Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!

Octovianus L. Riwu-6uru Matematika SMA

Matematika merupakan sebuah cabang ilmu yang sering menjadi “momok” dan dipandang hanya sebagai ilmu angka. Hal tersebut membuat matematika menjadi pelajaran yang cukup membosankan dan menakutkan bagi anak-anak. Padahal, entitas matematika adalah sebuah pemberian Allah (God’s gift) bagi manusia.

Galileo Galilei, seorang fisikawan dan astronom dari Italia, pernah menyatakan dalam bukunya The Assayer, “Mathematics is the language in which God has written the universe. The laws of nature are written by the Hand of God in the language of mathematics”. Begitu juga dalam esainya yang berjudul “Letter to the Grand Duchess Christina” (1615), “God is known by nature in His works, and by doctrine in His revealed Word”. Artinya, Allah menciptakan alam semesta dengan sebuah tatanan dasar matematika. Saat manusia mengamati ciptaan-Nya, mereka akan menemukan unsur matematika di dalamnya.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Johannes Kepler yang mengatakan bahwa keteraturan hanya bisa ditemukan oleh manusia di dalam alam ciptaan-Nya yang Ia ungkapkan melalui bahasa matematika. Oleh karena itu, esensi dari ilmu matematika harusnya semakin menyadarkan manusia dan kagum akan Allah saat melihat ciptaan-Nya. Hal ini senada dengan Van Brummelen dalam bukunya yang berjudul Walking With God In the Classroom.

Ilmu matematika membawa kekaguman terhadap rencana dan susunan ciptaan Allah yang menyatakan kesetiaan, keberadaan, dan kebesaran Allah.”

Sebagai bahasa yang digunakan Allah untuk menciptakan dunia, matematika perlu diajarkan kepada anak-anak sejak dini guna memahami dunia ciptaan-Nya. Orang tua sebagai prime educator harus menyadari tujuan sejati dalam pembelajaran matematika. Bukan hanya soal angka, tapi juga mengenalkan anak pada Sang Pencipta.


Tip dan Trik

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mengajarkan matematika sekaligus pengajaran tentang dunia ciptaan Allah kepada anaknya. Poin 1-3 untuk anak TK dan SD, sedangkan poin 4 untuk SMP dan SMA.

1. Belajar melalui bermain

Anak-anak sangat senang bermain. Kegiatan bermain merupakan tools yang baik dalam meningkatkan minat belajar anak terhadap matematika. Orang tua dapat menggunakan media daun dan tanaman di sekitar rumah untuk mengajari anak tentang angka dan tumbuh-tumbuhan ciptaan Allah. Misalnya, menggunakan daun untuk menjelaskan tentang struktur daun dan pentingnya daun bagi kehidupan manusia. Setelah itu, orang tua dapat mengajak anak berkreasi membuat bentuk angka dengan menggunakan daun-daun kering.

2. Mengenalkan matematika melalui dongeng atau bercerita

Bercerita merupakan pembelajaran yang efektif untuk membantu anak-anak meningkatkan konsentrasi serta daya ingat. Seperti yang dikatakan Virginia Walter, proses mendongeng atau bercerita bagi anak dapat mengembangkan keterampilan berlogika dan melatih kemampuan anak dalam memprediksi peristiwa.

3. Belajar matematika melalui praktik langsung

Pembelajaran akan sangat berkesan dan meaningful bagi anak jika dilakukan secara praktik langsung. Hal ini dikarenakan kegiatan hands-on dapat merangsang otak anak dalam memahami informasi dan menyimpannya pada long term memory sebanyak 60%-70%. Seirama dengan Novita Tandry yang mengatakan bahwa memori anak sebanyak 60%-70% berasal dari tindakan, sehingga kegiatan memperkenalkan matematika dapat dilakukan dengan mengajak anak terjun langsung mempraktikkan hal-hal yang berhubungan dengan matematika melalui aktivitas sehari-hari.

Kegiatan praktik langsung yang dapat dilakukan oleh orang tua antara lain memperkenalkan operasi matematika, hubungan spasial, dan juga bentuk geometri melalui bentuk-bentuk yang ada di alam ciptaan Allah atau yang melekat pada diri anak itu sendiri. Lewat kegiatan-kegiatan tersebut, anak tidak hanya memahami tentang konsep matematika, tetapi juga semakin mengagumi Allah sebagai pencipta dunia ini.

4. Belajar matematika melalui proses diskusi

Proses diskusi adalah suatu cara merangsang dan menggali informasi anak guna mengetahui pemahaman dan cara berpikirnya. Kegiatan diskusi dilakukan dengan tujuan untuk saling berbagi informasi (knowledge sharing). Kegiatan diskusi yang dilakukan secara intensional oleh orang tua secara khusus tentang berbagai hal yang terjadi melalui berita maupun informasi terkini dapat mengajarkan anak tentang konsep epistemologi, relasi sebab akibat, serta kemampuan membaca situasi, dan peluang yang ada. Proses ini juga akan mengingatkan anak-anak tentang tugas manusia sebagai penatalayanan (stewardship) di dalam dunia ciptaan Tuhan.

Sumber :

Galilei, G. (1615). Letter to the Grand Duchess Christina of Tuscany. Stanford University. https://web.stanford.edu/~jsabol/certainty/readings/Galileo-LetterDuchessChristina.pdf

Palmerino, C. R. (2016). The ontological and epistemological underpinnings of mathematical realism. In K. Chemla & R. K. Smith (Eds.), The language of nature: Reassessing the mathematization of natural philosophy in the seventeenth century (pp. 29–50). Minnesota Studies in the Philosophy of Science. https://doi.org/10.5749/j.ctt1d390rg.4

Keluarga yang Bersyukur

Hilda Davina S.-Staf Parenting PK3

Kita semua tumbuh dengan diingatkan untuk bersyukur dan mengucapkan “terima kasih”. Psikolog Sarah Conway dalam tulisannya di Mindful Little Minds menyebutkan bahwa rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, serta membangun kepercayaan diri dan resiliensi pada anak.

