Anak Saya Ternyata Mengidap Nomofobia…

nomofobia

Apa itu Nomofobia?

“Bu… anak saya kalau sampai rumah, langsung masuk kamar, dan sibuk sama ponselnya. Dia sampai sering telat makan dan tidur karena hal itu. Bahkan, dia pernah seharian nggak mau bicara karena ponselnya rusak, kecemplung di toilet. Apa yang harus saya lakukan, ya?”

Perilaku seperti di atas tidak dialami oleh satu-dua anak. Semakin banyak anak yang menunjukkan kecenderungan terlalu lekat dengan ponsel mereka. Waktu mereka pun dihabiskan untuk berkelana di dunia maya. Ketika mereka berada di kondisi tak bisa mengakses ponsel, mereka menjadi marah, cemas, dan bingung. Gambarannya seperti orang yang sedang sakau.

Kondisi tersebut dikenal dengan “nomofobia”, yang menurut The National Center for Biotechnology Information AS, yaitu sebuah istilah yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan kondisi psikologis seseorang yang punya ketakutan atau kecemasan ketika “terputus” dari ponselnya. Kondisi ini berkaitan erat dengan kecanduan gadget, yang sudah dikategorikan sebagai adiksi klinis. Perbedaanya, hingga saat ini, nomofobia belum dimasukkan ke dalam DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) edisi ke-5.

Penyebab Nomofobia

Nomofobia disebabkan oleh kecemasan yang sudah ada sebelumnya pada diri anak. Biasanya, berkaitan erat dengan image diri, self security, dan relasi dengan keluarga. Berikut beberapa hal yang bisa menyebabkan seorang anak mengalami nomofobia.

  • Tidak percaya diri. Anak-anak yang punya citra diri yang rendah tak mampu menghadapi dunia nyatanya sehingga dia mencari kenyamanan di dunia maya (misalnya, mencari teman baru di dunia maya). Hal ini biasanya dialami anak-anak yang memiliki kemampuan sosial yang rendah, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak introvert. Anak-anak ini nyaman dengan dunia barunya sehingga akan begitu terganggu jika terputus dari dunia tersebut.
  • Kecemasan sosial. Dikenal juga dengan istilah “FOMO” (Fear of Missing Out). Anak-anak ini merasa cemas ketika mereka ketinggalan update terbaru di media sosial. Mereka ingin menjadi orang pertama yang mengetahui update terkini. Ketidakmampuan mengakses berita terbaru bisa membuat orang merasa cemas, takut dianggap tidak up to date.
  • Kekosongan. Ketika anak merasa kesepian, dia menemukan ponsel sebagai penghibur hati. Hal ini mengingatkan kita pada teori kelekatan, di mana seorang anak akan bergantung pada sosok/benda yang membuatnya nyaman. Ketika hanya ponsel yang membuatnya nyaman, tentu dia akan terganggu ketika ia tidak bisa mengakses ponselnya.

Di Sekolah Athalia sendiri, menurut survei kecil-kecilan yang dilakukan oleh para konselor dan guru agama oleh siswa SMP dan SMA pada 2019 lalu, beberapa anak secara sadar mengetahui bahwa mereka mengalami nomofobia. Anda bisa melihatnya pada gambar berikut.

nomofobia
nomofobia

Hasil di atas, kita sadar bahwa ada lebih dari 35 persen siswa SMA dan 28 persen siswa SMP mengaku mereka mengalami kecemasan jika jauh dari ponselnya. Jumlah yang memang tidak besar, tetapi tetap harus kita tangani sesegera mungkin.

Orang tua harus membantu!

Sebagai orang tua, apa yang bisa kita lakukan? Anak dengan nomofobia biasanya memang mengalami ketergantungan pada ponselnya (adiksi). Nah, memarahi anak dan mempersalahkan adiksinya justru akan semakin menciptakan jurang besar. Anda bisa membantu anak menghilangkan ketergantungannya pada gadget dengan cara-cara berikut:

