Kreatif yuk! Belajar Sains Bersama Anak. Emulsifikasi: Apakah Itu?

Selama mengisi waktu luang, Anda dapat mengajak anak belajar hal baru. Salah satunya belajar sains sederhana: apakah minyak dan air dapat menyatu? Untuk anak-anak usia sekolah dasar, pertanyaan ini mungkin dapat dijawab dengan mudah. Tentu minyak dan air tidak dapat menyatu! Namun, eksperimen tidak berhenti sampai situ. Kali ini, ajak anak untuk belajar lebih dalam lagi, yaitu membuktikan apakah minyak dan air benar-benar tidak dapat menyatu?

Dalam proses kimia, ada yang namanya emulsifikasi. Emulsifikasi adalah pemantapan emulsi dengan menambahkan dua cairan (zat) yang tidak dapat bercampur pada zat ketiga, kemudian dikocok kuat-kuat, misalnya air, minyak, dan deterjen (sabun). Emulsi sendiri merupakan cairan yang terbentuk dari campuran dua zat, zat yang satu terdapat dalam keadaan terpisah secara halus atau merata di dalam zat yang lainnya.

Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air

Jadi, anak-anak akan belajar tentang proses penyatuan air dengan minyak menggunakan cairan lainnya. Tentu eksperimen ini akan membuat anak bertanya-tanya: benarkah minyak dan air dapat menyatu?

Untuk melakukan eksperimen ini, Anda perlu menyediakan bahan-bahan berikut.

  • Botol minum dengan mulut lebar/stoples kaca
  • Air
  • Pewarna makanan
  • Minyak goreng
  • Sabun pencuci piring.

Sebelum memulai eksperimen, Anda perlu memberikan pengantar kepada anak mengenai eksperimen kali ini.

  1. Memberikan pertanyaan: Apakah minyak dan air dapat bercampur dengan sempurna?
  2. Menjelaskan secara sederhana definisi emulsifikasi dan emulsi.
  3. Mempraktikkannya dengan melakukan eksperimen sederhana.

Mari mulai bereksperimen!

  1. Masukkan pewarna makanan ke dalam air.
  2. Tambahkan dua sendok air lagi ke dalam wadah.
  3. Tuangkan dua sendok minyak goreng ke dalam wadah tersebut.
  4. Tutup wadah, kemudian minta anak untuk mengocok botol tersebut sekuat tenaga. Bisa juga dengan mengaduknya menggunakan sendok.
  5. Letakkan botol itu dan minta anak memperhatikan cairan di dalamnya.

Saatnya berdiskusi!

Hentikan eksperimen sejenak, kemudian ajak anak untuk berdiskusi.

  1. Minta anak untuk menjelaskan hasil pengamatannya. Pancing anak untuk mempertanyakan fenomena tersebut.
  2. Jelaskan secara sederhana untuk memberikan konsep tentang perbedaan massa jenis pada cairan. Anda dapat menjelaskan kepada anak bahwa molekul yang ada di dalam air maupun minyak terikat kuat satu sama lain sehingga mereka tertarik dengan molekulnya sendiri. (Air terikat dengan molekulnya sendiri, minyak terikat dengan molekulnya sendiri.)
  3. Minta anak untuk memperhatikan eksperimennya kembali. Minyak berada di atas air. Jelaskan secara sederhana mengenai massa jenis atau kepadatan minyak yang lebih ringan dari air sehingga membuatnya berada di atas air.

Mari lanjutkan eksperimen ini!

Lanjutkan eksperimen ini dengan mengajak anak menambahkan satu cairan lagi, yaitu sabun pencuci piring.

  1. Tuangkan sabun pencuci piring ke dalam gelas berisi minyak dan air. Rasio sabun dengan minyak 1:1.
  2. Aduk campuran ketiganya sampai air dan minyak berubah warna menjadi keruh dan muncul busa.

Diskusikan lagi!

Ketika berhasil melakukan emulsifikasi sederhana ini, kembali ajak anak untuk berdiskusi. Utarakan pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Setelah mengaduk, apa yang terjadi? (Jawaban: minyak dan air dapat tercampur dengan sempurna.)
  2. Apa yang membuat minyak dan air—yang tadinya tidak dapat bercampur—tercampur dengan sempurna? (Jawaban: dicampur dengan sabun cuci piring.)
  3. Proses apa yang baru saja terjadi? (Jawaban: emulsifikasi.)
  4. Apa istilah untuk cairan minyak dan air yang sudah tercampur rata tersebut? (Jawaban: emulsi.)

