Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Oleh: Tegar Juel Prakoso – Alumni Angkatan IV SMA Athalia

Sebelum berbicara tentang kasih sejati, perkenankan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Halo, perkenalkan nama saya Tegar Juel Prakoso, biasa dipanggil “Tegar”. Saya adalah alumni SMA Athalia angkatan IV, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini saya mengajar TIK di SMP Athalia kelas 7 dan 8, dan SD Pinus kelas 4-6. Saat ini saya juga sedang melanjutkan studi magister di STT Bethel Indonesia jurusan Pendidikan Agama Kristen. Dalam tulisan ini saya akan membagikan kisah bagaimana saya menemukan kasih sejati dari Tuhan.

Pencarian Kasih Sejati

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari mencari makna dan tujuan hidup. Di Athalia saya diajarkan tentang kasih Tuhan ketika saya mencari kasih yang sejati ini. Bersyukur saya menemukan kasih sejati dari Tuhan yang menurut saya salah satu aspek yang penting bagi kehidupan orang percaya. Konsep kasih dalam kehidupan orang Kristen mengacu pada kasih Tuhan. Kasih Tuhan disebut kasih Agape. Kasih Agape ini bersifat tanpa pamrih dan tulus. Contoh konkret kasih Agape yang tulus berasal dari Tuhan dapat kita lihat dalam Yohanes 3:16, Tuhan mengasihi dunia ini dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus itu sendiri. Sebuah pengorbanan yang tiada ternilai harganya, tidak dapat dibandingkan dengan kasih mana pun di dunia ini.

Cara Saya Menemukan Kasih Sejati

Ketika menjalani kehidupan sebagai orang Kristen, saya merasa bukan hal yang mudah. Banyak hal duniawi yang mengalihkan fokus saya dalam mencari kasih yang sejati itu. Sebagai salah satu anak muda yang hidup di era sekarang ini yang menggoda saya untuk berpaling dari jalur Tuhan. Lantas, bagaimana cara saya menemukan “Kasih Sejati” itu? Ada dua cara saya menemukan kasih yang sejati itu.

Pertama, menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Dalam membangun sebuah hubungan, diperlukan sebuah komunikasi yang intens. Layaknya hubungan bapak dan anaknya. Ketika anak kerap kali menginginkan sesuatu dari bapaknya atau ketika anak tidak dianggap, tidak dipedulikan, bahkan tidak dikasihi di dunia ini, anak bisa mengadu pada Allah dalam doa. Saya memberikan waktu khusus secara teratur untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika bangun pagi atau pun menjelang tidur, tidak lupa berdoa. Terkadang doa yang saya panjatkan berisi curhatan dan harapan yang ingin saya capai. Dan bersyukur, selama saya bersekolah dan mengajar di Athalia selalu diingatkan akan relasi dengan Tuhan. Dalam memulai hari dan menutup hari pasti diingatkan untuk selalu berdoa.

Kedua, mencari kebenaran yang sejati dalam Alkitab. Alkitab adalah sebuah petunjuk bagi orang percaya. Alkitab adalah sumber utama tentang kasih sejati Tuhan Yesus. Hal yang telah Tuhan perbuat telah tertulis semua di dalam Alkitab. Dalam Alkitab kita dapat membaca dan memahami karakter Tuhan, rencana-Nya, dan segala ajaran-Nya. Di Athalia tidak pernah terlepas dari aktivitas devosi. Setiap memulai hari, baik sebagai murid maupun sebagai tenagan pendidik selalu memulai hari dengan devosi. Melalui devosi saya dapat merenungkan isi dari firman Tuhan bersama dengan rekan sesama pengajar maupun bersama dengan siswa.

Respons Terhadap Kasih Tuhan

Tuhan sudah mengasihi kita, apa yang dapat kita lakukan sebagai wujud mengasihi-Nya? Hal yang saya lakukan sebagai respons wujud kasih Tuhan adalah melayani sesama. Menemukan kasih sejati dari Tuhan tidak hanya sebatas pengalaman pribadi, tetapi juga melibatkan pelayanan kepada sesama. Tuhan senang jika kita dapat memanfaatkan segala talenta yang kita miliki untuk melayani-Nya di mana saja. Melayani sebagai worship leader dan bidang multimedia di GBI Anugerah adalah salah satu respons saya sebagai wujud kasih kepada sesama.

