

Melangkah Dengan Iman

Oleh: Naomi Fransisca Halim, S.Th

“I am not quite sure—but I am going to trust, and I am going to obey”
Saya tidak begitu yakin—tetapi saya akan tetap percaya dan saya akan tetap taat.

Penggalan kalimat ini diucapkan oleh seorang pemuda yang hadir dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berlangsung di Brockton, Massachusetts. Ketika Daniel Towner seorang pemimpin pujian, mendengar kalimat ini ia menuliskannya dan mengirim tulisannya itu kepada seorang penulis syair, bernama J.H. Sammis. Dari kalimat itulah, Sammis menulis sebuah hymn yang kita kenal dengan judul “Trust and Obey (Percaya dan Taat).”

Melangkah dengan Iman

Perjalanan mengikut Tuhan adalah proses belajar mempercayai dan menaati Tuhan tiada henti. Hal ini dialami oleh Abraham, Bapa orang beriman. Dalam Kejadian 22: 2, Allah berfirman, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Dalam ayat ini, permintaan Allah kepada Abraham sangat jelas. Allah meminta anaknya yang tunggal, yang ia kasihi sebagai korban persembahan (terj. Bahasa Inggris “your son,” “your only son,” “Isaac,” “whom you love”). Padahal Allah berjanji bahwa keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut dengan keturunanmu (Ibr. 11:18).

Alkitab tidak mencatat perasaan Abraham pada saat itu. Alkitab melanjutkan kisah ini dengan memperlihatkan tindakan Abraham. Dengan hati yang taat, Abraham segera/keesokan harinya bangun, memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Kemudian berangkatlah Abraham ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Sungguh suatu teladan ketaatan yang luar biasa. Abaraham melangkah dengan iman. Ketaatan Abraham adalah ketaatan yang tidak masuk akal. Bagaimanakah mungkin seseorang dapat dengan segera memilih untuk taat kepada Allah ketika diminta untuk menyerahkan anaknya?

PENGALAMAN IMAN BERSAMA ALLAH DI MASA LAMPAU

Abraham memiliki sejarah hubungan yang kaya dengan Allah. Kisah Allah menguji Abraham di perikop ini bukanlah ujian pertama baginya. Ini adalah ujian terakhir dalam kehidupannya. Menurut tradisi Yahudi, Abraham mengalami sepuluh pencobaan termasuk kisah ini. Namun dalam pencobaan-pencobaan tersebut, tidak pernah ia mendapati Allah lalai menepati janji-Nya dan mengecewakan dirinya. Pengalaman imannya di masa lampau inilah yang membuat ia dapat mempersiapkan segala sesuatu, melayangkan pandangannya ke gunung Moria dan rela mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal (Ibr. 11:17).

Adakah pengalaman iman dalam hidup kita? Setiap orang percaya dapat memiliki pengalaman iman dengan Allah. Pengalaman ini dapat terjadi apabila kita mulai melangkah dengan hati yang taat berlandaskan Firman Tuhan. Mungkin sekarang Allah sedang berbicara kepada diri kita mengenai pekerjaan, mengenai uang, mengenai anak, atau sesuatu hal yang lain. Beranikan dirimu melangkah dengan hati yang penuh ketaatan. Sekalipun kelihatannya mustahil, beranikanlah diri untuk melangkah dalam hal apa pun yang diperintahkan-Nya, baik kepada kita sekeluarga maupun secara pribadi.

PENGENALAN YANG BENAR TERHADAP PRIBADI ALLAH

Setelah tiga hari perjalanan, Abraham meminta bujangnya untuk tinggal dan menunggu. Dalam ayat 5, Abraham berkata kepada dua bujangnya, “…kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu” (penekanannya pada kata “sesudah itu kami kembali kepadamu”).

Kepastian bahwa Ishak dan Abraham akan datang kembali dari sembahyang bukanlah sebuah ungkapan kosong. Ini adalah pengenalannya dan keyakinannya terhadap Pribadi Allah yang tidak mengingkari janji-Nya. Allah berjanji bahwa yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak (21:12). Walaupun, dalam perikop ini tidak dijelaskan mengapa Abraham berkata seperti itu, tetapi Ibrani 11:17-19 membantu para pembacanya memahami kata-katanya. Pada ayat 19 “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali ”.

