Pelayanan Kaum Muda, Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan

Oleh: Benny Dewanto, Kabag PK3.

kaum muda

Tentang Kaum Muda

Dalam pelayanan kaum muda, terdapat sebuah metode untuk menangkap kejujuran mereka saat berbicara tentang diri dan masa depannya melalui rekaman video pribadi (self-talk). Dalam durasi singkat, kurang lebih lima menit, metode self-talk tersebut ternyata dapat menggambarkan kejujuran kaum muda dan memungkinkan kaum muda untuk mengekspresikan refleksi mendalam tentang identitas, pergumulan hidup, serta harapan mereka. Padahal, kaum muda seringkali dianggap sebagai kelompok yang sulit dipahami, sehingga diperlakukan sebagai segmen yang khusus. Tidak jarang, karena cara pandang tersebut, terbangun gap antara kaum muda dengan generasi di atasnya.

Dari self-talk di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kaum muda merupakan pribadi yang rentan menderita karena perubahan zaman. Self-talk juga mencerminkan bagaimana kaum muda bangkit dan mendorong perubahan sebagai bentuk protes terhadap tekanan yang mereka hadapi. Ketika kaum muda gelisah karena “beban” tersebut, mereka mengambil aksi dengan melakukan perubahan zaman. Semakin besar tekanan tersebut, semakin cepat pula mereka melakukan perubahan. Alhasil, semakin lebar pula gap yang terjadi karena banyak pihak yang sulit mengerti atau memahami perubahan-perubahan tersebut. Jadi, ini seperti sebuah putaran yang tak berujung, yang menjadi lingkaran hidup kaum muda, yaitu tekanan (penderitaan) – ekspresi perubahan – gap ketidakmengertian.

Pelayanan Kaum Muda: Memahami dan Menolong yang Tawar Hati

Amsal 24:10–12 berkata: “10Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. 11Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. 12Kalau engkau berkata: “Sungguh, kami tidak tahu hal itu!” Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?”

Perenung Amsal mengatakan bahwa Amsal 24:10–12 berbicara tentang perintah terhadap orang yang paham untuk menolong mereka yang rentan menyerah (the quitter). Bila renungan ini direfleksikan ke dalam fenomena kaum muda, ada sebuah pertemuan antara pihak yang tawar hati/sesak, yaitu kaum muda, dengan pihak yang— di mata Tuhan—sesungguhnya mengerti tentang persoalan yang menyebabkan tawar hati/sesak tersebut. Oleh karena itu, perenungan ini mengajak kita untuk berdiri sebagai pihak yang kedua.

Dalam perenungan tentang kaum muda yang dikaitkan dengan ayat di atas, sekalipun mereka melejit mengemukakan dunia, dalam kesesakan, mereka seperti pribadi yang tidak punya kekuatan karena tawar hati (ayat 10). Banyak penelitian yang menyatakan bahwa kekecewaan kaum muda berasal dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi panutan hidup. Dalam hal ini, kata “tawar hati” pada Amsal menjelaskan makna lemas (hang limp), sebuah gambaran kekecewaan yang begitu mendalam hingga membuat dirinya enggan lagi berharap (grow slack). Akibatnya, kondisi lesu dan kecewa ini menjadikan mereka seperti korban empuk yang diintai untuk “dibunuh oleh dunia.”

Lebih lanjut, Amsal 24: 10–12 dapat dijadikan topik self-talk baik bagi kaum muda maupun kita, kaum dewasa. Dengan kata lain, ayat ini mengajak kita berdialog secara pribadi, menelusuri kejujuran hati terhadap apa yang kita rasakan dan ketahui. Ayat ini dapat direnungi oleh seluruh anggota komunitas Athalia, untuk menyejukkan hati agar komunitas ini siap menyejukkan hati generasi muda dalam menghadapi zaman-zaman selanjutnya: zaman yang bergerak cepat yang memunculkan kekhawatiran dan kecemasan; zaman alternatif yang akan semakin masif.

Menjaga Generasi Muda agar Tidak Terhuyung dalam Arus Dunia

Perjalanan iman anak-anak kita akan semakin ditantang oleh dunia yang akan menawarkan lebih banyak pilihan. Jurang jarak antara kebenaran dan kepalsuan menjadi semakin besar, membuat “mata menjadi rabun” dalam membedakannya. Dalam kondisi ini, semakin banyak kaum muda yang berpotensi berjalan terhuyung-huyung. Akankah kita abai dan tetap berada di dalam gap ini? Apakah kita akan membiarkan mereka terhuyung-huyung menuju kebinasaan seperti orang yang akan dipancung?

