Character Excellence, Jilid 1, Mengembangkan Karakter Pribadi

Judul : Character Excellence
Penulis : Rizal Badudu
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit : 2019
Jumlah halaman: 228 halaman

Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.

Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.

Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.

Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.

Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)

Parenting Positif dengan Kasih Tanpa Syarat

parenting positif

Setiap Anak Bernilai, Unik, dan Layak Dihargai

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.

Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi.
Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.


Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan

Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.

Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.


Harapan Orang Tua vs. Realita Anak

Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.

Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan?
Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya?
Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.


Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya

Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.

Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.

Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.


Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat

Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.

Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter.
Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.


Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus

Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih.
Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)

Di Balik Layar Perayaan Teacher’s Day 2019

Sylvia Radjawane (orang tua siswa)

Perayaan Teacher’s Day Sekolah Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong—dilaksanakan pada 11 Desember 2019. Tema yang diusung kali ini adalah Your Sacrifices Don’t Go Unnoticed, Pengorbananmu Tak Akan Terlupakan. Melalui acara tahunan ini, komunitas orang tua dan siswa ingin menyampaikan rasa hormat, terima kasih, dan penghargaan tertinggi bagi guru dan staf Sekolah Athalia. Ada dua catatan menarik dari persiapan acara ini.

Rundown acara yang mengalir

Saat memikirkan konsep acara, yang teringat adalah sosok guru sebagai pahlawan yang identik dengan pengorbanan, sesuatu yang dengan sadar dilakukan untuk kepentingan banyak orang.

Berangkat dari pengertian itu, panitia mencoba meramu konsep tentang pengorbanan seorang guru dalam balutan acara tiga segmen, yaitu Movie, Narration and Role-playing, Flash Mob, diakhiri segmen Gratitude.

Sosok “pahlawan” yang bisa mewakili konsep acara yang panitia inginkan ternyata ada pada sosok Prajurit Desmond Doss yang kisah heroiknya diangkat dalam film Hacksaw Ridge (dirilis pada 2016). Kutipan doanya yang luar biasa, “Tuhan, kumohon, bantu aku menolong satu orang lagi” mengilhami kami yang segera mengasosiasikannya dengan figur seorang guru.

Flash Mob menjadi ajang bergembira bersama guru, staf Athalia, dan para undangan lewat gerakan ritmik bersama yang menghibur. Rangkaian acara diakhiri dengan segmen Gratitude, kesempatan untuk menyampaikan terima kasih secara langsung kepada para guru dan staf lintas angkatan di sekolah Athalia.

Panitia juga sengaja mempersiapkan sambutan standing ovation untuk para undangan istimewa yang memasuki Aula F, dengan berdiri dan bertepuk tangan sebagai tanda “We welcome you with honor and respect”. Kami ingin menunjukkan penghargaan kami secara harfiah kepada mereka.

Konsep acara mengalir ini diharapkan dapat menghemat durasi acara sekaligus tidak menghilangkan atmosfer atas rangkaian pesan yang ingin disampaikan.

Indahnya berkolaborasi


Dengan konsep acara trilogi seperti itu, panitia membutuhkan banyak sumber daya manusia untuk mewujudkannya. Tidak saja dari segi jumlah, tetapi juga jenis potensi dan keterampilan tersendiri untuk berkontribusi dalam melaksanakan konsep ini.

Mobilisasi para calon pengisi acara di tengah kesibukan Penilaian Akhir Sekolah (PAS) bukanlah hal yang mudah. Bersyukur pada akhirnya panitia mendapatkan kolaborasi yang terbentuk dengan apik.

Para murid SMP Athalia berkutat dengan konsep dan pembuatan dekorasi. Mereka bahkan menggunakan waktu liburnya untuk berada di sekolah mengerjakan agenda ini. Para murid SMA Athalia melakukan pendekatan yang teratur untuk mengumpulkan siswa-siswi yang akan banyak berperan di acara utama. Di tengah padatnya kegiatan di sekolah, mereka rela berlatih acting layaknya untuk film perang.

