Mengasihi Anak Bukan Berarti Memanjakan: Cara Membentuk Daya Juang Anak di Era Modern

daya juang anak

Anak Zaman Sekarang dan Tantangan Kenyamanan

Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.

Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.

Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.


Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak

Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya.
Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.


1. Berani Menanggung Risiko

Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.

Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.

Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.


2. Berani Direpotkan

Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.

Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.

Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.


3. Berani Malu

Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.

Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.

Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.


Mengasihi atau Mengasihani?

Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:

“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”

Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan.
Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.

Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.


Kesimpulan

Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.

Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.

Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”

(dln)

Puncak Bulan Bahasa SMP Athalia

Pada Oktober lalu, tepat 31 Oktober, SMP Athalia menggelar acara puncak Bulan Bahasa yang telah diagendakan sejak jauh-jauh hari. Ada beragam lomba di bidang literasi yang menggugah para remaja makin mencintai bahasa Indonesia, belajar bahasa asing, mampu bekerja sama dalam tim dan teman-teman sekelas.

SMP Athalia mengangkat tema “Bahasa sebagai Pemersatu Bangsa” dalam perayaan bulan bahasa tahun ini. Beragam lomba diharapkan dapat mengembangkan siswa lebih percaya diri dalam mengekspresikan seni dan bahasa, tampil di depan umum, dan bekerja sama. Acara tahun ini difokuskan pada bahasa Indonesia dan Inggris. Lomba bercerita untuk kelas tujuh, membaca puisi untuk kelas delapan, dan pidato untuk kelas sembilan adalah tiga lomba untuk tiga jenjang berbeda di bangku SMP yang menggunakan bahasa Indonesia. Setiap kelas mengirimkan beberapa wakil untuk setiap lombanya—dua wakil per kelas untuk lomba bercerita, tiga siswa per kelas untuk lomba membaca puisi, dan dua orang per kelas untuk lomba berpidato.

Kategori Lomba Individu

Bercerita

  • Juara 1: Grace (7F)
  • Juara 2: Cristopher (7L)
  • Juara 3: Catalina (7L)

Membaca Puisi

  • Juara 1: Sebastian (8JE)
  • Juara 2: Michelle (8N)
  • Juara 3: Evelyn (8JU)

Pidato

  • Juara 1: Marsya
  • Juara 2: Cathleen
  • Juara 3: Mario

Selain itu, ada tiga lomba lain dalam bahasa Inggris—guessing word untuk kelas tujuh, spelling bee untuk kelas delapan, dan story telling untuk kelas sembilan. Hampir sama seperti lomba-lomba dalam bahasa Indonesia, lomba dalam bahasa Inggris juga diikuti oleh beberapa siswa setiap kelasnya.

Kategori Lomba Kelompok

Guessing Word

  • Juara 1: 7L
  • Juara 2: 7F
  • Juara 3: 7D

Spelling Bee

  • Juara 1: 8N
  • Juara 2: 8JE
  • Juara 3: 8E

Story Telling

  • Juara 1: 9W
  • Juara 2: 9E
  • Juara 3: 9R

Selain dua jenis lomba tersebut, ada dua lomba lain yang tak kalah menyenangkan, yaitu lomba poster! Setiap kelas dari angkatan kelas tujuh, delapan, dan sembilan membuat poster kelas masing-masing dengan tema “Bahasa sebagai Pemersatu Bangsa”. Panitia memilih tiga juara dari tiap angkatan. Selanjutnya, ada juga lomba yel-yel—dipilih 1 kelas sebagai pemenang dari tiga angkatan tersebut. Yang terakhir, lomba mading. Dari tiga angkatan, setiap kelas harus menampilkan mading kelas masing-masing.

Lomba Poster per Kelas

7:

  • Juara 1: 7D
  • Juara 2: 7L
  • Juara 3: 7R

8:

  • Juara 1: 8D
  • Juara 2: 8N
  • Juara 3: 8JE

9

  • Juara 1: 9W
  • Juara 2: 9F
  • Juara 3: 9R

Lomba Yel-Yel

  • Kelas 7: 7L
  • Kelas 8: 8JU
  • Kelas 9: 9F

Lomba Mading

  • Juara 1: 8D
  • Juara 2: 9R
  • Juara 3: 9F

Perlombaan berlangsung menyenangkan. Para siswa bersukacita dan mengembangkan semangat saling mendukung. Mereka tidak berkompetisi, tetapi berjuang menampilkan yang terbaik versi diri mereka dan mengasah kemampuan bekerja sama dengan teman-teman satu tim.

