Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Joanne Emmanuel Layar (Siswa Kelas IX Wa)

paskibra sekolah athalia

Perkenalan

Halo! Nama saya Joanne Emmanuel Layar, anggota Paskibra Sekolah Athalia. Ini adalah tahun kedua saya menjadi anggota Paskibra. Sekitar dua tahun lalu saya memutuskan untuk mendaftar. Awalnya saya mendaftar tanpa ekspektasi akan diterima, hanya sekadar ingin mendisiplinkan dan menantang diri dengan hal yang baru. Pada hari seleksi, saya sedikit ragu karena tes-tes yang diberikan sangat berat dan menuntut kekuatan fisik. Namun, puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lewat Paskibra.

Kisah Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Melalui Paskibra, saya dan teman-teman merangkai kisah kami masing-masing. Tentunya cerita yang kami rangkai setiap tahunnya berbeda. Bukan proses yang mudah karena kami harus membagi waktu dan melakukan tanggung jawab sebagai siswa sekaligus anggota Paskibra. Kegiatan ini bukan hanya sekadar berlelah-lelah latihan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga tentang respons kami saat menghadapi rasa lelah tersebut. Ada saat kami merasa kemampuan kami sudah mencapai batas maksimal. Ada saat tidak yakin bahwa memilih untuk menjadi pengibar adalah pilihan yang tepat, bahkan sulit sekali untuk merasakan yang namanya semangat.

Selama latihan banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan, salah satunya yaitu saling mendukung antarteman. Paskibra Athalia memiliki kalimat khas yang berbunyi “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Bila ada satu anggota yang melakukan kesalahan, semua anggota juga akan mendapatkan hukumannya yaitu “satu paket” untuk setiap kesalahan. Satu paket yang dimaksud setara dengan sepuluh kali push up. Hal itu mengajarkan saya bahwa ini bukan tentang siapa yang benar dan yang salah, tetapi tentang seluruh anggota adalah satu tim.

Menghitung sisa-sisa hari latihan yang makin menipis dan hari pengibaran yang makin dekat, banyak perasaan yang bercampur aduk antara khawatir, lelah, bangga, dan bersemangat. Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan. Sabtu, 17 Agustus 2024 merupakan hari yang sangat membanggakan dan mengharukan, tetapi juga menyedihkan. Saya sangat bersyukur dan bangga karena kami berhasil memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas sebagai satu tim. Satu hal yang paling terasa setelah melaksanakan tugas adalah rasa bersyukur karena saya merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Banyak momen tak terulang yang akan saya rindukan, mulai dari berlari menuju lapangan supaya tidak telat latihan, hingga merasakan tulang yang encok sehabis latihan.

Hal yang Bisa Dipetik

Paskibra memproses diri saya untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi. Walaupun sulit untuk dijalani, saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari tim Paskibra yang dapat membanggakan Indonesia. Satu kalimat dari saya untuk tim Paskibra, “Bukan aku, bukan kamu, tapi kita”. Pesan dari saya, jika bukan saat ini, biarkan Tuhan yang menentukan saatnya.

“PaskibraAA! Terima kasih.”

Baca juga: Pengalamanku Sebagai Paskibra

Pengalamanku Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Andreas Stefrans Wijaya – Siswa kelas XII MIPA 1

Andreas Stefrans Wijaya

Halo, namaku Andreas. Aku mau berbagi cerita mengenai pengalamanku saat menjadi anggota Paskibra 2024. Sebenarnya aku sudah berencana untuk mengikuti kegiatan ini semenjak satu tahun yang lalu. Namun, saat itu aku ditunjuk sebagai petugas chapel dan latihan chapel bertabrakan dengan hari seleksi, akhirnya aku memilih chapel. Setelah satu tahun berlalu, aku kembali mendaftarkan diri untuk ikut proses seleksi Paskibra. Mengapa aku mendaftar kembali?

Alasanku Menjadi Paskibra Sekolah Athalia

Sejak dulu aku memiliki fisik yang lemah. Agar mencapai fisik yang lebih baik, tentu aku harus mulai berolahraga. Namun, aku malas untuk memulainya. Oleh karena itu motivasi utamaku bergabung di Paskibra adalah untuk memaksakan diri berolahraga. Aku melihat kegiatan Paskibra sangat identik dengan latihan fisik. “Salah sedikit push up, kurang disiplin push up, intinya sedikit-sedikit push up”. Aku berpikir, jika aku bergabung di sini, mau tidak mau aku harus ikut latihan fisik. Hasilnya tentu akan berbeda jika aku berolahraga sendirian, kalau sedang malas bisa skip latihan. Setelah melewati seleksi, namaku tidak tertulis di lembaran daftar anggota yang diterima. Namun, seminggu kemudian pelatih Paskibra mengajakku untuk bergabung. Ternyata awalnya aku dipilih sebagai cadangan, tetapi karena ada beberapa siswa yang mengundurkan diri akhirnya aku diterima sebagai anggota inti.

