Ulangan 32:11 Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,
Pesan dari Musa
Musa memberikan pesan-pesan di saat terakhirnya kepada umat Israel melalui sebuah nyanyian. Dalam pesannya, ia mengingatkan Israel bahwa dalam perjalanan iman bersama Tuhan, kadang Ia mengizinkan umat-Nya mengalami masa sulit namun tidak meninggalkan mereka berjalan sendiri. Seperti induk rajawali ketika mengajar anaknya untuk terbang, ia akan dengan sengaja membongkar sarang, lapis demi lapis sampai tersisa lapisan yang kasar dan keras supaya anaknya keluar dari kenyamanan. Ia bahkan mendorong anaknya ke ujung tebing lalu menjatuhkannya supaya anaknya belajar mengembangkan sayap dan melatih ototnya. Namun, ketika anak rajawali terlihat seperti dibiarkan jatuh oleh induknya dan akan mati, tepat pada saat itu pula sang induk akan mengembangkan sayapnya dan menangkapnya kembali. Hal ini dilakukan berulang kali sampai anak itu dapat terbang.
Sekilas kita mungkin berpikir sang induk kejam, namun sebenarnya apa yang induk rajawali lakukan adalah untuk menolong anaknya supaya menjadi seekor rajawali yang kuat, tangguh dan mampu bertahan hidup. Demikian juga dengan Tuhan ketika Ia mengijinkan kita mengalami pergumulan. Sesungguhnya ia sedang mendidik kita agar bertumbuh dalam iman. Ia mau kita semakin tangguh menghadapi zaman ini dan tetap memiliki iman yang teguh apapun keadaannya.
Saat Mendidik Anak: Menggandeng atau Menggendong?
Sebagaimana Tuhan mendidik kita untuk makin dewasa, kiranya setiap kita juga belajar untuk mendidik anak-anak kita agar makin kuat dan mandiri. Jangan sampai atas nama kasih kita tidak mengijinkan anak mengalami kesulitan. Kita memperlakukan mereka seperti seorang bayi yang harus terus ‘digendong’ dan ‘disuapi’. Akibatnya, anak-anak tidak siap menghadapi kesulitan hidup dan tantangan zaman. Orang tua tidak bisa selamanya menemani anak, karena itu mari latih anak untuk mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya. Dalam prosesnya, doakan mereka, gandeng mereka dan topanglah jika diperlukan. Hingga pada saatnya, lepaskan mereka agar dapat mengembangkan sayapnya dan terbang tinggi seperti induk rajawali melihat anaknya terbang tinggi. Mari, memohon hikmat Tuhan dan terus berlatih mendampingi anak kita menjadi dewasa.
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” — 1 Korintus 13:13
Ayat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk menjelaskan pentingnya kasih dalam kehidupan orang percaya. Paulus menegaskan bahwa kasih adalah yang paling besar di antara iman dan pengharapan. Namun, bukan berarti iman dan pengharapan tidak penting. Sebaliknya, tanpa kasih, semua hal itu menjadi sia-sia di hadapan Tuhan.
Kasih: Dasar dari Ibadah dan Kehidupan Sehari-hari
Ketekunan kita beribadah, berdoa, dan melayani akan kehilangan makna bila dilakukan tanpa kasih kepada Tuhan. Tanpa kasih, ibadah menjadi sekadar kewajiban dan formalitas rohani.
Demikian juga dalam kehidupan keluarga. Jika kita menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, pasangan, atau anak tanpa kasih, maka kehadiran orang lain bisa terasa sebagai beban, bukan sukacita. Kasih Kristus seharusnya menjadi dasar dan motivasi utama dalam setiap aspek kehidupan kita.
Kasih Sejati Menurut Henry Drummond
Dalam bukunya The Greatest Thing in the World, Henry Drummond menuliskan bahwa ujian terakhir dalam kehidupan rohani bukanlah seberapa benar atau suci kita di hadapan Tuhan, melainkan seberapa besar kita mengasihi Tuhan dan sesama.
Ia juga menjelaskan bahwa kasih sejati memiliki sembilan ciri penting:
Sabar
Baik hati
Murah hati
Rendah hati
Tidak egois
Tidak mudah marah atau terprovokasi
Tidak dendam dan tidak memperhitungkan kesalahan orang lain
Tulus dan jujur
Menegakkan kebenaran
Melalui sifat-sifat ini, kasih sejati membawa kebaikan dan kebenaran, baik bagi kita sendiri maupun bagi mereka yang kita kasihi. Inilah kasih yang Tuhan ingin kita nyatakan dalam kehidupan setiap hari.
Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Melalui renungan ini, mari kita mengevaluasi kehidupan rohani kita:
Apakah kita sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
Apakah kasih Kristus nyata dalam relasi kita dengan keluarga, teman, dan sesama?
Kasih bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata yang mencerminkan pengorbanan Kristus. Sebagaimana Allah telah mengasihi kita dengan memberikan yang paling berharga — yaitu Yesus Kristus — demikian juga kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan kehidupan.
Kesimpulan: Kasih Adalah Puncak Kehidupan Rohani
Kasih adalah inti dari kekristenan dan puncak dari segala kebajikan. Tanpa kasih, pelayanan kehilangan makna; dengan kasih, setiap tindakan menjadi ibadah sejati kepada Tuhan.
Kiranya kita terus belajar menghidupi kasih Kristus setiap hari — mengasihi Tuhan sepenuh hati dan menyalurkan kasih itu kepada sesama, agar hidup kita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.
Oleh: Naomi Fransisca Halim – guru agama SMA Athalia
Renungan Ibadah Berdasarkan Kitab Kejadian 5:1-32
Pada tanggal 4 Januari 2023, Sekolah Athalia dan Pinus, telah mengawali tahun dan semester baru dengan ibadah secara onsite di aula C. Dengan suasana ruangan yang dipenuhi dengan lilin menyala, kami diajak untuk merenungkan kembali perjalanan kehidupan di sepanjang tahun 2022. Selain itu juga diajak memantapkan hati untuk perjalanan di 2023. Ibadah kali ini, dipimpin oleh Bapak Ishak Sukamto dan didasari dari Kitab Kejadian 5:1-32.
Dalam pembacaan silsilah ini, Pak Ishak mengajak kami melihat bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, maka pekerjaan manusia adalah hidup selama beberapa tahun, menikah, memperanakkan, mencapai usia sekian dan meninggal. Begitu seterusnya siklus ini terus berlangsung bahkan sampai zaman sekarang.
Menariknya, dalam perikop yang dibaca, Henokh, salah satu tokoh dalam cerita tersebut, merupakan tokoh yang memiliki umur yang terbilang lebih singkat dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam kisah tersebut. Namun pertanyaan pentingnya bukan seberapa lama seseorang hidup tetapi seberapa berkualitas hidup itu atau bagaimana seseorang mengisi kebermaknaan eksistensi dirinya?
Kehidupan Henokh yang Singkat
Dalam perenungan ini, Pak Ishak memberikan satu frasa yang menarik, yaitu “No More.” Istilah ini merujuk kepada salah satu tokoh, Henokh yang pada akhir hidupnya tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Di tengah “singkat” hidupnya, Henokh menikmatinya dengan hidup bergaul dengan Allah. Dalam beberapa terjemahan lain Henokh berjalan bersama dengan Allah dan setelah itu, Henokh no more.
Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul dengan Tuhan dalam Masa Kehidupannya yang Singkat
Pada bagian ini, saya menyadari bahwa kematian merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun Henokh dikisahkan tidak meninggal namun ia sudah tiada. Dalam ibadah ini ketiadaan ini disimbolkan dengan para guru dan staf merobek kain hitam yang sudah disediakan. Juga sebagai simbol komitmen kita untuk mau hidup seperti Henokh yang bergaul dengan Allah. Supaya bisa demikian, maka kita harus meninggalkan kehidupan lama kita yang disimbolkan dengan kain hitam yang disobek. Dalam perenungan saya, ketika merobek kain hitam tersebut dengan kuat, saya menyadari bahwa tangan saya terbuka. Bersamaan dengan saat itu, cuplikan lirik lagu yang dinyanyikan pun seakan menjadi doa saya. Ketika menyadari bahwa siklus kehidupan manusia sangat singkat, lagu tersebut mengingatkan saya untuk selalu “bersujud di hadapan-Nya. Juga untuk meminta Tuhan agar memenuhkan bejana diri saya dengan air sungai-Nya.”
Di tengah penyanderaan rutinitas kehidupan manusia, maukah kita mendisrupsi hidup kita dengan menjawab undangan Tuhan untuk datang, hidup bergaul dan berjalan bersama-Nya supaya tidak hanya kuantitas umur kita saja yang bertambah tetapi juga kualitas hidup kita. Biarlah pesan singkat ini menjadi rhema dalam kehidupan kita saat memasuki tahun yang baru ini sampai kita bertemu dengan Tuhan dan menikmati persekutuan sesungguhnya dengan Sang Pencipta Agung itu. Amin.
Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia
Ada banyak hal di dalam dunia ini yang bagi kita mungkin sangat berharga dan mampu melengkapi hidup kita. Tanpa hal-hal itu hidup terasa kurang. Lagu Andra and The Backbone yang berjudul Sempurna, juga mengisahkan tentang seorang wanita yang menurutnya begitu sempurna sehingga dapat melengkapi hidupnya. Namun jika kita renungkan, sesungguhnya semuanya itu bersifat fana, sementara dan dapat lenyap sekejap dan kapan saja. Jika kita menggantungkan hidup kita pada hal-hal yang sementara, kita hanya akan menerima kekecewaan dan kesedihan.
Satu-satunya Pribadi yang dapat kita andalkan hanyalah Tuhan. Ia, adalah Allah Pencipta kita, bukan pelengkap hidup kita yang kalau kita butuh baru kita datang kepada-Nya. Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Semua hal dalam dunia boleh lenyap, asal ada Tuhan. Memiliki Tuhan berarti kita telah memiliki segalanya. Mengapa? Karena Ia adalah Allah yang sempurna; segala sifatnya dan/karakternya sempurna. Kebaikan-Nya sempurna, kasih-Nya sempurna dan kuasa-Nya pun sempurna.
Menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna maka:
Kita dapat mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, Allah yang sempurna itu. Kita memang tidak bisa menyelami pemikiran dan kuasa-Nya yang sempurna karena kita terbatas dan Ia sempurna, namun kita dapat yakin bahwa kita dapat bersandar sepenuhnya di dalam Dia, Allah yang sempurna.
Kita belajar hidup sempurna untuk merefleksikan gambar kemuliaan-Nya. Sebagaimana Allah yang sempurna, Ia ingin kita juga hidup merefleksikan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu kita harus terus berjuang semakin serupa Kristus dalam seluruh aspek hidup kita supaya ketika orang lain melihat kita, mereka dapat melihat Kristus dalam diri kita dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:48).
Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pelaku firman-Nya, percaya penuh kepada-Nya dan belajar hidup makin serupa Kristus.
Oleh: Lili Irene, M.Th – Staf Kerohanian Sekolah Athalia
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1 Korintus 13:1)
Penting yang Mana, Menguasai Banyak Bahasa atau Memiliki Kasih?
Berapa bahasa yang kita kuasai? Mungkin ada yang menguasai satu, dua, bahkan ada yang lebih. Bella Devyatkina, seorang anak usia empat tahun, memukau penonton televisi di negerinya, Rusia, karena berhasil menguasai enam bahasa asing sekaligus. Tentu suatu kebanggaan jika kita bisa menguasai berbagai bahasa yang ada di dunia. Lewat penguasaan berbagai bahasa, selain terlihat keren juga bisa memudahkan kita dalam pergaulan dan berelasi dengan semakin banyak orang.
Ayat 1 Korintus 13:1 menyentak kita dengan mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berkata-kata atau menguasai semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun namun jika kita tidak mempunyai kasih maka itu sia-sia saja.
“Andai kata kulakukan yang luhur mulia, jika tanpa kasih cinta, hampa tak berguna. Ajarilah kami bahasa kasih-Mu agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku”. Ini adalah kutipan sebuah lagu yang sekaligus doa agar kita diajari bahasa kasihnya Tuhan. Ayat sekaligus nyanyian ini mengingatkan kita bahwa memang penting menguasai banyak bahasa, namun yang paling penting bagi kita orang percaya adalah menguasai bahasa kasih atau bahasa cintanya Tuhan.
Kata-kata dan Dampaknya
Mungkin ada di antara kita yang mempunyai kesulitan untuk bisa mengendalikan kata-kata sehingga begitu mudah mengucapkan kata-kata yang kasar dan makian ketika kita marah. Bahkan, ketika berusaha menerapkan bahasa kasihnya Tuhan dengan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatur bahasa yang kita gunakan, tetap saja ada kalanya kita masih terpeleset, bukan?