Seluruh rangkaian lomba hari itu ditutup dengan pentas teater bertema “Malin Kundang” yang diperankan oleh siswa-siswi SMP. Pementasan ini dikemas dengan gaya “anak sekarang” yang kental dengan dialog kekinian, dicampur dengan humor-humor renyah ala anak muda. Para pemain mendapatkan apresiasi yang besar dari penonton yang merupakan siswa SMP, para guru, dan staf. (SO)

bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia

Puncak Bulan Bahasa di SD Athalia

Oleh: Rundiyati

Acara Puncak Bulan Bahasa

Puncak acara Bulan Bahasa dilaksanakan pada 28 Oktober 2019 sekaligus untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Acara ini diadakan di Aula F. Siswa kelas I-VI mengikuti acara dengan sangat antusias. Pada puncak acara ini, dipersembahkan berbagai rangkaian acara yang melibatkan seluruh siswa dan guru.

Rangkaian Berlangsungnya Acara

Acara ini berlangsung singkat, tetapi tidak menghilangkan maknanya. Tepat pukul 08.15, acara ini dimulai. Seperti tontonan spektakuler berkelas, acara ini diawali dengan hitungan mundur membuat seluruh peserta serasa terhipnotis untuk melihat puncak acara ini. Dilanjutkan dengan pemutaran video berdurasi singkat yang menceritakan kegiatan selama Bulan Bahasa dimulai dari pembukaan hingga acara di tiap minggunya. Video ini mengingatkan kembali proses kegiatan yang sudah dijalani, yakni mendapatkan pembekalan baru berkaitan dengan literasi, seperti menulis huruf kanji, membuat poster, membuat komik, spelling bee, story telling, teater, menggambar cerita, dan debat.

Setelah pemutaran video, Kania Kaban (6S) dan Brielle (3L) melakukan duet, menyanyikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” diiringi tiga guru musik. Onel (5M) selaku MC dalam acara ini mampu menarik seluruh penonton sehingga acara ini tak membosankan.

Senandung merdu dari Paduan Suara SD Athalia di bawah asuhan Kak Nina membawa suasana jadi tenang. Semua yang hadir di sana terhanyut ke dalam simfoni musik dan paduan suara yang indah.

Ada pula pementasan drama “Timun Mas” yang mengisahkan sepasang suami-istri (diperankan Nicholas 6W dan Clara 6S) yang merindukan kehadiran seorang anak. Suatu hari, mereka mendatangi seorang raksasa (diperankan oleh Oswel anak kelas 5H) untuk meminta diberikan seorang anak. Raksasa ini memberikan benih mentimun pada pasangan tersebut. Benih ini nantinya akan tumbuh menjadi sebuah timun berwarna emas yang berisi seorang bayi. Bayi ini kemudian diberi nama Timun Mas (diperankan oleh Desnaretha 4M).

Acara berlanjut dengan persembahan “Tari Indang” oleh siswa-siswi kelas VI. Puncaknya, seluruh ruangan dipenuhi gema suara siswa dan guru yang membacakan “Sumpah Pemuda” dan menyanyikan lagu “Bangun Pemudi Pemuda” secara serentak.

Untuk mengiringi anak-anak keluar dari aula F, kembali diperdengarkan lagu “Indonesia Jaya”. Selesai acara di Aula F, seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing. Mereka mendapatkan kenang-kenangan berupa booknote bergambar seperti yang ada di spanduk dan bertuliskan “Bulan Bahasa”.

bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia

AKSEN 2019: Menjalin Kebersamaan untuk Mencapai Satu Tujuan

Oleh: Tesalonika Maria Kaynna – X IPS 1

AKSEN di Athalia dan Tema Tahun 2019

AKSEN bagi kita—warga Athalia—bukanlah sesuatu yang baru. Sekolah Athalia mengadakan acara tersebut setiap tahun dengan tema dan konsep yang berbeda-beda.