Untuk menolong mereka yang terhuyung-huyung, tentu kita sendiri tidak boleh menjadi linglung dan limbung. Membangun konsep pertolongan kehidupan yang terbaik adalah melalui pertemuan berbagi hidup, yaitu saling menggenggam dalam meniti jalan lurus dengan hati yang tulus. Amsal 24: 12 menuntut kita untuk memahami bahwa jiwa kita boleh terus bertumbuh oleh karena pertolongan-Nya. Karena itulah Dia menjaga dan meminta kita menjaga anak-anak ini.

Amsal 24: 12 nyata berkata bahwa kita seharusnya menjadi pribadi yang matang, pemerhati kebenaran dan pelaku pemberi pertolongan. Janganlah cepat berkata, “Kami tidak tahu tentang hal itu!” Janganlah menjadi bagian yang membuat kaum muda seperti terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. Mata-Nya yang tajam akan senantiasa menatap isi hati dan pikiran kita. Berdirilah tegak dalam kebenaran, tidak terseok-seok. Dalam pelayanan kaum muda ini, mari genggamlah kaum muda mendekat agar turut pula berdiri tegak dalam kebenaran. Hati-Nya yang sejuk pun akan menjadikan kaum muda Athalia menjadi penyejuk zaman.

Baca juga: Titik Temu Antargenerasi – Saling Memahami

Paduan Suara SD Athalia Tampil dalam Festival

paduan suara sd athalia
Tim paduan suara SD Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong, tampil bersemangat di ajang Penabur International Choir Festival (PICF) 2024, yang berlangsung pada tanggal 9-14 September 2024. Di bawah arahan dan bimbingan conductor Ibu Asafel, tim paduan suara ini telah berhasil membawakan dua lagu berjudul “Naik Delman” dan “Alleluia, Alleluia!”, dengan iringan piano dari Ibu Bulan dan perkusi dari Pak Adit. Berkat latihan yang rutin dan intensif, penampilan para siswa mendapatkan apresiasi dari juri dan penonton, mereka juga dinilai penuh energi dan emosi yang menyentuh hati. Ibu Asafel mengungkapkan kebanggaannya, “Anak-anak ini luar biasa. Mereka belajar bekerja sama dan tampil dengan percaya diri”. Semoga pengalaman ini dapat menjadi motivasi besar bagi mereka untuk terus berkarya di masa depan, memuji dan memuliakan Tuhan melalui musik dan lagu, dan semangat tim paduan suara SD Athalia juga dapat menginspirasi anak-anak Indonesia lainnya untuk berani bermimpi dan berprestasi di kancah internasional”. Baca juga: Prestasi Paduan Suara Sekolah Athalia

Titik Temu Antargenerasi – Saling Memahami

Elia Okki (staf Bagian SDM)

pendidik dan siswa antargenerasi

Memahami Perbedaan Antargenerasi

Melakukan panggilan Tuhan untuk membawa anak-anak menjadi murid-Nya tidak hanya tugas orang tua, tetapi juga tugas orang dewasa di sekitarnya. Begitu pula di lingkungan Sekolah Athalia. Para pengajar dan staf mengemban peran yang sama, yaitu mendampingi setiap murid berproses dalam pertumbuhan karakter mereka. Namun, stigma yang dimiliki setiap generasi dapat menjadi penghalang untuk melayani lintas generasi.

Antargenerasi akan menghadapi kesenjangan karena setiap zaman memiliki ciri khas ketika mereka tumbuh besar. Oleh karena itu, kita perlu mencoba meminimalisasi kesenjangan antargenerasi dengan cara melihat peristiwa dan kondisi yang membentuk suatu generasi tiap zaman.

Setiap generasi lahir dengan sejarah yang berbeda. Kita ambil contoh generasi Milenial dan Gen-Z. Stillman (2018)1 menyebutkan bahwa generasi Milenial menghabiskan masa kecilnya dengan bermain dan kebanyakan lahir dari orang tua generasi Boomers yang memfokuskan diri untuk menumbuhkan harga diri anak dengan cara “lihat dan dengar anak”. Perspektif kerja Boomers ialah untuk kepuasan batin yang melahirkan pencarian makna bagi generasi Milenial dalam bekerja. Generasi Milenial akrab dengan istilah “komunikatif, kolaboratif, optimis, idealis, yang terbaik, work-life balance, menjadi teman”. Juga slogan “Susah-senang, mari rayakan hidup!” membuat Milenial fokus menikmati hidup di masa kini. Itulah ciri khas generasi Milenial.

