Merajut Keharmonisan dalam Warna-Warni Perbedaan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

“Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.” – Mazmur 133:1,3a

Gunung Hermon adalah pegunungan yang diliputi salju, sedangkan tanah di sekitarnya cenderung tandus. Karena itu, kesuburan tanah di sekitar Gunung Hermon bergantung pada embun dan lelehan es dari Gunung Hermon. Sungai es Gunung Hermon juga menjadi sumber utama air Sungai Yordan dan airnya mengalir ke Laut Mati. Daud mengumpamakan kerukunan seperti embun Gunung Hermon. Kerukunan di antara orang percaya dapat menjadi berkat dan sukacita bagi komunitas di mana kita berada, seperti embun Hermon yang memberikan keuntungan bagi daerah sekitarnya.

Sayangnya, kerukunan tidak mudah terjadi dalam sebuah komunitas. Mengapa? Charles Swindoll menulis renungan dalam Insight for Living, “Do you realize how closely unity and humility are tied together? One breeds the other; neither can exist without the other.” Kerukunan tidak bisa dilepaskan dari kerendahan hati. Sebaliknya, musuh kerukunan adalah kesombongan. Hal ini berlaku bukan hanya dalam komunitas yang besar, tetapi juga dalam setiap keluarga. Tanpa kerendahan hati, kita akan cenderung menghakimi daripada memahami perbedaan yang ada. Tanpa memiliki kesadaran bahwa kita adalah manusia yang lemah dan rapuh, kita cenderung akan cepat marah dan mengeluh daripada menerima dan menolong sesama. Akibatnya, kita terus bertengkar bukan hidup rukun.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Perbedaan tentu akan selalu kita temukan di mana saja. Namun, bagaimana kita merespons perbedaan itulah yang menentukan apakah kerukunan itu dapat terjadi atau tidak. Karena itu, pilihlah untuk tetap rendah hati, buanglah kesombongan, belajarlah saling menerima, dan menolong. Dengan demikian, kehidupan kita akan seperti Gunung Hermon yang membawa berkat bagi sekitarnya, menghadirkan kerukunan beserta damai sejahtera dan sukacita dalam setiap komunitas di mana pun kita ditempatkan.

Soft Skill vs Hard Skill, Mana yang Lebih Penting?

Oleh: Elisa Sri Indahati – Research & Development Unit SD

Kita mungkin pernah mengenal seseorang yang nilai akademiknya tidak menonjol di masa sekolah, tetapi berhasil membangun karier yang cemerlang dan mencapai kesuksesan. Hal ini bukan tanpa sebab, melainkan mereka memiliki kelebihan lainnya di luar nilai akademis.

Nilai atau kemampuan akademik seseorang atau yang disebut dengan hard skill (keahlian yang bisa diukur dan bisa dinilai) tidak bisa begitu saja membuat seseorang berhasil atau sukses. Diperlukan juga kemampuan yang disebut dengan soft skill. Apa itu soft skill?

Soft skill adalah kemampuan yang tidak terlihat seperti berpikir kritis, mampu beradaptasi, percaya diri, pantang menyerah, daya juang tinggi, dan lain sebagainya. Lalu, apakah soft skill lebih unggul daripada hard skill atau justru sebaliknya? Tentu saja tidak, keduanya seharusnya memiliki porsi yang sama dalam diri seseorang. Hard skill dan soft skill sama-sama penting.

 

 

Mengapa Soft Skill dan Hard Skill Sama Pentingnya?

Menurut Rhenald Kasali, sudah saatnya orang tua sadar untuk memperhatikan karakter anak sedari dini. Pendidikan bukan hanya sekadar kompetensi kognitif, anak juga memerlukan kemampuan lain seperti survival skills di lingkungan.

Dalam berbagai profesi, hard skill memang menjadi syarat utama untuk masuk ke dunia kerja. Namun, tanpa soft skill yang baik, seseorang akan kesulitan dalam berkolaborasi, menyelesaikan masalah, atau bahkan mempertahankan pekerjaannya. Karena itu, pendidikan karakter sejak dini sangatlah krusial. Anak-anak tidak hanya perlu didorong untuk meraih nilai akademik yang baik, tetapi juga untuk memiliki ketahanan mental, percaya diri, dan kemampuan menyelesaikan tantangan secara mandiri.

Mengharapkan nilai rapor yang baik memang penting, tetapi menolong anak-anak kita untuk tetap memiliki daya juang dan tidak putus asa dalam mengerjakan semua tugas sekolah adalah tugas mulia kita sebagai orang tua.

Pentingnya Soft Skill dalam Pendidikan Anak

Sekolah Athalia terus berusaha untuk mengajarkan ilmu, tetapi juga tetap konsisten untuk membimbing anak-anak untuk memiliki karakter yang akan menolong mereka hidup di tengah masyarakat. Pendidikan karakter tidak saja diberikan dalam bentuk pemahaman, tetapi juga dalam bentuk proyek nyata dalam setiap kegiatan seperti kamp karakter dan kelas shepherding.

Dalam kegiatan-kegiatan ini, siswa diberikan proyek karakter sederhana seperti mencuci piring setelah makan atau merapikan tempat tidur sendiri. Namun, tantangan muncul ketika anak-anak terbiasa dilayani di rumah oleh orang tua atau asisten rumah tangga. Beberapa anak bahkan mengeluhkan bahwa melakukan tugas-tugas ini terasa sulit dan tidak nyaman.

Ketika Kamp Karakter siswa SD menginap di sekolah, ada aktivitas mencuci gelas dan sendok setelah makan malam. Tiba-tiba ada anak yang menggerutu, ”enakan tidur di rumah daripada tidur di sekolah. Kalau di rumah apa-apa sudah disiapin, diambilin, di sini semua disuruh lakuin sendiri, ambil sendiri, nyuci sendiri.”

Pengalaman-pengalaman ini membuktikan bahwa membangun soft skill memerlukan latihan dan konsistensi. Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas kecil agar mereka terbiasa menghadapi tantangan di masa depan.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Peran Orang Tua

Sebagai orang tua, peran kita bukan hanya mendampingi anak dalam mengejar prestasi akademik, tetapi juga membimbing mereka dalam membangun soft skill yang akan membantu mereka bertahan di dunia nyata. Berikan anak-anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu khususnya tugas atau proyek yang diberikan sekolah.

