Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Sylvia Tiono Gunawan-Staf Kerohanian PK3

Bumi memiliki enam musim yang siklus pergantian atau pembagiannya setiap beberapa bulan sekali. Enam musim tersebut dibagi lagi menjadi dua musim di daerah iklim tropis dan empat musim di daerah iklim subtropis. Dengan kata lain, ada negara yang hanya merasakan dua musim saja, salah satunya adalah Indonesia yang memiliki musim kemarau dan musim hujan. Musim yang ada di bumi juga memiliki pengaruh yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya (https://gramedia.com/literasi/musim/).

Musim Kehidupan yang Terus Berganti

Apa yang terjadi jika sepanjang tahun hanya ada satu musim? Tentu berbagai tanaman dan satwa tidak dapat bertahan hidup, bahkan manusia juga akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Beberapa tanaman hanya dapat tumbuh dengan suhu tertentu di musim tertentu, demikian juga beberapa satwa. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap musim yang ada membawa kebaikan dan memiliki manfaat masing-masing. Musim-musim itu berganti di sepanjang tahunnya untuk menolong setiap makhluk hidup yang ada di bumi ini tetap terpelihara. Inilah salah satu bukti karya Tuhan yang luar biasa. Tuhan bukan hanya menciptakan bumi dan segala isinya, Ia juga menyediakan apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya agar tetap terpelihara dengan baik.

Sama seperti musim yang berganti demikian juga kehidupan kita. Kehidupan adalah suatu hal yang dinamis, terus bergerak, dari hari ke hari tidak selalu sama. Apa yang kita hadapi hari ini, belum tentu kita hadapi esok hari. Kesulitan yang kita pikul hari ini belum tentu kita pikul di momen berikutnya. Tawa kita di hari ini bisa berganti duka di waktu yang lain. Pengkhotbah 3:1 mengatakan “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. Pahami dan ingatlah bahwa Tuhan kita tidak pernah berubah. Kasih setia Tuhan tetap sama baik dulu, sekarang maupun yang akan datang.

Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya

Ayat 11 mengatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Sayangnya, manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir sehingga di saat tertentu dalam kehidupan, kita merasa Tuhan tidak mengasihi dan memedulikan kita.

Seorang penulis Kristen bernama Joyce Meyer pernah berkata beberapa momen kehidupan memang kadang kala bisa terasa sangat berat, tetapi jika kita hanya menemukan kegembiraan di musim-musim tertentu, kita kehilangan hal terbaik dari Tuhan di musim-musim lainnya. Tuhan mau kita menemukan sukacita di setiap momen hidup kita karena itu biarkan Tuhan memproses kita dalam tiap musim kehidupan yang kita lewati supaya kita bertumbuh makin kuat dan indah di hadapan Tuhan.

Tuhan Selalu Hadir

Suka duka bisa datang silih berganti. Namun, dalam kesemuanya itu Tuhan selalu hadir, Ia tidak pernah meninggalkan kita dan mau kita terus mengingat-Nya. Ayat 14 mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. Dalam menyadari keterbatasan kita, mari belajar terus bergantung kepada Tuhan pada setiap musim kehidupan kita.

Baca juga: Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Lili Irene-Plt. Kabag PK3

Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Mazmur 139:16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”.

Segala Sesuatu Ada Waktunya

Pernahkah kita merasa dalam kehidupan ini seolah-olah kesulitan menimpa kita terus-menerus? Atau kita mengalami sukacita secara beruntun? Jika kesulitan atau kesedihan seakan tiada akhir tentu saja ini melelahkan kita. Setiap orang pasti mengharapkan hidupnya selalu dipenuhi oleh sukacita. Namun, hidup tidak berjalan demikian. Setiap orang memiliki perjalanannya masing-masing. Jika kita melihat dalam konteks hidup di Indonesia, ada musim hujan dan kemarau. Hujan tidak selalu terus-menerus tanpa henti atau kemarau panjang tanpa akhir. Di balik hujan ada pelangi dan di balik kemarau ada Tuhan yang berkuasa atas alam. Segala sesuatu ada waktunya.

Tuhan Selalu Ada

Mazmur 139: 16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”. Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan ada dalam setiap perjalanan hidup kita bahkan sejak kita masih di dalam kandungan. Betapa istimewanya kita sehingga Ia mengingat dan menjaga kita dari awal hidup kita, bahkan sampai masa tua pun Tuhan tetap menggendong kita. Yesaya 46:4, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus, Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” Pada akhir perjalanan kita di dunia ini nantinya, Tuhan pun tidak pernah melepaskan tangan kita. Ia selalu ada untuk kita.

