Menjadi Bijak dengan Belajar Sepanjang Hidup: Hikmat dari Amsal

Menjadi Bijak dengan Belajar Sepanjang Hidup: Hikmat dari Amsal

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Amsal 1:5,7

“Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu, dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan… Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”


Belajar Sepanjang Hidup dalam Terang Firman Tuhan

Dalam dunia pendidikan formal, ada masa di mana kita menyelesaikan studi dan memperoleh gelar. Namun, dalam kehidupan nyata, belajar tidak pernah berhenti.
Belajar adalah proses seumur hidup yang harus terus dijalani hingga akhir hayat. Alkitab melalui Amsal 1:5,7 menegaskan bahwa orang yang mau terus belajar, mendengar, menambah ilmu, dan mempertimbangkan sebelum bertindak akan menjadi lebih bijak.

Namun, belajar yang sejati bukan hanya soal pengetahuan intelektual. Yang terutama adalah mengenal Tuhan sebagai sumber hikmat dan menghormati Dia dalam setiap aspek kehidupan.


Mengutamakan Tuhan dalam Setiap Proses Belajar

Ketika kita memilih untuk mengutamakan Tuhan dan menghormati-Nya dalam setiap keputusan, Tuhan akan menuntun kita menjadi pribadi yang bijak.
Ia membuka mata hati kita untuk melihat setiap hal—baik besar maupun kecil—sebagai pelajaran berharga.
Tuhan juga memampukan kita untuk rendah hati, sehingga kita bisa belajar dari siapa pun: dari anak kecil hingga orang yang dianggap rendah oleh dunia.

Kerendahan hati inilah yang membuat kita terus bertumbuh dalam hikmat. Tuhan menambahkan kebijaksanaan bagi mereka yang mau terus belajar dengan hati yang tunduk kepada-Nya.


Bahaya Berhenti Belajar: Jalan Menuju Kebodohan

Sebaliknya, jika kita berhenti belajar atau menolak untuk diajar, Amsal menuliskan bahwa kita akan menjadi orang bodoh.
Walaupun seseorang tampak cerdas secara intelektual, tanpa takut akan Tuhan ia tidak akan pernah menjadi orang berhikmat.
Ketika seseorang merasa sudah tahu segalanya, kesombongan mulai tumbuh. Ia mengandalkan diri sendiri dan bukan Tuhan, sehingga berhenti bertumbuh dan kehilangan kemampuan untuk berbuah bagi kemuliaan Kristus.


Menjadi Bijak dengan Hidup dalam Takut Akan Tuhan

Setiap orang dihadapkan pada pilihan: menjadi bijak atau menjadi bodoh.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk memilih jalan yang benar—hidup dalam takut akan Tuhan dan terus menjadi seorang pembelajar.
Dengan terus belajar dan memusatkan hati kepada Tuhan, kita akan bertumbuh dalam iman, pengetahuan, dan perbuatan baik.

Tuhan akan memampukan kita melakukan pekerjaan dengan bijak di mana pun kita berada, sehingga hidup kita menjadi buah yang memuliakan nama-Nya.

Kesaksian Selama Mengikuti Retret Karyawan “REST”

Oleh: Rumawar Bornok Nababan – Guru SD PINUS

REST (REhat Sama Tuhan)

Saat mengikuti REST—kegiatan retret tahunan di YPK Athalia Kilang—tahun ini saya melihat perbedaan dari retret sebelumnya. Kali ini saya belajar untuk berdiam diri. Namun, bukan berarti pikiran kosong, tapi agar dapat mendengar suara Tuhan yang menyapa saya dengan lembut. Juga bisa menemukan Tuhan dalam cara yang indah dalam setiap sesi yang saya ikuti.

Kesaksian Selama Mengikuti Retret Karyawan “REST”

Pada REST tahun ini saya merasakan kehadiran Tuhan itu nyata. Selama ini saya cenderung ingin melihat Tuhan dalam bentuk nyata. Namun REST kali ini saya menemukan Tuhan dalam suasana diam.

Sebelum berangkat retret, selama ini saya gelisah karena takut kecelakaan, ada jalan yang rusak, terjal, naik turun, dan lainnya. Nah ketakutan inilah kadang membuat saya tidak bisa menikmati retret tapi stres.