Aku ingat sekali latihan pertama dilakukan di bulan Juli setelah liburan sekolah yang panjang. Awalnya badanku kaget merespons hasil latihan. Otot-otot terasa kaku sampai-sampai penglihatanku menjadi gelap. Tidak hanya aku yang mengalami, beberapa teman pun merasakan hal yang sama. Latihan demi latihan kujalani setiap hari. Terkadang aku merasa lelah, tetapi dengan anugerah Tuhan serta niat untuk mendapatkan fisik yang kuat, aku tetap bertahan. Jujur kukatakan, kekuatan fisikku sekarang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Hal yang Paling Berkesan

Ada hal berkesan yang paling aku ingat selama menjalani proses latihan. Saat kami sedang belajar baris-berbaris, Pak Iwan berkata, “Jawablah seakan-akan besok kamu mati, maka kamu akan menjawab secara tulus”. Kalimat ini diucapkan ketika kami dalam posisi istirahat. Ia mengkritik jawaban “Siap!” dari kami yang terdengar kurang tegas. Mungkin teman-teman yang lain hanya menangkap poin “menjawab dengan tulus dan tegas”. Namun, perkataan itu mengingatkanku akan frasa latin “memento mori” yang telah lama kujadikan sebagai deskripsi (about) WhatsApp. Kalimat “seakan besok kamu mati” adalah sesuatu yang spesial karena sebagai manusia kita tidak tahu kapan kita akan mati. Mungkin saja besok atau mungkin satu detik kemudian, tidak ada yang benar-benar tahu. Renungan ini membuat aku menjadi lebih bersyukur akan anugerah dan kesempatan yang Allah berikan untuk bertobat.

Kita diberikan anugerah dan dibebaskan dari dosa, jadi kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah seperti yang tertulis dalam Alkitab. Gunakanlah kesempatan yang diberikan Allah untuk membantu sesama, menolong yang membutuhkan, dan berkontribusi bagi bangsa demi memuliakan nama Tuhan.

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti, Amen.

Pakibra HUT RI 2024

Baca juga: Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Perjalanan Remaja Mencari Identitas Diri

Anita Latifia-Konselor SMP

Proses Pencarian Identitas Diri

Setiap individu akan mengalami berbagai fase perkembangan dalam hidupnya. Fase remaja merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam proses pencarian identitas diri. Meskipun hal ini merupakan proses seumur hidup yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Namun, masa remaja adalah masa yang sangat signifikan. Menurut Santrock, hal yang penting dari perkembangan identitas diri pada masa remaja, terutama remaja akhir, adalah bahwa untuk pertama kalinya, perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional sang remaja berkembang ke titik di mana ia dapat memilah, memadukan identitas, dan mengenali masa kanak-kanaknya, untuk membangun jalan yang sepantasnya menuju kedewasaan (Santrock, 2010).

Empat Status Identitas Diri

Menurut Santrock, identitas merupakan potret diri seseorang yang terdiri dari banyak bagian, diantaranya keyakinan spiritual; karier yang ditempuh; kepribadian; citra tubuh (body image); minat; suku bangsa/etnis dan lainnya. Dalam proses pembentukan identitas ini, remaja akan melakukan eksplorasi untuk menemukan pilihan mana yang paling sesuai dan nyaman buat dirinya, serta komitmen terhadap pilihannya. Santrock mengatakan bahwa Marcia mengelompokkan identitas individu ke dalam empat status berdasarkan ada tidaknya proses eksplorasi (krisis) serta komitmen yang diambil. Keempat status identitas tersebut adalah:


Identity Diffusion

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi dan belum mengambil komitmen atas pilihannya. Kemungkinan individu pada status ini belum tertarik akan pencarian identitas tersebut.


Identity Foreclosure

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi, tetapi sudah berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini sering kali terjadi oleh karena pilihan orang tua atau figur lain ditambah individu malas untuk melakukan eksplorasi terhadap alternatif-alternatif pilihan lainnya.


