Prinsip Keluarga Kristen Meraih Kebahagiaan Sejati

Judul: Keluarga Bahagia
Penulis: Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit: Momentum
Tebal: 125 halaman
Cetakan: Ke-8, Mei 2006

Buku yang ditulis pada tahun 1991 ini berangkat dari kenyataan bahwa keretakan keluarga dan perceraian terus meningkat, sementara kebahagiaan sejati tampak semakin jauh dari jangkauan. Banyak keluarga mengalami kondisi yang digambarkan sebagai “seperti di neraka”.

Di tengah tekanan masyarakat, agama, dan norma budaya, banyak orang berusaha mempertahankan keharmonisan keluarga hanya secara lahiriah—sekadar dari “kulit luarnya”. Oleh karena itu, penulis buku ini memiliki kerinduan agar kebahagiaan sejati dapat kembali hadir, baik bagi mereka yang telah berkeluarga maupun yang sedang mempersiapkan diri menuju pernikahan. Harapannya, melalui buku ini, kemuliaan dapat kembali kepada Allah sebagai sumber kebahagiaan sejati dalam keluarga Kristen.


Tujuh Bab yang Membahas Prinsip Keluarga Kristen

Buku ini terdiri dari tujuh bab yang membahas topik-topik penting dalam kehidupan keluarga Kristen, antara lain:

  1. Prinsip keluarga Kristen
  2. Alasan pernikahan Kristen
  3. Urutan penting dalam keluarga
  4. Menghormati perkawinan
  5. Harmoni perbedaan laki-laki dan perempuan
  6. Ordo suami-istri Kristen
  7. Kendala dan kunci kebahagiaan keluarga

Keluarga Sebagai Cerminan Kasih Allah Tritunggal

Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa dalam kehendak kekal Allah, Dia membentuk keluarga sebagai komunitas kecil yang mencerminkan kasih dan kebersamaan dalam Pribadi Allah Tritunggal.

Keluarga menjadi wadah untuk belajar berkasih-kasihan, berkomunikasi, dan saling memperhatikan satu sama lain, sebagaimana Allah berelasi dalam Tritunggal-Nya. Karena itu, pernikahan Kristen merupakan bagian dari rencana Allah dalam menciptakan manusia, yakni untuk menjadi cerminan kasih dan keharmonisan ilahi (halaman 5).


Rantai Otoritas dalam Keluarga Kristen

Penulis juga menekankan pentingnya rantai atau urutan otoritas universal (the chain of authority of the universe) dalam kehidupan keluarga Kristen. Rantai otoritas ini menjadi dasar keharmonisan hidup:

  • Allah adalah kepala Kristus
  • Kristus adalah kepala laki-laki
  • Laki-laki adalah kepala perempuan
  • Ayah dan ibu adalah kepala anak-anak

Ketika urutan ini dipahami dan dijalankan dengan benar, keluarga akan hidup dalam keharmonisan dan terhindar dari kekacauan. Sebaliknya, kekacauan dalam kehidupan manusia muncul karena rantai ini diabaikan atau dilanggar.


Prinsip-Prinsip Keluarga yang Bersifat Aplikatif

Buku ini menawarkan banyak prinsip praktis untuk membangun keluarga yang kuat dan bahagia. Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya relevan bagi pasangan yang baru menikah, tetapi juga bagi mereka yang telah lama berumah tangga.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan keluarga, karena setiap hari adalah kesempatan baru untuk mengoreksi arah hidup. Buku ini ditulis dengan gaya aplikatif, sehingga pembaca lebih mudah memahami dan menerapkan prinsip firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.


Menghidupi Arti Keluarga di Zaman Modern

Di masa kini, ketika banyak keluarga memiliki lebih banyak waktu bersama, buku ini dapat menjadi panduan untuk merenungkan kembali arti membentuk keluarga dan pentingnya sistem keluarga Kristen di tengah arus pandangan modern yang sering bertentangan dengan nilai-nilai Alkitab.

Mari gunakan waktu berharga ini untuk memandang keluarga dari sudut pandang kehendak Tuhan—membangun rumah tangga yang berlandaskan kasih, otoritas yang benar, dan kebahagiaan sejati di dalam Allah. [MRT]

Lebih Dekat dengan Siswa melalui “Parent’s Teaching”

Oleh: Elisa Christanto, Orang Tua Siswa

Mengajar Anak TK Lewat Cerita: Awal Sebuah Pengalaman Berharga

Keinginan saya sederhana — mendukung proses belajar mengajar di sekolah anak bungsu saya. Karena itu, saya tidak berpikir panjang ketika mendapat tawaran untuk menjadi relawan dalam program Parent’s Teaching di unit TK Sekolah Athalia.