Belajar sains bersama anak ternyata menyenangkan, ya! Selamat menikmati waktu berkualitas dengan anak! [SO]

Informasi tambahan:


Anda dapat menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin agar anak memahami konsep ini. Jangan lupa untuk menciptakan suasana yang menyenangkan agar anak tak merasa sedang “belajar serius”.
Dalam proses emulsifikasi, sabun pencuci piring inilah zat ketiga, yang disebut pengemulsi (emulgator) yang memiliki sifat mengikat dua cairan lainnya (minyak dan air).

Hal sederhana yang dapat dijadikan contoh adalah saat mencuci piring. Ketika piring yang penuh bekas minyak dibasahi menggunakan air kemudian ditambahkan sabun pencuci piring, minyak, air, dan busa menyatu dengan sempurna! Ketika Anda membilas piring tersebut, minyak dan air pun akan larut bersamaan, menghasilkan sebuah piring yang bersih dan siap digunakan kembali.

Ide eksperimen: https://bobo.grid.id/read/081247351/eksperimen-sederhana-mengapa-air-dan-minyak-tidak-tercampur?page=3
Referensi lain: dari berbagai sumber

Melihat Hardiknas di Tengah Pandemi

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Hardiknas menjadi momen penting untuk merefleksikan arah dan tujuan pendidikan di Indonesia. Tahun 2020, peringatan Hardiknas terasa sangat berbeda. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020. Pengumuman ini menjadi titik awal perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merespons cepat dengan mendorong pembelajaran jarak jauh secara nasional. Pemerintah pusat dan daerah menyelaraskan kebijakan demi menjaga keberlangsungan pendidikan. Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk belajar hal baru.

Beberapa sekolah langsung membuat kebijakan insidental berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar (PBM). Mereka mulai menerapkan sistem home learning sebagai solusi alternatif. Para pengajar tetap datang ke sekolah untuk menyiapkan materi home learning. Sekolah Athalia sendiri menggunakan Google Classroom dan Google Form dalam PBM jarak jauh ini. Siswa SD, SMP, dan SMA dapat melakukan tanya-jawab secara langsung dan personal dengan pengajar melalui media ini. Relasi dan komunikasi tetap dapat dibangun. Pembinaan karakter pun masih dapat dilakukan walau terbatas.

Bagaimana peran orang tua dalam PBM jarak jauh ini? Pendek kata, semua orang tua (SD–SMA) harus mendampingi anak-anaknya belajar. Setidaknya, mereka harus mengingatkan anak-anak untuk membuka ponsel dan komputer mereka untuk menerima pembelajaran jarak jauh yang diberikan pengajarnya. Kesempatan ini sebenarnya bisa dipakai oleh orang tua untuk membangun komunikasi dan relasi dengan anak-anak. Selama ini, kesibukan orang tua dan atau kesibukan anak menjadi penghalang terciptanya efektivitas hubungan antaranggota keluarga. Momentum home learning dan work from home dapat dimanfaatkan untuk rekonsiliasi (pemulihan hubungan) jika selama ini ada friksi yang terjadi antara orang tua dan anak yang belum sempat diselesaikan.

Baca Juga : Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!

Membangun Karakter di Tengah Keterbatasan

Kebersamaan di rumah juga berfungsi untuk membentuk karakter anak. Orang tua dapat memotivasi anak untuk berusaha memahami materi yang diberikan pengajar dan mendorong anak untuk tidak menyerah ketika mengerjakan soal-soal yang sulit. Pada saat yang bersamaan, orang tua juga harus belajar bersabar dalam mengajari anak memahami materi tertentu. Tak hanya anak yang terbentuk karakternya, tetapi juga orang tua.

Tentu saja proses ini dapat berdampak buruk bagi hubungan orang tua dan anak. Orang tua dapat mengalami stres dan mudah marah karena tidak sabar mendampingi anak belajar. Anak juga menjadi patah semangat dan marah menghadapi orang tuanya yang tidak sabaran. Semuanya berpulang kepada kita. Apakah kita mau memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk kebaikan kita? Jawabannya ada pada kita masing-masing.