Merupakan sebuah anugerah yang Tuhan berikan kepada saya untuk dapat kembali lagi ke Athalia sebagai seorang pengajar. Dulu saya diajar, sekarang saya mengajar. Hal ini sebagai wujud kasih saya kepada Tuhan dan sesama.

Saya bersukacita ketika mengajar murid-murid di Athalia dalam mata pelajaran TIK atau Informatika. Awalnya memang tidak mudah mengajar anak-anak yang telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital saat ini, sehingga saya mencoba mengajar dengan memberikan kasih yang pernah saya terima dari Tuhan. Lewat proses mengajar dengan kasih inilah saya bisa mengajar murid dengan penuh sukacita. Inilah kisah saya sebagai alumni semoga menjadi berkat bagi kita sekalian.

Baca juga: Kasih Sejati Allah

Kasih Sejati Allah

kasih sejati tuhan

Oleh: Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Kasih dari Dunia

Secuplik bait lagu,”Belum pernah ada kasih di dunia sanggup mengubahkan hidupku, selain kasih-Mu Yesus …” Sungguh sebuah pernyataan iman yang besar bahwa di dunia ini kita sulit menemukan kasih yang sejati selain di dalam Tuhan Yesus.

Berbagai kisah tentang kasih yang mungkin pernah kita dengar baik kasih antara orang tua kepada anak, suami kepada istri, kakak kepada adik, sahabat kepada sahabat selalu membuat kita terharu, bukan? Di dalam kasih yang dinyatakan selalu ada pengorbanan. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit pula kasih yang ditunjukkan ada alasan atau pamrih di baliknya, sehingga sering timbul pertanyaan kenapa begitu sulit sekali untuk menemukan kasih tanpa pamrih di dunia ini.

Kita mungkin pernah mendengar banyak orang tua yang katanya mengasihi anaknya tetapi menuntut anaknya untuk melakukan apa yang diingini orang tuanya. Suami yang mengatakan bahwa ia mengasihi istrinya tetapi menuntut istri untuk tampil sempurna. Kakak yang katanya mengasihi adiknya, tetapi meminta balasan atas apa yang dilakukan. Teman yang berkata mengasihi temannya tetapi meminta ia untuk setuju dengan semua yang dilakukan. Pengajar yang hanya akan mengasihi muridnya jika mereka bersikap baik. Sungguh ironis berbagai kisah kasih di dunia ini pada akhirnya berujung dengan kisah sedih di mana setiap orang yang ada di dalamnya terlibat konflik berkepanjangan. Kenapa? Karena kasih manusia selalu menuntut dan ada pamrihnya.

Kasih dari Allah

Berbeda sekali dengan kasih Allah yang tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan atau balasan. Dalam Alkitab ada istilah yang dipakai untuk menunjukkan kasih yang seperti ini, yaitu kasih Agape. Kasih yang merupakan kasih Allah kepada manusia. Kasih sejati yang memberi tanpa meminta balasan, bahkan rela memberikan nyawa kepada orang yang dikasihi.

Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah bahkan memberikan anak-Nya yang Tunggal untuk mati di atas kayu salib bagi kita manusia. Ada banyak orang yang bersedia mati untuk orang baik tetapi untuk orang tidak baik dan berdosa, siapa yang mau mati? Hanya Allah yang mau melakukannya bagi kita orang berdosa ini. Inilah “kasih sejati” itu. Allah mengasihi kita sebagaimana kita apa adanya, tanpa memandang status atau kedudukan kita. Kasih yang hadir di setiap musim kehidupan kita suka maupun duka. Kasih Sejati-Nya merangkul dan memeluk kita.

Kiranya kita melekat kepada kasih sejati Allah dalam menempuh hidup di dunia dan terus-menerus belajar untuk membagikan kasih sejati itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Tuhan memberkati.

No Matter what storm you face
You need to know that God loves you.
He has not abandoned you

Franklin Graham

Baca juga: Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Siapa yang Memegang Kendali Hidup Kita?

Oleh: Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur
(Filipi 4:6)

Memasuki tahun 2024 tentunya kita bersyukur bisa sampai di saat ini. Namun, jika harus menatap ke depan maka pertanyaannya siapa yang tidak khawatir? Mungkin sebagian dari kita mengalaminya. Setiap hari ada saja yang membuat kita khawatir. Kita khawatir akan kesehatan, keuangan, keluarga, relasi kita dengan orang lain dan masih banyak kekhawatiran yang kita alami setiap hari. Sampai-sampai kekhawatiran mungkin saja mengendalikan hidup kita.