  • Mengalihkan perhatian. Mengajak anak untuk keluar makan bersama atau beraktivitas bersama untuk membuatnya lupa sejenak dengan ponselnya, misalnya rekreasi ke taman hiburan.
  • Menyodorkan hobi baru. Perhatikan minat dan bakat anak, kemudian dukung dia untuk mendalaminya. Buatlah dia sibuk dengan hal-hal yang disukainya.
  • Lakukan interaksi intens. Anak-anak yang kecanduan gadget mungkin saja merasa kesepian di rumah. Saatnya menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengobrol dengan anak.
  • Terapi. Jika anak sudah dalam tahap kecanduan gadget sampai mengganggu rutinitas hariannya, Anda bisa mengajaknya untuk konsultasi ke psikolog agar nomofobia-nya bisa ditangani dengan tepat. Dukung anak dalam menjalani terapinya dengan memberikan contoh terlebih dahulu mengenai cara bijak menggunakan gadget.

Kiranya kita diberi hikmat dalam mendampingi anak-anak. [DLN]


Parenting Positif dengan Kasih Tanpa Syarat

parenting positif

Setiap Anak Bernilai, Unik, dan Layak Dihargai

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.

Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi.
Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.


Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan

Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.

Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.


Harapan Orang Tua vs. Realita Anak

Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.

Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan?
Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya?
Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.


Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya

Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.

Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.

Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.


Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat

Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.

Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter.
Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.


Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus

Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih.
Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)

Mengasihi Anak Bukan Berarti Memanjakan: Cara Membentuk Daya Juang Anak di Era Modern

daya juang anak

Anak Zaman Sekarang dan Tantangan Kenyamanan

Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.

Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.

Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.


Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak

Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya.
Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.


1. Berani Menanggung Risiko

Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.

Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.

Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.


2. Berani Direpotkan

Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.

Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.

Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.


3. Berani Malu

Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.

Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.

Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.


Mengasihi atau Mengasihani?

Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:

“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”

Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan.
Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.

Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.


Kesimpulan

Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.

Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.

Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”

(dln)

Anak adalah Kertas Berwarna yang Unik

Anak adalah Kertas Berwarna yang Unik

Teach your children they’re unique. That way, they won’t feel pressured to be like everybody else.” –Cindy Cashman

Setiap Anak Itu Unik

Kita sering mendengarkan orang berkata bahwa “Anak itu seperti kertas putih. Sekarang tergantung kita mau menuliskan kertas itu seperti apa…”

Padahal, anak hadir ke dunia dengan keunikannya sendiri. Jika diibaratkan seperti kertas, anak adalah kertas berwarna dengan jenis yang berbeda-beda. Ada kertas folio, kertas kalkir, kertas duplex, dan lain sebagainya. Tekstur dan karakteristik kertas-kertas tersebut berbeda sehingga peruntukannya pun berbeda. Perlakuan terhadap kertas-kertas tersebut pun tentu berbeda.

Menyamakan dan Memperbadingkan

Ibu Charlotte menegaskan bahwa selain seperti kertas berwarna, anak juga seperti kertas yang sudah punya tulisan-tulisan di dalamnya. Anak memiliki sifat dan karakteristik bawaan. Oleh karena itu, sangat mungkin satu anak berbeda dengan kakak atau adiknya. Namun, yang awam dilakukan orang tua, yaitu memperlakukan anak-anaknya sama rata. Mereka juga memberikan ekspektasi yang sama kepada anak-anaknya. Akibatnya, ketika ada anak yang tidak berhasil melakukan pencapaian sesuai ekspektasi orang tuanya, perbandingan-perbandingan terlontar. “Si A kenapa nggak bisa displin seperti adiknya?” “B itu sukanya main bola terus, susah disuruh belajar. Nggak seperti kakaknya yang sudah sadar untuk belajar tanpa disuruh….”

Komparasi ini tentunya sangat berbahaya bagi anak-anak yang diperbandingkan. Selain menimbulkan rasa iri, sakit hati, dan kecewa, anak bisa merasakan benih-benih kebencian kepada saudara yang diperbandingkan dengannya. Efeknya, sibling rivalry bisa terjadi di dalam keluarga.

Tujuan Unik Tuhan untuk Setiap Anak

Tuhan sudah memiliki tujuan untuk anak-anak kita. Atas dasar tujuan tersebut, Tuhan membekali anak-anak kita dengan kekurangan dan kelebihan. Ketidaksempurnaan itu juga yang kita miliki. Ada beberapa hal yang kita kuasai dan tidak. Lalu, mengapa kita cenderung menuntut kesempurnaan pada anak-anak kita? Mengapa kita menuntut mereka untuk bisa meraih nilai tinggi di pelajaran yang tidak dikuasainya? Mengapa kita menuntut anak untuk bisa melakukan sebuah keterampilan, sedangkan dari awal dia menunjukkan bahwa dia tidak cakap melakukannya?