Janji Tuhan

Apakah pergumulan dan kesulitan yang sedang kita alami saat ini sehingga membuat kita merasa sesak, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Tuhan yang hadir ketika kita masih bakal anak, Ia pun akan selalu hadir dalam setiap pergumulan dan kesulitan yang kita alami. Tentu tidak mudah melewati semua pergumulan sakit penyakit, pekerjaan, kebutuhan hidup, persoalan keluarga, dan sebagainya. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri melewati semua ini. Tuhan ada di dalam setiap musim yang kita lewati. Ia memelihara hidup kita. Kasihnya memeluk kita dengan penuh kelembutan dan berkata,”Anak-Ku, Aku ada di sini untukmu. Tetaplah kuat, Aku akan berjalan bersamamu”.

Mari ambil waktu sejenak untuk merenungkan lagu berikut ini,
“Semusim berlalu namun Kau s’lalu p’liharaku.
Kasih dan setia-Mu tak pernah layu di hidupku.
Lebih luas dari samudra Kebaikan-Mu Bapa tak kan habis di hidupku.
Lebih tinggi dari cakrawala tak terbatas kasih-Mu sungguh kubersyukur”
. (https://bit.ly/4aBKCkS)

Setiap musim atau kondisi apapun yang kita alami Tuhan ada di sana menemani kita. Tuhan mengasihi kita semua. Tetaplah semangat!

Baca juga: Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Dua Hari Puisi di Indonesia

Dua Hari Puisi di Indonesia

Wenny Primandari-Pengajar Bahasa Indonesia SMP

Pernahkah di antara kita merayakan Hari Puisi? Atau barangkali ada yang baru mendengar hari nasional satu ini. Tidak dapat dipungkiri, Hari Puisi memang cukup asing di telinga kita, tapi bukan berarti tidak ada, ya. Hari nasional tersebut sering dirayakan oleh komunitas tertentu saja. Namun, ada baiknya jika kita mengetahuinya juga. Nah, ada yang tahu, kapan diperingatinya?

Kapan Diperingati?

Hari Puisi di Indonesia sangat istimewa karena diperingati dua kali dalam setahun. Ya, Hari Puisi di Indonesia diperingati pada 28 April dan 26 Juli. Yang pertama, Hari Puisi Indonesia dideklarasikan di Pekanbaru, Riau pada 15 November 2012 yang diwakili waktu itu oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri mengatasnamakan para penyair Indonesia yang datang dari berbagai daerah. “Deklarasi Hari Puisi Indonesia” tersebut ditandatangani oleh 30 penyair dari Aceh sampai Papua. Tanggal Hari Puisi Indonesia yang dimaksud adalah 26 Juli yang merupakan tanggal lahir “Si Binatang Jalang”, yakni Chairil Anwar.


Yang kedua, Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April merujuk pada tanggal meninggalnya Chairil Anwar pada 28 April 1949 yang dikebumikan di pemakaman Karet yang sekarang disebut Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta. Chairil Anwar merupakan sastrawan dan penyair pelopor Angkatan ‘45 yang dikenal dan dicatat sebagai penyair yang berpengaruh bagi perkembangan sastra Indonesia.

Apa Maksud Peringatan Hari Puisi?

Peringatan Hari Puisi Indonesia dimaksudkan untuk menghargai serta merayakan keindahan puisi dan mendorong setiap kita untuk mengeksplorasi kreativitas dalam menulis puisi atau menikmati puisi sebagai bentuk seni yang indah. Puisi juga memegang peranan penting dalam kebudayaan manusia karena mampu menginspirasi, merangsang, dan memberikan wawasan baru pada pembacanya.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Jadi, dapat disimpulkan puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang dituangkan dalam tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah serta mengandung makna mendalam.


Puisi merupakan salah satu cara manusia mengungkapkan pikiran, emosi, ide, gagasan, dan perasaan yang sedang dialami ke dalam untaian kalimat-kalimat yang indah dan penuh makna. Siapa pun dapat menulis puisi. Puisi masa kini tidak lagi terjebak ke dalam syarat dan aturan-aturan tertentu, di antaranya satu bait harus terdiri dari empat baris, dalam satu baris memiliki 8 sampai 12 suku kata, sajaknya harus a-a-a-a, dan lain sebagainya. Puisi saat ini lebih dinamis dan fleksibel.


