Pengalaman Sebagai Panitia Mengajarkan Menghargai Hal-Hal Kecil

Oleh: Galvin Farrel N. U. – Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023

Perkenalkan nama saya Galvin Farrel Nathanael Ulag. Saya diminta untuk menjadi Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023. Puji Tuhan, Athalia Cup akhirnya dapat dilaksanakan kembali setelah vakum kurang lebih 4 tahun. Sebenarnya, apa Athalia Cup itu? Athalia Cup adalah ajang perlombaan olahraga antar sekolah yang diselenggarakan oleh Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Tahun ini terdapat dua cabang olahraga yang diadakan, yaitu futsal dan basket. Tujuan dari Athalia Cup adalah untuk mengembangkan potensi diri secara khusus dalam bidang olahraga dan mempererat hubungan antar sekolah.

Pengalaman sebagai Panitia

Tentunya banyak sekali pengalaman yang saya peroleh sebagai panitia Athalia Cup 2023. Posisi sebagai Koordinator Bidang Pertandingan adalah salah satu posisi yang sangat penting perannya dalam Athalia Cup. Namun, tidak ada keraguan dalam hati saya saat menerima tawaran posisi tersebut. Saya berkomitmen akan bekerja keras untuk kelancaran jalannya Athalia Cup. Berada di posisi ini memberi saya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatur sebuah acara yang cukup besar dengan rapi dan memperhatikan detail-detail kecil supaya acara dapat berjalan dengan lancar. Ini tidak mudah bagi saya karena saya bukanlah orang yang rapi dalam bertugas dan memperhatikan detail-detail kecil.

Proses persiapan Athalia Cup benar-benar membentuk saya untuk memperhatikan detail-detail pekerjaan sekecil apapun. Jika ada detail yang terlewat pasti akan berdampak untuk saya sebagai Koordinator Bidang, bahkan berdampak untuk bidang lain yang bekerja sama dengan bidang pertandingan. Dari awal sampai akhir, guru pendamping selalu mengingatkan kami untuk membuat laporan pencatatan dengan detail. Pernah beberapa kali saya tidak mencatat dengan detail perlengkapan yang digunakan table Athalia Cup. Ketika saya ditanya guru pendamping, saya kesulitan untuk menjawab karena tidak mencatat dengan detail. Belajar dari pengalaman tersebut, saya membiasakan diri mencatat dengan detail setiap hasil pembahasan atau tugas bidang. Catatan yang detail ini membuat saya lebih siap ketika mendapat pertanyaan dari orang lain terkait dengan bidang pertandingan. Saya bisa menjawab dengan lancar karena apa yang saya tulis dengan detail, sangat membantu ketika ditanyakan mengenai bidang yang saya pegang.

Puji Tuhan, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini karena pengalaman yang berharga ini sangat berguna untuk masa depan saya, saat bersekolah, kuliah, dan bekerja. Melalui penyertaan Tuhan, saya belajar menjadi seorang pemimpin yang detail sehingga dapat mengarahkan pertandingan selama satu minggu dengan baik dan terstruktur.

Aksen SMA Athalia

Oleh: Joan Adalia Budiman – Koordinator Bidang Acara AKSEN 2023

Apa Itu Aksen?

Aksen, atau Ajang Kreativitas dan Seni, merupakan kegiatan pentas seni tahunan yang diselenggarakan oleh SMA Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong. Aksen menjadi wadah bagi seluruh siswa-siswi Sekolah Athalia untuk berkontribusi, baik sebagai panitia, pemeran, maupun penampil.

Setelah dua tahun vakum akibat pandemi COVID-19, Aksen akhirnya kembali digelar tahun lalu, meski tanpa Athalia Cup. Tahun ini, Sekolah Athalia kembali menghadirkan Aksen bersamaan dengan Athalia Cup, membawa semangat baru bagi seluruh siswa.