Memang tidak mudah untuk bisa selalu bersyukur karena rasa syukur bukanlah sifat alami yang dimiliki manusia sejak lahir. Namun, dengan kesadaran dan komitmen orang tua sebagai teladan, sikap bersyukur dapat tumbuh dalam diri anak-anak dan menyebar ke seluruh anggota keluarga. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membentuk keluarga yang selalu bersyukur:

keluarga yang bersyukur

1. Berbagi tentang hal yang disyukuri

Biasakan berbagi rasa syukur dalam momen kebersamaan keluarga. Misalnya, saat makan malam atau sebelum tidur, ajak anak bercerita tentang hal yang mereka syukuri hari itu. Orang tua bisa memberi contoh, misalnya:

“Ayah bersyukur walaupun hari ini jalanan macet, tapi ayah masih bisa pulang tepat waktu untuk makan bersama”.

Momen ini akan mengajari anak-anak bahwa rasa syukur tidak hanya kita ungkapkan saat mendapatkan barang tertentu (materi), bahkan peristiwa yang awalnya terasa buruk pun bisa berubah menjadi hal yang baik jika kita bisa melihat peristiwa tersebut melalui perspektif yang berbeda.

2. Ucapkan terima kasih

Ungkapan terima kasih tidak hanya mampu menyenangkan hati orang yang mendengarnya, tetapi juga orang yang mengucapkannya. Ajarkan anak untuk mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan sesuatu, mulai dari yang bentuknya fisik (konkret) hingga yang sifatnya tidak tampak (abstrak). Mintalah bantuan kepada anak untuk suatu pekerjaan yang bisa mereka lakukan dan ucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi atas usaha mereka. Ucapkan terima kasih kepada pasangan kita. Semakin sering anak mendengar dan menyaksikan teladan dari orang tua, sikap bersyukur akan semakin tertanam dalam diri mereka.

Baca juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

3. Menghitung berkat

Ajak anggota keluarga untuk menyebutkan hal-hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Supaya lebih menarik dan menantang, kita bisa membuat gratitude poster atau gratitude jar yang wajib diisi oleh seluruh anggota keluarga. Lalu pilihlah satu momen (misalnya akhir bulan atau akhir tahun) untuk bersama-sama membaca, merenungkan, dan akhirnya menyadari betapa banyaknya berkat yang Tuhan sediakan bagi kita setiap hari.

4. Berbagi dengan sesama

Hal ini bisa dimulai dari lingkungan di sekitar kita. Menjenguk teman yang sakit, berbagi makanan dengan tetangga, mendonasikan pakaian dan mainan yang masih layak pakai, dan sebagainya. Pengalaman ini akan mengajarkan anak untuk memikirkan orang lain selain diri mereka sendiri dan mensyukuri setiap hal yang telah mereka miliki.

Membangun keluarga yang bersyukur merupakan perjalanan seumur hidup. Tidak akan selalu sempurna, tetapi jika dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketekunan akan memberi hasil yang sepadan. Setiap ungkapan syukur yang kita nyatakan merupakan bukti penyertaan Allah yang akan membawa kita makin dekat dan makin mengasihi-Nya.

Sumber: 

Focus on the Family. (2024). Teaching kids to be thankful. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/parenting/teaching-kids-to-be-thankful/
KlikPsikolog. (n.d.). Pentingnya mengajarkan bersyukur kepada anak. KlikPsikolog. https://klikpsikolog.com/pentingnya-mengajarkan-bersyukur-kepada-anak/

Kiat-Kiat Mendampingi Anak Saat Menghadapi Masalah

Oleh: Mattias Malanthon-Kepala PKBM Pinus

Sejumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh anak-anak usia remaja. Hal ini disebabkan oleh berbagai permasalahan yang membuat mereka merasa terpojok, kesepian, tertekan, bahkan sampai kehilangan identitas. Di sinilah peran orang tua sebagai sosok terdekat dibutuhkan untuk mendampingi anak melewati masa sulit.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menghadapi permasalahan anaknya, di antaranya adalah:

1. Mendengarkan versus Mendengar

Mendengarkan tidaklah sama dengan mendengar. Menurut KBBI, mendengar berarti menangkap suara dengan telinga, sedangkan mendengarkan berarti memberi perhatian secara sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara mendengar dengan mendengarkan. Sebagai orang tua, seringkali seorang ayah atau ibu “terpaksa” mendengar anaknya bercerita. Kondisi ini biasa terjadi saat orang tua membutuhkan waktu untuk beristirahat, tapi sang anak justru meminta waktu untuk didengarkan masalahnya.

Contohnya, anak mengalami perundungan dari teman-temannya karena menolak menyontek. Dari sudut pandang orang tua, akar permasalahan tampak sederhana: “masalah menyontek.” Mereka mungkin hanya memberikan nasihat bahwa tindakan anak sudah benar. Padahal, yang menjadi inti permasalahan adalah perundungan yang dialami. Jika orang tua menyepelekan cerita anak, mereka dapat merasa terpojok, kesepian, dan tidak dimengerti.

2. Memberi Penguatan Versus Melakukan Penghakiman

Selain mendengarkan, orang tua juga perlu memberikan respons yang tepat. Memberi penguatan berarti memberi respons positif yang dapat mendorong munculnya rasa percaya diri dan penerimaan diri anak, sehingga dapat keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Sebaliknya, penghakiman dapat diartikan sebagai respons berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman masa kecil, ajaran agama, etika, norma sosial, dan sebagainya.

Sebagai contoh, seorang anak merasa kesal karena hasil ujian yang dia dapatkan tidak sesuai harapan, meskipun dia merasa sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Dalam situasi ini, orang tua bisa dapat mendampingi anak dengan memberi penguatan, berempati dengan memosisikan diri di “sepatu” anak, lebih fokus mencari tahu perasaan anak, serta memberikan dukungan positif.

Baca juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

3. Mengurangi Tekanan Versus Menambah Tekanan

Anak khususnya remaja sering menghadapi tekanan yang besar dari lingkungan sekolah maupun pergaulan. Maka dari itu, mereka membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan mencari solusi. Di sinilah peran orang tua sebagai pendamping sangat krusial.