Apakah pengajar diuntungkan oleh situasi tidak ideal ini? PBM dilakukan tanpa tatap muka seperti biasanya. Beberapa pengajar memang melakukan perekaman video untuk menyampaikan materi. Namun, tidak ada proses umpan balik dari siswa. Pengajar merindukan kesempatan untuk bertatap muka dengan “anak-anaknya”. Interaksi langsung dengan siswa menjadi kerinduan yang mendalam bagi para pengajar. Tidak sekadar menyampaikan materi, mereka juga ingin melihat ekspresi dan respons spontan dari para siswa.

Ada kerinduan untuk menegur dengan penuh kasih saat siswa tampak tidak fokus dalam pembelajaran. Momen menyapa dengan senyuman hangat di awal pelajaran pun terasa sangat dirindukan. Kelas yang biasanya riuh oleh celoteh siswa kini senyap di balik layar komputer. Keceriaan yang dulu mewarnai ruang kelas tidak bisa tergantikan oleh media virtual. Mereka merindukan suasana belajar yang hidup!

Perspektif Siswa terhadap Home Learning

Bagaimana dengan para siswa? Apakah mereka menikmati suasana belajar home learning? Apakah mereka menyukai cara belajar tanpa tatap muka seperti ini? Memang, tidak ada omelan, hukuman berdiri di belakang kelas, dan lain sebagainya. Namun, ternyata oh ternyata, mereka lebih menyukai PBM dengan bertatap muka langsung dengan pengajar dan teman mereka di kelas!

PBM jarak jauh dapat menjadi solusi alternatif ketika PBM tatap muka tidak dapat dilaksanakan karena adanya halangan besar yang tidak dapat ditembus. Kesimpulan lainnya, PBM yang efektif harus menghadirkan pengajar dan siswa yang bertatap muka langsung di kelas ataupun di luar kelas. Orang tua dan siswa membutuhkan pengajar dalam PBM yang efektif. Bahkan, para siswa membutuhkan kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan pengajar dalam menerima pengajaran. Hal yang sama juga berlaku bagi pengajar yang membutuhkan umpan balik dari siswanya.

Sebagai seorang pendidik yang sudah berkecimpung selama 34 tahun dalam “dunia persilatan” (baca: dunia pendidikan), naluri pengajar saya mengatakan bahwa Menteri Pendidikan kita, Dr. Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A., akan menerapkan pembelajaran online (jarak jauh) dan pembelajaran tatap muka langsung (jarak dekat) pada saat yang bersamaan. Bahkan, mungkin program akselerasi akan diterapkan secara nasional di semua sekolah dengan pendekatan pembelajaran online sebagai pendekatan andalannya. Namun, pembinaan karakter juga akan dikedepankan.

Baca Juga : A Power to Rise Up

Hardiknas dan Penghargaan untuk Pahlawan Pendidikan

Dalam rangka memperingati Hardiknas yang ke-112, marilah kita menyatakan syukur kepada Tuhan yang sudah mendidik bangsa ini melalui para pendidik dan tenaga kependidikan selama ratusan tahun. Tuhan menggerakkan Bapak Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional) dan bapak/ibu pendidik/tenaga kependidikan lainnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tercinta, Indonesia. Pendidikan akademis dan pembinaan karakter yang selama ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah telah menghasilkan para tenaga profesional yang cinta akan negeri ini. Hal ini terlihat nyata dari sepak terjang para dokter, suster, dan paramedis yang siap mengorbankan diri dalam merawat para pasien yang terjangkit Covid-19.

Selain tenaga profesional di bidang kesehatan, kita juga memiliki para pemimpin pemerintahan yang bekerja penuh dalam menangani pandemi di negeri tercinta. Lalu, ada sejumlah orang yang memberikan donasi untuk penanganan Covid-19. Luar biasa! Mereka bahu-membahu menghadapi kondisi ini. Para pemimpin, anggota POLRI/TNI, tenaga profesional di bidang kesehatan, dan para donatur tidak dapat kita pungkiri adalah hasil dari pendidikan nasional selama ini.

