Apa yang Kita Pikirkan Saat Mendengar Kata “Takut”?
Setiap mendengar kata takut, apa yang kita pikirkan? Bagi banyak orang, kata ini sering diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif. Namun, ada satu jenis rasa takut yang justru paling positif di dunia ini — yaitu takut akan Tuhan.
Rasa takut yang satu ini membawa saya untuk mengalami hubungan yang semakin akrab dan indah dengan Tuhan. Mengapa demikian? Karena dalam hubungan yang terjalin itu, saya mengenal Tuhan bukan sebagai pribadi yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang penuh kasih karunia dan kuasa, yang setia menemani setiap langkah hidup saya.
Belajar dari Kehidupan Musa
Saya belajar dari kehidupan Nabi Musa, yang ucapannya tercantum dalam Ulangan 9:19. Musa adalah tokoh Alkitab yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Namun, perjalanan hidupnya yang fenomenal tidak terjadi seketika. Awalnya, Musa menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan alasan, “Aku tidak pandai berkata-kata.” Ia merasa tidak layak diutus untuk memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian.
Ketika akhirnya Musa memutuskan untuk menjalani panggilan Tuhan, perjalanan itu membawanya kepada hubungan yang semakin karib dengan Tuhan. Ia bahkan berani berkata, “Walau aku tahu Tuhan murka dengan apa yang sudah dilakukan bangsa Israel, tapi aku kenal Tuhanku dan Ia akan mendengarkan permohonanku.” Pernyataan ini menunjukkan adanya hubungan yang istimewa antara Musa dan Tuhan — hubungan yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang benar-benar takut akan Tuhan.
Pengalaman dalam Kehidupan Pribadi
Dalam pengalaman pribadi saya, takut akan Tuhan bukan berarti saya harus melakukan segala sesuatu yang baik hanya karena takut akan hukuman Tuhan. Saya bisa saja patuh kepada Tuhan, tetapi tanpa memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.
Namun, Tuhan menginginkan hubungan yang berkualitas dengan saya. Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan.
Saat saya hidup dalam rasa takut yang benar kepada Tuhan, hubungan yang karib dan istimewa dengan-Nya membuat saya memiliki kesadaran untuk tetap dekat dengan Tuhan — dan justru takut untuk menjauh dari-Nya.
Hidup Berkenan di Hadapan Tuhan
Perspektif ini membawa saya pada keputusan hidup seperti berikut:
“Saya memutuskan dengan sadar untuk memilih cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, karena hubungan kami sangat istimewa. Saya ingin mempertahankannya demi kebaikan saya sendiri, yaitu pertumbuhan iman saya.”
Apakah mudah melakukan komitmen seperti ini? Mungkin tidak. Namun, saya percaya hanya Tuhan yang sanggup memperbesar kapasitas hati saya untuk memiliki dan menjalankan komitmen seperti ini.
Hadiah dari Tuhan
Tuhan berkenan kepada orang yang hidupnya takut akan Dia. Selalu ada berkat dan hadiah yang menanti bagi mereka yang memiliki rasa takut yang benar — bukan karena rasa terpaksa, tetapi karena kasih dan penghormatan yang tulus.
“Fear ensures compliance; Fear of God inspires commitment.” Rasa takut biasa menuntut kepatuhan; takut akan Tuhan menumbuhkan komitmen.
Film Like Arrows merupakan film Kristen yang mengangkat tema parenting berbasis nilai Alkitab, khususnya tentang kerendahan hati orang tua dalam mendidik anak. Film ini menyajikan refleksi mendalam mengenai perjalanan panjang menjadi orang tua dan bagaimana iman memainkan peran penting dalam membentuk keluarga.
Informasi Singkat Film Like Arrows
Judul: Like Arrows
Sutradara: Kevin Peeples
Penulis Naskah: Kevin Peeples, Bob Lepine, Alex Kendrick
Like Arrows adalah film keluarga Kristen yang berfokus pada kehidupan rumah tangga dan dinamika pengasuhan anak. Film ini ditulis oleh Alex Kendrick, sosok yang dikenal luas melalui karya-karya film Kristen populer seperti Facing the Giants, Fireproof, Courageous, War Room, dan Overcomer.