Identity Moratorium

Status pada individu yang tengah melakukan eksplorasi, tetapi belum juga berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini membuat individu tersebut kurang teguh pada pilihannya dan mudah goyah jika terdapat alternatif lain yang baru dieksplor.


Identity Achievement

Status pada individu yang telah melakukan eksplorasi dan membuat komitmen terhadap pilihannya.

Usulan Bagi Orang Tua dalam Menemani Remaja Mencari Identitas Diri

Perjalanan pencarian jati diri ini bukan hal yang mudah untuk dilalui oleh setiap remaja. Pendampingan dan dukungan yang tepat dari orang tua merupakan hal yang sangat dibutuhkan para remaja dalam menjalani proses ini. Berikut ini merupakan beberapa usulan yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam menemani perjalanan anak-anak remaja mereka:

  • Menyadari bahwa ini merupakan perjalanan sang anak bersama dengan Tuhan dalam menemukan identitas seperti yang Dia inginkan.
  • Memberikan dukungan moral dan spiritual berdasarkan prinsip-prinsip iman Kristen yang baik, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja untuk berani melakukan eksplorasi diri.
  • Membantu dalam mengevaluasi hasil eksplorasi yang telah dilakukan anaknya dengan memberikan pertimbangan yang sesuai dengan pengenalan orang tua terhadap sang anak.

Melalui artikel singkat ini, kiranya orang tua bisa lebih memahami proses pencarian identitas pada remaja serta serius dalam mendampingi mereka dalam perjalanan ini.

identitas diri

Referensi:

Santrock, John W. (2010). Life-span Development (thirteenth edition). The McGraw-Hill Companies.

“Siapakah Aku?” Krisis Identitas yang Biasa Dialami Remaja. Yogyakarta: Center for Life-span Development, 2024. Diambil dari: https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/2024/05/04/siapakah-aku-krisis-identitas-yang-biasa-dialami-remaja/

Baca juga: Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

TUHAN BERJALAN BERSAMA KITA

TUHAN BERJALAN BERSAMA KITA

Lili Irene-Plt. Kabag. PK3

…Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau atau melalui sungai-sungai engkau tidak akan dihanyutkan, apabila engkau berjalan melalui api engkau tidak akan dihanguskan dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah Tuhan, Allahmu…”
(Yesaya 43:1-3)

Puji syukur kepada Tuhan yang telah menyertai perjalanan kita di tahun ajaran lalu dan terus mengimani bahwa Tuhan yang sama juga akan bersama kita di tahun ajaran 2024/2025 ini. Tuhan yang memimpin secara khusus perjalanan yayasan Athalia Kilang menuju 30 tahun ini adalah berkat yang luar biasa. Komunitas Athalia tidak akan berjalan sendirian karena ada Tuhan yang luar biasa yang akan menuntun perjalanan kita.

Mengawali tahun ajaran ini dengan firman Tuhan dalam Yesaya 43:1-3 yang memberi penguatan kepada kita untuk tidak takut. Perasaan takut pasti pernah menghampiri setiap orang. Ketakutan akan masa depan anak-anak kita, sakit-penyakit, kehilangan orang terkasih, masalah keuangan, kesepian, relasi, ketidakmampuan dalam bekerja dan masih banyak ketakutan lainnya baik secara pribadi maupun lembaga.

Mari Kita Renungkan

Mari ambil waktu sejenak merenungkan bagian ini ketika Tuhan mengatakan, ”Jangan takut.”

Pertama, Tuhan mengenal kita secara pribadi, bahkan ia tahu nama kita masing-masing. Betapa sukacitanya ketika mendengar Tuhan berkata,”Lili… (bisa menyebut nama kita sendiri) jangan takut karena Aku berjalan bersamamu. Engkau kepunyaan-Ku…”. Ini perasaan yang tentunya sangat mengharukan. Tuhan mengatakan bahwa kita kepunyaan-Nya dan menenangkan bahwa kita tidak sendiri. Namun, ada Tuhan di samping kita yang berjalan setiap saat.

