Judul : Character Excellence Penulis : Rizal Badudu Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun terbit : 2019 Jumlah halaman: 228 halaman
Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.
Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.
Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.
Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.
Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.
Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi. Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.
Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan
Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.
Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.
Harapan Orang Tua vs. Realita Anak
Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.
Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan? Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya? Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.
Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya
Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.
Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.
Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.
Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat
Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.
Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter. Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.
Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus
Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih. Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.
Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)
Parents In Touch (PIT) adalah kegiatan kolaborasi oleh orang tua, guru, dan staf yang ada di dalam wadah komunitas Athalia. Ini bukan sembarang kegiatan karena di dalam PIT-lah orang tua, guru, dan staf di komunitas Athalia bergandengan tangan saling mendukung di dalam persekutuan doa.
Pada Rabu, 11 Desember 2019, PIT merayakan Natal. Persekutuan kali ini terasa begitu istimewa karena PIT yang biasanya dibagi dua sesi, digabung sehingga kami bisa saling menyapa dan berkenalan—bagi yang belum saling mengenal. Kami juga kedatangan beberapa tamu spesial yang baru datang untuk pertama kalinya.
Pada Natal PIT kali ini, kami diajak untuk merenungi firman Tuhan yang diambil dari 1 Yohanes 2:2. Bu Nosta, sebagai pembawa firman, menyampaikan bahwa Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa. Bukan hanya dosa kita, tetapi dosa seluruh dunia. Meski demikian, pendamaian dosa itu diberikan-Nya jika kita menuruti perintah-perintah-Nya. Sudah seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur bahwa Yesus datang sebagai pendamai dosa-dosa kita.
Kebersamaan dalam Komunitas
Seperti sesi PIT biasanya, kami menutupnya dengan doa dan melanjutkannya dengan kebersamaan. Beragam hidangan telah tersedia. Momen kali ini terasa spesial karena baik para orang tua maupun staf menjadi penyedia santapan kami pada hari itu. Sembari menyantap makanan, kami larut dalam perbincangan. Kami saling bertukar kabar dan berbagi cerita.
Suasana itu tak berjarak, tak bersekat. Guru, orang tua, dan staf saling membaur, bercerita layaknya seorang sahabat. Saling mendengar cerita, bahkan tak kikuk untuk saling memuji dan melepas tawa bersama. Di mana lagi bisa kita jumpai persahabatan seperti ini jika bukan di dalam komunitas Athalia?
Saya merefleksikannya dari renungan yang disampaikan dalam Natal PIT yang lalu. Yesus hadir ke dunia untuk menjadi Juru Pendamai dosa dunia alias menjadi Juru Selamat. PIT menjadi sarana yang membentuk hati dan sikap setiap orang yang hadir agar semakin dimampukan dan dilayakkan untuk mendapat pendamaian atas dosa-dosa.
Di dalam PIT, kami menemui banyak kesaksian yang bisa memberkati kami. Saat melangkah keluar dari aula E, kami bisa membawa berkat itu dan menyampaikannya kepada lebih banyak jiwa di luar sana. Hati yang gelisah bagaikan tersiram air yang sejuk. Beberapa datang dengan hati yang sedih, hati yang keras, hati yang patah. Yang lainnya menopang, menguatkan, dan memberikan penghiburan. Di dalam komunitas ini, kami berbagi sukacita dan mendoakan setiap anak yang ada di sekolah ini.
Kerinduan bersekutu
Aktivitas yang terjadi setiap sesi PIT menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana hati dan sikap kami turut dibentuk di dalam persekutuan ini. Doa, yang notabene merupakan cara untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, juga menjadi fokus utama dalam persekutuan ini.
Sebagai orang tua siswa yang merasa sangat diberkati oleh persekutuan ini, kami mengharapkan semakin banyak anggota komunitas ini yang bergabung dalam PIT. Kami merasa menemukan komunitas yang tepat untuk bersama mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Komunikasi kami dengan Tuhan di dalam doa semakin intens.
Kehidupan tanpa doa bagaikan makanan tanpa garam. Hambar, hampa, kelu, sendu, dan sulit menemukan sukacita. Dengan doa, apalagi berdoa bersama-sama di dalam nama Yesus Kristus, semuanya menjadi benderang dan terasa indah.