Komunitas orang tua juga ikut berperan dalam persiapan acara. Para orang tua yang terbiasa berlatih line dance, bersama dengan CPR dan CC, terlibat aktif dalam Flash Mob. Konsep narasi yang mengiringi pemutaran film multimedia dan segmen Gratitude disusun oleh Athalia Book Club.

Pada akhirnya, kami bersyukur karena ada kesempatan sangat baik untuk bisa berterima kasih kepada para guru dan staf Athalia melalui persembahan acara spesial untuk mereka.

Seperti yang diungkapkan oleh Wakil Ketua APC dalam sambutannya, “Sesering apa pun kami mengucapkannya, tidak akan pernah cukup rasa terima kasih kami. Tapi kami pun tidak akan lewatkan untuk mengutarakannya setiap kali ada kesempatan”. Acara Teacher’s Day inilah salah satu kesempatan itu.

Selamat Hari Guru, Pelita Bangsa Sekolah Athalia!

Your sacrifices don’t go unnoticed, for sure

Panitia TD 2019

Cairnya Kebersamaan dalam Natal Parents In Touch (PIT) 2019

Elisa Christanto, (orang tua siswa)

Parents In Touch (PIT) adalah kegiatan kolaborasi oleh orang tua, guru, dan staf yang ada di dalam wadah komunitas Athalia. Ini bukan sembarang kegiatan karena di dalam PIT-lah orang tua, guru, dan staf di komunitas Athalia bergandengan tangan saling mendukung di dalam persekutuan doa.

Pada Rabu, 11 Desember 2019, PIT merayakan Natal. Persekutuan kali ini terasa begitu istimewa karena PIT yang biasanya dibagi dua sesi, digabung sehingga kami bisa saling menyapa dan berkenalan—bagi yang belum saling mengenal. Kami juga kedatangan beberapa tamu spesial yang baru datang untuk pertama kalinya.

Pada Natal PIT kali ini, kami diajak untuk merenungi firman Tuhan yang diambil dari 1 Yohanes 2:2. Bu Nosta, sebagai pembawa firman, menyampaikan bahwa Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa. Bukan hanya dosa kita, tetapi dosa seluruh dunia. Meski demikian, pendamaian dosa itu diberikan-Nya jika kita menuruti perintah-perintah-Nya. Sudah seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur bahwa Yesus datang sebagai pendamai dosa-dosa kita.

Kebersamaan dalam Komunitas

Seperti sesi PIT biasanya, kami menutupnya dengan doa dan melanjutkannya dengan kebersamaan. Beragam hidangan telah tersedia. Momen kali ini terasa spesial karena baik para orang tua maupun staf menjadi penyedia santapan kami pada hari itu. Sembari menyantap makanan, kami larut dalam perbincangan. Kami saling bertukar kabar dan berbagi cerita.

Suasana itu tak berjarak, tak bersekat. Guru, orang tua, dan staf saling membaur, bercerita layaknya seorang sahabat. Saling mendengar cerita, bahkan tak kikuk untuk saling memuji dan melepas tawa bersama. Di mana lagi bisa kita jumpai persahabatan seperti ini jika bukan di dalam komunitas Athalia?

Saya merefleksikannya dari renungan yang disampaikan dalam Natal PIT yang lalu. Yesus hadir ke dunia untuk menjadi Juru Pendamai dosa dunia alias menjadi Juru Selamat. PIT menjadi sarana yang membentuk hati dan sikap setiap orang yang hadir agar semakin dimampukan dan dilayakkan untuk mendapat pendamaian atas dosa-dosa.

Di dalam PIT, kami menemui banyak kesaksian yang bisa memberkati kami. Saat melangkah keluar dari aula E, kami bisa membawa berkat itu dan menyampaikannya kepada lebih banyak jiwa di luar sana. Hati yang gelisah bagaikan tersiram air yang sejuk. Beberapa datang dengan hati yang sedih, hati yang keras, hati yang patah. Yang lainnya menopang, menguatkan, dan memberikan penghiburan. Di dalam komunitas ini, kami berbagi sukacita dan mendoakan setiap anak yang ada di sekolah ini.