Kedua, Tuhan dengan jelas menyebutkan bahwa Ia akan menyertai kita. Ketika kita harus menyeberang air atau melalui sungai kita tidak akan hanyut, bahkan ketika harus melewati api sekalipun kita tidak akan hangus. Ini artinya dalam kondisi tersulit dan kritis sekalipun Tuhan ada di samping kita menemani dan berjalan bersama untuk melewati semua itu. Ketika harus kehilangan anak dalam kandungan dengan jelas saya merasakan kehadiran Tuhan, bahkan memeluk saya ketika dalam ruang operasi. Perasaan sedih berganti dengan kekuatan luar biasa karena Tuhan tidak meninggalkan saya sendirian. Ia menemani, menghibur, dan mendampingi saya melewati masa kelam dan sedih ini. Tuhan hadir secara pribadi bagi setiap kita.

Ketiga, Tuhan adalah Allah kita. Perjalanan yang kita lalui di dunia ini tidak kita jalani sendirian karena Tuhan adalah Allah kita yang luar biasa. Pertanyaannya adalah, apakah kita menjalani ziarah iman kita di dunia ini dengan berserah dan bergantung penuh kepada Tuhan Allah kita atau apakah perjalanan ini masih kita lalui sendirian saja. Henri Nouwen, dalam bukunya Mere Spirituality berkata “Attentivenes helps us look fully at God. To invite God in more completely. It leads us into the depths of God’s healing mercies”. Perlunya mengarahkan perhatian kita dengan memandang kepada Tuhan Allah. Serta mengundang Tuhan masuk secara penuh dalam hidup kita. Mengundang Ia berjalan bersama dan menikmati kemurahan Tuhan Allah kita. Inilah iman kita.

Komitmen

Sebagai komitmen, yang bisa kita lakukan untuk komunitas ini adalah saling mendoakan secara pribadi, mendampingi yang membutuhkan, dan menguatkan mereka dalam setiap pergumulan yang dihadapi untuk tidak takut karena ada Tuhan Allah. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melewati setiap musim kehidupan. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia.

Baca juga: Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Sylvia Tiono Gunawan-Staf Kerohanian PK3

Bumi memiliki enam musim yang siklus pergantian atau pembagiannya setiap beberapa bulan sekali. Enam musim tersebut dibagi lagi menjadi dua musim di daerah iklim tropis dan empat musim di daerah iklim subtropis. Dengan kata lain, ada negara yang hanya merasakan dua musim saja, salah satunya adalah Indonesia yang memiliki musim kemarau dan musim hujan. Musim yang ada di bumi juga memiliki pengaruh yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya (https://gramedia.com/literasi/musim/).

Musim Kehidupan yang Terus Berganti

Apa yang terjadi jika sepanjang tahun hanya ada satu musim? Tentu berbagai tanaman dan satwa tidak dapat bertahan hidup, bahkan manusia juga akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Beberapa tanaman hanya dapat tumbuh dengan suhu tertentu di musim tertentu, demikian juga beberapa satwa. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap musim yang ada membawa kebaikan dan memiliki manfaat masing-masing. Musim-musim itu berganti di sepanjang tahunnya untuk menolong setiap makhluk hidup yang ada di bumi ini tetap terpelihara. Inilah salah satu bukti karya Tuhan yang luar biasa. Tuhan bukan hanya menciptakan bumi dan segala isinya, Ia juga menyediakan apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya agar tetap terpelihara dengan baik.

Sama seperti musim yang berganti demikian juga kehidupan kita. Kehidupan adalah suatu hal yang dinamis, terus bergerak, dari hari ke hari tidak selalu sama. Apa yang kita hadapi hari ini, belum tentu kita hadapi esok hari. Kesulitan yang kita pikul hari ini belum tentu kita pikul di momen berikutnya. Tawa kita di hari ini bisa berganti duka di waktu yang lain. Pengkhotbah 3:1 mengatakan “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. Pahami dan ingatlah bahwa Tuhan kita tidak pernah berubah. Kasih setia Tuhan tetap sama baik dulu, sekarang maupun yang akan datang.

Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya

Ayat 11 mengatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Sayangnya, manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir sehingga di saat tertentu dalam kehidupan, kita merasa Tuhan tidak mengasihi dan memedulikan kita.

Seorang penulis Kristen bernama Joyce Meyer pernah berkata beberapa momen kehidupan memang kadang kala bisa terasa sangat berat, tetapi jika kita hanya menemukan kegembiraan di musim-musim tertentu, kita kehilangan hal terbaik dari Tuhan di musim-musim lainnya. Tuhan mau kita menemukan sukacita di setiap momen hidup kita karena itu biarkan Tuhan memproses kita dalam tiap musim kehidupan yang kita lewati supaya kita bertumbuh makin kuat dan indah di hadapan Tuhan.