Mari, kita satukan hati untuk berdoa bersama dalam “Parents In Touch” setiap Rabu.
We wish you a Merry Christmas 2019, and happy New Year 2020.
Penghargaan untuk Anggota Boys’ Brigade Cabang 4 Sekolah Athalia
Pada Jumat, 6 Desember 2019, Boys’ Brigade (BB) Cabang 4 Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mengadakan kegiatan Award Day. Acara ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota BB yang telah memenuhi berbagai persyaratan pencapaian di bidang tertentu.
Dalam kegiatan ini, sejumlah lencana diberikan kepada anggota yang berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan.
Daftar Lencana dan Jumlah Penerimanya
Berikut daftar lencana yang dibagikan pada kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia 2019:
Lencana Target: 127 anggota
Lencana Perkemahan: 48 anggota
Lencana Pelayanan Masyarakat: 123 anggota
Lencana Olahraga: 23 anggota
Lencana Hobi: 6 anggota
Lencana Seni: 15 anggota
Lencana Kewarganegaraan: 19 anggota
Lencana Pendidikan Agama Kristen: 31 anggota
Setiap lencana memiliki makna dan nilai pembelajaran tersendiri bagi para anggota.
Kriteria dan Proses Perolehan Lencana
Untuk mendapatkan lencana-lencana tersebut, setiap anggota harus memenuhi kriteria tertentu sesuai bidangnya. Kriteria ini berupa seperangkat kemampuan atau pengetahuan yang diajarkan dalam kegiatan kelas parade BB, serta tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kegiatan rutin.
Sebagai contoh:
Lencana Pelayanan Masyarakat mensyaratkan anggota melakukan kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, seperti pelayanan di panti asuhan.
Lencana Olahraga dan Lencana Hobi menuntut pengembangan keterampilan dan disiplin.
Proses ini mengajarkan setiap anggota untuk berkomitmen, bertanggung jawab, dan berjuang dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Pengembangan Empat Aspek Kehidupan
Pemberian lencana bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat motivasi bagi anggota Boys’ Brigade untuk berkembang dalam empat aspek kehidupan:
Pengetahuan (Intellectual) – meningkatkan wawasan dan keterampilan.
Fisik (Physical) – melatih kekuatan dan kedisiplinan tubuh.
Sosial (Social) – menumbuhkan semangat kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.
Spiritual (Spiritual) – memperdalam iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Melalui proses memperoleh lencana, para anggota bertumbuh menjadi pribadi yang seimbang dalam aspek intelektual, fisik, sosial, dan spiritual.
Peran NCO dan Officer dalam Award Day
Acara Award Day diatur dan dijalankan oleh NCO (Non-Commissioned Officer), yaitu para anggota BB yang dipercaya sebagai pemimpin rekan-rekannya. Mereka menyiapkan seluruh keperluan acara, mulai dari logistik lencana, perlengkapan, tata cara penyematan, hingga dokumentasi.
Seluruh kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan para Officer (guru pendamping). Keterlibatan NCO ini tidak hanya memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi latihan berorganisasi dan melayani sesama.
Kesimpulan: Award Day sebagai Ajang Pembentukan Karakter
Kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia bukan hanya tentang pemberian lencana, tetapi juga merupakan perayaan hasil kerja keras, kedisiplinan, dan pertumbuhan karakter siswa.
Melalui kegiatan ini, setiap anggota belajar bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan — seorang pemimpin yang memiliki semangat tangguh, hati yang melayani, dan karakter yang berintegritas. ✨ Award Day menjadi momen berharga yang meneguhkan semangat “Sure & Stedfast” — teguh dalam iman dan pelayanan.
Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.
Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.
Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.
Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak
Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya. Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.
Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.
Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.
1. Berani Menanggung Risiko
Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.
Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.
Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.
2. Berani Direpotkan
Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.
Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.
Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.
3. Berani Malu
Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.
Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.
Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.
Mengasihi atau Mengasihani?
Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:
“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”
Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan. Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.
Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.
Kesimpulan
Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.
Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.
Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.