Bagaimana dengan Gen-Z? Gen-Z menghadapi isu persoalan ekonomi dunia yang membentuk cara mereka menyikapi hidup. Orang tua yang kebanyakan berasal dari Generasi X, dengan sepenuh hati menyiapkan anak-anak Gen-Z dalam menghadapi dunia nyata secara mandiri. Peristiwa politik, COVID-19, resesi berat, masa depan, terorisme modern, isu lingkungan, disrupsi teknologi, dan sebagainya berdampak dalam hidup mereka. Mereka berjuang menata hidup masa depan agar memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari orang tua mereka. Sebab itulah, pemikiran mereka terfokus pada “Apakah kehadiranku menghasilkan perbedaan atau tidak?

Baca juga: Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna! dan My Story is God’s Story

Menjalani Iman di Tengah Perbedaan Generasi

Jadi, bagaimana kita bisa berjalan bersama generasi muda yang Tuhan titipkan di tengah kekacauan zaman? Perbedaan menjalani hidup antargenerasi tak seharusnya menjadi penghalang untuk jalan bersama dan menjadi murid-Nya, terutama di dalam kelompok kecil KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang dilayani oleh penulis.

Benner (2012)2 menekankan agar perjalanan bersama anggota kelompok kecil haruslah berfokus kepada Allah. Ia menyebutkan bahwa keramahan, kehadiran, dan dialog rohani perlu dibangun jika kita ingin menjalin persahabatan yang dasarnya adalah Kristus. Oleh karena itu, relasi harus dibangun dengan memprioritaskan perenungan mendalam daripada sekadar pertanyaan benar dan salah, menjadi komunitas doa, membagikan pengalaman rohani, penerimaan, dan saling mendukung. Zaman dan generasi bisa saja berbeda, tetapi Allah yang berdaulat dalam dunia dan kehidupan akan selalu menjumpai umat-Nya melampaui cara dan pikiran manusia. Anak-anak yang sedang berjalan bersama kita menghadapi pergumulannya, begitu pun kita. Kondisi ini membuat kita, generasi yang berbeda dengan mereka, perlu kepekaan dari Roh Kudus agar bisa berjalan bersama mereka. Hanya di dalam keterhubungan dan keterlibatan Allah saja ada pengharapan hidup. Kiranya Tuhan menolong kita.

  1. Stillman, D. & Jonah Stillman. 2018. Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ↩︎
  2. Benner, D. 2012. Sacred Companions (Sahabat Kudus). Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur. ↩︎

Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Joanne Emmanuel Layar (Siswa Kelas IX Wa)

paskibra sekolah athalia

Perkenalan

Halo! Nama saya Joanne Emmanuel Layar, anggota Paskibra Sekolah Athalia. Ini adalah tahun kedua saya menjadi anggota Paskibra. Sekitar dua tahun lalu saya memutuskan untuk mendaftar. Awalnya saya mendaftar tanpa ekspektasi akan diterima, hanya sekadar ingin mendisiplinkan dan menantang diri dengan hal yang baru. Pada hari seleksi, saya sedikit ragu karena tes-tes yang diberikan sangat berat dan menuntut kekuatan fisik. Namun, puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lewat Paskibra.

Kisah Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Melalui Paskibra, saya dan teman-teman merangkai kisah kami masing-masing. Tentunya cerita yang kami rangkai setiap tahunnya berbeda. Bukan proses yang mudah karena kami harus membagi waktu dan melakukan tanggung jawab sebagai siswa sekaligus anggota Paskibra. Kegiatan ini bukan hanya sekadar berlelah-lelah latihan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga tentang respons kami saat menghadapi rasa lelah tersebut. Ada saat kami merasa kemampuan kami sudah mencapai batas maksimal. Ada saat tidak yakin bahwa memilih untuk menjadi pengibar adalah pilihan yang tepat, bahkan sulit sekali untuk merasakan yang namanya semangat.

Selama latihan banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan, salah satunya yaitu saling mendukung antarteman. Paskibra Athalia memiliki kalimat khas yang berbunyi “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Bila ada satu anggota yang melakukan kesalahan, semua anggota juga akan mendapatkan hukumannya yaitu “satu paket” untuk setiap kesalahan. Satu paket yang dimaksud setara dengan sepuluh kali push up. Hal itu mengajarkan saya bahwa ini bukan tentang siapa yang benar dan yang salah, tetapi tentang seluruh anggota adalah satu tim.

Menghitung sisa-sisa hari latihan yang makin menipis dan hari pengibaran yang makin dekat, banyak perasaan yang bercampur aduk antara khawatir, lelah, bangga, dan bersemangat. Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan. Sabtu, 17 Agustus 2024 merupakan hari yang sangat membanggakan dan mengharukan, tetapi juga menyedihkan. Saya sangat bersyukur dan bangga karena kami berhasil memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas sebagai satu tim. Satu hal yang paling terasa setelah melaksanakan tugas adalah rasa bersyukur karena saya merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Banyak momen tak terulang yang akan saya rindukan, mulai dari berlari menuju lapangan supaya tidak telat latihan, hingga merasakan tulang yang encok sehabis latihan.