Keterlibatan Kendrick menjadi nilai tambah tersendiri, mengingat sebelumnya ia juga mengangkat tema fatherhood dalam film Courageous. Hal ini menjadikan Like Arrows relevan dan kuat secara pesan, khususnya bagi keluarga Kristen.
Parenting Is a Journey: Menjadi Orang Tua adalah Sebuah Proses
“Parenting is a journey” menjadi tagline utama film ini. Kisah dimulai dari Charlie dan Alice, sepasang muda-mudi berusia 20-an yang memutuskan menikah, hingga perjalanan mereka di usia senja sebagai orang tua dan kakek-nenek.
Film ini menggambarkan bahwa menjadi orang tua bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Berbagai tantangan muncul di setiap fase kehidupan, mulai dari:
Tahun ke-5 pernikahan, saat Alice harus mengasuh dua anak sambil bergumul dengan trauma masa lalu
Tahun ke-15 hingga ke-22, saat anak-anak menghadapi krisis iman dan pergaulan
Hingga akhirnya di tahun ke-49, ketika anak-anak mereka menyadari dan bersyukur atas warisan iman yang ditinggalkan orang tua mereka
Masalah-masalah tersebut terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan keluarga masa kini.
Makna Mazmur 127:4 dalam Film Like Arrows
Judul film ini diambil dari Mazmur 127:4:
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.”
Ayat ini menjadi fondasi utama film, menggambarkan bahwa anak adalah titipan Tuhan, sementara orang tua adalah “pahlawan” yang bertugas mengarahkan mereka ke sasaran yang benar sesuai kehendak Allah.
Parenting Berdasarkan Prinsip Alkitab
Film ini menekankan bahwa tugas orang tua bukan membentuk anak sesuai ambisi pribadi, melainkan menolong anak menemukan tujuan hidup yang Tuhan tetapkan. Hal ini baru disadari Charlie dan Alice setelah anak pertama mereka kehilangan iman dan menjadi ateis, sementara anak kedua hampir terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Kesadaran ini membawa mereka pada titik balik: mencari pertolongan Tuhan dan belajar kembali melalui kelas parenting di gereja, berlandaskan firman Tuhan dalam Mazmur 127:4.
Nilai Kerendahan Hati yang Dapat Dipelajari
Salah satu karakter utama yang sangat kuat dalam film ini adalah kerendahan hati (humility). Charlie dan Alice menyadari keterbatasan mereka sebagai orang tua dan memilih untuk bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.
Kerendahan hati menurut Alkitab tercermin dalam:
Mau terus belajar (Mazmur 25:9)
Mau mendengarkan nasihat (Amsal 23:9)
Memercayai kehendak Allah (Mazmur 131:1–3)
Menyadari campur tangan Tuhan (Lukas 18:9–14)
Bersabar (1 Petrus 5:6)
Kelima sikap ini terlihat jelas dalam perubahan sikap Charlie dan Alice, termasuk keberanian mereka untuk mendengarkan anak, menerima kritik, dan meminta maaf.
Memercayai Kehendak dan Rencana Allah dalam Keluarga
Kerendahan hati tidak terlepas dari pengenalan akan Tuhan. Keputusan keluarga ini untuk membaca Alkitab dan berdoa bersama menjadi langkah penting dalam membangun iman keluarga.
Yesus berkata:
“Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” (Matius 11:29)
Meski anak pertama mereka baru kembali kepada Tuhan setelah 30 tahun, Charlie dan Alice tetap setia menunggu, berdoa, dan mempercayai rencana Tuhan. Mereka bahkan mencatat setiap jawaban doa sebagai pengingat nyata akan penyertaan Tuhan.
Kesimpulan: Film Parenting Kristen yang Layak Ditonton
Film Like Arrows sangat direkomendasikan bagi orang tua dari berbagai usia, calon orang tua, maupun pelayan keluarga di gereja. Film ini menjadi pengingat bahwa mendidik anak membutuhkan kerendahan hati, ketekunan, dan ketergantungan penuh kepada Tuhan.
Melalui film ini, kita diajak untuk kembali menyadari bahwa orang tua bukanlah sosok yang serba tahu, melainkan hamba Tuhan yang terus belajar dalam menjalani panggilan sebagai pendidik anak.