Tuhan Selalu Hadir

Suka duka bisa datang silih berganti. Namun, dalam kesemuanya itu Tuhan selalu hadir, Ia tidak pernah meninggalkan kita dan mau kita terus mengingat-Nya. Ayat 14 mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. Dalam menyadari keterbatasan kita, mari belajar terus bergantung kepada Tuhan pada setiap musim kehidupan kita.

Baca juga: Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Lili Irene-Plt. Kabag PK3

Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Mazmur 139:16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”.

Segala Sesuatu Ada Waktunya

Pernahkah kita merasa dalam kehidupan ini seolah-olah kesulitan menimpa kita terus-menerus? Atau kita mengalami sukacita secara beruntun? Jika kesulitan atau kesedihan seakan tiada akhir tentu saja ini melelahkan kita. Setiap orang pasti mengharapkan hidupnya selalu dipenuhi oleh sukacita. Namun, hidup tidak berjalan demikian. Setiap orang memiliki perjalanannya masing-masing. Jika kita melihat dalam konteks hidup di Indonesia, ada musim hujan dan kemarau. Hujan tidak selalu terus-menerus tanpa henti atau kemarau panjang tanpa akhir. Di balik hujan ada pelangi dan di balik kemarau ada Tuhan yang berkuasa atas alam. Segala sesuatu ada waktunya.

Tuhan Selalu Ada

Mazmur 139: 16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”. Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan ada dalam setiap perjalanan hidup kita bahkan sejak kita masih di dalam kandungan. Betapa istimewanya kita sehingga Ia mengingat dan menjaga kita dari awal hidup kita, bahkan sampai masa tua pun Tuhan tetap menggendong kita. Yesaya 46:4, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus, Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” Pada akhir perjalanan kita di dunia ini nantinya, Tuhan pun tidak pernah melepaskan tangan kita. Ia selalu ada untuk kita.

Janji Tuhan

Apakah pergumulan dan kesulitan yang sedang kita alami saat ini sehingga membuat kita merasa sesak, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Tuhan yang hadir ketika kita masih bakal anak, Ia pun akan selalu hadir dalam setiap pergumulan dan kesulitan yang kita alami. Tentu tidak mudah melewati semua pergumulan sakit penyakit, pekerjaan, kebutuhan hidup, persoalan keluarga, dan sebagainya. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri melewati semua ini. Tuhan ada di dalam setiap musim yang kita lewati. Ia memelihara hidup kita. Kasihnya memeluk kita dengan penuh kelembutan dan berkata,”Anak-Ku, Aku ada di sini untukmu. Tetaplah kuat, Aku akan berjalan bersamamu”.

Mari ambil waktu sejenak untuk merenungkan lagu berikut ini,
“Semusim berlalu namun Kau s’lalu p’liharaku.
Kasih dan setia-Mu tak pernah layu di hidupku.
Lebih luas dari samudra Kebaikan-Mu Bapa tak kan habis di hidupku.
Lebih tinggi dari cakrawala tak terbatas kasih-Mu sungguh kubersyukur”
. (https://bit.ly/4aBKCkS)

Setiap musim atau kondisi apapun yang kita alami Tuhan ada di sana menemani kita. Tuhan mengasihi kita semua. Tetaplah semangat!

Baca juga: Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Dua Hari Puisi di Indonesia

Dua Hari Puisi di Indonesia

Wenny Primandari-Pengajar Bahasa Indonesia SMP

Pernahkah di antara kita merayakan Hari Puisi? Atau barangkali ada yang baru mendengar hari nasional satu ini. Tidak dapat dipungkiri, Hari Puisi memang cukup asing di telinga kita, tapi bukan berarti tidak ada, ya. Hari nasional tersebut sering dirayakan oleh komunitas tertentu saja. Namun, ada baiknya jika kita mengetahuinya juga. Nah, ada yang tahu, kapan diperingatinya?

Kapan Diperingati?

Hari Puisi di Indonesia sangat istimewa karena diperingati dua kali dalam setahun. Ya, Hari Puisi di Indonesia diperingati pada 28 April dan 26 Juli. Yang pertama, Hari Puisi Indonesia dideklarasikan di Pekanbaru, Riau pada 15 November 2012 yang diwakili waktu itu oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri mengatasnamakan para penyair Indonesia yang datang dari berbagai daerah. “Deklarasi Hari Puisi Indonesia” tersebut ditandatangani oleh 30 penyair dari Aceh sampai Papua. Tanggal Hari Puisi Indonesia yang dimaksud adalah 26 Juli yang merupakan tanggal lahir “Si Binatang Jalang”, yakni Chairil Anwar.


