Hari Kunjung Perpustakaan

Oleh: Hana Kristina Purba, M.A, Koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia.

Tahukah kamu?

Tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan dan hari gemar membaca. Jadi Bulan September menjadi bulan yang istimewa untuk perpustakaan.
Kegiatan ini adalah sebagai wujud komitmen pemerintah beserta masyarakat Indonesia untuk menggerakkan produktivitas masyarakat, mengembangkan kemampuannya, serta salah satu upaya dalam merealisasikan cita-cita bangsa. Oleh karena itu, perpustakaan Sekolah Athalia juga mendukung komitmen tersebut dengan mengadakan berbagai kegiatan positif untuk meningkatkan kecintaan kepada perpustakaan terlebih lagi untuk meningkatkan minat baca anggota perpustakaan. Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat penting untuk terus dilaksanakan setiap tahunnya.

Fakta menarik seputar perpustakaan Sekolah Athalia:

Sekolah Athalia mempunyai dua jenis perpustakaan:

  • Perpustakaan anak (bagi siswa TK dan SD) dengan jumlah koleksi sebanyak 11.272
  • Perpustakaan SMP dan SMA dengan jumlah koleksi sebanyak 17.438.

Ada jadwal kunjungan rutin setiap harinya secara bergiliran mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI di perpustakaan anak.

Pada perpustakaan SMP dan SMA sudah dilengkapi dengan aplikasi pencarian buku secara on-line bernama OPAC sehingga pengunjung lebih mudah menemukan pilihan bukunya.

Nama Pustakawan:
– Ibu Diana (perpustakaan anak)
– Ibu Mega ( perpustakaan SMP)
– Ibu Gusti.(perpustakaan SMA)


Prestasi: akreditasi A untuk perpustakaan SMA

Apa saja yang dilakukan dalam kegiatan ini?

  1. Menuliskan kesan dan harapan untuk perpustakaan Sekolah Athalia pada sebuah
    kertas, lalu kertas tersebut ditempelkan pada samping rak-rak buku.
  2. Mengikuti kuis berhadiah tentang serba-serbi perpustakaan
  3. Kegiatan “membaca bersuara” (read aloud) di perpustakaan anak.
  4. Apresiasi bagi pengunjung teraktif dalam berkunjung dan meminjam buku.
  5. Disediakan makanan ringan bagi semua pengunjung.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan!
Mari gemar membaca….

hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan

Profil Siswa SMA Athalia Peraih Juara 1 Atletik Lompat Jauh Putra KOSN 2022

Oleh: Chandria Wening Krisnanda – konselor bina karir

Pada tanggal 28 Maret 2022 menjadi hari yang paling berkesan bagi Jason Sander. Untuk pertama kalinya dia berasil mendapatkan juara 1 Atletik Lompat Jauh Putra tingkat SMA yang diadakan oleh pemerintah kota Tangerang Selatan. KOSN singkatan dari Kompetisi Olahraga Siswa Nasional, yang setiap tahunnya menggelar kompetisi olahraga mulai dari level SD, SMP, dan SMA. KOSN tahun ini diadakan di SMAN 2 kota Tangerang Selatan.

Semua ini berawal saat Jason mendapatkan informasi dari temannya bahwa ada komunitas olahraga atletik yaitu, lari, lempar, dan lompat. Namun sejak setahun yang lalu Jason lebih tertarik pada lompat jauh. Keberhasilan sebagai peraih juara 1 Atletik Lompat jauh ini tidak mudah untuk diraih begitu saja. Jason harus mengikuti proses latihan kekuatan fisik yang teratur dan terjadwal hampir setiap hari dalam seminggu. Orang tua, teman, pelatih komunitas atletik, dan guru olahraga di SMA Athalia, sebuah sekolah di BSD, Serpong, mendukung Jason untuk terus berlatih meningkatkan performa lompat jauh.

Saat di sekolah, penampilan siswa kelas XI MIPA 1 yang juga hobi bermain basket ini begitu sederhana dan rendah hati. Namun, saat berada di lapangan, Jason begitu gesit dan lincah. Jason juga mengagumi sosok atlet profesional yaitu, Mike Powell, seorang atlet pemegang rekor dunia untuk lompat jauh.

Kedepannya Jason berharap dia dapat terus menekuni cabang olahraga atletik lompat jauh ini. Mari kita dukung dalam doa sehingga anugerah Tuhan terus tercurah bagi Jason Sander. Leap higher for the glory of God, Jason!