Mengenai Kekhawatiran

Alkitab berkata dalam Matius 6:25, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan jangan khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa normal saja kita khawatir sebagai manusia tetapi Tuhan mengingatkan bahwa Ia mengendalikan hidup kita sehingga tidak perlu khawatir yang berlebihan.

Pertanyaan mengenai siapa yang memegang kendali atas hidup kita mungkin akan memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang merasakan bahwa selama ini hidupnya dikendalikan oleh orang, waktu, uang, bahkan kesenangan atau kesukaan akan sesuatu yang berlebihan. Menurut beberapa orang, dunia kita saja sering terlihat tidak terkendali akibat bencana alam, kecelakaan, kekerasan, perang, dan lain sebagainya.

Lalu, apakah Tuhan benar-benar memegang kendali atas dunia dan hidup kita? Apakah Ia hanya menciptakan segala sesuatu tetapi semua yang berjalan di luar kendali-Nya? Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuat kita khawatir? Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat atas semua ciptaan-Nya. Ia memiliki otoritas tertinggi dan mutlak atas segala sesuatu. Meskipun kadang kita khawatir dan kebingungan dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa kita jawab tetapi Tuhan tetap aktif bekerja atas dunia ini.

Tuhan Selalu Menyertai

Terakhir, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita atau mengabaikan kita (Ibrani 13:5). Dia mengetahui dengan baik segala sesuatu yang terjadi menurut hikmat, kasih, dan rencana-Nya yang baik buat kita dalam menghadapi tahun 2024 ini. Oleh sebab itu, apa pun kekhawatiran kita, kekhawatiran keluarga kita, semuanya kita serahkan pada kendali-Nya dalam doa dan permohonan sembari mengucap syukur. Tuhan memampukan kita untuk menjalani tahun 2024. Tuhan beserta kita dan tetap semangat.

HIDDEN CURRICULUM dan NULL CURRICULUM

HIDDEN CURRICULUM dan NULL CURRICULUM

Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA – Staf Research & Development SMA Athalia

Makna Kurikulum

Menurut KBBI kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Cakupan kurikulum berisi uraian bidang studi yang terdiri atas beberapa macam mata pelajaran yang disajikan secara kait-berkait. Jadi, kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Juga merupakan semua kegiatan yang diberikan kepada peserta didik sebagai tanggung jawab sekolah.

Hidden Curriculum

Kenyataannya pembelajaran yang berlangsung di sekolah tidak hanya tentang kurikulum formal yang diikuti peserta didik berupa pengetahuan dan keterampilan. Ada yang disebut hidden curriculum, yaitu mengacu pada pelajaran, nilai, dan perspektif yang tidak tertulis, tidak resmi, dan seringkali tidak disengaja yang dipelajari peserta didik di sekolah. Contohnya bagaimana mereka seharusnya berinteraksi dengan teman, guru, dan orang-orang lainnya. Juga tentang bagaimana mereka seharusnya memandang perbedaan – ras, kelompok, atau bahkan kelas lain – atau ide dan perilaku apa yang dianggap dapat diterima atau tidak dapat diterima. Jadi, hidden curriculum menyiratkan seperangkat moral dan perilaku yang diserap siswa dari lingkungan sekolah.

Null Curriculum

Ada juga yang disebut null curriculum, yaitu kurikulum yang tidak diajarkan, topik yang dihilangkan, pengalaman dan pilihan yang tidak diberikan kepada peserta didik. Null curriculum bisa jadi sama pentingnya dengan kurikulum formal, karena dapat membentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik secara signifikan. Namun, terkadang guru mengabaikan beberapa konten atau keterampilan, karena dianggap tidak penting atau karena kebijakan pemerintah. Contoh null curriculum di Inggris, pelajaran agama tidak dimasukkan dalam program pelajaran atau tidak ada kebijakan mengenai pendidikan seks di Iran. Ada dampak yang akan dirasakan peserta didik ketika menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan topik-topik tersebut di masyarakat.

Hidden Curriculum dan Null Curriculum dalam Keluarga

Kehidupan dalam keluarga pun ada semacam kurikulum yang secara sadar disusun orang tua bagi anak-anaknya tapi ada juga bentuk hidden curriculum dan null curriculum yang mungkin secara tidak sadar dijalankan. Contohnya ada yang disebut imitasi, yaitu proses ketika seorang anak melihat orang tuanya sebagai figur utama yang layak ditiru. Tentunya orang tua ingin anak-anaknya meniru hal-hal baik yang dilakukannya. Namun, seringkali secara tidak sadar justru melakukan hal-hal yang tidak ingin anak tiru, tetapi teramati dan terekam oleh anak-anak. Pernah terjadi, orang tua mengajukan beasiswa kepada pihak sekolah dengan alasan kesulitan ekonomi. Akan tetapi, ketika kunjungan ke rumahnya terlihat barang-barang branded dan berharga tinggi yang digunakan oleh keluarga itu. Nilai apa yang akan anak-anak miliki melihat kenyataan tersebut?

