Judul : Character Excellence Penulis : Rizal Badudu Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun terbit : 2019 Jumlah halaman: 228 halaman
Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.
Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.
Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.
Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.
Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.
Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi. Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.
Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan
Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.
Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.
Harapan Orang Tua vs. Realita Anak
Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.
Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan? Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya? Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.
Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya
Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.
Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.
Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.
Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat
Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.
Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter. Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.
Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus
Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih. Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.
Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)
Parents In Touch (PIT) adalah kegiatan kolaborasi oleh orang tua, guru, dan staf yang ada di dalam wadah komunitas Athalia. Ini bukan sembarang kegiatan karena di dalam PIT-lah orang tua, guru, dan staf di komunitas Athalia bergandengan tangan saling mendukung di dalam persekutuan doa.
Pada Rabu, 11 Desember 2019, PIT merayakan Natal. Persekutuan kali ini terasa begitu istimewa karena PIT yang biasanya dibagi dua sesi, digabung sehingga kami bisa saling menyapa dan berkenalan—bagi yang belum saling mengenal. Kami juga kedatangan beberapa tamu spesial yang baru datang untuk pertama kalinya.
Pada Natal PIT kali ini, kami diajak untuk merenungi firman Tuhan yang diambil dari 1 Yohanes 2:2. Bu Nosta, sebagai pembawa firman, menyampaikan bahwa Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa. Bukan hanya dosa kita, tetapi dosa seluruh dunia. Meski demikian, pendamaian dosa itu diberikan-Nya jika kita menuruti perintah-perintah-Nya. Sudah seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur bahwa Yesus datang sebagai pendamai dosa-dosa kita.
Kebersamaan dalam Komunitas
Seperti sesi PIT biasanya, kami menutupnya dengan doa dan melanjutkannya dengan kebersamaan. Beragam hidangan telah tersedia. Momen kali ini terasa spesial karena baik para orang tua maupun staf menjadi penyedia santapan kami pada hari itu. Sembari menyantap makanan, kami larut dalam perbincangan. Kami saling bertukar kabar dan berbagi cerita.
Suasana itu tak berjarak, tak bersekat. Guru, orang tua, dan staf saling membaur, bercerita layaknya seorang sahabat. Saling mendengar cerita, bahkan tak kikuk untuk saling memuji dan melepas tawa bersama. Di mana lagi bisa kita jumpai persahabatan seperti ini jika bukan di dalam komunitas Athalia?
Saya merefleksikannya dari renungan yang disampaikan dalam Natal PIT yang lalu. Yesus hadir ke dunia untuk menjadi Juru Pendamai dosa dunia alias menjadi Juru Selamat. PIT menjadi sarana yang membentuk hati dan sikap setiap orang yang hadir agar semakin dimampukan dan dilayakkan untuk mendapat pendamaian atas dosa-dosa.
Di dalam PIT, kami menemui banyak kesaksian yang bisa memberkati kami. Saat melangkah keluar dari aula E, kami bisa membawa berkat itu dan menyampaikannya kepada lebih banyak jiwa di luar sana. Hati yang gelisah bagaikan tersiram air yang sejuk. Beberapa datang dengan hati yang sedih, hati yang keras, hati yang patah. Yang lainnya menopang, menguatkan, dan memberikan penghiburan. Di dalam komunitas ini, kami berbagi sukacita dan mendoakan setiap anak yang ada di sekolah ini.
Kerinduan bersekutu
Aktivitas yang terjadi setiap sesi PIT menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana hati dan sikap kami turut dibentuk di dalam persekutuan ini. Doa, yang notabene merupakan cara untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, juga menjadi fokus utama dalam persekutuan ini.
Sebagai orang tua siswa yang merasa sangat diberkati oleh persekutuan ini, kami mengharapkan semakin banyak anggota komunitas ini yang bergabung dalam PIT. Kami merasa menemukan komunitas yang tepat untuk bersama mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Komunikasi kami dengan Tuhan di dalam doa semakin intens.