PIT (Parents in Touch)

PIT (Parents in Touch)

Syukur kepada Tuhan atas penyertaan dan pertolongan-Nya bagi komunitas Athalia. Anugerah demi anugerah semata yang kita rasakan, sehingga kita mampu bertahan sampai saat ini.

Selama dua tahun masa pandemi yang berdampak besar di semua bidang kehidupan, baik itu ekonomi maupun pendidikan. Baik siswa maupun orang tua mengalami pergumulan yang tidak mudah.

Memasuki tahun ketiga pandemi Covid-19 ekonomi mulai bangkit dan dunia pendidikan pun memulai pembelajaran tatap muka 100%. Ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan untuk menuju pemulihan.

Mewaspadai Paham-Paham yang Mengancam Iman

Saat ini kita menghadapi situasi dunia yang terus berubah dengan cepat dan tidak menentu. Selain itu juga makin marak paham-paham dunia yang tidak sejalan dengan wawasan dunia Kristen yang mengancam putra-putri kita. Sekolah Athalia, sebuah sekolah yang berlokasi di Serpong ini, menyadari betapa pentingnya membentengi putra-putri kita, supaya visi dan misi Athalia bisa tercapai. Visi Athalia yaitu “Menjadikan Siswa Murid Tuhan” dan misi Athalia “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan bagi-Nya”.

Sekolah dan orang tua perlu bersinergi membentengi mereka demi tercapainya visi dan misi Athalia. Bersyukur kita memiliki Allah yang tidak terbatas yang mampu menjaga putra-putri kita dan komunitas Athalia. Kita perlu bergantung penuh kepada Allah yang tidak terbatas itu di dalam doa, karena kita penuh keterbatasan. Oleh karena itu, Sekolah Athalia memiliki wadah untuk pihak sekolah dan orang tua bisa saling bersinergi, yaitu Parents in Touch (PIT).

Parents In Touch

Melalui PIT sekolah dan orang tua bersatu hati berdoa bagi para siswa dan komunitas Athalia. Di dalam PIT doa-doa dinaikkan berdasarkan pada atribut-atribut Allah, sehingga kita memiliki dasar yang kuat di dalam berdoa. Diharapkan pula para siswa mengenal dan memiliki karakter Allah. PIT juga merupakan salah satu support system di mana orang tua dapat saling berbagi dan mendoakan, sehingga mereka tidak bergumul sendirian.

PIT di tapel 2022/2023 akan dilakukan 100% tatap muka di aula E setiap Rabu pukul 07:30 WIB. Kami mengajak para orang tua untuk bergabung di dalam PIT sebagai bentuk kebergantungan kita kepada Tuhan yang Mahakuasa untuk membentengi putra-putri kita. Kita pun bisa menjadi saksi-saksi Tuhan bagaimana Tuhan berkarya melalui hidup kita di komunitas Athalia, sehingga sesuai dengan arti nama Athalia yaitu Allah ditinggikan.

Melalui PIT, komunitas Athalia juga bisa belajar saling melayani dan berbagi sebagaimana mestinya anggota tubuh Kristus untuk saling membangun dan menopang satu dengan yang lain. Jangan lewatkan PIT ini dan biarlah melalui PIT kita menjadi alat kemuliaan bagi Tuhan di komunitas Athalia.

Tuhan Yesus memberkati.

PERUBAHAN dan PERTUMBUHAN

Tema Tapel 2022/2023

Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.

                Terlebih memasuki tapel 2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema “Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.

Bertahan di Tengah Perubahan

                Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?

Hidup dan Melayani Secara Ilahi

                Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?

Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:

Pancang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga, sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan. Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).

Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:

  • Manusia
    seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.

Pegang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Setelah komunitas memiliki fokus yang sama, yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan, karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.

Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa, perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.

Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.

Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.

Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Setelah mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap pribadi dan komunitas.

Pembelajaran Karakter di Sekolah Athalia Tapel 2022-2023

Oleh: Ni Putu Mustika Dewi – staff pengembangan karakter Sekolah Athalia

Visi Sekolah Athalia dan Identitas Murid Kristus

Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong, didirikan dengan sebuah visi “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan”. Sesungguhnya visi ini bukan hanya ditujukan bagi siswa melainkan juga bagi seluruh anggota komunitas (orang tua, guru, staf, dan yayasan). Sebagaimana orang dapat saling mengenal melalui identitas atau karakteristik tertentu, demikian halnya dengan diri kita sebagai murid Tuhan. Dalam Yohanes 13:35, Tuhan Yesus memaparkan bahwa semua orang akan tahu bahwa kita adalah murid Tuhan, kalau kita saling mengasihi. Dengan demikian, KASIH menjadi identitas hidup murid-murid-Nya.