Mari kita perhatikan salah satu contoh puisi paling singkat yang dibuat oleh Sitor Situmorang berikut:

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

Puisi tersebut hanya memiliki satu baris kalimat yang sarat makna. Cukup singkat, bukan? Setiap puisi akan memiliki interpretasi yang berbeda bagi setiap orang yang membacanya. Hal tersebut sangat wajar karena setiap pribadi memiliki latar belakang pengetahuan dan pemahaman masing-masing. Jadi, mari berpuisi untuk sekadar mencurahkan isi hati. Mengikuti aturan tentu boleh, tetapi jangan terjebak di dalam aturan-aturan pembuatan yang membuat kita merasa bahwa berpuisi itu terlalu sulit. Ungkapkan saja perasaan kita ke dalam baris-baris kalimat. Selamat berpuisi.

(sumber: https://kakibukit.republika.co.id/posts/212724/hari-puisi-di-indonesia-ada-dua-28-april-26-juli)

Baca juga: Suluh Literasi di Athalia

Anugerah Tuhan

Anugerah Tuhan

Willa Nikki Aleta-Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Hai, salam kenal! Namaku, Willa Nikki Aleta, alumni SMA Athalia tahun 2023, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini, aku tengah menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi. Sungguh perjalanan yang panjang untuk aku sampai di titik ini, dan tentunya perjalanan tersebut masih belum usai. Perjalanan itu bermula dari aku menjejakkan kaki di SMA Athalia, perjalanan yang mengubah hidupku. Sedikit cerita, sejak masuk SMA, jujur aku sangat “clueless”, tidak tahu mau jadi apa saat lulus serta tidak tahu potensi dan kelebihan diri. Di saat teman-temanku yang nampaknya sudah memiliki segudang bakat, aku masih di fase bertanya-tanya.

Merasakan Anugerah Tuhan

Bersyukur Tuhan menempatkan aku di SMA Athalia karena aku sungguh merasakan adanya bimbingan dan arahan untuk mencari potensi diri. Aku ingat sekali momen yang mengubah hidupku. Kala itu pembelajaran daring dan mata pelajaran Bahasa Indonesia mengharuskan kami untuk membacakan sebuah puisi. Saat itu Bu Merry melihat adanya potensi dalam diriku. Tanpa ragu beliau mendorong aku untuk menjadi perwakilan SMA Athalia dalam lomba membaca puisi.
Di tengah ketidakpercayaan diriku, para pengajar Bahasa Indonesia pada saat itu terus meyakinkan diriku bahwa aku bisa, tentunya dengan segala nasehat dan perbaikan. Sejak saat itu, jujur saja, rasa kepercayaan diriku meningkat drastis. Aku jadi lebih berani mencoba hal-hal baru. Aku juga didorong untuk mengikuti lomba public speaking, hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya karena aku selalu berpikir bahwa diriku “demam panggung”.


Sungguh rencana dan anugerah Tuhan selalu tepat pada waktunya. Momen-momen yang membentuk diriku itu membuatku jadi paham akan potensi diriku dalam public speaking, sastra, hingga dalam kemampuan bersosialisasi. Hingga akhirnya, aku memiliki tujuan setelah lulus SMA dan di sinilah aku berada, di tanah Malang, berlabuh pada Jurusan Ilmu Komunikasi. Jika kembali dipikirkan, aku selalu mensyukuri momen-momen tersebut yang sudah membentuk diriku. Segala puji syukur dan kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Baca juga: Semua karena Kasih Karunia Allah

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL

mengucap syukur dalam segala hal

Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah
di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
(1 Tesalonika 5:18)

Mungkin beberapa kalimat berikut ini sering kita dengar atau bahkan kadangkala kita sendiri yang mengucapkan:

“Aduh, mengapa setiap pagi harus hujan sih bukan siang saja, aku jadi kesulitan untuk pergi bekerja dan mengantar anak ke sekolah.”
“Nih, jalan setiap hari macet bikin kesel.”
“Susah sekali mengurus anak yang tidak mau mendengarkan orang tua dan guru.”
“Sebel banget sih, orang tuaku sulit sekali mengerti apa yang aku mau.”
“Ini pasanganku tidak mau peduli dengan urusan anak, padahal aku sedang capek.”

