Setiap orang tua tentu ingin membesarkan anak mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan kepala tegak. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, membangun karakter tabah menjadi sangat penting. Dengan karakter ini, kita akan tetap bertahan dalam situasi sulit dan menyelesaikannya sampai akhir. Namun, bagaimana cara terbaik dalam membentuk anak-anak menjadi sosok yang tabah?
Melalui video “Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir“, Ibu Charlotte Priatna mengupas soal karakter tabah. Beliau mengatakan bahwa dalam karakter ini, ada proses pembelajaran yang konsisten dan penuh keteladanan yang perlu dilakukan oleh orang dewasa, khususnya orang tua.
Selain keteladanan, proses mendidik anak agar memiliki karakter ini juga membutuhkan ruang untuk mereka menghadapi kesulitan sendiri. Memberikan mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah, mengelola emosi, dan bangkit dari kegagalan akan memperkuat jiwa dan mental mereka.
Kiranya video ini tidak hanya mengajak kita merenung, tetapi juga mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lembut dalam membentuk karakter anak. Karena dalam setiap proses belajar bertahan, kita pun sedang diproses untuk menjadi lebih tabah.
Di tengah situasi pandemi yang penuh tantangan ini, banyak keluarga mengalami perubahan besar dalam hidup mereka. Tidak sedikit yang menghadapi tekanan ekonomi, kesehatan, maupun emosional. Dalam kondisi seperti ini, justru karakter kemurahan hati sangat diperlukan. Karakter ini membuat kita mampu melihat penderitaan orang lain dan tergerak untuk menolong. Kemurahan hati tidak hanya membantu mereka yang kesusahan, tapi juga menguatkan empati dan kasih dalam diri kita.
Sebagai orang tua, kita memiliki peran penting untuk menjadi teladan dalam hal kemurahan hati. Anak-anak belajar bukan hanya dari perkataan, tetapi dari sikap dan tindakan nyata yang mereka lihat setiap hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti berbagi makanan kepada tetangga, mendoakan mereka yang sakit, atau menyisihkan uang jajan untuk membantu sesama. Libatkan anak dalam tindakan kebaikan tersebut, agar anak mengerti arti memberi dan peduli. Karakter ini, jika diajarkan secara konsisten, akan melekat dalam hati anak hingga dewasa.
Mari jadikan masa sulit ini sebagai kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai kebenaran, khususnya murah hati. Jadilah contoh nyata bagi anak, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan aksi penuh kasih. Sebab, saat kita bermurah hati, bukan hanya orang lain yang diberkati, tapi hati kita pun diperkaya.
Sudahkah Anda menunjukkan kemurahan hati hari ini?
Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup berdampingan dan membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi serta bersosialisasi. Kemampuan ini sangat penting untuk memperkecil kesalahpahaman dalam komunikasi. Salah satu instrumen utama yang membantu manusia berinteraksi adalah bahasa.
Bahasa berperan penting sebagai alat komunikasi. Kemampuan berbahasa yang baik dapat meningkatkan kualitas interaksi dan mempererat hubungan antarindividu.
Peran Keluarga dalam Pemerolehan Bahasa Ibu
Konsep komunikasi pertama kali dipelajari di lingkungan tempat seseorang dilahirkan — yaitu keluarga. Orang tua memegang peranan penting dalam proses pemerolehan bahasa pada anak, yang dikenal sebagai bahasa ibu atau mother tongue.
Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai oleh manusia sejak lahir melalui interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak belajar bahasa pertama dengan cara mendengar komunikasi di sekitarnya, menyimpannya dalam “gudang bahasa”, lalu mengolahnya menjadi kalimat.
Bahasa Ibu sebagai Dasar Cara Berpikir
Kemampuan seseorang menguasai bahasa ibu berpengaruh besar terhadap proses belajar berikutnya. Bahasa menjadi dasar cara berpikir, membentuk pola logika dan pemahaman anak terhadap dunia di sekitarnya.
Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari pentingnya penggunaan bahasa ibu dalam pembentukan karakter anak. Saat anak mulai memasuki lingkungan masyarakat yang lebih luas, bahasa ibu membantu mereka memahami nilai, norma, dan budaya bangsanya sendiri.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membangun kemampuan berbahasa anak antara lain:
Siapa yang berbicara dan diajak bicara,
Tempat dan waktu interaksi,
Topik pembicaraan, serta
Bahasa yang digunakan.
Dengan memahami hal-hal tersebut, orang tua dapat membantu anak menggunakan bahasa secara tepat dan berkarakter.
Tantangan Pelestarian Bahasa Ibu di Era Digital
Anak-anak zaman sekarang lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau melalui media sosial. Mereka cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing karena menganggap hal itu membuka peluang karier dan koneksi global.
Pandangan tersebut tidak salah, namun tanggung jawab mempertahankan bahasa ibu tidak boleh diabaikan. Bahasa adalah jendela untuk memandang realitas kehidupan. Hilangnya bahasa berarti hilangnya cara pandang, nilai, etika, dan norma suatu bangsa.
Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kecintaan pada bahasa ibu, sembari tetap memberikan kesempatan anak belajar bahasa asing. Dengan begitu, anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.
Peran Sekolah dan Orang Tua dalam Melestarikan Bahasa Ibu
Sekolah juga memiliki peran penting dalam pelestarian bahasa ibu. Contohnya, Sekolah Athalia—sebuah sekolah di BSD, Serpong— sebagai sekolah Kristen yang menekankan pembentukan karakter, berkomitmen menjadi wadah bagi siswa untuk mencintai bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
Kesadaran bersama antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan penggunaan bahasa ibu baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Dengan memberikan teladan yang baik, anak-anak akan lebih mudah memahami nilai luhur bangsanya melalui bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.
Menumbuhkan Cinta Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah
Pemerintah Indonesia telah menetapkan slogan: “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Pelajari Bahasa Asing.”
Slogan ini mengandung pesan kuat agar masyarakat, terutama generasi muda, tetap menjadikan bahasa ibu sebagai jati diri bangsa. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah harus diutamakan dan dilestarikan, sementara bahasa asing dipelajari sebagai jembatan komunikasi global.
Kesimpulan: Bahasa Ibu adalah Identitas dan Karakter Bangsa
Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya dan cerminan karakter bangsa. Melalui bahasa itu, anak belajar berpikir, beretika, dan memahami nilai kehidupan.
Peran orang tua dan guru sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh teknologi. ✨ Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan tanamkan kebanggaan berbahasa kepada generasi penerus bangsa.
Judul : Character Excellence Penulis : Rizal Badudu Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun terbit : 2019 Jumlah halaman: 228 halaman
Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.
Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.
Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.
Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.
Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.
Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi. Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.
Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan
Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.
Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.
Harapan Orang Tua vs. Realita Anak
Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.
Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan? Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya? Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.
Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya
Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.
Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.
Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.
Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat
Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.
Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter. Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.
Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus
Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih. Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.
Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)
Penghargaan untuk Anggota Boys’ Brigade Cabang 4 Sekolah Athalia
Pada Jumat, 6 Desember 2019, Boys’ Brigade (BB) Cabang 4 Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mengadakan kegiatan Award Day. Acara ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota BB yang telah memenuhi berbagai persyaratan pencapaian di bidang tertentu.
Dalam kegiatan ini, sejumlah lencana diberikan kepada anggota yang berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan.
Daftar Lencana dan Jumlah Penerimanya
Berikut daftar lencana yang dibagikan pada kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia 2019:
Lencana Target: 127 anggota
Lencana Perkemahan: 48 anggota
Lencana Pelayanan Masyarakat: 123 anggota
Lencana Olahraga: 23 anggota
Lencana Hobi: 6 anggota
Lencana Seni: 15 anggota
Lencana Kewarganegaraan: 19 anggota
Lencana Pendidikan Agama Kristen: 31 anggota
Setiap lencana memiliki makna dan nilai pembelajaran tersendiri bagi para anggota.