Sebagai contoh, seorang anak perempuan diajak teman-teman geng-nya untuk mem-bully seorang teman, dengan ancaman akan menyebarkan rahasia pribadinya jika anak tersebut tidak mau melakukannya. Dalam situasi ini, anak mungkin merasa terjebak dan butuh seseorang yang bisa dipercaya sebagai tempat untuk bercerita, juga membantunya keluar dari masalah itu. Orang tua bisa memulai dengan mengajak anak untuk menceritakan “rahasia” yang dimaksud oleh teman-temannya. Saat anak sudah mau bercerita, ajak mereka agar bisa berdamai dengan hal tersebut. Dengan demikian anak dapat merasakan tekanan akibat masalah yang dihadapinya berkurang.

4. Optimis Versus Pesimis

Optimisme adalah kunci bagi remaja untuk menghadapi tantangan hidup. Ketika anak dapat melihat bahwa masalahnya sudah mulai terurai satu persatu, optimisme dan rasa percaya diri mereka akan tumbuh. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir ini.

Sebagai contoh, seorang anak mengalami perundungan karena tubuhnya yang pendek. Jika orang tua hanya merespons dengan kata-kata seperti “tidak apa-apa” tanpa penjelasan lebih lanjut, anak mungkin tetap merasa rendah diri. Namun, jika orang tua mendengarkan dengan serius, membantu anak melihat gambar diri yang baik, dan mengajarkan cara menyikapi ejekan “pendek” tersebut dengan bijak, anak akan belajar menerima dirinya dengan lebih baik dan optimis.

Mendampingi anak remaja bukan sekedar tugas, tetapi sebuah tanggung jawab moral yang harus dilakukan dengan penuh kesadaran. Anak-anak yang tahu bahwa mereka memiliki orang tua yang mendukung akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Saat ini, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Sudahkan saya benar-benar mendengarkan anak saya? Apakah saya lebih banyak memberi penghakiman daripada penguatan? Apakah saya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk bercerita?”

Mari menjadi orang tua yang siap mendampingi anak agar pada saat anak menghadapi permasalahan, mereka tahu harus bercerita kepada siapa untuk bisa keluar dari permasalahannya sebagai pemenang.

Baca juga: Perjuangan Memenangi Hati Anak dan Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

Mengasihi Orang yang Menyakitimu? Ternyata Bisa, Lho!

Oleh: Natalia A. – Staf Karakter (PK3)

Mengasihi orang yang mengasihi kita tentu bukan hal yang sulit. Namun, bagaimana jika orang yang seharusnya mengasihi kita malah menyakiti kita? Dapatkah kita mengasihi mereka? Kata mengasihi yang awalnya terdengar manis bisa menjadi tawar bahkan pahit.

Meskipun begitu, sebagai orang yang telah menerima kasih Kristus bahkan di saat masih menjadi seteru Allah, kita dimampukan untuk mengasihi di luar standar dunia. Bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi salah satu rekan kita ini sudah mengalami proses untuk mengasihi di saat sulit, loh. Siapakah dia dan bagaimanakah kisahnya?

Mengasihi dalam Luka – Kisah Tirza Naftali, M.B.A.

Halo, saya Ibu Tirza yang saat ini melayani di Chaplain (Character and Parenting Learning Institute). Saya pernah mengalami masa-masa disakiti oleh orang yang seharusnya mengasihi saya. Namun, Tuhan beranugerah menolong dan membentuk saya hingga mampu mengasihi dengan cara yang tidak saya bayangkan sebelumnya.

“Saya berasal dari keluarga hamba Tuhan, tetapi seperti tidak ada Tuhan di dalam rumah kami. Setiap hari, Mama dan Papa berdebat tanpa alasan yang saya mengerti. Sering kali Mama menghujani Papa dengan kata-kata hinaan dan juga mengeluarkan kata-kata kasar kepada kami berdua. Waktu itu, rumah tidak menjadi tempat yang aman untuk pulang. Seperti tiada hari tanpa mendengar Mama dan Papa ribut, saya pun sering kali ribut dengan Mama.

Seiring waktu, hal ini menjadikan saya mengalami cherophobia (ketakutan yang berlebihan akan perasaan bahagia). Saya merasa bahwa setiap kebahagiaan hanya akan diikuti oleh masalah baru. Ketika rumah sedang dalam keadaan tenang, misalnya, yang muncul di pikiran saya adalah ‘pasti setelah ini akan ada masalah baru yang muncul’.

Tekanan pun bertambah. Sebagai anak tunggal, saya dituntut untuk berprestasi dan menjadi sukses secara finansial di kemudian hari. Keinginan untuk menempuh sekolah teologi ditolak oleh mama karena mereka berpikir ketika saya menjadi hamba Tuhan, saya akan hidup “miskin”. Hal tersebut membentuk pandangan saya bahwa mama hanya ingin menjadikan saya sebagai ‘ATM’ di masa tuanya.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Maret 2024

Perjuangan Mengasihi di Tengah Kepahitan

Kejadian yang paling mengerikan bagi saya adalah ketika saya masih duduk di kelas 1 SMP. Kami tinggal di pastori gereja dan di malam itu mama dan papa bertengkar hebat. Tidak tahan dengan kecurigaan mama yang tidak berdasar, papa membawa segala macam obat asma yang dimilikinya dan mengurung dirinya di ruang pastori.

Dalam pikiran saya, papa nekat mau mengakhiri hidupnya. Saya pun menggedor-gedor pintu sambil menangis dan berteriak ‘Pa.. jangan.. buka Pa…’ Tidak ada jawaban, saya hanya melihat dari lubang pintu papa sedang mengeluarkan beberapa obat di tangannya. Saya kembali berteriak dan menangis. Di saat itu saya berkata dalam hati ‘Saat besar nanti saya harus menyingkirkan mama dari hidup saya dan papa’. Satu jam berlalu, akhirnya papa keluar dari kamarnya tanpa berkata apa pun. Saya lega masih melihat papa.