Athalia Parent Community (APC) merupakan komunitas orang tua siswa Athalia, sebuah sekolah di Serpong, dari Batita–SMA. Seluruh orang tua siswa merupakan anggota APC. Dibentuk pada 2002, APC digagas oleh para orang tua yang rutin mengikuti kelas parenting yang dibawakan oleh Ibu Charlotte Priatna. Fungsi utama APC, yaitu menjembatani komunikasi antara orang tua dengan sekolah sehingga terjalin kemitraan yang baik.
Berikut adalah struktur BPH (Badan Pengurus Harian) APC periode 2020-2022.
APC memiliki struktur organisasi yang terdiri atas BPH, CPR (Coordinator Parents Relation), CC (Class Coordinator), dan orang tua. BPH, CPR, dan CC merupakan pengurus sukarela yang memiliki hati melayani demi kepentingan siswa dan orang tua. CPR, bersama para CC, melakukan fungsi-fungsi konkret untuk mempererat relasi di antara orang tua siswa, serta relasi dengan sekolah.
Program APC
PIT (Parent in Touch). Ini merupakan kegiatan persekutuan doa mingguan yang dihadiri orang tua, guru, dan staf. Saat ini, karena kondisi pandemi, PIT diadakan secara daring setiap Rabu pukul 14.00-15.00.
GBK (Gerakan Berbagi Kasih). Ini merupakan gerakan berbagi yang dilakukan dengan sukacita dan sukarela oleh siswa, orang tua, guru, staf, bahkan Yayasan, kepada siswa yang orang tuanya sedang mengalami kesulitan keuangan agar bisa tetap bersekolah. Laporan rutin GBK bisa disimak di ALC News yang terbit setiap bulan.
Teacher’s Day. Ini merupakan kegiatan tahunan yang dipersiapkan oleh siswa dan orang tua bagi para guru dan staf.
Seminar. Berbagai kegiatan seminar bagi orang tua dilakukan untuk meningkatkan awareness, baik dalam hal parenting maupun relasi dengan pasangan (seminar pasangan, seminar parenting).
ABC (Athalia Book Club)*. Kegiatan bulanan yang diadakan oleh para orang tua yang memiliki kegemaran membaca.
Family day. Kegiatan kebersamaan yang diadakan tahunan bagi siswa dan orang tua, serta melibatkan guru dan staf*.
Kegiatan sosial. Pada umumnya, APC mengadakan kegiatan buka puasa bersama atau halal bihalal untuk para OB, CS, dan security.*
*Untuk sementara tidak ada kegiatan.
Kami menyambut para orang tua yang baru bergabung ke dalam Komunitas Athalia. Selamat datang di APC! Kami berharap semakin banyak orang tua yang terpanggil untuk melayani dalam wadah APC ini, membuat komunitas ini semakin solid sehingga kemitraan dengan sekolah senantiasa berjalan dengan baik.
Oleh: Benny Dewanto, Kepala Bagian PK3 Sekolah Athalia
Tujuan Keluarga Kristen
Gary Thomas, penulis buku-buku pernikahan, mengutarakan pandangan yang jarang dipikirkan oleh banyak orang, yaitu makna keluarga adalah tentang kekudusan, bukan semata kebahagiaan. Thomas berkata bahwa keluarga Kristen perlu memikirkan dan mengarahkan tujuan perjalanan bahteranya pada tujuan kekudusan. Bagi Thomas, makna kekudusan memiliki nilai keutamaan ketimbang kebahagiaan. Sekalipun pandangan ini tidak populer di telinga banyak pasangan, sebagai keluarga yang perlu memikirkan warisan iman bagi setiap anak-anak, pandangan ini penting untuk direnungi.
Mari kita ikuti pemikiran Gary Thomas yang mendorong bahwa setiap keluarga Kristen seharusnya mengutamakan kekudusan ketimbang “kebahagiaan saja”. Dimulai dari pendalaman 1Korintus 7:1 yang berkata: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” Kutipan ayat ini mendorong kita untuk mengetahui mengapa Paulus menyarankan laki-laki tidak kawin. Bukankah nasihat ini terkesan bertentangan dengan pemeo pria bahwa mereka adalah mahluk yang memiliki hasrat besar untuk kawin? Rupanya Paulus hendak menyampaikan pesan tentang hasrat yang terkelola melalui kekudusan, bukan hasrat liar percabulan. Bila tidak mampu hidup dalam konsep kudus, lebih baik tidak kawin atau tidak menikah. Di luar konsep kudus, perkawinan menjadi perjalanan hasrat yang nyaris sama dengan percabulan. Kekudusanlah yang membedakan perkawinan yang benar dan dengan yang tidak benar.