📚 Catatan
Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”
Pada Oktober lalu, tepat 31 Oktober, SMP Athalia menggelar acara puncak Bulan Bahasa yang telah diagendakan sejak jauh-jauh hari. Ada beragam lomba di bidang literasi yang menggugah para remaja makin mencintai bahasa Indonesia, belajar bahasa asing, mampu bekerja sama dalam tim dan teman-teman sekelas.
SMP Athalia mengangkat tema “Bahasa sebagai Pemersatu Bangsa” dalam perayaan bulan bahasa tahun ini. Beragam lomba diharapkan dapat mengembangkan siswa lebih percaya diri dalam mengekspresikan seni dan bahasa, tampil di depan umum, dan bekerja sama. Acara tahun ini difokuskan pada bahasa Indonesia dan Inggris. Lomba bercerita untuk kelas tujuh, membaca puisi untuk kelas delapan, dan pidato untuk kelas sembilan adalah tiga lomba untuk tiga jenjang berbeda di bangku SMP yang menggunakan bahasa Indonesia. Setiap kelas mengirimkan beberapa wakil untuk setiap lombanya—dua wakil per kelas untuk lomba bercerita, tiga siswa per kelas untuk lomba membaca puisi, dan dua orang per kelas untuk lomba berpidato.
Kategori Lomba Individu
Bercerita
Juara 1: Grace (7F)
Juara 2: Cristopher (7L)
Juara 3: Catalina (7L)
Membaca Puisi
Juara 1: Sebastian (8JE)
Juara 2: Michelle (8N)
Juara 3: Evelyn (8JU)
Pidato
Juara 1: Marsya
Juara 2: Cathleen
Juara 3: Mario
Selain itu, ada tiga lomba lain dalam bahasa Inggris—guessing word untuk kelas tujuh, spelling bee untuk kelas delapan, dan story telling untuk kelas sembilan. Hampir sama seperti lomba-lomba dalam bahasa Indonesia, lomba dalam bahasa Inggris juga diikuti oleh beberapa siswa setiap kelasnya.
Kategori Lomba Kelompok
Guessing Word
Juara 1: 7L
Juara 2: 7F
Juara 3: 7D
Spelling Bee
Juara 1: 8N
Juara 2: 8JE
Juara 3: 8E
Story Telling
Juara 1: 9W
Juara 2: 9E
Juara 3: 9R
Selain dua jenis lomba tersebut, ada dua lomba lain yang tak kalah menyenangkan, yaitu lomba poster! Setiap kelas dari angkatan kelas tujuh, delapan, dan sembilan membuat poster kelas masing-masing dengan tema “Bahasa sebagai Pemersatu Bangsa”. Panitia memilih tiga juara dari tiap angkatan. Selanjutnya, ada juga lomba yel-yel—dipilih 1 kelas sebagai pemenang dari tiga angkatan tersebut. Yang terakhir, lomba mading. Dari tiga angkatan, setiap kelas harus menampilkan mading kelas masing-masing.
Lomba Poster per Kelas
7:
Juara 1: 7D
Juara 2: 7L
Juara 3: 7R
8:
Juara 1: 8D
Juara 2: 8N
Juara 3: 8JE
9
Juara 1: 9W
Juara 2: 9F
Juara 3: 9R
Lomba Yel-Yel
Kelas 7: 7L
Kelas 8: 8JU
Kelas 9: 9F
Lomba Mading
Juara 1: 8D
Juara 2: 9R
Juara 3: 9F
Perlombaan berlangsung menyenangkan. Para siswa bersukacita dan mengembangkan semangat saling mendukung. Mereka tidak berkompetisi, tetapi berjuang menampilkan yang terbaik versi diri mereka dan mengasah kemampuan bekerja sama dengan teman-teman satu tim.
Seluruh rangkaian lomba hari itu ditutup dengan pentas teater bertema “Malin Kundang” yang diperankan oleh siswa-siswi SMP. Pementasan ini dikemas dengan gaya “anak sekarang” yang kental dengan dialog kekinian, dicampur dengan humor-humor renyah ala anak muda. Para pemain mendapatkan apresiasi yang besar dari penonton yang merupakan siswa SMP, para guru, dan staf. (SO)
Puncak acara Bulan Bahasa dilaksanakan pada 28 Oktober 2019 sekaligus untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Acara ini diadakan di Aula F. Siswa kelas I-VI mengikuti acara dengan sangat antusias. Pada puncak acara ini, dipersembahkan berbagai rangkaian acara yang melibatkan seluruh siswa dan guru.