Hal yang Bisa Dipetik

Paskibra memproses diri saya untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi. Walaupun sulit untuk dijalani, saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari tim Paskibra yang dapat membanggakan Indonesia. Satu kalimat dari saya untuk tim Paskibra, “Bukan aku, bukan kamu, tapi kita”. Pesan dari saya, jika bukan saat ini, biarkan Tuhan yang menentukan saatnya.

“PaskibraAA! Terima kasih.”

Baca juga: Pengalamanku Sebagai Paskibra

Pengalamanku Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Andreas Stefrans Wijaya – Siswa kelas XII MIPA 1

Andreas Stefrans Wijaya

Halo, namaku Andreas. Aku mau berbagi cerita mengenai pengalamanku saat menjadi anggota Paskibra 2024. Sebenarnya aku sudah berencana untuk mengikuti kegiatan ini semenjak satu tahun yang lalu. Namun, saat itu aku ditunjuk sebagai petugas chapel dan latihan chapel bertabrakan dengan hari seleksi, akhirnya aku memilih chapel. Setelah satu tahun berlalu, aku kembali mendaftarkan diri untuk ikut proses seleksi Paskibra. Mengapa aku mendaftar kembali?

Alasanku Menjadi Paskibra Sekolah Athalia

Sejak dulu aku memiliki fisik yang lemah. Agar mencapai fisik yang lebih baik, tentu aku harus mulai berolahraga. Namun, aku malas untuk memulainya. Oleh karena itu motivasi utamaku bergabung di Paskibra adalah untuk memaksakan diri berolahraga. Aku melihat kegiatan Paskibra sangat identik dengan latihan fisik. “Salah sedikit push up, kurang disiplin push up, intinya sedikit-sedikit push up”. Aku berpikir, jika aku bergabung di sini, mau tidak mau aku harus ikut latihan fisik. Hasilnya tentu akan berbeda jika aku berolahraga sendirian, kalau sedang malas bisa skip latihan. Setelah melewati seleksi, namaku tidak tertulis di lembaran daftar anggota yang diterima. Namun, seminggu kemudian pelatih Paskibra mengajakku untuk bergabung. Ternyata awalnya aku dipilih sebagai cadangan, tetapi karena ada beberapa siswa yang mengundurkan diri akhirnya aku diterima sebagai anggota inti.

Aku ingat sekali latihan pertama dilakukan di bulan Juli setelah liburan sekolah yang panjang. Awalnya badanku kaget merespons hasil latihan. Otot-otot terasa kaku sampai-sampai penglihatanku menjadi gelap. Tidak hanya aku yang mengalami, beberapa teman pun merasakan hal yang sama. Latihan demi latihan kujalani setiap hari. Terkadang aku merasa lelah, tetapi dengan anugerah Tuhan serta niat untuk mendapatkan fisik yang kuat, aku tetap bertahan. Jujur kukatakan, kekuatan fisikku sekarang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Hal yang Paling Berkesan

Ada hal berkesan yang paling aku ingat selama menjalani proses latihan. Saat kami sedang belajar baris-berbaris, Pak Iwan berkata, “Jawablah seakan-akan besok kamu mati, maka kamu akan menjawab secara tulus”. Kalimat ini diucapkan ketika kami dalam posisi istirahat. Ia mengkritik jawaban “Siap!” dari kami yang terdengar kurang tegas. Mungkin teman-teman yang lain hanya menangkap poin “menjawab dengan tulus dan tegas”. Namun, perkataan itu mengingatkanku akan frasa latin “memento mori” yang telah lama kujadikan sebagai deskripsi (about) WhatsApp. Kalimat “seakan besok kamu mati” adalah sesuatu yang spesial karena sebagai manusia kita tidak tahu kapan kita akan mati. Mungkin saja besok atau mungkin satu detik kemudian, tidak ada yang benar-benar tahu. Renungan ini membuat aku menjadi lebih bersyukur akan anugerah dan kesempatan yang Allah berikan untuk bertobat.

Kita diberikan anugerah dan dibebaskan dari dosa, jadi kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah seperti yang tertulis dalam Alkitab. Gunakanlah kesempatan yang diberikan Allah untuk membantu sesama, menolong yang membutuhkan, dan berkontribusi bagi bangsa demi memuliakan nama Tuhan.

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti, Amen.