Kerinduan bersekutu

Aktivitas yang terjadi setiap sesi PIT menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana hati dan sikap kami turut dibentuk di dalam persekutuan ini. Doa, yang notabene merupakan cara untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, juga menjadi fokus utama dalam persekutuan ini.

Sebagai orang tua siswa yang merasa sangat diberkati oleh persekutuan ini, kami mengharapkan semakin banyak anggota komunitas ini yang bergabung dalam PIT. Kami merasa menemukan komunitas yang tepat untuk bersama mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Komunikasi kami dengan Tuhan di dalam doa semakin intens.

Kehidupan tanpa doa bagaikan makanan tanpa garam. Hambar, hampa, kelu, sendu, dan sulit menemukan sukacita. Dengan doa, apalagi berdoa bersama-sama di dalam nama Yesus Kristus, semuanya menjadi benderang dan terasa indah.

Mari, kita satukan hati untuk berdoa bersama dalam “Parents In Touch” setiap Rabu.

We wish you a Merry Christmas 2019, and happy New Year 2020.

God bless!

Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch

Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia

Oleh: Beryl Sadewa, guru SMP

Penghargaan untuk Anggota Boys’ Brigade Cabang 4 Sekolah Athalia

Pada Jumat, 6 Desember 2019, Boys’ Brigade (BB) Cabang 4 Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mengadakan kegiatan Award Day.
Acara ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota BB yang telah memenuhi berbagai persyaratan pencapaian di bidang tertentu.

Dalam kegiatan ini, sejumlah lencana diberikan kepada anggota yang berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan.


Daftar Lencana dan Jumlah Penerimanya

Berikut daftar lencana yang dibagikan pada kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia 2019:

  • Lencana Target: 127 anggota
  • Lencana Perkemahan: 48 anggota
  • Lencana Pelayanan Masyarakat: 123 anggota
  • Lencana Olahraga: 23 anggota
  • Lencana Hobi: 6 anggota
  • Lencana Seni: 15 anggota
  • Lencana Kewarganegaraan: 19 anggota
  • Lencana Pendidikan Agama Kristen: 31 anggota

Setiap lencana memiliki makna dan nilai pembelajaran tersendiri bagi para anggota.


Kriteria dan Proses Perolehan Lencana

Untuk mendapatkan lencana-lencana tersebut, setiap anggota harus memenuhi kriteria tertentu sesuai bidangnya.
Kriteria ini berupa seperangkat kemampuan atau pengetahuan yang diajarkan dalam kegiatan kelas parade BB, serta tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kegiatan rutin.

Sebagai contoh:

  • Lencana Pelayanan Masyarakat mensyaratkan anggota melakukan kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, seperti pelayanan di panti asuhan.
  • Lencana Olahraga dan Lencana Hobi menuntut pengembangan keterampilan dan disiplin.

Proses ini mengajarkan setiap anggota untuk berkomitmen, bertanggung jawab, dan berjuang dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.


Pengembangan Empat Aspek Kehidupan

Pemberian lencana bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat motivasi bagi anggota Boys’ Brigade untuk berkembang dalam empat aspek kehidupan:

  1. Pengetahuan (Intellectual) – meningkatkan wawasan dan keterampilan.
  2. Fisik (Physical) – melatih kekuatan dan kedisiplinan tubuh.
  3. Sosial (Social) – menumbuhkan semangat kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.
  4. Spiritual (Spiritual) – memperdalam iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.

Melalui proses memperoleh lencana, para anggota bertumbuh menjadi pribadi yang seimbang dalam aspek intelektual, fisik, sosial, dan spiritual.


Peran NCO dan Officer dalam Award Day

Acara Award Day diatur dan dijalankan oleh NCO (Non-Commissioned Officer), yaitu para anggota BB yang dipercaya sebagai pemimpin rekan-rekannya. Mereka menyiapkan seluruh keperluan acara, mulai dari logistik lencana, perlengkapan, tata cara penyematan, hingga dokumentasi.

Seluruh kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan para Officer (guru pendamping).
Keterlibatan NCO ini tidak hanya memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi latihan berorganisasi dan melayani sesama.