Rangkaian Berlangsungnya Acara
Acara ini berlangsung singkat, tetapi tidak menghilangkan maknanya. Tepat pukul 08.15, acara ini dimulai. Seperti tontonan spektakuler berkelas, acara ini diawali dengan hitungan mundur membuat seluruh peserta serasa terhipnotis untuk melihat puncak acara ini. Dilanjutkan dengan pemutaran video berdurasi singkat yang menceritakan kegiatan selama Bulan Bahasa dimulai dari pembukaan hingga acara di tiap minggunya. Video ini mengingatkan kembali proses kegiatan yang sudah dijalani, yakni mendapatkan pembekalan baru berkaitan dengan literasi, seperti menulis huruf kanji, membuat poster, membuat komik, spelling bee, story telling, teater, menggambar cerita, dan debat.
Setelah pemutaran video, Kania Kaban (6S) dan Brielle (3L) melakukan duet, menyanyikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” diiringi tiga guru musik. Onel (5M) selaku MC dalam acara ini mampu menarik seluruh penonton sehingga acara ini tak membosankan.
Senandung merdu dari Paduan Suara SD Athalia di bawah asuhan Kak Nina membawa suasana jadi tenang. Semua yang hadir di sana terhanyut ke dalam simfoni musik dan paduan suara yang indah.
Ada pula pementasan drama “Timun Mas” yang mengisahkan sepasang suami-istri (diperankan Nicholas 6W dan Clara 6S) yang merindukan kehadiran seorang anak. Suatu hari, mereka mendatangi seorang raksasa (diperankan oleh Oswel anak kelas 5H) untuk meminta diberikan seorang anak. Raksasa ini memberikan benih mentimun pada pasangan tersebut. Benih ini nantinya akan tumbuh menjadi sebuah timun berwarna emas yang berisi seorang bayi. Bayi ini kemudian diberi nama Timun Mas (diperankan oleh Desnaretha 4M).
Acara berlanjut dengan persembahan “Tari Indang” oleh siswa-siswi kelas VI. Puncaknya, seluruh ruangan dipenuhi gema suara siswa dan guru yang membacakan “Sumpah Pemuda” dan menyanyikan lagu “Bangun Pemudi Pemuda” secara serentak.
Untuk mengiringi anak-anak keluar dari aula F, kembali diperdengarkan lagu “Indonesia Jaya”. Selesai acara di Aula F, seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing. Mereka mendapatkan kenang-kenangan berupa booknote bergambar seperti yang ada di spanduk dan bertuliskan “Bulan Bahasa”.
AKSEN bagi kita—warga Athalia—bukanlah sesuatu yang baru. Sekolah Athalia mengadakan acara tersebut setiap tahun dengan tema dan konsep yang berbeda-beda.
Tahun ini, AKSEN diadakan pada 19 Oktober dengan tema “Zenith” yang berarti “Highest Point” atau “Titik Puncak”. Tema ini mengangkat tiga nilai, yakni solidaritas, integritas, dan respek. Tema dan ketiga nilai tersebut direalisasikan lewat kabaret—pertunjukan hiburan berupa nyanyian, tarian, dan sebagainya—yang menjadi bagian dalam AKSEN 2019. Tak hanya kabaret, ada pula penampilan band dari SMP dan SMA Athalia. Mereka adalah Saisho Kara, Latreia, dan Phosphenes.
Persiapan AKSEN
Persiapan AKSEN dilakukan selama kurang lebih 6 bulan. Diawali dengan pemilihan tema, nilai-nilai, dan konsep, kemudian berlanjut ke pembuatan naskah, lagu, koreografi, penampil, pemeran, dan sebagainya. Bagian yang paling dasar, yaitu merancang alur cerita dan konsep. Beberapa kali rumusan naskah direvisi supaya pesan cerita dapat tersampaikan, sambil menyesuaikan dengan nilai-nilai acara dan budaya Sekolah Athalia. Belum lagi, koreografi-koreografi yang harus dikejar. Melatih para pemeran yang berdialog juga menjadi suatu tantangan karena mereka adalah kunci cerita kabaret ini sehingga mereka dituntut untuk memahami dan merasakan alur cerita—kisah Matteo dalam berjuang meraih titik tertingginya—sehingga pesan-pesan yang disisipkan di beberapa dialog tertentu dapat sampai ke penonton. Semua tidak mudah, tentu saja. Kami harus berjuang di kepanitiaan ini seraya mengikuti pelajaran-pelajaran. Banyak yang harus kami susul dan yang harus dikerjakan di rumah—tugas sekolah maupun tugas kepanitiaan—sehingga menjaga kesehatan sendiri menjadi suatu perjuangan pula.
Namun, terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, buat saya sendiri, banyak sekali hal menguntungkan dan menyenangkan yang saya temukan sepanjang persiapan AKSEN. Selain belajar untuk percaya satu sama lain dan bekerja sama, kami juga bisa melatih diri dalam mengatur waktu karena hal tersebut diperlukan demi tercapainya kerja yang efisien. Adapun kami, panitia kelas 10, dituntut untuk berani menyuarakan pendapat, terbuka satu dengan yang lain, terutama dengan kakak kelas. Terkait dengan hal itu, salah satu dampak yang terasa adalah bertambahnya kenalan. Yang tidak saling mengenal kini sering bertukar sapa, bahkan saling melempar guyonan.
Kesan
Hal-hal mengesankan dan unik yang dapat ditemukan selama persiapan acara sekaligus dalam kepanitiaan besar ini menjadi suatu kenangan tersendiri buat kami. Dari saling memberikan pesan-pesan kecil di bagian belakang name tag kami, berbagi hadiah tanda semangat, mengadakan konser di aula, menyaksikan inside jokes konyol yang tiap-tiap bidang punya, canda-tawa, dan masih banyak lagi. Bahkan, akhir-akhir ini, beberapa kali saya mendengar lontaran kalimat dari orang-orang yang berada di dalam kepanitiaan dan terlibat dalam acara mengenai betapa rindunya mereka ketika mengingat momen-momen tersebut.
Ketika tiba hari yang sudah kita persiapkan sekian lama, ada rasa tegang dan cemas yang menyelip di benak kami. Di dalam doa kami, tersisip harapan kepada Tuhan supaya acara boleh berjalan mulus, sepadan dengan perjuangan yang telah kami lalui bersama. Lantas, di akhir acara, tepatnya setelah lagu “We’re All In This Together”, rasa lega meluap. Euforia di atas panggung yang dipenuhi panitia dan penampil AKSEN tidak terbendung lagi. Rasa bangga, puas, dan sukacita dirasakan kami semua. Bahkan, ada beberapa yang tak kuasa menahan haru hingga menangis, terutama kakak-kakak kelas 12. Ya, ini adalah AKSEN terakhir mereka, begitu pun kakak kelas 11. Masih teringat jelas kala itu, sorak-sorai terdengar riuh, suasana menjadi gegap gempita, sorot lampu menyilaukan mata, orang-orang saling berpelukan, semua mengukir senyuman lebar. Momen-momen indah itu pun diabadikan dalam bentuk foto, juga sebagai bentuk kenangan.
AKSEN 2019, terima kasih untuk kesempatan ini. Sampai jumpa di AKSEN selanjutnya. Zenith, highest point!
Teach your children they’re unique. That way, they won’t feel pressured to be like everybody else.” –Cindy Cashman
Setiap Anak Itu Unik
Kita sering mendengarkan orang berkata bahwa “Anak itu seperti kertas putih. Sekarang tergantung kita mau menuliskan kertas itu seperti apa…”
Padahal, anak hadir ke dunia dengan keunikannya sendiri. Jika diibaratkan seperti kertas, anak adalah kertas berwarna dengan jenis yang berbeda-beda. Ada kertas folio, kertas kalkir, kertas duplex, dan lain sebagainya. Tekstur dan karakteristik kertas-kertas tersebut berbeda sehingga peruntukannya pun berbeda. Perlakuan terhadap kertas-kertas tersebut pun tentu berbeda.
Menyamakan dan Memperbadingkan
Ibu Charlotte menegaskan bahwa selain seperti kertas berwarna, anak juga seperti kertas yang sudah punya tulisan-tulisan di dalamnya. Anak memiliki sifat dan karakteristik bawaan. Oleh karena itu, sangat mungkin satu anak berbeda dengan kakak atau adiknya. Namun, yang awam dilakukan orang tua, yaitu memperlakukan anak-anaknya sama rata. Mereka juga memberikan ekspektasi yang sama kepada anak-anaknya. Akibatnya, ketika ada anak yang tidak berhasil melakukan pencapaian sesuai ekspektasi orang tuanya, perbandingan-perbandingan terlontar. “Si A kenapa nggak bisa displin seperti adiknya?” “B itu sukanya main bola terus, susah disuruh belajar. Nggak seperti kakaknya yang sudah sadar untuk belajar tanpa disuruh….”
Komparasi ini tentunya sangat berbahaya bagi anak-anak yang diperbandingkan. Selain menimbulkan rasa iri, sakit hati, dan kecewa, anak bisa merasakan benih-benih kebencian kepada saudara yang diperbandingkan dengannya. Efeknya, sibling rivalry bisa terjadi di dalam keluarga.
Tujuan Unik Tuhan untuk Setiap Anak
Tuhan sudah memiliki tujuan untuk anak-anak kita. Atas dasar tujuan tersebut, Tuhan membekali anak-anak kita dengan kekurangan dan kelebihan. Ketidaksempurnaan itu juga yang kita miliki. Ada beberapa hal yang kita kuasai dan tidak. Lalu, mengapa kita cenderung menuntut kesempurnaan pada anak-anak kita? Mengapa kita menuntut mereka untuk bisa meraih nilai tinggi di pelajaran yang tidak dikuasainya? Mengapa kita menuntut anak untuk bisa melakukan sebuah keterampilan, sedangkan dari awal dia menunjukkan bahwa dia tidak cakap melakukannya?
Ketidaksempurnaan yang Tuhan berikan sudah sesuai “porsinya” karena Tuhan tahu bahwa itu tidak dibutuhkan untuk tujuan Tuhan kepada anak-anak kita. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendorong anak untuk menerima kekurangannya dan mengasah kelebihannya untuk menjadikannya seturut kehendak Tuhan. (dln)
*Disarikan dari video Ibu Charlotte Priatna oleh Tanam Benih berjudul “Benarkah Anak itu Ibarat Kertas Putih Kosong?”
Pentingnya Pendidikan Seks dan Penanganan Anak dengan Trauma Seksual
Sex education atau pendidikan seks kini menjadi kebutuhan penting, terutama dalam konteks penanganan anak dengan trauma seksual. Banyak pendidik, orang tua, bahkan konselor belum memiliki pemahaman yang memadai dalam menghadapi kasus berat seperti ini.
Dalam praktiknya, tidak sedikit yang kebingungan saat seorang anak datang dengan kisah yang memilukan tentang pelecehan atau kekerasan seksual yang dialaminya.
Seminar bertema “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3 membahas secara mendalam mengenai hal ini. Para fasilitator menjelaskan definisi, bentuk, serta langkah-langkah pendampingan terhadap anak korban trauma seksual.
Apa Itu Trauma Seksual pada Anak?
Trauma seksual pada anak merupakan interaksi yang melibatkan anak dengan orang dewasa atau anak lain, di mana korban digunakan sebagai stimulator seksual oleh pelaku.
Bentuk trauma seksual bisa beragam, tidak hanya berupa sentuhan fisik (rabaan), tetapi juga:
Voyeurism (melihat tubuh telanjang anak),
Exhibitionism (memperlihatkan alat kelamin kepada anak),
Menyuruh anak menonton atau melihat gambar porno.
Salah satu fasilitator, Nona Pooroe Utomo, menyebutkan fakta mengejutkan:
1 dari 4 anak perempuan dan 1 dari 6 anak laki-laki pernah mengalami trauma seksual sebelum usia 18 tahun.
Lebih ironis lagi, mayoritas kasus tidak pernah dilaporkan, karena pelaku sering kali adalah orang dekat atau orang kepercayaan keluarga. Data menunjukkan bahwa ¾ pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban, bahkan bisa jadi anggota keluarga sendiri.