Ada kalanya orang tua tidak membicarakan atau membahas secara sengaja nilai-nilai yang perlu anak miliki, misalnya kesetiaan. Ketika anak disuruh rajin datang ke gereja, apakah anak tahu bahwa tujuannya adalah membangun nilai kesetiaan pada kepercayaan/imannya? Ketika anak diminta ikut dalam acara-acara keluarga, ingatkan mereka tentang kesetiaan pada keluarganya misalnya orang tuanya dan saudara-saudaranya. Adakah hal-hal yang dihindari atau dianggap tidak penting sehingga orang tua tidak memberikan pengajaran dan pendidikan pada anak padahal mungkin mereka akan menghadapi hal-hal tersebut di masyarakat sehingga mereka tidak tahu bagaimana menyikapi dan mengatasinya?

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
(2 Timotius 2:2)

Pengalaman Sebagai Panitia Mengajarkan Menghargai Hal-Hal Kecil

Oleh: Galvin Farrel N. U. – Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023

Perkenalkan nama saya Galvin Farrel Nathanael Ulag. Saya diminta untuk menjadi Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023. Puji Tuhan, Athalia Cup akhirnya dapat dilaksanakan kembali setelah vakum kurang lebih 4 tahun. Sebenarnya, apa Athalia Cup itu? Athalia Cup adalah ajang perlombaan olahraga antar sekolah yang diselenggarakan oleh Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Tahun ini terdapat dua cabang olahraga yang diadakan, yaitu futsal dan basket. Tujuan dari Athalia Cup adalah untuk mengembangkan potensi diri secara khusus dalam bidang olahraga dan mempererat hubungan antar sekolah.

Pengalaman sebagai Panitia

Tentunya banyak sekali pengalaman yang saya peroleh sebagai panitia Athalia Cup 2023. Posisi sebagai Koordinator Bidang Pertandingan adalah salah satu posisi yang sangat penting perannya dalam Athalia Cup. Namun, tidak ada keraguan dalam hati saya saat menerima tawaran posisi tersebut. Saya berkomitmen akan bekerja keras untuk kelancaran jalannya Athalia Cup. Berada di posisi ini memberi saya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatur sebuah acara yang cukup besar dengan rapi dan memperhatikan detail-detail kecil supaya acara dapat berjalan dengan lancar. Ini tidak mudah bagi saya karena saya bukanlah orang yang rapi dalam bertugas dan memperhatikan detail-detail kecil.

Proses persiapan Athalia Cup benar-benar membentuk saya untuk memperhatikan detail-detail pekerjaan sekecil apapun. Jika ada detail yang terlewat pasti akan berdampak untuk saya sebagai Koordinator Bidang, bahkan berdampak untuk bidang lain yang bekerja sama dengan bidang pertandingan. Dari awal sampai akhir, guru pendamping selalu mengingatkan kami untuk membuat laporan pencatatan dengan detail. Pernah beberapa kali saya tidak mencatat dengan detail perlengkapan yang digunakan table Athalia Cup. Ketika saya ditanya guru pendamping, saya kesulitan untuk menjawab karena tidak mencatat dengan detail. Belajar dari pengalaman tersebut, saya membiasakan diri mencatat dengan detail setiap hasil pembahasan atau tugas bidang. Catatan yang detail ini membuat saya lebih siap ketika mendapat pertanyaan dari orang lain terkait dengan bidang pertandingan. Saya bisa menjawab dengan lancar karena apa yang saya tulis dengan detail, sangat membantu ketika ditanyakan mengenai bidang yang saya pegang.

Puji Tuhan, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini karena pengalaman yang berharga ini sangat berguna untuk masa depan saya, saat bersekolah, kuliah, dan bekerja. Melalui penyertaan Tuhan, saya belajar menjadi seorang pemimpin yang detail sehingga dapat mengarahkan pertandingan selama satu minggu dengan baik dan terstruktur.

Aksen SMA Athalia

Oleh: Joan Adalia Budiman – Koordinator Bidang Acara AKSEN 2023

Apa Itu Aksen?