Waktu berlalu, papa sempat masuk rumah sakit. Saya meminta papa untuk menceraikan mama, tetapi papa menjawab ‘Papa sudah berjanji kepada Tuhan untuk mengasihi Mama dalam kondisi baik, buruk, sehat atau sakit’. Saat itu saya seperti menemukan oase. Saya memohon pengampunan Tuhan, tetapi saya belum bisa benar-benar memaafkan mama. Pemahaman saya terhadap Tuhan pada saat itu pun tidak benar. Menurut saya melayani Tuhan merupakan bentuk dari menyogok Tuhan agar memaafkan dan menerima saya.

Baca Juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Kasih yang Memulihkan Luka

Saya menikah dalam kondisi emosi yang tidak stabil dan masih merasa kosong. Hal ini membuat saya secara tidak sadar sering menuntut suami dan membentak anak saya secara berlebihan. Tak lama setelah papa dipanggil Tuhan, saya putus hubungan dengan mama. Saya merasa aman, tetapi rasa kekosongan itu makin besar.

Pencerahan datang melalui sebuah webinar yang dibawakan oleh Ibu Charlotte tentang luka masa lalu. Saya disadarkan bahwa sebelumnya, saya tidak pernah membiarkan Tuhan mengasihi dan mengobati luka saya yang semakin besar. Seusai momen itu, entah dari mana asalnya, saya merasakan damai yang berlimpah. Saya mencoba menghubungi mama kembali. Jauh dari perkiraan, saya dan mama saling meminta maaf dan memaafkan, Mama banyak menceritakan tentang masa lalunya, dan kami berproses untuk sembuh bersama.

Penerimaan dan belas kasih-Nya yang tanpa syarat itu yang memulihkan pengenalan saya akan Tuhan. Hal ini juga menolong saya untuk berelasi dengan mama dalam belas kasih, alih-alih penghakiman. Saya bersyukur Tuhan memberikan saya seorang suami dan juga komunitas Athalia yang mau mendengar, mendoakan, dan membangun. Ternyata semua orang berproses dan memiliki “cacat”-nya masing-masing. Justru cacat itu hadir agar kita tetap datang dan memohon belas kasih Tuhan tanpa ragu.”

Kasih Allah dan penerimaan-Nya yang utuh membuat kita mengalami anugerah kebaikan-Nya. Dia menerima kita dengan segala keburukan yang ada, bergumul bersama kita, dan menjadikan kita lebih baik. Sebelum kita mengalami kasih-Nya, kita tidak akan mampu mengasihi orang lain, bahkan mengasihi diri pun kita tidak mampu. – Charlotte Priatna

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13)

Peran Bahasa Ibu dalam Menjaga Identitas Bangsa

Oleh: Diah Lucky Natalia – Volunter Chaplain

Berdasarkan data Ethnologue, Indonesia merupakan negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Hingga 2018, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian pendidikan dan Kebudayaan telah memetakan dan memverifikasi sebanyak 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk dialek dan subdialek.

Selain bahasa daerah, sekitar 1.700-an suku bangsa di Indonesia memiliki bahasa kesatuan, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa nasional yang mempermudah kita berkomunikasi dengan suku bangsa lainnya.

Peran Bahasa Ibu dalam Menjaga Identitas Bangsa

Peran Bahasa Ibu dalam Kehidupan Sehari-hari

Bahasa yang pertama kali diperkenalkan kepada anak, baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia, disebut sebagai bahasa ibu. Bahasa ini diperkenalkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sejak dini dan akan berkembang menjadi bahasa pertama.

Di beberapa daerah, bahasa daerah masih digunakan secara aktif di lingkungan keluarga. Namun, di perkotaan, banyak orang tua lebih nyaman menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi anak-anak mereka.

Memilih bahasa ibu bagi anak mungkin tidak pernah benar-benar didasarkan pada pengetahuan, tetapi hanya karena kebiasaan atau “agar tidak ketinggalan zaman”. Oleh karena itu, di tengah globalisasi, muncullah bahasa ibu ketiga, yaitu bahasa Inggris.

Seiring perkembangan zaman, muncul fenomena penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, sebagai bahasa utama di beberapa keluarga. Hal ini berangkat dari kekhawatiran orang tua bahwa anaknya akan tertinggal dalam pendidikan dan karier jika tidak menguasai bahasa asing.

Meskipun menguasai bahasa asing memiliki manfaat global, penggunaan yang berlebihan dapat berakibat pada berkurangnya keterikatan anak dengan budaya lokal. Anak-anak yang lebih akrab dengan bahasa asing cenderung mengadopsi pola pikir, gaya hidup, dan nilai-nilai budaya dari negara asal bahasa tersebut.

Bahasa dan Identitas Diri

Tidak banyak yang tahu bahwa bahasa merepresentasikan identitas seseorang. Di dalam sebuah bahasa tersemat ideologi dan nilai luhur sebuah bangsa. Dari bahasa muncullah corak peradaban suatu masyarakat. Terdapat perbedaan budaya antara suku Jawa, Batak, Manado, Toraja, dan Aceh karena bahasa yang digunakan berbeda. Begitu juga dari bahasa Indonesia terbentuklah sebuah identitas, yaitu budaya kebangsaan Indonesia.

Melalui bahasa Indonesia, kita dapat mempelajari budaya melalui karya-karya sastranya. Dongeng-dongeng kedaerahan yang kita baca waktu kecil membentuk identitas kita sebagai orang Indonesia, mulai dari cara bertutur, berperilaku kepada orang yang lebih tua, dan lain sebagainya. Inilah yang membedakan kita dengan bangsa lainnya di dunia ini.

Jika sejak kecil anak dibiasakan menggunakan bahasa asing, dia akan terpapar dengan budaya asing melalui tontonan dan bacaan yang dikonsumsi setiap hari. Tentu dalam bahasa Inggris tidak ada kisah tentang Timun Mas, Roro Jonggrang, dan Malin Kundang. Mari tengok kembali konten-konten yang ada di YouTube dan Netflix, itulah yang akan diinternalisasi oleh anak kita menjadi identitas dan karakternya.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Bahasa Ibu, Bahasa Indonesia

Pilihan sekolah begitu beragam. Sekolah yang menawarkan bilingual bahkan trilingual pun makin banyak. Sebagai orang tua, kita perlu celik memilih apakah anak-anak kita perlu berada di sekolah trilingual? Kembali kepada tujuan menyekolahkan anak: membentuk anak yang berkarakter dan berintegritas atau anak-anak yang menguasai banyak bahasa?

Penyampaian ilmu, ideologi, dan pengajaran agama akan lebih kontekstual jika disampaikan dalam bahasa ibu–dalam konteks ini adalah bahasa Indonesia. Jadi, anak-anak tidak hanya memahami konsep secara verbal, melainkan dapat menyerap substansinya melalui cerita, penerapan dalam kehidupan sehari-hari, dan interaksinya dengan keluarga dan teman.

Selain sebagai upaya pelestarian, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa pengantar di sekolah membangkitkan kepekaan perasaan. Anak jadi terhubung dengan akar budayanya, memahami tradisi, dan menghargai nilai yang dianut oleh bangsa ini.

Jadi, memilih bahasa sebagai bahasa ibu bagi anak bukan berdasarkan rasa takut ketinggalan zaman. Namun, lebih kepada identitas apa yang ingin kita berikan kepada anak? Sungguh baik jika kita masih menguasai bahasa daerah asal dan mengajarkannya kepada anak. Dengan begitu, anak akan tumbuh memiliki identitas kuat kedaerahannya. Ke mana pun dia pergi dan merantau, dia akan tetap memegang teguh identitasnya dan tidak akan terbawa dampak negatif pergaulan modern saat ini.

Hari Bahasa Ibu Sedunia: Momentum untuk Refleksi

Setiap 21 Februari, dunia memperingati Hari Bahasa Ibu Sedunia. Hari yang digagas oleh UNESCO ini bertujuan untuk menggiatkan kembali penggunaan bahasa ibu di seluruh dunia agar terhindar dari kepunahan. Dari sudut pandang lain, peringatan ini dapat kita jadikan bahan refleksi: sampai mana saya sudah mengajarkan nilai luhur dan budaya bangsa ini kepada anak?

Tak perlu khawatir anak akan tertinggal hanya karena “masih” menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Dengan modernitas yang ada saat ini, anak dapat menjangkau ilmu pengetahuan tanpa batas, kapan pun dan di mana pun.

Hal lain yang juga penting, yaitu serahkan anak kita kepada Sang Empunya. Dialah yang merancangkan jalan hidup anak-anak kita sehingga biarlah Tuhan yang bekerja atas hidup mereka. Sebagai orang tua, tugas kita, yaitu membentuk anak ini memiliki identitas yang kuat, menginternalisasi karakter Kristus di dalam dirinya, dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sandaran hidup.

Siapa Sangka? Hal Ini Jadi Momen Live In Paling Berkesan dalam Hidup!

Oleh: Ratu Putri Hiemawan – Kelas 12 IPS 1

Live In merupakan kegiatan yang wajib diikuti siswa-siswi SMA Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, pada tahun ketiga masa studinya. Setelah absen beberapa tahun karena wabah Covid-19, tahun ini Live In kembali diadakan pada 14-19 Januari di Dusun Ngringin, Kecamatan Getasan, Semarang. Berikut merupakan sedikit pengalaman saya dalam kegiatan Live In 2024.

Pada kegiatan Live In ini, puji Tuhan saya diberi kepercayaan untuk menjadi PIC atau ketua dari salah satu bidang, yaitu PAUD/SD. Sebuah tanggung jawab yang baru dan cukup menantang bagi saya karena harus merancang kegiatan untuk 3 hari di PAUD dan SD, sedangkan saya belum memiliki gambaran sedikit pun tentang kondisi di lapangan. Huru-hara dan ketegangan bertambah karena persiapan barang pribadi dan barang bidang yang cukup memusingkan. Belum lagi kegiatan penggalangan dana menjual botol dan kardus bekas, serta mengadakan mini konser yang lumayan menyita waktu dan pikiran di tengah kesibukan sebagai siswi kelas 12. Untung saja semua persiapan dapat selesai tepat waktu dan kami dapat berangkat pada Minggu malam.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya kami sampai di Dusun Ngringin pada Senin pagi. Semua rasa lelah terasa terbayarkan begitu bertemu dengan orang tua asuh yang menyambut kami dengan hangat dan ceria. Saya ditempatkan di rumah Bu Supri yang hanya tinggal berdua dengan anaknya, Ayu yang duduk di kelas 2 SMA. Kedatangan kami membuat Bu Supri senang dan bersemangat karena rumahnya menjadi ramai. Pengalaman ini terasa begitu berkesan karena di sebuah rumah beralaskan semen dan tanah liat, kehangatan dapat kami rasakan dari Bu Supri yang dengan semangat bercerita kepada kami mengenai kehidupannya. Aneh rasanya, mengalami ikatan emosional dengan seseorang yang baru saja kami temui.

Baca juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Menemukan Kebahagiaan dalam Kesederhanaan

Hari-hari di Dusun Ngringin saya jalani dengan gembira. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan dari kegiatan di PAUD/SD, mulai dari melatih kesabaran untuk mengajar dan menghadapi anak kecil, latihan fisik karena harus mengejar anak-anak yang berlarian ke berbagai arah, menghadapi pukulan-pukulan yang mereka layangkan, bahkan mempelajari sedikit demi sedikit bahasa Jawa. Lagi-lagi terasa aneh, karena saya sendiri tidak menyangka saya akan menikmati setiap momen di Dusun Ngringin ini. Setiap harinya, selalu ada hal kecil yang terasa berkesan, baik itu sapaan dari warga “Mau ke mana, Kak?”, “Makan di sini saja, Kak”, “Tinggalnya di rumah siapa, Kak?”, “Mau ikut ke ladang tidak, Kak?”, canda tawa bersama anak-anak, hingga tantangan yang harus kami hadapi dalam mengajar mereka.

Kebersamaan juga kami rasakan dengan Ayu yang kebetulan seumuran dengan kami. Canda tawa kami layangkan sembari mendengar kisah-kisah tentang warga setempat oleh Bu Supri dan Ayu, bahkan dengan tetangga yang kebetulan mampir ke rumah Bu Supri untuk ikut berbincang dengan kami. Teh manis hangat, susu coklat, dan kue-kue kering selalu menjadi teman berbincang kami hingga larut tiap malam.