Ketidaksempurnaan yang Tuhan berikan sudah sesuai “porsinya” karena Tuhan tahu bahwa itu tidak dibutuhkan untuk tujuan Tuhan kepada anak-anak kita. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendorong anak untuk menerima kekurangannya dan mengasah kelebihannya untuk menjadikannya seturut kehendak Tuhan. (dln)

*Disarikan dari video Ibu Charlotte Priatna oleh Tanam Benih berjudul “Benarkah Anak itu Ibarat Kertas Putih Kosong?”

Pojok Parenting: Trauma Seksual pada Anak Usia Dini

trauma seksual pada anak

Pentingnya Pendidikan Seks dan Penanganan Anak dengan Trauma Seksual

Sex education atau pendidikan seks kini menjadi kebutuhan penting, terutama dalam konteks penanganan anak dengan trauma seksual. Banyak pendidik, orang tua, bahkan konselor belum memiliki pemahaman yang memadai dalam menghadapi kasus berat seperti ini.

Dalam praktiknya, tidak sedikit yang kebingungan saat seorang anak datang dengan kisah yang memilukan tentang pelecehan atau kekerasan seksual yang dialaminya.

Seminar bertema “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3 membahas secara mendalam mengenai hal ini. Para fasilitator menjelaskan definisi, bentuk, serta langkah-langkah pendampingan terhadap anak korban trauma seksual.


Apa Itu Trauma Seksual pada Anak?

Trauma seksual pada anak merupakan interaksi yang melibatkan anak dengan orang dewasa atau anak lain, di mana korban digunakan sebagai stimulator seksual oleh pelaku.

Bentuk trauma seksual bisa beragam, tidak hanya berupa sentuhan fisik (rabaan), tetapi juga:

  • Voyeurism (melihat tubuh telanjang anak),
  • Exhibitionism (memperlihatkan alat kelamin kepada anak),
  • Menyuruh anak menonton atau melihat gambar porno.

Salah satu fasilitator, Nona Pooroe Utomo, menyebutkan fakta mengejutkan:

1 dari 4 anak perempuan dan 1 dari 6 anak laki-laki pernah mengalami trauma seksual sebelum usia 18 tahun.

Lebih ironis lagi, mayoritas kasus tidak pernah dilaporkan, karena pelaku sering kali adalah orang dekat atau orang kepercayaan keluarga. Data menunjukkan bahwa ¾ pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban, bahkan bisa jadi anggota keluarga sendiri.


Gejala Anak yang Mengalami Trauma Seksual

Setiap anak menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap trauma. Namun, beberapa tanda umum yang sering muncul antara lain:

  • Mimpi buruk atau sulit tidur,
  • Menarik diri dari lingkungan,
  • Mudah marah atau meledak,
  • Cemas atau depresi,
  • Takut ditinggal sendirian, terutama dengan orang tertentu,
  • Menunjukkan pengetahuan seksual yang tidak sesuai usia,
  • Menggunakan bahasa atau perilaku seksual yang tidak semestinya.

Mengenali gejala ini sangat penting agar anak mendapatkan penanganan dini sebelum dampak psikologisnya semakin berat.


Apakah Anak Bisa Pulih dari Trauma Seksual?

Pemulihan anak korban trauma seksual sangat bergantung pada karakter anak, dukungan keluarga, dan proses konseling yang dijalani.

  • Anak yang tangguh dengan dukungan emosional yang baik biasanya dapat pulih dan menjalani kehidupan normal.
  • Anak yang sensitif atau fragile membutuhkan waktu dan pendampingan berkelanjutan untuk memulihkan luka batin yang mendalam.
  • Anak yang tidak mendapatkan penanganan sama sekali berisiko mengalami gangguan psikologis di masa depan, bahkan berpotensi menjadi pelaku, mengalami orientasi seksual menyimpang, atau kecanduan pornografi.