Di sisi lain, pendidikan nasional kita juga melahirkan pemimpin-pemimpin yang intoleran, dokter-dokter yang berjiwa bisnis, anggota POLRI/TNI yang diskriminatif, dan lain-lain. Itu harus menjadi “pekerjaan rumah” kita bersama. Jika kita sehati, anak bangsa bersatu, masalah laten akan dapat kita atasi. Bersama Tuhan kita bisa melakukan banyak hal. Impossible is nothing for Him.

Langkah dalam Memerangi Covid-19

A. Teknis

  • Tinggal di rumah dan menerapkan physical distancing jika beraktivitas di luar rumah.
  • Wajib memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah dan mencuci tangan dengan sabun/memakai hand sanitizer setelah beraktivitas.
  • Wajib mengganti pakaian setibanya di rumah setelah beraktivitas di luar rumah.
  • Wajib mengonsumsi makanan bergizi, minum air mineral dalam jumlah yang cukup, sempatkan berolahraga, dan usahakan berjemur di bawah matahari pagi selama kurang lebih 15 menit.

B. Nonteknis

  • Bijaksanalah dalam menanggapi dan meneruskan berita-berita yang lalu-lalang seputar Covid-19 di grup media sosial.
  • Kurangi “mengonsumsi” berita-berita tentang Covid-19 yang dapat mengakibatkan stres.
  • Lakukan waktu teduh secara teratur dan alami perjumpaan dengan Allah yang akan memberi penghiburan dan kekuatan.
  • Mengucap syukur kepada Allah karena Dia turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.
  • Teruslah berdoa dan berpengharapan di dalam Kristus. Di dalam pengharapan ada sukacita yang sejati. Hati yang gembira adalah obat.
  • Imanilah bahwa Allah kita berkuasa atas alam semesta dan segala isinya, maut, dosa, dan virus Corona.

Akhir kata, selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan selamat hidup berkemenangan di dalam Kristus. Amin.

Ditulis oleh: Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia

Pentingnya Bahasa Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak

Oleh: Lidia Kurniasari, Guru Bahasa Indonesia SMA

Bahasa sebagai Alat Interaksi Sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup berdampingan dan membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi serta bersosialisasi. Kemampuan ini sangat penting untuk memperkecil kesalahpahaman dalam komunikasi. Salah satu instrumen utama yang membantu manusia berinteraksi adalah bahasa.

Bahasa berperan penting sebagai alat komunikasi. Kemampuan berbahasa yang baik dapat meningkatkan kualitas interaksi dan mempererat hubungan antarindividu.


Peran Keluarga dalam Pemerolehan Bahasa Ibu

Konsep komunikasi pertama kali dipelajari di lingkungan tempat seseorang dilahirkan — yaitu keluarga. Orang tua memegang peranan penting dalam proses pemerolehan bahasa pada anak, yang dikenal sebagai bahasa ibu atau mother tongue.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai oleh manusia sejak lahir melalui interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak belajar bahasa pertama dengan cara mendengar komunikasi di sekitarnya, menyimpannya dalam “gudang bahasa”, lalu mengolahnya menjadi kalimat.


Bahasa Ibu sebagai Dasar Cara Berpikir

Kemampuan seseorang menguasai bahasa ibu berpengaruh besar terhadap proses belajar berikutnya. Bahasa menjadi dasar cara berpikir, membentuk pola logika dan pemahaman anak terhadap dunia di sekitarnya.

Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari pentingnya penggunaan bahasa ibu dalam pembentukan karakter anak. Saat anak mulai memasuki lingkungan masyarakat yang lebih luas, bahasa ibu membantu mereka memahami nilai, norma, dan budaya bangsanya sendiri.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membangun kemampuan berbahasa anak antara lain:

  • Siapa yang berbicara dan diajak bicara,
  • Tempat dan waktu interaksi,
  • Topik pembicaraan, serta
  • Bahasa yang digunakan.

Dengan memahami hal-hal tersebut, orang tua dapat membantu anak menggunakan bahasa secara tepat dan berkarakter.


Tantangan Pelestarian Bahasa Ibu di Era Digital

Anak-anak zaman sekarang lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau melalui media sosial. Mereka cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing karena menganggap hal itu membuka peluang karier dan koneksi global.

Pandangan tersebut tidak salah, namun tanggung jawab mempertahankan bahasa ibu tidak boleh diabaikan. Bahasa adalah jendela untuk memandang realitas kehidupan. Hilangnya bahasa berarti hilangnya cara pandang, nilai, etika, dan norma suatu bangsa.

Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kecintaan pada bahasa ibu, sembari tetap memberikan kesempatan anak belajar bahasa asing. Dengan begitu, anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.


Peran Sekolah dan Orang Tua dalam Melestarikan Bahasa Ibu

Sekolah juga memiliki peran penting dalam pelestarian bahasa ibu. Contohnya, Sekolah Athalia—sebuah sekolah di BSD, Serpong— sebagai sekolah Kristen yang menekankan pembentukan karakter, berkomitmen menjadi wadah bagi siswa untuk mencintai bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Kesadaran bersama antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan penggunaan bahasa ibu baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Dengan memberikan teladan yang baik, anak-anak akan lebih mudah memahami nilai luhur bangsanya melalui bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.


Menumbuhkan Cinta Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah

Pemerintah Indonesia telah menetapkan slogan:
“Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Pelajari Bahasa Asing.”

Slogan ini mengandung pesan kuat agar masyarakat, terutama generasi muda, tetap menjadikan bahasa ibu sebagai jati diri bangsa. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah harus diutamakan dan dilestarikan, sementara bahasa asing dipelajari sebagai jembatan komunikasi global.


Kesimpulan: Bahasa Ibu adalah Identitas dan Karakter Bangsa

Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya dan cerminan karakter bangsa. Melalui bahasa itu, anak belajar berpikir, beretika, dan memahami nilai kehidupan.

Peran orang tua dan guru sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh teknologi.
Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan tanamkan kebanggaan berbahasa kepada generasi penerus bangsa.

Shepherding Time, Melihat dan Meniru Cara Yesus Mengajar (Markus 4:1, 33-34)

 

Cara Yesus Mengajar

Terlihat dan Terdengar Jelas dan Memberikan Jawaban

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. (Markus 4:1)

Pada suatu saat, Yesus hendak mengajar kembali di Danau Galilea. Banyak orang berkerumun untuk mendengar pengajaran Yesus. Saat itu Yesus memandang penting, bahwa setiap orang harus bisa melihat diri-Nya dengan jelas. Hal tersebut agar apa yang diajarkan-Nya dapat didengar dan diperhatikan oleh orang-orang tersebut. Yesus ingin memastikan bahwa kesempatan untuk mendengar kebenaran pada saat itu, haruslah menjadi kesempatan yang menjawab. Artinya, ketika kebenaran disampaikan, maka setiap orang yang mendengarnya akan mendapatkan jawaban atas setiap pergumulannya masing-masing. Yesus mengerti benar, bahwa kebenaran-Nya adalah jawaban yang paling tepat bagi setiap manusia.

Yesus memutuskan untuk berkhotbah menyampaikan pengajaran-Nya dengan cara berdiri di atas perahu yang sengaja ditempatkan agak jauh dari tepi danau. Hal ini bertujuan agar semua orang mendapatkan arah pandang yang sama untuk melihat dan sekaligus mendengar Yesus mengajar. Mungkin saja dengan arah angin yang berhembus dari danau menuju daratan, maka suara Yesus akan menjadi terdengar lebih jelas. Sehingga, dapat dipastikan bahwa Yesus telah memikirkan tehnik penyampaian yang tepat.

 Memiliki Kehendak yang Tetap

Kerumunan orang yang begitu banyak, tidak menjadi hambatan bagi Yesus untuk tetap menyampaikan isi hati Bapa. Kehendak-Nya untuk memberikan kebutuhan rohani bagi setiap orang, terlepas mereka menyadari atau tidak akan kebenaran Allah, adalah kehendak yang tetap. Kehendak yang tetap adalah kehendak yang tidak dipengaruhi oleh situasi atau kondisi. Kehendak yang tetap adalah kehendak yang didorong oleh kasih yang membuat-Nya tidak lagi fokus pada kenyamanan diri. Kenyamanan-Nya adalah ketika dipastikan setiap orang dapat mendengar isi hati Bapa, dan hidup di dalamnya.

