Yesaya 43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi Engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu
Firman Tuhan ini disampaikan oleh Yesaya kepada orang Israel yang saat itu berada dalam pembuangan. Pembuangan adalah masa di mana Israel dihancurkan oleh Babel dan orang-orang Israel diangkut keluar dari negerinya untuk menjadi budak di Babel. Hal ini terjadi sebagai hukuman atas dosa yang Israel lakukan. Namun, di tengah hukuman yang mereka rasakan, Tuhan tetap baik dan mengasihi mereka.
Sekalipun saat itu Israel belum bertobat, Ia tetap menjanjikan keselamatan kepada umat-Nya. Ia berjanji akan melepaskan mereka dari Babel dan mengembalikan mereka ke negerinya. Keselamatan Tuhan berikan kepada umat-Nya bukan karena Israel baik atau sempurna melainkan karena anugerah Tuhan semata. Tuhan memberikan keselamatan kepada umat-Nya karena di mata-Nya mereka berharga, mulia, dan Ia mengasihi umat-Nya.
Kiranya pengalaman Israel bersama Tuhan menjadi pengingat bahwa saat ini kita pun dikasihi-Nya. Tuhan memandang setiap anak-Nya berharga dan mulia sehingga memberikan yang paling berharga untuk menyelamatkan kita, yaitu nyawa Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Meskipun kita lemah dan terbatas, Ia tidak membuang kita. Sebaliknya, Ia mau terus merangkul dan menopang kita karena Ia mengasihi kita dengan anugerah-Nya. Percayalah dan bersyukurlah untuk kasih-Nya. Lebih daripada itu, Ia pun rindu, kita memiliki cara pandang dan sikap yang sama kepada sesama kita terutama pasangan dan anak-anak kita. Mari belajar menghargai kehadiran mereka, menerima dan mengasihi mereka dengan segala keunikannya sebagaimana Tuhan memandang kita berharga dan mengasihi kita.
Belum lama ini, SMP Athalia, sebuah sekolah di BSD, Serpong, menyelenggarakan kegiatan Partnership Program yang berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang pertama 29 Agustus 2023 dan gelombang kedua pada 12 September 2023. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan murid-nurid kelas VI SD Athalia kepada kegiatan belajar mengajar di SMP pada umumnya dan SMP Athalia pada khususnya. Setelah mengikuti kegiatan ini, diharapkan mereka memiliki sedikit gambaran mengenai proses belajar mengajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMP.
Dalam kegiatan Partnership Program ini, peserta diperkenalkan kepada SMP Athalia, khususnya melalui perpustakaan dan kegiatan pembelajaran. Di perpustakaan, mereka dijelaskan prosedur peminjaman buku maupun pemakaian fasilitas lain yang ada di perpustakaan. Mereka juga berkesempatan mengikuti kegiatan pembelajaran bersama guru-guru SMP Athalia, seperti mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris, Seni Tari, Seni Lukis, dan Olahraga.
Memperkenalkan Kegiatan Berorganisasi di SMP Athalia
Selain kegiatan pembelajaran, hal yang cukup berbeda di SMP adalah belajar berorganisasi. SMP Athalia memiliki dua wadah untuk memfasilitasi murid-murid dalam berorganisasi, yaitu OSIS dan Boys’ Brigade (BB). Sepintas, peserta mendapat informasi berkaitan dengan kegiatan-kegiatan OSIS dan BB yang dapat mereka ikuti nantinya. Mereka juga dapat berinteraksi langsung dengan pengurus OSIS dan NCO*) dalam kelompok kecil.
Konsep Kegiatan Partneship Program
Kegiatan ini dikemas sedemikian rupa menyerupai konsep Amazing Race. Hal ini dilakukan untuk menambah minat dan semangat peserta. Misalnya, peserta diharapkan mampu bekerja sama untuk menemukan petunjuk-petunjuk tersembunyi yang dipersiapkan sebelumnya agar mereka dapat masuk ke aktivitas berikutnya.
Jumlah murid yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 110 murid yang didampingi oleh guru-guru SD. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan guru-guru SMP yang kreatif, 12 orang pengurus OSIS, dan 8 orang NCO.
*) NCO (Non Commisioned Officer) adalah anggota BB yang telah mengikuti latihan kepemimpinan dan diangkat menjadi pemimpin bagi anggota-anggota BB lainnya. Pada dasarnya mereka adalah kepanjangan tangan para officer (Pembina BB) dalam menjalankan kegiatan BB di cabangnya.