Peran Sekolah dan Keluarga dalam Pemulihan Anak

Sekolah memiliki peran penting sebagai rumah kedua bagi anak. Melalui konselor sekolah, anak-anak yang pernah mengalami trauma bisa mendapatkan pendampingan psikologis dan emosional.

Kolaborasi antara guru, konselor, dan keluarga menjadi sistem pendukung utama dalam proses pemulihan. Namun, jika trauma yang dialami cukup berat, anak perlu dirujuk untuk konseling lanjutan dengan psikolog atau psikiater profesional agar penanganan lebih mendalam.


Langkah-Langkah Menangani Anak dengan Trauma Seksual

Menurut Julianto Simanjuntak, dalam seminar yang sama, ada beberapa langkah awal konseling yang dapat dilakukan oleh guru, konselor, atau pendamping ketika anak mulai membuka diri:

1. Memvalidasi dan Meneguhkan

Anak yang berani menceritakan kisah pelecehan yang dialaminya menunjukkan keberanian luar biasa. Tugas pendamping adalah memberi validasi dan penguatan, agar anak merasa keputusannya untuk berbagi adalah langkah yang benar.

2. Menunjukkan Empati

Guru atau konselor perlu menunjukkan empati tulus, bukan sekadar simpati. Anak harus merasa aman dan nyaman, serta mengetahui bahwa pendamping akan terus menemaninya selama proses pemulihan berlangsung.

3. Normalisasi Perasaan Anak

Ketika anak merasa malu, marah, atau hancur, pendamping perlu menjelaskan bahwa perasaan tersebut wajar dialami korban. Dengan demikian, anak bisa mulai menerima emosinya tanpa rasa bersalah.

4. Memberi Nasihat dengan Izin Anak

Setiap anak memiliki waktu berbeda dalam membuka diri terhadap saran. Hindari memaksakan nasihat.
Tanyakan terlebih dahulu apakah anak siap untuk mendengarkan masukan.
Jika sudah siap, bantu anak mempertimbangkan langkah selanjutnya, seperti:

  • Menceritakan kejadian kepada keluarga,
  • Mengikuti konseling intensif dengan psikolog atau psikiater.

Kesimpulan

Menangani anak korban trauma seksual membutuhkan pendekatan penuh empati, validasi, dan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional.

Pendidikan seks yang benar tidak hanya tentang mengenalkan anatomi tubuh, tetapi juga tentang membangun kesadaran perlindungan diri, batas tubuh, dan keberanian untuk berbicara ketika terjadi pelanggaran.

Setiap anak berhak mendapatkan lingkungan aman untuk tumbuh, bercerita, dan pulih dari luka yang pernah mereka alami.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar “Pencegahan dan Pemulihan Trauma Seksual pada Anak Usia Dini” yang diselenggarakan oleh LK3, dengan narasumber Nona Pooroe Utomo dan Julianto Simanjuntak. (dln)

Membangun Daya Juang Remaja

Oleh : CHarlotte Priatna

Mungkin lebih tepat bila judul di atas dibaca sebagai sebuah pertanyaan skeptis. Masih ada kah daya juang remaja kita? Remaja sekarang lebih terkesan memble alias melempem. Dimana api roh atau kobaran spirit mereka? Nyaris tak bersinar? Apa yang menyebabkan keadaan mereka seperti itu? Lain dengan remaja dan pemuda tempo dulu yang menyingsingkan lengan baju untuk turut berjuang memperebutkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Masih jelas dalam ingatan kita sejarah bangsa yang diwarnai oleh gelora semangat kaum muda.

Tentu saja pergeseran yang terjadi sekarang ini bukan tanpa sebab. Pola atau gaya hidup masyarakat berubah, ditambah lagi fenomena tantangan hidup sekarang berbeda dari masa lalu. Semua ini perlu diantisipasi dan disikapi dengan cara yang berbeda namun bijak.