Kebenaran Pengajaran yang Memberikan Kepuasan Hidup

Dikatakan bahwa: “datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia,”. Hal ini memberikan kenyataan bahwa ada kebutuhan yang sangat besar mengenai kebenaran. Tidak ditulis bahwa orang banyak itu mendapat undangan atau tidak untuk datang di danau Galilea untuk mendengar khotbah Yesus. Diperkirakan bahwa orang banyak tersebut memang mengikuti Yesus. Jumlahnya semakin banyak oleh karena orang-orang di sekitarnya menjadi penasaran untuk mengetahui seperti apakah pengajaran Yesus itu. Sementara, orang-orang lain yang sudah pernah mendengar pengajaran Yesus, dan tetap terus setia mengikuti Yesus berkeliling. Dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan kepuasan hidup atas kebenaran yang didengarnya dari Yesus. Kepuasan tersebut pada akhirnya bisa menjadi materi promosi yang ampuh mengenai indahnya kebenaran hati Bapa. Orang-orang yang telah dipuaskan oleh kebenaran pengajaran Yesus, menjadi kesaksian hidup yang tak henti-hentinya mengajak orang lain untuk ikut serta hidup sebagai pendengar dan pelaku Firman Tuhan.

Mengenal Audiens dan Berbicara Sesuai Latar Belakang Pendengar

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Markus 4:33-34)

Yesus tidak menyia-nyiakan kesempatan pada saat itu. Dia sungguh mengenal profile jemaat yang berkumpul pada waktu itu. Orang-orang Galilea yang dikenal sebagai penduduk yang sederhana membutuhkan penuturan yang pas sesuai dengan kemampuan edukasinya. Setidaknya, pendekatan yang dipakai Yesus untuk menyampaikan ajaran-Nya adalah melalui konteks kehidupan sehari-hari penduduk di sana. Penyampaian ilustrasi tentang dunia perkebunan, bercocok tanam, menjadi jembatan yang ampuh untuk membuat jemaat menjadi celik dan mengerti.

Yesus menyampaikan ajaran-Nya melalui pengertian yang dapat diterima oleh orang-orang. Markus mengatakan, bahwa: Yesus menguraikan segala sesuatu dengan cara tersendiri. Yesus sungguh-sungguh berusaha mencari segala cara untuk menyampaikan isi hati Bapa kepada setiap orang.

Shepherding Time

Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong, memandang hal ini sebagai bagian yang perlu diterapkan, dan dijadikan sebagai keseharian antara guru dengan murid. Shepherding time adalah bentuk konkrit bahwa Athalia ingin merespon setiap murid harus mendapatkan jawaban bagi kebutuhan rohaninya, sebagai fondasi pembentukan karakter. (karakter adalah buah Roh, yang hanya akan dapat bertumbuh jika anak hidup dekat dengan Tuhan).

Shepherding time adalah bentuk pertemuan khusus antara murid dengan guru, sebagai gembala kelas. Kekhususan tersebut sama seperti secara khusus Yesus menempatkan diri-Nya agar dengan jelas dapat dilihat dan didengar oleh orang-orang yang mengerumuni-Nya. Demikian pula guru akan menempatkan dirinya secara khusus, dalam kesempatan  shepherding time,  sebagai pribadi yang hendak berbagi hidup, menceritakan bagaimana Yesus bertindak sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Shepherding time adalah waktu yang secara khusus dipersiapkan untuk mempertemukan murid pada Yesus melalui pengalaman hidup anak, sesuatu yang dekat dengan hidup anak sehari-hari. Diharapkan melalui hal itu, murid bisa melihat lebih jelas lagi tentang Yesus. Bahkan, murid bertumbuh menjadi pribadi yang haus mencari kebenaran. Sehingga mau terus berduyun-duyun mengikut Yesus. Murid menjadi pribadi yang tak segan untuk bertanya dan berdiskusi dengan gurunya mengenai Yesus. Lebih dari itu, murid juga menjadi pribadi yang puas akan anugerah-Nya. Sehingga, dia akan menjadi pribadi kokoh, berkarakter ilahi (godly character). Setiap kesulitan hidup yang akan menghadangnya, tidak lagi menjadi bagian yang mengejutkan kehidupannya. Oleh karena dia memiliki karakter sebagai anak Tuhan, yaitu pribadi yang selalu merespon hidup ini sesuai dengan kehendak-Nya saja.

 

(Oleh: BD/ Tim karakter)