Kesimpulan: Award Day sebagai Ajang Pembentukan Karakter

Kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia bukan hanya tentang pemberian lencana, tetapi juga merupakan perayaan hasil kerja keras, kedisiplinan, dan pertumbuhan karakter siswa.

Melalui kegiatan ini, setiap anggota belajar bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan — seorang pemimpin yang memiliki semangat tangguh, hati yang melayani, dan karakter yang berintegritas.
Award Day menjadi momen berharga yang meneguhkan semangat “Sure & Stedfast” — teguh dalam iman dan pelayanan.


Pentingnya Kesehatan Mental Remaja: Tips Mengatasi Stres dari Psikiater dr. Lahargo Kembaren

Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik

Mens sana in corpore sano”—di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Prinsip ini menjadi dasar pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik secara seimbang.

Athalia mengangkat isu ini dalam sebuah seminar bertema “Mental Health yang diselenggarakan pada Kamis, 5 Desember 2019. Narasumber utama seminar ini adalah dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, seorang psikiater dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Bogor. Beliau membawakan dua sesi seminar untuk jenjang SMP dan SMA dengan tema yang sama.


Apa Itu Sehat Menurut dr. Lahargo Kembaren?

Dr. Lahargo memulai pembahasan dengan menjelaskan makna sehat secara menyeluruh, yaitu sehat fisik, sosial, dan jiwa.
Menurutnya, seseorang dikatakan sehat jiwa jika:

  • Merasa bahagia dan memiliki emosi positif,
  • Mampu beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari,
  • Dapat menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri maupun orang lain.

Pada masa remaja, individu mengalami banyak perubahan hormon dan dinamika emosi. Dr. Lahargo menyebutkan tujuh perubahan emosional umum yang dialami remaja, yaitu:

  1. Meningkatnya perhatian pada lawan jenis,
  2. Kesetiaan pada kelompok sebaya,
  3. Mudah terpengaruh,
  4. Bersikap egois,
  5. Mudah kecewa, kesal, malu, atau tertekan,
  6. Ingin dipuja (narsisis),
  7. Rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk mencoba hal baru.

Perubahan-perubahan ini membuat remaja rentan mengalami stres. Ketika stresor mulai mengganggu kehidupan sosial, akademik, atau kesehatan fisik, penting bagi remaja untuk mempertimbangkan konsultasi dengan profesional, seperti psikolog atau psikiater.


Mengapa Penting Berkonsultasi dengan Profesional?

Dr. Lahargo menekankan bahwa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater sama halnya dengan berobat ke dokter.

  • Jika tubuh terasa sakit, kita pergi ke dokter umum.
  • Jika batin terganggu, kita menemui psikolog atau psikiater.

Berkonsultasi dapat membantu seseorang melihat masalah secara objektif, menemukan insight baru, dan menyusun strategi pemecahan masalah yang sehat.


Dampak Stres dan Cara Mengatasinya

Stres yang tidak ditangani dapat menimbulkan dampak negatif, seperti:

  • Perasaan frustrasi,
  • Keluhan fisik (pusing, sakit perut, tidak nafsu makan).

Namun, dr. Lahargo juga menjelaskan bahwa stres tidak selalu buruk. Dalam kadar tertentu, stres bisa menjadi motivasi untuk berprestasi lebih baik.

Agar stres tidak berujung negatif, berikut tujuh tips mengatasi stres secara sehat dari dr. Lahargo Kembaren:

  1. Jangan ragu untuk meminta bantuan.
  2. Bernapas pelan dan panjang.
  3. Konsumsi makanan sehat.
  4. Rutin berolahraga.
  5. Kerjakan tugas tanpa menunda.
  6. Jangan khawatir pada hal-hal di luar kendali.
  7. Maafkan diri sendiri atas kegagalan.

Peran Orang Tua, Guru, dan Teman Sebaya

Kehidupan remaja penuh dengan dinamika dan tantangan. Oleh karena itu, dukungan lingkungan sekitar sangat penting.
Orang tua, guru, dan teman sebaya perlu mendengarkan tanpa menghakimi agar remaja merasa aman mengekspresikan diri dan mendapatkan bantuan ketika dibutuhkan.


