Mengasihi Anak Bukan Berarti Memanjakan: Cara Membentuk Daya Juang Anak di Era Modern

daya juang anak

Anak Zaman Sekarang dan Tantangan Kenyamanan

Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.

Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.

Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.


Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak

Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya.
Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.


1. Berani Menanggung Risiko

Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.

Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.

Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.


2. Berani Direpotkan

Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.

Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.

Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.


3. Berani Malu

Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.

Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.

Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.


Mengasihi atau Mengasihani?

Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:

“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”

Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan.
Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.

Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.


Kesimpulan

Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.

Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.

Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”

(dln)

Puncak Bulan Bahasa SMP Athalia

Pada Oktober lalu, tepat 31 Oktober, SMP Athalia menggelar acara puncak Bulan Bahasa yang telah diagendakan sejak jauh-jauh hari. Ada beragam lomba di bidang literasi yang menggugah para remaja makin mencintai bahasa Indonesia, belajar bahasa asing, mampu bekerja sama dalam tim dan teman-teman sekelas.

SMP Athalia mengangkat tema “Bahasa sebagai Pemersatu Bangsa” dalam perayaan bulan bahasa tahun ini. Beragam lomba diharapkan dapat mengembangkan siswa lebih percaya diri dalam mengekspresikan seni dan bahasa, tampil di depan umum, dan bekerja sama. Acara tahun ini difokuskan pada bahasa Indonesia dan Inggris. Lomba bercerita untuk kelas tujuh, membaca puisi untuk kelas delapan, dan pidato untuk kelas sembilan adalah tiga lomba untuk tiga jenjang berbeda di bangku SMP yang menggunakan bahasa Indonesia. Setiap kelas mengirimkan beberapa wakil untuk setiap lombanya—dua wakil per kelas untuk lomba bercerita, tiga siswa per kelas untuk lomba membaca puisi, dan dua orang per kelas untuk lomba berpidato.

Kategori Lomba Individu

Bercerita

  • Juara 1: Grace (7F)
  • Juara 2: Cristopher (7L)
  • Juara 3: Catalina (7L)

Membaca Puisi

  • Juara 1: Sebastian (8JE)
  • Juara 2: Michelle (8N)
  • Juara 3: Evelyn (8JU)

Pidato

  • Juara 1: Marsya
  • Juara 2: Cathleen
  • Juara 3: Mario

Selain itu, ada tiga lomba lain dalam bahasa Inggris—guessing word untuk kelas tujuh, spelling bee untuk kelas delapan, dan story telling untuk kelas sembilan. Hampir sama seperti lomba-lomba dalam bahasa Indonesia, lomba dalam bahasa Inggris juga diikuti oleh beberapa siswa setiap kelasnya.

Kategori Lomba Kelompok

Guessing Word

  • Juara 1: 7L
  • Juara 2: 7F
  • Juara 3: 7D

Spelling Bee

  • Juara 1: 8N
  • Juara 2: 8JE
  • Juara 3: 8E

Story Telling

  • Juara 1: 9W
  • Juara 2: 9E
  • Juara 3: 9R

Selain dua jenis lomba tersebut, ada dua lomba lain yang tak kalah menyenangkan, yaitu lomba poster! Setiap kelas dari angkatan kelas tujuh, delapan, dan sembilan membuat poster kelas masing-masing dengan tema “Bahasa sebagai Pemersatu Bangsa”. Panitia memilih tiga juara dari tiap angkatan. Selanjutnya, ada juga lomba yel-yel—dipilih 1 kelas sebagai pemenang dari tiga angkatan tersebut. Yang terakhir, lomba mading. Dari tiga angkatan, setiap kelas harus menampilkan mading kelas masing-masing.

Lomba Poster per Kelas

7:

  • Juara 1: 7D
  • Juara 2: 7L
  • Juara 3: 7R

8:

  • Juara 1: 8D
  • Juara 2: 8N
  • Juara 3: 8JE

9

  • Juara 1: 9W
  • Juara 2: 9F
  • Juara 3: 9R

Lomba Yel-Yel

  • Kelas 7: 7L
  • Kelas 8: 8JU
  • Kelas 9: 9F

Lomba Mading

  • Juara 1: 8D
  • Juara 2: 9R
  • Juara 3: 9F

Perlombaan berlangsung menyenangkan. Para siswa bersukacita dan mengembangkan semangat saling mendukung. Mereka tidak berkompetisi, tetapi berjuang menampilkan yang terbaik versi diri mereka dan mengasah kemampuan bekerja sama dengan teman-teman satu tim.