Makna Kasih Menurut Ajaran Kristus Vs Ajaran Dunia

Namun, kasih yang Kristus ajarkan sangat berbeda dengan kasih yang diajarkan oleh dunia ini. Berikut contoh kasih yang biasa kita temui, orang tua yang membesarkan anaknya dengan harapan nantinya sang anak bisa membalas budi. Seorang yang taat beribadah dan melakukan aturan-aturan agama memiliki tujuan mendapat berkat atau pahala. Seorang yang dengan murah hati memberi apa yang dimiliki kepada orang lain, didasarkan pada motif untuk mendapat kedamaian di hati. Masih banyak contoh lainnya yang membuktikan bahwa kasih manusia kepada sesama bahkan kepada Tuhan tidaklah tulus dan masih mengharapkan imbalan.

Lain halnya dengan kasih yang ditunjukkan dan diajarkan oleh Allah. Kasih ini adalah kasih tanpa pamrih dan tanpa syarat. Kasih yang sudah dibuktikan secara nyata di atas kayu salib, pada saat Ia menyerahkan diri-Nya untuk menebus hidup kita. Saat itu kita bukanlah yang baik dan layak untuk dikasihi tetapi Tuhan Yesus mau mengorbankan diri-Nya bagi kita (Roma 5:8). Akibat dari karya penebusan yang diberikan-Nya, orang-orang pilihan-Nya dimampukan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Jadi, ada perbedaan besar antara kasih yang dilakukan oleh murid-murid Tuhan dengan yang bukan, yaitu pada motif atau alasan. Murid-murid Tuhan saling mengasihi didasarkan pada motif karena Kristus terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi kasih merupakan bentuk respons kita terhadap kasih Allah yang besar itu. Bukan didasarkan pada motif supaya mendapat imbalan, berkat, atau supaya hidup damai dan bahagia.

Ciri Murid Tuhan

Selain kasih, ciri lain dari seorang murid Tuhan adalah hidup semakin serupa dengan-Nya yang ditampilkan melalui kualitas-kualitas karakter ilahi. Setiap pola pikir, sikap dan tindakan kita diarahkan atau ditujukan pada keserupaan dengan Kristus. Semakin hari kualitas-kualitas karakter Kristus semakin nyata terlihat melalui hidup kita.

Berdasarkan pemaparan di atas, kita menyadari bahwa hidup menjadi seorang murid Tuhan bukanlah perkara yang mudah. Kita sangat membutuhkan pertolongan dari Allah Roh Kudus untuk memampukan, mengingatkan, menegur dan menuntun kita pada kebenaran. Layaknya dua sisi koin mata uang, selain ketergantungan akan pertolongan dari Allah Roh Kudus, kita juga harus berupaya dalam mendisiplinkan diri. Kita harus bersedia hidup taat pada kehendak-Nya. Jika kita tidak mau mendengarkan dan lebih memilih untuk mengikuti kedagingan, maka besar kemungkinan kita akan jatuh dalam dosa dan sulit untuk bertumbuh semakin serupa Kristus. Hal ini sependapat dengan Jerry Bridges, “Sebagaimana pesawat mustahil terbang dengan satu sayap, demikianlah kita pun mustahil berhasil mengejar kekudusan dengan bergantung saja atau disiplin saja. Kita mutlak harus memiliki keduanya.” (Disiplin Anugerah, hal.144)

Upaya Sekolah Athalia dalam Mendidik Siswa Menjadi Murid Tuhan

Oleh sebab itu, ada sebuah upaya nyata yang dilakukan oleh Sekolah Athalia dalam mendidik siswa menjadi murid Tuhan. Cara nyata tersebut yaitu dengan dirancangnya sebuah kurikulum pembelajaran karakter yang berkesinambungan dari TK hingga SMA.