Kegiatan kali ini mengusung konsep storytelling dengan tema “Kelinci.” Saya pun mulai mempelajari tema tersebut dan menyusun konsep cerita yang menarik. Sambil berjalan, saya juga mengamati karakter anak-anak Pra-TK agar bisa menyesuaikan gaya bercerita.

Untuk mewujudkan ide ini, saya mengajak beberapa orang tua lain untuk berperan sebagai singa dan kelinci. Syukurlah, banyak orang tua Athalia yang ringan tangan dan dengan sukacita bersedia membantu.


Persiapan dan Latihan Menuju Hari Pertunjukan

Kami mengadakan beberapa kali pertemuan dan latihan, hingga tibalah hari pelaksanaan pada 11 Februari 2020.
Meskipun persiapannya terbilang singkat dan sederhana, kami melangkah dengan penuh semangat — karena tahu bahwa momen ini akan berkesan bagi anak-anak.

Kami membawakan cerita tentang singa dan kelinci dalam dua sesi: pagi dan siang.


Sesi Pagi: Anak-Anak Audio Visual yang Menyimak dengan Antusias

Pada sesi pagi, kami terkesima melihat anak-anak yang begitu manis. Mereka duduk rapi dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Saya mengamati bahwa sebagian besar anak-anak bertipe audio-visual, sehingga kisah dengan peraga visual sangat menarik bagi mereka.

Saat diminta berpartisipasi, mereka dengan penuh semangat mendekati “sumur” tempat singa melompat. Suasana begitu hidup dan penuh tawa.


Sesi Siang: Anak-Anak Kinestetik yang Ceria dan Energik

Sesi kedua diikuti oleh anak-anak dari kelas Apple 1 dan Grape 1. Kali ini suasananya lebih ramai dan ceria. Anak-anak terlihat kinestetik dan sangat antusias!

Ketika diminta memanggil karakter dalam cerita, mereka kompak berteriak,

“Kelinciii!” dan “Singa!!!”

Peran singa yang dimainkan dengan penuh penghayatan membuat anak-anak terbawa suasana hingga spontan mundur saat “singa” mendekat. Sebaliknya, kelinci yang lucu dan menggemaskan membuat anak-anak ingin menyapanya.


Manfaat Parent’s Teaching: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Secara keseluruhan, acara ini sangat menyenangkan dan layak dipertahankan. Ada banyak manfaat positif yang bisa dipetik dari kegiatan Parent’s Teaching ini:

  1. Membangun hubungan hangat antara sekolah dan orang tua.
    Melibatkan orang tua dalam proses belajar menciptakan suasana yang luwes dan akrab.
  2. Memanfaatkan talenta orang tua untuk mendukung pembelajaran.
    Setiap orang tua bisa berkontribusi sesuai kemampuan dan keunikannya.
  3. Menumbuhkan rasa percaya antara orang tua dan sekolah.
    Saat orang tua mengetahui bahwa proses belajar di sekolah berjalan baik, mereka merasa lebih nyaman dan percaya pada lembaga pendidikan anaknya.
  4. Mendorong kepedulian terhadap pendidikan anak.
    Sekolah senang bila orang tua turut peduli dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar.

Sukacita Menjadi Pencerita

Bagi saya pribadi, menjadi pencerita dalam program ini adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tak pernah terbayang sebelumnya bisa “mengajar” di lingkungan sekolah formal, meski hanya sejenak.

Saya sungguh bersyukur diberi kesempatan ini, karena kegiatan seperti ini bukan hanya tentang sekolah atau orang tua — tetapi tentang anak-anak yang menjadi pusat dari setiap upaya kita.


Ajak Orang Tua Lain untuk Terlibat

Saya berharap semakin banyak orang tua yang mau ikut terlibat dalam kegiatan sekolah anak.
Mari gunakan talenta yang Tuhan berikan untuk menyukakan hati-Nya dengan cara membahagiakan orang lain, termasuk anak-anak kita sendiri.

Yuk, jadikan momen kecil seperti ini sarana besar untuk menanamkan sukacita belajar bagi generasi muda!

Kehangatan yang Terjalin di Pra-event Temu Alumni

Oleh: Martin Manurung, konselor SMA.