Silakan lanjutkan sendiri dengan jujur apa yang sering kita keluhkan setiap hari, tentu ada saja, bukan? Setiap orang punya masalah, keluh kesah, dan kekesalannya sendiri. Tergantung pada kita memilih untuk mensyukuri apa yang sedang terjadi sebagai sebuah proses kehidupan atau kita memilih untuk terus hidup dalam gerutu sehingga kita sulit menikmati hidup dan relasi intim kita dengan Tuhan.

Tentang Perayaan Mengucap Syukur

Mengucap syukur dalam segala hal adalah kehendak Allah bagi kita semua. Tampaknya mudah untuk dilakukan. Namun, pada kenyataannya tidaklah demikian, bukan? Ada kondisi yang membuat kita senang atau menyenangkan baru kita mudah mengucap syukur, dan pada kondisi ketika kita bersedih atau mengalami sesuatu yang tidak menguntungkan maka tidaklah mudah bagi kita untuk mengucap syukur.

Berkaitan dengan hal mengucap syukur, pernahkah Anda mendengar tentang Thanksgiving Day? Yaitu hari libur yang dirayakan masyarakat Amerika Serikat setiap tahun, pada hari Kamis keempat bulan November. Pada hari itu orang Amerika berkumpul, mengadakan pesta dan makan bersama keluarga. Tidak hanya di Amerika Serikat, di Indonesia tepatnya di Minahasa juga terdapat tradisi yang serupa dengan Thanksgiving Day. Tradisi ini disebut “Hari Pengucapan” yang diadakan untuk mengucap syukur saat akhir musim panen, yakni di bulan Juli-Oktober. Thanksgiving Day dan Hari Pengucapan yang dirayakan setahun sekali ini memiliki tujuan yang sama yaitu, mengingatkan kita bahwa kehadiran Tuhan dan keluarga adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang harus kita syukuri.

Bersyukur Kunci Kebahagiaan

Sebagai orang percaya kita diingatkan firman Tuhan untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal. Itu artinya dalam segala kondisi dan keadaan kita terus mengucap syukur. Bersyukurlah jika anggota tubuh kita terasa sakit, artinya diingatkan bahwa kita masih memiliki anggota tubuh yang Tuhan berikan, jika hujan turun, sehingga tidak terjadi kekeringan, untuk anak-anak yang belum bisa mendengarkan kita saat ini, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mendidik mereka, atau untuk orang tua yang belum mengerti kita, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mengasihi dan mendoakan mereka.

Jika kita melatih pikiran dan hati kita setiap hari untuk bersyukur atas setiap anugerah dan kasih Tuhan dalam hidup kita, atas apa yang kita miliki dan tidak kita miliki, hal-hal yang terjadi baik itu suka maupun duka, maka hidup kita akan penuh dengan sukacita dan kebahagiaan. Jadi, kebahagian datang karena kita terus dibentuk menjadi pribadi yang penuh syukur. Bersyukur dalam segala hal dan keadaan. Kiranya Tuhan memampukan Komunitas Athalia baik kita sebagai pemimpin, pendidik, staf, orang tua, maupun siswa memiliki karakter yang terus bersyukur. Tuhan berjalan dengan kita setiap hari dan menggandeng tangan kita dalam segala keadaan. Puji Tuhan!

Baca juga: Sukacita di Tengah Badai: Bagaimana Tetap Bersyukur?

Iman dan Tindakan

Iman dan Tindakan

Oleh : Lili Irene-Plt. Kabag PK3

Fakta bahwa Yesus sudah mati dan bangkit bukanlah isapan jempol belaka. Kabar ini diberitakan sendiri oleh malaikat Tuhan. Matius 28:5-6 mengatakan, “Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.”

Iman yang Tumbuh Melalui Penyelidikan

Lee Patrick Strobel yang lahir pada tahun 1952 adalah seorang ateis. Ia menyelidiki tentang Yesus dan tidak mempercayai kematian dan kebangkitan-Nya. Setelah melakukan penelitian dan menyelidiki tentang hal tersebut, justru membawa ia menjadi orang Kristen dan mengimani kebenaran tentang Yesus. Ia membuktikan imannya dengan menjadi penulis buku apologetik. Melalui buku-bukunya, ia dapat membawa orang-orang yang meragukan iman kepada Yesus dan membuktikan bahwa apa yang dikatakan dalam Alkitab adalah benar serta memiliki bukti yang akurat. Selain itu, ia juga hidup melayani sebagai seorang hamba Tuhan dengan menggembalakan orang-orang yang sedang mencari Tuhan.