Bahasa yang kita gunakan sangat mungkin bisa menyakiti orang lain jika kita tidak berhati-hati. Mungkin kita pernah mendengar ada anak-anak atau orang-orang yang sakit hati atau memendam luka oleh kata-kata yang kasar, kritikan, atau dibanding-bandingkan dengan saudaranya/temannya. Semua itu menghancurkan harga diri mereka. Anak-anak yang sejak kecil mendengar kata-kata kasar dari orang di sekitar mereka, seperti orang tua, pendidik, ataupun teman-temannya akan hidup dalam kepahitan. Seorang anak yang tidak pernah dipuji untuk apapun yang ia kerjakan, malah dihina dan diejek, akhirnya putus asa dan memilih jalan pintas. Hal ini sungguh menjadi sebuah ironi, bukan?
Lima Bahasa Kasih
Gary Chapman dalam bukunya, mengatakan ada 5 cara untuk mengekspresikan bahasa kasih, yaitu:
Pujian (Words Of Affirmation)
Waktu bersama (Quality Time)
Tindakan Pelayanan (Art of Service)
Menerima Hadiah (Receiving Gift)
Sentuhan Fisik (Physical Touch)
Kelima bahasa kasih yang diungkapkan Gary ini adalah hal-hal yang juga anak-anak kita butuhkan dalam kehidupan mereka. Mereka memerlukan pujian, pemberian penghargaan, waktu yang kita berikan, sentuhan kehangatan, dan tindakan nyata kita kepada mereka.
Bahasa Kasihnya Tuhan
Hal penting yang perlu kita ingat sebagai orang tua dan para pendidik adalah untuk terus berdoa agar kita diajar bahasa kasihnya Tuhan. Dengan bahasa kasih itu kita dapat berkata-kata yang sifatnya membangun dan menguatkan bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.
Bahasa kasihnya Tuhan yang telah nyata diberikan kepada kita orang berdosa yaitu lewat pengorbanan-Nya. Ia rela mati di atas kayu salib, dihina dan dicemooh, namun tidak membalas. Dengan bahasa kasih yang lemah lembut Tuhan telah menerima kita orang berdosa. Ia berkorban, mengampuni dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu, biarlah kita juga bisa memberikan bahasa kasihnya Tuhan lewat tutur kata yang lembut, membangun dan menguatkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya Tuhan memampukan kita semua.
Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia.
Kondisi Jemaat Kristen di Zaman Kaisar Nero
Jemaat saat itu mengalami tekanan yang besar. Kaisar Nero yang terkenal kejam adalah raja yang memerintah dan seringkali mengeluarkan keputusan yang mempersulit orang Kristen. Bahkan ketika ia melakukan tindakan korupsi, ia menjadikan orang Kristen sebagai kambing hitam. Sehingga oleh karenanya banyak orang Kristen yang akhirnya dianiaya karena imannya. Sekalipun demikian, Paulus tetap mendorong jemaat untuk berdoa bagi para pemimpin negara mereka. Paulus meminta jemaat untuk tidak berdoa bagi diri sendiri saja tetapi juga untuk orang lain termasuk raja-raja dan semua pembesar. Sebab hanya Tuhan yang dapat mengubah kekerasan hati para pemimpin dan melindungi mereka dari tekanan yang ada.
Kondisi Bangsa Kita
Hari ini kita berada di Indonesia dengan segala carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah 77 tahun negara kita merdeka. Namun, entah berapa banyak rakyat yang sungguh-sungguh merdeka dari kemiskinan, bebas beribadah, mengenyam pendidikan, dan menikmati kerukunan. Ada begitu banyak kepentingan dari segelintir orang yang ingin meraup kenikmatan dengan cara memecah-belah persatuan bangsa dan bertindak korup dalam berbagai aspek. Kita mungkin sudah lelah dengan berbagai berita bobroknya negeri ini. Namun, di tengah semua itu, pernahkah kita bersyukur untuk hal baik yang masih ada di negeri ini? Pernahkah kita berdoa bagi bangsa Indonesia dalam doa pribadi kita? Sudahkah kita menaikkan permohonan dan doa syafaat bagi pemimpin bangsa ini dan semua jajaran pemerintahan? Sudahkah kita mendoakan mereka yang bertindak jahat agar Tuhan menyadarkan mereka? Ataukah kita lebih sering mengeluh dan mencela tanpa pernah berdoa bagi mereka?