Aksen, atau Ajang Kreativitas dan Seni, merupakan kegiatan pentas seni tahunan yang diselenggarakan oleh SMA Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong. Aksen menjadi wadah bagi seluruh siswa-siswi Sekolah Athalia untuk berkontribusi, baik sebagai panitia, pemeran, maupun penampil.

Setelah dua tahun vakum akibat pandemi COVID-19, Aksen akhirnya kembali digelar tahun lalu, meski tanpa Athalia Cup. Tahun ini, Sekolah Athalia kembali menghadirkan Aksen bersamaan dengan Athalia Cup, membawa semangat baru bagi seluruh siswa.


Konsep Unik Aksen: Siswa Sebagai Bintang Utama

Berbeda dari sekolah lain yang biasanya menutup acara olahraga antar sekolah dengan penampilan musisi tamu, SMA Athalia mengusung konsep berbeda.
Dalam Aksen, siswa-siswi SMP dan SMA Athalia sendiri menjadi bintang utama yang menampilkan bakat mereka di atas panggung.

Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa setiap siswa memiliki potensi kreatif dan talenta luar biasa yang layak untuk ditampilkan dan dikembangkan.


Charity Night: Bentuk Nyata Karakter “Influencing and Contributing

Salah satu kegiatan istimewa dalam Aksen adalah Charity Night, sebuah malam amal yang menjadi wujud nyata nilai karakter Sekolah Athalia: Influencing and Contributing.
Melalui acara ini, siswa diajak untuk memberikan dampak positif kepada komunitas sekitar, belajar berbagi, dan berkontribusi bagi sesama.


Pengalaman Pribadi: Menjadi Bagian dari Aksen 2023

Sebagai Koordinator Bidang Acara, menjadi bagian dari Aksen 2023 merupakan pengalaman luar biasa dan berharga.
Awalnya, rasa tidak percaya diri muncul karena tanggung jawab yang besar. Saya sempat merasa belum cukup mampu untuk memimpin dan merancang konsep acara besar yang akan disaksikan ratusan orang.

Namun, seiring waktu, berbagai proses seperti rapat acara, penyusunan naskah drama, latihan penampil, hingga persiapan properti membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Meski ada tantangan dan hambatan, dukungan dari teman-teman dan guru membuat semua terasa lebih ringan.


Pelajaran Berharga dari Aksen

Mengikuti Aksen tidak hanya mengasah kemampuan organisasi, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan.
Beberapa hal yang saya pelajari antara lain:

  1. Kerendahan hati untuk mendengarkan orang lain, terutama saat melakukan kesalahan.
  2. Manajemen waktu, agar kegiatan belajar dan tugas kepanitiaan bisa seimbang.
  3. Pengorbanan dan dedikasi, karena untuk menghasilkan karya besar dibutuhkan usaha dan komitmen.

Penutup: Aksen sebagai Wadah Pertumbuhan dan Syukur

Menjadi bagian dari Aksen adalah pengalaman yang penuh makna dan patut disyukuri.
Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memampukan saya melalui setiap prosesnya.
Aksen bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga ajang pembentukan karakter, kreativitas, dan iman siswa SMA Athalia.

Kasih Karunia dari Allah

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Kasih karunia dari Allah

Lukas 1:30-31
Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Apa itu Kasih Karunia Allah?

Maria mendapat kasih karunia di hadapan Allah. Kasih karunia yang dimaksud oleh malaikat adalah mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi Juru Selamat dunia. Di satu sisi, ini adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa, rahim manusia berdosa dipakai untuk hadir-Nya Yesus, Putra Allah. Namun, di sisi lain tentu ini merupakan tugas yang berat karena Maria masih perawan. Saat itu di Israel, jika seorang wanita yang belum menikah mengandung seorang anak maka ia akan mendapatkan hukuman mati. Karena itu, kasih karunia yang diterima Maria adalah sebuah tanggung jawab mulia dari Allah. Ia menjadi rekan sekerja Allah untuk mewujudkan rencana Allah yang mulia yaitu menyelamatkan manusia yang berdosa.

Apa yang kita pikirkan ketika berbicara mengenai kasih karunia? Apakah berkat-berkat jasmani, kemudahan hidup dan kesenangan dunia ini? Kasih karunia Allah jauh melampaui keindahan dan kenikmatan dunia ini, karena kasih karunia Allah adalah ketika kita bisa menjadi bagian dari penggenapan rencana Allah yang mulia. Kasih Karunia adalah ketika kita bersedia dipakai menjadi hamba-Nya, melakukan kehendak-Nya seperti Maria (Lukas 1:38). Dan dalam prosesnya, Allah tidak meninggalkan umat-Nya.