Konsep Unik Aksen: Siswa Sebagai Bintang Utama

Berbeda dari sekolah lain yang biasanya menutup acara olahraga antar sekolah dengan penampilan musisi tamu, SMA Athalia mengusung konsep berbeda.
Dalam Aksen, siswa-siswi SMP dan SMA Athalia sendiri menjadi bintang utama yang menampilkan bakat mereka di atas panggung.

Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa setiap siswa memiliki potensi kreatif dan talenta luar biasa yang layak untuk ditampilkan dan dikembangkan.


Charity Night: Bentuk Nyata Karakter “Influencing and Contributing

Salah satu kegiatan istimewa dalam Aksen adalah Charity Night, sebuah malam amal yang menjadi wujud nyata nilai karakter Sekolah Athalia: Influencing and Contributing.
Melalui acara ini, siswa diajak untuk memberikan dampak positif kepada komunitas sekitar, belajar berbagi, dan berkontribusi bagi sesama.


Pengalaman Pribadi: Menjadi Bagian dari Aksen 2023

Sebagai Koordinator Bidang Acara, menjadi bagian dari Aksen 2023 merupakan pengalaman luar biasa dan berharga.
Awalnya, rasa tidak percaya diri muncul karena tanggung jawab yang besar. Saya sempat merasa belum cukup mampu untuk memimpin dan merancang konsep acara besar yang akan disaksikan ratusan orang.

Namun, seiring waktu, berbagai proses seperti rapat acara, penyusunan naskah drama, latihan penampil, hingga persiapan properti membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Meski ada tantangan dan hambatan, dukungan dari teman-teman dan guru membuat semua terasa lebih ringan.


Pelajaran Berharga dari Aksen

Mengikuti Aksen tidak hanya mengasah kemampuan organisasi, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan.
Beberapa hal yang saya pelajari antara lain:

  1. Kerendahan hati untuk mendengarkan orang lain, terutama saat melakukan kesalahan.
  2. Manajemen waktu, agar kegiatan belajar dan tugas kepanitiaan bisa seimbang.
  3. Pengorbanan dan dedikasi, karena untuk menghasilkan karya besar dibutuhkan usaha dan komitmen.

Penutup: Aksen sebagai Wadah Pertumbuhan dan Syukur

Menjadi bagian dari Aksen adalah pengalaman yang penuh makna dan patut disyukuri.
Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memampukan saya melalui setiap prosesnya.
Aksen bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga ajang pembentukan karakter, kreativitas, dan iman siswa SMA Athalia.

Kasih Karunia dari Allah

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Kasih karunia dari Allah

Lukas 1:30-31
Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Apa itu Kasih Karunia Allah?

Maria mendapat kasih karunia di hadapan Allah. Kasih karunia yang dimaksud oleh malaikat adalah mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi Juru Selamat dunia. Di satu sisi, ini adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa, rahim manusia berdosa dipakai untuk hadir-Nya Yesus, Putra Allah. Namun, di sisi lain tentu ini merupakan tugas yang berat karena Maria masih perawan. Saat itu di Israel, jika seorang wanita yang belum menikah mengandung seorang anak maka ia akan mendapatkan hukuman mati. Karena itu, kasih karunia yang diterima Maria adalah sebuah tanggung jawab mulia dari Allah. Ia menjadi rekan sekerja Allah untuk mewujudkan rencana Allah yang mulia yaitu menyelamatkan manusia yang berdosa.

Apa yang kita pikirkan ketika berbicara mengenai kasih karunia? Apakah berkat-berkat jasmani, kemudahan hidup dan kesenangan dunia ini? Kasih karunia Allah jauh melampaui keindahan dan kenikmatan dunia ini, karena kasih karunia Allah adalah ketika kita bisa menjadi bagian dari penggenapan rencana Allah yang mulia. Kasih Karunia adalah ketika kita bersedia dipakai menjadi hamba-Nya, melakukan kehendak-Nya seperti Maria (Lukas 1:38). Dan dalam prosesnya, Allah tidak meninggalkan umat-Nya.