Pakibra HUT RI 2024

Baca juga: Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Jangan Takut Berbeda, Jadilah Pribadi Autentik!

Oleh: Betsy K. Witarsa – Konselor SMA

pribadi autentik

Sebagai manusia, kita adalah ciptaan Allah yang paling mulia karena diciptakan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Kita diberi kemampuan untuk berpikir, berencana, merasakan emosi, berekspresi, dan mengambil tindakan. Setiap kita juga memiliki karakteristik, kepribadian, dan bakat unik yang membuat diri kita unik dan berbeda satu dengan yang lain.

Menjadi pribadi autentik berarti memahami diri, menghargai keunikan yang diberikan Tuhan, dan memaksimalkan potensi diri. Kehidupan yang autentik memberikan kepuasan dan makna yang lebih mendalam jika kita mampu melihat diri dari perspektif Allah.

Sayangnya, ada berbagai hal yang seringkali menghambat kita untuk bisa menjadi pribadi yang autentik. Beberapa orang tumbuh dalam lingkungan yang minim teladan dan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan secara sehat, sehingga terbiasa untuk memendam atau bahkan menyangkal pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri. Ada pula yang diberi tuntutan untuk mencapai atau menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak selaras dengan bakatnya, lalu dikritik dan dipandang sebelah mata ketika hasilnya kurang maksimal.

Banyak manusia terbiasa memakai topeng demi mendapat penerimaan dan pengakuan. Ketika hal ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama, sehingga mereka semakin tidak peka dengan pikiran, emosi, dan kebutuhannya sendiri. Kehidupan tidak lagi dilandasi oleh pengenalan yang benar akan diri dan Allah menjadikan hidup mudah terombang-ambing tanpa arah.

Bagaimana Menjadi Pribadi yang Autentik?

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjalani hidup dengan lebih autentik, sembari tetap menjaga keharmonisan relasi dengan orang-orang di sekitar. Kata kuncinya adalah membangun relasi yang baik dan dekat dengan diri sendiri. Kita dapat melatih diri untuk melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Perhatikan dan sadari apa yang terjadi di tubuh kita. Leher atau bahu yang tegang mungkin terkait dengan apa yang ada dalam pikiran, perasaan, pemikiran, dan memori kita. Kondisi fisik dan psikologis kita saling mempengaruhi.
  2. Biasakan memvalidasi pikiran dan perasaan kita, bukan menyangkalnya. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengevaluasi apa yang kita pikirkan dan rasakan, tetapi langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui dan memberi ruang terlebih dahulu. Contoh kalimat validasi yang bisa kita katakan pada diri sendiri yaitu: “Aku menyadari bahwa aku berpikir kalau orang lain lebih beruntung dari diriku dan aku jadi mengasihani diri sendiri”, “Saat ini sedang ada kesedihan yang begitu besar dalam diriku dan aku mengizinkan diriku untuk merasakannya”, dan “Aku sebenarnya tidak suka dengan kecemasan yang sering muncul ini, tetapi aku belajar mengakui bahwa saat ini memang seperti itu kondisinya”.
  3. Kenalilah diri kita sendiri. Apa yang kita kuasai, apa yang kita suka lakukan, apa yang membuat hati kita tergerak, apa yang penting dan bernilai bagi kita, dan semacamnya. Hadapi kebenaran tentang siapa kita dan akuilah jika memang ada aspek-aspek dari diri sendiri yang masih sulit untuk diterima. Kebenaran tidak selalu menyenangkan, tetapi dapat berpotensi membebaskan kita.

Baca juga: Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
(Efesus 4:11-12)

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Angela Duckworth tumbuh dan dibesarkan di dalam keluarga dengan seorang ayah yang meragukan kompetensi intelektual anak-anaknya. Sang ayah dalam berbagai kesempatan mengatakan kepada Angela, “Kamu bukan orang jenius”. Namun, Angela tidak terjebak dalam label itu.

Jauh di dalam lubuk hatinya Angela ingin berkata, “Ayah bilang saya bukan orang jenius dan saya tidak membantahnya. Tetapi ada satu hal yang ingin saya katakan. Saya akan tumbuh dewasa dengan perasaan cinta terhadap apa yang saya lakukan. Saya akan menantang diri saya sendiri setiap hari. Bila terpukul roboh, saya akan bangkit kembali. Saya mungkin bukan orang yang paling pintar di satu komunitas, tapi saya berjuang menjadi orang yang paling tabah.” Menariknya, ia kemudian meraih beasiswa MacArthur, yang sering disebut beasiswa “Genius Grant“.

Apa Itu Grit dan Bagaimana Kita Bisa Menumbuhkannya?