Seluruh rangkaian lomba hari itu ditutup dengan pentas teater bertema “Malin Kundang” yang diperankan oleh siswa-siswi SMP. Pementasan ini dikemas dengan gaya “anak sekarang” yang kental dengan dialog kekinian, dicampur dengan humor-humor renyah ala anak muda. Para pemain mendapatkan apresiasi yang besar dari penonton yang merupakan siswa SMP, para guru, dan staf. (SO)

bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia
bulan bahasa SMP Athalia

Puncak Bulan Bahasa di SD Athalia

Oleh: Rundiyati

Acara Puncak Bulan Bahasa

Puncak acara Bulan Bahasa dilaksanakan pada 28 Oktober 2019 sekaligus untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Acara ini diadakan di Aula F. Siswa kelas I-VI mengikuti acara dengan sangat antusias. Pada puncak acara ini, dipersembahkan berbagai rangkaian acara yang melibatkan seluruh siswa dan guru.

Rangkaian Berlangsungnya Acara

Acara ini berlangsung singkat, tetapi tidak menghilangkan maknanya. Tepat pukul 08.15, acara ini dimulai. Seperti tontonan spektakuler berkelas, acara ini diawali dengan hitungan mundur membuat seluruh peserta serasa terhipnotis untuk melihat puncak acara ini. Dilanjutkan dengan pemutaran video berdurasi singkat yang menceritakan kegiatan selama Bulan Bahasa dimulai dari pembukaan hingga acara di tiap minggunya. Video ini mengingatkan kembali proses kegiatan yang sudah dijalani, yakni mendapatkan pembekalan baru berkaitan dengan literasi, seperti menulis huruf kanji, membuat poster, membuat komik, spelling bee, story telling, teater, menggambar cerita, dan debat.

Setelah pemutaran video, Kania Kaban (6S) dan Brielle (3L) melakukan duet, menyanyikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” diiringi tiga guru musik. Onel (5M) selaku MC dalam acara ini mampu menarik seluruh penonton sehingga acara ini tak membosankan.

Senandung merdu dari Paduan Suara SD Athalia di bawah asuhan Kak Nina membawa suasana jadi tenang. Semua yang hadir di sana terhanyut ke dalam simfoni musik dan paduan suara yang indah.

Ada pula pementasan drama “Timun Mas” yang mengisahkan sepasang suami-istri (diperankan Nicholas 6W dan Clara 6S) yang merindukan kehadiran seorang anak. Suatu hari, mereka mendatangi seorang raksasa (diperankan oleh Oswel anak kelas 5H) untuk meminta diberikan seorang anak. Raksasa ini memberikan benih mentimun pada pasangan tersebut. Benih ini nantinya akan tumbuh menjadi sebuah timun berwarna emas yang berisi seorang bayi. Bayi ini kemudian diberi nama Timun Mas (diperankan oleh Desnaretha 4M).

Acara berlanjut dengan persembahan “Tari Indang” oleh siswa-siswi kelas VI. Puncaknya, seluruh ruangan dipenuhi gema suara siswa dan guru yang membacakan “Sumpah Pemuda” dan menyanyikan lagu “Bangun Pemudi Pemuda” secara serentak.

Untuk mengiringi anak-anak keluar dari aula F, kembali diperdengarkan lagu “Indonesia Jaya”. Selesai acara di Aula F, seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing. Mereka mendapatkan kenang-kenangan berupa booknote bergambar seperti yang ada di spanduk dan bertuliskan “Bulan Bahasa”.

bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia
bulan bahasa SD Athalia

AKSEN 2019: Menjalin Kebersamaan untuk Mencapai Satu Tujuan

Oleh: Tesalonika Maria Kaynna – X IPS 1

AKSEN di Athalia dan Tema Tahun 2019

AKSEN bagi kita—warga Athalia—bukanlah sesuatu yang baru. Sekolah Athalia mengadakan acara tersebut setiap tahun dengan tema dan konsep yang berbeda-beda.

Tahun ini, AKSEN diadakan pada 19 Oktober dengan tema “Zenith” yang berarti “Highest Point” atau “Titik Puncak”. Tema ini mengangkat tiga nilai, yakni solidaritas, integritas, dan respek. Tema dan ketiga nilai tersebut direalisasikan lewat kabaret—pertunjukan hiburan berupa nyanyian, tarian, dan sebagainya—yang menjadi bagian dalam AKSEN 2019. Tak hanya kabaret, ada pula penampilan band dari SMP dan SMA Athalia. Mereka adalah Saisho Kara, Latreia, dan Phosphenes.