Tahun ini, AKSEN diadakan pada 19 Oktober dengan tema “Zenith” yang berarti “Highest Point” atau “Titik Puncak”. Tema ini mengangkat tiga nilai, yakni solidaritas, integritas, dan respek. Tema dan ketiga nilai tersebut direalisasikan lewat kabaret—pertunjukan hiburan berupa nyanyian, tarian, dan sebagainya—yang menjadi bagian dalam AKSEN 2019. Tak hanya kabaret, ada pula penampilan band dari SMP dan SMA Athalia. Mereka adalah Saisho Kara, Latreia, dan Phosphenes.

Persiapan AKSEN

Persiapan AKSEN dilakukan selama kurang lebih 6 bulan. Diawali dengan pemilihan tema, nilai-nilai, dan konsep, kemudian berlanjut ke pembuatan naskah, lagu, koreografi, penampil, pemeran, dan sebagainya. Bagian yang paling dasar, yaitu merancang alur cerita dan konsep. Beberapa kali rumusan naskah direvisi supaya pesan cerita dapat tersampaikan, sambil menyesuaikan dengan nilai-nilai acara dan budaya Sekolah Athalia. Belum lagi, koreografi-koreografi yang harus dikejar. Melatih para pemeran yang berdialog juga menjadi suatu tantangan karena mereka adalah kunci cerita kabaret ini sehingga mereka dituntut untuk memahami dan merasakan alur cerita—kisah Matteo dalam berjuang meraih titik tertingginya—sehingga pesan-pesan yang disisipkan di beberapa dialog tertentu dapat sampai ke penonton. Semua tidak mudah, tentu saja. Kami harus berjuang di kepanitiaan ini seraya mengikuti pelajaran-pelajaran. Banyak yang harus kami susul dan yang harus dikerjakan di rumah—tugas sekolah maupun tugas kepanitiaan—sehingga menjaga kesehatan sendiri menjadi suatu perjuangan pula.

Namun, terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, buat saya sendiri, banyak sekali hal menguntungkan dan menyenangkan yang saya temukan sepanjang persiapan AKSEN. Selain belajar untuk percaya satu sama lain dan bekerja sama, kami juga bisa melatih diri dalam mengatur waktu karena hal tersebut diperlukan demi tercapainya kerja yang efisien. Adapun kami, panitia kelas 10, dituntut untuk berani menyuarakan pendapat, terbuka satu dengan yang lain, terutama dengan kakak kelas. Terkait dengan hal itu, salah satu dampak yang terasa adalah bertambahnya kenalan. Yang tidak saling mengenal kini sering bertukar sapa, bahkan saling melempar guyonan.

Kesan

Hal-hal mengesankan dan unik yang dapat ditemukan selama persiapan acara sekaligus dalam kepanitiaan besar ini menjadi suatu kenangan tersendiri buat kami. Dari saling memberikan pesan-pesan kecil di bagian belakang name tag kami, berbagi hadiah tanda semangat, mengadakan konser di aula, menyaksikan inside jokes konyol yang tiap-tiap bidang punya, canda-tawa, dan masih banyak lagi. Bahkan, akhir-akhir ini, beberapa kali saya mendengar lontaran kalimat dari orang-orang yang berada di dalam kepanitiaan dan terlibat dalam acara mengenai betapa rindunya mereka ketika mengingat momen-momen tersebut.

Ketika tiba hari yang sudah kita persiapkan sekian lama, ada rasa tegang dan cemas yang menyelip di benak kami. Di dalam doa kami, tersisip harapan kepada Tuhan supaya acara boleh berjalan mulus, sepadan dengan perjuangan yang telah kami lalui bersama. Lantas, di akhir acara, tepatnya setelah lagu “We’re All In This Together”, rasa lega meluap. Euforia di atas panggung yang dipenuhi panitia dan penampil AKSEN tidak terbendung lagi. Rasa bangga, puas, dan sukacita dirasakan kami semua. Bahkan, ada beberapa yang tak kuasa menahan haru hingga menangis, terutama kakak-kakak kelas 12. Ya, ini adalah AKSEN terakhir mereka, begitu pun kakak kelas 11. Masih teringat jelas kala itu, sorak-sorai terdengar riuh, suasana menjadi gegap gempita, sorot lampu menyilaukan mata, orang-orang saling berpelukan, semua mengukir senyuman lebar. Momen-momen indah itu pun diabadikan dalam bentuk foto, juga sebagai bentuk kenangan.