Yang kedua, Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April merujuk pada tanggal meninggalnya Chairil Anwar pada 28 April 1949 yang dikebumikan di pemakaman Karet yang sekarang disebut Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta. Chairil Anwar merupakan sastrawan dan penyair pelopor Angkatan ‘45 yang dikenal dan dicatat sebagai penyair yang berpengaruh bagi perkembangan sastra Indonesia.

Apa Maksud Peringatan Hari Puisi?

Peringatan Hari Puisi Indonesia dimaksudkan untuk menghargai serta merayakan keindahan puisi dan mendorong setiap kita untuk mengeksplorasi kreativitas dalam menulis puisi atau menikmati puisi sebagai bentuk seni yang indah. Puisi juga memegang peranan penting dalam kebudayaan manusia karena mampu menginspirasi, merangsang, dan memberikan wawasan baru pada pembacanya.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Jadi, dapat disimpulkan puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang dituangkan dalam tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah serta mengandung makna mendalam.


Puisi merupakan salah satu cara manusia mengungkapkan pikiran, emosi, ide, gagasan, dan perasaan yang sedang dialami ke dalam untaian kalimat-kalimat yang indah dan penuh makna. Siapa pun dapat menulis puisi. Puisi masa kini tidak lagi terjebak ke dalam syarat dan aturan-aturan tertentu, di antaranya satu bait harus terdiri dari empat baris, dalam satu baris memiliki 8 sampai 12 suku kata, sajaknya harus a-a-a-a, dan lain sebagainya. Puisi saat ini lebih dinamis dan fleksibel.


Mari kita perhatikan salah satu contoh puisi paling singkat yang dibuat oleh Sitor Situmorang berikut:

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

Puisi tersebut hanya memiliki satu baris kalimat yang sarat makna. Cukup singkat, bukan? Setiap puisi akan memiliki interpretasi yang berbeda bagi setiap orang yang membacanya. Hal tersebut sangat wajar karena setiap pribadi memiliki latar belakang pengetahuan dan pemahaman masing-masing. Jadi, mari berpuisi untuk sekadar mencurahkan isi hati. Mengikuti aturan tentu boleh, tetapi jangan terjebak di dalam aturan-aturan pembuatan yang membuat kita merasa bahwa berpuisi itu terlalu sulit. Ungkapkan saja perasaan kita ke dalam baris-baris kalimat. Selamat berpuisi.

(sumber: https://kakibukit.republika.co.id/posts/212724/hari-puisi-di-indonesia-ada-dua-28-april-26-juli)

Baca juga: Suluh Literasi di Athalia

Anugerah Tuhan

Anugerah Tuhan

Willa Nikki Aleta-Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Hai, salam kenal! Namaku, Willa Nikki Aleta, alumni SMA Athalia tahun 2023, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini, aku tengah menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi. Sungguh perjalanan yang panjang untuk aku sampai di titik ini, dan tentunya perjalanan tersebut masih belum usai. Perjalanan itu bermula dari aku menjejakkan kaki di SMA Athalia, perjalanan yang mengubah hidupku. Sedikit cerita, sejak masuk SMA, jujur aku sangat “clueless”, tidak tahu mau jadi apa saat lulus serta tidak tahu potensi dan kelebihan diri. Di saat teman-temanku yang nampaknya sudah memiliki segudang bakat, aku masih di fase bertanya-tanya.

Merasakan Anugerah Tuhan

Bersyukur Tuhan menempatkan aku di SMA Athalia karena aku sungguh merasakan adanya bimbingan dan arahan untuk mencari potensi diri. Aku ingat sekali momen yang mengubah hidupku. Kala itu pembelajaran daring dan mata pelajaran Bahasa Indonesia mengharuskan kami untuk membacakan sebuah puisi. Saat itu Bu Merry melihat adanya potensi dalam diriku. Tanpa ragu beliau mendorong aku untuk menjadi perwakilan SMA Athalia dalam lomba membaca puisi.
Di tengah ketidakpercayaan diriku, para pengajar Bahasa Indonesia pada saat itu terus meyakinkan diriku bahwa aku bisa, tentunya dengan segala nasehat dan perbaikan. Sejak saat itu, jujur saja, rasa kepercayaan diriku meningkat drastis. Aku jadi lebih berani mencoba hal-hal baru. Aku juga didorong untuk mengikuti lomba public speaking, hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya karena aku selalu berpikir bahwa diriku “demam panggung”.