Galatia 5:13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Keselamatan Adalah Anugerah
Ajaran Yudaisme yang berkembang di Galatia mengajarkan bahwa untuk mendapat keselamatan, seseorang harus menaati hukum Taurat. Hal ini jelas bertentangan dengan apa yang Yesus ajarkan. Oleh sebab itu, Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah, bukan usaha atau perbuatan baik manusia. Orang percaya telah dibebaskan dari kutuk dosa dan menerima hidup yang kekal karena anugerah Allah. Orang percaya adalah orang-orang yang merdeka dari dosa dan tidak berada di bawah hukum Taurat melainkan di dalam kasih karunia Allah.
Merdeka dari Dosa
Jika kita tidak memerlukan perbuatan baik untuk mendapat keselamatan, apakah itu berarti kita boleh hidup semau kita termasuk berbuat dosa? Tentu tidak. Paulus menuliskan bahwa memang orang percaya telah dimerdekakan dari dosa tetapi jangan menggunakan kemerdekaan itu untuk hidup dalam dosa. Kita sudah dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan dengan darah Kristus, mengapa kita mau kembali hidup di dalam dosa lagi? Merdeka dari dosa bukan berarti merdeka berbuat dosa. Sebaliknya, hal ini berarti tidak lagi berbuat dosa sebagai wujud syukur serta kasih kita kepada Allah dan agar nama-Nya dimuliakan melalui kesaksian hidup kita.
Hidup Menjadi Berkat
Mari kita menjadi saksi Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan melalui kehidupan yang merdeka dari dosa, hidup yang menjadi terang dan garam di mana pun kita berada dan juga dengan mengasihi dan menjadi berkat bagi sesama. Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia
Kurikulum nasional tiap periode tertentu diubah oleh para pembuat kebijakan. Ada yang perubahannya signifikan, ada yang tidak. Sejauh ini, kurikulum nasional kita bersifat sangat mengikat dan menjadi acuan minimal bagi sekolah/satuan penyelenggara pendidikan. Namun, jika ada penambahan/improvisasi yang akan dilakukan oleh satuan pendidikan berdasarkan kebutuhan sekolah itu sendiri pun tidak bisa serta-merta diterapkan. Pengawas sekolah belum tentu menyetujui penambahan/improvisasi yang dirancang oleh sekolah.
Kurikulum Merdeka adalah kabar gembira bagi satuan pendidikan dari TK sampai SMA. Kehadiran kurikulum ini diharap dapat memberi keleluasaan kepada tiap sekolah (pendidik dan tenaga kependidikan) untuk dapat menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar siswanya. Pendidikan di dalam Kurikulum Merdeka berorientasi kepada kebutuhan para siswa (student-centered). Berbagai upaya akan dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam sistem pendidikan untuk menjadikan siswa sebagai pelajar yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya dan berkarakter baik demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum Merdeka dan P5
Dalam Kurikulum Merdeka, ada yang menarik untuk kita perhatikan bersama, yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau bisa disebut dengan P5. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memiliki porsi yang cukup besar dalam proses pembelajaran selama 1 tahun ajaran yaitu 20-25%. Melalui proyek ini, para siswa akan dibentuk menjadi pelajar yang bukan saja memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang ke-Pancasila-an tetapi juga belajar menghidupi nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan masyarakat yang beraneka ragam dimanapun mereka berada. Di perguruan tinggi “upaya sengaja” yang sama juga akan diterapkan. Maka diharapkan lahirlah manusia Indonesia yang Pancasilais dalam arti sesungguhnya yang akan membangun bangsa ini.
Persiapan Pelaksanaan
Merdeka? Apakah artinya Kurikulum Merdeka lebih mudah disusun dan diterapkan? Jawabannya justru jauh lebih sulit karena sekolah/satuan pendidikan tidak terbiasa merancang kurikulumnya sendiri. Semua sekolah (termasuk Sekolah Athalia) harus berjuang keras dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka ini. Dibutuhkan bantuan dan doa dari para orang tua/wali siswa untuk mendukung penerapan kurikulum ini. Ada sejumlah perbedaan yang akan diterapkan dalam Kurikulum ini. Contoh: tidak ada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan tidak ada penjurusan/peminatan, ada penerapan pembelajaran diferensiasi, rapor yang berbeda, dan masih banyak yang lain.
Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, akan menerapkan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2023/2024 dimulai dengan kelas KB-TK, SD kelas 1, 7, dan kelas 10. Sebagai praktisi pendidikan yang sudah bergelut di dunia pendidikan selama 37 tahun, saya optimis bahwa Kurikulum Merdeka akan berdampak optimal bagi siswa Athalia (secara khusus dan secara holistik baik dalam bidang intelektual, spiritual, dan karakter) ketika sekolah dan orang tua siswa saling mendukung.
Coram Deo (hidup dalam hadirat Tuhan). Tuhan Yesus memberkati.
Pembinaan karyawan Sekolah Athalia (YPK Athalia Kilang), sebuah sekolah di Serpong, tahun ini mengundang Ev. Hellen Pratama untuk menolong peserta kembali mengevaluasi kehidupan pribadi-Nya dengan Tuhan.
Kolose 2:6-7 mengingatkan peserta bahwa perjalanan sebagai murid Kristus adalah sebuah perjalanan yang progresif dan harus didasari oleh pengenalan yang benar tentang Tuhan serta adanya relasi yang intim dengan Tuhan. Perjalanan spiritualitas atau pembentukan spiritualitas (spiritual formation) yang demikian, bukanlah hal yang bisa terjadi secara alami melainkan harus dilakukan secara sengaja dan dalam sebuah komunitas dengan pertolongan Roh Kudus. Sehingga dengan demikian pada akhirnya orang percaya dapat menjadi makin serupa Kristus, memuliakan Tuhan dan menjadi berkat buat sesama.
Formasi spiritual terjadi dalam keseharian orang percaya. Setiap hari orang percaya diperhadapkan pada pilihan dan pilihan-pilihan yang dibuat menentukan apakah seseorang akan makin mendekat kepada Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Hal yang ingin dicapai dalam formasi spiritualitas adalah seseorang yang mengasihi Tuhan, diri dan sesama dengan benar. Selain itu juga dapat bertumbuh menjadi seorang yang makin utuh dan kudus, hidup dengan jati diri yang sejati dalam Kristus (David Benner).
Berikut Empat Krisis dalam Kerohanian dan Penyebabnya:
Narsisisme (lebih mencintai diri sendiri daripada Tuhan),
Pragmatisme (mengutamakan hasil yang menguntungkan daripada apa yang benar di mata Tuhan),
Konsumerisme (mendorong kita untuk membeli apa yang tidak perlu dan menuntut situasi untuk selalu memuaskan diri)
Burn-out (kelelahan, terus melakukan aktivitas dan tidak beristirahat dengan benar).
Hal yang mendorong munculnya krisis kerohanian adalah hidup dalam manusia lama yang dibentuk oleh dunia ini. Dunia melihat manusia dari apa yang saya punya, apa yang saya lakukan dan apa kata orang sehingga manusia berusaha tampil seperti yang dunia inginkan.
Cara Mengatasi Krisis
Cara mengatasi krisis rohani adalah dengan sengaja menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Efesus 4:22,24). Untuk itu peserta perlu belajar lebih mengenal diri dan mengenal Tuhan sebab makin seseorang mengenal Tuhan, ia akan mampu makin mengenal diri, demikian sebaliknya. Peserta juga harus mendisiplin diri dan terus berlatih hidup sebagai manusia baru. Peserta perlu terus mengevaluasi diri, jujur di hadapan Tuhan dan izinkan Tuhan memproses kehidupannya.
Demikianlah pembinaan kali ini menolong setiap karyawan Athalia melihat relasinya dengan Tuhan lebih penting dari hanya sekadar menjadi pengikut saja. Relasi yang makin dekat dengan Tuhan menolong setiap karyawan untuk hidup terus diubahkan oleh Roh Kudus. Juga makin hari makin menjadi murid Kristus yang menyerupai Dia dalam setiap aspek kehidupan, sehingga nama Tuhan dimuliakan dan setiap karyawan hidupnya bertumbuh dan menjadi berkat.
Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.
Yosua 1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.
Frasa kuatkan dan teguhkanlah hatimu serta janji penyertaan Tuhan tertulis beberapa kali dalam bagian ini. Mengapa? Mungkin karena kegentaran yang dirasakan Yosua sangatlah besar. Sebagai orang yang ditunjuk untuk menggantikan Musa, ia harus memimpin bangsa yang besar dan keras kepala. Di zaman Musa saja, ada begitu banyak pemberontakan sehingga Musa yang terkenal lembut hatinya bisa sangat marah menghadapi Israel. Di saat yang sama, ia juga harus memimpin peperangan melawan bangsa asing untuk menduduki tanah perjanjian. Orang Israel tidak ahli berperang karena mereka dulunya adalah budak di Mesir dan peralatan perang mereka pun sederhana sedangkan musuh yang dihadapi sangat kuat.