Pengenalan yang benar terhadap Allah adalah salah satu hal penting dalam mengikut Yesus. Kita harus mengetahui siapa Dia agar iman yang kita miliki bukanlah iman yang melompat dalam gelap. Satu-satunya cara memiliki pengenalan yang benar adalah dengan membaca dan merenungkan firman-Nya setiap hari dan meminta Allah berbicara kepada kita secara pribadi. Dengan begitu, walaupun pencobaan menghampiri kita, kita akan dikuatkan oleh firman-Nya.

Penutup

Abraham, Bapa orang beriman, mengalami berbagai situasi yang jauh dari jangkauan logika manusia. Tetapi ia tidak bimbang karena ketidakpercayaannya, melainkan terus diperkuat dalam imannya dan tetap memuliakan Allah (Rm. 4:20). Demikian juga kita harus melatih diri kita agar memiliki pengalaman iman dan pengenalan yang benar terhadap Pribadi Allah. Yakinkanlah diri kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita yang mengasihi Dia. Ia menuntun kita untuk melangkah dengan iman.


Belas Kasihan

belas kasihan

Oleh: Bapak Presno Saragih, Kabid. Pendidikan

Yesus yang Penuh Belas Kasihan

Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.

Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.

Makna Belas Kasihan

Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).

Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.

Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).

Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.

Refleksi

Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!

Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.

Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…

Baca Juga: Belas Kasihan Adalah Kunci

Shepherding Time, Melihat dan Meniru Cara Yesus Mengajar (Markus 4:1, 33-34)

 

Cara Yesus Mengajar

Terlihat dan Terdengar Jelas dan Memberikan Jawaban

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. (Markus 4:1)

Pada suatu saat, Yesus hendak mengajar kembali di Danau Galilea. Banyak orang berkerumun untuk mendengar pengajaran Yesus. Saat itu Yesus memandang penting, bahwa setiap orang harus bisa melihat diri-Nya dengan jelas. Hal tersebut agar apa yang diajarkan-Nya dapat didengar dan diperhatikan oleh orang-orang tersebut. Yesus ingin memastikan bahwa kesempatan untuk mendengar kebenaran pada saat itu, haruslah menjadi kesempatan yang menjawab. Artinya, ketika kebenaran disampaikan, maka setiap orang yang mendengarnya akan mendapatkan jawaban atas setiap pergumulannya masing-masing. Yesus mengerti benar, bahwa kebenaran-Nya adalah jawaban yang paling tepat bagi setiap manusia.

Yesus memutuskan untuk berkhotbah menyampaikan pengajaran-Nya dengan cara berdiri di atas perahu yang sengaja ditempatkan agak jauh dari tepi danau. Hal ini bertujuan agar semua orang mendapatkan arah pandang yang sama untuk melihat dan sekaligus mendengar Yesus mengajar. Mungkin saja dengan arah angin yang berhembus dari danau menuju daratan, maka suara Yesus akan menjadi terdengar lebih jelas. Sehingga, dapat dipastikan bahwa Yesus telah memikirkan tehnik penyampaian yang tepat.

 Memiliki Kehendak yang Tetap

Kerumunan orang yang begitu banyak, tidak menjadi hambatan bagi Yesus untuk tetap menyampaikan isi hati Bapa. Kehendak-Nya untuk memberikan kebutuhan rohani bagi setiap orang, terlepas mereka menyadari atau tidak akan kebenaran Allah, adalah kehendak yang tetap. Kehendak yang tetap adalah kehendak yang tidak dipengaruhi oleh situasi atau kondisi. Kehendak yang tetap adalah kehendak yang didorong oleh kasih yang membuat-Nya tidak lagi fokus pada kenyamanan diri. Kenyamanan-Nya adalah ketika dipastikan setiap orang dapat mendengar isi hati Bapa, dan hidup di dalamnya.