Iman dan Tindakan

Setelah Yesus bangkit, Ia menampakkan diri-Nya kepada Simon Petrus. Perintah Yesus kepada Simon Petrus yang sudah menyaksikan kebangkitan-Nya adalah pergi untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Iman harus diiringi dengan tindakan nyata. Strobel membuktikan bahwa apa yang ia imani perlu dibagikan kepada orang yang memiliki keraguan yang sama dengannya tentang Yesus. Ia juga melakukan tindakan nyata dengan melayani orang-orang yang membutuhkan, baik dalam pengajaran maupun pelayanan. Simon Petrus bangkit dari kesedihannya setelah melihat dan menyaksikan Yesus sudah bangkit dengan membuktikan imannya melalui tindakan melayani Dia sampai mati.

Apakah Iman Kita juga Terwujud dalam Tindakan Nyata?

Berikut ada beberapa hal yang perlu kita renungkan sebagai bukti bahwa kita hidup beriman dan memiliki tindak nyata:

  1. Menjawab dan membuktikan iman yang kita percayai. Setiap orang yang mengaku percaya kepada Yesus harusnya bisa menjawab ketika ada yang bertanya, “Mengapa kita percaya Yesus mati dan bangkit?” Oleh karena itu, kita harus terus belajar apologetika (ilmu mengenai pembelaan iman kristen). Bukan berarti kita harus belajar ke sekolah teologi, tapi kita semua termasuk anak-anak bisa belajar di sekolah minggu, ibadah di gereja, Pemahaman Alkitab (PA), dan seminar/pembinaan iman. Jadi, kita beriman bukan sekadar ikut-ikutan, tapi karena sungguh-sungguh memahami apa yang kita percayai.
  2. Membuktikan iman kita dengan tindakan nyata. Yakobus 2:14-17 mengatakan bahwa iman dan perbuatan (tindakan nyata) harus berjalan bersama. Bukan perbuatan tanpa iman, sebaliknya yang benar adalah iman yang disertai perbuatan. Orang yang beriman kepada Yesus akan membuahkan perbuatan atau tindakan nyata yang lahir dari kasih akan Allah kepada orang-orang di sekitarnya. Yakobus 2:15-17, “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.”
  3. Melayani serta memberitakan kasih Tuhan melalui perkataan dan perbuatan dalam keseharian hidup kita, sehingga orang lain bisa melihat karakter Kristus yang terus bertumbuh dalam hidup kita.

Mari merayakan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus dengan terus berpegang teguh pada iman dan terus melakukan tindakan nyata yang lahir dari kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Selamat Paskah. Tuhan beserta kita.

Baca juga: Melangkah Dengan Iman

Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Oleh: Tegar Juel Prakoso – Alumni Angkatan IV SMA Athalia

Sebelum berbicara tentang kasih sejati, perkenankan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Halo, perkenalkan nama saya Tegar Juel Prakoso, biasa dipanggil “Tegar”. Saya adalah alumni SMA Athalia angkatan IV, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini saya mengajar TIK di SMP Athalia kelas 7 dan 8, dan SD Pinus kelas 4-6. Saat ini saya juga sedang melanjutkan studi magister di STT Bethel Indonesia jurusan Pendidikan Agama Kristen. Dalam tulisan ini saya akan membagikan kisah bagaimana saya menemukan kasih sejati dari Tuhan.

Pencarian Kasih Sejati

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari mencari makna dan tujuan hidup. Di Athalia saya diajarkan tentang kasih Tuhan ketika saya mencari kasih yang sejati ini. Bersyukur saya menemukan kasih sejati dari Tuhan yang menurut saya salah satu aspek yang penting bagi kehidupan orang percaya. Konsep kasih dalam kehidupan orang Kristen mengacu pada kasih Tuhan. Kasih Tuhan disebut kasih Agape. Kasih Agape ini bersifat tanpa pamrih dan tulus. Contoh konkret kasih Agape yang tulus berasal dari Tuhan dapat kita lihat dalam Yohanes 3:16, Tuhan mengasihi dunia ini dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus itu sendiri. Sebuah pengorbanan yang tiada ternilai harganya, tidak dapat dibandingkan dengan kasih mana pun di dunia ini.