Kriteria dan Proses Perolehan Lencana
Untuk mendapatkan lencana-lencana tersebut, setiap anggota harus memenuhi kriteria tertentu sesuai bidangnya. Kriteria ini berupa seperangkat kemampuan atau pengetahuan yang diajarkan dalam kegiatan kelas parade BB, serta tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kegiatan rutin.
Sebagai contoh:
Lencana Pelayanan Masyarakat mensyaratkan anggota melakukan kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, seperti pelayanan di panti asuhan.
Lencana Olahraga dan Lencana Hobi menuntut pengembangan keterampilan dan disiplin.
Proses ini mengajarkan setiap anggota untuk berkomitmen, bertanggung jawab, dan berjuang dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Pengembangan Empat Aspek Kehidupan
Pemberian lencana bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat motivasi bagi anggota Boys’ Brigade untuk berkembang dalam empat aspek kehidupan:
Pengetahuan (Intellectual) – meningkatkan wawasan dan keterampilan.
Fisik (Physical) – melatih kekuatan dan kedisiplinan tubuh.
Sosial (Social) – menumbuhkan semangat kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.
Spiritual (Spiritual) – memperdalam iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Melalui proses memperoleh lencana, para anggota bertumbuh menjadi pribadi yang seimbang dalam aspek intelektual, fisik, sosial, dan spiritual.
Peran NCO dan Officer dalam Award Day
Acara Award Day diatur dan dijalankan oleh NCO (Non-Commissioned Officer), yaitu para anggota BB yang dipercaya sebagai pemimpin rekan-rekannya. Mereka menyiapkan seluruh keperluan acara, mulai dari logistik lencana, perlengkapan, tata cara penyematan, hingga dokumentasi.
Seluruh kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan para Officer (guru pendamping). Keterlibatan NCO ini tidak hanya memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi latihan berorganisasi dan melayani sesama.
Kesimpulan: Award Day sebagai Ajang Pembentukan Karakter
Kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia bukan hanya tentang pemberian lencana, tetapi juga merupakan perayaan hasil kerja keras, kedisiplinan, dan pertumbuhan karakter siswa.
Melalui kegiatan ini, setiap anggota belajar bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan — seorang pemimpin yang memiliki semangat tangguh, hati yang melayani, dan karakter yang berintegritas. ✨ Award Day menjadi momen berharga yang meneguhkan semangat “Sure & Stedfast” — teguh dalam iman dan pelayanan.
Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.
Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.
Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.
Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak
Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya. Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.
Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.
Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.
1. Berani Menanggung Risiko
Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.
Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.
Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.
2. Berani Direpotkan
Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.
Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.
Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.
3. Berani Malu
Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.
Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.
Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.
Mengasihi atau Mengasihani?
Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:
“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”
Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan. Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.
Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.
Kesimpulan
Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.
Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.
Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.
📚 Catatan
Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”
Kelas V SD Athalia mengadakan retreat pada hari Rabu, 25–27 September 2019. Kegiatan ini bertempat di Wisma D’Agape, Bogor. Retreat yang bertema “Jesus is the Only One” ini bertujuan untuk membimbing siswa mengerti dan menyadari bahwa Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Selain itu, retreat ini bertujuan untuk membimbing siswa berlatih jujur, kemandirian, dan bertanggung jawab. Diharapkan siswa dapat melakukan berbagai hal saat tanpa orang tua. Siswa dapat bertanggung jawab dalam merapikan barang milik pribadi. Diharapkan mereka juga dapat mengatur waktu agar bisa mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan. Retreat ini juga melatih siswa berinisiatif mengingatkan teman-temannya untuk mengikuti kegiatan yang sudah dirancang, serta menolong teman yang membutuhkan bantuan.