Melalui firman-Nya, Tuhan berulang kali meneguhkan Yosua bahwa dia tidak sendiri. Tuhan mau Yosua ingat bahwa Ia hadir dan menyertai Yosua dan bangsa Israel. Jika Tuhan yang ada di pihak mereka, tidak akan ada yang dapat mengalahkan mereka. Asal mereka tetap melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan setia, Tuhan berjanji tidak akan meninggalkan mereka. Dan janji penyertaan Tuhan ini juga berlaku bagi setiap anak-anak Tuhan hari ini.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tidak takut menghadapi apa pun yang akan terjadi di depan sebab Ia berjanji akan menyertai kita. Adapun yang Ia minta dari kita adalah tetap hidup dalam firman-Nya dan mengandalkan Dia. Karena itu tetaplah melangkah bersama dengan Tuhan dan jangan bersandar pada hikmat dan kekuatan kita sendiri. Ia, Allah yang setia akan terus menopang kita senantiasa.
Parents Meeting adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap awal tahun ajaran baru di Sekolah Athalia dan Sekolah PINUS, dua sekolah yang berlokasi di BSD, Serpong. Acara ini mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari KB-TK hingga SMA. Setiap level memiliki jadwal pelaksanaan berbeda, dan sekolah mengharapkan kehadiran orang tua sesuai dengan tingkat pendidikan anaknya.
Tujuan dan Isi Kegiatan Parents Meeting
Melalui kegiatan ini, sekolah menyampaikan berbagai informasi penting, di antaranya:
Pengenalan budaya Athalia.
Pelaksanaan Kurikulum Merdeka untuk level KB, TK, kelas 1, kelas 7, dan kelas 10.
Program pembelajaran karakter.
Program Athalia Parents Community (APC).
Program kelas parenting khusus bagi orang tua murid.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah perjumpaan antara pihak sekolah dan orang tua, agar kemitraan dalam pendampingan anak dapat berjalan sejalan dengan visi dan misi sekolah.
Prinsip 5 Beliefs: Nilai Dasar Komunitas Athalia
Ketua Yayasan Athalia Kilang, Ibu Charlotte Priatna, menyampaikan kembali prinsip 5 Beliefs yang dihidupi oleh komunitas Athalia, yaitu bahwa setiap anak:
Adalah titipan Tuhan,
Berharga,
Unik,
Cerdas, dan
Memiliki tujuan khusus.
Sebagai bentuk kemitraan antara orang tua dan sekolah, pengurus APC juga mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam berbagai program yang diselenggarakan.
Pembinaan Karakter dan Program Akademik
Selanjutnya, Bapak Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan, menjelaskan tentang program pembinaan karakter yang dilakukan secara berkesinambungan mulai dari jenjang KB-TK hingga SMA. Pada kesempatan yang sama, masing-masing kepala sekolah juga memaparkan program kurikulum akademik yang akan dijalankan selama tahun ajaran 2023/2024, serta memperkenalkan seluruh pengajar/pendidik dan staf pendidik yang akan mendampingi peserta didik.
Jadwal Pelaksanaan Parents Meeting 2023/2024
Beberapa unit yang telah menyelesaikan kegiatan Parents Meeting antara lain:
KB-TK
SD
PINUS
Kegiatan selanjutnya dijadwalkan sebagai berikut:
SMP: Sabtu, 5 Agustus
SMA: Sabtu, 12 Agustus
Harapan dari Kegiatan Parents Meeting
Sekolah berharap Parents Meeting tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi sarana untuk menyampaikan maksud Tuhan bagi orang tua, pendidik, dan peserta didik. Dengan demikian, seluruh proses pendidikan dapat berjalan sesuai dengan nilai-nilai Kristiani, dan nama Tuhan semakin dipermuliakan melalui kemitraan yang terbangun.
Sebuah peribahasa berbunyi, “hangat-hangat tahi ayam”. Peribahasa ini mengandung makna melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya di awal. Pada awalnya giat atau semangat melakukannya, namun pada akhirnya mulai malas dan akhirnya mungkin saja pekerjaan yang dilakukan tidak terselesaikan. Hal yang penting bukan hanya kita memulai dengan baik, namun juga perlu menyelesaikannya dengan baik pula.