Dari sisi inilah Gary Thomas memberikan perenungan bahwa sasaran kekudusan menjadi hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Kudus adalah berbeda. Kudus adalah kekhususan, tidak serupa dengan dunia, tetapi serupa dengan Kristus. Keluarga Kristen yang berpusat pada Kristus seharusnya menjadi keluarga yang mengutamakan pertumbuhan melalui nilai-nilai Kristus. Keluarga Kristen adalah pelaku penuh hasrat tentang nilai-nilai Kristus. Sedemikian besar hasrat tersebut sehingga sekalipun harus berhadapan dengan kesulitan, sasaran kekudusan tetap dikejar ketimbang sekadar merasa bahagia. Membangun keluarga yang berpusat pada Kristus adalah keluarga yang hidup setia di dalam kuk bersama Kristus dan itulah sasaran nilai kebahagiaannya!
“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat
penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih
ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman
seharusnya menghadapi dukacita?
Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya (Kejadian 23:2). Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses (baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”). Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan, karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka.
Dukacita dalam Kehidupan Orang Beriman
Dalam Roma 12:15, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka.
Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya.
Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk
emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat
sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang
Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami
bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah
dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati.
Cara Pandang Kristiani Terhadap Kehidupan dan Kematian
Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang
kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan
mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti
bekerja memberi buah (Filipi 1:21). Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu
yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia
menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh
karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan
adalah hal yang dirindukannya.
Dalam buku Grief Obeserved,
C.S. Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam
permainan menyusun kartu bridge
hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa
dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika
seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang
dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu
jatuh dan konsekuensi fatal terjadi.
Memproses Dukacita
Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius
menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus
mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat
ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka,
mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan
merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup
ini?”
Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya (lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”).
Tokoh yang Berduka dalam Kisah Alkitab
Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini (Ayub 3:10-11). Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan.
Penghiburan di Antara Sesama Orang Percaya
Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa cara.
Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran.
Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka.
Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku (Mazmur 119:92)
Selama mengisi waktu luang, Anda dapat mengajak anak belajar hal baru. Salah satunya belajar sains sederhana: apakah minyak dan air dapat menyatu? Untuk anak-anak usia sekolah dasar, pertanyaan ini mungkin dapat dijawab dengan mudah. Tentu minyak dan air tidak dapat menyatu! Namun, eksperimen tidak berhenti sampai situ. Kali ini, ajak anak untuk belajar lebih dalam lagi, yaitu membuktikan apakah minyak dan air benar-benar tidak dapat menyatu?
Dalam proses kimia, ada yang namanya emulsifikasi. Emulsifikasi adalah pemantapan emulsi dengan menambahkan dua cairan (zat) yang tidak dapat bercampur pada zat ketiga, kemudian dikocok kuat-kuat, misalnya air, minyak, dan deterjen (sabun). Emulsi sendiri merupakan cairan yang terbentuk dari campuran dua zat, zat yang satu terdapat dalam keadaan terpisah secara halus atau merata di dalam zat yang lainnya.
Minyak zaitun di dalam segelas air Minyak zaitun di dalam segelas air
Jadi, anak-anak akan belajar tentang proses penyatuan air dengan minyak menggunakan cairan lainnya. Tentu eksperimen ini akan membuat anak bertanya-tanya: benarkah minyak dan air dapat menyatu?
Untuk melakukan eksperimen ini, Anda perlu menyediakan bahan-bahan berikut.
Botol minum dengan mulut lebar/stoples kaca
Air
Pewarna makanan
Minyak goreng
Sabun pencuci piring.
Sebelum memulai eksperimen, Anda perlu memberikan pengantar kepada anak mengenai eksperimen kali ini.
Memberikan pertanyaan: Apakah minyak dan air dapat bercampur dengan sempurna?