Cara Saya Menemukan Kasih Sejati

Ketika menjalani kehidupan sebagai orang Kristen, saya merasa bukan hal yang mudah. Banyak hal duniawi yang mengalihkan fokus saya dalam mencari kasih yang sejati itu. Sebagai salah satu anak muda yang hidup di era sekarang ini yang menggoda saya untuk berpaling dari jalur Tuhan. Lantas, bagaimana cara saya menemukan “Kasih Sejati” itu? Ada dua cara saya menemukan kasih yang sejati itu.

Pertama, menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Dalam membangun sebuah hubungan, diperlukan sebuah komunikasi yang intens. Layaknya hubungan bapak dan anaknya. Ketika anak kerap kali menginginkan sesuatu dari bapaknya atau ketika anak tidak dianggap, tidak dipedulikan, bahkan tidak dikasihi di dunia ini, anak bisa mengadu pada Allah dalam doa. Saya memberikan waktu khusus secara teratur untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika bangun pagi atau pun menjelang tidur, tidak lupa berdoa. Terkadang doa yang saya panjatkan berisi curhatan dan harapan yang ingin saya capai. Dan bersyukur, selama saya bersekolah dan mengajar di Athalia selalu diingatkan akan relasi dengan Tuhan. Dalam memulai hari dan menutup hari pasti diingatkan untuk selalu berdoa.

Kedua, mencari kebenaran yang sejati dalam Alkitab. Alkitab adalah sebuah petunjuk bagi orang percaya. Alkitab adalah sumber utama tentang kasih sejati Tuhan Yesus. Hal yang telah Tuhan perbuat telah tertulis semua di dalam Alkitab. Dalam Alkitab kita dapat membaca dan memahami karakter Tuhan, rencana-Nya, dan segala ajaran-Nya. Di Athalia tidak pernah terlepas dari aktivitas devosi. Setiap memulai hari, baik sebagai murid maupun sebagai tenagan pendidik selalu memulai hari dengan devosi. Melalui devosi saya dapat merenungkan isi dari firman Tuhan bersama dengan rekan sesama pengajar maupun bersama dengan siswa.

Respons Terhadap Kasih Tuhan

Tuhan sudah mengasihi kita, apa yang dapat kita lakukan sebagai wujud mengasihi-Nya? Hal yang saya lakukan sebagai respons wujud kasih Tuhan adalah melayani sesama. Menemukan kasih sejati dari Tuhan tidak hanya sebatas pengalaman pribadi, tetapi juga melibatkan pelayanan kepada sesama. Tuhan senang jika kita dapat memanfaatkan segala talenta yang kita miliki untuk melayani-Nya di mana saja. Melayani sebagai worship leader dan bidang multimedia di GBI Anugerah adalah salah satu respons saya sebagai wujud kasih kepada sesama.

Merupakan sebuah anugerah yang Tuhan berikan kepada saya untuk dapat kembali lagi ke Athalia sebagai seorang pengajar. Dulu saya diajar, sekarang saya mengajar. Hal ini sebagai wujud kasih saya kepada Tuhan dan sesama.

Saya bersukacita ketika mengajar murid-murid di Athalia dalam mata pelajaran TIK atau Informatika. Awalnya memang tidak mudah mengajar anak-anak yang telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital saat ini, sehingga saya mencoba mengajar dengan memberikan kasih yang pernah saya terima dari Tuhan. Lewat proses mengajar dengan kasih inilah saya bisa mengajar murid dengan penuh sukacita. Inilah kisah saya sebagai alumni semoga menjadi berkat bagi kita sekalian.

Baca juga: Kasih Sejati Allah

Kasih Sejati Allah

kasih sejati tuhan

Oleh: Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Kasih dari Dunia

Secuplik bait lagu,”Belum pernah ada kasih di dunia sanggup mengubahkan hidupku, selain kasih-Mu Yesus …” Sungguh sebuah pernyataan iman yang besar bahwa di dunia ini kita sulit menemukan kasih yang sejati selain di dalam Tuhan Yesus.

Berbagai kisah tentang kasih yang mungkin pernah kita dengar baik kasih antara orang tua kepada anak, suami kepada istri, kakak kepada adik, sahabat kepada sahabat selalu membuat kita terharu, bukan? Di dalam kasih yang dinyatakan selalu ada pengorbanan. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit pula kasih yang ditunjukkan ada alasan atau pamrih di baliknya, sehingga sering timbul pertanyaan kenapa begitu sulit sekali untuk menemukan kasih tanpa pamrih di dunia ini.