Bagi siswa yang berada pada masa kanak-kanak (usia 3-8 tahun) sampai pra-remaja (usia 8-12 tahun), diupayakan pembentukan pribadi yang kokoh (Steadfast Person). Pribadi yang mampu berpikir, memilih, dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang benar. Selain itu, siswa juga didorong/dilatih untuk bertumbuh menjadi pengikut yang baik (Followership). Khusus bagi siswa TK tahapan yang akan diajarkan dalam kelas adalah pertumbuhan dalam karakter dasar (Growing). Sedangkan bagi siswa SD difokuskan pada pembentukan karakternya (Shaping). Bagi siswa yang berada pada masa remaja (13-18 tahun) diupayakan pengembangan lebih lanjut untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki prinsip melayani (Servant Leader). Dengan berbagai karakter yang dibudayakan sampai kelas 6 SD, diharapkan sifat kepemimpinan (Leadership) akan relatif mudah ditanamkan dan dibentuk dalam pribadi siswa. Khusus bagi siswa SMP tahapan dalam proses pembelajaran mereka adalah peduli dan berbagi (Caring & Sharing). Selanjutnya, pada masa SMA siswa didorong untuk berkontribusi atau memiliki dampak positif (Influencing & Contributing).

Wujud Nyata Pembelajaran Karakter

Secara khusus pada tahun pelajaran 2022-2023 ini, kurikulum karakter diwujudkan dalam berbagai kegiatan dan proses pembelajaran karakter baik di dalam maupun luar kelas. Salah satunya adalah disediakan sebuah ruang perjumpaan antara guru (Wali Kelas dan Pendamping Wali Kelas) bersama dengan siswa yang diberi nama “kelas Shepherding”. Kelas ini dirancang khusus untuk memperkenalkan dan membudayakan karakter ilahi. Adapun strategi yang digunakan dalam kelas ini agar pembelajaran karakter tidak berujung hanya pada ranah kognitif semata adalah dengan adanya sharing life guru (WK dan PWK) sebagai gembala serta sharing life siswa sebagai pribadi yang digembalakan. Kiranya melalui sharing life yang akan dibagikan itu baik guru maupun siswa dapat memaknai bahwa perjalanan menjadi murid Tuhan, yang berujung pada keserupaan dengan Kristus adalah perjalanan yang dilalui bersama. Meski prosesnya panjang dan tidak mudah, guru dan siswa dapat saling mengingatkan bahwa ada kasih Tuhan yang menyelamatkan dan yang menjadi dasar dari segala tindakan.

Sumber:

Bridges, J. 2009. Disiplin Anugerah: Peran Allah dan Peran Kita dalam Mengejar Kekudusan. Bandung: Pionir Jaya.

Badudu, R, dkk. 2021 (Versi 1). Manual Kurikulum Karakter Sekolah Athalia. Jakarta.

Baca Juga: SHEPHERDING TIME, Melihat dan meniru cara Yesus mengajar (Markus 4:1, 33-34)

Apa yang Berkesan pada Acara Wisuda Sekolah PINUS Tahun Ini?

Oleh: Nita Tri Yuliana – Kepala PAUD dan SD PINUS

Wisuda Tahun Ini

Pada Jumat, 10 Juni 2022 merupakan hari bersejarah bagi seluruh siswa Kelas VI SD PINUS, sebuah sekolah di Serpong. Di mana pada hari tersebut mereka secara resmi dinyatakan lulus jenjang pendidikan SD. Sehari setelah acara tersebut, PAUD PINUS pun mengadakan acara wisuda pada hari Sabtu, 11 Juni 2022. Yuk, kita simak hal yang berkesan pada acara wisuda PAUD dan SD PINUS tahun ini.

PINUS Sebagai Sebuah Oase

Kehadiran PINUS di tengah-tengah komunitas Sekolah Athalia sungguh menjadi oase bagi masyarakat sekitar. Hal ini terbukti dengan dukungan mereka pada sekolah PINUS dengan tetap melanjutkan pendidikan untuk jenjang selanjutnya tetap di sekolah PINUS. Pada tahun pelajaran 2021-2022 SD PINUS berhasil meluluskan 16 siswa, sedangkan PAUD PINUS meluluskan 19 siswa. Sekitar 84% lulusan PAUD PINUS melanjutkan ke SD PINUS dan sekitar 75% lulusan SD PINUS melanjutkan ke PKBM PINUS.

Wisuda yang Mengesankan

Alasan kenapa acara wisuda PAUD dan SD PINUS tahun ini sangat mengesankan? Tahun ini acara wisuda atau kelulusan diadakan secara on site setelah dua hanya dengan menatap layar laptop atau gawai saja. Siswa juga bersemangat saat menghadiri acara ini. Persiapan yang dilakukan oleh siswa begitu maksimal. Dengan antusias mereka berlatih prosesi wisuda dalam waktu singkat meskipun dengan keterbatasan mobilitas karena masih dalam masa pandemi.