Pertama kali datang ke tempat REST kali ini saya diberi kesempatan berdiam diri. Saya mencari tempat di taman dan duduk di sebuah meja dan kursi yang terbuat dari batu. Saya memperhatikan seekor ulat bulu dan menyadari betapa ajaibnya Tuhan dan bersyukur dapat menikmati ini. Pada waktu sesi doa saya berkesempatan mendoakan dan didoakan, saya sadar bahwa saya butuh komunitas ini untuk mendukung saya.

Kesaksian Setelah Retret Karyawan

Selama ini saya pulang retret selalu letih karena harus mengerjakan lagi pekerjaan yang sama. Namun pada REST kali ini saya bisa menikmati Tuhan. Selama ini saya merasa paling menderita di dunia, paling sedih dan paling miskin. Ketika menderita saya tidak menemukan keindahan yang Tuhan janjikan dan banyak pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan. Kadang saya bertanya mengapa hidup saya seperti ini. Apalagi ketika suami saya dipanggil Tuhan, saya jadi sering menangis dan hidup terasa hampa. Namun pada REST kali ini saya bersyukur bisa menemukan kembali tujuan hidup saya dan ingat kebaikan Tuhan. Tuhan ingatkan saya masih mempunyai anak yang memerlukan saya. Selama ini saya selalu menuntut Tuhan dan sibuk dengan diri sendiri. Namun, kali ini saya bisa menikmati Tuhan dengan cara yang luar biasa. Bahkan sesi demi sesi saya dapat menikmati sampai selesai dengan sukacita.


Sempat saya bertanya kepada Tuhan apakah setelah pulang ini saya masih bisa menikmati Tuhan ketika saya sibuk dalam aktivitas sehari-hari. Kali ini saya mulai belajar bahwa dalam setiap situasi dan keadaan saya bisa menikmatinya karena ada Tuhan.


Bersyukur REST kali ini saya bisa menikmati Tuhan dalam setiap sesi. Hal ini karena acaranya mengalir tanpa merasa diatur dengan jadwal acara yang padat. Puji Tuhan saya bisa merasakan Tuhan dalam tiap moment. Bunyi air, desiran angin, dan setiap hal yang saya lihat, bisa saya rasakan. Oh, ajaib benar Engkau Tuhan. Setelah kembali dari REST saya mempunyai kekuatan baru dalam menghadapi kehidupan saya selanjutnya, karena Tuhan pasti menolong saya.

Ganjaran dari Tuhan yang Mendatangkan Kebaikan

Oleh : Lili Irene – Staf kerohanian PK3

Ganjaran dari Tuhan yang Mendatangkan Kebaikan

Di antara kita mungkin pernah mengajukan pertanyaan ini, “Kenapa aku menderita, harus mengalami masalah ini, harus menanggung ganjaran ini, atau kenapa Tuhan meninggalkan aku? Mungkin masih banyak lagi pertanyaan kenapa lainnya yang kita tanyakan. Terkadang pertanyaan tersebut bisa saja jawabannya adalah karena kesalahan kita sendiri. Kita menderita akibat apa yang kita lakukan.

Renungan Ibrani 12:1-11

Rasul Paulus menuliskan kitab Ibrani khususnya pasal 12 ayatnya yang ke 1-11, ia menekankan pada nasihatnya perihal kesabaran dan ketekunan ketika kita harus menghadapi penderitaan sebagai orang percaya. Dikatakan pergumulan orang percaya ketika harus melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Maksudnya melawan dosa adalah berjuang demi suatu tujuan yang baik karena dosa adalah musuh kita. Kita terus-menerus berjuang untuk melawan keinginan daging kita. Melawan berbagai karakter yang tidak baik dalam diri kita, melawan bujukan iblis untuk tidak taat pada Tuhan dan sebagainya.


Ketika penderitaan datang mungkin saja diakibatkan karena kita sedang berjuang melawan dosa. Waktu kita gagal dalam melawan dosa, kita harus ingat kepada didikan, teguran, atau ganjaran dari Tuhan karena kita adalah anak-anak-Nya. Dalam ayat 7 dikatakan bahwa jika kamu harus menanggung ganjaran, Tuhan memperlakukan kita sebagai anak. Adakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Seorang ayah bisa saja memberikan ganjaran kepada anaknya untuk kebaikan anak tersebut. Memang dikatakan pada waktu ganjaran diberikan tentu saja tidak mendatangkan sukacita melainkan dukacita. Tapi ingatlah kemudian hasilnya adalah buah kebenaran dan damai sejahtera.