Semangat “We Are One” di Usia 25 Tahun Sekolah Athalia

Dalam rangka merayakan HUT ke-25 Sekolah Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong, diadakan serangkaian kegiatan bertema “We Are One.”
Salah satu kegiatan istimewanya adalah Pra-Event Temu Alumni, yang menjadi ajang pemanasan sebelum acara puncak Temu Raya Alumni pada 8 Agustus 2020.

Panitia menargetkan 350 alumnus dari delapan angkatan untuk hadir dan bersatu dalam acara utama nanti. Mereka akan berkumpul, berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mempererat relasi demi menyatukan langkah alumni Sekolah Athalia di berbagai bidang kehidupan.


Tujuan dan Makna Acara Pra-Event Temu Alumni

Mengumpulkan delapan angkatan alumni Athalia yang kini tersebar di berbagai kota, bahkan hingga luar negeri, bukan hal yang mudah. Karena itu, Pra-Event Temu Alumni diadakan dengan dua tujuan utama:

  1. Membangun semangat dan antusiasme alumni menjelang acara puncak Temu Raya.
  2. Menghidupkan kembali rasa kebersamaan dan kekeluargaan setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, baik dengan teman seangkatan maupun para guru.

Persiapan kegiatan ini dilakukan selama kurang lebih dua bulan, melibatkan banyak pihak dari alumni hingga siswa aktif SMA Athalia.


Persiapan oleh Alumni dan Siswa Aktif

Tim panitia terdiri dari para alumni — Keia, Disa, Moses, Adit, Andy, Krishna, Andrew, Kenisha, Kezia Adelia, Fily, dan Marcella — serta beberapa siswa aktif SMA Athalia seperti Kelvin, Jordan, dan Victor.
Keterlibatan lintas generasi ini mencerminkan semangat “We Are One” yang sesungguhnya.

Acara pra-event dilaksanakan pada Sabtu, 29 Februari 2020 pukul 18.00–22.00, dan berhasil menjadi momen penuh sukacita bagi seluruh peserta.


Jalannya Acara: Penuh Canda, Musik, dan Nostalgia

Acara dipandu oleh Bapak Martin Manurung dan Ester Kumala Tantri (Angkatan 3) sebagai MC.
Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Pak Presno, kemudian dilanjutkan dengan permainan tebak lagu yang mencairkan suasana.

Momen ini juga dimanfaatkan untuk saling menyapa dan menanyakan kabar para alumni — termasuk status relasi mereka yang menjadi bahan canda segar di antara teman lama.

Suasana nostalgia semakin terasa lewat kuis kenangan masa SMA dan cerita-cerita “kenakalan lucu” semasa sekolah yang dibagikan oleh beberapa alumni.


Barbeque dan Musik yang Menghangatkan Malam

Keseruan malam itu berlanjut dengan pertunjukan musik dari para alumni dan guru yang menambah keakraban suasana.
Acara semakin meriah ketika para alumni dibagi ke dalam kelompok angkatan untuk barbeque (BBQ) bersama.

Di tengah gelak tawa dan aroma daging bakar, terlihat para alumni berbincang santai dengan guru-guru yang dulu mengajar mereka.
Kehangatan hubungan antara guru dan murid lama membuat malam itu begitu berkesan.


Dukungan dari Guru, OSIS, dan Orang Tua

Acara pra-event ini juga mendapat dukungan dari perwakilan OSIS SMA Athalia serta orang tua alumni yang turut berkontribusi melalui donasi dan konsumsi.
Beberapa guru SD dan SMP yang pernah mengajar para alumni juga turut hadir, menambah suasana nostalgia semakin kental.

Tercatat 115 alumni dari angkatan pertama hingga ketujuh hadir dalam acara ini — jumlah yang membuktikan semangat kebersamaan masih kuat di antara keluarga besar Sekolah Athalia.


Harapan untuk Temu Raya Alumni 2020

Seluruh peserta, baik alumni maupun guru, tampak antusias dan menikmati setiap momen dalam acara pra-event ini.
Harapannya, Temu Raya Alumni pada 8 Agustus 2020 dapat berlangsung lebih meriah, dihadiri lebih banyak alumnus, dan menjadi momentum penting untuk mempererat relasi seluruh keluarga besar Athalia.