Selain sukacita ada juga haru yang terasa pada acara wisuda tahun ini, yaitu ada siswa yang tidak didampingi oleh sosok seorang ayah yang sudah meninggal dunia. Momen mengharukan juga terjadi saat siswa mengungkapkan rasa kasih terhadap orang tua mereka yang telah mendampingi mereka selama ini. Tangis bahagia menyeruak di antara siswa, orang tua, bahkan juga beberapa guru. Begitu juga saat orang tua mempersembahkan lagu untuk anak-anak mereka sebagai tanda kasih mereka terhadap putra-putrinya, air mata kembali terlihat membasahi mata mereka.

Acara Wisuda Sebagai Ucapan Syukur

Sebagai kepala sekolah, saya melihat acara wisuda bukan sekedar sukacita dan kegembiraan karena para siswa sudah berhasil melewati jenjang pendidikan di level masing-masing, tetapi lebih kepada ucapan syukur atas keberhasilan yang telah mereka raih dengan pertolongan Tuhan.

Harapan saya semoga pandemi segera berakhir, sehingga di tahun-tahun mendatang acara wisuda dapat dilakukan terus secara on site. Para siswa dan orang tua dapat mengekspresikan rasa syukur mereka dengan leluasa dan tidak hanya sebatas layar laptop.

Baca Juga: First Day School SD PINUS

Allah yang Mahatahu dan Mengetahui Rahasia Hati Kita (Mazmur 44:21)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan (orang tua siswa)

Firman Tuhan: Allah Mengetahui Rahasia Hati Kita

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”
Mazmur 44:21

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahatahu. Ia mengenal setiap ciptaan-Nya secara mendalam — sejak sebelum kita lahir, Ia sudah mengetahui tujuan hidup dan perjalanan kita.
Sifat Allah yang Mahatahu bukan hanya tentang pengetahuan tanpa batas, tetapi juga tentang pemahaman yang penuh kasih terhadap apa yang terbaik bagi kita, bahkan ketika cara-Nya tidak sesuai dengan rencana atau keinginan kita.


Kesaksian Pribadi

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk memimpin PIT (Parents in Touch), yaitu persekutuan doa bersama orang tua dan staf/pendidik di Sekolah Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong.
Namun, situasi saya saat itu cukup menantang. Saya tidak memiliki asisten rumah tangga, dan ketiga anak saya masih kecil — dua di antaranya mengikuti sekolah online, sementara si bungsu baru berusia empat tahun.

Saya pun berdiskusi dengan koordinator PIT dan menjelaskan kemungkinan akan terlambat datang karena harus menemani anak-anak, serta rencana membawa si bungsu saat kegiatan onsite berlangsung dan memohon maaf karena merasa tidak bisa melayani secara maksimal.

Selama minggu-minggu persiapan, saya terus berdoa:

“Tuhan, Engkau tahu isi hati saya. Saya mau melayani, tetapi kalau saat ini belum waktunya, saya akan menerimanya. Namun jika Engkau izinkan, tolong supaya anak saya bisa tenang ketika saya melayani, agar pelayanan tidak terganggu.”

Sempat terlintas untuk mengundurkan diri. Namun ternyata, cara Tuhan bekerja sungguh luar biasa dan di luar dugaan manusia.
Beberapa hari sebelum acara, angka positif COVID-19 kembali meningkat, dan akhirnya PIT diadakan secara online.
Dengan begitu, saya tetap bisa melayani dari rumah sambil menjaga anak-anak.

Saya tidak bersukacita karena pandemi, tetapi saya bersyukur karena Tuhan mengenal pergumulan saya dan memberikan solusi terbaik. Allah sungguh Mahatahu dan penuh kasih terhadap umat-Nya.


Belajar Jujur di Hadapan Allah yang Mahatahu

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu terbuka dan jujur di hadapan Tuhan.
Sering kali kita berkata, “I’m okay,” di hadapan orang lain, padahal hati kita sedang tidak baik-baik saja. Namun, Tuhan tahu segalanya, bahkan hal-hal yang kita sembunyikan dari orang lain.

Mazmur 44:21 kembali mengingatkan:

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”

Karena itu, marilah kita belajar seperti pemazmur — jujur dalam setiap keadaan, baik ketika bersukacita maupun ketika merasa lemah, kehilangan, atau khawatir.
Kita boleh datang kepada Tuhan dengan doa yang sederhana namun tulus:

“Tuhan, tolong saya yang lemah ini agar tidak tenggelam dalam perasaan-perasaan ini. Ajari saya untuk kembali memandang-Mu dan percaya penuh pada rencana-Mu.”