Persiapan AKSEN

Persiapan AKSEN dilakukan selama kurang lebih 6 bulan. Diawali dengan pemilihan tema, nilai-nilai, dan konsep, kemudian berlanjut ke pembuatan naskah, lagu, koreografi, penampil, pemeran, dan sebagainya. Bagian yang paling dasar, yaitu merancang alur cerita dan konsep. Beberapa kali rumusan naskah direvisi supaya pesan cerita dapat tersampaikan, sambil menyesuaikan dengan nilai-nilai acara dan budaya Sekolah Athalia. Belum lagi, koreografi-koreografi yang harus dikejar. Melatih para pemeran yang berdialog juga menjadi suatu tantangan karena mereka adalah kunci cerita kabaret ini sehingga mereka dituntut untuk memahami dan merasakan alur cerita—kisah Matteo dalam berjuang meraih titik tertingginya—sehingga pesan-pesan yang disisipkan di beberapa dialog tertentu dapat sampai ke penonton. Semua tidak mudah, tentu saja. Kami harus berjuang di kepanitiaan ini seraya mengikuti pelajaran-pelajaran. Banyak yang harus kami susul dan yang harus dikerjakan di rumah—tugas sekolah maupun tugas kepanitiaan—sehingga menjaga kesehatan sendiri menjadi suatu perjuangan pula.

Namun, terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, buat saya sendiri, banyak sekali hal menguntungkan dan menyenangkan yang saya temukan sepanjang persiapan AKSEN. Selain belajar untuk percaya satu sama lain dan bekerja sama, kami juga bisa melatih diri dalam mengatur waktu karena hal tersebut diperlukan demi tercapainya kerja yang efisien. Adapun kami, panitia kelas 10, dituntut untuk berani menyuarakan pendapat, terbuka satu dengan yang lain, terutama dengan kakak kelas. Terkait dengan hal itu, salah satu dampak yang terasa adalah bertambahnya kenalan. Yang tidak saling mengenal kini sering bertukar sapa, bahkan saling melempar guyonan.

Kesan

Hal-hal mengesankan dan unik yang dapat ditemukan selama persiapan acara sekaligus dalam kepanitiaan besar ini menjadi suatu kenangan tersendiri buat kami. Dari saling memberikan pesan-pesan kecil di bagian belakang name tag kami, berbagi hadiah tanda semangat, mengadakan konser di aula, menyaksikan inside jokes konyol yang tiap-tiap bidang punya, canda-tawa, dan masih banyak lagi. Bahkan, akhir-akhir ini, beberapa kali saya mendengar lontaran kalimat dari orang-orang yang berada di dalam kepanitiaan dan terlibat dalam acara mengenai betapa rindunya mereka ketika mengingat momen-momen tersebut.

Ketika tiba hari yang sudah kita persiapkan sekian lama, ada rasa tegang dan cemas yang menyelip di benak kami. Di dalam doa kami, tersisip harapan kepada Tuhan supaya acara boleh berjalan mulus, sepadan dengan perjuangan yang telah kami lalui bersama. Lantas, di akhir acara, tepatnya setelah lagu “We’re All In This Together”, rasa lega meluap. Euforia di atas panggung yang dipenuhi panitia dan penampil AKSEN tidak terbendung lagi. Rasa bangga, puas, dan sukacita dirasakan kami semua. Bahkan, ada beberapa yang tak kuasa menahan haru hingga menangis, terutama kakak-kakak kelas 12. Ya, ini adalah AKSEN terakhir mereka, begitu pun kakak kelas 11. Masih teringat jelas kala itu, sorak-sorai terdengar riuh, suasana menjadi gegap gempita, sorot lampu menyilaukan mata, orang-orang saling berpelukan, semua mengukir senyuman lebar. Momen-momen indah itu pun diabadikan dalam bentuk foto, juga sebagai bentuk kenangan.

AKSEN 2019, terima kasih untuk kesempatan ini. Sampai jumpa di AKSEN selanjutnya. Zenith, highest point!

AKSEN 2019
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen
Aksen

Anak adalah Kertas Berwarna yang Unik

Anak adalah Kertas Berwarna yang Unik

Teach your children they’re unique. That way, they won’t feel pressured to be like everybody else.” –Cindy Cashman

Setiap Anak Itu Unik

Kita sering mendengarkan orang berkata bahwa “Anak itu seperti kertas putih. Sekarang tergantung kita mau menuliskan kertas itu seperti apa…”

Padahal, anak hadir ke dunia dengan keunikannya sendiri. Jika diibaratkan seperti kertas, anak adalah kertas berwarna dengan jenis yang berbeda-beda. Ada kertas folio, kertas kalkir, kertas duplex, dan lain sebagainya. Tekstur dan karakteristik kertas-kertas tersebut berbeda sehingga peruntukannya pun berbeda. Perlakuan terhadap kertas-kertas tersebut pun tentu berbeda.