Berdoa Bagi Indonesia
Melalui bagian firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak hanya berdoa bagi diri kita dan orang-orang yang kita kasihi saja. Kita diingatkan juga untuk berdoa bagi orang-orang di sekitar kita termasuk pemimpin negara kita yang duduk dalam pemerintahan. Doakanlah mereka supaya kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka digunakan dengan bertanggung jawab untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Doakan juga supaya mereka yang bertindak jahat dan memecah belah bangsa melalui isu suku, agama dan berbagai hal lainnya disadarkan dari kejahatan mereka. Berdoa agar mereka berbalik dari segala kejahatan mereka dan belajar mencintai bangsa ini dengan benar. Mari kita belajar mengasihi negara di mana kita hidup, bekerja dan berlindung dengan cara mendoakan kesejahteraan dan keamanan bangsa ini.
Oleh: Hana Kristina Purba, M.A, Koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia.
Tahukah kamu?
Tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan dan hari gemar membaca. Jadi Bulan September menjadi bulan yang istimewa untuk perpustakaan. Kegiatan ini adalah sebagai wujud komitmen pemerintah beserta masyarakat Indonesia untuk menggerakkan produktivitas masyarakat, mengembangkan kemampuannya, serta salah satu upaya dalam merealisasikan cita-cita bangsa. Oleh karena itu, perpustakaan Sekolah Athalia juga mendukung komitmen tersebut dengan mengadakan berbagai kegiatan positif untuk meningkatkan kecintaan kepada perpustakaan terlebih lagi untuk meningkatkan minat baca anggota perpustakaan. Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat penting untuk terus dilaksanakan setiap tahunnya.
Fakta menarik seputar perpustakaan Sekolah Athalia:
Sekolah Athalia mempunyai dua jenis perpustakaan:
Perpustakaan anak (bagi siswa TK dan SD) dengan jumlah koleksi sebanyak 11.272
Perpustakaan SMP dan SMA dengan jumlah koleksi sebanyak 17.438.
Ada jadwal kunjungan rutin setiap harinya secara bergiliran mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI di perpustakaan anak.
Pada perpustakaan SMP dan SMA sudah dilengkapi dengan aplikasi pencarian buku secara on-line bernama OPAC sehingga pengunjung lebih mudah menemukan pilihan bukunya.
Nama Pustakawan: – Ibu Diana (perpustakaan anak) – Ibu Mega ( perpustakaan SMP) – Ibu Gusti.(perpustakaan SMA)
Prestasi: akreditasi A untuk perpustakaan SMA
Apa saja yang dilakukan dalam kegiatan ini?
Menuliskan kesan dan harapan untuk perpustakaan Sekolah Athalia pada sebuah kertas, lalu kertas tersebut ditempelkan pada samping rak-rak buku.
Mengikuti kuis berhadiah tentang serba-serbi perpustakaan
Kegiatan “membaca bersuara” (read aloud) di perpustakaan anak.
Apresiasi bagi pengunjung teraktif dalam berkunjung dan meminjam buku.
Disediakan makanan ringan bagi semua pengunjung.
Selamat Hari Kunjung Perpustakaan! Mari gemar membaca….
Pada tanggal 28 Maret 2022 menjadi hari yang paling berkesan bagi Jason Sander. Untuk pertama kalinya dia berasil mendapatkan juara 1 Atletik Lompat Jauh Putra tingkat SMA yang diadakan oleh pemerintah kota Tangerang Selatan. KOSN singkatan dari Kompetisi Olahraga Siswa Nasional, yang setiap tahunnya menggelar kompetisi olahraga mulai dari level SD, SMP, dan SMA. KOSN tahun ini diadakan di SMAN 2 kota Tangerang Selatan.
Semua ini berawal saat Jason mendapatkan informasi dari temannya bahwa ada komunitas olahraga atletik yaitu, lari, lempar, dan lompat. Namun sejak setahun yang lalu Jason lebih tertarik pada lompat jauh. Keberhasilan sebagai peraih juara 1 Atletik Lompat jauh ini tidak mudah untuk diraih begitu saja. Jason harus mengikuti proses latihan kekuatan fisik yang teratur dan terjadwal hampir setiap hari dalam seminggu. Orang tua, teman, pelatih komunitas atletik, dan guru olahraga di SMA Athalia, sebuah sekolah di BSD, Serpong, mendukung Jason untuk terus berlatih meningkatkan performa lompat jauh.