Kasih Karunia Sebagai Orang Tua

Salah satu kasih karunia Allah bagi kita adalah dengan menjadi orang tua. Tidak semua orang punya kesempatan ini, namun jika kita memilikinya, bersyukurlah. Sebab anak adalah hak istimewa sekaligus tanggung jawab yang mulia dari Allah. Adakalanya tanggung jawab ini terasa berat sebab orang tua dan juga anak-anak sama-sama manusia yang terbatas. Namun, itu bukan berarti orang tua di dalam Tuhan tidak akan mampu mengemban tanggung jawab ini. Sebab kasih karunia Allah juga berarti adanya penyertaan Allah bagi mereka yang dipilih Allah untuk melakukan misi-Nya.

Natal Sebagai Kisah Kasih Karunia dari Allah

The story of Christmas is the story of God’s relentless love for us – Kisah Natal adalah kisah kasih Tuhan yang tiada henti bagi kita (Max Lucado). Oleh karena itu, biarlah momen Natal mengingatkan kita bahwa kasih karunia Allah telah dinyatakan bagi kita dengan kehadiran Kristus yang mengasihi dan menyelamatkan kita. Dan kiranya teladan kasih Allah itu mendorong kita untuk menjadi orang tua yang menyatakan kasih Kristus kepada anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita.

PARADIGMA KURIKULUM MERDEKA

Oleh: Elisabeth Lili Herlianah – Research & Development Unit SMP

Penerapan Kurikulum Merdeka di SMP Athalia

Tahun Ajaran 2023-2024, SMP Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Penerapan ini dilaksanakan secara bertahap, tahun ini diawali di kelas VII. Tentunya sebelum menerapkan kurikulum ini, semua pihak harus menyiapkan banyak hal, baik pihak sekolah, murid, dan orang tua murid.

Pihak sekolah telah memberikan pembekalan kepada pendidik dan tenaga kependidikan berupa pelatihan maupun workshop mengenai Kurikulum Merdeka. Hal yang terpenting untuk dapat memahami dan melaksanakan Kurikulum Merdeka adalah semua pihak harus menyadari akan perubahan paradigma dari yang lama ke yang baru. Paradigma Kurikulum Merdeka menekankan pada pengembangan kemampuan adaptasi dan pembelajaran sepanjang hayat.

Berikut adalah beberapa poin penting dalam paradigma ini:

1. Pembelajaran berpusat pada murid

Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada murid. Setiap murid aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Murid diberi kesempatan untuk menggali minat dan bakat mereka sendiri, mengembangkan kekuatan mereka, dan mengatasi kelemahan mereka.

2. Peningkatan keterampilan abad ke-21

Kurikulum Merdeka fokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan literasi digital. Murid diajarkan bagaimana menerapkan keterampilan ini dalam berbagai konteks baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.

3. Integrasi teknologi

Paradigma ini mengakui pentingnya teknologi dalam kehidupan murid saat ini. Oleh karena itu, teknologi digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi pembelajaran yang aktif, kolaboratif dan kreatif. Murid diajarkan tentang penggunaan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab.

4. Pembelajaran lintas disiplin

Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran lintas disiplin, setiap murid dapat mempelajari berbagai bidang pengetahuan dan mengintegrasikan konsep-konsep yang diajarkan bukan untuk satu disiplin ilmu saja melainkan dapat dihubungkan lebih holistik.

5. Pengembangan karakter dan etika

Selain pengetahuan akademik, Kurikulum Merdeka juga menekankan pada pengembangan karakter dan etika murid. Murid diajarkan nilai-nilai seperti integritas, empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Paradigma ini berusaha menciptakan individu yang tidak hanya pintar secara akademik tetapi juga berkepribadian baik.

6. Keterlibatan komunitas

Paradigma Kurikulum Merdeka mendorong keterlibatan komunitas dalam pembelajaran. Murid diajak untuk terlibat dalam proyek-proyek yang relevan dengan komunitas mereka sehingga mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam konteks yang nyata.

Tujuan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka bertujuan untuk mempersiapkan murid menjadi individu yang siap menghadapi dunia yang terus berubah. Paradigma ini memberikan murid kebebasan untuk mengembangkan potensi mereka sendiri dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran.

Dukungan Penerapan Kurikulum Merdeka

Dalam penerapan Kurikulum Merdeka ini, bagi para murid di usia remaja ini mereka masih sangat membutuhkan dukungan terutama dari pihak orang tua, yang bisa dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dukungan secara langsung misalnya orang tua mendampingi putra-putrinya saat sedang belajar di rumah ataupun saat membuat proyek yang sedang mereka kerjakan. Dukungan secara tidak langsung misalnya orang tua memberikan kesempatan kepada putra-putrinya untuk mencari informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugasnya dengan memberikan fasilitas yang diperlukan dalam pencarian informasi. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah dukungan orang tua dalam bentuk terus mendoakan dan memberikan semangat untuk putra-putrinya agar menjadi pribadi yang berkarakter dan mandiri.

Demikianlah sekilas informasi mengenai paradigma Kurikulum Merdeka. Tetap semangat untuk pendidik, tenaga kependidikan, murid, dan orang tua dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. Kerja sama yang harmonis dari semua pihak sangat diperlukan, terutama orang tua dan pihak sekolah demi generasi muda menyongsong masa depan yang lebih gemilang.

Catatan: 
Poin-poin tentang paradigma Kurikulum Merdeka diambil dari sumber di bawah ini dengan beberapa perubahan redaksi kalimat.
https://dikbudbanggai.id/read/183/paradigma-baru-kurikulum-merdeka-menghadapi-abad-21

Baca juga: Kurikulum Merdeka

Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Grace Maharani Eraputri – Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Halo perkenalkan namaku Grace Maharani Eraputri alumni Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong. Aku alumni tahun 2023 dan sekarang aku sedang berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Teknologi Bioproses. Puji Tuhan, aku bisa masuk ke jurusan impianku dan ikut bahagia dengan teman-teman lulusan Athalia yang lulus ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan jurusan yang mereka minati juga. Aku sangat bersyukur diberikan teman-teman seperjuangan, komunitas, dan sekolah yang sangat baik.


Siap masuk ke dunia perkuliahan tidak terlepas dari apa yang telah Athalia ajarkan dan bekalkan padaku. Nyatanya, iman dan karakter teguhlah yang menguatkanku selama berkuliah. Sekarang, aku mau sharing perjalananku bersama Tuhan selama bersekolah di Athalia.

Kisah Berjalan Bersama Tuhan Selama Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Perjalanan yang cukup panjang aku habiskan di Athalia. Aku belajar dan bertumbuh di Sekolah Athalia sejak berumur 3 tahun, alias masih imut di play group. Awal play group aku sangat penakut, banyak anak-anak yang asik bermain tetapi aku cuma duduk mengamati. Tapi menariknya, aku tidak pernah sendiri. Tahukah mengapa? Karena selalu ada Bu Guru yang menggandengku, sama seperti Allah yang menyertai dari awal hidupku. Jadi, kalau kami lagi keluar dari kelas, pasti aku ada di paling depan karena digandeng oleh Bu Guru. Aku merasa diterima dan ketika satu tahun lewat, aku sudah jadi anak paling riang gembira di sekolah menyanyikan lagu-lagu karakter dan beraktivitas bersama teman-teman. Jadi dari cerita tersebut, aku jadi mengenali dan mempelajari karakter kasih. Ketika di Sekolah Dasar, aku dididik tentang penguasaan diri, tentang bagaimana menjadi anak yang taat, sabar, murah hati, setia, dan lain-lain.