Jangan takut bila anak mengalami kegagalan. Bersabarlah ketika mereka mencoba mandiri, meskipun awalnya berantakan atau belum sempurna. Tidak masalah jika mereka kesulitan dalam melakukan sesuatu atau belum berhasil pada percobaan pertama. Yang terpenting, ajarkan mereka untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan siap menghadapi konsekuensi dari setiap kesalahan. Orang tua dapat terus mendampingi anak dan membiarkan mereka mengerjakan bagian mereka.

Sudahkan Anda membantu anak mengembangkan soft skill mereka hari ini?

Mundur Selangkah untuk Maju Lima Langkah: Seni Adaptasi

Oleh: Join Silaban – Guru Bahasa Indonesia SMA

Setiap orang menginginkan rencana mereka berjalan sesuai ekspektasi. Namun, ketika realita tidak sejalan, perasaan kecewa dan frustrasi bisa muncul. Akhirnya, situasi yang tidak sesuai ekspektasi itu mungkin akan mencuri damai sejahtera kita dan bisa berakibat fatal hingga depresi.

Namun, kali ini saya harus belajar menerima kenyataan yang tidak sesuai rencana saya. Saya memilih untuk mundur sejenak, mengevaluasi aspek yang perlu diperbaiki, dan berani berinovasi meski ada risiko yang harus saya hadapi. Semua ini saya lakukan dengan tujuan agar dapat melangkah lebih jauh, tidak hanya lima tetapi bahkan sepuluh langkah ke depan.

Hal ini saya alami ketika berhadapan dengan situasi pandemi dan harus beradaptasi dengan sistem belajar online di kelas 10 IPA dan IPS TA 2021/2022.

seni adaptasi

Menguji Fleksibilitas dalam Pembelajaran Online

Kala itu tepat hari Rabu. Saya siap mengajar di kelas 10 IPS 1 di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong. Sebelumnya, saya sering mendengar keluhan dari rekan guru tentang siswa yang enggan untuk on camera atau merespons selama pembelajaran daring. Masalah ini menjadi diskusi harian di ruang guru.

“Selamat pagi, Nak! Silakan On Camera!” Saya menyapa kelas dengan penuh semangat. Namun, semangat saya berbanding terbalik dengan suasana kelas online saat itu. Saya seperti berada di kuburan. Dari 24 siswa yang terdaftar di kolom partisipan, hanya ada lima orang yang mengaktifkan kamera, itu pun harus menunggu sekitar lima menit. Lalu satu-satu menyusul sampai akhirnya ada delapan orang.

Sekali lagi, saya sapa mereka. Sahutan “Selamat pagi, Bu!” sayup-sayup terdengar dari salah seorang yang mengaktifkan kamera. Namanya Lola. Lola ini saya percayakan sebagai PIC atau penanggung jawab mata pelajaran di kelas tersebut. Sejenak timbul di pikiran, “Apa mungkin Lola enggan tidak menjawab sapaan saya karena Lola adalah PIC saya?” Saat itu, saya merasa mati gaya.

Sepertinya, saya tidak siap melanjutkan pembelajaran. Namun, saya berpegang pada prinsip lebih baik mundur satu langkah untuk mencapai lima langkah ke depan. Saya memilih berdiam satu menit untuk memikirkan strategi yang dapat membangkitkan semangat kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih merdeka. Dalam momen itu, saya mencoba memahami kondisi para siswa. Saya melihat wajah-wajah mereka di layar laptop—terkurung di ruangan yang sama setiap hari, dengan ruang gerak terbatas akibat kebijakan PPKM darurat level 4. Mereka tidak hanya terjebak secara fisik, tetapi mungkin juga secara mental dan emosional. Apakah mereka merasa jenuh? Lelah? Atau mungkin sedang menghadapi tekanan dari keluarga? Saya menyadari bahwa sebelum menuntut mereka untuk lebih aktif dalam pembelajaran, saya perlu lebih dulu memahami dan berempati terhadap kondisi mereka.

Baca juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Adaptasi Strategi Baru: Mengubah Metode, Membangun Keterlibatan

Saya menyadari bahwa pendekatan yang terlalu kaku tidak akan efektif dalam situasi ini. Oleh karena itu, saya mengganti strategi. Alih-alih menekan mereka untuk on camera, saya memberi tugas sederhana. Saya meminta mereka mengambil barang favorit di ruangan mereka, serta mencari benda berbentuk segitiga dan lingkaran dari luar ruangan. Saya beri mereka waktu lima menit untuk mencari sebelum nantinya ditunjukkan kepada teman-teman mereka.

Kegiatan ini bermaksud supaya mereka sedikit bergerak dari tempat duduk ataupun ruangan mereka. Setidaknya menepis sedikit gelar untuk anak-anak zaman pandemi, “para kaum rebahan”. Alhasil, mereka refleks mengaktifkan kameranya dan beradu untuk memencet tombol reaksi “raise hand” di fitur google meet yang sedang kami gunakan. Semuanya mengaktifkan kamera.

Ini, Bu. Saya suka bantal, saya suka HP, saya suka biola, saya suka gitar.”

Antusiasme mereka dalam merespons seketika memecahkan keheningan yang ada. Mereka beradu-adu sambil memandangi apa yang dipegang teman-temannya. Hmmm, ternyata seni memberi instruksi juga sangat diperlukan.

Setelah saya menyaksikan api semangat itu ada di wajah mereka, saya berani menyampaikan kegiatan pembelajaran. Mereka akan melaporkan secara live informasi selama PPKM darurat yang telah berlangsung sejak 3 Juli kemarin sampai sekarang. Pertemuan kali ini saya rencanakan untuk mengambil penilaian. Namun, setelah melihat suasana kelas, saya tiba-tiba ada ide untuk mengubah strategi tersebut. Saya sampaikan ke mereka adaptasi rencana tersebut.

Awalnya laporan hasil observasi ditampilkan dengan satu tipe, kini bervariatif, berdiferensiasi. Ada yang menampilkan dalam bentuk pantun, talk show, lagu, presenter, infografis, bermain peran, pun musikalisasi puisi. Alhasil, performa mereka di luar ekspektasi saya. Sebelum waktu yang ditentukan, raise hand bertubi-tubi dan teman-teman sekelas menyaksikan penampilan mereka dengan haru dan penuh apresiasi. Emotikon tepuk tangan di layar menandakan mereka sangat menikmati penampilan temannya. Kami sama-sama bahagia. Inikah yang dinamakan merdeka belajar?

Baca Juga : Membangun Ketahanan Diri pada Anak sejak Dini

Fleksibilitas: Kunci Adaptasi dan Perkembangan

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa dalam situasi yang tidak sesuai harapan, adaptasi adalah kunci. Terkadang, mundur selangkah untuk mengevaluasi dan menyesuaikan strategi bisa membawa kita lebih maju di kemudian hari. Kita perlu siap mengubah strategi, keluar dari zona nyaman, dan terlebih belajar tunduk untuk pengendalian Tuhan bahwa semuanya tidak harus berjalan sesuai rencana kita.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan adaptasi dalam menghadapi tantangan?

Catatan: 
Tulisan ini sudah dimuat dalam buku yang berjudul “Mundur Selangkah Maju Lima Langkah, Sebuah Seni Mengubah Mindset Pecundang Menjadi Pemenang”. Penyunting, J. Sumardianta. Maret 2023. Hal. 96.

Apa Arti Kemerdekaan Sejati?

Oleh: Elisa Christanto, Orang tua siswa SMA Kelas XII dan SD Kelas II

Merdeka! Ketika membaca atau mendengar kata ini, yang terpikirkan adalah pekik kemenangan rakyat Indonesia ketika melawan penjajahan. Namun, untuk saya pribadi, “merdeka” memiliki arti yang mendalam. Merdeka adalah momentum ketika saya memutuskan untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan kembali merajut kasih mesra dengan Tuhan. Inilah kisah perjalanan hidup saya, bagaimana kemerdekaan sejati hanya bisa ditemukan saat berpihak kepada Tuhan Yesus.

Pergumulan di Masa Kuliah

Saya baru menyadari bahwa keluarga saya adalah keluarga sederhana saat akhir masa SMA, ketika suatu masa gelombang kehidupan terjadi. Gelombang kehidupan tersebut adalah tersendatnya urusan biaya kuliah, hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Empat semester sebagai seorang mahasiswa dengan berat hati saya lalui dengan melewatkan banyak mata kuliah. Hanya kebingungan yang saya rasakan. Di masa itulah, penjajahan iblis atas hidup saya dimulai, ketika saya melihat seorang teman nampak santai menikmati waktu sendiri sambil merokok.

Kok kayaknya asik, ya?” pikir saya. Akhirnya saya mencoba satu batang. Meski tersedak, lusa harinya saya bertemu dengan seorang teman yang merokok dan kembali memutuskan untuk mencoba satu batang lagi. Tanpa sadar, saya mulai membeli rokok sendiri. Selama satu bulan terjadilah peperangan dahsyat di dalam hati dan pikiran saya. Itu nggak baik! Tidak boleh!

Tapi di sisi lain, saya berpikir, “Ah sudahlah! Toh mau jadi anak baik pun hidup tetap sulit.” Pada akhirnya, saat malam hari mata enggan terpejam, saya berbicara kepada Tuhan dalam doa. Esok paginya, muncul tekad untuk menjauhkan diri dari rokok. Sejak hari itu, setiap pulang kuliah saya pergi ke gereja untuk berbicara dan menikmati relasi yang intim dengan Tuhan dalam doa. Sepekan kemudian Tuhan menjawab doa saya.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Apa arti kemerdekaan sejati

Tuhan Memberikan Kemerdekaan Sejati

Dalam satu masa, ketika hendak pulang kuliah, staf akademik kampus memanggil dan menawarkan saya tugas sebagai volunteer penerimaan mahasiswa baru. Tak perlu berpikir panjang, saya menjawab, “Ya. Saya bersedia.” Esoknya, saya mulai bertugas sebagai volunteer penerimaan mahasiswa baru selama empat bulan. Merdeka! Saya lepas dari penjajahan rokok. Bonusnya, Tuhan berikan jatah makan siang dan uang saku untuk tambahan bayar kuliah.

Tak berhenti di sana, selepas menjadi volunteer, saya dipanggil bekerja part time di kampus selama setahun. Selesai masa bekerja di kampus, Tuhan terus berkarya dalam hidup saya dengan memberikan pekerjaan baru sebagai operator warnet (tempat yang menyewakan jasa peminjaman komputer dan jaringan internet). Akhirnya pendapatan setiap bulannya pun berhasil membiayai kuliah saya dan adik hingga lulus. Merdeka!

Baca Juga : Athalia Learning Community News – Edisi Januari Februari 2025

Satu firman Tuhan yang meneguhkan hati saya waktu itu adalah “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).

Sungguh pengampunan-Nya nyata. Setitik harapan tidak ada yang luput dari pandangan mata-Nya.

Ingin Berpikir Lebih Kritis dan Kreatif? Coba Latihan Ini!

Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA, staf Research & Development SMA Athalia

Apakah contoh pembicaraan di atas sudah terjadi dalam komunikasi antara orang tua dan anak? Sudahkan komunikasi antara orang tua dan anak mencakup percakapan yang mendorong anak untuk berpikir? Apakah anak diajak mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan?

Diskusi yang didasarkan pemikiran yang kritis akan menghasilkan kesimpulan yang matang. Proses ini membantu anak belajar mengambil keputusan dengan bijak. Oleh karena itu, orang tua perlu melatih dan membiasakan anak mengembangkan proses berpikir kritis yang benar. Hal ini juga menjadi fokus dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu ciri ‘Pelajar Pancasila’ adalah kemampuan bernalar kritis. Apa itu berpikir kritis?

Berpikir kritis atau critical thinking merupakan keterampilan yang memungkinkan seseorang memproses informasi secara objektif, baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan ini melibatkan :

  1. Menghubungkan berbagai informasi untuk menemukan pola atau kesimpulan.
  2. Menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum menerima atau menolaknya.
  3. Merefleksikan dan mengevaluasi pemikiran sendiri, sehingga tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

Pelajar yang memiliki kemampuan berpikir kritis tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga meneliti, menilai, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil kesimpulan.

Bagaimana Melatih Anak Berpikir Kritis?

Agar anak terbiasa berpikir kritis, mereka perlu mengembangkan beberapa keterampilan penting, misalnya:

  1. Menubuhkan rasa ingin tahu. Sebagai orang tua, kita bisa merangsang keingintahuan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, seperti “Apakah ada cara pandang lain untuk menyikapi hal ini?”, “Bila kamu yang jadi menteri keuangan, kira-kira solusi apa yang akan kamu ambil?”, dan lain sebagainya. Pertanyaan terbuka ini mendorong anak untuk berpikir lebih dalam dan melihat berbagai sudut pandang.
  2. Kreatif dalam Berpikir. Kreativitas dapat diasah dengan latihan sederhana, misalnya beri satu kata dan minta anak mengajukan tiga pertanyaan yang dimulai dengan kata “jika….”.
  3. Tekun dalam Berpikir. Ketekunan penting agar anak tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah. Ajarkan mereka untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekitar situasi tersebut untuk memperluas pemahaman dan wawasan.

Membiasakan anak untuk berpikir kritis akan membuat mereka siap dan mau untuk berusaha mencari informasi yang relavan ketika menghadapi suatu persoalan. Selain itu, anak juga akan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, terlatih menanyakan pertanyaan yang bermakna, mempertimbangkan berbagai alternatif sudut pandang, menggunakan logikanya, menghindari asumsi, dan mempertimbangkan berbagai peluang.

Orang tua harus mendorong anak-anak untuk mencari kebenaran dengan belajar bernalar dan berdebat secara sehat sehingga anak-anak tidak akan hanya menelan apa saja yang ditawarkan kepada mereka tanpa mempertimbangkannya. Anak-anak remaja yang terbiasa berdebat secara sehat dengan orang tuanya akan mengembangkan kemandirian dan keteguhan yang membuat mereka lebih tahan terhadap tekanan teman sebaya, termasuk yang berkaitan dengan narkoba, alkohol, atau pun isu-isu negatif yang mewarnai dunia para remaja.

Baca Juga : Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!

Dengan melatih berpikir kritis, anak tidak hanya tumbuh menjadi individu yang cerdas dan logis, tetapi juga memiliki keteguhan dan kepedulian yang akan membawa dampak positif bagi dirinya dan masyarakat.

The simple believes everything, but the prudent gives thought to his steps. Proverbs 14:15 (ESV)

Hati Ayah bagi Keluarga

Oleh: Erika Kristianingrum, peserta Gathering Daddy n Me Day

Seorang ayah memiliki peran besar dalam kehidupan anak-anaknya. Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertama mereka. Sedangkan bagi anak laki-laki, ayah adalah teladan utama dalam menjadi seorang pria kelak. Namun terkadang, banyak ayah yang tidak menjalankan fungsinya sebagai seorang ayah karena tidak bisa menikmati perannya sebagai seorang ayah. Akibatnya, banyak anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang kuat, sekalipun ayah ada di rumah setiap harinya.

Melihat fenomena ini maka kami berinisiatif untuk mengadakan acara gathering Daddy n Me Day agar relasi ayah dan anak yang renggang dapat diperbaiki.

Gathering Daddy n Me Day

Acara ini dibawakan oleh Bapak Rizal Badudu dan istrinya ibu Rina Badudu. Beliau adalah seorang pembicara sekaligus penulis buku Service Excellence dan Character Excellence. Melalui pengalaman mereka berdua saat mengasuh keempat buah hatinya yang kini sudah beranjak dewasa, mereka berdua berbagi tentang bagaimana seharusnya peran ayah dan bagaimana peran ibu sebagai penolong yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Acara ini dibawakan bukan dalam bentuk pengajaran atau seminar tapi lebih ke praktek-praktek sehingga lebih mengena dan mudah dipahami untuk mengaplikasikannya di dalam keluarga. Ada 4 sesi dalam acara ini, meliputi sesi struktur keluarga, identitas keluarga, bermain bersama, dan perekat keluarga.

Sesi 1 Struktur Keluarga

Dalam sesi pertama, Bapak Rizal dan Ibu Rina mengajak keluarga untuk kembali kepada struktur keluarga yang benar, yaitu Tuhan yang berada di atas keluarga. Struktur ini dilanjutkan dengan peran ayah sebagai pelindung dan penyedia kebutuhan keluarga, lalu ibu sebagai pengelola di rumah, serta anak-anak yang taat dan mengasihi orang tuanya.

Untuk menerapkan konsep ini, setiap anggota keluarga diminta menuliskan hal-hal yang perlu diperbaiki dan dilakukan. Proses ini membantu ayah memahami bahwa hati ayah adalah fondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis.

Sesi 2 Identitas Keluarga

Dalam sesi ini tiap-tiap keluarga diminta untuk membuat poster yang menggambarkan identitas dari keluarga tersebut. Yang dinilai dalam pembuatan poster ini adalah kerjasama dari tiap-tiap anggota keluarga dalam proses pembuatannya. Ada perdebatan, penyampaian pendapat, bekerja sama dan bahagia lagi untuk sebuah tujuan. Proses pembuatan poster ini menggambarkan keseharian masing-masing keluarga dalam menghadapi pergumulan.

Sesi 3 Bermain Bersama

Dalam sesi ini seluruh anggota keluarga diajak untuk bermain games. Ada 5 games yang dimainkan yaitu permainan know your daddy, where is it, merapat yuk, telepati, dan treasure hunt. Selain bekerja sama ada hal yang dipelajari dalam sesi ini yaitu bermain bersama, karena jarang sekali orang tua mau bermain bersama anaknya Dengan bermain bersama masing-masing anggota keluarga bisa saling mengenal satu dengan yang lain.

Sesi 4 Perekat keluarga

Di terakhir ini, masing-masing anggota keluarga diminta untuk menuliskan perasaan dan ucapan terima kasih kepada anggota keluarga yang lain. Kemudian, mereka akan membacakan isi tulisan tersebut.

Bagi sebagian keluarga, mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang mudah. Namun, sesi ini membuka kesempatan bagi mereka -terlebih ayah, untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak dan pasangan mereka. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ayah, memperkuat kembali peran hati ayah dalam keluarga.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menghidupkan Hati Ayah dalam Keluarga

Kami bersyukur acara yang diikuti oleh 110 keluarga dari Komunitas Athalia dapat menjadi berkat bagi mereka. Walaupun lelah karena acara berlangsung dari pagi hingga siang, acara ini cukup berkesan dengan terlihat dari peserta yang menyadari pentingnya untuk mengembalikan struktur yang benar di dalam keluarga sesuai dengan kehendak Tuhan. Setelah mengikuti acara ini, banyak ayah berkomitmen untuk lebih meluangkan waktu bersama anak-anak, terus saling mengenal, dan menerima kelemahan masing-masing anggota keluarga.

“Others things may change us, but we start and end with the family”

Si Kecil Tidak Mau Sekolah Minggu? Coba Terapkan Ini!

Oleh: Elisa Sri Indahati – Staf R&D SD Athalia

Adek gak mau Sekolah Minggu, mau ikut mama aja!”
Adek ngantuk, gak mau sendirian di Sekolah Minggu.”

Kalimat seperti ini sering keluar dari mulut anak-anak kita yang tidak mau pergi ke Sekolah Minggu. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang tidak mau repot dan enggan berdebat dengan anak. Beberapa bahkan menawarkan solusi praktis, seperti membiarkan anak ikut ibadah raya umum dan diberikan hp agar tidak berisik.

Setelah lebih dari 2 tahun masa pandemi menjalani ibadah online, kembali ke Sekolah Minggu secara langsung mungkin terasa sulit bagi anak. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu teman yang belum dikenal, dan belajar mandiri. Tak jarang, ada anak yang hanya duduk diam di pojok ruangan atau bahkan menangis.

Namun, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membantu anak merasa lebih nyaman dan bersemangat ikut Sekolah Minggu, lho! Yuk, intip tips berikut ini.

1. Menemani anak di kelas.

Ketika anak menangis dan menolak ke Sekolah Minggu, orang tua sering menyerah dan berakhir membawanya ke ibadah umum. Jika hal ini dilakukan sekali dua kali mungkin tidak masalah. Tetapi jika dibiarkan terus-menerus, anak bisa menjadikannya kebiasaan.

Sebagai alternatif, orang tua bisa menemani anak selama beberapa kali pertemuan pertama. Walaupun berarti harus mengorbankan sedikit waktu ibadah pribadi, hal ini membantu anak merasa lebih aman. Setelah merasa nyaman, anak akan lebih mudah beradaptasi dan bisa belajar menikmati pengalaman rohani ini sendiri.

2. Cari jam ibadah yang cocok dengan kondisi anak.

Beberapa anak menyukai suasana ramai (jumlah kehadiran banyak) karena bisa berbaur tanpa menjadi pusat perhatian. Namun, ada juga anak yang lebih nyaman dengan suasana sepi (jumlah kehadiran sedikit) karena mendapatkan perhatian lebih dari kakak Sekolah Minggu.

Kenalilah karakter anak. Orang tua bisa mencoba membawa anak ke sesi yang berbeda untuk melihat mana yang paling cocok untuk mereka. Setelah menemukan waktu yang tepat, buatlah jadwal rutin agar anak bisa membangun kebiasaan dan menemukan komunitasnya sendiri.

3. Datang lebih awal untuk adaptasi.

Tiba di gereja tepat saat ibadah dimulai bisa membuat anak merasa canggung karena belum mendapat waktu untuk menyesuaikan diri dengan ruang kelas, kakak Sekolah Minggu, dan teman-teman. Untuk itu, datanglah lebih awal, sekitar 10-15 menit, agar anak bisa beradaptasi terlebih dahulu. Pendekatan ini membantu anak merasa lebih tenang dan nyaman sebelum kelas dimulai.

4. Membantu anak berkenalan dengan teman baru.

Anak yang baru beradaptasi cenderung memilih-milih teman. Sebagai orang tua, kita bisa membantu mereka untuk berkenalan dengan teman-teman lainnya. Duduklah di dekat anak lain yang kira-kira cocok, lalu ajak anak untuk berbicara atau bermain bersama. Setelahnya, orang tua dapat menanyakan perasaan mereka mengikuti ibadah hari ini serta perasaan mereka berteman dengan orang baru. Untuk mendorong keterlibatan lebih lanjut, ajak anak membuat kartu ucapan atau membawa hadiah kecil untuk teman barunya di pertemuan berikutnya.

Dengan cara ini, anak akan lebih antusias menunggu hari Minggu karena ingin bertemu temannya lagi.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

5. Berikan apresiasi atas perkembangan anak.

Setiap kali anak mengalami progres, berikan penghargaan. Penghargaan tidak harus dalam bentuk barang agar anak tidak fokus pada penghargaan, melainkan rasa bangga atas pencapaian yang telah diraih. Pujian, pelukan, atau ucapan seperti “Mama dan papa bangga adek tadi berani masuk kelas sendiri” sudah cukup untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Jika dilakukan dengan konsisten, anak akan mulai melihat Sekolah Minggu sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Nah, itu adalah tips untuk orang tua agar si kecil berani dan mau ibadah Sekolah Minggu sejak dini. Demikian tips kecil yang dapat saya bagikan, semoga para orang tua dapat berjuang untuk membawa si kecil mau dan rajin Sekolah Minggu. Tuhan Yesus memberkati!

Jangan Terjebak! Cara Kenali dan Atasi Toxic Friendship

Oleh: Felicia – Staf Konselor SMP Athalia

Jika kamu diminta pendapat tentang salah seorang temanmu, kira-kira apa yang akan kamu katakan tentang dia? Apakah dia selalu ada untukmu, mendengarkan keluh kesahmu, dan membantu saat kamu membutuhkan? Atau justru kamu akan langsung berkata, “Dia mah toxic.

Namun, bagaimana jika situasinya dibalik? Apa yang akan temanmu katakan mengenai dirimu? Apakah mereka akan menyebutkan hal-hal positif mengenai dirimu atau justru menganggap kamu sebagai teman yang toxic?

Toxic friendship adalah istilah yang seringkali dipakai untuk hubungan pertemanan yang dinilai memberikan pengaruh negatif. Hubungan ini bisa merugikan secara emosional, psikologis, bahkan sosial. Untuk memahami apakah hubungan pertemananmu sehat atau beracun, kenali ciri-ciri berikut ini.

Toxic Friendship

Ciri-ciri Pertemanan Toxic yang Harus Diwaspadai

1. Ciri yang Terlihat Secara Langsung

Beberapa tanda toxic friendship dapat dikenali dengan mudah. Misalnya, teman yang sering menggunakan kata-kata kasar atau tidak sopan dalam berkomunikasi, terutama saat marah.

Selain itu, pertemanan bisa dikategorikan sebagai toxic jika salah satu pihak mendorong tindakan yang jelas-jelas salah. Misalnya, menyuruhmu berbohong demi menutupi kesalahannya dengan alasan “demi pertemanan.” Jika ini terjadi, hubungan tersebut tidak sehat dan bisa berdampak buruk bagi dirimu.

2. Ciri yang Tidak Terlihat Secara Langsung

Terkadang, toxic friendship tidak selalu tampak jelas. Ciri-ciri ini biasanya dirasakan karena mulai mengganggu kesehatan mental, seperti munculnya kecemasan atau ketakutan untuk kehilangan hubungan tersebut. Meski tidak nyaman, seseorang tetap bertahan dalam hubungan ini karena takut kehilangan teman.

Salah satu tanda yang sering muncul adalah adanya pihak yang selalu merasa benar dan membuat temannya merasa bersalah. Teman seperti ini cenderung memanipulasi situasi agar dirinya terlihat lebih baik dan membebankan kesalahan pada orang lain. Jika kamu merasa berada dalam hubungan pertemanan seperti ini, penting untuk segera mengevaluasi dan mengambil langkah tegas.

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

Cara Menghadapi dan Mengatasi Toxic Friendship

Kalau kamu merasa sedang berada dalam hubungan pertemanan yang bersifat toxic, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:

1. Lakukan Refleksi Diri

Lakukan refleksi untuk dirimu sendiri. Tanyakan pada dirimu sendiri:

  • Apakah aku termasuk teman yang toxic? Jika ya, apa yang bisa aku ubah?
  • Apakah aku berada dalam hubungan pertemanan yang toxic? Jika iya, batasan seperti apa yang harus aku buat?

Mengenali peran dalam hubungan ini adalah langkah awal untuk memperbaiki atau menghindarinya. Jika kamu menyadari bahwa kamu memiliki sikap toxic, buatlah komitmen untuk berubah. Jika justru kamu yang menjadi korban, tetapkan batasan yang sehat agar hubungan tersebut tidak semakin merugikan dirimu.

2. Mengomunikasikan Masalah dengan Asertif

Setelah refleksi diri, langkah berikutnya adalah mengomunikasikan hasilnya kepada teman yang bersangkutan. Berbicara secara asertif berarti menyampaikan pendapat dengan jelas, tegas, tetapi tetap menghormati lawan bicara.

Jika merasa sulit melakukannya sendiri, ajak orang dewasa yang dapat dipercaya untuk mendampingi. Berikan waktu beberapa hari untuk saling merefleksikan hasil pembicaraan kalian. Setelah itu saling berusaha untuk memperbaiki interaksi dalam pertemanan sesuai dengan hasil pembicaraan kalian.

Baca Juga : The Discipline of Choosing Right

Berani Mengambil Sikap

Tips yang paling penting saat berusaha memperbaiki interaksi pertemanan yang toxic adalah harus berani mengambil sikap untuk mengutarakan perasaan dan pendapatmu secara asertif dan tidak memendamnya.

Toxic friendship bisa berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya, melakukan refleksi diri, dan berani mengambil tindakan. Dengan begitu, kamu bisa membangun hubungan pertemanan yang lebih sehat dan positif di masa depan.

Wajib Tahu! Bahasa Kids Zaman Now

Oleh: Marlene Shinta – Staf Research & Development TK Athalia

Lihat, fish-nya lagi bobo.
Mama tunggu di door depan.
Makan banana yang sudah mama cut, ya.

Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti itu? Saat ini, banyak anak berbicara dengan bahasa campuran yang dikenal sebagai bahasa kids zaman now. Pola komunikasi ini sering digunakan orang tua untuk mengenalkan bahasa Inggris. Namun, penggunaannya yang kurang tepat dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak.

Saat pandemi Covid-19 melanda, mobilitas fisik menjadi sangat terbatas. Banyak anak kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah, berinteraksi dengan orang lain, bermain di taman, dan bertemu dengan anak seusianya. Bagi orang tua yang sibuk, kadangkala anak lebih sering difasilitasi dengan gawai agar tidak mengganggu kesibukan mereka, sehingga anak dapat tetap diam dan tidak berlarian atau membuat keributan. Saat ini banyak sekali video menarik untuk anak-anak dengan menggunakan bahasa asing. Hal ini dapat mengakibatkan kebingungan bahasa pada anak usia dini.

Menurut dr. Tri Gunadi, A.Md.OT., S.Psi., anak yang baru belajar bicara tapi sudah diajari dua bahasa akan membuat anak kesulitan bicara. Hal ini termasuk jika balita yang sedang belajar bicara malah dipaparkan tayangan televisi. Meskipun tontonan tersebut dikhususkan untuk anak, tetapi hal tersebut akan menimbulkan keterlambatan bicara atau speech delay. Apalagi tayangan televisi dan internet yang sifatnya satu arah. Tanpa arahan dan dampingan dari orang tua, tentu anak cenderung lebih banyak menyimak dibandingkan mencoba berbicara.

Pentingnya Bahasa dalam Perkembangan Anak Usia Dini

Mengapa bahasa sangat penting pada anak usia dini? Bahasa merupakan salah satu faktor utama dalam perkembangan anak. Melalui bahasa, anak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, bersosialisasi, serta memahami instruksi. Dalam proses pembelajaran, bahasa juga merupakan aspek yang harus dikuasai oleh seorang anak untuk memahami bacaan, mengikuti perintah, dan mengerjakan tugas dengan baik.