Kita mungkin pernah mendengar banyak orang tua yang katanya mengasihi anaknya tetapi menuntut anaknya untuk melakukan apa yang diingini orang tuanya. Suami yang mengatakan bahwa ia mengasihi istrinya tetapi menuntut istri untuk tampil sempurna. Kakak yang katanya mengasihi adiknya, tetapi meminta balasan atas apa yang dilakukan. Teman yang berkata mengasihi temannya tetapi meminta ia untuk setuju dengan semua yang dilakukan. Pengajar yang hanya akan mengasihi muridnya jika mereka bersikap baik. Sungguh ironis berbagai kisah kasih di dunia ini pada akhirnya berujung dengan kisah sedih di mana setiap orang yang ada di dalamnya terlibat konflik berkepanjangan. Kenapa? Karena kasih manusia selalu menuntut dan ada pamrihnya.

Kasih dari Allah

Berbeda sekali dengan kasih Allah yang tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan atau balasan. Dalam Alkitab ada istilah yang dipakai untuk menunjukkan kasih yang seperti ini, yaitu kasih Agape. Kasih yang merupakan kasih Allah kepada manusia. Kasih sejati yang memberi tanpa meminta balasan, bahkan rela memberikan nyawa kepada orang yang dikasihi.

Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah bahkan memberikan anak-Nya yang Tunggal untuk mati di atas kayu salib bagi kita manusia. Ada banyak orang yang bersedia mati untuk orang baik tetapi untuk orang tidak baik dan berdosa, siapa yang mau mati? Hanya Allah yang mau melakukannya bagi kita orang berdosa ini. Inilah “kasih sejati” itu. Allah mengasihi kita sebagaimana kita apa adanya, tanpa memandang status atau kedudukan kita. Kasih yang hadir di setiap musim kehidupan kita suka maupun duka. Kasih Sejati-Nya merangkul dan memeluk kita.

Kiranya kita melekat kepada kasih sejati Allah dalam menempuh hidup di dunia dan terus-menerus belajar untuk membagikan kasih sejati itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Tuhan memberkati.

No Matter what storm you face
You need to know that God loves you.
He has not abandoned you

Franklin Graham

Baca juga: Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Siapa yang Memegang Kendali Hidup Kita?

Oleh: Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur
(Filipi 4:6)

Memasuki tahun 2024 tentunya kita bersyukur bisa sampai di saat ini. Namun, jika harus menatap ke depan maka pertanyaannya siapa yang tidak khawatir? Mungkin sebagian dari kita mengalaminya. Setiap hari ada saja yang membuat kita khawatir. Kita khawatir akan kesehatan, keuangan, keluarga, relasi kita dengan orang lain dan masih banyak kekhawatiran yang kita alami setiap hari. Sampai-sampai kekhawatiran mungkin saja mengendalikan hidup kita.

Mengenai Kekhawatiran

Alkitab berkata dalam Matius 6:25, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan jangan khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa normal saja kita khawatir sebagai manusia tetapi Tuhan mengingatkan bahwa Ia mengendalikan hidup kita sehingga tidak perlu khawatir yang berlebihan.

Pertanyaan mengenai siapa yang memegang kendali atas hidup kita mungkin akan memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang merasakan bahwa selama ini hidupnya dikendalikan oleh orang, waktu, uang, bahkan kesenangan atau kesukaan akan sesuatu yang berlebihan. Menurut beberapa orang, dunia kita saja sering terlihat tidak terkendali akibat bencana alam, kecelakaan, kekerasan, perang, dan lain sebagainya.

Lalu, apakah Tuhan benar-benar memegang kendali atas dunia dan hidup kita? Apakah Ia hanya menciptakan segala sesuatu tetapi semua yang berjalan di luar kendali-Nya? Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuat kita khawatir? Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat atas semua ciptaan-Nya. Ia memiliki otoritas tertinggi dan mutlak atas segala sesuatu. Meskipun kadang kita khawatir dan kebingungan dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa kita jawab tetapi Tuhan tetap aktif bekerja atas dunia ini.