Lalu bagaimana aku belajar karakter di Sekolah Athalia ketika di jenjang SMP dan SMA? Pengertian yang jauh lebih berharga lagi ada di SMP dan SMA, karena di sinilah aku mulai belajar peduli dan berkontribusi bagi sesama. Pak Jefry, Captain BB mengajarkanku menjadi orang yang bersandar pada Tuhan meski kondisi menakutkan dan meragukan. Meski mendaki ke gunung saat itu merupakan keputusan yang sulit buat aku, beliau yang meneguhkanku sampai akhirnya terbukti bahwa Tuhan menyertai kami. Jadi, sampai sekarang aku belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bukan pengertian sendiri, caranya dengan berdaya tahan, sabar, dan tekun menghadapi segala sesuatu. Aku juga jadi memahami tujuan Tuhan dalam hidupku dan menurutku itu ajaib dan menarik.

Aku berterima kasih pada Athalia karena telah mendidikku jadi anak Tuhan yang bisa mengimplementasikan karakter-karakter Allah. Semua pengajaran ini akan sangat berguna di masa hidupku. Sekian, terima kasih sudah diberi kesempatan untuk berbagi lewat tulisan ini. Tuhan memberkati.

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Bella Kumalasari – Plt. Kasie Karakter Sekolah Athalia

Visi Sekolah Athalia

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia – sebuah sekolah Kristen di Serpong, dilakukan demi tercapainya visi Sekolah Athalia, yaitu “Siswa yang menjadi murid Tuhan”. Seorang murid mengikuti gurunya dan meniru apa yang dilakukan oleh guru tersebut. Dalam Yohanes 13:34-35, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada para murid-Nya agar saling mengasihi sama seperti Tuhan telah mengasihi mereka. Dengan demikian, semua orang akan tahu kalau mereka adalah murid-murid-Nya. Oleh sebab itu, dasar dari semua karakter yang diajarkan di Sekolah Athalia adalah kasih. Kasih yang sempurna telah dianugerahkan melalui kematian Tuhan Yesus di kayu salib dan itulah yang mendorong setiap kita untuk juga mau mengasihi-Nya dengan hidup makin serupa dengan-Nya.

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia
Gambar 1

Proses Pembinaan Karakter

Sekolah Athalia memberikan pembinaan karakter secara intensional kepada para murid. Ada kesinambungan yang diharapkan terjadi dari TK hingga SMA (gambar 1). Di TK, karakter mulai ditumbuhkan (growing) dan terus dibentuk di masa SD (shaping) sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang kokoh (steadfast person). Di SMP dan SMA mereka mulai diajak untuk memperhatikan sekitar mereka. Karakter-karakter yang dipelajari mendorong mereka untuk peduli dan berbagi (caring and sharing) bahkan berdampak dan berkontribusi (influencing and contributing) bagi sekitar sehingga mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang melayani (servant leader). Karakter yang dipelajari juga tidak hanya diajarkan pada 1 level saja tetapi ada yang diulang di level-level selanjutnya agar murid terus menghidupinya.

Dalam pembinaan karakter yang didasari oleh kasih kepada Tuhan, murid-murid tidak hanya diajar secara kognitif atau teoritis, tetapi juga diberikan contoh-contoh melalui kisah nyata, tokoh, ilustrasi, cerita dongeng, ataupun sharing langsung dari guru dan teman. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk menerapkan karakter yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap murid memiliki “proyek karakter” yang harus dikerjakan baik di rumah maupun di sekolah. Proyek karakter diberikan sesuai dengan usia murid, misalnya: murid TK belajar karakter penuh perhatian dengan cara segera menjawab ketika dipanggil guru/orang tua, murid SD belajar karakter ketertiban dengan melakukan kegiatan sesuai jadwal, murid SMP belajar karakter tanggung jawab dengan membereskan kamar sendiri, murid SMA belajar karakter keberanian untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.