Yohanes 14:6 mengatakan, “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.” Ayat ini menjadi tema sekaligus pedoman bagi kita untuk menyadari dan meyakini bahwa hanya Yesuslah satu-satunya juru selamat yang ada. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat tidak hanya diucapkan melalui kata-kata, melainkan selalu mengandalkan Yesus dalam setiap kehidupan. Yesus selalu ada di awal, di tengah, dan di akhir karena Yesus selalu memimpin, membimbing, dan menyertai hidup kita. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus menjadikan Yesus sebagai satu-satunya juru selamat.
Kegiatan dan Sesi-Sesi dalam Retreat
Retreat kelas 5 SD diawali dengan ibadah pembuka yang mengajak setiap siswa memuji dan menyembah Tuhan. Siswa belajar mengenali gambar diri sebagai ciptaan yang istimewa melalui sesi “I am a Special Creation”. Mereka diminta menuliskan refleksi tentang gambar diri di malam api unggun. Kemudian, mereka juga belajar memahami kondisi manusia yang berdosa dan karya keselamatan Kristus dalam sesi “I am a Broken Vessel”. Di dalam sesi ini ada kegiatan membuat proyek menyatukan kembali bejana yang telah hancur bersama teman kelompok.
Pada sesi ke-3 “I am a Disciple of Christ”, siswa belajar menyadari kondisi yang diubahkan oleh Kristus. Selain itu siswa juga diajak untuk menerima panggilan sebagai murid Kristus. Di sesi ke-3 ini siswa mengikuti sebuah permainan yang melatih konsentrasi untuk hanya berfokus pada suatu perintah. Siswa juga membuat proyek dari lilin malam bersama dengan teman kelompok dengan tema “Creation”. Pada sesi yang terakhir yaitu KKR, siswa diajak untuk menyadari dan memercayai Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Siswa pun diminta menuliskan komitmen dalam diri sendiri terhadap kehidupannya dalam sesi “Jesus is The Only One”.
Kegiatan retreat ini sangat membantu setiap siswa untuk semakin belajar dan mengenal kasih Kristus. Bahkan mereka juga diajak untuk membagikannya melalui respons setiap siswa dalam mengikuti sesi-sesi yang ada. Salah satu bentuk kesadaran tersebut melalui antusiasme mereka dalam mengikuti beberapa permainan yang ada. Hanya dengan penyertaan Yesus-lah setiap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar.
“I am not quite sure—but I am going to trust, and I am going to obey” Saya tidak begitu yakin—tetapi saya akan tetap percaya dan saya akan tetap taat.
Penggalan kalimat ini diucapkan oleh seorang pemuda yang hadir dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berlangsung di Brockton, Massachusetts. Ketika Daniel Towner seorang pemimpin pujian, mendengar kalimat ini ia menuliskannya dan mengirim tulisannya itu kepada seorang penulis syair, bernama J.H. Sammis. Dari kalimat itulah, Sammis menulis sebuah hymn yang kita kenal dengan judul “Trust and Obey (Percaya dan Taat).”
Melangkah dengan Iman
Perjalanan mengikut Tuhan adalah proses belajar mempercayai dan menaati Tuhan tiada henti. Hal ini dialami oleh Abraham, Bapa orang beriman. Dalam Kejadian 22: 2, Allah berfirman, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Dalam ayat ini, permintaan Allah kepada Abraham sangat jelas. Allah meminta anaknya yang tunggal, yang ia kasihi sebagai korban persembahan (terj. Bahasa Inggris “your son,” “your only son,” “Isaac,” “whom you love”). Padahal Allah berjanji bahwa keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut dengan keturunanmu (Ibr. 11:18).
Alkitab tidak mencatat perasaan Abraham pada saat itu. Alkitab melanjutkan kisah ini dengan memperlihatkan tindakan Abraham. Dengan hati yang taat, Abraham segera/keesokan harinya bangun, memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Kemudian berangkatlah Abraham ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Sungguh suatu teladan ketaatan yang luar biasa. Abaraham melangkah dengan iman. Ketaatan Abraham adalah ketaatan yang tidak masuk akal. Bagaimanakah mungkin seseorang dapat dengan segera memilih untuk taat kepada Allah ketika diminta untuk menyerahkan anaknya?