Kehidupan tanpa doa bagaikan makanan tanpa garam. Hambar, hampa, kelu, sendu, dan sulit menemukan sukacita. Dengan doa, apalagi berdoa bersama-sama di dalam nama Yesus Kristus, semuanya menjadi benderang dan terasa indah.
Mari, kita satukan hati untuk berdoa bersama dalam “Parents In Touch” setiap Rabu.
We wish you a Merry Christmas 2019, and happy New Year 2020.
Penghargaan untuk Anggota Boys’ Brigade Cabang 4 Sekolah Athalia
Pada Jumat, 6 Desember 2019, Boys’ Brigade (BB) Cabang 4 Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mengadakan kegiatan Award Day. Acara ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota BB yang telah memenuhi berbagai persyaratan pencapaian di bidang tertentu.
Dalam kegiatan ini, sejumlah lencana diberikan kepada anggota yang berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan.
Daftar Lencana dan Jumlah Penerimanya
Berikut daftar lencana yang dibagikan pada kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia 2019:
Lencana Target: 127 anggota
Lencana Perkemahan: 48 anggota
Lencana Pelayanan Masyarakat: 123 anggota
Lencana Olahraga: 23 anggota
Lencana Hobi: 6 anggota
Lencana Seni: 15 anggota
Lencana Kewarganegaraan: 19 anggota
Lencana Pendidikan Agama Kristen: 31 anggota
Setiap lencana memiliki makna dan nilai pembelajaran tersendiri bagi para anggota.
Kriteria dan Proses Perolehan Lencana
Untuk mendapatkan lencana-lencana tersebut, setiap anggota harus memenuhi kriteria tertentu sesuai bidangnya. Kriteria ini berupa seperangkat kemampuan atau pengetahuan yang diajarkan dalam kegiatan kelas parade BB, serta tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kegiatan rutin.
Sebagai contoh:
Lencana Pelayanan Masyarakat mensyaratkan anggota melakukan kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, seperti pelayanan di panti asuhan.
Lencana Olahraga dan Lencana Hobi menuntut pengembangan keterampilan dan disiplin.
Proses ini mengajarkan setiap anggota untuk berkomitmen, bertanggung jawab, dan berjuang dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Pengembangan Empat Aspek Kehidupan
Pemberian lencana bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat motivasi bagi anggota Boys’ Brigade untuk berkembang dalam empat aspek kehidupan:
Pengetahuan (Intellectual) – meningkatkan wawasan dan keterampilan.
Fisik (Physical) – melatih kekuatan dan kedisiplinan tubuh.
Sosial (Social) – menumbuhkan semangat kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.
Spiritual (Spiritual) – memperdalam iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Melalui proses memperoleh lencana, para anggota bertumbuh menjadi pribadi yang seimbang dalam aspek intelektual, fisik, sosial, dan spiritual.
Peran NCO dan Officer dalam Award Day
Acara Award Day diatur dan dijalankan oleh NCO (Non-Commissioned Officer), yaitu para anggota BB yang dipercaya sebagai pemimpin rekan-rekannya. Mereka menyiapkan seluruh keperluan acara, mulai dari logistik lencana, perlengkapan, tata cara penyematan, hingga dokumentasi.
Seluruh kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan para Officer (guru pendamping). Keterlibatan NCO ini tidak hanya memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi latihan berorganisasi dan melayani sesama.
Kesimpulan: Award Day sebagai Ajang Pembentukan Karakter
Kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia bukan hanya tentang pemberian lencana, tetapi juga merupakan perayaan hasil kerja keras, kedisiplinan, dan pertumbuhan karakter siswa.
Melalui kegiatan ini, setiap anggota belajar bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan — seorang pemimpin yang memiliki semangat tangguh, hati yang melayani, dan karakter yang berintegritas. ✨ Award Day menjadi momen berharga yang meneguhkan semangat “Sure & Stedfast” — teguh dalam iman dan pelayanan.