Sikap dalam Menerima Ganjaran dari Tuhan

Matthew Hendry dalam tafsiran surat Ibrani mengatakan penderitaan yang ditanggung dengan sikap benar, meskipun hal itu merupakan buah rasa tidak senang Tuhan, tetap saja merupakan bukti kasih kebapaan-Nya terhadap umat-Nya dan kepedulian-Nya terhadap mereka (ay.6-7). Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakuinya sebagai anak.


Anak-anak Allah yang terbaik membutuhkan ganjaran ketika mereka melakukan kesalahan yang perlu diperbaiki. Allah akan menolong kita memperbaiki dosa yang kita lakukan sebagai anggota keluarga-Nya dan Ia akan menegur mereka ketika dibutuhkan. Allah bertindak sebagai ayah dan memperlakukan mereka sebagai anak-anak-Nya. Tidak ada ayah yang bijaksana yang menutup mata terhadap kesalahan anak-anaknya sendiri.


Teguran Tuhan sebagai Bapa tidak dimaksudkan untuk membuat kita sedih atau menderita. Teguran selalu untuk kebaikan kita dengan tujuan untuk memperbaiki dan membuat kita berperilaku menyerupai Dia. Pada akhirnya rasul Paulus menganjurkan agar kita rendah hati dan tunduk terhadap Bapa Surgawi kita pada waktu menerima teguran dari-Nya.


Dalam konteks hubungan relasi orang tua dan anak di dunia ini pun lebih kurang demikian. Orang tua tidak hanya mengasihi anak-anak mereka namun mereka juga mendidik dan menegur mereka jika mereka melakukan kesalahan. Orang tua juga mendampingi anak-anak agar mereka bisa menghadapi setiap konsekuensi akibat kesalahan yang mereka lakukan. Memberi anak-anak ganjaran yang sepadan namun tetap mendampingi dan memeluk mereka ketika mereka dalam proses untuk berubah.


Kiranya kita sebagai anak-anak Allah juga belajar terus tunduk ketika kita ditegur atau diganjar oleh-Nya. Dan dengan rendah hati kita menerima semua didikan Tuhan dalam bentuk apapun dan berproses terus-menerus untuk berubah menjadi lebih baik dan menyerupai Allah. Ganjaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan. Tuhan menolong kita semua.

Pengalaman Selama Mengikuti Retret (REST=REhat Sama Tuhan)

Oleh: Presno Saragih – Kepala Pendidikan Sekolah Athalia dan Pinus

Kisah Sebelum Berangkat Retret

Shalom Bapak/Ibu . . . .

Saya akan sharing-kan pengalaman perjumpaan saya dengan Tuhan dalam retret guru/staf tahun ajaran 2022/2023 ini yang dinamakan “REST”. Tentu saja setiap retret guru/staf Athalia/PINUS, dua buah sekolah di Serpong, Tuhan memberikan berkat-Nya yang melimpah bagi kita semua yang mengikutinya. Namun, dalam retret kali ini saya mengalami “encountering (with) God” yang lebih dalam dan lebih personal dibandingkan retret-retret sebelumnya. Sebelum saya menceritakan apa saja yang Tuhan “nyatakan” kepada saya dalam retret ini, saya ingin bercerita tentang perjuangan saya untuk dapat mengikuti “REST”.

Minggu sore (22 Januari 2023) saya merasa tidak enak badan: meriang, batuk dan pusing sepulang pelayanan dari Purwakarta. Senin (23 Januari 2023) saya berobat ke dokter. Dokter bilang saya menderita radang tenggorokan. Malam itu saya tidak bisa tidur sama sekali. Selasa malam saya bisa tidur walau hanya 2-3 jam. Rabu malam (25 Januari 2023) kembali saya tidak bisa tidur sampai Kamis pagi (26 Januari 2023).

Bagi penderita hipertensi atau diabet atau penderita penyakit jantung, tidak bisa tidur adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Dan saya penderita ketiga-tiganya. Namun dalam anugerah Tuhan saya tetap dapat mengikuti “REST” walaupun dalam keadaan meriang, batuk, pusing, lemas dan kurang tidur. Saya bersyukur dapat mengalami jamahan Tuhan selama mengikuti “REST”.