Gejala Anak yang Mengalami Trauma Seksual
Setiap anak menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap trauma. Namun, beberapa tanda umum yang sering muncul antara lain:
Mimpi buruk atau sulit tidur,
Menarik diri dari lingkungan,
Mudah marah atau meledak,
Cemas atau depresi,
Takut ditinggal sendirian, terutama dengan orang tertentu,
Menunjukkan pengetahuan seksual yang tidak sesuai usia,
Menggunakan bahasa atau perilaku seksual yang tidak semestinya.
Mengenali gejala ini sangat penting agar anak mendapatkan penanganan dini sebelum dampak psikologisnya semakin berat.
Apakah Anak Bisa Pulih dari Trauma Seksual?
Pemulihan anak korban trauma seksual sangat bergantung pada karakter anak, dukungan keluarga, dan proses konseling yang dijalani.
Anak yang tangguh dengan dukungan emosional yang baik biasanya dapat pulih dan menjalani kehidupan normal.
Anak yang sensitif atau fragile membutuhkan waktu dan pendampingan berkelanjutan untuk memulihkan luka batin yang mendalam.
Anak yang tidak mendapatkan penanganan sama sekali berisiko mengalami gangguan psikologis di masa depan, bahkan berpotensi menjadi pelaku, mengalami orientasi seksual menyimpang, atau kecanduan pornografi.
Peran Sekolah dan Keluarga dalam Pemulihan Anak
Sekolah memiliki peran penting sebagai rumah kedua bagi anak. Melalui konselor sekolah, anak-anak yang pernah mengalami trauma bisa mendapatkan pendampingan psikologis dan emosional.
Kolaborasi antara guru, konselor, dan keluarga menjadi sistem pendukung utama dalam proses pemulihan. Namun, jika trauma yang dialami cukup berat, anak perlu dirujuk untuk konseling lanjutan dengan psikolog atau psikiater profesional agar penanganan lebih mendalam.
Langkah-Langkah Menangani Anak dengan Trauma Seksual
Menurut Julianto Simanjuntak, dalam seminar yang sama, ada beberapa langkah awal konseling yang dapat dilakukan oleh guru, konselor, atau pendamping ketika anak mulai membuka diri:
1. Memvalidasi dan Meneguhkan
Anak yang berani menceritakan kisah pelecehan yang dialaminya menunjukkan keberanian luar biasa. Tugas pendamping adalah memberi validasi dan penguatan, agar anak merasa keputusannya untuk berbagi adalah langkah yang benar.
2. Menunjukkan Empati
Guru atau konselor perlu menunjukkan empati tulus, bukan sekadar simpati. Anak harus merasa aman dan nyaman, serta mengetahui bahwa pendamping akan terus menemaninya selama proses pemulihan berlangsung.
3. Normalisasi Perasaan Anak
Ketika anak merasa malu, marah, atau hancur, pendamping perlu menjelaskan bahwa perasaan tersebut wajar dialami korban. Dengan demikian, anak bisa mulai menerima emosinya tanpa rasa bersalah.
4. Memberi Nasihat dengan Izin Anak
Setiap anak memiliki waktu berbeda dalam membuka diri terhadap saran. Hindari memaksakan nasihat. Tanyakan terlebih dahulu apakah anak siap untuk mendengarkan masukan. Jika sudah siap, bantu anak mempertimbangkan langkah selanjutnya, seperti:
Menceritakan kejadian kepada keluarga,
Mengikuti konseling intensif dengan psikolog atau psikiater.
Kesimpulan
Menangani anak korban trauma seksual membutuhkan pendekatan penuh empati, validasi, dan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional.
Pendidikan seks yang benar tidak hanya tentang mengenalkan anatomi tubuh, tetapi juga tentang membangun kesadaran perlindungan diri, batas tubuh, dan keberanian untuk berbicara ketika terjadi pelanggaran.
Setiap anak berhak mendapatkan lingkungan aman untuk tumbuh, bercerita, dan pulih dari luka yang pernah mereka alami.
📚 Catatan
Tulisan ini disarikan dari Seminar “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3, dengan narasumber Nona Pooroe Utomo dan Julianto Simanjuntak. (dln)