Oleh: Felicia – Staf Konselor SMP Athalia
Jika kamu diminta pendapat tentang salah seorang temanmu, kira-kira apa yang akan kamu katakan tentang dia? Apakah dia selalu ada untukmu, mendengarkan keluh kesahmu, dan membantu saat kamu membutuhkan? Atau justru kamu akan langsung berkata, “Dia mah toxic.”
Namun, bagaimana jika situasinya dibalik? Apa yang akan temanmu katakan mengenai dirimu? Apakah mereka akan menyebutkan hal-hal positif mengenai dirimu atau justru menganggap kamu sebagai teman yang toxic?
Toxic friendship adalah istilah yang seringkali dipakai untuk hubungan pertemanan yang dinilai memberikan pengaruh negatif. Hubungan ini bisa merugikan secara emosional, psikologis, bahkan sosial. Untuk memahami apakah hubungan pertemananmu sehat atau beracun, kenali ciri-ciri berikut ini.

Ciri-ciri Pertemanan Toxic yang Harus Diwaspadai
1. Ciri yang Terlihat Secara Langsung
Beberapa tanda toxic friendship dapat dikenali dengan mudah. Misalnya, teman yang sering menggunakan kata-kata kasar atau tidak sopan dalam berkomunikasi, terutama saat marah.
Selain itu, pertemanan bisa dikategorikan sebagai toxic jika salah satu pihak mendorong tindakan yang jelas-jelas salah. Misalnya, menyuruhmu berbohong demi menutupi kesalahannya dengan alasan “demi pertemanan.” Jika ini terjadi, hubungan tersebut tidak sehat dan bisa berdampak buruk bagi dirimu.
2. Ciri yang Tidak Terlihat Secara Langsung
Terkadang, toxic friendship tidak selalu tampak jelas. Ciri-ciri ini biasanya dirasakan karena mulai mengganggu kesehatan mental, seperti munculnya kecemasan atau ketakutan untuk kehilangan hubungan tersebut. Meski tidak nyaman, seseorang tetap bertahan dalam hubungan ini karena takut kehilangan teman.
Salah satu tanda yang sering muncul adalah adanya pihak yang selalu merasa benar dan membuat temannya merasa bersalah. Teman seperti ini cenderung memanipulasi situasi agar dirinya terlihat lebih baik dan membebankan kesalahan pada orang lain. Jika kamu merasa berada dalam hubungan pertemanan seperti ini, penting untuk segera mengevaluasi dan mengambil langkah tegas.
Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh
Cara Menghadapi dan Mengatasi Toxic Friendship
Kalau kamu merasa sedang berada dalam hubungan pertemanan yang bersifat toxic, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1. Lakukan Refleksi Diri
Lakukan refleksi untuk dirimu sendiri. Tanyakan pada dirimu sendiri:
- Apakah aku termasuk teman yang toxic? Jika ya, apa yang bisa aku ubah?
- Apakah aku berada dalam hubungan pertemanan yang toxic? Jika iya, batasan seperti apa yang harus aku buat?
Mengenali peran dalam hubungan ini adalah langkah awal untuk memperbaiki atau menghindarinya. Jika kamu menyadari bahwa kamu memiliki sikap toxic, buatlah komitmen untuk berubah. Jika justru kamu yang menjadi korban, tetapkan batasan yang sehat agar hubungan tersebut tidak semakin merugikan dirimu.
2. Mengomunikasikan Masalah dengan Asertif
Setelah refleksi diri, langkah berikutnya adalah mengomunikasikan hasilnya kepada teman yang bersangkutan. Berbicara secara asertif berarti menyampaikan pendapat dengan jelas, tegas, tetapi tetap menghormati lawan bicara.
Jika merasa sulit melakukannya sendiri, ajak orang dewasa yang dapat dipercaya untuk mendampingi. Berikan waktu beberapa hari untuk saling merefleksikan hasil pembicaraan kalian. Setelah itu saling berusaha untuk memperbaiki interaksi dalam pertemanan sesuai dengan hasil pembicaraan kalian.
Baca Juga : The Discipline of Choosing Right
Berani Mengambil Sikap
Tips yang paling penting saat berusaha memperbaiki interaksi pertemanan yang toxic adalah harus berani mengambil sikap untuk mengutarakan perasaan dan pendapatmu secara asertif dan tidak memendamnya.
Toxic friendship bisa berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya, melakukan refleksi diri, dan berani mengambil tindakan. Dengan begitu, kamu bisa membangun hubungan pertemanan yang lebih sehat dan positif di masa depan.