Menyamakan dan Memperbadingkan

Ibu Charlotte menegaskan bahwa selain seperti kertas berwarna, anak juga seperti kertas yang sudah punya tulisan-tulisan di dalamnya. Anak memiliki sifat dan karakteristik bawaan. Oleh karena itu, sangat mungkin satu anak berbeda dengan kakak atau adiknya. Namun, yang awam dilakukan orang tua, yaitu memperlakukan anak-anaknya sama rata. Mereka juga memberikan ekspektasi yang sama kepada anak-anaknya. Akibatnya, ketika ada anak yang tidak berhasil melakukan pencapaian sesuai ekspektasi orang tuanya, perbandingan-perbandingan terlontar. “Si A kenapa nggak bisa displin seperti adiknya?” “B itu sukanya main bola terus, susah disuruh belajar. Nggak seperti kakaknya yang sudah sadar untuk belajar tanpa disuruh….”

Komparasi ini tentunya sangat berbahaya bagi anak-anak yang diperbandingkan. Selain menimbulkan rasa iri, sakit hati, dan kecewa, anak bisa merasakan benih-benih kebencian kepada saudara yang diperbandingkan dengannya. Efeknya, sibling rivalry bisa terjadi di dalam keluarga.

Tujuan Unik Tuhan untuk Setiap Anak

Tuhan sudah memiliki tujuan untuk anak-anak kita. Atas dasar tujuan tersebut, Tuhan membekali anak-anak kita dengan kekurangan dan kelebihan. Ketidaksempurnaan itu juga yang kita miliki. Ada beberapa hal yang kita kuasai dan tidak. Lalu, mengapa kita cenderung menuntut kesempurnaan pada anak-anak kita? Mengapa kita menuntut mereka untuk bisa meraih nilai tinggi di pelajaran yang tidak dikuasainya? Mengapa kita menuntut anak untuk bisa melakukan sebuah keterampilan, sedangkan dari awal dia menunjukkan bahwa dia tidak cakap melakukannya?

Ketidaksempurnaan yang Tuhan berikan sudah sesuai “porsinya” karena Tuhan tahu bahwa itu tidak dibutuhkan untuk tujuan Tuhan kepada anak-anak kita. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendorong anak untuk menerima kekurangannya dan mengasah kelebihannya untuk menjadikannya seturut kehendak Tuhan. (dln)

*Disarikan dari video Ibu Charlotte Priatna oleh Tanam Benih berjudul “Benarkah Anak itu Ibarat Kertas Putih Kosong?”

Retreat Kelas V SD: Jesus is the Only One

Oleh: Sabinah Valentina

Sekilas tentang Retreat Kelas V

Kelas V SD Athalia mengadakan retreat pada hari Rabu, 25–27 September 2019. Kegiatan ini bertempat di Wisma D’Agape, Bogor. Retreat yang bertema “Jesus is the Only One” ini bertujuan untuk membimbing siswa mengerti dan menyadari bahwa Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Selain itu, retreat ini bertujuan untuk membimbing siswa berlatih jujur, kemandirian, dan bertanggung jawab. Diharapkan siswa dapat melakukan berbagai hal saat tanpa orang tua. Siswa dapat bertanggung jawab dalam merapikan barang milik pribadi. Diharapkan mereka juga dapat mengatur waktu agar bisa mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan. Retreat ini juga melatih siswa berinisiatif mengingatkan teman-temannya untuk mengikuti kegiatan yang sudah dirancang, serta menolong teman yang membutuhkan bantuan.

Yohanes 14:6 mengatakan, “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.” Ayat ini menjadi tema sekaligus pedoman bagi kita untuk menyadari dan meyakini bahwa hanya Yesuslah satu-satunya juru selamat yang ada. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat tidak hanya diucapkan melalui kata-kata, melainkan selalu mengandalkan Yesus dalam setiap kehidupan. Yesus selalu ada di awal, di tengah, dan di akhir karena Yesus selalu memimpin, membimbing, dan menyertai hidup kita. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus menjadikan Yesus sebagai satu-satunya juru selamat.

Kegiatan dan Sesi-Sesi dalam Retreat

Retreat kelas 5 SD diawali dengan ibadah pembuka yang mengajak setiap siswa memuji dan menyembah Tuhan. Siswa belajar mengenali gambar diri sebagai ciptaan yang istimewa melalui sesi “I am a Special Creation”. Mereka diminta menuliskan refleksi tentang gambar diri di malam api unggun. Kemudian, mereka juga belajar memahami kondisi manusia yang berdosa dan karya keselamatan Kristus dalam sesi “I am a Broken Vessel”. Di dalam sesi ini ada kegiatan membuat proyek menyatukan kembali bejana yang telah hancur bersama teman kelompok.