Tak terasa, tibalah kami di hari terakhir, saat kami harus pulang. Malam sebelumnya seperti biasa, kami kembali berbincang hingga larut malam, saat itu hujan deras dan mati lampu. Bu Supri sempat bercanda, “Besok pasti telat ini, Kak, hujan gede,” seperti tak ingin kami pergi. Benar saja, hujan bertahan hingga esok paginya sehingga kami memiliki waktu lebih lama untuk perpisahan. Kami yang awalnya mengira akan rindu rumah, sekarang malah enggan pulang. Isak tangis dan janji untuk kembali mengiringi perpisahan kami dengan Dusun Ngringin. Sungguh berat rasanya, terlebih saat Bu Supri mengungkapkan kesepiannya dan betapa ia bahagia rumahnya menjadi ramai. Namun, tentunya setiap perjumpaan akan menemui perpisahan. Hujan mengiringi kepulangan kami, seakan ikut menangis menyaksikan perpisahan yang terjadi.

Baca Juga : Athalia Learning Community News – Edisi Maret 2024

Live In 2024: Sebuah Pelajaran Berkesan

Jujur, awalnya saya tidak terlalu antusias dalam mengikuti kegiatan Live In ini. Tapi ternyata, Dusun Ngringin mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar bahwa tidak perlu memiliki segalanya untuk bisa memberikan yang terbaik, ketulusan merupakan yang utama. Kegiatan ini benar-benar mengajarkan saya keindahan dari kesederhanaan dan pentingnya orang-orang yang kita sayangi.

Siapa sangka, sesuatu yang saya kira membosankan justru jadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya? Kini, saya justru menjadi salah satu orang yang paling merindukan setiap momennya. Live In 2024 bukan sekadar perjalanan. Ini adalah cerita yang akan terus saya kenang.

Diatur Waktu atau Mengatur Waktu?

Oleh: Eliada Christara – Alumni SMA Athalia Angkatan IV

Hai semua pembaca setia website Sekolah Athalia! Perkenalkan saya Eliada Christara, alumni SMA Athalia angkatan IV, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Sebuah kesempatan yang baik untuk berbagi secuplik kisah tentang perjuangan saya dalam mengatur waktu.

Belakangan ini, istilah “kaum rebahan” semakin populer di kalangan Gen Z. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menunda pekerjaan dengan alasan seperti “masih ada besok” atau “masih pagi, nanti saja”. Kebiasaan ini tentunya tidak asing karena ketika masih anak-anak, kita sering inkonsisten dalam waktu bermain–extend mulai dari 10 menit lagi, 20 menit lagi, dan seterusnya sampai menang. Di sisi lain, ada pula yang terlalu strict dalam menjadwalkan waktu, sehingga tidak memberikan ruang untuk hal-hal di luar kontrol yang mungkin tanpa disadari sama pentingnya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada anak-anak atau remaja, tetapi juga di berbagai tahap kehidupan. Baik siswa, mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga menghadapi tantangan dalam mengelola waktu. Semakin besar tanggung jawab yang kita emban, semakin sulit pula membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, diri sendiri, dan aktivitas lainnya. Banyak orang berpikir bahwa mereka mampu mengatur waktu dengan baik. Namun, kenyataannya, tidak sedikit yang justru merasa diatur oleh waktu. Pertanyaannya, kita termasuk yang mana? Yang diatur waktu atau mengatur waktu?

Pergulatan Mengatur Waktu

Kesulitan mengatur waktu saya jumpai pada masa perkuliahan di STT SAAT. Seperti anak kuliah pada umumnya, saya juga mengalami culture shock dalam membagi waktu. Meski berada di lingkup asrama yang kehidupannya sangat terjadwal, tetapi saya mengalami kesulitan. Beban tugas yang beruntun, jadwal kuliah yang padat, serta berbagai kegiatan di luar akademik membuat saya kewalahan. Sungguh rasanya berbeda dengan masa sekolah yang masih bisa longgar dan menunda-nunda. Bahkan, saya sempat terkena thypus akibat tekanan tersebut.

Saya juga pernah berada di 2 fase ekstrem yang berlawanan. Ada satu titik, saya menjalani hidup tanpa mengatur waktu sama sekali dan hanya mengikuti arus. Namun, di lain waktu, saya terlalu disiplin hingga tidak memberi ruang hal lain mengintervensi waktu saya sepenting apapun itu. Meski begitu, keduanya ternyata bukan solusi yang tepat.

Beruntungnya, pendidikan karakter yang saya dapatkan di sekolah menolong saya untuk lebih bijak dalam mengatur waktu. Saya belajar bahwa tanggung jawab dan pengendalian diri adalah dua hal yang saling berkaitan.

Beberapa prinsip yang membantu saya, antara lain:

  1. Membedakan yang penting dan kurang penting. Tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus. Menyusun prioritas membantu kita fokus pada tugas yang benar-benar mendesak.
  2. Menyeimbangkan antara tugas dan istirahat. Keseimbangan antara belajar, bekerja, dan beristirahat sangat penting agar tidak mengalami kelelahan berlebihan.
  3. Bersikap fleksibel namun tetap disiplin. Memiliki jadwal yang terstruktur memang penting, tetapi kita juga perlu memberi ruang untuk hal-hal yang tidak terduga.
  4. Menyesuaikan aktivitas dengan tanggung jawab utama. Misalnya, mengurangi kegiatan kampus yang kurang esensial agar tidak mengganggu tugas akademik.

Baca Juga : 13 Tips untuk Mengatasi Kemalasan

Peran Tuhan dalam Manajemen Waktu

Sehebat apapun strategi yang kita buat, mengatur waktu tetap menjadi perjuangan yang tidak mudah. Manusia lemah, mudah tergoda untuk malas dan menunda, mudah terlena untuk mengerjakan yang bukan prioritas, bahkan kita lupa meluangkan waktu untuk Tuhan dalam mendengarkan firman-Nya setiap hari.