Sungguh rencana dan anugerah Tuhan selalu tepat pada waktunya. Momen-momen yang membentuk diriku itu membuatku jadi paham akan potensi diriku dalam public speaking, sastra, hingga dalam kemampuan bersosialisasi. Hingga akhirnya, aku memiliki tujuan setelah lulus SMA dan di sinilah aku berada, di tanah Malang, berlabuh pada Jurusan Ilmu Komunikasi. Jika kembali dipikirkan, aku selalu mensyukuri momen-momen tersebut yang sudah membentuk diriku. Segala puji syukur dan kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Baca juga: Semua karena Kasih Karunia Allah

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL

mengucap syukur dalam segala hal

Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah
di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
(1 Tesalonika 5:18)

Mungkin beberapa kalimat berikut ini sering kita dengar atau bahkan kadangkala kita sendiri yang mengucapkan:

“Aduh, mengapa setiap pagi harus hujan sih bukan siang saja, aku jadi kesulitan untuk pergi bekerja dan mengantar anak ke sekolah.”
“Nih, jalan setiap hari macet bikin kesel.”
“Susah sekali mengurus anak yang tidak mau mendengarkan orang tua dan guru.”
“Sebel banget sih, orang tuaku sulit sekali mengerti apa yang aku mau.”
“Ini pasanganku tidak mau peduli dengan urusan anak, padahal aku sedang capek.”

Silakan lanjutkan sendiri dengan jujur apa yang sering kita keluhkan setiap hari, tentu ada saja, bukan? Setiap orang punya masalah, keluh kesah, dan kekesalannya sendiri. Tergantung pada kita memilih untuk mensyukuri apa yang sedang terjadi sebagai sebuah proses kehidupan atau kita memilih untuk terus hidup dalam gerutu sehingga kita sulit menikmati hidup dan relasi intim kita dengan Tuhan.

Tentang Perayaan Mengucap Syukur

Mengucap syukur dalam segala hal adalah kehendak Allah bagi kita semua. Tampaknya mudah untuk dilakukan. Namun, pada kenyataannya tidaklah demikian, bukan? Ada kondisi yang membuat kita senang atau menyenangkan baru kita mudah mengucap syukur, dan pada kondisi ketika kita bersedih atau mengalami sesuatu yang tidak menguntungkan maka tidaklah mudah bagi kita untuk mengucap syukur.

Berkaitan dengan hal mengucap syukur, pernahkah Anda mendengar tentang Thanksgiving Day? Yaitu hari libur yang dirayakan masyarakat Amerika Serikat setiap tahun, pada hari Kamis keempat bulan November. Pada hari itu orang Amerika berkumpul, mengadakan pesta dan makan bersama keluarga. Tidak hanya di Amerika Serikat, di Indonesia tepatnya di Minahasa juga terdapat tradisi yang serupa dengan Thanksgiving Day. Tradisi ini disebut “Hari Pengucapan” yang diadakan untuk mengucap syukur saat akhir musim panen, yakni di bulan Juli-Oktober. Thanksgiving Day dan Hari Pengucapan yang dirayakan setahun sekali ini memiliki tujuan yang sama yaitu, mengingatkan kita bahwa kehadiran Tuhan dan keluarga adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang harus kita syukuri.

Bersyukur Kunci Kebahagiaan

Sebagai orang percaya kita diingatkan firman Tuhan untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal. Itu artinya dalam segala kondisi dan keadaan kita terus mengucap syukur. Bersyukurlah jika anggota tubuh kita terasa sakit, artinya diingatkan bahwa kita masih memiliki anggota tubuh yang Tuhan berikan, jika hujan turun, sehingga tidak terjadi kekeringan, untuk anak-anak yang belum bisa mendengarkan kita saat ini, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mendidik mereka, atau untuk orang tua yang belum mengerti kita, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mengasihi dan mendoakan mereka.