Pada sesi ke-3 “I am a Disciple of Christ”, siswa belajar menyadari kondisi yang diubahkan oleh Kristus. Selain itu siswa juga diajak untuk menerima panggilan sebagai murid Kristus. Di sesi ke-3 ini siswa mengikuti sebuah permainan yang melatih konsentrasi untuk hanya berfokus pada suatu perintah. Siswa juga membuat proyek dari lilin malam bersama dengan teman kelompok dengan tema “Creation”. Pada sesi yang terakhir yaitu KKR, siswa diajak untuk menyadari dan memercayai Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Siswa pun diminta menuliskan komitmen dalam diri sendiri terhadap kehidupannya dalam sesi “Jesus is The Only One”.

Kegiatan retreat ini sangat membantu setiap siswa untuk semakin belajar dan mengenal kasih Kristus. Bahkan mereka juga diajak untuk membagikannya melalui respons setiap siswa dalam mengikuti sesi-sesi yang ada. Salah satu bentuk kesadaran tersebut melalui antusiasme mereka dalam mengikuti beberapa permainan yang ada. Hanya dengan penyertaan Yesus-lah setiap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar.

Pojok Parenting: Trauma Seksual pada Anak Usia Dini

trauma seksual pada anak

Pentingnya Pendidikan Seks dan Penanganan Anak dengan Trauma Seksual

Sex education atau pendidikan seks kini menjadi kebutuhan penting, terutama dalam konteks penanganan anak dengan trauma seksual. Banyak pendidik, orang tua, bahkan konselor belum memiliki pemahaman yang memadai dalam menghadapi kasus berat seperti ini.

Dalam praktiknya, tidak sedikit yang kebingungan saat seorang anak datang dengan kisah yang memilukan tentang pelecehan atau kekerasan seksual yang dialaminya.

Seminar bertema “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3 membahas secara mendalam mengenai hal ini. Para fasilitator menjelaskan definisi, bentuk, serta langkah-langkah pendampingan terhadap anak korban trauma seksual.


Apa Itu Trauma Seksual pada Anak?

Trauma seksual pada anak merupakan interaksi yang melibatkan anak dengan orang dewasa atau anak lain, di mana korban digunakan sebagai stimulator seksual oleh pelaku.

Bentuk trauma seksual bisa beragam, tidak hanya berupa sentuhan fisik (rabaan), tetapi juga:

  • Voyeurism (melihat tubuh telanjang anak),
  • Exhibitionism (memperlihatkan alat kelamin kepada anak),
  • Menyuruh anak menonton atau melihat gambar porno.

Salah satu fasilitator, Nona Pooroe Utomo, menyebutkan fakta mengejutkan:

1 dari 4 anak perempuan dan 1 dari 6 anak laki-laki pernah mengalami trauma seksual sebelum usia 18 tahun.

Lebih ironis lagi, mayoritas kasus tidak pernah dilaporkan, karena pelaku sering kali adalah orang dekat atau orang kepercayaan keluarga. Data menunjukkan bahwa ¾ pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban, bahkan bisa jadi anggota keluarga sendiri.


Gejala Anak yang Mengalami Trauma Seksual

Setiap anak menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap trauma. Namun, beberapa tanda umum yang sering muncul antara lain:

  • Mimpi buruk atau sulit tidur,
  • Menarik diri dari lingkungan,
  • Mudah marah atau meledak,
  • Cemas atau depresi,
  • Takut ditinggal sendirian, terutama dengan orang tertentu,
  • Menunjukkan pengetahuan seksual yang tidak sesuai usia,
  • Menggunakan bahasa atau perilaku seksual yang tidak semestinya.

Mengenali gejala ini sangat penting agar anak mendapatkan penanganan dini sebelum dampak psikologisnya semakin berat.


Apakah Anak Bisa Pulih dari Trauma Seksual?

Pemulihan anak korban trauma seksual sangat bergantung pada karakter anak, dukungan keluarga, dan proses konseling yang dijalani.

  • Anak yang tangguh dengan dukungan emosional yang baik biasanya dapat pulih dan menjalani kehidupan normal.
  • Anak yang sensitif atau fragile membutuhkan waktu dan pendampingan berkelanjutan untuk memulihkan luka batin yang mendalam.
  • Anak yang tidak mendapatkan penanganan sama sekali berisiko mengalami gangguan psikologis di masa depan, bahkan berpotensi menjadi pelaku, mengalami orientasi seksual menyimpang, atau kecanduan pornografi.

Peran Sekolah dan Keluarga dalam Pemulihan Anak

Sekolah memiliki peran penting sebagai rumah kedua bagi anak. Melalui konselor sekolah, anak-anak yang pernah mengalami trauma bisa mendapatkan pendampingan psikologis dan emosional.