Pengalaman Selama Mengikuti Retret

Dalam kesempatan kali ini saya akan sharing-kan pengalaman selama mengikuti retret, tentang apa yang saya dapat dari Tuhan melalui sesi “Apa kerjamu di sini?”, devosi pagi di kamar dan dalam sesi penutupan. Dalam sesi “Apa kerjamu di sini?” saya diajar oleh Tuhan bahwa saya tidak punya hak untuk “mengatur-atur” Tuhan dalam skenario hidup saya dan keluarga. Dia berotoritas penuh dalam hidup saya dan keluarga. Apa yang Tuhan buat di dalam hidup saya dan keluarga pasti baik adanya. Pesan tersebut saya dapatkan ketika Bapak Hermanto mengupas ayat-ayat firman Tuhan dalam 1 Raja-raja 19:11-13.

Tidak ada Tuhan dalam angin besar dan kuat yang membelah gunung. Tuhan juga tidak ada dalam gempa yang terjadi waktu itu. Bayangan kita harusnya Tuhan hadir dalam fenomena-fenomena alam yang dahsyat seperti itu. Namun justru hadirat Tuhan nyata di dalam angin sepoi-sepoi. Jadi sesungguhnya Tuhan bisa hadir secara spektakuler atau non spektakuler. Suka-sukanya Tuhan! Yang pasti Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita pada waktunya Tuhan. Kalau Anak-Nya sendiri diberikan-Nya bagi kita apalah lagi sekadar sandang, pangan, papan, dll.

Teguran Kasih dari Tuhan

Saya ditegur oleh Tuhan (dalam devosi pagi di kamar) untuk tidak menjadi orang yang tinggi hati. Saya ditegur lewat ketakutan dan keputusasaan Elia ketika diancam oleh ratu Izebel. Ratu Izebel akan mengutus orang untuk membunuh Elia yang sudah menyembelih 450 nabi Baal. Elia gentar, putus asa dan ingin nyawanya dicabut oleh Tuhan karena ancaman seorang perempuan. Padahal baru saja Elia menyaksikan kuasa Tuhan yang luar biasa yang membinasakan nabi-nabi Baal tsb. Mungkin saja tanpa disadarinya dia beranggapan bahwa dia lah yang mengalahkan nabi-nabi Baal tsb; bukan Tuhan. Itulah sebabnya kali ini dia begitu gentar dan putus asa karena dia mengukur kekuatannya sendiri; dia harus berhadapan dengan seorang ratu. Saya ditegur oleh Tuhan untuk membuang dosa kesombongan saya.

Momen Mengharukan

Terakhir, saya merasa sangat terharu (“goosebump”) dan sangat dikuatkan ketika saya dan rekan-rekan kepala sekolah, kabag dan BOD didoakan oleh semua guru/staf di sesi penutupan. Dalam keadaan berlutut, kami didoakan dengan tangan para pendoa di atas (kepala) kami. Saya secara pribadi sangat bersyukur dan diteguhkan lewat penumpangantangan tersebut (doa). Selain itu saya sangat terharu dan berterima kasih menerima pelayanan para pemimpin Athalia dari mulai keberangkatan menuju 5G sampai dengan tibanya semua peserta “REST” di sekolah Athalia. To God be the Glory.

Mendidik Anak: Menggandeng atau Menggendong?

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Mendidik Anak Menggandeng atau Menggendong

Ulangan 32:11
Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,

Pesan dari Musa

Musa memberikan pesan-pesan di saat terakhirnya kepada umat Israel melalui sebuah nyanyian. Dalam pesannya, ia mengingatkan Israel bahwa dalam perjalanan iman bersama Tuhan, kadang Ia mengizinkan umat-Nya mengalami masa sulit namun tidak meninggalkan mereka berjalan sendiri. Seperti induk rajawali ketika mengajar anaknya untuk terbang, ia akan dengan sengaja membongkar sarang, lapis demi lapis sampai tersisa lapisan yang kasar dan keras supaya anaknya keluar dari kenyamanan. Ia bahkan mendorong anaknya ke ujung tebing lalu menjatuhkannya supaya anaknya belajar mengembangkan sayap dan melatih ototnya. Namun, ketika anak rajawali terlihat seperti dibiarkan jatuh oleh induknya dan akan mati, tepat pada saat itu pula sang induk akan mengembangkan sayapnya dan menangkapnya kembali. Hal ini dilakukan berulang kali sampai anak itu dapat terbang.