Kasih Karunia Sebagai Orang Tua

Salah satu kasih karunia Allah bagi kita adalah dengan menjadi orang tua. Tidak semua orang punya kesempatan ini, namun jika kita memilikinya, bersyukurlah. Sebab anak adalah hak istimewa sekaligus tanggung jawab yang mulia dari Allah. Adakalanya tanggung jawab ini terasa berat sebab orang tua dan juga anak-anak sama-sama manusia yang terbatas. Namun, itu bukan berarti orang tua di dalam Tuhan tidak akan mampu mengemban tanggung jawab ini. Sebab kasih karunia Allah juga berarti adanya penyertaan Allah bagi mereka yang dipilih Allah untuk melakukan misi-Nya.

Natal Sebagai Kisah Kasih Karunia dari Allah

The story of Christmas is the story of God’s relentless love for us – Kisah Natal adalah kisah kasih Tuhan yang tiada henti bagi kita (Max Lucado). Oleh karena itu, biarlah momen Natal mengingatkan kita bahwa kasih karunia Allah telah dinyatakan bagi kita dengan kehadiran Kristus yang mengasihi dan menyelamatkan kita. Dan kiranya teladan kasih Allah itu mendorong kita untuk menjadi orang tua yang menyatakan kasih Kristus kepada anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita.

PARADIGMA KURIKULUM MERDEKA

Oleh: Elisabeth Lili Herlianah – Research & Development Unit SMP

Penerapan Kurikulum Merdeka di SMP Athalia

Tahun Ajaran 2023-2024, SMP Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Penerapan ini dilaksanakan secara bertahap, tahun ini diawali di kelas VII. Tentunya sebelum menerapkan kurikulum ini, semua pihak harus menyiapkan banyak hal, baik pihak sekolah, murid, dan orang tua murid.

Pihak sekolah telah memberikan pembekalan kepada pendidik dan tenaga kependidikan berupa pelatihan maupun workshop mengenai Kurikulum Merdeka. Hal yang terpenting untuk dapat memahami dan melaksanakan Kurikulum Merdeka adalah semua pihak harus menyadari akan perubahan paradigma dari yang lama ke yang baru. Paradigma Kurikulum Merdeka menekankan pada pengembangan kemampuan adaptasi dan pembelajaran sepanjang hayat.

Berikut adalah beberapa poin penting dalam paradigma ini:

1. Pembelajaran berpusat pada murid

Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada murid. Setiap murid aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Murid diberi kesempatan untuk menggali minat dan bakat mereka sendiri, mengembangkan kekuatan mereka, dan mengatasi kelemahan mereka.

2. Peningkatan keterampilan abad ke-21

Kurikulum Merdeka fokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan literasi digital. Murid diajarkan bagaimana menerapkan keterampilan ini dalam berbagai konteks baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.

3. Integrasi teknologi

Paradigma ini mengakui pentingnya teknologi dalam kehidupan murid saat ini. Oleh karena itu, teknologi digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi pembelajaran yang aktif, kolaboratif dan kreatif. Murid diajarkan tentang penggunaan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab.

4. Pembelajaran lintas disiplin

Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran lintas disiplin, setiap murid dapat mempelajari berbagai bidang pengetahuan dan mengintegrasikan konsep-konsep yang diajarkan bukan untuk satu disiplin ilmu saja melainkan dapat dihubungkan lebih holistik.

5. Pengembangan karakter dan etika

Selain pengetahuan akademik, Kurikulum Merdeka juga menekankan pada pengembangan karakter dan etika murid. Murid diajarkan nilai-nilai seperti integritas, empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Paradigma ini berusaha menciptakan individu yang tidak hanya pintar secara akademik tetapi juga berkepribadian baik.

6. Keterlibatan komunitas

Paradigma Kurikulum Merdeka mendorong keterlibatan komunitas dalam pembelajaran. Murid diajak untuk terlibat dalam proyek-proyek yang relevan dengan komunitas mereka sehingga mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam konteks yang nyata.

Tujuan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka bertujuan untuk mempersiapkan murid menjadi individu yang siap menghadapi dunia yang terus berubah. Paradigma ini memberikan murid kebebasan untuk mengembangkan potensi mereka sendiri dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran.