Penerapan

Penerapan karakter dalam keseharian sangat membutuhkan keterlibatan orang tua. Apa saja yang dapat orang tua lakukan untuk mendukung perkembangan karakter anak?

  • Beri ruang untuk berproses.

Untuk dapat melatih karakternya, anak butuh ruang untuk mencoba dan kemungkinan melakukan kesalahan. Orang tua perlu mendukung dengan mengizinkan dan memaklumi hal tersebut.

  • Beri pujian dan respons yang meneguhkan.

Ketika anak melatih karakternya, orang tua dapat memberikan pujian dan peneguhan. Hindari respons yang menghakimi dan membuat anak tidak lagi berani mencoba. Apresiasi setiap perubahan kecil.

  • Beri teladan.

Salah satu cara anak belajar adalah dengan meniru. Orang tua perlu menjadi teladan bagi anak dalam praktik karakter sehari-hari. Dengan demikian, anak mengerti apa yang benar dan salah serta bagaimana melakukannya.

  • Berjalan bersama dalam proyek karakter anak.

Di TK dan SD, orang tua dapat mengingatkan dan memonitor proyek karakternya setiap hari. Di SMP dan SMA, orang tua dapat menjadi teman seperjalanan anak-anaknya dengan berdiskusi mengenai proyek yang sedang dikerjakan anaknya tanpa menghakimi dan menuntut.

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia tidak dapat berjalan sendiri tanpa kerja sama dan keterlibatan orang tua. Mari bergandengan tangan membina karakter anak-anak kita agar mereka dapat bertumbuh makin serupa Kristus dan menjadi berkat bagi sekitarnya.

Kita Berharga di Mata Tuhan

Kita Berharga di Mata Tuhan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Yesaya 43:4
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi Engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu

Firman Tuhan ini disampaikan oleh Yesaya kepada orang Israel yang saat itu berada dalam pembuangan. Pembuangan adalah masa di mana Israel dihancurkan oleh Babel dan orang-orang Israel diangkut keluar dari negerinya untuk menjadi budak di Babel. Hal ini terjadi sebagai hukuman atas dosa yang Israel lakukan. Namun, di tengah hukuman yang mereka rasakan, Tuhan tetap baik dan mengasihi mereka.

Sekalipun saat itu Israel belum bertobat, Ia tetap menjanjikan keselamatan kepada umat-Nya. Ia berjanji akan melepaskan mereka dari Babel dan mengembalikan mereka ke negerinya. Keselamatan Tuhan berikan kepada umat-Nya bukan karena Israel baik atau sempurna melainkan karena anugerah Tuhan semata. Tuhan memberikan keselamatan kepada umat-Nya karena di mata-Nya mereka berharga, mulia, dan Ia mengasihi umat-Nya.

Kiranya pengalaman Israel bersama Tuhan menjadi pengingat bahwa saat ini kita pun dikasihi-Nya. Tuhan memandang setiap anak-Nya berharga dan mulia sehingga memberikan yang paling berharga untuk menyelamatkan kita, yaitu nyawa Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Meskipun kita lemah dan terbatas, Ia tidak membuang kita. Sebaliknya, Ia mau terus merangkul dan menopang kita karena Ia mengasihi kita dengan anugerah-Nya. Percayalah dan bersyukurlah untuk kasih-Nya. Lebih daripada itu, Ia pun rindu, kita memiliki cara pandang dan sikap yang sama kepada sesama kita terutama pasangan dan anak-anak kita. Mari belajar menghargai kehadiran mereka, menerima dan mengasihi mereka dengan segala keunikannya sebagaimana Tuhan memandang kita berharga dan mengasihi kita.