Sekilas kita mungkin berpikir sang induk kejam, namun sebenarnya apa yang induk rajawali lakukan adalah untuk menolong anaknya supaya menjadi seekor rajawali yang kuat, tangguh dan mampu bertahan hidup. Demikian juga dengan Tuhan ketika Ia mengijinkan kita mengalami pergumulan. Sesungguhnya ia sedang mendidik kita agar bertumbuh dalam iman. Ia mau kita semakin tangguh menghadapi zaman ini dan tetap memiliki iman yang teguh apapun keadaannya.

Saat Mendidik Anak: Menggandeng atau Menggendong?

Sebagaimana Tuhan mendidik kita untuk makin dewasa, kiranya setiap kita juga belajar untuk mendidik anak-anak kita agar makin kuat dan mandiri. Jangan sampai atas nama kasih kita tidak mengijinkan anak mengalami kesulitan. Kita memperlakukan mereka seperti seorang bayi yang harus terus ‘digendong’ dan ‘disuapi’. Akibatnya, anak-anak tidak siap menghadapi kesulitan hidup dan tantangan zaman. Orang tua tidak bisa selamanya menemani anak, karena itu mari latih anak untuk mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya. Dalam prosesnya, doakan mereka, gandeng mereka dan topanglah jika diperlukan. Hingga pada saatnya, lepaskan mereka agar dapat mengembangkan sayapnya dan terbang tinggi seperti induk rajawali melihat anaknya terbang tinggi. Mari, memohon hikmat Tuhan dan terus berlatih mendampingi anak kita menjadi dewasa.

Kasih Sejati

Kasih Hal Terbesar dalam Kehidupan Orang Percaya (1 Korintus 1313)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Firman Tuhan Tentang Kasih

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
1 Korintus 13:13

Ayat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk menjelaskan pentingnya kasih dalam kehidupan orang percaya. Paulus menegaskan bahwa kasih adalah yang paling besar di antara iman dan pengharapan.
Namun, bukan berarti iman dan pengharapan tidak penting. Sebaliknya, tanpa kasih, semua hal itu menjadi sia-sia di hadapan Tuhan.


Kasih: Dasar dari Ibadah dan Kehidupan Sehari-hari

Ketekunan kita beribadah, berdoa, dan melayani akan kehilangan makna bila dilakukan tanpa kasih kepada Tuhan.
Tanpa kasih, ibadah menjadi sekadar kewajiban dan formalitas rohani.

Demikian juga dalam kehidupan keluarga. Jika kita menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, pasangan, atau anak tanpa kasih, maka kehadiran orang lain bisa terasa sebagai beban, bukan sukacita.
Kasih Kristus seharusnya menjadi dasar dan motivasi utama dalam setiap aspek kehidupan kita.


Kasih Sejati Menurut Henry Drummond

Dalam bukunya The Greatest Thing in the World, Henry Drummond menuliskan bahwa ujian terakhir dalam kehidupan rohani bukanlah seberapa benar atau suci kita di hadapan Tuhan, melainkan seberapa besar kita mengasihi Tuhan dan sesama.

Ia juga menjelaskan bahwa kasih sejati memiliki sembilan ciri penting:

  1. Sabar
  2. Baik hati
  3. Murah hati
  4. Rendah hati
  5. Tidak egois
  6. Tidak mudah marah atau terprovokasi
  7. Tidak dendam dan tidak memperhitungkan kesalahan orang lain
  8. Tulus dan jujur
  9. Menegakkan kebenaran

Melalui sifat-sifat ini, kasih sejati membawa kebaikan dan kebenaran, baik bagi kita sendiri maupun bagi mereka yang kita kasihi.
Inilah kasih yang Tuhan ingin kita nyatakan dalam kehidupan setiap hari.


Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari

Melalui renungan ini, mari kita mengevaluasi kehidupan rohani kita:

  • Apakah kita sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
  • Apakah kasih Kristus nyata dalam relasi kita dengan keluarga, teman, dan sesama?

Kasih bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata yang mencerminkan pengorbanan Kristus.
Sebagaimana Allah telah mengasihi kita dengan memberikan yang paling berharga — yaitu Yesus Kristus — demikian juga kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan kehidupan.


Kesimpulan: Kasih Adalah Puncak Kehidupan Rohani

Kasih adalah inti dari kekristenan dan puncak dari segala kebajikan.
Tanpa kasih, pelayanan kehilangan makna; dengan kasih, setiap tindakan menjadi ibadah sejati kepada Tuhan.