Dukungan Penerapan Kurikulum Merdeka

Dalam penerapan Kurikulum Merdeka ini, bagi para murid di usia remaja ini mereka masih sangat membutuhkan dukungan terutama dari pihak orang tua, yang bisa dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dukungan secara langsung misalnya orang tua mendampingi putra-putrinya saat sedang belajar di rumah ataupun saat membuat proyek yang sedang mereka kerjakan. Dukungan secara tidak langsung misalnya orang tua memberikan kesempatan kepada putra-putrinya untuk mencari informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugasnya dengan memberikan fasilitas yang diperlukan dalam pencarian informasi. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah dukungan orang tua dalam bentuk terus mendoakan dan memberikan semangat untuk putra-putrinya agar menjadi pribadi yang berkarakter dan mandiri.

Demikianlah sekilas informasi mengenai paradigma Kurikulum Merdeka. Tetap semangat untuk pendidik, tenaga kependidikan, murid, dan orang tua dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. Kerja sama yang harmonis dari semua pihak sangat diperlukan, terutama orang tua dan pihak sekolah demi generasi muda menyongsong masa depan yang lebih gemilang.

Catatan: 
Poin-poin tentang paradigma Kurikulum Merdeka diambil dari sumber di bawah ini dengan beberapa perubahan redaksi kalimat.
https://dikbudbanggai.id/read/183/paradigma-baru-kurikulum-merdeka-menghadapi-abad-21

Baca juga: Kurikulum Merdeka

Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Grace Maharani Eraputri – Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Halo perkenalkan namaku Grace Maharani Eraputri alumni Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong. Aku alumni tahun 2023 dan sekarang aku sedang berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Teknologi Bioproses. Puji Tuhan, aku bisa masuk ke jurusan impianku dan ikut bahagia dengan teman-teman lulusan Athalia yang lulus ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan jurusan yang mereka minati juga. Aku sangat bersyukur diberikan teman-teman seperjuangan, komunitas, dan sekolah yang sangat baik.


Siap masuk ke dunia perkuliahan tidak terlepas dari apa yang telah Athalia ajarkan dan bekalkan padaku. Nyatanya, iman dan karakter teguhlah yang menguatkanku selama berkuliah. Sekarang, aku mau sharing perjalananku bersama Tuhan selama bersekolah di Athalia.

Kisah Berjalan Bersama Tuhan Selama Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Perjalanan yang cukup panjang aku habiskan di Athalia. Aku belajar dan bertumbuh di Sekolah Athalia sejak berumur 3 tahun, alias masih imut di play group. Awal play group aku sangat penakut, banyak anak-anak yang asik bermain tetapi aku cuma duduk mengamati. Tapi menariknya, aku tidak pernah sendiri. Tahukah mengapa? Karena selalu ada Bu Guru yang menggandengku, sama seperti Allah yang menyertai dari awal hidupku. Jadi, kalau kami lagi keluar dari kelas, pasti aku ada di paling depan karena digandeng oleh Bu Guru. Aku merasa diterima dan ketika satu tahun lewat, aku sudah jadi anak paling riang gembira di sekolah menyanyikan lagu-lagu karakter dan beraktivitas bersama teman-teman. Jadi dari cerita tersebut, aku jadi mengenali dan mempelajari karakter kasih. Ketika di Sekolah Dasar, aku dididik tentang penguasaan diri, tentang bagaimana menjadi anak yang taat, sabar, murah hati, setia, dan lain-lain.

Lalu bagaimana aku belajar karakter di Sekolah Athalia ketika di jenjang SMP dan SMA? Pengertian yang jauh lebih berharga lagi ada di SMP dan SMA, karena di sinilah aku mulai belajar peduli dan berkontribusi bagi sesama. Pak Jefry, Captain BB mengajarkanku menjadi orang yang bersandar pada Tuhan meski kondisi menakutkan dan meragukan. Meski mendaki ke gunung saat itu merupakan keputusan yang sulit buat aku, beliau yang meneguhkanku sampai akhirnya terbukti bahwa Tuhan menyertai kami. Jadi, sampai sekarang aku belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bukan pengertian sendiri, caranya dengan berdaya tahan, sabar, dan tekun menghadapi segala sesuatu. Aku juga jadi memahami tujuan Tuhan dalam hidupku dan menurutku itu ajaib dan menarik.