PENGALAMAN IMAN BERSAMA ALLAH DI MASA LAMPAU
Abraham memiliki sejarah hubungan yang kaya dengan Allah. Kisah Allah menguji Abraham di perikop ini bukanlah ujian pertama baginya. Ini adalah ujian terakhir dalam kehidupannya. Menurut tradisi Yahudi, Abraham mengalami sepuluh pencobaan termasuk kisah ini. Namun dalam pencobaan-pencobaan tersebut, tidak pernah ia mendapati Allah lalai menepati janji-Nya dan mengecewakan dirinya. Pengalaman imannya di masa lampau inilah yang membuat ia dapat mempersiapkan segala sesuatu, melayangkan pandangannya ke gunung Moria dan rela mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal (Ibr. 11:17).
Adakah pengalaman iman dalam hidup kita? Setiap orang percaya dapat memiliki pengalaman iman dengan Allah. Pengalaman ini dapat terjadi apabila kita mulai melangkah dengan hati yang taat berlandaskan Firman Tuhan. Mungkin sekarang Allah sedang berbicara kepada diri kita mengenai pekerjaan, mengenai uang, mengenai anak, atau sesuatu hal yang lain. Beranikan dirimu melangkah dengan hati yang penuh ketaatan. Sekalipun kelihatannya mustahil, beranikanlah diri untuk melangkah dalam hal apa pun yang diperintahkan-Nya, baik kepada kita sekeluarga maupun secara pribadi.
PENGENALAN YANG BENAR TERHADAP PRIBADI ALLAH
Setelah tiga hari perjalanan, Abraham meminta bujangnya untuk tinggal dan menunggu. Dalam ayat 5, Abraham berkata kepada dua bujangnya, “…kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu” (penekanannya pada kata “sesudah itu kami kembali kepadamu”).
Kepastian bahwa Ishak dan Abraham akan datang kembali dari sembahyang bukanlah sebuah ungkapan kosong. Ini adalah pengenalannya dan keyakinannya terhadap Pribadi Allah yang tidak mengingkari janji-Nya. Allah berjanji bahwa yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak (21:12). Walaupun, dalam perikop ini tidak dijelaskan mengapa Abraham berkata seperti itu, tetapi Ibrani 11:17-19 membantu para pembacanya memahami kata-katanya. Pada ayat 19 “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali ”.
Pengenalan yang benar terhadap Allah adalah salah satu hal penting dalam mengikut Yesus. Kita harus mengetahui siapa Dia agar iman yang kita miliki bukanlah iman yang melompat dalam gelap. Satu-satunya cara memiliki pengenalan yang benar adalah dengan membaca dan merenungkan firman-Nya setiap hari dan meminta Allah berbicara kepada kita secara pribadi. Dengan begitu, walaupun pencobaan menghampiri kita, kita akan dikuatkan oleh firman-Nya.
Penutup
Abraham, Bapa orang beriman, mengalami berbagai situasi yang jauh dari jangkauan logika manusia. Tetapi ia tidak bimbang karena ketidakpercayaannya, melainkan terus diperkuat dalam imannya dan tetap memuliakan Allah (Rm. 4:20). Demikian juga kita harus melatih diri kita agar memiliki pengalaman iman dan pengenalan yang benar terhadap Pribadi Allah. Yakinkanlah diri kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita yang mengasihi Dia. Ia menuntun kita untuk melangkah dengan iman.
Metamorphosis Camp atau Met Camp adalah sebuah kegiatan karakter yang wajib diikuti oleh siswa-siswi kelas VII SMP Athalia. Berbagai aktivitas yang dilakukan dalam Met Camp ini ditujukan untuk mengingatkan dan meneguhkan kembali karakter yang telah dikembangkan di SD. Karakter tersebut adalah karakter tanggung jawab. Dalam kegiatan ini juga ditujukan untuk memperkenalkan profil Caring and Sharing dalam proses pembentukan karakter di SMP Athalia.