Menjelaskan secara sederhana definisi emulsifikasi dan emulsi.
Mempraktikkannya dengan melakukan eksperimen sederhana.
Mari mulai bereksperimen!
Masukkan pewarna makanan ke dalam air.
Tambahkan dua sendok air lagi ke dalam wadah.
Tuangkan dua sendok minyak goreng ke dalam wadah tersebut.
Tutup wadah, kemudian minta anak untuk mengocok botol tersebut sekuat tenaga. Bisa juga dengan mengaduknya menggunakan sendok.
Letakkan botol itu dan minta anak memperhatikan cairan di dalamnya.
Saatnya berdiskusi!
Hentikan eksperimen sejenak, kemudian ajak anak untuk berdiskusi.
Minta anak untuk menjelaskan hasil pengamatannya. Pancing anak untuk mempertanyakan fenomena tersebut.
Jelaskan secara sederhana untuk memberikan konsep tentang perbedaan massa jenis pada cairan. Anda dapat menjelaskan kepada anak bahwa molekul yang ada di dalam air maupun minyak terikat kuat satu sama lain sehingga mereka tertarik dengan molekulnya sendiri. (Air terikat dengan molekulnya sendiri, minyak terikat dengan molekulnya sendiri.)
Minta anak untuk memperhatikan eksperimennya kembali. Minyak berada di atas air. Jelaskan secara sederhana mengenai massa jenis atau kepadatan minyak yang lebih ringan dari air sehingga membuatnya berada di atas air.
Mari lanjutkan eksperimen ini!
Lanjutkan eksperimen ini dengan mengajak anak menambahkan satu cairan lagi, yaitu sabun pencuci piring.
Tuangkan sabun pencuci piring ke dalam gelas berisi minyak dan air. Rasio sabun dengan minyak 1:1.
Aduk campuran ketiganya sampai air dan minyak berubah warna menjadi keruh dan muncul busa.
Diskusikan lagi!
Ketika berhasil melakukan emulsifikasi sederhana ini, kembali ajak anak untuk berdiskusi. Utarakan pertanyaan-pertanyaan berikut.
Setelah mengaduk, apa yang terjadi? (Jawaban: minyak dan air dapat tercampur dengan sempurna.)
Apa yang membuat minyak dan air—yang tadinya tidak dapat bercampur—tercampur dengan sempurna? (Jawaban: dicampur dengan sabun cuci piring.)
Proses apa yang baru saja terjadi? (Jawaban: emulsifikasi.)
Apa istilah untuk cairan minyak dan air yang sudah tercampur rata tersebut? (Jawaban: emulsi.)
Belajar sains bersama anak ternyata menyenangkan, ya! Selamat menikmati waktu berkualitas dengan anak! [SO]
Informasi tambahan:
Anda dapat menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin agar anak memahami konsep ini. Jangan lupa untuk menciptakan suasana yang menyenangkan agar anak tak merasa sedang “belajar serius”. Dalam proses emulsifikasi, sabun pencuci piring inilah zat ketiga, yang disebut pengemulsi (emulgator) yang memiliki sifat mengikat dua cairan lainnya (minyak dan air).
Hal sederhana yang dapat dijadikan contoh adalah saat mencuci piring. Ketika piring yang penuh bekas minyak dibasahi menggunakan air kemudian ditambahkan sabun pencuci piring, minyak, air, dan busa menyatu dengan sempurna! Ketika Anda membilas piring tersebut, minyak dan air pun akan larut bersamaan, menghasilkan sebuah piring yang bersih dan siap digunakan kembali.
Ide eksperimen: https://bobo.grid.id/read/081247351/eksperimen-sederhana-mengapa-air-dan-minyak-tidak-tercampur?page=3
Referensi lain: dari berbagai sumber
Judul buku: Lalita Penulis: Abigail Limuria & Grace Kadiman Tahun terbit: 2019 Jumlah halaman: 109 halaman Cetakan: Ke-8, Mei 2006
Makna Nama Lalita bagi Penulis Buku
Bagi penulis buku ini, nama Lalita yang berasal dari kata Sansekerta merepresentasikan perempuan-perempuan Indonesia yang aktif, tak terbatas, cerdas, tangguh, dan berambisi.