Baca juga: Kita Berharga di Mata Tuhan

Partnership Program SMP Athalia 2023

Oleh: Beryl Sadewa – Wakasek Kesiswaan SMP Athalia

Partnership Program di SMP Athalia

Belum lama ini, SMP Athalia, sebuah sekolah di BSD, Serpong, menyelenggarakan kegiatan Partnership Program yang berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang pertama 29 Agustus 2023 dan gelombang kedua pada 12 September 2023. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan murid-nurid  kelas VI SD Athalia kepada kegiatan belajar mengajar di SMP pada umumnya dan SMP Athalia pada khususnya. Setelah mengikuti kegiatan ini, diharapkan mereka memiliki sedikit gambaran mengenai proses belajar mengajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMP.
 
Dalam kegiatan Partnership Program ini, peserta diperkenalkan kepada SMP Athalia, khususnya  melalui perpustakaan dan kegiatan pembelajaran. Di perpustakaan, mereka dijelaskan prosedur peminjaman buku maupun pemakaian fasilitas lain yang ada di perpustakaan. Mereka juga berkesempatan mengikuti kegiatan pembelajaran bersama guru-guru SMP Athalia, seperti mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris, Seni Tari, Seni Lukis, dan Olahraga. 
 

Memperkenalkan Kegiatan Berorganisasi di SMP Athalia

Selain kegiatan pembelajaran, hal yang cukup berbeda di SMP adalah belajar berorganisasi. SMP Athalia memiliki dua wadah untuk memfasilitasi murid-murid dalam berorganisasi, yaitu OSIS dan Boys’ Brigade (BB). Sepintas, peserta mendapat informasi berkaitan dengan kegiatan-kegiatan OSIS dan BB yang dapat mereka ikuti nantinya. Mereka juga dapat berinteraksi langsung dengan pengurus OSIS dan NCO*) dalam kelompok kecil.
 

Konsep Kegiatan Partneship Program

Kegiatan ini dikemas sedemikian rupa menyerupai konsep Amazing Race. Hal ini dilakukan untuk menambah minat dan semangat peserta. Misalnya, peserta diharapkan mampu bekerja sama untuk menemukan petunjuk-petunjuk tersembunyi yang dipersiapkan sebelumnya agar mereka dapat masuk ke aktivitas berikutnya. 
 
Jumlah murid yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 110 murid yang didampingi oleh guru-guru SD. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan guru-guru SMP yang kreatif, 12 orang pengurus OSIS, dan 8 orang NCO.
 
 
 

*) NCO (Non Commisioned Officer) adalah anggota BB yang telah mengikuti latihan kepemimpinan dan diangkat menjadi pemimpin bagi anggota-anggota BB lainnya. Pada dasarnya mereka adalah kepanjangan tangan para officer (Pembina BB) dalam menjalankan kegiatan BB di cabangnya.

Merdeka dari Dosa VS Merdeka Berbuat Dosa

Merdeka dari Dosa VS Merdeka Berbuat Dosa

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Galatia 5:13
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Keselamatan Adalah Anugerah

Ajaran Yudaisme yang berkembang di Galatia mengajarkan bahwa untuk mendapat keselamatan, seseorang harus menaati hukum Taurat. Hal ini jelas bertentangan dengan apa yang Yesus ajarkan. Oleh sebab itu, Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah, bukan usaha atau perbuatan baik manusia. Orang percaya telah dibebaskan dari kutuk dosa dan menerima hidup yang kekal karena anugerah Allah. Orang percaya adalah orang-orang yang merdeka dari dosa dan tidak berada di bawah hukum Taurat melainkan di dalam kasih karunia Allah.

Merdeka dari Dosa

Jika kita tidak memerlukan perbuatan baik untuk mendapat keselamatan, apakah itu berarti kita boleh hidup semau kita termasuk berbuat dosa? Tentu tidak. Paulus menuliskan bahwa memang orang percaya telah dimerdekakan dari dosa tetapi jangan menggunakan kemerdekaan itu untuk hidup dalam dosa. Kita sudah dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan dengan darah Kristus, mengapa kita mau kembali hidup di dalam dosa lagi? Merdeka dari dosa bukan berarti merdeka berbuat dosa. Sebaliknya, hal ini berarti tidak lagi berbuat dosa sebagai wujud syukur serta kasih kita kepada Allah dan agar nama-Nya dimuliakan melalui kesaksian hidup kita.