Bahasa anak terbagi menjadi dua aspek utama, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Kedua aspek ini sangat penting dalam komunikasi sehari-hari. Jika salah satu aspek terganggu, anak akan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.

1. Bahasa Reseptif

Bahasa reseptif adalah kemampuan dalam memahami informasi yang didengar atau dibaca. Kemampuan ini bersifat sebagai input atau masukan yang pastinya mendukung kegiatan menyimak maupun membaca. Menyimak adalah suatu proses mendengarkan dengan penuh perhatian, menangkap, dan memahami makna komunikasi yang disampaikan seseorang. Sementara membaca merupakan kegiatan melihat tulisan dan memahami gambar atau kata yang dibaca. Misalnya, ketika seorang anak mendengar instruksi, ia mampu memahami dan mengikuti petunjuk tersebut dengan benar.

Bahasa reseptif biasanya berkembang lebih dahulu dibanding bahasa ekspresif. Anak yang memiliki bahasa reseptif yang baik mampu mengerti makna komunikasi meskipun belum bisa berbicara dengan lancar.

2. Bahasa Ekspresif

Bahasa ekspresif adalah kemampuan dalam mengungkapkan pikiran dan keinginan melalui komunikasi verbal atau nonverbal. Hal ini membutuhkan kemampuan merangkai pemikiran dan menyusunnya ke dalam kalimat sederhana yang masuk akal dan runut. Misalnya, seorang anak yang lapar bisa mengatakan, “Aku mau makan.” Jika bahasa ekspresifnya kurang berkembang, anak bisa mengalami kesulitan berbicara atau merespons pertanyaan dengan kalimat yang tidak sesuai.

Kedua aspek bahasa ini sangatlah penting dalam perkembangan anak usia dini. Kadang, yang terjadi adalah hanya bahasa reseptifnya saja yang berkembang. Hal ini dapat terlihat ketika anak dapat memahami apa yang dikatakan orang lain, tetapi sulit menyusun kata-kata untuk meresponsnya ataupun sulit untuk mengatakan apa yang hendak ia katakan. Sebaliknya, jika kemampuan ekspresifnya saja yang berkembang, maka anak hanya mampu berbicara, tapi tidak sesuai dengan konteks.

Dampak Bahasa Kids Zaman Now terhadap Perkembangan Anak

Saat ini, banyak orang tua bangga melihat anaknya mengerti bahasa asing, termasuk salah satunya adalah bahasa Inggris. Namun, tanpa disadari, hal ini mengakibatkan anak berbicara dengan bahasa campur-campur. Orang tua pun akhirnya mengikuti pola ini dan menjadikan kebiasaan dalam percakapan sehari-hari dengan sang anak.

Ketika hal ini dilakukan oleh anak sejak dini, ada kemungkinan bahwa mereka akan sulit membedakan bahasa yang benar. Mereka mungkin mengenal banyak kosakata dalam bahasa asing, tetapi tidak memahami maknanya secara utuh. Akibatnya, anak kesulitan merangkai kalimat yang benar saat berbicara.

Dikutip dari detikcom, dr. Meta Hanindita, Sp.A menyatakan bahwa anak yang bingung dengan beberapa bahasa dapat mengalami keterlambatan bicara. Mereka lebih memilih diam karena tidak yakin dengan kata-kata yang ingin diucapkan.

Baca Juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Kapan Anak Bisa Dikenalkan dengan Bahasa Asing?

Menurut psikolog anak Dr. Seto Mulyadi**), anak sebaiknya diajarkan bahasa ibu terlebih dahulu. Bahasa ibu, seperti bahasa Indonesia, harus dikuasai secara penuh terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa kedua.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari anak sejak lahir. Jika anak sudah lancar dalam bahasa ibu, baik secara reseptif maupun ekspresif, barulah ia bisa belajar bahasa asing.

Setiap orang tua ingin anaknya memiliki kemampuan bahasa yang baik. Oleh karena itu, penting untuk memberikan fondasi yang kuat dengan mengajarkan satu bahasa terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa lain.

Bahasa kids zaman now memang terdengar menggemaskan. Namun, jika digunakan terus-menerus tanpa kontrol, hal ini bisa berdampak negatif pada kemampuan komunikasi anak. Mari kita ajarkan bahasa dengan benar agar anak dapat tumbuh dengan kemampuan komunikasi yang optimal.

Sumber : 
*Indriani, N. (21 Des 2015). Balita Sering Nonton Program TV Anak Berbahasa Asing, Bagus atau Tidak Ya?. https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-3101347/balita-sering-nonton-program-tv-anak-berbahasa-asing-bagus-atau-tidak-ya
**kutipan asli. Hafadzoh, S. (1 Nov 2018). Saran Kak Seto Jika Ajari Anak 2 Bahasa Sejak Dini. https://www.haibunda.com/parenting/20181031202514-61-28288/saran-kak-seto-jika-ajari-anak-2-bahasa-sejak-dini

Kenali Bahasa Kasih Pasangan: Kunci Hubungan Harmonis

Oleh: Tirza Naftali – Staf Chaplain

Ketika kita tinggal di negeri asing, kita pasti akan mati-matian belajar bahasa negara tersebut, bukan? Jika tidak, kita akan kesulitan memahami budaya, cara pikir, bahkan obrolan sederhana. Relasi pun terasa sulit, meski hanya untuk sekadar membeli ikan di pasar.

Begitu pun dengan pernikahan. Namun, kali ini bukan soal belajar bahasa asing, melainkan bahasa kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan dan menerima kasih. Jika pasangan tidak memahami bahasa kasih satu sama lain, komunikasi bisa menjadi hambatan besar dalam hubungan.

Ketidaksesuaian bahasa kasih dapat menyebabkan perasaan tidak dimengerti, bahkan berujung pada konflik. Oleh karena itu, memahami bahasa kasih pasangan adalah kunci dalam membangun pernikahan yang sehat dan penuh cinta.

Kenali Bahasa Kasih Pasangan Kunci Hubungan Harmonis

Perbedaan Bahasa Kasih: Konflik atau Kekuatan?