AKSEN 2019, terima kasih untuk kesempatan ini. Sampai jumpa di AKSEN selanjutnya. Zenith, highest point!

AKSEN 2019
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen

Anak adalah Kertas Berwarna yang Unik

Anak adalah Kertas Berwarna yang Unik

Teach your children they’re unique. That way, they won’t feel pressured to be like everybody else.” –Cindy Cashman

Setiap Anak Itu Unik

Kita sering mendengarkan orang berkata bahwa “Anak itu seperti kertas putih. Sekarang tergantung kita mau menuliskan kertas itu seperti apa…”

Padahal, anak hadir ke dunia dengan keunikannya sendiri. Jika diibaratkan seperti kertas, anak adalah kertas berwarna dengan jenis yang berbeda-beda. Ada kertas folio, kertas kalkir, kertas duplex, dan lain sebagainya. Tekstur dan karakteristik kertas-kertas tersebut berbeda sehingga peruntukannya pun berbeda. Perlakuan terhadap kertas-kertas tersebut pun tentu berbeda.

Menyamakan dan Memperbadingkan

Ibu Charlotte menegaskan bahwa selain seperti kertas berwarna, anak juga seperti kertas yang sudah punya tulisan-tulisan di dalamnya. Anak memiliki sifat dan karakteristik bawaan. Oleh karena itu, sangat mungkin satu anak berbeda dengan kakak atau adiknya. Namun, yang awam dilakukan orang tua, yaitu memperlakukan anak-anaknya sama rata. Mereka juga memberikan ekspektasi yang sama kepada anak-anaknya. Akibatnya, ketika ada anak yang tidak berhasil melakukan pencapaian sesuai ekspektasi orang tuanya, perbandingan-perbandingan terlontar. “Si A kenapa nggak bisa displin seperti adiknya?” “B itu sukanya main bola terus, susah disuruh belajar. Nggak seperti kakaknya yang sudah sadar untuk belajar tanpa disuruh….”

Komparasi ini tentunya sangat berbahaya bagi anak-anak yang diperbandingkan. Selain menimbulkan rasa iri, sakit hati, dan kecewa, anak bisa merasakan benih-benih kebencian kepada saudara yang diperbandingkan dengannya. Efeknya, sibling rivalry bisa terjadi di dalam keluarga.

Tujuan Unik Tuhan untuk Setiap Anak

Tuhan sudah memiliki tujuan untuk anak-anak kita. Atas dasar tujuan tersebut, Tuhan membekali anak-anak kita dengan kekurangan dan kelebihan. Ketidaksempurnaan itu juga yang kita miliki. Ada beberapa hal yang kita kuasai dan tidak. Lalu, mengapa kita cenderung menuntut kesempurnaan pada anak-anak kita? Mengapa kita menuntut mereka untuk bisa meraih nilai tinggi di pelajaran yang tidak dikuasainya? Mengapa kita menuntut anak untuk bisa melakukan sebuah keterampilan, sedangkan dari awal dia menunjukkan bahwa dia tidak cakap melakukannya?

Ketidaksempurnaan yang Tuhan berikan sudah sesuai “porsinya” karena Tuhan tahu bahwa itu tidak dibutuhkan untuk tujuan Tuhan kepada anak-anak kita. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendorong anak untuk menerima kekurangannya dan mengasah kelebihannya untuk menjadikannya seturut kehendak Tuhan. (dln)

*Disarikan dari video Ibu Charlotte Priatna oleh Tanam Benih berjudul “Benarkah Anak itu Ibarat Kertas Putih Kosong?”

Pojok Parenting: Trauma Seksual pada Anak Usia Dini

trauma seksual pada anak

Pentingnya Pendidikan Seks dan Penanganan Anak dengan Trauma Seksual

Sex education atau pendidikan seks kini menjadi kebutuhan penting, terutama dalam konteks penanganan anak dengan trauma seksual. Banyak pendidik, orang tua, bahkan konselor belum memiliki pemahaman yang memadai dalam menghadapi kasus berat seperti ini.