Saat di sekolah, penampilan siswa kelas XI MIPA 1 yang juga hobi bermain basket ini begitu sederhana dan rendah hati. Namun, saat berada di lapangan, Jason begitu gesit dan lincah. Jason juga mengagumi sosok atlet profesional yaitu, Mike Powell, seorang atlet pemegang rekor dunia untuk lompat jauh.
Kedepannya Jason berharap dia dapat terus menekuni cabang olahraga atletik lompat jauh ini. Mari kita dukung dalam doa sehingga anugerah Tuhan terus tercurah bagi Jason Sander. Leap higher for the glory of God, Jason!
Syukur kepada Tuhan atas penyertaan dan pertolongan-Nya bagi komunitas Athalia. Anugerah demi anugerah semata yang kita rasakan, sehingga kita mampu bertahan sampai saat ini.
Selama dua tahun masa pandemi yang berdampak besar di semua bidang kehidupan, baik itu ekonomi maupun pendidikan. Baik siswa maupun orang tua mengalami pergumulan yang tidak mudah.
Memasuki tahun
ketiga pandemi Covid-19 ekonomi mulai bangkit dan dunia pendidikan pun memulai
pembelajaran tatap muka 100%. Ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan untuk
menuju pemulihan.
Mewaspadai Paham-Paham yang Mengancam Iman
Saat ini kita menghadapi situasi dunia yang terus berubah dengan cepat dan tidak menentu. Selain itu juga makin marak paham-paham dunia yang tidak sejalan dengan wawasan dunia Kristen yang mengancam putra-putri kita. Sekolah Athalia, sebuah sekolah yang berlokasi di Serpong ini, menyadari betapa pentingnya membentengi putra-putri kita, supaya visi dan misi Athalia bisa tercapai. Visi Athalia yaitu “Menjadikan Siswa Murid Tuhan” dan misi Athalia “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan bagi-Nya”.
Sekolah dan orang tua perlu bersinergi membentengi mereka demi tercapainya visi dan misi Athalia. Bersyukur kita memiliki Allah yang tidak terbatas yang mampu menjaga putra-putri kita dan komunitas Athalia. Kita perlu bergantung penuh kepada Allah yang tidak terbatas itu di dalam doa, karena kita penuh keterbatasan. Oleh karena itu, Sekolah Athalia memiliki wadah untuk pihak sekolah dan orang tua bisa saling bersinergi, yaitu Parents in Touch (PIT).
Parents In Touch
Melalui PIT sekolah dan orang tua bersatu hati berdoa bagi para siswa dan komunitas Athalia. Di dalam PIT doa-doa dinaikkan berdasarkan pada atribut-atribut Allah, sehingga kita memiliki dasar yang kuat di dalam berdoa. Diharapkan pula para siswa mengenal dan memiliki karakter Allah. PIT juga merupakan salah satu support system di mana orang tua dapat saling berbagi dan mendoakan, sehingga mereka tidak bergumul sendirian.
PIT di tapel 2022/2023 akan dilakukan 100% tatap muka di aula E setiap Rabu pukul 07:30 WIB. Kami mengajak para orang tua untuk bergabung di dalam PIT sebagai bentuk kebergantungan kita kepada Tuhan yang Mahakuasa untuk membentengi putra-putri kita. Kita pun bisa menjadi saksi-saksi Tuhan bagaimana Tuhan berkarya melalui hidup kita di komunitas Athalia, sehingga sesuai dengan arti nama Athalia yaitu Allah ditinggikan.
Melalui PIT,
komunitas Athalia juga bisa belajar saling melayani dan berbagi sebagaimana
mestinya anggota tubuh Kristus untuk saling membangun dan menopang satu dengan
yang lain. Jangan lewatkan PIT ini dan biarlah melalui PIT kita menjadi alat
kemuliaan bagi Tuhan di komunitas Athalia.
Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.
Terlebih memasuki tapel
2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru
yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih
sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap
perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di
setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan
tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema
“Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.
Bertahan di Tengah Perubahan
Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?
Hidup dan Melayani Secara Ilahi
Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?
Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:
– Pancang
Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku
menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa
Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”
Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga,
sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan.
Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu
rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).
Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:
Manusia seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
Sudah berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
Sudah berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?
Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai
komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki
satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi
sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu
“Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif
orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi
berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.
– Pegang
Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai
rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”
Setelah komunitas memiliki fokus yang sama,
yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan,
karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti
sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.
Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa,
perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan
pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.
Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.
Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.
Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.
Setelah
mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi
berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar
memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi
sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap
perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun
menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap
pribadi dan komunitas.