Ide, pemikiran, dan penelitian tentang pengaruh ketabahan untuk mendukung pertumbuhan diri disarikan oleh Angela Duckworth. Dalam bukunya berjudul Grit, Angela Duckworth menjelaskan bahwa ketabahan (grit) dapat bertumbuh melalui empat faktor utama, meliputi :

  1. Minat (Interest)
  2. Latihan (Practice)
  3. Tujuan (Purpose)
  4. Harapan (Hope)

Ketika membahas tentang minat, Angela menyatakan hal yang penting bahwa, “minat akan berkembang bila ada dorongan dari beberapa pendukung, termasuk orang tua, pendidik, pelatih, dan rekan. Mereka memberikan dorongan berkelanjutan dan informasi penting yang membuat Anda semakin menyukai sesuatu.” Kalimat ini dengan tepat menunjukkan bagaimana sebuah komunitas berperan penting dalam membangun minat yang kemudian akan membentuk ketabahan dan mengoptimalkan pertumbuhan diri.

Peran Komunitas dalam Membantu Kita Bertumbuh

Alkitab juga menekankan pentingnya komunitas dalam membantu bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menyatakan bahwa Allah memberikan berbagai peran seperti rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar untuk memperlengkapi umat-Nya. Siapa mereka ini bagi komunitas Kristen? Mereka adalah orang tua, para pendidik, rohaniwan, para sahabat, rekan sepelayanan, yang Allah tempatkan di sekitar untuk memperlengkapi kita menemukan dan menekuni panggilan-Nya untuk melayani Tuhan dan sesama. Bagian firman Tuhan ini mengingatkan orang tua dan pendidik untuk memanfaatkan setiap momen dan ruang-ruang perjumpaan untuk memberikan informasi sekaligus inspirasi pertumbuhan diri anak-anak dalam pengasuhan kita.

Sayangnya, tidak semua anak mendapatkan inspirasi dari lingkungan mereka. Sebagian justru mengalami intimidasi, yang menjadi hambatan atau batu sandungan pada pertumbuhan diri dan pencarian panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Bagian firman Tuhan ini juga mengingatkan anak-anak untuk mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih atas kehadiran para penolong dalam pertumbuhan hidup mereka. Dukungan dan kehadiran para penolong di sekitar ini sering kali kurang dihargai, take it for granted, tidak lagi disyukuri, dan tidak mendapat ucapan terima kasih.

Ada yang mengatakan, “kehilangan akan membuktikan keberhargaan suatu kehadiran,” tetapi semoga kita tidak harus mengalami kehilangan lebih dahulu untuk bisa menyadari kehadiran para penolong di sekitar kita.

Baca juga: Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Perjalanan Remaja Mencari Identitas Diri

Anita Latifia-Konselor SMP

Proses Pencarian Identitas Diri

Setiap individu akan mengalami berbagai fase perkembangan dalam hidupnya. Fase remaja merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam proses pencarian identitas diri. Meskipun hal ini merupakan proses seumur hidup yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Namun, masa remaja adalah masa yang sangat signifikan. Menurut Santrock, hal yang penting dari perkembangan identitas diri pada masa remaja, terutama remaja akhir, adalah bahwa untuk pertama kalinya, perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional sang remaja berkembang ke titik di mana ia dapat memilah, memadukan identitas, dan mengenali masa kanak-kanaknya, untuk membangun jalan yang sepantasnya menuju kedewasaan (Santrock, 2010).

Empat Status Identitas Diri

Menurut Santrock, identitas merupakan potret diri seseorang yang terdiri dari banyak bagian, diantaranya keyakinan spiritual; karier yang ditempuh; kepribadian; citra tubuh (body image); minat; suku bangsa/etnis dan lainnya. Dalam proses pembentukan identitas ini, remaja akan melakukan eksplorasi untuk menemukan pilihan mana yang paling sesuai dan nyaman buat dirinya, serta komitmen terhadap pilihannya. Santrock mengatakan bahwa Marcia mengelompokkan identitas individu ke dalam empat status berdasarkan ada tidaknya proses eksplorasi (krisis) serta komitmen yang diambil. Keempat status identitas tersebut adalah:


Identity Diffusion

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi dan belum mengambil komitmen atas pilihannya. Kemungkinan individu pada status ini belum tertarik akan pencarian identitas tersebut.


Identity Foreclosure

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi, tetapi sudah berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini sering kali terjadi oleh karena pilihan orang tua atau figur lain ditambah individu malas untuk melakukan eksplorasi terhadap alternatif-alternatif pilihan lainnya.