Seminar Pernikahan Marriage Oneness: Menguatkan Kesatuan Pernikahan Kristen

Oleh: Jessica Jeanne P. Rossall

Merayakan HUT ke-25 Sekolah Athalia dengan Seminar Marriage Oneness

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HUT ke-25 Sekolah Athalia—sekolah Kristen di BSD, Serpong—diadakan seminar khusus bagi pasangan suami istri bertema “Marriage Oneness.”
Seminar pernikahan ini diselenggarakan pada Sabtu, 22 Februari 2020, dan dibawakan secara menarik oleh Bapak Rizal dan Ibu Rina Badudu.

Kegiatan ini dihadiri oleh 51 pasangan, terdiri atas orang tua murid Athalia dan Pinus, para guru, staf, serta beberapa peserta dari luar komunitas Athalia.


Konsep Seminar yang Berbeda dan Penuh Kreativitas

Sejak awal, seminar ini dirancang berbeda dari acara-acara biasanya. Tim panitia berupaya menghadirkan pengalaman yang unik, interaktif, dan berkesan bagi setiap pasangan.
Bahkan, sejak peserta tiba di lokasi, mereka sudah merasakan nuansa yang tidak biasa.

Setiap meja telah disiapkan dengan nama pasangan yang telah ditentukan, menciptakan suasana personal. Sebelum duduk, peserta diarahkan untuk berfoto bersama pasangan oleh tim dokumentasi—yang terdiri dari beberapa siswa sukarelawan Athalia—untuk mengabadikan momen berharga tersebut.


Dua Bagian Utama: Sesi Seminar dan Intimate Moment

Acara terbagi menjadi dua bagian utama:

  1. Sesi Seminar, dan
  2. Sesi Intimate Moment.

Sesi Seminar: Menyelami Firman Tuhan tentang Kesatuan Pernikahan

Dalam sesi ini, Bapak Rizal dan Ibu Rina Badudu bergantian membagikan dasar firman Tuhan tentang pernikahan Kristen.
Peserta diajak menyelami kembali makna kesatuan dalam pernikahan dan memahami tantangan-tantangan nyata yang sering dihadapi pasangan, terutama dalam hal komunikasi dan penyelesaian konflik.

Kurangnya kemampuan problem solving sering kali menyebabkan pola konflik yang sama terus berulang. Karena itu, peserta juga dilatih untuk menemukan solusi bersama atas masalah yang sering muncul di rumah tangga.

Sebagai penutup, sesi ini diakhiri dengan analogi “Ballroom Dancing” — simbol keharmonisan dan kerja sama dalam pernikahan. Banyak pasangan menikmati kesempatan ini karena untuk sebagian, ini adalah pengalaman pertama mereka belajar menari berpasangan.


Sesi Intimate Moment: Dari Permainan hingga Tarian Romantis

Tidak berhenti pada teori, panitia menghadirkan berbagai aktivitas yang membuat pasangan terlibat langsung dan saling berinteraksi.

Sesi makan bersama menjadi salah satu momen paling berkesan.
Para istri ditutup matanya dan belajar percaya penuh pada suami, mulai dari mengambil makanan hingga kembali ke tempat duduk.
Sementara itu, para suami melayani istrinya dengan mengambilkan makanan yang disukai dan bahkan menyuapi pasangan mereka.

Setelah makan, acara dilanjutkan dengan permainan seru bertema “I Know You.”
Setiap pasangan duduk saling membelakangi, lalu menjawab beberapa pertanyaan tentang pasangannya. Setelah itu, jawaban mereka dicocokkan — menghasilkan banyak tawa, candaan, dan juga kehangatan.


Momen Puncak: Berdansa Bersama Pasangan

Satu momen paling istimewa pun tiba.
Setiap pasangan diberi kesempatan untuk berdansa bersama diiringi lagu lembut, menciptakan suasana penuh kasih dan romantis.
Bagi banyak peserta, ini menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan — seolah waktu berhenti sejenak untuk menikmati keintiman bersama pasangan.

Acara kemudian ditutup oleh Bu Charlotte dengan doa.
Beliau menyampaikan harapan agar setiap pasangan semakin diberkati dan dimampukan menjaga kesatuan dalam pernikahan mereka.


Refleksi: Kesatuan yang Diperkuat oleh Kasih

Seminar Marriage Oneness bukan sekadar kegiatan rohani, tetapi juga sebuah perjalanan emosional dan spiritual bagi para peserta untuk memperdalam hubungan mereka.
Lewat pengalaman sederhana namun bermakna — seperti berdansa, bermain, dan saling melayani — para pasangan belajar kembali bahwa pernikahan adalah kerja sama yang indah di hadapan Tuhan.

foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan

Anak Saya Ternyata Mengidap Nomofobia…

nomofobia

Apa itu Nomofobia?