Kiranya kita terus belajar menghidupi kasih Kristus setiap hari — mengasihi Tuhan sepenuh hati dan menyalurkan kasih itu kepada sesama, agar hidup kita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.

Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul Dengan Allah

Oleh: Naomi Fransisca Halim – guru agama SMA Athalia

Renungan Ibadah Berdasarkan Kitab Kejadian 5:1-32

Pada tanggal 4 Januari 2023, Sekolah Athalia dan Pinus, telah mengawali tahun dan semester baru dengan ibadah secara onsite di aula C. Dengan suasana ruangan yang dipenuhi dengan lilin menyala, kami diajak untuk merenungkan kembali perjalanan kehidupan di sepanjang tahun 2022. Selain itu juga diajak memantapkan hati untuk perjalanan di 2023. Ibadah kali ini, dipimpin oleh Bapak Ishak Sukamto dan didasari dari Kitab Kejadian 5:1-32.


Dalam pembacaan silsilah ini, Pak Ishak mengajak kami melihat bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, maka pekerjaan manusia adalah hidup selama beberapa tahun, menikah, memperanakkan, mencapai usia sekian dan meninggal. Begitu seterusnya siklus ini terus berlangsung bahkan sampai zaman sekarang.


Menariknya, dalam perikop yang dibaca, Henokh, salah satu tokoh dalam cerita tersebut, merupakan tokoh yang memiliki umur yang terbilang lebih singkat dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam kisah tersebut. Namun pertanyaan pentingnya bukan seberapa lama seseorang hidup tetapi seberapa berkualitas hidup itu atau bagaimana seseorang mengisi kebermaknaan eksistensi dirinya?

Kehidupan Henokh yang Singkat

Dalam perenungan ini, Pak Ishak memberikan satu frasa yang menarik, yaitu “No More.” Istilah ini merujuk kepada salah satu tokoh, Henokh yang pada akhir hidupnya tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Di tengah “singkat” hidupnya, Henokh menikmatinya dengan hidup bergaul dengan Allah. Dalam beberapa terjemahan lain Henokh berjalan bersama dengan Allah dan setelah itu, Henokh no more.

Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul dengan Tuhan dalam Masa Kehidupannya yang Singkat

Pada bagian ini, saya menyadari bahwa kematian merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun Henokh dikisahkan tidak meninggal namun ia sudah tiada. Dalam ibadah ini ketiadaan ini disimbolkan dengan para guru dan staf merobek kain hitam yang sudah disediakan. Juga sebagai simbol komitmen kita untuk mau hidup seperti Henokh yang bergaul dengan Allah. Supaya bisa demikian, maka kita harus meninggalkan kehidupan lama kita yang disimbolkan dengan kain hitam yang disobek. Dalam perenungan saya, ketika merobek kain hitam tersebut dengan kuat, saya menyadari bahwa tangan saya terbuka. Bersamaan dengan saat itu, cuplikan lirik lagu yang dinyanyikan pun seakan menjadi doa saya. Ketika menyadari bahwa siklus kehidupan manusia sangat singkat, lagu tersebut mengingatkan saya untuk selalu “bersujud di hadapan-Nya. Juga untuk meminta Tuhan agar memenuhkan bejana diri saya dengan air sungai-Nya.”

Di tengah penyanderaan rutinitas kehidupan manusia, maukah kita mendisrupsi hidup kita dengan menjawab undangan Tuhan untuk datang, hidup bergaul dan berjalan bersama-Nya supaya tidak hanya kuantitas umur kita saja yang bertambah tetapi juga kualitas hidup kita. Biarlah pesan singkat ini menjadi rhema dalam kehidupan kita saat memasuki tahun yang baru ini sampai kita bertemu dengan Tuhan dan menikmati persekutuan sesungguhnya dengan Sang Pencipta Agung itu. Amin.

Allah adalah Sempurna (Ulangan 32:1-4)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia

Ada banyak hal di dalam dunia ini yang bagi kita mungkin sangat berharga dan mampu melengkapi hidup kita. Tanpa hal-hal itu hidup terasa kurang. Lagu Andra and The Backbone yang berjudul Sempurna, juga mengisahkan tentang seorang wanita yang menurutnya begitu sempurna sehingga dapat melengkapi hidupnya. Namun jika kita renungkan, sesungguhnya semuanya itu bersifat fana, sementara dan dapat lenyap sekejap dan kapan saja. Jika kita menggantungkan hidup kita pada hal-hal yang sementara, kita hanya akan menerima kekecewaan dan kesedihan.