Teladan Paulus
Hal ini mengingatkan kita pada frasa yang diucapkan oleh Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:24 dan 2 Timotius 4:7. Di kedua ayat tersebut, Paulus menyinggung tentang mencapai garis akhir. Paulus menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai suatu pertandingan. Pertandingan di dalam bahasa aslinya mengandung makna perlombaan, perjuangan, dan pergumulan. Paulus telah memulai pertandingan dengan baik, ia pun rindu bisa mengakhirinya dengan baik pula. Secara khusus pertandingan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pertandingan iman dalam berjuang memberitakan atau menyaksikan Injil kasih karunia Allah. Dalam pertandingannya itu, Paulus mengalami banyak tantangan dan pergumulan (Kis. 20:19; 2 Kor. 11:23-28). Meski demikian, Paulus menolak untuk menyerah. Ia tetap memelihara imannya sampai akhir sambil terus bergantung pada kasih karunia Tuhan yang melimpah dalam hidupnya.
Bagaimana dengan Kita?
Sama halnya dengan Paulus, kita semua sedang menjalani pertandingan iman di dalam hidup kita dalam peran kita masing-masing di mana pun kita berada. Untuk dapat mencapai garis akhir dengan baik seringkali tidak mudah. Ada banyak tantangan yang kita hadapi yang menggoda kita untuk berhenti di tengah jalan ataupun menjalaninya dengan tidak benar. Hendaknya dalam menjalani setiap pertandingan yang kita ikuti kita senantiasa memelihara iman kita. Apapun kesulitan yang kita hadapi kita jalani dengan iman dan ketaatan kepada Tuhan. Terlebih lagi dalam setiap pertandingan kita, mari kita jadikan itu sebagai ajang untuk menyaksikan Injil kasih karunia Allah yang telah kita terima kepada orang-orang di sekitar kita. Baik itu anak didik kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, maupun di lingkup yang lebih luas dalam pelayanan maupun bermasyarakat. Sebagaimana Paulus menantikan mahkota yang Tuhan sediakan baginya jika ia mencapai garis akhir dengan tetap memelihara imannya, mari jadikan itu sebagai penyemangat bagi kita.
1 Korintus 9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
Dalam bagian firman Tuhan ini, Paulus menjelaskan bahwa ia adalah manusia bebas karena Kristus telah menyelamatkannya. Namun, ia tidak mau menggunakan kebebasannya untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, ia berusaha menjaga kehidupannya sedemikian rupa supaya melalui hidupnya yang baru ia dapat bersaksi tentang Tuhan dan menjadi berkat untuk orang lain. Paulus bersikap demikian karena ia sadar bahwa keselamatan yang diperolehnya adalah anugerah yang dibayar mahal oleh Kristus. Mengikut Kristus tidak boleh setengah-setengah dan harus setia sampai akhir.
Kehidupan mengikut Kristus diumpamakan seperti sebuah pertandingan oleh Paulus. Dalam sebuah pertandingan, kita tidak boleh hanya bersemangat dan gigih di awal, namun harus menuntaskannya sampai akhir dengan sekuat tenaga untuk memperoleh mahkota. Demikian juga dalam mengikut Kristus. Ketika pertama mengenal Kristus, kita mungkin begitu bersemangat dan mau melakukan segala sesuatu untuk Tuhan. Namun dengan berjalannya waktu, tanpa sadar semangat dan kasih yang mula-mula mulai surut. Doa, ibadah, baca Alkitab dan hal-hal rohani lainnya bisa jadi terasa hambar, tidak lagi menggetarkan hati. Belum lagi ketika kesulitan yang tak kunjung usai membuat kita lelah untuk terus bertahan dalam iman hingga akhir. Atau, mungkin juga ketika segala sesuatu terlalu lancar, kita melihat berkat Tuhan sebagai hal yang biasa sehingga kita makin kehilangan arah dan jauh dari Tuhan.
Bagaimana dengan kita hari ini? Masihkah kita berjuang dengan gigih untuk terus dekat kepada Tuhan? Melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak membiarkan hambatan apapun menghalangi kita dengan gigih mengikut Tuhan seumur hidup kita. Mari kita terus berjuang setia sampai akhir sehingga dalam pertandingan iman, kelak kita memperoleh mahkota surgawi.