Awal Mula Proyek Lalita
Awalnya, Lalita Project merupakan sebuah proyek pribadi antara dua sahabat muda, Abigail dan Grace. Kegelisahan dan pertanyaan seperti, “Apa artinya menjadi seorang perempuan Indonesia yang mencintai negaranya?” dan “Apakah Indonesia memiliki tokoh-tokoh perempuan hebat? Jika ada, kenapa kita jarang mendengar kisah mereka?” menjadi pendorong bagi penulis untuk memulai perjalanan menemui tokoh-tokoh perempuan Indonesia.
51 Kisah Perempuan Hebat Indonesia
Proyek tersebut akhirnya terlaksana. Mereka berhasil menjumpai dan mewawancarai secara langsung 51 perempuan hebat Indonesia. Hasil wawancara ditulis ulang dan disusun menjadi sebuah buku inspiratif tentang perempuan Indonesia.
Selama proses penyusunan, penulis mengalami perubahan cara pandang terhadap Indonesia, perempuan, dan diri sendiri. Melalui buku ini, penulis berharap dapat membantu pembaca—khususnya perempuan Indonesia—yang masih mengejar mimpi dan mencari jati diri.
Penulis percaya, setiap perempuan Indonesia memiliki hak untuk memilih caranya sendiri dalam melakukan sesuatu untuk Indonesia.
Kisah Inspiratif Silvia Halim
Salah satu tokoh dalam buku ini adalah Silvia Halim. Sewaktu SD, Silvia dikenal sebagai anak pemalas dan tidak suka mengerjakan tugas. Namun, segalanya berubah ketika seorang guru berkata, “Silvia, kamu tidak mungkin bisa berhasil!” Kalimat itu menjadi motivasi yang mengubah hidupnya.
Silvia kemudian menjadi rajin dan berhasil lulus sekolah sebagai juara satu. Ia melanjutkan studi di Nanyang Technological University, Singapura, jurusan teknik sipil. Setelah lulus, Silvia bekerja di bidang konstruksi di Singapura—membangun jalan, jembatan, trotoar, dan terowongan.
Ketika mendengar proyek MRT Jakarta, Silvia berpikir, “Saya kan sudah membantu proyek seperti ini di Singapura, kenapa tidak bantu Indonesia juga?” Berbekal pengalaman, ia diterima sebagai direktur konstruksi PT MRT Jakarta.
Silvia membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan dapat membawa perubahan. Proyek MRT Jakarta baginya bukan sekadar pekerjaan, tapi kontribusi nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ajakan untuk Perempuan Indonesia
Kisah Silvia hanyalah satu dari banyak kisah inspiratif dalam buku Lalita Project. Di akhir buku tidak tertulis “The End”, melainkan pertanyaan, “Kisahmu akan seperti apa?”
Penulis mengajak setiap pembaca untuk berkontribusi bagi Indonesia dengan caranya masing-masing, sebagaimana para tokoh perempuan hebat dalam buku ini. Melalui kisah-kisah nyata ini, pembaca diajak untuk merayakan dan belajar dari pencapaian perempuan Indonesia.
Cara Membeli Buku Lalita Project
Sayangnya, buku ini belum tersedia di toko buku besar. Penjualan buku dilakukan secara mandiri (self-publish). Jika Bapak/Ibu tertarik membeli buku Lalita Project, silakan menghubungi akun Instagram resmi: lalitaproject [DEW]
Sangat penting untuk kita memahami protokol kesehatan. Tidak hanya memahami tapi juga menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, karena cepat atau lambat sepertinya kita mesti membiasakan diri dengan tatanan baru dalam menjalani keseharian dan berinteraksi dengan sesama berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir. Untuk mempersiapkan diri menghadapi masa new normal, berikut infografis panduan protokol kesehatan yang bisa dijadikan panduan bagi kita bersama.
Dengan memahami dan menerapkan panduan ini dengan baik dan benar, diharapkan kita dapat tetap hidup sehat di tengah akivitas kita sehari-hari. Saling menjaga keselamatan baik diri sendiri maupun orang lain yang kita temui.
Mengajak anak bermain board game dapat sekaligus mengajarkannya berbagai hal, lho! Dalam video berikut, Ibu Marlene, salah satu orang tua siswa Athalia, berbagi tentang keuntungan bermain board game. Apakah Anda tertarik untuk juga mengajak anak bermain board game di rumah?