“Bu… anak saya kalau sampai rumah, langsung masuk kamar, dan sibuk sama ponselnya. Dia sampai sering telat makan dan tidur karena hal itu. Bahkan, dia pernah seharian nggak mau bicara karena ponselnya rusak, kecemplung di toilet. Apa yang harus saya lakukan, ya?”

Perilaku seperti di atas tidak dialami oleh satu-dua anak. Semakin banyak anak yang menunjukkan kecenderungan terlalu lekat dengan ponsel mereka. Waktu mereka pun dihabiskan untuk berkelana di dunia maya. Ketika mereka berada di kondisi tak bisa mengakses ponsel, mereka menjadi marah, cemas, dan bingung. Gambarannya seperti orang yang sedang sakau.

Kondisi tersebut dikenal dengan “nomofobia”, yang menurut The National Center for Biotechnology Information AS, yaitu sebuah istilah yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan kondisi psikologis seseorang yang punya ketakutan atau kecemasan ketika “terputus” dari ponselnya. Kondisi ini berkaitan erat dengan kecanduan gadget, yang sudah dikategorikan sebagai adiksi klinis. Perbedaanya, hingga saat ini, nomofobia belum dimasukkan ke dalam DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) edisi ke-5.

Penyebab Nomofobia

Nomofobia disebabkan oleh kecemasan yang sudah ada sebelumnya pada diri anak. Biasanya, berkaitan erat dengan image diri, self security, dan relasi dengan keluarga. Berikut beberapa hal yang bisa menyebabkan seorang anak mengalami nomofobia.

  • Tidak percaya diri. Anak-anak yang punya citra diri yang rendah tak mampu menghadapi dunia nyatanya sehingga dia mencari kenyamanan di dunia maya (misalnya, mencari teman baru di dunia maya). Hal ini biasanya dialami anak-anak yang memiliki kemampuan sosial yang rendah, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak introvert. Anak-anak ini nyaman dengan dunia barunya sehingga akan begitu terganggu jika terputus dari dunia tersebut.
  • Kecemasan sosial. Dikenal juga dengan istilah “FOMO” (Fear of Missing Out). Anak-anak ini merasa cemas ketika mereka ketinggalan update terbaru di media sosial. Mereka ingin menjadi orang pertama yang mengetahui update terkini. Ketidakmampuan mengakses berita terbaru bisa membuat orang merasa cemas, takut dianggap tidak up to date.
  • Kekosongan. Ketika anak merasa kesepian, dia menemukan ponsel sebagai penghibur hati. Hal ini mengingatkan kita pada teori kelekatan, di mana seorang anak akan bergantung pada sosok/benda yang membuatnya nyaman. Ketika hanya ponsel yang membuatnya nyaman, tentu dia akan terganggu ketika ia tidak bisa mengakses ponselnya.

Di Sekolah Athalia sendiri, menurut survei kecil-kecilan yang dilakukan oleh para konselor dan guru agama oleh siswa SMP dan SMA pada 2019 lalu, beberapa anak secara sadar mengetahui bahwa mereka mengalami nomofobia. Anda bisa melihatnya pada gambar berikut.

nomofobia
nomofobia

Hasil di atas, kita sadar bahwa ada lebih dari 35 persen siswa SMA dan 28 persen siswa SMP mengaku mereka mengalami kecemasan jika jauh dari ponselnya. Jumlah yang memang tidak besar, tetapi tetap harus kita tangani sesegera mungkin.

Orang tua harus membantu!

Sebagai orang tua, apa yang bisa kita lakukan? Anak dengan nomofobia biasanya memang mengalami ketergantungan pada ponselnya (adiksi). Nah, memarahi anak dan mempersalahkan adiksinya justru akan semakin menciptakan jurang besar. Anda bisa membantu anak menghilangkan ketergantungannya pada gadget dengan cara-cara berikut:

  • Mengalihkan perhatian. Mengajak anak untuk keluar makan bersama atau beraktivitas bersama untuk membuatnya lupa sejenak dengan ponselnya, misalnya rekreasi ke taman hiburan.
  • Menyodorkan hobi baru. Perhatikan minat dan bakat anak, kemudian dukung dia untuk mendalaminya. Buatlah dia sibuk dengan hal-hal yang disukainya.
  • Lakukan interaksi intens. Anak-anak yang kecanduan gadget mungkin saja merasa kesepian di rumah. Saatnya menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengobrol dengan anak.
  • Terapi. Jika anak sudah dalam tahap kecanduan gadget sampai mengganggu rutinitas hariannya, Anda bisa mengajaknya untuk konsultasi ke psikolog agar nomofobia-nya bisa ditangani dengan tepat. Dukung anak dalam menjalani terapinya dengan memberikan contoh terlebih dahulu mengenai cara bijak menggunakan gadget.