Dalam praktiknya, tidak sedikit yang kebingungan saat seorang anak datang dengan kisah yang memilukan tentang pelecehan atau kekerasan seksual yang dialaminya.

Seminar bertema “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3 membahas secara mendalam mengenai hal ini. Para fasilitator menjelaskan definisi, bentuk, serta langkah-langkah pendampingan terhadap anak korban trauma seksual.


Apa Itu Trauma Seksual pada Anak?

Trauma seksual pada anak merupakan interaksi yang melibatkan anak dengan orang dewasa atau anak lain, di mana korban digunakan sebagai stimulator seksual oleh pelaku.

Bentuk trauma seksual bisa beragam, tidak hanya berupa sentuhan fisik (rabaan), tetapi juga:

  • Voyeurism (melihat tubuh telanjang anak),
  • Exhibitionism (memperlihatkan alat kelamin kepada anak),
  • Menyuruh anak menonton atau melihat gambar porno.

Salah satu fasilitator, Nona Pooroe Utomo, menyebutkan fakta mengejutkan:

1 dari 4 anak perempuan dan 1 dari 6 anak laki-laki pernah mengalami trauma seksual sebelum usia 18 tahun.

Lebih ironis lagi, mayoritas kasus tidak pernah dilaporkan, karena pelaku sering kali adalah orang dekat atau orang kepercayaan keluarga. Data menunjukkan bahwa ¾ pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban, bahkan bisa jadi anggota keluarga sendiri.


Gejala Anak yang Mengalami Trauma Seksual

Setiap anak menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap trauma. Namun, beberapa tanda umum yang sering muncul antara lain:

  • Mimpi buruk atau sulit tidur,
  • Menarik diri dari lingkungan,
  • Mudah marah atau meledak,
  • Cemas atau depresi,
  • Takut ditinggal sendirian, terutama dengan orang tertentu,
  • Menunjukkan pengetahuan seksual yang tidak sesuai usia,
  • Menggunakan bahasa atau perilaku seksual yang tidak semestinya.

Mengenali gejala ini sangat penting agar anak mendapatkan penanganan dini sebelum dampak psikologisnya semakin berat.


Apakah Anak Bisa Pulih dari Trauma Seksual?

Pemulihan anak korban trauma seksual sangat bergantung pada karakter anak, dukungan keluarga, dan proses konseling yang dijalani.

  • Anak yang tangguh dengan dukungan emosional yang baik biasanya dapat pulih dan menjalani kehidupan normal.
  • Anak yang sensitif atau fragile membutuhkan waktu dan pendampingan berkelanjutan untuk memulihkan luka batin yang mendalam.
  • Anak yang tidak mendapatkan penanganan sama sekali berisiko mengalami gangguan psikologis di masa depan, bahkan berpotensi menjadi pelaku, mengalami orientasi seksual menyimpang, atau kecanduan pornografi.

Peran Sekolah dan Keluarga dalam Pemulihan Anak

Sekolah memiliki peran penting sebagai rumah kedua bagi anak. Melalui konselor sekolah, anak-anak yang pernah mengalami trauma bisa mendapatkan pendampingan psikologis dan emosional.

Kolaborasi antara guru, konselor, dan keluarga menjadi sistem pendukung utama dalam proses pemulihan. Namun, jika trauma yang dialami cukup berat, anak perlu dirujuk untuk konseling lanjutan dengan psikolog atau psikiater profesional agar penanganan lebih mendalam.


Langkah-Langkah Menangani Anak dengan Trauma Seksual

Menurut Julianto Simanjuntak, dalam seminar yang sama, ada beberapa langkah awal konseling yang dapat dilakukan oleh guru, konselor, atau pendamping ketika anak mulai membuka diri:

1. Memvalidasi dan Meneguhkan

Anak yang berani menceritakan kisah pelecehan yang dialaminya menunjukkan keberanian luar biasa. Tugas pendamping adalah memberi validasi dan penguatan, agar anak merasa keputusannya untuk berbagi adalah langkah yang benar.

2. Menunjukkan Empati

Guru atau konselor perlu menunjukkan empati tulus, bukan sekadar simpati. Anak harus merasa aman dan nyaman, serta mengetahui bahwa pendamping akan terus menemaninya selama proses pemulihan berlangsung.