Judul: Keluarga Bahagia Penulis: Pdt. Dr. Stephen Tong Penerbit: Momentum Tebal: 125 halaman Cetakan: Ke-8, Mei 2006
Buku yang ditulis pada tahun 1991 ini berangkat dari kenyataan bahwa keretakan keluarga dan perceraian terus meningkat, sementara kebahagiaan sejati tampak semakin jauh dari jangkauan. Banyak keluarga mengalami kondisi yang digambarkan sebagai “seperti di neraka”.
Di tengah tekanan masyarakat, agama, dan norma budaya, banyak orang berusaha mempertahankan keharmonisan keluarga hanya secara lahiriah—sekadar dari “kulit luarnya”. Oleh karena itu, penulis buku ini memiliki kerinduan agar kebahagiaan sejati dapat kembali hadir, baik bagi mereka yang telah berkeluarga maupun yang sedang mempersiapkan diri menuju pernikahan. Harapannya, melalui buku ini, kemuliaan dapat kembali kepada Allah sebagai sumber kebahagiaan sejati dalam keluarga Kristen.
Tujuh Bab yang Membahas Prinsip Keluarga Kristen
Buku ini terdiri dari tujuh bab yang membahas topik-topik penting dalam kehidupan keluarga Kristen, antara lain:
Prinsip keluarga Kristen
Alasan pernikahan Kristen
Urutan penting dalam keluarga
Menghormati perkawinan
Harmoni perbedaan laki-laki dan perempuan
Ordo suami-istri Kristen
Kendala dan kunci kebahagiaan keluarga
Keluarga Sebagai Cerminan Kasih Allah Tritunggal
Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa dalam kehendak kekal Allah, Dia membentuk keluarga sebagai komunitas kecil yang mencerminkan kasih dan kebersamaan dalam Pribadi Allah Tritunggal.
Keluarga menjadi wadah untuk belajar berkasih-kasihan, berkomunikasi, dan saling memperhatikan satu sama lain, sebagaimana Allah berelasi dalam Tritunggal-Nya. Karena itu, pernikahan Kristen merupakan bagian dari rencana Allah dalam menciptakan manusia, yakni untuk menjadi cerminan kasih dan keharmonisan ilahi (halaman 5).
Rantai Otoritas dalam Keluarga Kristen
Penulis juga menekankan pentingnya rantai atau urutan otoritas universal (the chain of authority of the universe) dalam kehidupan keluarga Kristen. Rantai otoritas ini menjadi dasar keharmonisan hidup:
Allah adalah kepala Kristus
Kristus adalah kepala laki-laki
Laki-laki adalah kepala perempuan
Ayah dan ibu adalah kepala anak-anak
Ketika urutan ini dipahami dan dijalankan dengan benar, keluarga akan hidup dalam keharmonisan dan terhindar dari kekacauan. Sebaliknya, kekacauan dalam kehidupan manusia muncul karena rantai ini diabaikan atau dilanggar.
Prinsip-Prinsip Keluarga yang Bersifat Aplikatif
Buku ini menawarkan banyak prinsip praktis untuk membangun keluarga yang kuat dan bahagia. Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya relevan bagi pasangan yang baru menikah, tetapi juga bagi mereka yang telah lama berumah tangga.
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan keluarga, karena setiap hari adalah kesempatan baru untuk mengoreksi arah hidup. Buku ini ditulis dengan gaya aplikatif, sehingga pembaca lebih mudah memahami dan menerapkan prinsip firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Menghidupi Arti Keluarga di Zaman Modern
Di masa kini, ketika banyak keluarga memiliki lebih banyak waktu bersama, buku ini dapat menjadi panduan untuk merenungkan kembali arti membentuk keluarga dan pentingnya sistem keluarga Kristen di tengah arus pandangan modern yang sering bertentangan dengan nilai-nilai Alkitab.
Mari gunakan waktu berharga ini untuk memandang keluarga dari sudut pandang kehendak Tuhan—membangun rumah tangga yang berlandaskan kasih, otoritas yang benar, dan kebahagiaan sejati di dalam Allah. [MRT]