Kesimpulan: Allah Tahu yang Terbaik bagi Kita

Allah yang Mahatahu selalu mengetahui isi hati dan kebutuhan kita yang terdalam.
Ia tidak hanya menyelidiki hati, tetapi juga memahami dan menyediakan yang terbaik bagi setiap anak-Nya — sesuai kehendak-Nya, bukan keinginan kita.

Kiranya melalui renungan ini, kita semakin percaya bahwa Tuhan mengenal dan memelihara hidup kita sepenuhnya.
Jujurlah di hadapan-Nya, karena tidak ada yang tersembunyi bagi Allah yang mengetahui rahasia hati manusia.

Mendidik Anak dengan Cara Allah

Mendidik Anak dengan Cara Allah

Oleh: Chandria Wening Krisnanda (Konselor Bina Karir Sekolah Athalia)

Perjalanan Gary dan Anne Marie Ezzo, pasangan suami istri penggagas kelas parenting GKGW (Growing Kids God’s Way), dimulai pada tahun 1984. Mereka terpanggil untuk berbagi prinsip praktis dalam mendidik anak yang berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Pelayanan mereka dimulai dari enam pasangan suami istri di Los Angeles melalui kelas “Membesarkan Anak dengan Cara Allah” atau “Growing Kids God’s Way”. Kini, konsep GKGW telah tersebar luas dan menjadi berkat bagi banyak keluarga, termasuk Komunitas Sekolah Athalia.


Tujuan Utama Kelas Parenting GKGW

1. Membentuk Anak untuk Memuliakan Tuhan, Bukan Manusia

Banyak orang tua tanpa sadar memosisikan anak sebagai objek tanpa hak, menuntut penghormatan berlebihan dengan alasan pendisiplinan. Padahal, segala hormat dan kemuliaan sejatinya hanya milik Tuhan.
Kelas parenting GKGW mengingatkan bahwa mendidik anak bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi untuk kemuliaan Allah.


2. Memberikan Petunjuk Praktis Berdasarkan Prinsip Alkitabiah

Setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam mendidik anak. Namun, Gary dan Anne Marie Ezzo menyusun silabus terintegrasi berdasarkan karakter iman Kristen agar setiap prinsip pengasuhan memiliki makna rohani dan tidak menjadi kesia-siaan di hadapan Allah Bapa.


3. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Orang Tua

Apakah Anda pernah merasa ragu saat mendisiplin anak atau gelisah melihat anak menangis? Banyak orang tua mengalami hal serupa.
Kelas GKGW hadir untuk meneguhkan orang tua agar memiliki keyakinan dalam menjalankan perannya. Rasa percaya diri ini bersumber dari Firman Tuhan yang menyatakan kebenaran serta penerapan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kepercayaan diri yang kokoh, orang tua dapat mengembangkan kemampuan mendidik anak dengan lebih berkualitas.


4. Menolong Orang Tua Melihat Masa Remaja dengan Pandangan Positif

“Anakku sudah ABG dan mulai sulit diatur…” — keluhan seperti ini sering terdengar di kalangan orang tua.

Gary dan Anne Marie Ezzo mengajarkan bahwa masa remaja bukanlah masa yang menakutkan. Justru, dengan berpegang pada standar Tuhan, mendidik anak remaja dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membangun hubungan yang lebih erat.


5. Menjangkau Hati dan Pikiran Generasi yang Akan Datang

Menurut Gary dan Anne Marie Ezzo, dibutuhkan dua generasi untuk melihat dampak nyata dari perubahan cara pikir. Mereka rindu agar para orang tua memiliki pola pikir yang alkitabiah sehingga dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Perubahan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir orang tua, yang kemudian menjangkau anak-anak dan cucu mereka.


Dampak Kelas Parenting GKGW di Komunitas Sekolah Athalia

Lima tujuan tersebut menjadi dasar bagi Sekolah Athalia untuk menyelenggarakan kelas parenting GKGW beberapa tahun lalu. Banyak pasangan merasa terberkati dan mengalami perubahan dalam keluarga mereka.


Testimoni Peserta Kelas GKGW

Beryl & Anita

Kami mengikuti GKGW karena ingin mendidik anak dengan benar. Banyak prinsip baru yang kami pelajari di setiap pertemuan. Kini, kami memiliki relasi yang lebih hangat dengan anak remaja kami berkat penerapan nilai-nilai GKGW.
Kami berharap kelas ini dapat memberkati keluarga besar kami agar pola asuh yang benar dapat diterapkan secara lebih luas.