Kiranya kita diberi hikmat dalam mendampingi anak-anak. [DLN]


Buku Character Excellence, Jilid 2, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan

Judul: Character Excellence Jilid 2
Penulis: Rizal Badudu
Penerbit: Kompas
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 308 halaman

buku Character Excellence membantu dalam mengembangkan karakter

Melanjutkan Pembelajaran Karakter dari Jilid 1

Setelah sebelumnya kami merekomendasikan buku Character Excellence Jilid 1, kini saatnya kita melanjutkan perjalanan dengan buku Character Excellence Jilid 2: Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.

Sama seperti jilid pertama, penulis kembali memberikan panduan membaca yang efektif agar pembaca dapat memperoleh manfaat maksimal. Buku ini terdiri dari tiga bagian utama dengan masing-masing dua bab, dan ditutup dengan bagian akhir berjudul “Penutup Sua.”


Panduan Membaca Berdasarkan Tahap Kehidupan

Penulis buku Character Excellence Jilid 2 memahami bahwa setiap pembaca berada di tahapan hidup yang berbeda, sehingga memberikan panduan membaca yang spesifik agar isi buku dapat diaplikasikan secara tepat.

Berikut panduannya:

  • Bagi orang muda (masih sekolah/kuliah, belum menikah, belum bekerja): cukup membaca empat bab awal dan bab 5 dari Character Excellence Jilid 1.
  • Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak yang belum bersekolah: lanjutkan ke Bagian III (Bab 6 dan 7) dalam jilid 2.
  • Bagi yang memiliki anak usia sekolah: lanjutkan ke Bagian IV (Bab 8 dan 9).
  • Bagi yang bekerja di lingkungan sekolah atau kampus: tetap fokus pada Bagian IV (Bab 8 dan 9).
  • Bagi yang sudah bekerja di bidang apa pun: baca Bagian V (Bab 10 dan 11).

Penulis juga menganjurkan agar pembaca memilih dua kualitas karakter utama untuk dipelajari lebih mendalam, serta tetap mengikuti karakter yang sama di bab-bab selanjutnya untuk memperkaya pemahaman.
Bagian “Penutup Sua” disarankan untuk selalu dibaca oleh semua pembaca.


Fokus Buku: Mengembangkan Karakter dalam Lingkungan Lebih Luas

Jika jilid pertama menekankan pengembangan karakter pribadi, maka jilid kedua ini memperluas fokusnya ke area sosial dan profesional: anak, siswa, serta karyawan.

Buku ini membahas sepuluh kualitas karakter utama, yaitu:

  1. Antusiasme
  2. Daya tahan
  3. Kerajinan
  4. Kerendahan hati
  5. Ketulusan
  6. Keberanian
  7. Ketaatan
  8. Ketepatan waktu
  9. Perhatian penuh (mindfulness)
  10. Tanggung jawab

Setiap karakter dibahas secara mendalam melalui beberapa pendekatan menarik:

  • Definisi karakter
  • Ilustrasi nyata
  • Penerapan praktis dalam kehidupan sehari-hari
  • Bentuk pujian dan apresiasi
  • Sikap dan tindakan yang dapat dilakukan orang tua
  • Kisah inspiratif yang menggugah dan meneguhkan pemahaman pembaca

Pendekatan yang menyeluruh ini membuat buku Character Excellence Jilid 2 tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga alat pembentukan karakter yang bisa diterapkan di keluarga, sekolah, maupun lingkungan kerja.


Refleksi: Bertumbuh dalam Karakter, Menjadi Berkat bagi Sekitar

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk terus berproses dalam pengembangan diri, sekaligus berperan aktif dalam membentuk karakter positif di lingkungan masing-masing — baik sebagai orang tua, pendidik, maupun rekan kerja.

Setiap kualitas karakter yang dipelajari adalah langkah menuju perubahan yang lebih baik, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi anak, siswa, dan komunitas di sekitar kita.