Identity Moratorium

Status pada individu yang tengah melakukan eksplorasi, tetapi belum juga berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini membuat individu tersebut kurang teguh pada pilihannya dan mudah goyah jika terdapat alternatif lain yang baru dieksplor.


Identity Achievement

Status pada individu yang telah melakukan eksplorasi dan membuat komitmen terhadap pilihannya.

Usulan Bagi Orang Tua dalam Menemani Remaja Mencari Identitas Diri

Perjalanan pencarian jati diri ini bukan hal yang mudah untuk dilalui oleh setiap remaja. Pendampingan dan dukungan yang tepat dari orang tua merupakan hal yang sangat dibutuhkan para remaja dalam menjalani proses ini. Berikut ini merupakan beberapa usulan yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam menemani perjalanan anak-anak remaja mereka:

  • Menyadari bahwa ini merupakan perjalanan sang anak bersama dengan Tuhan dalam menemukan identitas seperti yang Dia inginkan.
  • Memberikan dukungan moral dan spiritual berdasarkan prinsip-prinsip iman Kristen yang baik, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja untuk berani melakukan eksplorasi diri.
  • Membantu dalam mengevaluasi hasil eksplorasi yang telah dilakukan anaknya dengan memberikan pertimbangan yang sesuai dengan pengenalan orang tua terhadap sang anak.

Melalui artikel singkat ini, kiranya orang tua bisa lebih memahami proses pencarian identitas pada remaja serta serius dalam mendampingi mereka dalam perjalanan ini.

identitas diri

Referensi:

Santrock, John W. (2010). Life-span Development (thirteenth edition). The McGraw-Hill Companies.

“Siapakah Aku?” Krisis Identitas yang Biasa Dialami Remaja. Yogyakarta: Center for Life-span Development, 2024. Diambil dari: https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/2024/05/04/siapakah-aku-krisis-identitas-yang-biasa-dialami-remaja/

Baca juga: Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

Bella Kumalasari-Plt. Kasie. Karakter

Perjalanan 30 tahun Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong diwarnai dengan berbagai musim. Begitu pun ketika kita berbicara mengenai karakter. Pendidikan karakter bak sebuah perjalanan panjang. Ada berbagai hal yang dilewati, jatuh-bangun yang dihadapi, sehingga semuanya merupakan proses yang perlu dijalani. Dunia yang penuh dengan ketergesa-gesaan dan serba instan membuat kita tidak sabar akan proses yang panjang dan tidak mudah. Maka dari itu, kita sebagai pendidik dan orang tua perlu terus mengingatkan diri sendiri akan hal ini ketika mendampingi anak-anak kita, sehingga terus memberikan ruang untuk bertumbuh.

Sekolah Athalia percaya bahwa setiap murid berproses dalam perjalanan panjang karakternya. Meski mungkin tahun lalu tampak ada kemajuan tapi tahun ini tidak, terkadang tampak jelas terkadang samar, Sekolah Athalia percaya bahwa setiap murid tetap berproses dalam perjalanannya masing-masing. Oleh sebab itu, di setiap akhir tahun ajaran Sekolah Athalia mengadakan “Perayaan Karakter” sebagai momen untuk mengapresiasi pertumbuhan sekecil apa pun.

Di dalam perayaan karakter, murid-murid diajak untuk mengingat kembali proses pembelajaran karakter yang telah mereka alami selama satu tahun terakhir. Mereka merefleksikan dan mengevaluasi dirinya dalam proyek-proyek yang sudah dilakukan, serta diajak untuk melihat karya dan penyertaan Tuhan dalam diri mereka dan teman-teman. Guru memberikan apresiasi bagi setiap murid dan memberikan dukungan untuk terus berproses di level berikutnya. Selain guru, orang tua dan sesama murid pun diajak untuk memberikan apresiasi bagi anak-anak dan teman-temannya.

Baca juga : Komunitas Athalia yang Bertumbuh

Mengapresiasi Setiap Perjalanan Karakter

Guru TK mendoakan satu per satu muridnya dengan rasa haru akan pertumbuhan yang Tuhan berikan dalam diri setiap murid secara unik. Guru dan orang tua siswa SD memberikan apresiasi secara personal kepada setiap anak. Anak-anak terharu membaca surat yang ditulis oleh orang tuanya. Murid-murid SMP juga merasa senang karena dapat bersama teman-teman saling mengenal dan memperhatikan selama satu tahun terakhir. Beberapa murid SMA menangis terharu ketika membaca kartu apresiasi dari teman sekelasnya karena tidak menyangka bahwa teman-temannya memperhatikan dirinya sedemikian rupa. Mereka merasa senang diapresiasi atas usaha yang mereka lakukan sekaligus diterima dalam kelemahan mereka.