Kesimpulan

Kesehatan mental remaja adalah fondasi penting menuju kehidupan dewasa yang seimbang. Dengan memahami diri, mengelola stres secara sehat, dan berani mencari bantuan profesional, remaja dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bahagia. (SO)

Komunitas Athalia yang Memberi Harapan Baru

Oleh: Victor Sumua Sanga, guru Agama SMA

Dalam pidato pelantikan presiden dan wakil presiden RI terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo menyebutkan ada lima prioritas utama yang akan dikerjakan oleh pemerintahannya dalam lima tahun ke depan demi mencapai cita-cita atau harapan bahwa Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Salah satu prioritas tersebut, yaitu pembangunan sumber daya manusia (SDM). Kita tahu bersama bahwa pembangunan SDM akan berkaitan dengan tata kelola pendidikan di Indonesia. Penetapan prioritas ini tentunya akan menjadikan pendidikan sebagai kunci di masa depan untuk mencapai harapan Indonesia sebagai negara maju 2045.

Tidak lama berselang, tepatnya 1 November 2019, Bank Dunia merilis rekomendasi reformasi baru bagi pendidikan di Indonesia yang diberi judul The Promise of Education in Indonesia.1 Dalam bagian kesimpulan disebutkan, “Untuk mendapatkan pendidikan yang tepat, Indonesia dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan memastikan bahwa calon guru yang berkualitas tinggi saja yang akan direkrut, dilatih dengan baik, diberi bantuan yang dibutuhkan, dan dikondisikan agar bertanggung jawab terhadap pembelajaran. Indonesia perlu meningkatkan akses terhadap pendidikan anak usia dini melalui program wajib belajar. Pemerintah perlu berkonsentrasi untuk meningkatkan sekolah yang berkinerja paling rendah dengan demikian dapat mengurangi ketimpangan dalam sistem pendidikan. Selain itu, Pemerintah bisa berfokus pada penggunaan data untuk meningkatkan kualitas.” Dengan mengerjakan semua itu, Bank Dunia meyakini bahwa Indonesia mempunyai harapan besar untuk meningkatkan sumber daya manusianya di abad ke-21.

Sebagai institusi dan komunitas pendidikan di Indonesia, Sekolah Athalia perlu mengambil bagian untuk mewujudkan harapan bangsa Indonesia menjadi negara maju, bahkan jauh lebih dari itu, Sekolah Athalia perlu tetap setia mengerjakan perannya dalam mewujudkan kemajuan Kerajaan Allah di Indonesia.

Apa yang sedang kita perjuangkan?

Jika kita bertanya, kualitas SDM seperti apa yang akan dihasilkan oleh Sekolah Athalia bagi Indonesia, jawabannya sudah tercantum dalam visi Athalia, “Siswa yang menjadi murid Tuhan”. Visi ini bukan visi yang muluk-muluk atau slogan semata. Visi ini adalah sebuah Amanat Agung dari Yesus Kristus kepada orang-orang Kristen, keluarga Kristen, gereja dan lembaga Kristen, termasuk Sekolah Athalia di dalamnya. Sebuah perintah yang diikuti dengan janji penyertaan Tuhan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Matius 28:19–20).

Pengurus Yayasan dan para pemimpin tidak sedang mencari laba dari bisnis pendidikan. Oleh karena itu, hitung-hitungan untung-rugi materi tidak boleh menjadi dasar pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan kita. Para guru dan staf tidak sedang mencari nafkah sehingga penghasilan bulanan bukan menjadi dasar untuk masih bersedia mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya saat ini. Orang tua tidak sedang menitipkan anak mereka untuk mengejar pencapaian akademis, dengan demikian angka di rapor tidak dapat menjadi tolok ukur kesuksesan anak. Kita sedang mencari dan mengejar kualitas murid Tuhan di dalam komunitas ini.