3. Normalisasi Perasaan Anak

Ketika anak merasa malu, marah, atau hancur, pendamping perlu menjelaskan bahwa perasaan tersebut wajar dialami korban. Dengan demikian, anak bisa mulai menerima emosinya tanpa rasa bersalah.

4. Memberi Nasihat dengan Izin Anak

Setiap anak memiliki waktu berbeda dalam membuka diri terhadap saran. Hindari memaksakan nasihat.
Tanyakan terlebih dahulu apakah anak siap untuk mendengarkan masukan.
Jika sudah siap, bantu anak mempertimbangkan langkah selanjutnya, seperti:

  • Menceritakan kejadian kepada keluarga,
  • Mengikuti konseling intensif dengan psikolog atau psikiater.

Kesimpulan

Menangani anak korban trauma seksual membutuhkan pendekatan penuh empati, validasi, dan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional.

Pendidikan seks yang benar tidak hanya tentang mengenalkan anatomi tubuh, tetapi juga tentang membangun kesadaran perlindungan diri, batas tubuh, dan keberanian untuk berbicara ketika terjadi pelanggaran.

Setiap anak berhak mendapatkan lingkungan aman untuk tumbuh, bercerita, dan pulih dari luka yang pernah mereka alami.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3, dengan narasumber Nona Pooroe Utomo dan Julianto Simanjuntak. (dln)

Hari Kunjung Perpustakaan

Bulan September sangat spesial buat perpustakaan, bagaimana tidak? Ada dua momen yang spesial di bulan ini, yaitu “Bulan Gemar Membaca” dan “Hari Kunjung Perpustakaan”. Dua momen tersebut penting untuk mendongkrak minat baca pengajar, staf, dan siswa Sekolah Athalia.

Untuk memperingati hari spesial tersebut, khususnya “Hari Kunjung Perpustakaan” pada tanggal 14 September, Perpustakaan Sekolah Athalia mengadakan games yang bisa diikuti oleh pengajar, staf, siswa, office boys & girls dan juga pengajar yang sedang mengadakan studi banding ke Sekolah Athalia. Games ini adalah mencari harta karun yang ada di perpustakaan dengan menjawab pertanyaan yang sudah disediakan Pustakawan. Selain itu games ini juga mewajibkan pengunjung perpustakaan untuk meneliti sebuah gambar dan mencari kesalahan pada gambar tersebut. Antusias pengunjung perpustakaan luar biasa untuk mencari harta karun tersebut, karena ada hadiah menarik yang sudah menanti.

Pustakawan menyediakan 25 buah buku fiksi dan nonfiksi, 42 buah topi keren, 20 buah poster dan 2 buah tas. Selain itu setiap pengunjung perpustakaan akan mendapatkan makanan ringan dan juga pembatas buku. Semua hadiah dan makanan ringan yang disediakan sudah habis tidak bersisa :).

Semoga minat baca pengajar, staf, dan siswa tetap terpelihara, semakin antusias ke perpustakaan dan semakin banyak pengunjung Perpustakaan.

(Dihimpun oleh: Hana Kristina Purba, koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia)

hari kunjung perpushari kunjung perpushari kunjung perpushari kunjung perpus

Baca juga: Hari Kunjung Perpustakaan

Manfaat Liburan Keluarga

Manfaat Liburan Keluarga

Kenapa Liburan Itu Penting?

“Happy times come and go, but the memories stays forever” (kebahagiaan datang dan pergi, namun kenangan tetap selamanya). Kalimat ini menggambarkan betapa berharganya waktu yang kita habiskan bersama orang yang kita cintai, terutama saat berlibur. Seringkali, kita mendengar kalimat seperti, “Aku butuh piknik, butuh refreshing” atau “Aku kurang liburan, kurang jalan-jalan”, saat merasa lelah dan jenuh dengan rutinitas sehari-hari.

Liburan bukan hanya tentang bersenang-senang atau beristirahat, tetapi juga menjadi sarana untuk mencari keseimbangan hidup kembali. Keinginan untuk berlibur menggambarkan kebutuhan banyak orang untuk menyegarkan pikiran dan emosi setelah beraktivitas intens. Adakah orang yang tidak menyukai liburan? Mungkin ada, namun sebagian besar dari kita menganggap liburan sebagai salah satu cara untuk menyegarkan diri dan mengisi ulang energi.


Manfaat Liburan Keluarga

Liburan ternyata bukan hanya sekadar waktu untuk bersenang-senang, tetapi juga memiliki dampak positif bagi hubungan dalam keluarga. Salah satu kegiatan yang sangat bermanfaat untuk mengisi liburan adalah berlibur bersama keluarga. Ketika seluruh anggota keluarga meluangkan waktu bersama, liburan dapat menjadi sarana untuk mempererat ikatan emosional (bonding) antar anggota keluarga.

Liburan keluarga adalah saat yang tepat bagi orang tua dan anak untuk saling menyediakan waktu dan mengisinya dengan aktivitas menyenangkan bersama, dan memperbaiki hubungan yang mungkin terabaikan akibat kesibukan sehari-hari. Memori indah yang tercipta selama liburan akan menjadi modal berharga bagi masing-masing anggota keluarga, menciptakan kebahagiaan, dan meningkatkan kepuasan dalam hubungan satu sama lain. Oleh karena itu, merencanakan liburan bersama keluarga dengan baik sangat penting untuk menciptakan kenangan yang berarti dan penuh makna.


Membangun Relasi Keluarga: Seperti Merawat Tanaman

Membangun relasi dalam keluarga bisa diibaratkan seperti merawat tanaman. Agar tanaman tumbuh dengan baik, ia membutuhkan air yang cukup, sinar matahari, dan nutrisi yang tepat. Begitu juga dengan anggota keluarga; mereka membutuhkan perhatian dalam berbagai aspek—spiritual, karakter, moral, kognitif, dan lainnya. Agar keluarga bisa bertumbuh bersama dengan baik, dibutuhkan lingkungan yang kondusif.

Kondisi keluarga yang mendukung pertumbuhan emosional dan relasi yang baik tidak terjadi begitu saja. Hal ini perlu direncanakan dan dikelola dengan kesengajaan. Liburan keluarga adalah salah satu cara untuk menciptakan suasana yang kondusif dan memperkuat ikatan antar anggota keluarga. Saat berlibur, setiap anggota keluarga dapat menikmati kehadiran satu sama lain, merasakan cinta, dan mendukung pertumbuhan emosional mereka.


Cara Merencanakan Liburan Keluarga yang Bermakna

Liburan yang menyenangkan dan bermanfaat tidak selalu tergantung pada destinasi atau fasilitas tempat liburan. Sebaliknya, yang lebih penting adalah bagaimana kita merencanakan dan mengisinya. Sebelum pergi berlibur, luangkan waktu untuk berbicara dengan seluruh anggota keluarga tentang rencana liburan. Obrolan ini dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal preferensi dan kesukaan satu sama lain, serta belajar berempati.

Usahakan untuk merancang kegiatan yang melibatkan interaksi antar anggota keluarga. Pilih aktivitas yang bisa dinikmati bersama, seperti bersepeda, bermain di pantai, memasak, atau bermain board game seperti Halma, Ludo, atau Monopoli. Mengunjungi tempat wisata alam seperti gunung, air terjun, dan pantai juga bisa menjadi pilihan liburan yang menyenangkan dan mendekatkan keluarga.


Bersama Berlibur vs. Berlibur Bersama

Ada perbedaan besar antara berlibur bersama dan bersama berlibur. Jika masing-masing anggota keluarga hanya melakukan kegiatan favoritnya sendiri meskipun berada di tempat yang sama, maka liburan tersebut tidak akan membangun hubungan yang erat. Contohnya, sebuah keluarga pergi ke mall bersama, namun ayah duduk di kedai kopi, ibu berbelanja, dan anak-anak bermain di arena bermain. Ini adalah contoh bersama berlibur, bukan berlibur bersama.

Berlibur bersama artinya seluruh anggota keluarga menghabiskan waktu berkualitas yang melibatkan interaksi, berbagi kebahagiaan, dan saling mendukung. Liburan yang seperti ini menciptakan kepuasan bersama dan memperkuat ikatan keluarga. Kenangan indah yang tercipta selama liburan ini akan melekat dalam ingatan dan menjadi modal bagi hubungan yang lebih harmonis dan penuh kasih.


Merencanakan Liburan Keluarga yang Penuh Makna

Untuk mendapatkan liburan keluarga yang penuh makna, penting untuk merencanakan dengan baik. Ingatlah bahwa liburan yang sukses bukanlah tentang destinasi atau fasilitas semata, tetapi tentang bagaimana kita mengisinya dengan kegiatan yang mempererat hubungan dalam keluarga. Buatlah liburan sebagai kesempatan untuk mengisi tangki emosi keluarga dengan perasaan positif, cinta, dan kedekatan yang akan bertahan lama.

Selamat menikmati liburan bersama keluarga Anda. Semoga liburan keluarga ini membawa manfaat kedamaian, kebahagiaan, dan memperkuat relasi dalam keluarga. Tuhan menyertai kita.

Belas Kasihan

belas kasihan

Oleh: Bapak Presno Saragih, Kabid. Pendidikan

Yesus yang Penuh Belas Kasihan

Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.

Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.

Makna Belas Kasihan

Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).

Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.

Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).

Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.

Refleksi

Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!

Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.

Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…

Baca Juga: Belas Kasihan Adalah Kunci

Penerimaan siswa baru untuk siswa dalam di Sekolah Athalia

Sosialisai Penerimaan Siswa Baru

Sosialisasi penerimaan siswa baru dan pembelian formulir untuk siswa dalam, tahun pelajaran 2018/2019, diselenggarakan pada Sabtu, 7 Oktober 2017 di Aula F gedung SMA Athalia. Acara ini dimulai dengan pemutaran video clip tentang profil Sekolah Athalia yang dilanjutkan dengan doa pembuka oleh kepala SMA bapak Anton Tamal.

Berikutnya acara ini disemarakkan oleh penampilan siswa yaitu fancy drill dari Boys’ Brigade Athalia dan paduan suara siswa Athalia. Setelah itu, John C, seorang alumnus Sekolah Athalia memberikan kesaksian tentang pengalamannya selama belajar di Sekolah Athalia, tentang karakter baik yang telah dipelajarinya selama bersekolah di tempat ini, dan bagaimana hal tersebut berpengaruh dalam dirinya bahkan setelah ia meninggalkan Sekolah Athalia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pengenalan Proses Pembelajaran di Sekolah Athalia

Selanjutnya acara diteruskan dengan pengenalan proses pembelajaran di Sekolah Athalia oleh Bapak Presno Saragih. Ibu Charlotte Priatna selaku direktur Sekolah Athalia juga menyampaikan tentang program kemitraan sekolah, dimana Sekolah Athalia mengharapkan kerja sama yang baik antara sekolah, pendidik, dan orang tua dalam mendidik para siswa sehingga terjalin sinergi yang akan mampu memaksimalkan proses belajar siswa dalam mengembangkan dirinya. Diharapkan setiap siswa dapat menemukan dan menghidupi rencana Tuhan dalam diri mereka. Prosedur penerimaan siswa baru disampaikan oleh Bapak Daniel sebagai salah satu anggota Yayasan Athalia kilang berikut tanya jawab mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran siswa baru tersebut. Acara diakhiri dengan pembelian dan pengembalian formulir pendaftaran. (Indri).

Pendataan daftar hadir orang tua siswa

Pendataan daftar hadir orang tua siswa

Bapak Anton Tamal, Kepala SMA Athalia

Bapak Anton Tamal, Kepala SMA Athalia

Fancy Drill oleh Boys' Brigade

Fancy Drill oleh Boys’ Brigade

Paduan Suara Siswa Athalia

Paduan Suara Siswa Athalia

John C, alumnus Sekolah Athalia

John C, alumnus Sekolah Athalia

Bapak Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia

Bapak Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia

Ibu Charlotte Priatna, Direktur Sekolah Athalia.

Ibu Charlotte Priatna, Direktur Sekolah Athalia.

Bapak Daniel L, anggota Yayasan Pendidikan Kristen Athalia Kilang.

Bapak Daniel L, anggota Yayasan Pendidikan Kristen Athalia Kilang.

Proses pembelian dan pengembalian formulir pendaftaran siswa baru dari siswa dalam Sekolah Athalia.

Proses pembelian dan pengembalian formulir pendaftaran siswa baru dari siswa dalam Sekolah Athalia.