Mari kita terus dukung pertumbuhan karakter anak-anak kita untuk makin serupa Kristus. Tahun ajaran yang baru, lembaran yang baru, dengan Tuhan yang sama, dengan kesetiaan dalam perjalanan yang sama. Meskipun mungkin kita merasa lelah karena merasa “Kok begitu lagi, begitu lagi, dibilangin berkali-kali seperti tidak ada bedanya”, kita percaya ketika anak berproses bersama Tuhan, mereka berproses makin dalam dan makin dalam. Meski terkadang tampak sama, ada hal yang Tuhan sedang kerjakan di dalam diri mereka. Mari terus ingat, yang terpenting bukan kecepatannya, tetapi arah yang benar menuju keserupaan dengan Kristus.

Keluarga yang Bersyukur

Hilda Davina S.-Staf Parenting PK3

Kita semua tumbuh dengan diingatkan untuk bersyukur dan mengucapkan “terima kasih”. Psikolog Sarah Conway dalam tulisannya di Mindful Little Minds menyebutkan bahwa rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, serta membangun kepercayaan diri dan resiliensi pada anak.

Memang tidak mudah untuk bisa selalu bersyukur karena rasa syukur bukanlah sifat alami yang dimiliki manusia sejak lahir. Namun, dengan kesadaran dan komitmen orang tua sebagai teladan, sikap bersyukur dapat tumbuh dalam diri anak-anak dan menyebar ke seluruh anggota keluarga. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membentuk keluarga yang selalu bersyukur:

keluarga yang bersyukur

1. Berbagi tentang hal yang disyukuri

Biasakan berbagi rasa syukur dalam momen kebersamaan keluarga. Misalnya, saat makan malam atau sebelum tidur, ajak anak bercerita tentang hal yang mereka syukuri hari itu. Orang tua bisa memberi contoh, misalnya:

“Ayah bersyukur walaupun hari ini jalanan macet, tapi ayah masih bisa pulang tepat waktu untuk makan bersama”.

Momen ini akan mengajari anak-anak bahwa rasa syukur tidak hanya kita ungkapkan saat mendapatkan barang tertentu (materi), bahkan peristiwa yang awalnya terasa buruk pun bisa berubah menjadi hal yang baik jika kita bisa melihat peristiwa tersebut melalui perspektif yang berbeda.

2. Ucapkan terima kasih

Ungkapan terima kasih tidak hanya mampu menyenangkan hati orang yang mendengarnya, tetapi juga orang yang mengucapkannya. Ajarkan anak untuk mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan sesuatu, mulai dari yang bentuknya fisik (konkret) hingga yang sifatnya tidak tampak (abstrak). Mintalah bantuan kepada anak untuk suatu pekerjaan yang bisa mereka lakukan dan ucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi atas usaha mereka. Ucapkan terima kasih kepada pasangan kita. Semakin sering anak mendengar dan menyaksikan teladan dari orang tua, sikap bersyukur akan semakin tertanam dalam diri mereka.

Baca juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

3. Menghitung berkat

Ajak anggota keluarga untuk menyebutkan hal-hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Supaya lebih menarik dan menantang, kita bisa membuat gratitude poster atau gratitude jar yang wajib diisi oleh seluruh anggota keluarga. Lalu pilihlah satu momen (misalnya akhir bulan atau akhir tahun) untuk bersama-sama membaca, merenungkan, dan akhirnya menyadari betapa banyaknya berkat yang Tuhan sediakan bagi kita setiap hari.

4. Berbagi dengan sesama

Hal ini bisa dimulai dari lingkungan di sekitar kita. Menjenguk teman yang sakit, berbagi makanan dengan tetangga, mendonasikan pakaian dan mainan yang masih layak pakai, dan sebagainya. Pengalaman ini akan mengajarkan anak untuk memikirkan orang lain selain diri mereka sendiri dan mensyukuri setiap hal yang telah mereka miliki.

Membangun keluarga yang bersyukur merupakan perjalanan seumur hidup. Tidak akan selalu sempurna, tetapi jika dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketekunan akan memberi hasil yang sepadan. Setiap ungkapan syukur yang kita nyatakan merupakan bukti penyertaan Allah yang akan membawa kita makin dekat dan makin mengasihi-Nya.

Sumber: 

Focus on the Family. (2024). Teaching kids to be thankful. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/parenting/teaching-kids-to-be-thankful/
KlikPsikolog. (n.d.). Pentingnya mengajarkan bersyukur kepada anak. KlikPsikolog. https://klikpsikolog.com/pentingnya-mengajarkan-bersyukur-kepada-anak/