Oleh karena itu, penting untuk meminta pertolongan Tuhan dalam mengatur waktu. Dengan bimbingan-Nya, kita bisa lebih disiplin, konsisten, dan bijaksana dalam menentukan prioritas. Bahkan, hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari pun adalah anugerah-Nya.

Liburan di Rumah Bebas ‘Drama’

Oleh: Hilda Davina S. – Staf Parenting PK3

Penilaian Akhir Semester (PAS) baru saja selesai. Hari libur menanti di depan mata. Anak-anak pun bersukacita menyambutnya. Liburan adalah waktu di mana anak-anak bisa rehat sejenak dari rutinitas belajar selama satu semester. Namun, di balik sukacita anak-anak, terdengar beberapa keluhan dari orang tua antara lain, “Anakku kalau liburan malah bangun siang,” atau “Anakku kalau di rumah, tiap hari main HP karena bingung mau main apa.

Keluhan-keluhan tersebut sering terucap saat anak-anak menjalani masa liburan di rumah. Dalam situasi ini, hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh rutinitas yang tidak sengaja terbentuk karena aktivitas anak di rumah turut ‘berlibur’ saat anak berada di rumah. Oleh sebab itu, orang tua perlu menciptakan rutinitas yang berkesinambungan untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak.

Rutinitas yang Sehat agar Liburan di Rumah Tetap Seru

Agar liburan tetap menyenangkan tanpa menghilangkan kebiasaan baik, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menerapkan disiplin di rumah:

1. Instruksi yang Jelas.

Orang tua perlu mengomunikasikan dengan jelas perilaku yang diharapkan dari anak dan menetapkan batasan. Hal ini bisa dilakukan dengan menciptakan rutinitas yang teratur, stabil, dan nyaman. Rutinitas dapat membantu mengembangkan perilaku dan kontrol pribadi pada anak-anak.

Agar anak dapat menikmati rutinitas mereka, ajak mereka untuk terlibat dalam membuat jadwal dan aturan yang akan disepakati bersama. Di samping itu, orang tua bisa berkreasi bersama anak untuk membuat poster dan menempelkannya di tempat yang gampang dilihat oleh seluruh anggota keluarga.

2. Berikan Pujian dan Semangat.

Pujian dan dorongan semangat dapat meningkatkan rasa percaya dan harga diri anak. Berikan apresiasi atas usaha mereka, contohnya saat mereka mendapatkan nilai baik.

Selain itu, pujian juga dapat diberikan ketika anak-anak menceritakan keberhasilan kecil yang mereka raih. Pujian paling efektif adalah pujian yang datangnya tanpa diharapkan anak. Contohnya, orang tua memberi pujian ketika anak membereskan kamarnya tanpa diminta. Pujian yang tidak diharapkan akan lebih berarti bagi anak dan menjadi motivasi untuk terus berusaha mencapai keberhasilan.

3. Berikan Konsekuensi.

Jelaskan terlebih dahulu perilaku seperti apa yang orang tua harapkan dan konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan jika mereka berbuat sebaliknya. Contohnya, jika anak tidak mau merapikan mainannya, maka mainan tersebut akan disimpan di gudang dalam waktu tertentu. Dengan demikian, anak belajar memahami tanggung jawab atas tindakannya.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

4. Jadilah Teladan.

Sikap orang tua memberi pengaruh yang besar pada anak. Anak perlu teladan orang tua yang selalu taat pada aturan, yang tentunya bersumber pada ketaatan kepada Tuhan. Contohnya, jika orang tua menerapkan aturan ‘tidak ada gawai saat makan,’ maka orang tua juga harus menerapkannya. Dengan demikian, anak melihat orang tua sebagai orang yang adil dan berpegang pada aturan yang telah disepakati.

Kedisiplinan membutuhkan proses panjang, tetapi dengan konsistensi dan kesabaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih rajin dan taat. Melalui proses ini, orang tua juga akan dibentuk menjadi pribadi yang lebih tegas tapi tetap penuh kasih dan sabar dalam mendidik anak-anak.

Sumber:
Ezzo, G. & Ezzo, A. M. 2001. Membesarkan Anak dengan Cara Allah.
Family routines: how and why they work. Diambil dari https://raisingchildren.net.au/pre-teens/behaviour/behaviour-management-ideas/family-routines

Perbedaan yang Indah

Oleh: Erika Kristianingrum – Orang tua murid kelas IXEr dan VW

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar mengenai MBTI (Myers–Briggs Type Indicator), sebuah tes kepribadian yang mengidentifikasi kecenderungan seseorang dalam berpikir, berperilaku, dan mengambil keputusan. MBTI dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers untuk memahami bagaimana individu melihat dunia dan merespons berbagai situasi. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator).

Dalam MBTI, kepribadian seseorang dikategorikan berdasarkan empat dimensi utama:

Setiap individu memiliki kombinasi dari keempat kategori ini, yang membentuk kepribadian unik mereka dengan kelebihan serta tantangan masing-masing.

Perbedaan Extrovert dan Introvert dalam Keluarga

Dalam keluarga saya, perbedaan kepribadian ini sangat nyata. Saya dan anak pertama memiliki kepribadian extrovert, yang berarti kami memperoleh energi dengan berbicara dan berinteraksi. Sebaliknya, suami dan anak kedua adalah introvert yang justru mendapat energinya dengan berdiam menyendiri. Bagi orang introvert, melelahkan berada di kerumunan orang yang banyak bicara.

Perbedaan ini membuat saya sering sekali uring-uringan dengan suami dan anak saya. Misalnya saat suami pulang kerja, saya yang merasa lelah harus mendapatkan energi dengan menceritakan keseharian saya. Mendapatkan tanggapan dengan jawaban seadanya dari suami sering membuat saya jengkel. Padahal saat itu suami saya juga lelah karena teman satu timnya sebagian besar adalah orang extrovert sehingga dia membutuhkan waktu untuk me-recharge energinya dengan berdiam sebentar.

Setelah saya sadar bahwa kami berbeda, saya mengajak suami berdiskusi tentang perbedaan sifat kami. Akhirnya, saya mengerti ketika saya mulai berdiam diri sejenak, saya dapat merefleksikan makna hidup ini.