Aktivitas-aktivitas Seru dalam Met Camp
Kegiatan Met Camp dimulai dengan permainan kelompok di luar ruangan. Games yang dipersiapkan bukan hanya berfokus pada aktivitas yang seru dan menyenangkan. Namun lebih dari itu, games ini memiliki makna yang dapat dipelajari oleh peserta camp. Adapun hal-hal yang dipelajari di antaranya: karakter inisiatif, tepat waktu, pengendalian diri, rajin dan kerja sama. Kesan yang sempat didengar dari peserta adalah adanya momen yang tak terlupakan, yaitu ketika peserta camp diberikan sebuah aturan. Aturannya yaitu saat haus hanya boleh minum air mineral sedangkan minuman yang disediakan di samping air mineral adalah es mambo. Ternyata, ada peserta camp yang cukup tergoda dengan es mambo nyaris tidak dapat mengendalikan diri. Di tengah kelelahan setelah beraktivitas dan udara panas di siang hari, permainan ini merupakan sebuah contoh proses belajar mengendalikan diri.
Kegiatan Met Camp lainnya adalah role play. Pada kegiatan ini panitia telah mempersiapkan beberapa orang yang melibatkan guru, siswa kelas 9, maupun petugas cleaning service. Mereka bertugas memerankan berbagai keadaan yang mengajak siswa untuk peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka secara langsung. Kejadian rekaan telah direkam sebelumnya kemudian ditampilkan lalu didiskusikan secara bersama-sama dengan suasana yang ringan dan fun. Melalui cara ini dimaksudkan agar peserta mudah memahami maksud dan tujuan dari sesi ini dan dapat mengambil sikap yang tepat. Caring and Sharing dimulai dari tanggung jawab terhadap diri sendiri yang dilanjutkan dengan tanggung jawab kepada sesama dan lingkungan.
Ada juga sesi tanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Dalam sesi ini, peserta diajarkan untuk berbelanja dan memasak sendiri makanan untuk makan malam mereka. Para peserta berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan menu makanan mereka serta memilih beberapa orang untuk berbelanja kebutuhan untuk memasak.
Hal-hal yang juga Dipelajari dalam Met Camp
Ada banyak hal yang mereka pelajari dari kegiatan ini, salah satunya mengenai jenis sayuran. Ada hal lucu ketika peserta camp pergi berbelanja. Ternyata banyak yang tidak tahu bentuk dari bumbu masak yang akan mereka beli. Oleh karenanya, hal ini berakibat mereka salah membeli bumbu yang diperlukan untuk memasak. Peserta camp diwajibkan memasak dan makan sayur. Mereka pun didorong untuk saling menolong satu dengan yang lain agar masakan mereka matang dan memiliki rasa yang enak. Mereka juga diajarkan untuk bertanggung jawab dengan dana yang diberikan.
Kegiatan lainnya adalah pembekalan sex education oleh Ibu Charlotte Priatna dan Bapak Martin Manurung. Kegiatan ini diadakan terkait dengan semakin bertumbuhnya mereka menjadi remaja. Beberapa konselor dari SD dan SMA serta beberapa staf PK3 pun terlibat sebagai fasilitator.
Di hari kedua, peserta camp belajar mengenai proses metamophosis yang tidak mudah dan membutuhkan usaha. Sudah saatnya mereka tidak hanya bertanggung jawab pada diri sendiri melainkan juga Caring and Sharing pada sesama.
Melalui Metamorphosis Camp banyak peserta yang mengaku menikmati dan belajar banyak dari kegiatan camp ini. Metamophosis Camp menjadi bermakna walaupun dibungkus dengan aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Sungguh bersyukur untuk pelaksanaan camp yang berjalan dengan baik. Kiranya setelah Met Camp ini, siswa-siswi mau terus diproses dan belajar untuk lebih bertanggung jawab. Bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri dan peka terhadap lingkungan serta orang lain.