Stella Ika Yunita Tahapary (Staf Kerohanian PK3)

Mengasihi Sesama Manusia tanpa Pandang Bulu
“Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia, kuning, putih, dan hitam semua dicinta Tuhan..” kalimat ini adalah lirik dalam sebuah lagu Sekolah Minggu yang menyampaikan pesan tentang kasih Allah yang besar untuk semua orang dari berbagai ras, suku, dan budaya. Kasih Tuhan tidak membedakan siapa kita, tetapi menyentuh setiap hati yang terbuka untuk menerima-Nya. Kasih Allah memberikan teladan kepada kita untuk bisa mengasihi sesama manusia tanpa memandang kesamaan atau perbedaan di antara manusia, lalu siapakah yang dimaksud dengan sesama kita?
Perumpamaan Tentang Kisah Orang Samaria yang Baik Hati
Salah satu kisah yang sangat mengesankan dalam Alkitab adalah perumpamaan tentang seorang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37). Tuhan Yesus memberi gambaran empat tokoh dalam kisah ini. Tokoh pertama adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Yerusalem adalah kota suci bagi umat Israel dan Yerikho adalah kota yang terletak lebih rendah, sehingga perjalanan ini biasanya dilakukan setelah seseorang selesai beribadah. Dalam perjalanan ini, orang tersebut dirampok oleh penyamun dan dibiarkan terluka setengah mati.
Tokoh kedua adalah seorang imam dan tokoh ketiga adalah orang Lewi. Keduanya sama-sama melayani Tuhan. Kedua tokoh ini adalah orang-orang yang seharusnya lebih peka terhadap penderitaan sesama. Namun, keduanya melewati orang yang terluka itu dan tidak memedulikan nasibnya. Mereka lebih memilih untuk menghindar daripada menolong. Hal ini menunjukkan ironi yang mendalam: orang-orang yang mengaku sebagai pelayan Tuhan dan rajin beribadah justru gagal mengamalkan kasih Allah dalam kehidupan nyata mereka.
Tokoh keempat adalah seorang Samaria yang mungkin tidak terduga bagi ahli Taurat. Orang Samaria sering dianggap lebih rendah oleh orang Yahudi karena mereka merupakan keturunan campuran antara orang Yahudi dan bangsa lain. Namun, dalam perumpamaan ini, orang Samaria justru menunjukkan tindakan kasih yang luar biasa. Hatinya tergerak oleh belas kasihan (Lukas 10:33). Ia membalut luka-luka orang yang terluka itu dengan minyak dan anggur dan membawanya ke tempat penginapan untuk dirawat lebih lanjut. Ia bahkan rela berkorban lebih jauh dengan memberikan uang kepada pemilik penginapan dan menjanjikan pembayaran lebih jika diperlukan.
Tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria ini adalah:
- Tergerak oleh belas kasihan: Ia tidak peduli dengan latar belakang orang yang terluka itu. Hanya belas kasihan yang mendorongnya untuk bertindak.
- Melayani dengan sukacita: Orang Samaria ini menolong dengan sukacita tanpa mengharapkan balasan.
- Rela berkorban: Ia berkorban baik waktu, tenaga, dan uang untuk menolong orang yang terluka itu.
Jika kita merangkum kisah ini, tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria adalah contoh nyata dari kasih yang diajarkan Yesus kepada kita. Sama seperti orang Samaria, Yesus Kristus juga datang untuk menolong kita yang berdosa. Ia tergerak oleh belas kasihan, menolong kita dengan sukacita, dan rela berkorban dengan memberikan hidup-Nya untuk menanggung dosa kita. Kasih Allah yang besar inilah yang seharusnya kita teladani dalam hidup kita.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang baik itu agama, suku, ras, atau status sosial. Seperti orang Samaria yang menolong tanpa memandang perbedaan, kita juga diajak untuk menunjukkan kasih Allah dengan cara yang sama. Kasih yang tidak membeda-bedakan, kasih yang tergerak oleh belas kasihan, kasih yang melayani dengan sukacita, dan kasih yang rela berkorban.
Pada bulan ini, banyak orang merayakan hari Valentine, hari yang penuh kasih dengan berbagi kepada orang yang mereka kasihi. Namun, kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk berbagi kasih dengan cara yang lebih luas. Kasih yang melampaui batas-batas yang sering dibentuk oleh dunia. Mungkin Tuhan menggerakkan Anda untuk berbagi kasih dengan orang yang berbeda agama, berbeda suku, atau bahkan dengan musuh kita. Semua ini kita lakukan dengan satu kesadaran bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita bisa mengasihi sesama kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi saluran berkat bagi sesama.