I. Mengapa remaja sekarang kehilangan daya juang?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat dilihat berdasarkan tiga kondisi:

  • zaman
  • orang tua
  • anak

1. Kondisi Jaman

Tantangan hidup sekarang ini berbeda. Kesulitan yang ada bukan yang terlihat tapi lebih banyak yang tidak terlihat. Secara faktual hidup sekarang jauh lebih mudah dibanding prakemerdekaan. Tidak ada himpitan penjajah yang memaksa kita untuk berjuang lebih keras, tidak ada ancaman terhadap keselamatan jiwa, tak perlu mengungsi, hukum pun berlaku dengan jelas. Berbagai fasilitas kian menyerbu, apa pun mudah didapat, asal punya uang. Berbagai perangkat elektronik canggih, hiburan, bahkan mainan pun tidak ketinggalan. Para pencipta mainan seolah berlomba mengisi waktu luang anak, memanfaatkan sekaligus merogoh kocek orang tua yang rela menyenangkan hati anak sebagai ganti waktu yang terhilang akibat kesibukan mengejar tuntutan karir. Tantangan yang tak kelihatan itu membuat remaja tidak sadar bahwa mereka juga sedang di bawah penjajahan, dikuasai berbagai keinginan yang membuat mereka menyimpang dari fokus hidup yang seharusnya.

Gaya hidup hedonis yang mengacu kepada materialisme juga turut memberi andil dalam mereduksi daya juang remaja saat ini. Segala sesuatu tidak lagi dinilai dari sebuah perjuangan. Usaha yang ditunjukkan seseorang tidak dihargai, bahkan dianggap absurd. Otak dan uang menjadi prioritas dalam ”membeli” harga diri. Seseorang yang pandai, kaya, cantik akan lebih dihargai dari pada yang sederhana, rajin, tekun tapi jujur! Demi uang remaja rela melakukan apa pun, bahkan menjual dirinya sekali pun.

2. Kondisi Orang Tua

Orang tua makin fokus pada karir demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Makin banyak remaja yang tumbuh dalam asuhan babysitter/pembantu rumah tangga. Anak tidak diajar mandiri, semua dilakukan oleh pembantu. Orang tua jarang berada di rumah, tidak cukup memberi arahan dan didikan, baik pada pembantu maupun si anak, sehingga semua hal dikerjakan pembantu. Anak tidak dilatih untuk melakukan sesuatu sesuai usia dan kekuatannya.

Tuntutan karir dan ekonomi mengkondisikan orang tua untuk tidak memiliki banyak anak. Makin banyak keluarga yang hanya punya satu atau dua anak. Kondisi ini memicu orang tua memiliki sayang yang berlebihan pada anak. Namun karena orang tua harus fokus pada karir, rasa sayang digantikan dengan hal lain. Anak diberi kemudahan dan berbagai fasilitas. Orang tua berusaha semaksimal mungkin agar anak tidak mengeluarkan keringat maupun air mata. Anak tidak lagi memiliki rasa lapar, karena belum sempat lapar mereka sudah dijejali dengan berbagai hal yang mengenyangkan, bahkan sampai berlebih hingga ”luber”. Sebenarnya kondisi ini membuat anak kehilangan ”nafsu”, tidak mengenal rasa nikmat dan puas karena segala sesuatu diperoleh tanpa perjuangan, bahkan tanpa perlu meminta. Anak tidak dapat lagi membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Orang tua juga merasa bersalah jika anaknya ”menderita”. Ada sebagian orang tua yang ingin balas dendam akan kehidupannya yang susah di masa lampau, tanpa menyadari bahwa berbagai kesulitan itu lah yang membuatnya berhasil mencapai apa yang dicapainya sekarang.

Ada juga yang ingin menaikkan gengsinya di mata orang lain melalui keberadaan si anak. Maka anak menjadi simbol gengsi orang tua, hanya menjadi ”boneka pajangan” yang siap didandani tanpa memiliki otoritas atas dirinya. Orang tua lebih menekankan pada prestasi akademis anak, dan mengabaikan sisi keahlian hidup anak, yang menyangkut cara anak menghadapi masalah, menghindari godaan, menyelesaikan perselisihan, meredam nafsu, dll.

3. Kondisi Anak

Bisa juga kondisi anak stress dan tertekan karena tuntutan jaman yang kian hari kian memaksa anak-anak kita menjadi idola atau sang juara dalam berbagai perlombaan, turnamen, dan olimpiade. Orang tua rela merogoh kocek mereka untuk mengikutsertakan anaknya dalam berbagai kegiatan perlombaan dimana-mana setiap minggunya. Piala dan piagam seolah menumpuk hanya untuk membeli sebuah prestise atau harga diri.