Oleh: Tri Ananda – Kepala Bagian SDM YPK Athalia Kilang
Makna “Menyediakan”
Kata “menyediakan” menurut KBBI memiliki arti mengadakan (menyiapkan, mengatur dan sebagainya) sesuatu untuk yang lain.1 Bagi Allah yang berdaulat atas segala ciptaan-Nya, ditunjukkan dengan cara Dia menyediakan segala sesuatu untuk ciptaan-Nya. Namun, segala sesuatu itu apa? “Segala sesuatu” memiliki makna “tidak terbatas (unlimited)”. Pengetahuan manusia yang terbatas tidak mampu mengidentifikasi apa saja yang tidak terbatas itu. Meski demikian, setiap kita tentu memiliki pengalaman rohani bagaimana Allah menyediakan “sesuatu” sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing.
Dari Kisah Para Rasul 14:17 yang disediakan Allah yaitu: “berbagai-bagai kebajikan: menurunkan hujan, memberikan musim subur, memuaskan hati dengan makanan, dan kegembiraan”. Allah begitu baik (bajik), sehingga Dia menyediakan hal-hal baik yang dibutuhkan manusia tanpa membeda-bedakan hingga manusia merasa puas hati dan gembira. Dalam perenungan pribadi saya terhadap ayat ini, saya mendapatkan bahwa Tuhan menyediakan:
Apa yang tidak dapat disediakan manusia
Tuhan menyediakan musim hujan bagi manusia. Meskipun sekarang ada hujan buatan, tetapi terbatas pada destilasi dan belum tentu berhasil. Hal yang menyentuh hati dan mendatangkan sukacita adalah Allah menyediakan keselamatan yang tidak bisa diperoleh manusia dengan upayanya sendiri.
Untuk kebaikan manusia
Tuhan mendatangkan kegembiraan dan kepuasan hati. Dalam hal ini kita juga harus terus belajar meyakini bahwa kesedihan atau bahkan penderitaan, Tuhan izinkan untuk kebaikan manusia.
Dengan memampukan manusia
Tuhan memakai dan memampukan manusia sebagai rekan sekerja-Nya untuk menjadi alat Tuhan dalam menyediakan sesuatu untuk sesama manusia.
Allah yang Maha Menyediakan
Kebajikan Allah kepada manusia tidak bergantung pada apa yang dilakukan manusia. Di ayat 16 dikatakan bahwa, “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing”. Lalu, di ayat 17 diawali dengan kata “namun” yang menunjukkan manusia menuruti jalannya masing-masing, tetapi Allah tetap menyediakan berbagai kebajikan. Allah menyediakan segala sesuatu dalam kondisi apapun, termasuk ketika kita masih menjadi seteru Allah. Dia telah menyediakan keselamatan bagi manusia melalui Tuhan Yesus Kristus.
Mengalami Jehovah Jireh
Saya akan membagikan salah satu hal yang Allah sediakan bagi keluarga kami yaitu menyediakan arah hidup bagi anak kami. Ada tiga peristiwa yang ingin saya bagikan, pertama pada saat anak kami usia TK, kami melihat dia memiliki bakat menyanyi. Kami selaku orang tua berpikir mungkin anak ini kelak bisa menjadi idola cilik, maka kami membawa anak kami ke tempat les musik dan tarik suara untuk mendaftar. Namun, anak kami menolak dan lebih memilih les piano, karena merasa sudah cukup belajar tarik suara dari kak Nina.
Kedua, saat anak kami kelas IX terjadi ketegangan di antara kami orang tua dengan anak saya, karena dia ingin melanjutkan SMA di sekolah negeri. Kami tidak kuasa menahan keinginannya dan kami pun menyerah. Namun, Tuhan memberikan pengertian kepada anak kami, sehingga dia tidak jadi melanjutkan di sekolah negeri.
Ketiga, pada saat anak kami lulus SMA hal yang sama juga terjadi berkaitan dengan pemilihan jurusan kuliah dan kampus. Tetapi, kami pun menyerah dan membiarkan anak kami pada pilihan yang diminatinya.
Dari setiap kejadian itu, kami sebagai orang tua yang naif belajar bahwa Allah telah menuntun dan menyediakan arah bagi anak kami dan kami ingin seperti “Silas dan Timotius tinggal di Berea” menantikan pelayanan Paulus. Kiranya Tuhan menolong.
Kisah ini berawal dari ayat yang kami pahami, yaitu ayat dari Kisah Para Rasul 17: 14 “Tetapi saudara-saudara menyuruh Paulus segera berangkat menuju ke pantai laut, tetapi Silas dan Timotius masih tinggal di Berea”. Secara ringkas dari ayat ini kami memahaminya bahwa Allah telah menuntun dan menyediakan arah yang harus dilalui Paulus dalam pelayanannya. Ayat ini yang menjadi dasar bagi saya untuk menceritakan tiga kejadian di atas.