Aku berterima kasih pada Athalia karena telah mendidikku jadi anak Tuhan yang bisa mengimplementasikan karakter-karakter Allah. Semua pengajaran ini akan sangat berguna di masa hidupku. Sekian, terima kasih sudah diberi kesempatan untuk berbagi lewat tulisan ini. Tuhan memberkati.

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Bella Kumalasari – Plt. Kasie Karakter Sekolah Athalia

Visi Sekolah Athalia

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia – sebuah sekolah Kristen di Serpong, dilakukan demi tercapainya visi Sekolah Athalia, yaitu “Siswa yang menjadi murid Tuhan”. Seorang murid mengikuti gurunya dan meniru apa yang dilakukan oleh guru tersebut. Dalam Yohanes 13:34-35, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada para murid-Nya agar saling mengasihi sama seperti Tuhan telah mengasihi mereka. Dengan demikian, semua orang akan tahu kalau mereka adalah murid-murid-Nya. Oleh sebab itu, dasar dari semua karakter yang diajarkan di Sekolah Athalia adalah kasih. Kasih yang sempurna telah dianugerahkan melalui kematian Tuhan Yesus di kayu salib dan itulah yang mendorong setiap kita untuk juga mau mengasihi-Nya dengan hidup makin serupa dengan-Nya.

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia
Gambar 1

Proses Pembinaan Karakter

Sekolah Athalia memberikan pembinaan karakter secara intensional kepada para murid. Ada kesinambungan yang diharapkan terjadi dari TK hingga SMA (gambar 1). Di TK, karakter mulai ditumbuhkan (growing) dan terus dibentuk di masa SD (shaping) sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang kokoh (steadfast person). Di SMP dan SMA mereka mulai diajak untuk memperhatikan sekitar mereka. Karakter-karakter yang dipelajari mendorong mereka untuk peduli dan berbagi (caring and sharing) bahkan berdampak dan berkontribusi (influencing and contributing) bagi sekitar sehingga mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang melayani (servant leader). Karakter yang dipelajari juga tidak hanya diajarkan pada 1 level saja tetapi ada yang diulang di level-level selanjutnya agar murid terus menghidupinya.

Dalam pembinaan karakter yang didasari oleh kasih kepada Tuhan, murid-murid tidak hanya diajar secara kognitif atau teoritis, tetapi juga diberikan contoh-contoh melalui kisah nyata, tokoh, ilustrasi, cerita dongeng, ataupun sharing langsung dari guru dan teman. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk menerapkan karakter yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap murid memiliki “proyek karakter” yang harus dikerjakan baik di rumah maupun di sekolah. Proyek karakter diberikan sesuai dengan usia murid, misalnya: murid TK belajar karakter penuh perhatian dengan cara segera menjawab ketika dipanggil guru/orang tua, murid SD belajar karakter ketertiban dengan melakukan kegiatan sesuai jadwal, murid SMP belajar karakter tanggung jawab dengan membereskan kamar sendiri, murid SMA belajar karakter keberanian untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.

Penerapan

Penerapan karakter dalam keseharian sangat membutuhkan keterlibatan orang tua. Apa saja yang dapat orang tua lakukan untuk mendukung perkembangan karakter anak?

  • Beri ruang untuk berproses.

Untuk dapat melatih karakternya, anak butuh ruang untuk mencoba dan kemungkinan melakukan kesalahan. Orang tua perlu mendukung dengan mengizinkan dan memaklumi hal tersebut.

  • Beri pujian dan respons yang meneguhkan.

Ketika anak melatih karakternya, orang tua dapat memberikan pujian dan peneguhan. Hindari respons yang menghakimi dan membuat anak tidak lagi berani mencoba. Apresiasi setiap perubahan kecil.

  • Beri teladan.

Salah satu cara anak belajar adalah dengan meniru. Orang tua perlu menjadi teladan bagi anak dalam praktik karakter sehari-hari. Dengan demikian, anak mengerti apa yang benar dan salah serta bagaimana melakukannya.

  • Berjalan bersama dalam proyek karakter anak.

Di TK dan SD, orang tua dapat mengingatkan dan memonitor proyek karakternya setiap hari. Di SMP dan SMA, orang tua dapat menjadi teman seperjalanan anak-anaknya dengan berdiskusi mengenai proyek yang sedang dikerjakan anaknya tanpa menghakimi dan menuntut.

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia tidak dapat berjalan sendiri tanpa kerja sama dan keterlibatan orang tua. Mari bergandengan tangan membina karakter anak-anak kita agar mereka dapat bertumbuh makin serupa Kristus dan menjadi berkat bagi sekitarnya.