Jika kita melatih pikiran dan hati kita setiap hari untuk bersyukur atas setiap anugerah dan kasih Tuhan dalam hidup kita, atas apa yang kita miliki dan tidak kita miliki, hal-hal yang terjadi baik itu suka maupun duka, maka hidup kita akan penuh dengan sukacita dan kebahagiaan. Jadi, kebahagian datang karena kita terus dibentuk menjadi pribadi yang penuh syukur. Bersyukur dalam segala hal dan keadaan. Kiranya Tuhan memampukan Komunitas Athalia baik kita sebagai pemimpin, pendidik, staf, orang tua, maupun siswa memiliki karakter yang terus bersyukur. Tuhan berjalan dengan kita setiap hari dan menggandeng tangan kita dalam segala keadaan. Puji Tuhan!

Baca juga: Sukacita di Tengah Badai: Bagaimana Tetap Bersyukur?

Iman dan Tindakan

Iman dan Tindakan

Oleh : Lili Irene-Plt. Kabag PK3

Fakta bahwa Yesus sudah mati dan bangkit bukanlah isapan jempol belaka. Kabar ini diberitakan sendiri oleh malaikat Tuhan. Matius 28:5-6 mengatakan, “Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.”

Iman yang Tumbuh Melalui Penyelidikan

Lee Patrick Strobel yang lahir pada tahun 1952 adalah seorang ateis. Ia menyelidiki tentang Yesus dan tidak mempercayai kematian dan kebangkitan-Nya. Setelah melakukan penelitian dan menyelidiki tentang hal tersebut, justru membawa ia menjadi orang Kristen dan mengimani kebenaran tentang Yesus. Ia membuktikan imannya dengan menjadi penulis buku apologetik. Melalui buku-bukunya, ia dapat membawa orang-orang yang meragukan iman kepada Yesus dan membuktikan bahwa apa yang dikatakan dalam Alkitab adalah benar serta memiliki bukti yang akurat. Selain itu, ia juga hidup melayani sebagai seorang hamba Tuhan dengan menggembalakan orang-orang yang sedang mencari Tuhan.

Iman dan Tindakan

Setelah Yesus bangkit, Ia menampakkan diri-Nya kepada Simon Petrus. Perintah Yesus kepada Simon Petrus yang sudah menyaksikan kebangkitan-Nya adalah pergi untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Iman harus diiringi dengan tindakan nyata. Strobel membuktikan bahwa apa yang ia imani perlu dibagikan kepada orang yang memiliki keraguan yang sama dengannya tentang Yesus. Ia juga melakukan tindakan nyata dengan melayani orang-orang yang membutuhkan, baik dalam pengajaran maupun pelayanan. Simon Petrus bangkit dari kesedihannya setelah melihat dan menyaksikan Yesus sudah bangkit dengan membuktikan imannya melalui tindakan melayani Dia sampai mati.

Apakah Iman Kita juga Terwujud dalam Tindakan Nyata?

Berikut ada beberapa hal yang perlu kita renungkan sebagai bukti bahwa kita hidup beriman dan memiliki tindak nyata:

  1. Menjawab dan membuktikan iman yang kita percayai. Setiap orang yang mengaku percaya kepada Yesus harusnya bisa menjawab ketika ada yang bertanya, “Mengapa kita percaya Yesus mati dan bangkit?” Oleh karena itu, kita harus terus belajar apologetika (ilmu mengenai pembelaan iman kristen). Bukan berarti kita harus belajar ke sekolah teologi, tapi kita semua termasuk anak-anak bisa belajar di sekolah minggu, ibadah di gereja, Pemahaman Alkitab (PA), dan seminar/pembinaan iman. Jadi, kita beriman bukan sekadar ikut-ikutan, tapi karena sungguh-sungguh memahami apa yang kita percayai.
  2. Membuktikan iman kita dengan tindakan nyata. Yakobus 2:14-17 mengatakan bahwa iman dan perbuatan (tindakan nyata) harus berjalan bersama. Bukan perbuatan tanpa iman, sebaliknya yang benar adalah iman yang disertai perbuatan. Orang yang beriman kepada Yesus akan membuahkan perbuatan atau tindakan nyata yang lahir dari kasih akan Allah kepada orang-orang di sekitarnya. Yakobus 2:15-17, “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.”
  3. Melayani serta memberitakan kasih Tuhan melalui perkataan dan perbuatan dalam keseharian hidup kita, sehingga orang lain bisa melihat karakter Kristus yang terus bertumbuh dalam hidup kita.

Mari merayakan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus dengan terus berpegang teguh pada iman dan terus melakukan tindakan nyata yang lahir dari kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Selamat Paskah. Tuhan beserta kita.

Baca juga: Melangkah Dengan Iman