Satu-satunya Pribadi yang dapat kita andalkan hanyalah Tuhan. Ia, adalah Allah Pencipta kita, bukan pelengkap hidup kita yang kalau kita butuh baru kita datang kepada-Nya. Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Semua hal dalam dunia boleh lenyap, asal ada Tuhan. Memiliki Tuhan berarti kita telah memiliki segalanya. Mengapa? Karena Ia adalah Allah yang sempurna; segala sifatnya dan/karakternya sempurna. Kebaikan-Nya sempurna, kasih-Nya sempurna dan kuasa-Nya pun sempurna.

Menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna maka:

  • Kita dapat mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, Allah yang sempurna itu. Kita memang tidak bisa menyelami pemikiran dan kuasa-Nya yang sempurna karena kita terbatas dan Ia sempurna, namun kita dapat yakin bahwa kita dapat bersandar sepenuhnya di dalam Dia, Allah yang sempurna.
  • Kita belajar hidup sempurna untuk merefleksikan gambar kemuliaan-Nya. Sebagaimana Allah yang sempurna, Ia ingin kita juga hidup merefleksikan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu kita harus terus berjuang semakin serupa Kristus dalam seluruh aspek hidup kita supaya ketika orang lain melihat kita, mereka dapat melihat Kristus dalam diri kita dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:48).

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pelaku firman-Nya, percaya penuh kepada-Nya dan belajar hidup makin serupa Kristus.

Bahasa Kasihnya Tuhan

bahasa kasihnya Tuhan

Oleh: Lili Irene, M.Th – Staf Kerohanian Sekolah Athalia

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia
dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih
aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing
(1 Korintus 13:1)

Penting yang Mana, Menguasai Banyak Bahasa atau Memiliki Kasih?

Berapa bahasa yang kita kuasai? Mungkin ada yang menguasai satu, dua, bahkan ada yang lebih. Bella Devyatkina, seorang anak usia empat tahun, memukau penonton televisi di negerinya, Rusia, karena berhasil menguasai enam bahasa asing sekaligus. Tentu suatu kebanggaan jika kita bisa menguasai berbagai bahasa yang ada di dunia. Lewat penguasaan berbagai bahasa, selain terlihat keren juga bisa memudahkan kita dalam pergaulan dan berelasi dengan semakin banyak orang.

Ayat 1 Korintus 13:1 menyentak kita dengan mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berkata-kata atau menguasai semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun namun jika kita tidak mempunyai kasih maka itu sia-sia saja.

“Andai kata kulakukan yang luhur mulia, jika tanpa kasih cinta, hampa tak berguna. Ajarilah kami bahasa kasih-Mu agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku”. Ini adalah kutipan sebuah lagu yang sekaligus doa agar kita diajari bahasa kasihnya Tuhan. Ayat sekaligus nyanyian ini mengingatkan kita bahwa memang penting menguasai banyak bahasa, namun yang paling penting bagi kita orang percaya adalah menguasai bahasa kasih atau bahasa cintanya Tuhan.

Kata-kata dan Dampaknya

Mungkin ada di antara kita yang mempunyai kesulitan untuk bisa mengendalikan kata-kata sehingga begitu mudah mengucapkan kata-kata yang kasar dan makian ketika kita marah. Bahkan, ketika berusaha menerapkan bahasa kasihnya Tuhan dengan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatur bahasa yang kita gunakan, tetap saja ada kalanya kita masih terpeleset, bukan?

Bahasa yang kita gunakan sangat mungkin bisa menyakiti orang lain jika kita tidak berhati-hati. Mungkin kita pernah mendengar ada anak-anak atau orang-orang yang sakit hati atau memendam luka oleh kata-kata yang kasar, kritikan, atau dibanding-bandingkan dengan saudaranya/temannya. Semua itu menghancurkan harga diri mereka. Anak-anak yang sejak kecil mendengar kata-kata kasar dari orang di sekitar mereka, seperti orang tua, pendidik, ataupun teman-temannya akan hidup dalam kepahitan. Seorang anak yang tidak pernah dipuji untuk apapun yang ia kerjakan, malah dihina dan diejek, akhirnya putus asa dan memilih jalan pintas. Hal ini sungguh menjadi sebuah ironi, bukan?