Tuhan Selalu Menyertai

Terakhir, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita atau mengabaikan kita (Ibrani 13:5). Dia mengetahui dengan baik segala sesuatu yang terjadi menurut hikmat, kasih, dan rencana-Nya yang baik buat kita dalam menghadapi tahun 2024 ini. Oleh sebab itu, apa pun kekhawatiran kita, kekhawatiran keluarga kita, semuanya kita serahkan pada kendali-Nya dalam doa dan permohonan sembari mengucap syukur. Tuhan memampukan kita untuk menjalani tahun 2024. Tuhan beserta kita dan tetap semangat.

HIDDEN CURRICULUM dan NULL CURRICULUM

HIDDEN CURRICULUM dan NULL CURRICULUM

Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA – Staf Research & Development SMA Athalia

Makna Kurikulum

Menurut KBBI kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Cakupan kurikulum berisi uraian bidang studi yang terdiri atas beberapa macam mata pelajaran yang disajikan secara kait-berkait. Jadi, kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Juga merupakan semua kegiatan yang diberikan kepada peserta didik sebagai tanggung jawab sekolah.

Hidden Curriculum

Kenyataannya pembelajaran yang berlangsung di sekolah tidak hanya tentang kurikulum formal yang diikuti peserta didik berupa pengetahuan dan keterampilan. Ada yang disebut hidden curriculum, yaitu mengacu pada pelajaran, nilai, dan perspektif yang tidak tertulis, tidak resmi, dan seringkali tidak disengaja yang dipelajari peserta didik di sekolah. Contohnya bagaimana mereka seharusnya berinteraksi dengan teman, guru, dan orang-orang lainnya. Juga tentang bagaimana mereka seharusnya memandang perbedaan – ras, kelompok, atau bahkan kelas lain – atau ide dan perilaku apa yang dianggap dapat diterima atau tidak dapat diterima. Jadi, hidden curriculum menyiratkan seperangkat moral dan perilaku yang diserap siswa dari lingkungan sekolah.

Null Curriculum

Ada juga yang disebut null curriculum, yaitu kurikulum yang tidak diajarkan, topik yang dihilangkan, pengalaman dan pilihan yang tidak diberikan kepada peserta didik. Null curriculum bisa jadi sama pentingnya dengan kurikulum formal, karena dapat membentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik secara signifikan. Namun, terkadang guru mengabaikan beberapa konten atau keterampilan, karena dianggap tidak penting atau karena kebijakan pemerintah. Contoh null curriculum di Inggris, pelajaran agama tidak dimasukkan dalam program pelajaran atau tidak ada kebijakan mengenai pendidikan seks di Iran. Ada dampak yang akan dirasakan peserta didik ketika menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan topik-topik tersebut di masyarakat.

Hidden Curriculum dan Null Curriculum dalam Keluarga

Kehidupan dalam keluarga pun ada semacam kurikulum yang secara sadar disusun orang tua bagi anak-anaknya tapi ada juga bentuk hidden curriculum dan null curriculum yang mungkin secara tidak sadar dijalankan. Contohnya ada yang disebut imitasi, yaitu proses ketika seorang anak melihat orang tuanya sebagai figur utama yang layak ditiru. Tentunya orang tua ingin anak-anaknya meniru hal-hal baik yang dilakukannya. Namun, seringkali secara tidak sadar justru melakukan hal-hal yang tidak ingin anak tiru, tetapi teramati dan terekam oleh anak-anak. Pernah terjadi, orang tua mengajukan beasiswa kepada pihak sekolah dengan alasan kesulitan ekonomi. Akan tetapi, ketika kunjungan ke rumahnya terlihat barang-barang branded dan berharga tinggi yang digunakan oleh keluarga itu. Nilai apa yang akan anak-anak miliki melihat kenyataan tersebut?

Ada kalanya orang tua tidak membicarakan atau membahas secara sengaja nilai-nilai yang perlu anak miliki, misalnya kesetiaan. Ketika anak disuruh rajin datang ke gereja, apakah anak tahu bahwa tujuannya adalah membangun nilai kesetiaan pada kepercayaan/imannya? Ketika anak diminta ikut dalam acara-acara keluarga, ingatkan mereka tentang kesetiaan pada keluarganya misalnya orang tuanya dan saudara-saudaranya. Adakah hal-hal yang dihindari atau dianggap tidak penting sehingga orang tua tidak memberikan pengajaran dan pendidikan pada anak padahal mungkin mereka akan menghadapi hal-hal tersebut di masyarakat sehingga mereka tidak tahu bagaimana menyikapi dan mengatasinya?

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
(2 Timotius 2:2)