Anak-anak pun mudah mendapat apa yang diinginkan, tanpa perlu bersusah payah untuk mendapatkannya. Hal ini pula yang memicu anak untuk kurang menghargai apa yang dimilikinya. Anak kurang merawat barang-barangnya, tidak menghargai kepemilikan orang lain, bahkan tidak menghargai orang lain! Easy come, easy go kata orang. Anak tidak terganggu bila barang miliknya ada yang rusak, apakah itu pensil yang hanya ribuan perak hingga handphone jutaan rupiah. Apa pun bisa dengan mudahnya raib dari tangan atau tas miliknya, dan tragisnya, mudah pula memperoleh kembali (yang baru tentunya) ketika mereka mengeluarkan jurus rengek memelas kepada orang tua mereka yang hatinya lembek alias gampang dimanipulasi.

Tidak memiliki goal, tujuan dan cita-cita. Kalau pun ada, selalu dilihat dari sisi keuntungannya. Berapa banyak yang bisa diperoleh? Hukum ekonomi pun berlaku: mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Nilai-nilai hidup dianggap usang. Budi pekerti dan karakter pun terbuang. Orang tua dan anak remajanya sudah tergerus oleh gaya hidup seperti sekarang ini.

Pola hidup instant. Pentas ’idola’ marak di mana-mana dan menjadi jalan pintas untuk cepat kaya dan terkenal. Bagaimana cara cepat jadi pintar, mudah bisa lulus, cepat banyak uang? Dan lain sebagainya. Proses tidak lagi menjadi unsur yang dipentingkan. Itu lah yang dunia tawarkan pada remaja kita. Yang penting ada duitnya. Hal ini juga berkaitan dengan orang tua yang berpikir bahwa anak adalah investasi, jadi yang penting anak bisa cari duit. Mau jadi apa terserah.

II. Apakah benar remaja sudah kehilangan daya juang atau justru mereka sedang memperjuangkan hal lain ?

Tentu saja gaya hidup mengubah tujuan dan sasaran perjuangan remaja. Sering kita dengar ”Hidup enjoy aja lageee…” (sukses=enjoy, kegagalan adalah enjoy yang tertunda). Buat apa susah? Hidup untuk kesenangan dan kesenangan untuk hidup. Kesuksesan hidup tidak lagi dilihat sebagai perjuangan tapi kenikmatan. Asal nikmat, itu sudah pasti sukses. Jadi anak-anak kita sedang berjuang mencari kenikmatan, hiburan, just for fun, entertainment, game dll.
Berjuang tapi sambil jalan santai. Kalau dapat ya syukur, kalau tidak juga tidak apa-apa. Tentu saja ini bukan berserah seperti yang Tuhan inginkan tapi lebih kepada menyerah.

III. Bagaimana supaya remaja memiliki daya juang ? Filipi 3 : 14

  • Berlari, bukan berjalan apalagi merangkak. Kaki mereka sudah kuat untuk berlari. Tubuhnya pun sudah cukup mampu untuk diajak berlari
  • Memiliki tujuan, dan fokus pada tujuan itu. Sekarang ini ada terlalu banyak fokus sehingga remaja kita kehilangan fokus yang sesungguhnya
  • Bukan kemudahan yang diberikan pada remaja, tapi latihan yang keras supaya ”tubuh” siap untuk diajak berlari. Untuk hidup senang dan enak tidak perlu latihan, tapi untuk sanggup hidup susah remaja perlu dilatih dan dipersiapkan. Supaya, jika mengalami kesulitan, mereka justru tambah kuat, bukan bunuh diri!
  • Hidup adalah perlombaan, hidup adalah perjuangan. Harus diselesaikan hingga tuntas. Setiap orang tanpa kecuali. Mau tidak mau. Tidak ada kata mundur, yang ada hanya maju.
  • 1 Yoh 2 : 15 – 17 menjelaskan kepada kita bahwa dunia menawari kita, dan remaja – remaja kita khususnya, pemenuhan atas segala keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Padahal dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya.

Jadi, untuk membuat remaja memiliki daya juang, harus dimulai dari Anda sebagai orang tuanya. Anda bisa memilih, mau bayar di muka atau bayar di belakang. Pikirkan lah itu!