Lima Bahasa Kasih

Gary Chapman dalam bukunya, mengatakan ada 5 cara untuk mengekspresikan bahasa kasih, yaitu:

  • Pujian (Words Of Affirmation)
  • Waktu bersama (Quality Time)
  • Tindakan Pelayanan (Art of Service)
  • Menerima Hadiah (Receiving Gift)
  • Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Kelima bahasa kasih yang diungkapkan Gary ini adalah hal-hal yang juga anak-anak kita butuhkan dalam kehidupan mereka. Mereka memerlukan pujian, pemberian penghargaan, waktu yang kita berikan, sentuhan kehangatan, dan tindakan nyata kita kepada mereka.

Bahasa Kasihnya Tuhan

Hal penting yang perlu kita ingat sebagai orang tua dan para pendidik adalah untuk terus berdoa agar kita diajar bahasa kasihnya Tuhan. Dengan bahasa kasih itu kita dapat berkata-kata yang sifatnya membangun dan menguatkan bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Bahasa kasihnya Tuhan yang telah nyata diberikan kepada kita orang berdosa yaitu lewat pengorbanan-Nya. Ia rela mati di atas kayu salib, dihina dan dicemooh, namun tidak membalas. Dengan bahasa kasih yang lemah lembut Tuhan telah menerima kita orang berdosa. Ia berkorban, mengampuni dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu, biarlah kita juga bisa memberikan bahasa kasihnya Tuhan lewat tutur kata yang lembut, membangun dan menguatkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya Tuhan memampukan kita semua.

Berdoa bagi Indonesia

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia.

Kondisi Jemaat Kristen di Zaman Kaisar Nero

Jemaat saat itu mengalami tekanan yang besar. Kaisar Nero yang terkenal kejam adalah raja yang memerintah dan seringkali mengeluarkan keputusan yang mempersulit orang Kristen. Bahkan ketika ia melakukan tindakan korupsi, ia menjadikan orang Kristen sebagai kambing hitam. Sehingga oleh karenanya banyak orang Kristen yang akhirnya dianiaya karena imannya. Sekalipun demikian, Paulus tetap mendorong jemaat untuk berdoa bagi para pemimpin negara mereka. Paulus meminta jemaat untuk tidak berdoa bagi diri sendiri saja tetapi juga untuk orang lain termasuk raja-raja dan semua pembesar. Sebab hanya Tuhan yang dapat mengubah kekerasan hati para pemimpin dan melindungi mereka dari tekanan yang ada.


Kondisi Bangsa Kita

Hari ini kita berada di Indonesia dengan segala carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah 77 tahun negara kita merdeka. Namun, entah berapa banyak rakyat yang sungguh-sungguh merdeka dari kemiskinan, bebas beribadah, mengenyam pendidikan, dan menikmati kerukunan. Ada begitu banyak kepentingan dari segelintir orang yang ingin meraup kenikmatan dengan cara memecah-belah persatuan bangsa dan bertindak korup dalam berbagai aspek. Kita mungkin sudah lelah dengan berbagai berita bobroknya negeri ini. Namun, di tengah semua itu, pernahkah kita bersyukur untuk hal baik yang masih ada di negeri ini? Pernahkah kita berdoa bagi bangsa Indonesia dalam doa pribadi kita? Sudahkah kita menaikkan permohonan dan doa syafaat bagi pemimpin bangsa ini dan semua jajaran pemerintahan? Sudahkah kita mendoakan mereka yang bertindak jahat agar Tuhan menyadarkan mereka? Ataukah kita lebih sering mengeluh dan mencela tanpa pernah berdoa bagi mereka?

Berdoa Bagi Indonesia

Melalui bagian firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak hanya berdoa bagi diri kita dan orang-orang yang kita kasihi saja. Kita diingatkan juga untuk berdoa bagi orang-orang di sekitar kita termasuk pemimpin negara kita yang duduk dalam pemerintahan. Doakanlah mereka supaya kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka digunakan dengan bertanggung jawab untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Doakan juga supaya mereka yang bertindak jahat dan memecah belah bangsa melalui isu suku, agama dan berbagai hal lainnya disadarkan dari kejahatan mereka. Berdoa agar mereka berbalik dari segala kejahatan mereka dan belajar mencintai bangsa ini dengan benar. Mari kita belajar mengasihi negara di mana kita hidup, bekerja dan berlindung dengan cara mendoakan kesejahteraan dan keamanan bangsa ini.