Kolaborasi antara guru, konselor, dan keluarga menjadi sistem pendukung utama dalam proses pemulihan. Namun, jika trauma yang dialami cukup berat, anak perlu dirujuk untuk konseling lanjutan dengan psikolog atau psikiater profesional agar penanganan lebih mendalam.


Langkah-Langkah Menangani Anak dengan Trauma Seksual

Menurut Julianto Simanjuntak, dalam seminar yang sama, ada beberapa langkah awal konseling yang dapat dilakukan oleh guru, konselor, atau pendamping ketika anak mulai membuka diri:

1. Memvalidasi dan Meneguhkan

Anak yang berani menceritakan kisah pelecehan yang dialaminya menunjukkan keberanian luar biasa. Tugas pendamping adalah memberi validasi dan penguatan, agar anak merasa keputusannya untuk berbagi adalah langkah yang benar.

2. Menunjukkan Empati

Guru atau konselor perlu menunjukkan empati tulus, bukan sekadar simpati. Anak harus merasa aman dan nyaman, serta mengetahui bahwa pendamping akan terus menemaninya selama proses pemulihan berlangsung.

3. Normalisasi Perasaan Anak

Ketika anak merasa malu, marah, atau hancur, pendamping perlu menjelaskan bahwa perasaan tersebut wajar dialami korban. Dengan demikian, anak bisa mulai menerima emosinya tanpa rasa bersalah.

4. Memberi Nasihat dengan Izin Anak

Setiap anak memiliki waktu berbeda dalam membuka diri terhadap saran. Hindari memaksakan nasihat.
Tanyakan terlebih dahulu apakah anak siap untuk mendengarkan masukan.
Jika sudah siap, bantu anak mempertimbangkan langkah selanjutnya, seperti:

  • Menceritakan kejadian kepada keluarga,
  • Mengikuti konseling intensif dengan psikolog atau psikiater.

Kesimpulan

Menangani anak korban trauma seksual membutuhkan pendekatan penuh empati, validasi, dan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional.

Pendidikan seks yang benar tidak hanya tentang mengenalkan anatomi tubuh, tetapi juga tentang membangun kesadaran perlindungan diri, batas tubuh, dan keberanian untuk berbicara ketika terjadi pelanggaran.

Setiap anak berhak mendapatkan lingkungan aman untuk tumbuh, bercerita, dan pulih dari luka yang pernah mereka alami.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3, dengan narasumber Nona Pooroe Utomo dan Julianto Simanjuntak. (dln)

Melangkah Dengan Iman

Oleh: Naomi Fransisca Halim, S.Th

“I am not quite sure—but I am going to trust, and I am going to obey”
Saya tidak begitu yakin—tetapi saya akan tetap percaya dan saya akan tetap taat.

Penggalan kalimat ini diucapkan oleh seorang pemuda yang hadir dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berlangsung di Brockton, Massachusetts. Ketika Daniel Towner seorang pemimpin pujian, mendengar kalimat ini ia menuliskannya dan mengirim tulisannya itu kepada seorang penulis syair, bernama J.H. Sammis. Dari kalimat itulah, Sammis menulis sebuah hymn yang kita kenal dengan judul “Trust and Obey (Percaya dan Taat).”

Melangkah dengan Iman

Perjalanan mengikut Tuhan adalah proses belajar mempercayai dan menaati Tuhan tiada henti. Hal ini dialami oleh Abraham, Bapa orang beriman. Dalam Kejadian 22: 2, Allah berfirman, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Dalam ayat ini, permintaan Allah kepada Abraham sangat jelas. Allah meminta anaknya yang tunggal, yang ia kasihi sebagai korban persembahan (terj. Bahasa Inggris “your son,” “your only son,” “Isaac,” “whom you love”). Padahal Allah berjanji bahwa keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut dengan keturunanmu (Ibr. 11:18).

Alkitab tidak mencatat perasaan Abraham pada saat itu. Alkitab melanjutkan kisah ini dengan memperlihatkan tindakan Abraham. Dengan hati yang taat, Abraham segera/keesokan harinya bangun, memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Kemudian berangkatlah Abraham ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Sungguh suatu teladan ketaatan yang luar biasa. Abaraham melangkah dengan iman. Ketaatan Abraham adalah ketaatan yang tidak masuk akal. Bagaimanakah mungkin seseorang dapat dengan segera memilih untuk taat kepada Allah ketika diminta untuk menyerahkan anaknya?

PENGALAMAN IMAN BERSAMA ALLAH DI MASA LAMPAU

Abraham memiliki sejarah hubungan yang kaya dengan Allah. Kisah Allah menguji Abraham di perikop ini bukanlah ujian pertama baginya. Ini adalah ujian terakhir dalam kehidupannya. Menurut tradisi Yahudi, Abraham mengalami sepuluh pencobaan termasuk kisah ini. Namun dalam pencobaan-pencobaan tersebut, tidak pernah ia mendapati Allah lalai menepati janji-Nya dan mengecewakan dirinya. Pengalaman imannya di masa lampau inilah yang membuat ia dapat mempersiapkan segala sesuatu, melayangkan pandangannya ke gunung Moria dan rela mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal (Ibr. 11:17).