Hidup Menjadi Berkat

Mari kita menjadi saksi Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan melalui kehidupan yang merdeka dari dosa, hidup yang menjadi terang dan garam di mana pun kita berada dan juga dengan mengasihi dan menjadi berkat bagi sesama. Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Tuhan Yesus memberkati.

Kurikulum Merdeka

Oleh: Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia

Kurikulum nasional tiap periode tertentu diubah oleh para pembuat kebijakan. Ada yang perubahannya signifikan, ada yang tidak. Sejauh ini, kurikulum nasional kita bersifat sangat mengikat dan menjadi acuan minimal bagi sekolah/satuan penyelenggara pendidikan. Namun, jika ada penambahan/improvisasi yang akan dilakukan oleh satuan pendidikan berdasarkan kebutuhan sekolah itu sendiri pun tidak bisa serta-merta diterapkan. Pengawas sekolah belum tentu menyetujui penambahan/improvisasi yang dirancang oleh sekolah.

Kurikulum Merdeka adalah kabar gembira bagi satuan pendidikan dari TK sampai SMA. Kehadiran kurikulum ini diharap dapat memberi keleluasaan kepada tiap sekolah (pendidik dan tenaga kependidikan) untuk dapat menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar siswanya. Pendidikan di dalam Kurikulum Merdeka berorientasi kepada kebutuhan para siswa (student-centered). Berbagai upaya akan dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam sistem pendidikan untuk menjadikan siswa sebagai pelajar yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya dan berkarakter baik demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional.

Kurikulum Merdeka dan P5

Dalam Kurikulum Merdeka, ada yang menarik untuk kita perhatikan bersama, yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau bisa disebut dengan P5. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memiliki porsi yang cukup besar dalam proses pembelajaran selama 1 tahun ajaran yaitu 20-25%. Melalui proyek ini, para siswa akan dibentuk menjadi pelajar yang bukan saja memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang ke-Pancasila-an tetapi juga belajar menghidupi nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan masyarakat yang beraneka ragam dimanapun mereka berada. Di perguruan tinggi “upaya sengaja” yang sama juga akan diterapkan. Maka diharapkan lahirlah manusia Indonesia yang Pancasilais dalam arti sesungguhnya yang akan membangun bangsa ini.

Persiapan Pelaksanaan

Merdeka? Apakah artinya Kurikulum Merdeka lebih mudah disusun dan diterapkan? Jawabannya justru jauh lebih sulit karena sekolah/satuan pendidikan tidak terbiasa merancang kurikulumnya sendiri. Semua sekolah (termasuk Sekolah Athalia) harus berjuang keras dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka ini. Dibutuhkan bantuan dan doa dari para orang tua/wali siswa untuk mendukung penerapan kurikulum ini. Ada sejumlah perbedaan yang akan diterapkan dalam Kurikulum ini. Contoh: tidak ada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan tidak ada penjurusan/peminatan, ada penerapan pembelajaran diferensiasi, rapor yang berbeda, dan masih banyak yang lain.

Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, akan menerapkan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2023/2024 dimulai dengan kelas KB-TK, SD kelas 1, 7, dan kelas 10. Sebagai praktisi pendidikan yang sudah bergelut di dunia pendidikan selama 37 tahun, saya optimis bahwa Kurikulum Merdeka akan berdampak optimal bagi siswa Athalia (secara khusus dan secara holistik baik dalam bidang intelektual, spiritual, dan karakter) ketika sekolah dan orang tua siswa saling mendukung.

Coram Deo (hidup dalam hadirat Tuhan). Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga: Paradigma Kurikulum Merdeka