Judging vs. Perceiving: Diferensiasi Gaya Hidup yang Menantang

Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah dalam hal gaya hidup. Saya adalah tipe judging yang berarti saya menyukai keteraturan, perencanaan, dan kepastian. Sebaliknya, suami dan kedua anak saya adalah tipe perceiving yang lebih fleksibel dan spontan.

Perbedaan ini paling terasa saat kami merencanakan perjalanan liburan. Saya terbiasa memikirkan “nanti bagaimana” dan merencanakan hal-hal yang akan kami lakukan untuk memastikan liburan kami berjalan dengan baik dan berkesan. Namun, suami dan anak-anak seringkali tidak mengindahkan jadwal yang sudah saya buat. Hal itu menjengkelkan bagi saya. Sifat santai mereka pernah membuat kami berangkat melebihi waktu yang sudah saya rencanakan. Namun, keterlambatan itu justru membuat kami terhindar dari kemacetan luar biasa karena sebelumnya terjadi kecelakaan di jalan yang akan kami lewati.

Setelah kejadian itu saya menyadari bahwa sesekali menjadi fleksibel itu menyenangkan. Saya mulai belajar untuk menerima hal-hal yang tidak prinsip dan anak-anak serta suami belajar untuk teratur terhadap hal-hal yang prinsip. Perubahan kecil dalam cara kami menyesuaikan diri membuat perbedaan itu tidak lagi menjadi konflik, melainkan sebuah harmoni yang memperkaya kehidupan keluarga kami.

Menghadapi perbedaan kepribadian dalam keluarga tentu tidak selalu mudah. Kadang kala, perbedaan ini memicu kesalahpahaman, bahkan menimbulkan kekecewaan. Namun, Tuhan mengijinkan perbedaan itu ada supaya saya belajar untuk bisa menerima diri sendiri dan menerima suami serta anak-anak saya apa adanya, agar kami bisa berjalan bersama dengan perbedaan itu. Perbedaan itu tetap ada hingga saat ini tetapi cara merespon yang berbeda membuat perbedaan itu menjadi sebuah harmoni yang indah sehingga menjadikan saya pribadi yang semakin baik.

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah perbedaan dalam keluarga membuat Anda frustrasi atau justru perbedaan tersebut memberi Anda pelajaran berharga?

Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Oleh: Marcelina Denise Lahenda – Staf Konselor SD

Bulan Bahasa diperingati setiap bulan Oktober di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen yang berbasis pendidikan karakter di BSD, Serpong. Kegiatan ini menjadi momen refleksi akan peran krusial bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antarindividu, tetapi juga sebagai sarana utama dalam membangun interaksi sosial yang efektif. Selain itu, komunikasi dengan anak secara efektif merupakan fondasi penting dalam membentuk hubungan yang sehat dan keterikatan emosi antara orangtua dan anak.

Komunikasi yang efektif berperan penting dalam membantu anak merasa dipahami, dihargai, dan didukung. Ketika anak merasa bahwa perasaan dan kebutuhannya diakui, mereka akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya, serta merasa aman dan nyaman dalam lingkungannya. Kondisi ini secara tidak langsung mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka.

Komunikasi yang berkualitas mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan empati, memahami perspektif anak, serta memberikan respons yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Meskipun komunikasi antara orang tua dan anak terlihat sederhana, pada praktiknya dibutuhkan kesabaran, keterampilan, serta kesiapan untuk menyediakan waktu yang cukup agar komunikasi dapat berjalan secara efektif.

Baca juga : Titik Temu Antargenerasi – Terhubung dan Terlibat

Tips Berkomunikasi dengan Anak Secara Efektif

Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih bermakna dengan anak:

  1. Active listening
    Saat berbicara dengan anak, pastikan Anda benar-benar hadir dalam percakapan. Hindari distraksi seperti ponsel atau pekerjaan lain, sehingga anak merasa dihargai dan didengar sepenuhnya. Mendengarkan secara aktif membantu anak-anak merasa didengar dan dipahami.
  2. Reflective listening
    Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita memperhatikan dan menangkap apa yang mereka katakan adalah dengan mengulangi apa yang mereka katakan dengan menggunakan frase yang berbeda. Misalnya, jika anak berkata, “Saya tidak mau bermain dengan Tono lagi.” Kita dapat merespons dengan, “Kamu sedang tidak mau main ya. Kelihatannya kamu sedang kesal.” Dengan ini, anak akan merasa dimengerti dan tidak dihakimi, sehingga anak dapat mengekspresikan emosi mereka tanpa penilaian.
  3. Speaking clearly
    Gunakan bahasa yang dapat dimengerti untuk anak dan sesuai dengan usia mereka. Pemilihan kata harus jelas, spesifik, dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar atau menghina. Menggunakan bahasa yang baik akan membantu memberikan contoh positif bagi anak-anak.
  4. Explaining feelings
    Untuk membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional, penting bagi mereka untuk belajar bagaimana memberi nama perasaan mereka. Ketika anak mengekspresikan perasaan mereka secara verbal, dengarkan apa yang mereka katakan dengan empati dan tanpa penilaian. Jika anak mengekspresikan perasaan mereka dengan cara nonverbal – misalnya melalui amarah atau tertawa dan bersenang-senang melakukan aktivitas yang mereka sukai, kita perlu membahasakan bagaimana perasaan mereka, seperti bahagia, sedih, santai, terluka, takut, lapar, bangga, mengantuk, marah, tidak berdaya, jengkel, malu atau gembira, dll.

Bangun Hubungan Lebih Dekat Lewat Komunikasi yang Positif

Berkomunikasi dengan anak secara efektif bukanlah hal yang instan, tetapi merupakan proses yang perlu dengan sengaja diciptakan dan dibangun karena sangat mempengaruhi hubungan orangtua dengan anak. Dengan memberikan waktu, perhatian, dan mendengarkan dengan baik, kita dapat membantu anak tumbuh dan berkembang secara positif. Semua ini membantu mereka merasa dicintai dan diperhatikan sebagai dasar yang kuat untuk setiap tahap perkembangan di masa depan.

Sumber: https://www.unicef.org/parenting/child-care/9-tips-for-better-communication