Saya dan suami memiliki bahasa kasih utama yang sama, yaitu sentuhan fisik. Pelukan dan ciuman menjadi bagian dari keseharian kami untuk menunjukkan kasih sayang. Namun, di awal-awal pernikahan, kami kerap memiliki konflik yang berkaitan dengan bahasa kasih kedua kami yang berbeda.

Saya sangat membutuhkan kata-kata penghargaan. Saya merasa dikasihi jika mendapat pujian, apresiasi, atau sekadar ucapan terima kasih. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh keluarga saya sebelumnya yang penuh kritik. Sebaliknya, suami saya menunjukkan kasihnya melalui tindakan pelayanan. Tuhan menganugerahkan saya seorang suami yang betul-betul irit dalam berkata-kata.

Ketika Bahasa Kasih Tidak Dipahami

Di awal pernikahan, komunikasi kami terasa berat. Saya ingin berdiskusi saat konflik terjadi, tetapi suami justru memilih diam. Ada perasaan bahwa saya ingin dipahami, sedangkan dia merasa cukup dengan melayani saya melalui tindakan.

Saya sering merasa frustrasi ketika suami lebih banyak diam saat kami bertengkar. Bahkan, ia bisa tertidur pulas dan berangkat ke kantor esok harinya tanpa berkata apa-apa. Baginya, diam adalah cara menenangkan diri. Namun, bagi saya, diam terasa seperti mengabaikan perasaan saya. Konflik yang tidak segera diselesaikan membuat saya semakin resah.

Suatu kali, setelah satu atau dua hari berlalu, suami baru mendekat, memeluk, dan meminta maaf. Barulah saat itu, saya menangis dan mengungkapkan isi hati. Kami pun berdamai. Terkadang hal itu terjadi karena di siang hari, pada saat kami berada di kantor masing-masing, saya tidak tahan untuk menumpahkan seluruh pikiran pada suami via WA. Saya berpikir bahwa tulisan dapat mengungkapkan pikiran dengan lebih terstruktur dan minim emosi, sehingga suami dapat mengerti dengan lebih baik.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Oktober 2023

Belajar Bahasa Kasih

Kami berkesempatan mengikuti retreat persekutuan pasangan suami istri di gereja. Di sana, kami diberi waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Saya akhirnya bertanya langsung kepada suami:

Apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadap saya? Kenapa konflik soal kata-kata ini selalu berulang? Kenapa ya kira-kira konflik terkait kata-kata itu sering berulang? Lalu, mengapa kamu begitu sopan dan berkata-kata baik untuk orang lain, tapi sering terkesan ketus kepadaku?”

Suami saya akhirnya mengungkapkan bahwa dalam keluarganya, ia diajarkan untuk sopan di depan orang lain. Namun, kepada keluarga sendiri, ia merasa tidak perlu menjaga tutur kata. Bagi dia, saya adalah bagian dari dirinya, sehingga berbicara dengan singkat dan lugas adalah hal yang wajar. Pada titik ini, saya menyadari bahwa bukan berarti dia tidak peduli. Dia hanya menunjukkan kasih dengan cara yang berbeda.

Selain memahami alasan di balik kebiasaannya, saya juga menyadari sesuatu yang lebih dalam. Suami saya sudah menunjukkan kasih dengan caranya sendiri, tetapi saya terlalu fokus pada keinginan saya. Dia mengganti lampu yang rusak tanpa saya minta dan memasang cantelan di dapur agar saya lebih nyaman memasak. Dia pergi ke minimarket dengan sigap ketika saya butuh sesuatu. Sayangnya, saya buta terhadap semua itu.

Ternyata, luka batin masa lalu saya membuat saya haus akan kasih dengan cara yang spesifik. Saya lebih banyak menuntut daripada menerima. Padahal, suami saya sudah menunjukkan kasih dengan begitu banyak tindakan kecil yang bermakna.

Baca Juga : Perbedaan yang Indah

Mengenali Pasangan: Perubahan yang Dibutuhkan

Saat terjadi konflik, saya mulai menyadari pola yang terus berulang antara saya dan suami. Di satu sisi, suami membiarkan saya untuk meredakan ledakan emosi saya. Dia tidak ingin memperburuk situasi dengan respons yang impulsif. Namun, di sisi lain, sifatnya yang sangat rasional membuatnya takut untuk berkata-kata atau bertindak. Dia khawatir jika salah bicara, itu justru akan memperkeruh suasana.

Saya pun menyadari bahwa mengajak suami untuk langsung berdebat saat konflik memuncak bukanlah solusi yang tepat. Saya juga tidak adil jika memaksanya untuk berbicara ketika dia masih membutuhkan waktu untuk memahami situasi. Faktanya, bukan hanya saya yang perlu waktu untuk meredakan emosi, tetapi suami juga membutuhkan ruang untuk meregulasi pikirannya.

Kami akhirnya menyadari bahwa kami tidak bisa terus-menerus berjalan dengan cara masing-masing. Saya belajar untuk lebih peka terhadap bahasa kasih pelayanan suami. Dia, di sisi lain, mulai berusaha mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Saat konflik, kami mulai membangun kebiasaan baru. Jika suasana memanas, kami berusaha tidak langsung berbicara dengan emosi. Kami belajar untuk berhenti sejenak, memeluk, atau sekadar bertanya dengan lembut: “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?

Perbedaan ini menyadarkan kami, sampai maut memisahkan pun, kami harus terus mengenal dan mempelajari pasangan kami. Meski orang berkata “Ah, kalau sudah bertahun-tahun menikah kedip mata saja sudah tahu maksud dia apa”.

Pernikahan bukan soal saling memahami dalam setahun atau dua tahun. Bahkan setelah puluhan tahun, pasangan tetap perlu terus belajar mengenal satu sama lain.

Seperti belajar bahasa asing, jika tidak digunakan, kita bisa melupakannya. Begitu pula dengan bahasa kasih pasangan. Jika tidak dipraktikkan, hubungan bisa terasa hambar dan tanpa makna.

Maka, mari kita terus berjuang untuk memahami dan menggunakan bahasa kasih pasangan kita. Terlebih lagi, mari kita doakan dan serahkan pasangan kita kepada Tuhan, Sang Ahli dari semua bahasa kasih. Karena kasih yang sejati berasal dari-Nya.