Djulia

Saat saya dan suami memutuskan untuk taat menerapkan ajaran GKGW, kami melihat perubahan nyata dalam relasi keluarga. Prosesnya memang panjang, bahkan hingga anak-anak dewasa kami tetap menerapkannya.
Harapan kami, kelak anak-anak kami juga mau belajar GKGW ketika mereka sudah berkeluarga.


Melanjutkan Tongkat Estafet Pengasuhan Kristen

Semoga Komunitas Sekolah Athalia terus melanjutkan tongkat estafet dari Gary dan Anne Marie Ezzo untuk melahirkan generasi masa depan yang benar sejak awal, yang hidup sesuai dengan Firman Tuhan.


Sumber

Ezzo, G., & Ezzo, A.M. (2001). Let The Children Come-Along The Virtuous Way: Membesarkan Anak dengan Cara Allah. Bogor: Yayasan Bina Keluarga Indonesia..

ICON Camp SMA Athalia 2022

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia

Pendidikan Karakter di Sekolah Athalia

Pendidikan karakter di Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong, telah dimulai sejak dini. Siswa dibentuk untuk menjadi pribadi yang bersukacita, bertanggung jawab atas kewajibannya, serta peduli dengan sekitar. Semua itu bertujuan mempersiapkan siswa agar dapat memberi dampak dan berkontribusi secara lebih luas bagi masyarakat. Apalagi sebentar lagi mereka juga akan memasuki dunia perguruan tinggi. Oleh sebab itu, profil karakter siswa SMA Athalia adalah Influencing and Contributing.

Kamp Karakter di SMA Athalia

ICON Camp (Influencing and Contributing Camp) menjadi salah satu sarana pembentukan karakter siswa SMA Athalia. Acara ini diadakan secara khusus di kelas 11. Melalui kamp ini, siswa diingatkan kembali mengenai karakter yang mereka pelajari selama di jenjang SMA. Mereka diberi ruang untuk mengevaluasi diri sudah sejauh mana belajar dan menghidupi karakter-karakter yang dibinakan. Juga untuk mengembangkan karakter-karakter tersebut di masa mendatang dengan lebih baik.

Tema ICON Camp Tahun Ini

ICON Camp SMA Athalia tahun ini mengangkat tema “Be You Till Full”. Para guru mencermati, pembelajaran di masa pandemi memang dilakukan secara terbatas. Namun, di sisi lain siswa memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya. Bukankah hal ini dapat menjadi kesempatan untuk mendorong siswa memaksimalkan minat dan bakatnya untuk berdampak dan berkontribusi secara lebih luas?

Sebelum pelaksanaan ICON Camp, siswa menjalani tes psikologi untuk mengenal bakat dan minatnya. Setelah itu mereka dibagi ke dalam kelompok dengan anggota yang memiliki kecerdasan berbeda-beda. Mereka diminta untuk merancang sebuah proyek ICON yang akan disayembarakan pada hari H. Di sini, setiap siswa belajar untuk bekerja sama dan mengambil bagian dalam melakukan proyek ICON.

Acara ICON Camp

Ketika hari ICON Camp tiba, siswa mengikuti acara selama dua hari. Di hari pertama mereka dipandu untuk mengenal diri. Selain itu juga memaksimalkan kelebihan untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui materi, permainan, dan diskusi. Di hari kedua, siswa diberi kesempatan untuk mendengarkan pemaparan dari beberapa narasumber. Para narasumber ini adalah mereka yang sudah menunjukkan influencing and contributing dalam hidupnya. Contohnya seperti mendirikan rumah baca di daerah terpencil serta membuka usaha pengolahan sampah.

Kisah ICON dari para narasumber ditutup dengan presentasi siswa mengenai proyek ICON yang sudah mereka rancang. Dari lima belas kelompok, terpilih tiga kelompok dengan rancangan proyek terbaik.

Proyek-proyek terbaik:

  • Pertama adalah Thrift It, yaitu penjualan baju bekas layak pakai ataupun baju-baju sisa ekspor sebagai salah satu cara mencari dana. Nnantinya dana yang terkumpul didonasikan kepada orang yang membutuhkan.
  • Kedua adalah Ecomplex, yaitu pengolahan sampah dapur (sisa kulit buah dan sayuran busuk). Sampah organik ini diolah menjadi produk daur ulang berupa pupuk cair.
  • Ketiga, Maskerin (masker kain), merupakan proyek mengampanyekan gerakan memakai masker kain daripada masker sekali pakai.

