Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Elizabeth Liswandi (orang tua Siswa Kelas IV dan TK A)

Menemukan Komunitas

Hai Athalians, perkenalkan nama saya Elizabeth. Saya memiliki dua anak yang bersekolah di Athalia, yaitu Ruth dan Joy. Saya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Setiap minggu kami sekeluarga selalu pergi ke gereja. Orang tua dan ketiga kakak saya adalah aktivis gereja, sehingga ketika ada pembentukan kepanitiaan atau pengurus untuk acara gereja, saya selalu diajak. Semua berjalan dengan sendirinya tanpa perlu usaha. Semua kemudahan yang didapat membuat saya seolah-olah take it for granted terhadap setiap kesempatan yang hadir. Sampai suatu keadaan membuat saya harus berpindah gereja.

Pada masa itu Tuhan seperti menutup kesempatan yang dahulu Dia berikan dengan mudahnya. Saya mulai menyadari bahwa melayani dan punya komunitas yang bertumbuh itu anugerah dari Tuhan. Saya pun sadar bahwa saya perlu teman-teman yang bisa saling menyemangati, menegur, dan mengingatkan.

Bertahun-tahun berlalu, sampai saya menikah dan punya anak, saya belum juga menemukan komunitas yang cocok di hati. Namun, saya tetap mencari sambil berdoa, “Tuhan, kalau boleh, saya rindu bertemu dengan komunitas yang bisa membantu saya untuk bertumbuh dan melayani”. Perlahan-lahan, Tuhan mulai menjawab doa saya. Ia mempertemukan saya dengan komunitas Kristen di luar gereja, pasutri di gereja, dan juga di Sekolah Athalia. Saya bersyukur karena akhirnya bisa menemukan teman orang tua yang saling peduli, sharing, dan support.

Lihat Juga : My Story is God’s Story

Bertumbuh dan Melayani Bersama dalam Komunitas

Sekolah Athalia memiliki komunitas doa Parents in Touch (PIT). Saat pertama kali ikut PIT, perasaan saya mengatakan, “Saya sudah berada di tempat yang tepat”. Saya merasa diberkati dengan firman Tuhan dan kesaksian yang disampaikan. Kami juga bisa saling mendoakan, hal ini tidak saya dapatkan di sekolah Ruth sebelumnya. Di Athalia bukan anak saja yang belajar, saya juga belajar dan bertumbuh dengan adanya seminar parenting. Saya juga melihat perubahan demi perubahan terjadi di diri Ruth dan Joy.

Perjalanan mencari komunitas untuk bertumbuh bersama mengajarkan saya tentang banyak hal:

1. Sikap hati yang benar

Tanpa sikap hati yang benar, ketika kita berada di komunitas yang baik pun kita tidak akan bisa bertumbuh sesuai yang Tuhan mau. Kita perlu ingat bahwa semuanya dari Tuhan dan dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Jangan sombong apabila Tuhan memberi kita kesempatan. Itu semua bukan karena hebatnya kita. Mungkin kita berpikir, “Sendiri juga bisa kok, bertumbuh. Baca Alkitab sendiri juga bisa bertumbuh, gak perlu komunitas.” Tentu saja bisa. Namun, berapa lama bisa bertahan? Kita tetap butuh orang lain untuk saling mengingatkan. Seperti firman Tuhan di Amsal 27:17:

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”


2. Membuka diri

Terkadang ketakutan tidak diterima membuat kita enggan untuk membuka diri, bahkan menjauh dari komunitas. Namun, keterbukaan justru dapat memudahkan kita mendapatkan kekuatan dan dukungan untuk mengatasi tantangan dalam hidup.


3. Berdampak

Kita diciptakan Tuhan dengan satu tujuan. Di mana pun kita ditempatkan, Tuhan mau kita memancarkan karakter Kristus yang berdampak bagi orang lain.

Semoga kisah ini bisa bermanfaat. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia. Tuhan Yesus memberkati.

Baca artikel lainnya tentang PIT:

https://sekolahathalia.sch.id/pit-parents-in-touch/

https://sekolahathalia.sch.id/parents-in-touch-keluarga-yang-berpusat-pada-kristus/

Posted in Kisah Inspiratif.