Kebenaran Pengajaran yang Memberikan Kepuasan Hidup

Dikatakan bahwa: “datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia,”. Hal ini memberikan kenyataan bahwa ada kebutuhan yang sangat besar mengenai kebenaran. Tidak ditulis bahwa orang banyak itu mendapat undangan atau tidak untuk datang di danau Galilea untuk mendengar khotbah Yesus. Diperkirakan bahwa orang banyak tersebut memang mengikuti Yesus. Jumlahnya semakin banyak oleh karena orang-orang di sekitarnya menjadi penasaran untuk mengetahui seperti apakah pengajaran Yesus itu. Sementara, orang-orang lain yang sudah pernah mendengar pengajaran Yesus, dan tetap terus setia mengikuti Yesus berkeliling. Dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan kepuasan hidup atas kebenaran yang didengarnya dari Yesus. Kepuasan tersebut pada akhirnya bisa menjadi materi promosi yang ampuh mengenai indahnya kebenaran hati Bapa. Orang-orang yang telah dipuaskan oleh kebenaran pengajaran Yesus, menjadi kesaksian hidup yang tak henti-hentinya mengajak orang lain untuk ikut serta hidup sebagai pendengar dan pelaku Firman Tuhan.

Mengenal Audiens dan Berbicara Sesuai Latar Belakang Pendengar

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Markus 4:33-34)

Yesus tidak menyia-nyiakan kesempatan pada saat itu. Dia sungguh mengenal profile jemaat yang berkumpul pada waktu itu. Orang-orang Galilea yang dikenal sebagai penduduk yang sederhana membutuhkan penuturan yang pas sesuai dengan kemampuan edukasinya. Setidaknya, pendekatan yang dipakai Yesus untuk menyampaikan ajaran-Nya adalah melalui konteks kehidupan sehari-hari penduduk di sana. Penyampaian ilustrasi tentang dunia perkebunan, bercocok tanam, menjadi jembatan yang ampuh untuk membuat jemaat menjadi celik dan mengerti.

Yesus menyampaikan ajaran-Nya melalui pengertian yang dapat diterima oleh orang-orang. Markus mengatakan, bahwa: Yesus menguraikan segala sesuatu dengan cara tersendiri. Yesus sungguh-sungguh berusaha mencari segala cara untuk menyampaikan isi hati Bapa kepada setiap orang.

Shepherding Time

Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong, memandang hal ini sebagai bagian yang perlu diterapkan, dan dijadikan sebagai keseharian antara guru dengan murid. Shepherding time adalah bentuk konkrit bahwa Athalia ingin merespon setiap murid harus mendapatkan jawaban bagi kebutuhan rohaninya, sebagai fondasi pembentukan karakter. (karakter adalah buah Roh, yang hanya akan dapat bertumbuh jika anak hidup dekat dengan Tuhan).

Shepherding time adalah bentuk pertemuan khusus antara murid dengan guru, sebagai gembala kelas. Kekhususan tersebut sama seperti secara khusus Yesus menempatkan diri-Nya agar dengan jelas dapat dilihat dan didengar oleh orang-orang yang mengerumuni-Nya. Demikian pula guru akan menempatkan dirinya secara khusus, dalam kesempatan  shepherding time,  sebagai pribadi yang hendak berbagi hidup, menceritakan bagaimana Yesus bertindak sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Shepherding time adalah waktu yang secara khusus dipersiapkan untuk mempertemukan murid pada Yesus melalui pengalaman hidup anak, sesuatu yang dekat dengan hidup anak sehari-hari. Diharapkan melalui hal itu, murid bisa melihat lebih jelas lagi tentang Yesus. Bahkan, murid bertumbuh menjadi pribadi yang haus mencari kebenaran. Sehingga mau terus berduyun-duyun mengikut Yesus. Murid menjadi pribadi yang tak segan untuk bertanya dan berdiskusi dengan gurunya mengenai Yesus. Lebih dari itu, murid juga menjadi pribadi yang puas akan anugerah-Nya. Sehingga, dia akan menjadi pribadi kokoh, berkarakter ilahi (godly character). Setiap kesulitan hidup yang akan menghadangnya, tidak lagi menjadi bagian yang mengejutkan kehidupannya. Oleh karena dia memiliki karakter sebagai anak Tuhan, yaitu pribadi yang selalu merespon hidup ini sesuai dengan kehendak-Nya saja.

 

(Oleh: BD/ Tim karakter)