Adakah pengalaman iman dalam hidup kita? Setiap orang percaya dapat memiliki pengalaman iman dengan Allah. Pengalaman ini dapat terjadi apabila kita mulai melangkah dengan hati yang taat berlandaskan Firman Tuhan. Mungkin sekarang Allah sedang berbicara kepada diri kita mengenai pekerjaan, mengenai uang, mengenai anak, atau sesuatu hal yang lain. Beranikan dirimu melangkah dengan hati yang penuh ketaatan. Sekalipun kelihatannya mustahil, beranikanlah diri untuk melangkah dalam hal apa pun yang diperintahkan-Nya, baik kepada kita sekeluarga maupun secara pribadi.

PENGENALAN YANG BENAR TERHADAP PRIBADI ALLAH

Setelah tiga hari perjalanan, Abraham meminta bujangnya untuk tinggal dan menunggu. Dalam ayat 5, Abraham berkata kepada dua bujangnya, “…kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu” (penekanannya pada kata “sesudah itu kami kembali kepadamu”).

Kepastian bahwa Ishak dan Abraham akan datang kembali dari sembahyang bukanlah sebuah ungkapan kosong. Ini adalah pengenalannya dan keyakinannya terhadap Pribadi Allah yang tidak mengingkari janji-Nya. Allah berjanji bahwa yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak (21:12). Walaupun, dalam perikop ini tidak dijelaskan mengapa Abraham berkata seperti itu, tetapi Ibrani 11:17-19 membantu para pembacanya memahami kata-katanya. Pada ayat 19 “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali ”.

Pengenalan yang benar terhadap Allah adalah salah satu hal penting dalam mengikut Yesus. Kita harus mengetahui siapa Dia agar iman yang kita miliki bukanlah iman yang melompat dalam gelap. Satu-satunya cara memiliki pengenalan yang benar adalah dengan membaca dan merenungkan firman-Nya setiap hari dan meminta Allah berbicara kepada kita secara pribadi. Dengan begitu, walaupun pencobaan menghampiri kita, kita akan dikuatkan oleh firman-Nya.

Penutup

Abraham, Bapa orang beriman, mengalami berbagai situasi yang jauh dari jangkauan logika manusia. Tetapi ia tidak bimbang karena ketidakpercayaannya, melainkan terus diperkuat dalam imannya dan tetap memuliakan Allah (Rm. 4:20). Demikian juga kita harus melatih diri kita agar memiliki pengalaman iman dan pengenalan yang benar terhadap Pribadi Allah. Yakinkanlah diri kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita yang mengasihi Dia. Ia menuntun kita untuk melangkah dengan iman.


Sekilas tentang Met Camp Kelas VII SMP Athalia 2019

Oleh: Loura Palyama, guru Agama Kristen SMP

Tentang Metamorphosis Camp

Metamorphosis Camp atau Met Camp adalah sebuah kegiatan karakter yang wajib diikuti oleh siswa-siswi kelas VII SMP Athalia. Berbagai aktivitas yang dilakukan dalam Met Camp ini ditujukan untuk mengingatkan dan meneguhkan kembali karakter yang telah dikembangkan di SD. Karakter tersebut adalah karakter tanggung jawab. Dalam kegiatan ini juga ditujukan untuk memperkenalkan profil Caring and Sharing dalam proses pembentukan karakter di SMP Athalia.

Aktivitas-aktivitas Seru dalam Met Camp

Kegiatan Met Camp dimulai dengan permainan kelompok di luar ruangan. Games yang dipersiapkan bukan hanya berfokus pada aktivitas yang seru dan menyenangkan. Namun lebih dari itu, games ini memiliki makna yang dapat dipelajari oleh peserta camp. Adapun hal-hal yang dipelajari di antaranya: karakter inisiatif, tepat waktu, pengendalian diri, rajin dan kerja sama. Kesan yang sempat didengar dari peserta adalah adanya momen yang tak terlupakan, yaitu ketika peserta camp diberikan sebuah aturan. Aturannya yaitu saat haus hanya boleh minum air mineral sedangkan minuman yang disediakan di samping air mineral adalah es mambo. Ternyata, ada peserta camp yang cukup tergoda dengan es mambo nyaris tidak dapat mengendalikan diri. Di tengah kelelahan setelah beraktivitas dan udara panas di siang hari, permainan ini merupakan sebuah contoh proses belajar mengendalikan diri.


Kegiatan Met Camp lainnya adalah role play. Pada kegiatan ini panitia telah mempersiapkan beberapa orang yang melibatkan guru, siswa kelas 9, maupun petugas cleaning service. Mereka bertugas memerankan berbagai keadaan yang mengajak siswa untuk peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka secara langsung. Kejadian rekaan telah direkam sebelumnya kemudian ditampilkan lalu didiskusikan secara bersama-sama dengan suasana yang ringan dan fun. Melalui cara ini dimaksudkan agar peserta mudah memahami maksud dan tujuan dari sesi ini dan dapat mengambil sikap yang tepat. Caring and Sharing dimulai dari tanggung jawab terhadap diri sendiri yang dilanjutkan dengan tanggung jawab kepada sesama dan lingkungan.


Ada juga sesi tanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Dalam sesi ini, peserta diajarkan untuk berbelanja dan memasak sendiri makanan untuk makan malam mereka. Para peserta berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan menu makanan mereka serta memilih beberapa orang untuk berbelanja kebutuhan untuk memasak.

Hal-hal yang juga Dipelajari dalam Met Camp

Ada banyak hal yang mereka pelajari dari kegiatan ini, salah satunya mengenai jenis sayuran. Ada hal lucu ketika peserta camp pergi berbelanja. Ternyata banyak yang tidak tahu bentuk dari bumbu masak yang akan mereka beli. Oleh karenanya, hal ini berakibat mereka salah membeli bumbu yang diperlukan untuk memasak. Peserta camp diwajibkan memasak dan makan sayur. Mereka pun didorong untuk saling menolong satu dengan yang lain agar masakan mereka matang dan memiliki rasa yang enak. Mereka juga diajarkan untuk bertanggung jawab dengan dana yang diberikan.


Kegiatan lainnya adalah pembekalan sex education oleh Ibu Charlotte Priatna dan Bapak Martin Manurung. Kegiatan ini diadakan terkait dengan semakin bertumbuhnya mereka menjadi remaja. Beberapa konselor dari SD dan SMA serta beberapa staf PK3 pun terlibat sebagai fasilitator.


Di hari kedua, peserta camp belajar mengenai proses metamophosis yang tidak mudah dan membutuhkan usaha. Sudah saatnya mereka tidak hanya bertanggung jawab pada diri sendiri melainkan juga Caring and Sharing pada sesama.


Melalui Metamorphosis Camp banyak peserta yang mengaku menikmati dan belajar banyak dari kegiatan camp ini. Metamophosis Camp menjadi bermakna walaupun dibungkus dengan aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Sungguh bersyukur untuk pelaksanaan camp yang berjalan dengan baik. Kiranya setelah Met Camp ini, siswa-siswi mau terus diproses dan belajar untuk lebih bertanggung jawab. Bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri dan peka terhadap lingkungan serta orang lain.

Hari Kunjung Perpustakaan

Bulan September sangat spesial buat perpustakaan, bagaimana tidak? Ada dua momen yang spesial di bulan ini, yaitu “Bulan Gemar Membaca” dan “Hari Kunjung Perpustakaan”. Dua momen tersebut penting untuk mendongkrak minat baca pengajar, staf, dan siswa Sekolah Athalia.

Untuk memperingati hari spesial tersebut, khususnya “Hari Kunjung Perpustakaan” pada tanggal 14 September, Perpustakaan Sekolah Athalia mengadakan games yang bisa diikuti oleh pengajar, staf, siswa, office boys & girls dan juga pengajar yang sedang mengadakan studi banding ke Sekolah Athalia. Games ini adalah mencari harta karun yang ada di perpustakaan dengan menjawab pertanyaan yang sudah disediakan Pustakawan. Selain itu games ini juga mewajibkan pengunjung perpustakaan untuk meneliti sebuah gambar dan mencari kesalahan pada gambar tersebut. Antusias pengunjung perpustakaan luar biasa untuk mencari harta karun tersebut, karena ada hadiah menarik yang sudah menanti.

Pustakawan menyediakan 25 buah buku fiksi dan nonfiksi, 42 buah topi keren, 20 buah poster dan 2 buah tas. Selain itu setiap pengunjung perpustakaan akan mendapatkan makanan ringan dan juga pembatas buku. Semua hadiah dan makanan ringan yang disediakan sudah habis tidak bersisa :).

Semoga minat baca pengajar, staf, dan siswa tetap terpelihara, semakin antusias ke perpustakaan dan semakin banyak pengunjung Perpustakaan.

(Dihimpun oleh: Hana Kristina Purba, koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia)

hari kunjung perpushari kunjung perpushari kunjung perpushari kunjung perpus

Baca juga: Hari Kunjung Perpustakaan