Harapan untuk Peserta ICON Camp

Kiranya melalui proyek-proyek yang akan direalisasikan ini, siswa dapat berlatih untuk merencanakan, mengelola, serta memperjuangkan sesuatu yang dapat membawa pengaruh dan dampak bagi sesama dan lingkungan. Proyek ICON menjadi miniatur proyek-proyek nyata yang dapat dilakukan oleh siswa di masa yang akan datang dalam lingkup yang lebih luas. Karena sesungguhnya setiap siswa dipanggil untuk menjadi murid Tuhan yang menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

Tips Mendampingi Anak TK dan SD Kembali Sekolah Onsite

Oleh: Chandria Wening Krisnanda (Konselor Bina Karir Sekolah Athalia)

Situasi Saat Ini

Belakangan, kasus harian orang yang terpapar COVID-19 tidak sebanyak dulu. Bahkan, per 17 Mei 2022 Jokowi mengumumkan bahwa masyarakat diperbolehkan tidak menggunakan masker ketika berkegiatan di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang (Nugraheny, 2022). Kondisi ini mendorong sekolah-sekolah mulai memberlakukan sistem pembelajaran onsite di semester depan.

Bagi beberapa anak TK dan SD, kembali belajar di sekolah setelah lebih dari dua tahun menjalani PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) membutuhkan proses penyesuaian. Orang tua perlu membantu anak agar merasa nyaman ketika menjalani masa transisi ini. Bagaimana caranya? Dalam laman resminya, UNICEF menyebutkan beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua.

Tips Bagi Orang Tua Mempersiapkan Anak Kembali Belajar Secara Onsite

1. Dengarkan anak

Dengarkan dengan saksama ketika anak bercerita tentang kekhawatirannya. Untuk anak yang berusia lebih kecil, kita dapat melakukan role play di rumah yang menggambarkan situasi “back to school”. Orang tua juga bisa mengajak anak menggambar bersama untuk setiap tahapan yang harus mereka lakukan nantinya saat kembali ke sekolah.

2. Membantu anak membuat persiapan

Dampingi anak untuk mempelajari aturan-aturan baru saat mereka kembali ke sekolah. Jangan lupa untuk mendiskusikan tentang apa yang mereka rasakan. Jika ada hal penting yang diceritakan anak, maka kita dapat mengomunikasikannya dengan guru mereka.

3. Tetap tenang

Ingatlah bila anak usia TK dan SD sangat mudah menyerap dan meniru respons orang tuanya terhadap suatu peristiwa. Kita perlu tetap bersikap tenang agar anak dapat merasa lebih nyaman dan aman.

4. Buatlah rencana perpisahan

Untuk anak yang berusia lebih besar, kita dapat mencoba beberapa cara berikut jika ia kesulitan menghadapi perpisahan dengan orang tua.

  • Berikan kesan perpisahan yang positif.
  • Beri tahu anak bahwa akan ada momen “perpisahan sementara”.
  • Ceritakan dengan kata-kata yang jelas dan mudah dipahami.
  • Ingatkan ke anak bahwa kita akan bertemu kembali dengan mereka.
  • Jangan terlihat ragu-ragu saat melakukan perpisahan.
  • Jemput mereka tepat waktu dan sesuai dengan rencana.
  • Lakukan kebiasaan yang sama setiap kali akan mengantar dan menjemput anak.

Kita bisa menjadikan momen kembali ke sekolah sebagai proses belajar bagi anak untuk lebih dewasa dalam menghadapi “perpisahan”. Yang perlu diperhatikan orang tua adalah cara berkomunikasi dengan anak sesuai dengan usianya. Jika anak berhasil melalui proses ini, maka ia akan belajar lebih mandiri dan cepat beradaptasi untuk hal atau kebiasaan baru lainnya.

Referensi:

Nugraheny. (2022). Jokowi Bolehkan Warga Lepas Masker di Area Terbuka. Diakses pada tanggal 19 Mei 2022, https://nasional.kompas.com/read/2022/05/17/17235791/jokowi-bolehkan-warga-lepas-masker-di-area-terbuka.

UNICEF.  (n.d.). How to Support Your Child through Reopening. Diakses pada tanggal 10 Mei 2022, https://www.unicef.org/coronavirus/support-child-covid-reopening.