Kita sedang menuju akhir 2019 dan memasuki tahun baru 2020, tahun di mana komunitas Athalia akan memperingati HUT ke-25. Rasanya wajar jika kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh pertanyaan ini, “Apa yang sedang kita kerjakan di Sekolah Athalia?” Perenungan yang jujur di hadapan Tuhan menolong kita memurnikan kembali motivasi kita, mengefektifkan kembali kerja kita, mengatur kembali strategi kita, memulihkan kembali relasi kita, dan menyinergikan kembali gerak langkah kita sehingga kualitas SDM, siswa sebagai murid Tuhan, dapat tercapai.

Apa kekuatan perjuangan kita?

Pekerjaan menjadikan siswa murid Tuhan bukanlah pekerjaan yang mudah. Pasang-surut, jatuh-bangun akan menghiasi jalan perjuangan tersebut. Namun, kita akan menemukan kekuatan baru demi kekuatan baru akan muncul tatkala kita tetap setia pada apa yang sedang kita perjuangkan itu. Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang terpanggil dalam rencana agung Allah (Roma 8:28). Kekuatan baru tersebut akan kita temukan karena Allah ikut bekerja bersama-sama dengan kita di dalam apa yang sedang kita perjuangkan.

Allah tidak menjanjikan ketiadaan masalah. Namun, Ia menjanjikan kehadiran-Nya dalam setiap masalah yang kita hadapi. Kehadiran Allah tersebut akan diikuti dengan karunia yang memampukan kita memenuhi apa yang kita perjuangkan. Allah bahkan telah mengaruniakan pada kita milik-Nya yang paling berharga, yaitu Anak-Nya sendiri sehingga kita tidak perlu khawatir kehilangan pertolongan pada waktunya, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32).

Kesadaran akan kehadiran Allah yang diikuti dengan karunia-karunia-Nya dalam mengerjakan tugas dan panggilan kita, mengarahkan kita untuk menaikkan ungkapan syukur dengan alasan yang benar. Kita bersyukur bukan karena apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita capai, tetapi kita bersyukur karena Allah hadir dan terus-menerus memberikan pertolongan pada waktunya.

Ada saat mungkin kita merasa berada di pengujung daya tahan kita, entah sebagai pengurus yayasan, sebagai pimpinan, sebagai guru dan staf, sebagai orang tua, atau sebagai siswa. Mari kembali melihat janji penyertaan Tuhan ini. Allah ada bersama kita sampai saat ini. Oleh karena itu, jangan menyerah, jangan berhenti, jangan putus asa. Kehadiran Allah memastikan bahwa segala sesuatu yang terjadi akan mendatangkan kebaikan pada akhirnya. Jika Anak-Nya sendiri rela Ia berikan menjadi korban bagi penyelamatan kita, tidak akan mungkin ia akan menahan-nahan berkat dan karunia-Nya di saat kita membutuhkan.

Apa hasil perjuangan kita?

Dalam Amsal 23:17-18 dinyatakan, “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Jika membandingkan hasil yang dapat diraih Sekolah Athalia dengan pencapaian sekolah lain, mungkin akan terbersit rasa iri di dalam diri, atau mungkin para orang tua iri karena para tetangga yang terus memamerkan prestasi akademis anak mereka. Semua ini bukan hasil yang kita harapkan.

Kita berharap Sekolah Athalia dapat menghasilkan siswa yang memiliki karakter sebagai murid Tuhan, berapa pun harga yang harus dibayarkan, betapa pun daya yang harus dikeluarkan, kendati pun doa tak pupus dinaikkan. Siswa yang menjadi murid Tuhan merupakan hasil yang ditawarkan Sekolah Athalia untuk memberikan harapan baru bagi kemajuan Indonesia ke depan, bahkan lebih jauh lagi setiap kita dapat menjadi alat perluasan Kerajaan Allah di Indonesia.

Allah ada bersama kita sampai saat ini karena itu jangan menyerah, jangan berhenti, jangan putus asa.

1 World Bank. 2019. The Promise of Education in Indonesia : Consultation Edition : Highlights (Bahasa (Indonesian)). Washington, D.C. : World Bank Group. http://documents.worldbank.org/curated/en/126641574095155348/Highlights