Semoga setiap karakter yang dibahas dalam buku ini menolong kita untuk bertumbuh dalam kasih, tanggung jawab, dan integritas.
Tuhan memberkati! 🙏 (SO)

Pentingnya Bahasa Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak

Oleh: Lidia Kurniasari, Guru Bahasa Indonesia SMA

Bahasa sebagai Alat Interaksi Sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup berdampingan dan membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi serta bersosialisasi. Kemampuan ini sangat penting untuk memperkecil kesalahpahaman dalam komunikasi. Salah satu instrumen utama yang membantu manusia berinteraksi adalah bahasa.

Bahasa berperan penting sebagai alat komunikasi. Kemampuan berbahasa yang baik dapat meningkatkan kualitas interaksi dan mempererat hubungan antarindividu.


Peran Keluarga dalam Pemerolehan Bahasa Ibu

Konsep komunikasi pertama kali dipelajari di lingkungan tempat seseorang dilahirkan — yaitu keluarga. Orang tua memegang peranan penting dalam proses pemerolehan bahasa pada anak, yang dikenal sebagai bahasa ibu atau mother tongue.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai oleh manusia sejak lahir melalui interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak belajar bahasa pertama dengan cara mendengar komunikasi di sekitarnya, menyimpannya dalam “gudang bahasa”, lalu mengolahnya menjadi kalimat.


Bahasa Ibu sebagai Dasar Cara Berpikir

Kemampuan seseorang menguasai bahasa ibu berpengaruh besar terhadap proses belajar berikutnya. Bahasa menjadi dasar cara berpikir, membentuk pola logika dan pemahaman anak terhadap dunia di sekitarnya.

Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari pentingnya penggunaan bahasa ibu dalam pembentukan karakter anak. Saat anak mulai memasuki lingkungan masyarakat yang lebih luas, bahasa ibu membantu mereka memahami nilai, norma, dan budaya bangsanya sendiri.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membangun kemampuan berbahasa anak antara lain:

  • Siapa yang berbicara dan diajak bicara,
  • Tempat dan waktu interaksi,
  • Topik pembicaraan, serta
  • Bahasa yang digunakan.

Dengan memahami hal-hal tersebut, orang tua dapat membantu anak menggunakan bahasa secara tepat dan berkarakter.


Tantangan Pelestarian Bahasa Ibu di Era Digital

Anak-anak zaman sekarang lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau melalui media sosial. Mereka cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing karena menganggap hal itu membuka peluang karier dan koneksi global.

Pandangan tersebut tidak salah, namun tanggung jawab mempertahankan bahasa ibu tidak boleh diabaikan. Bahasa adalah jendela untuk memandang realitas kehidupan. Hilangnya bahasa berarti hilangnya cara pandang, nilai, etika, dan norma suatu bangsa.

Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kecintaan pada bahasa ibu, sembari tetap memberikan kesempatan anak belajar bahasa asing. Dengan begitu, anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.


Peran Sekolah dan Orang Tua dalam Melestarikan Bahasa Ibu

Sekolah juga memiliki peran penting dalam pelestarian bahasa ibu. Contohnya, Sekolah Athalia—sebuah sekolah di BSD, Serpong— sebagai sekolah Kristen yang menekankan pembentukan karakter, berkomitmen menjadi wadah bagi siswa untuk mencintai bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Kesadaran bersama antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan penggunaan bahasa ibu baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Dengan memberikan teladan yang baik, anak-anak akan lebih mudah memahami nilai luhur bangsanya melalui bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.


Menumbuhkan Cinta Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah

Pemerintah Indonesia telah menetapkan slogan:
“Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Pelajari Bahasa Asing.”

Slogan ini mengandung pesan kuat agar masyarakat, terutama generasi muda, tetap menjadikan bahasa ibu sebagai jati diri bangsa. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah harus diutamakan dan dilestarikan, sementara bahasa asing dipelajari sebagai jembatan komunikasi global.


Kesimpulan: Bahasa Ibu adalah Identitas dan Karakter Bangsa

Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya dan cerminan karakter bangsa. Melalui bahasa itu, anak belajar berpikir, beretika, dan memahami nilai kehidupan.

Peran orang tua dan guru sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh teknologi.
Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan tanamkan kebanggaan berbahasa kepada generasi penerus bangsa.

Character Excellence, Jilid 1, Mengembangkan Karakter Pribadi

Judul : Character Excellence
Penulis : Rizal Badudu
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit : 2019
Jumlah halaman: 228 halaman

Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.

Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.

Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.

Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.

Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)

Parenting Positif dengan Kasih Tanpa Syarat

parenting positif

Setiap Anak Bernilai, Unik, dan Layak Dihargai

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.

Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi.
Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.


Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan

Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.

Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.


Harapan Orang Tua vs. Realita Anak

Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.

Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan?
Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya?
Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.


Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya

Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.

Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.

Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.


Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat

Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.

Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter.
Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.


Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus

Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih.
Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)

Cairnya Kebersamaan dalam Natal Parents In Touch (PIT) 2019

Elisa Christanto, (orang tua siswa)

Parents In Touch (PIT) adalah kegiatan kolaborasi oleh orang tua, guru, dan staf yang ada di dalam wadah komunitas Athalia. Ini bukan sembarang kegiatan karena di dalam PIT-lah orang tua, guru, dan staf di komunitas Athalia bergandengan tangan saling mendukung di dalam persekutuan doa.

Pada Rabu, 11 Desember 2019, PIT merayakan Natal. Persekutuan kali ini terasa begitu istimewa karena PIT yang biasanya dibagi dua sesi, digabung sehingga kami bisa saling menyapa dan berkenalan—bagi yang belum saling mengenal. Kami juga kedatangan beberapa tamu spesial yang baru datang untuk pertama kalinya.

Pada Natal PIT kali ini, kami diajak untuk merenungi firman Tuhan yang diambil dari 1 Yohanes 2:2. Bu Nosta, sebagai pembawa firman, menyampaikan bahwa Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa. Bukan hanya dosa kita, tetapi dosa seluruh dunia. Meski demikian, pendamaian dosa itu diberikan-Nya jika kita menuruti perintah-perintah-Nya. Sudah seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur bahwa Yesus datang sebagai pendamai dosa-dosa kita.

Kebersamaan dalam Komunitas

Seperti sesi PIT biasanya, kami menutupnya dengan doa dan melanjutkannya dengan kebersamaan. Beragam hidangan telah tersedia. Momen kali ini terasa spesial karena baik para orang tua maupun staf menjadi penyedia santapan kami pada hari itu. Sembari menyantap makanan, kami larut dalam perbincangan. Kami saling bertukar kabar dan berbagi cerita.

Suasana itu tak berjarak, tak bersekat. Guru, orang tua, dan staf saling membaur, bercerita layaknya seorang sahabat. Saling mendengar cerita, bahkan tak kikuk untuk saling memuji dan melepas tawa bersama. Di mana lagi bisa kita jumpai persahabatan seperti ini jika bukan di dalam komunitas Athalia?

Saya merefleksikannya dari renungan yang disampaikan dalam Natal PIT yang lalu. Yesus hadir ke dunia untuk menjadi Juru Pendamai dosa dunia alias menjadi Juru Selamat. PIT menjadi sarana yang membentuk hati dan sikap setiap orang yang hadir agar semakin dimampukan dan dilayakkan untuk mendapat pendamaian atas dosa-dosa.

Di dalam PIT, kami menemui banyak kesaksian yang bisa memberkati kami. Saat melangkah keluar dari aula E, kami bisa membawa berkat itu dan menyampaikannya kepada lebih banyak jiwa di luar sana. Hati yang gelisah bagaikan tersiram air yang sejuk. Beberapa datang dengan hati yang sedih, hati yang keras, hati yang patah. Yang lainnya menopang, menguatkan, dan memberikan penghiburan. Di dalam komunitas ini, kami berbagi sukacita dan mendoakan setiap anak yang ada di sekolah ini.

Kerinduan bersekutu

Aktivitas yang terjadi setiap sesi PIT menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana hati dan sikap kami turut dibentuk di dalam persekutuan ini. Doa, yang notabene merupakan cara untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, juga menjadi fokus utama dalam persekutuan ini.

Sebagai orang tua siswa yang merasa sangat diberkati oleh persekutuan ini, kami mengharapkan semakin banyak anggota komunitas ini yang bergabung dalam PIT. Kami merasa menemukan komunitas yang tepat untuk bersama mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Komunikasi kami dengan Tuhan di dalam doa semakin intens.

Kehidupan tanpa doa bagaikan makanan tanpa garam. Hambar, hampa, kelu, sendu, dan sulit menemukan sukacita. Dengan doa, apalagi berdoa bersama-sama di dalam nama Yesus Kristus, semuanya menjadi benderang dan terasa indah.

Mari, kita satukan hati untuk berdoa bersama dalam “Parents In Touch” setiap Rabu.

We wish you a Merry Christmas 2019, and happy New Year 2020.

God bless!

Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch