Dampak dari Ayah yang “Hilang”

Hubungan ayah dan anak merupakan hubungan yang kompleks. Tak seperti hubungan anak dengan ibunya, yang sudah terjalin bonding di antara keduanya sejak anak di dalam kandungan, hubungan ayah-anak memerlukan pemeliharaan jangka panjang dengan komitmen penuh.


Budaya Timur yang masih memegang teguh patriarki membuat ayah menjadi “The Provider Father” yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan begitu, fungsi ayah hanya berpusat pada fungsi secara ekonomi, mencukupkan kebutuhan finansial keluarganya.


Oleh sebab itu, konsep ayah atau kepala rumah tangga lebih banyak dipahami sebagai seorang provider, penyedia. Kesuksesan seorang ayah dilihat dari jabatannya di kantor dan seberapa banyak dia bisa memberikan penghidupan untuk keluarganya. Konsep ini membuat ayah-ayah berfokus pada pencapaian karier dan kondisi finansial dan menarik diri dari urusan rumah tangga.


Dampaknya, anak-anak mereka, khususnya anak laki-laki, merasakan kekosongan besar dalam dirinya akan sosok maskulin dalam perkembangan emosinya. Anak laki-laki, ketika beranjak remaja dan dewasa, sangat memerlukan seorang patron atau pembimbing yang mengawalnya memasuki fase pencarian jati diri. Anak-anak yang merasakan kekosongan ini pada akhirnya mencari sosok maskulin pada orang lain, entah itu pemusik yang diidolakannya atau gurunya di sekolah.


Ketidakhadiran ayah dalam hidup anak-anak mereka juga akan membuat relasi di antara mereka sulit terbangun dengan harmonis. Akan ada gap yang terjadi, yang membuat anak enggan untuk berbagi perasaannya dengan ayahnya. Begitu juga si ayah yang merasa tak perlu mengetahui seluk-beluk perasaan anaknya—karena mereka pun di masa remajanya tertempa untuk tumbuh sendiri dan menemukan maskulinitas dengan cara mereka sendiri.


Pemahaman-pemahaman inilah yang membuat banyak ayah tak memiliki emosi yang matang. Mereka cenderung memendam perasaan, tak banyak bicara, dan menjaga jarak dengan anggota keluarga lainnya—untuk membentuk kesan bahwa ayah adalah sosok superior yang perlu ditakuti.


Relasi di antara ayah dan anak pada akhirnya tumbuh menjadi sebuah hubungan berjarak yang membuat komunikasi akan sulit terjalin. Dampaknya, akan sering terjadi kesalahpahaman yang membuat ayah berpikir bahwa anaknya pembangkang, sementara sang anak berpikir bahwa ayahnya terlalu kolot dan tidak mau memahami perasaannya. Jika dibiarkan, anak akan semakin menjauh dan memilih untuk menghindari komunikasi dengan ayahnya. Anak pun akan merasa bahwa ayahnya tak mengasihinya, dan yang paling ekstrem, merasa tak diinginkan.


Pdt. Julianto Simanjuntak memaparkan dalam artikel “Absent Fathers, Lost Sons” dalam buku Mendidik Anak utuh Menuai Keluarga Tangguh bahwa dampak ketiadaan keintiman antara anak dengan ayah bisa sangat luas. Ketidakpercayaan akan kualitas dan kemampuan diri adalah salah satunya. Anak kehilangan kemampuan untuk menjadi dirinya sendiri dan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan. Beberapa anak juga mengalami masa-masa remaja yang sangat sulit yang membuat mereka terjerumus ke dalam berbagai tindakan negatif, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, mengonsumsi narkoba, merokok, gaya hidup seks bebas, serta kecanduan game online dan gadget. Dalam artikel ini, Pdt. Julianto menekankan bahwa para ayah harus mau mengambil inisiatif untuk meminta maaf kepada anak dan menambal luka yang sudah pernah ditabur agar terjadi rekonsiliasi di antara ayah-anak sehingga mereka bisa membangun kembali hubungan baru yang lebih berkualitas dan intim. (dl)

Rekoleksi SMP Belajar Menerima dan Memaafkan


Oleh: Felicia

Tidak terasa, sebentar lagi angkatan X SMP Athalia akan naik ke jenjang pendidikan berikutnya, yaitu SMA. Begitu banyak kenangan yang sudah tercipta selama 3 tahun mereka berada di jenjang SMP. Datang masa mereka mengikuti kegiatan Rekoleksi. Rekoleksi berasal dari bahasa Inggris yaitu recollect yang berarti mengingat kembali atau mengumpulkan kembali. Mengingat kembali tentu saja akan membawa kita kepada kejadian-kejadian yang paling berkesan, baik peristiwa yang menyenangkan maupun tidak. Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan dapat melakukan refleksi diri dan rekonsiliasi sehingga akhirnya memiliki relasi yang lebih baik dengan teman-temannya dan guru.

Rekoleksi SMP Athalia diadakan pada Kamis, 2 Mei 2019–Jumat, 3 Mei 2019. Hari pertama, kegiatan diawali dengan sharing Firman Tuhan oleh Bapak Hery Ciu tentang acceptance dan forgiveness. Sharing ini dimaksudkan sebagai “bridging” bagi anak menghadapi tahapan berikutnya: melakukan rekonsiliasi dengan teman, guru, dan orangtua. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan talkshow yang dimoderatori oleh Bu Nosta dan sharing dari salah seorang guru, yaitu Bapak Beryl Sadewa, yang memberikan kesaksian tentang relasi dengan orangtua.

Pada hari pertama ini, para siswa juga diberikan waktu khusus untuk melakukan rekonsiliasi dengan guru yang diawali dengan sharing oleh Ibu Ni Putu Mustika Dewi dari PK3 mengenai pengalamannya ketika bersekolah di SMP. Rekonsiliasi dengan teman dimulai dalam kelas yang didampingi wali kelas dan partnernya masing-masing kemudian dilanjutkan rekonsiliasi dengan teman seangkatan.

Pada hari kedua, anak-anak diajak untuk mengikuti acara kebersamaan yang diadakan di Taman Impian Jaya Ancol. Siswa dibagi dalam kelompok yang akan singgah ke tiga tempat, yaitu Pasar Seni, Outbondholic, dan pantai. Di tiap tempat ada kegiatan khusus yang harus mereka lakukan bersama kelompok. Kegiatan ini diharapkan bisa merekatkan relasi antarsiswa agar mereka bisa semakin mengenal satu sama lain dan belajar bekerja sama dalam tim.



Rescamp 2019: Belajar tentang Pengendalian Diri dan Tanggung Jawab

Oleh: Melvin Johan Laluyan dan Bella Kumalasari

Pada 3–4 Mei 2019 lalu, siswa kelas 6 SD Athalia mengikuti Rescamp (Responsibility Camp). Kali ini, Rescamp diadakan di Camp Hills Eco Stay, Bogor. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Rescamp diadakan di tempat terbuka untuk memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berkegiatan di alam terbuka.


Rescamp diadakan di masa akhir siswa belajar di jenjang Sekolah Dasar dengan tujuan siswa dapat mengevaluasi karakter-karakter yang telah mereka pelajari selama 6 tahun terakhir, sekaligus menjadi kesempatan para guru mengapresiasi dan meneguhkan pertumbuhan karakter siswa. Oleh karena itu, camp ini bertemakan “Tanggung Jawab”, yang melingkupi karakter yang dipelajari di tiap level, yaitu tepat waktu, rajin, jujur, tertib, inisiatif, dan pengendalian diri. Karakter pengendalian diri yang baru saja mereka pelajari di kelas 6 menjadi titik berat Rescamp kali ini.


Acara dimulai dengan ice breaking. Kemudian, siswa-siswi memiliki waktu yang menyenangkan bersama kelompok-kelompok lintas kelas dalam permainan pos. Mereka berbagi tugas, bekerja sama, bermain di lapangan maupun di kolam renang. Setelah seru berbasah-basahan, mereka diberi waktu untuk mandi, istirahat, serta menikmati snack sore sebelum berkumpul kembali di aula. Tak hanya keseruan yang didapat, permainan pos pun tak lupa dimaknai. Siswa-siswi diajak untuk bertanya-jawab mengenai karakter-karakter apa yang mereka pelajari dan terapkan dalam permainan-permainan tersebut.


Acara dilanjutkan dengan pembahasan tokoh Yakub. Melalui kisah Esau dan Yakub, siswa-siswi diajak untuk mengenali sisi positif dan negatif Yakub yang kemudian direfleksikan ke dalam diri masing-masing. Melalui sharing yang didampingi oleh bapak dan ibu guru, anak-anak diajak untuk mengenali sisi positif dan negatif mereka, hal-hal apa yang masih sulit dalam pengendalian diri mereka, serta cara mengatasinya.


Diselingi dengan makan malam, siswa-siswi kembali belajar dari Yakub, yaitu transformasi yang dialaminya. Siswa-siswi diajak untuk melihat perubahan Yakub dari yang sebelumnya egois dan manipulatif menjadi orang yang rendah hati dan siap menghadapi segala sesuatu. Tidak hanya satu arah, siswa-siswi diajak untuk melakukan simulasi melalui Unfair Game menggunakan permen dan dadu. Ada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan yang membuat mereka mendapat ataupun kehilangan permennya. Melalui situasi yang mungkin tidak menguntungkan atau membuat mereka kesal, siswa-siswi diajar untuk mengenali emosi mereka dan merespons dengan benar. Terlihat kepolosan, kejujuran, maupun kedewasaan anak-anak ini dalam tanya-jawab yang dilakukan serta tantangan yang diberikan. Ada yang merasa kesal karena permennya selalu diambil, tetapi ketika ditantang untuk memberikan semua permen yang ia miliki pada temannya ia rela memberikan. Ada pula yang masih sulit dalam membagi dan menyisakan satu permen untuk dirinya sendiri. Ada siswa yang merasa kesal, namun bukan karena ketidakadilan yang dialaminya sendiri melainkan karena ia merasa temannya tidak adil pada teman yang lain. Ketika ditantang bahwa hal itu tidak memengaruhi/merugikan dirinya, siswa tersebut berkata, “Tapi kan yang hidup di dunia ini bukan aku doang.” Sungguh bersyukur untuk pertumbuhan karakter yang terjadi dalam diri setiap siswa-siswi!


Pada malam hari, pada momen api unggun siswa-siswi dipandu untuk merenungkan kembali kehidupan mereka dan diajak untuk berkomitmen belajar mengendalikan diri.


Keesokan harinya, kegiatan dimulai dengan renungan pagi bersama dan olahraga. Setelah sarapan, anak-anak masuk ke dalam sesi terakhir, yaitu “Scrolling Kehidupan”. Pada sesi ini, anak-anak diingatkan pada tiga hal yang harus dilatih agar dapat berubah/memperbaiki diri, yaitu punya perencanaan, fokus, dan bergerak cepat. Setelah sesi ini selesai, anak-anak diajak untuk menikmati keindahan alam dengan melakukan perjalanan ke Curug Cigamea. Di sana anak-anak menikmati segarnya udara dan air pegunungan.


Melalui Responsibility Camp, siswa-siswi diajak untuk menyadari bahwa semakin mereka besar, semakin banyak juga tanggung jawab mereka terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Kiranya Tuhan yang telah memberikan pertumbuhan karakter dalam diri siswa-siswi akan meneruskannya hingga semakin serupa dengan-Nya.

CARING & SHARING CAMP, 15-16 Februari 2019

Oleh: Nostalgia Pax Nikijuluw dan Ni Putu Mustika Dewi, Staf PK3

Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, ambition inspired, and success achieved.
-Helen Keller-

Helen Keller seorang penyandang tuna rungu dan tuna netra pertama yang berhasil meraih gelar sarjana pernah mengatakan bahwa karakter hanya dapat dikembangkan melalui pengalaman akan ujian dan penderitaan. Melalui berbagai tantangan itulah jiwa menjadi kuat, terdorong semangat untuk berjuang mencapai keberhasilan. Karakter adalah buah dari proses pertumbuhan yang dialami oleh seseorang. Melewati kesulitan seseorang dapat diproses dan dibentuk karakternya. Tetapi yang terutama adalah proses dan respons seseorang atas setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Caring & Sharing Camp adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Sekolah Athalia bagi siswa-siswi SMP dalam upaya untuk mengembangkan karakter khususnya yang terkait dengan kepedulian terhadap sesama. Pada tanggal 15-16 Februari 2019, melalui beragam kegiatan di CaS Camp ini siswa-siswi diberi kesempatan untuk melihat, bahkan mengevaluasi pertumbuhan karakter Caring and Sharing dalam diri mereka.

Tema besar kegiatan CaS Camp pada hari pertama adalah caring and sharing terhadap diri, sesama, dan lingkungan. Sejak pagi semua siswa beserta guru kelas 8 diantar menuju Taman Kota 2, dengan bantuan transportasi dari beberapa orang tua yang mendukung kegiatan ini dengan bersedia mengantar peserta Camp ke Taman Kota 2. Di Taman Kota 2, siswa-siswi diberi peran masing-masing di dalam kelompok. Peran yang diberikan tersebut mengarahkan siswa untuk saling menunjukkan sikap caring & sharing dalam penyelesaian tugas yang diberikan di tiap pos permainan. Seusai kegiatan pertama, siswa-siswi kembali ke sekolah dan melanjutkan aktivitas Caring & Sharing Project yaitu kegiatan yang ditujukan untuk mengembangkan caring & sharing di lingkungan sekolah Athalia.

Pada sore hari, Ibu Anita Latifia selaku konselor memberi penjelasan mengenai Jendela Johari dan memberi kesempatan kepada tiap siswa untuk menjawab beberapa pertanyaan dengan harapan dapat mempermudah siswa untuk mengenal diri mereka semakin dalam. Selanjutnya, tiap anak membagikan pengalaman mereka selama outdoor activity serta hasil pengenalan diri yang mereka dapatkan dari jendela Johari kepada teman-teman dan guru pendamping. Sebelum istirahat malam, kegiatan hari pertama diakhiri dengan sesi silent moment. Pada sesi ini siswa diberi ruang untuk berbincang secara pribadi kepada Tuhan atas apa yang terjadi sepanjang hari ini.

Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan devosi bersama dan sarapan pagi dengan format yang unik, yaitu setiap anak membuat setangkup roti untuk teman mereka berdasarkan kebutuhan. CaS Camp hari kedua ini siswa-siswi dikondisikan untuk menunjukkan caring and sharing terhadap keluarga (terkhusus orang tua). Tanpa sepengetahuan siswa-siswi, orang tua mereka diundang untuk datang dan mengikuti sesi tentang menjadi orang tua bagi anak remaja saat ini, sementara siswa mendengarkan seminar mengenai cara berkomunikasi dengan orang tua. Puncak acara CaS Camp hari kedua ini adalah pertemuan siswa-siswi dengan orang tua mereka masing-masing. Sebuah pengalaman yang mengharukan dan menyenangkan melihat perbincangan, bahkan dansa bersama antara orang tua dan anak. Kiranya seluruh pengalaman yang dihadirkan dalam CaS Camp ini dapat berperan dalam mengembangkan karakter kepedulian siswa siswi Sekolah Athalia menjadi siswa yang memiliki profil caring & sharing.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0033-1024x683.jpg
Write caption…
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0037-1024x683.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0055-1024x683.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0070-1024x683.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0298-1024x683.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0269-683x1024.jpg

Image

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0230-1024x683.jpg

Sekilas tentang Met Camp Kelas VII SMP Athalia 2019

Oleh: Loura Palyama, guru Agama Kristen SMP

Metamorphosis Camp atau Met Camp adalah sebuah kegiatan karakter yang wajib diikuti oleh siswa-siswi kelas 7 SMP Athalia. Berbagai aktivitas yang dilakukan dalam Met Camp ini ditujukan untuk mengingatkan dan meneguhkan kembali karakter tanggung jawab pada diri siswa yang telah dikembangkan di SD dan memperkenalkan profil Caring and Sharing dalam proses pembentukan karakter di SMP Athalia.


Kegiatan Met Camp dimulai dengan permainan kelompok di luar ruangan. Games yang dipersiapkan bukan hanya berfokus pada aktivitas yang seru dan menyenangkan, tetapi juga memiliki makna yang dapat dipelajari oleh peserta camp di antaranya: inisiatif, tepat waktu, pengendalian diri, rajin dan kerja sama. Kesan yang sempat didengar dari peserta adalah adanya momen yang tak terlupakan yaitu ketika peserta camp diberikan sebuah aturan bahwa yang boleh diminum saat haus hanya air mineral sedangkan minuman yang disediakan di samping air mineral adalah es mambo. Ternyata, ada peserta camp yang cukup tergoda dengan es mambo nyaris tidak dapat mengendalikan diri di tengah kelelahan setelah beraktivitas dan udara panas di siang hari; sebuah contoh proses belajar mengendalikan diri.


Kegiatan Met Camp lainnya adalah role play. Pada kegiatan ini panitia telah mempersiapkan beberapa orang yang melibatkan guru, siswa kelas 9, maupun petugas cleaning service untuk memerankan berbagai keadaan yang mengajak siswa untuk peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka secara langsung. Kejadian rekaan telah direkam sebelumnya kemudian ditampilkan lalu didiskusikan secara bersama-sama dengan suasana yang ringan dan fun, agar peserta mudah memahami maksud dan tujuan dari sesi ini dan dapat mengambil sikap yang tepat. Caring and Sharing dimulai dari tanggung jawab terhadap diri sendiri yang dilanjutkan dengan tanggung jawab kepada sesama dan lingkungan.


Ada juga sesi tanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Dalam sesi ini, peserta diajarkan untuk berbelanja dan memasak sendiri makanan untuk makan malam mereka. Para peserta berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan menu makanan mereka serta memilih beberapa orang untuk berbelanja kebutuhan untuk memasak.


Ada banyak hal yang mereka pelajari dari kegiatan ini, salah satunya mengenai jenis sayuran. Ada hal lucu ketika peserta camp pergi berbelanja. Ternyata banyak yang tidak tahu bentuk dari bumbu masak yang akan mereka beli, akibatnya mereka salah membeli bumbu yang diperlukan untuk memasak. Peserta camp diwajibkan memasak dan makan sayur. Mereka pun didorong untuk saling menolong satu dengan yang lain agar masakan mereka matang dan memiliki rasa yang enak. Mereka juga diajarkan untuk bertanggung jawab dengan dana yang diberikan.


Kegiatan lainnya adalah pembekalan sex education oleh Ibu Charlotte Priatna dan Bapak Martin Manurung. Kegiatan ini diadakan terkait dengan semakin bertumbuhnya mereka menjadi remaja. Beberapa konselor dari SD dan SMA serta beberapa staf PK3 pun terlibat sebagai fasilitator.


Di hari kedua, peserta camp belajar mengenai proses metamophosis yang tidak mudah dan membutuhkan usaha. Sudah saatnya mereka tidak hanya bertanggung jawab pada diri sendiri melainkan juga Caring and Sharing pada sesama.


Melalui Metamorphosis Camp banyak peserta yang mengaku menikmati dan belajar banyak dari kegiatan camp ini. Metamophosis Camp menjadi bermakna walaupun dibungkus dengan aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Sungguh bersyukur untuk pelaksanaan camp yang berjalan dengan baik. Kiranya setelah Met Camp ini, siswa-siswi mau terus diproses dan belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan peka terhadap lingkungan serta orang lain.

Sosialisasi Proyek Pengembangan Karakter kepada Orang Tua KB-TK Sekolah Athalia

Oleh: Ni Putu Mustika Dewi, Staf PK3

Pengembangan karakter siswa seharusnya menjadi kepedulian bersama baik sekolah maupun orang tua. Mengingat pentingnya pendidikan karakter sedari dini, maka tiap semester genap guru KB & TK mengajak para orang tua untuk mengambil bagian dalam pengamatan proyek pengembangan karakter siswa & siswi di rumah. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut program pengembangan karakter yang sudah dilakukan oleh KB-TK Athalia di semester ganjil 2018/2019. Pada semester genap ini, sosialisasi proyek pengembangan karakter KB & TK ini diadakan pada hari Sabtu, 26 Januari 2019. Kegiatan ini diawali dengan pemaparan dan peneguhan kembali akan pemahaman atas visi dan misi yang diemban oleh Sekolah Athalia, yang disampaikan oleh Bu Risna selaku Kepala TK.

Dengan landasan Joy (Sukacita) yang merupakan dampak dari kesadaran bahwa Tuhan yang menciptakan, mengasihi, dan menebus manusia, diharapkan hal ini pun dapat dirasakan oleh siswa-siswi selama proses pembelajaran KB-TK baik di sekolah maupun di rumah. Siswa KB-TK Athalia diharapkan menjadi siswa yang bersukacita atas keberadaan dirinya.

Secara khusus, siswa-siswi KB belajar untuk mulai mengenal karakter Penuh Perhatian, TK A belajar Taat, sedangkan TK B belajar menghidupi karakter Tahu Berterima Kasih. Selama 3 bulan, mulai bulan Februari dan berakhir pada bulan April orang tua akan mendidik dan mengamati anak-anak mereka dalam menghidupi karakter (sesuai jenjang usia) dengan indikator-indikator yang telah dipaparkan oleh Wali Kelas & partner pada sosialisasi ini.

Kiranya melalui proyek pengembangan karakter ini, guru maupun orang tua dapat bergandengan tangan dalam mendidik siswa & siswi sedari dini menjadi murid Tuhan yang mengalami dan merasakan sukacita dalam masa pertumbuhannya di KB-TK, dalam lingkungan Sekolah Athalia dan mengalami pertumbuhan karakter yang semakin serupa dengan Kristus.

Allah yang Merendahkan Diri Menjadi Manusia

Oleh: Ruth Irene Chateline Chandra

“…betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, … melampaui segala pengetahuan…”
Efesus 3:18-19

Natal selalu mengingatkan kita akan kasih Allah bagi manusia. Ketika Allah mengutus Yesus Kristus datang ke dunia, Ia tidak lahir di istana raja walaupun ia adalah raja di atas segala raja. Tidak ada penyambutan bagi kelahirannya selayaknya seorang anak raja, hanya beberapa binatang dalam sebuah kandang, gembala-gembala, dan orang Majus dari Timur saja yang menjadi saksi awal peristiwa kelahiran Kristus. Herodes terkejut ketika mengetahui berita ini dari orang Majus yang bertanya-tanya “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” Ia menyelidiki bukan untuk ikut menyambut, namun merencanakan melenyapkan bayi tersebut. Reaksi yang dipicu dari rasa tidak aman karena kedudukan (tahtanya) terancam.

Tidak ada seorang pun yang mau mengalami penolakan demi penolakan, sekali pun dia mengatakan “Saya sudah terbiasa dengan penolakan.” Di dalam hatinya, manusia selalu ingin diterima keberadaannya. Kristus adalah Anak Allah yang Maha Tinggi (Luk 1:32), Ia adalah Allah itu sendiri yang penuh kuasa, yang mulia, dan tak terbatas namun rela menanggalkan segala kenyamanan. Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia bahkan mengosongkan diri-Nya sendiri, membatasi diri dalam wujud manusia, menerima penolakan demi penolakan dari sejak lahir sampai mati-Nya. Ia menjalani semua itu hanya untuk satu misi: menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa dengan cara yang paling hina: mati di kayu salib, di antara para penjahat yang terjahat dengan mengalami terlebih dahulu serentetan cemoohan, fitnah, caci maki, diludahi bahkan pengkhianatan dari murid-Nya. Layakkah Ia menerima semua itu? Sang Pencipta yang telah merendahkan diri-Nya namun direndahkan oleh ciptaan-Nya. Ia yang tidak berdosa, diperlakukan sebagai pendosa berat. Namun Yesus dalam ketaatan kepada Bapa dan demi kasih-Nya kepada manusia, rela mati di kayu salib.

Merenungkan hal ini, saya tidak akan pernah habis pikir dan hanya bisa setuju dengan Paulus yang mengatakan “Betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Kasih yang melampaui segala pengetahuan, melampaui segala kemampuan berpikir manusia, kasih yang begitu mulia. Tanpa Allah yang mau merendahkan diri untuk menyelamatkan kita manusia yang berdosa, maka hanya ada murka Allah yang menimpa kita. Patutkah Ia melakukannya? Jika saja ada konsultan raja, pasti akan menegur dan menasehati Anak Raja yang melakukan tindakan merendahkan diri, karena tidak patut bagi keluarga raja berperilaku demikian. Tidak ada alasan bagi Allah untuk merendahkan diri seperti itu, kecuali satu: kasih-Nya. Kita telah menerima anugerah mulia, kasih tak terbandingkan, penerimaan tak terbatas dari Allah yang luar biasa ini. Patutkah setelah semua yang Allah berikan tanpa syarat itu, kita menempatkan diri lebih tinggi dari sesama kita untuk alasan apa pun? Kiranya kita bukan saja bersyukur atas tindakan Allah merendahkan diri menjadi manusia demi menganugerahkan keselamatan tersebut, namun kita juga perlu menghidupi keselamatan yang telah dianugerahkan-Nya itu dengan mau rendah hati menerima satu dengan yang lainnya dan menyalurkan anugerah Allah tersebut kepada sesama kita, tidak peduli siapa dan bagaimana pun dia.

The Christmas message is that there is hope for a ruined humanity–hope of pardon, hope of peace with God, hope of glory–because at the Father’s will Jesus became poor, and was born in a stable so that thirty years later He might hang on a cross. – J.I Packer

Christmas is based on an exchange of gifts, the gift of God to man – His unspeakable gift of His Son, and the gift of man to God – when we present our bodies a living sacrifice. – Vance Havner

 

Transformasi Komunitas Belajar

Oleh: Nostalgia Pax Nikijuluw – Kasie Pengembangan Kerohanian, Karakter, dan Konseling Sekolah Athalia

Education doesn’t need to be reformed-it needs to be transformed, demikian yang dituliskan oleh Dr. Ken Robinson, seorang ahli pendidikan berkebangsaan Inggris. Bagi Dr. Ken bukanlah reformasi yang dibutuhkan oleh pendidikan melainkan transformasi. Sebuah pemikiran ulang yang ingin melihat pendidikan sebagai proses yang hidup, penuh dinamika dengan adanya transformasi. Kata transformasi bahkan telah terlebih dahulu dituliskan oleh Rasul Paulus dalam Roma 12:2, ”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata ‘berubah’ diambil dari kata Metamorfosis (μεταμopφόω-kata berbahasa Yunani), yang oleh Alkitab berbahasa Inggris diterjemahkan dengan transformation atau transformasi. Perubahan yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus adalah perubahan yang dialami oleh orang percaya menuju pada pembaharuan budi (pikiran, perasaan, perbuatan) yang terwujud dalam ketidakserupaan dengan dunia. Lebih lanjut dikatakan bahwa hal tersebut adalah tanda hidup yang kudus yang berkenan kepada Allah dan itu adalah ibadah yang sejati (Roma 12: 1). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang mengasihi Tuhan adalah mereka yang menyenangkan hati Tuhan, dengan mempersembahkan hidup yang berubah oleh pembaharuan budi yaitu: pembaharuan pikiran, perasaan, dan perbuatan. Tiga hal yang mendorong orang untuk mengalami pembaharuan budi adalah: visi, ketekunan, dan pelayanan.1

Visi
Transformasi tidak dapat diabaikan oleh komunitas Athalia. Selain karena hal ini adalah kebenaran Firman Tuhan, alasan lain dari pentingnya transformasi adalah Visi Sekolah Athalia: menjadi murid Tuhan. Seluruh anggota komunitas Athalia terikat pada visi ini. Menjadi murid Tuhan, tidak dapat dicapai hanya dengan upaya diri sendiri, diperlukan adanya komunitas yang saling membangun, dan ketaatan atas bimbingan Roh Kudus yang menyertai kehidupan orang percaya. Maka benarlah jika dikatakan bahwa pendidikan membutuhkan transformasi. Transformasi pikiran, hati, dan tingkah laku seluruh anggota komunitas Athalia yaitu: guru/staf, siswa, dan orang tua yang terikat pada visi tersebut.

Ketekunan
Upaya mencapai visi atau tujuan, membutuhkan ketekunan (perseverance), sebuah tekad kuat melakukan sesuatu meskipun menghadapi tantangan. Ketekunanlah yang mendorong orang untuk tetap melangkah mencapai tujuan. Berbagai rintangan pasti menghadang, menghambat perjalanan mencapai visi/tujuan. Tetapi, seseorang yang memiliki ketekunan akan bertahan menghadapi rintangan. Berubah dalam pembaharuan budi, akan mendorong seseorang untuk membuka hatinya terhadap berbagai masukan, mempertimbangkan masukan tersebut untuk tujuan mengambil langkah perbaikan yang diperlukan, tanpa menjadi terombang-ambing oleh karena situasi yang menghadang, melainkan tetap teguh berjalan mencapai visi atau tujuan yang Tuhan berikan, sekalipun dengan pengorbanan.

Ketekunan, akan mendorong orang tua tidak hanya berperan dalam menyediakan kebutuhan materi anaknya, tetapi berjuang untuk hadir dalam kehidupan anak, memenangkan hati mereka, sekalipun di tengah berbagai kesibukan dan pergumulan yang dihadapi.

Ketekunan, akan mendorong para guru dan staf untuk terus berjuang melawan kelemahan diri untuk hidup dengan integritas, menjadi teladan bagi anak-anak.

Ketekunan, akan mengarahkan siswa untuk berjuang menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi dengan pertolongan Tuhan. Memiliki semangat untuk berprestasi tanpa kehilangan relasi bersama teman dan bertumbuh di dalam karakter mereka.

Pelayanan
Guru/staf dan orang tua adalah para pemimpin atau pembimbing yang diberikan Tuhan bagi anak-anak yang sedang bertumbuh. Berubah dalam pembaharuan budi, akan memampukan kita sebagai para pembimbing untuk memandang peran tersebut sebagai sebuah pelayanan yang Tuhan percayakan. Karena Tuhan yang memberikan peran tersebut, maka para pembimbing akan melayani dengan hati. Hati yang tulus dalam memperhatikan anak-anak yang didampingi. Berubah dalam cara pandang yang tidak berpusat pada ketertarikan/kepentingan diri sendiri. Menegur dengan kasih. Membimbing anak dengan berusaha memahami kesulitannya terlebih dahulu. Hadir dalam kehidupan mereka, ikut serta dalam setiap pergumulan yang mereka hadapi, dan membawa mereka kepada Tuhan dalam doa-doanya. Jika prinsip-prinsip ini dibangun sebagai bentuk pembaharuan budi para pembimbing yaitu para guru/staf dan orang tua, maka anak-anak pun tidak akan mudah berputus asa menghadapi berbagai tantangan, memiliki keinginan yang kuat untuk ditransformasi menggapai visi melalui ketekunan, yang berujung pada keserupaan dengan-Nya. Jika relasi ini dapat bertumbuh dengan baik, maka benarlah jika Sekolah Athalia sebagai institusi pendidikan memperkenalkan diri sebagai komunitas belajar.

Initiative Day kelas V SD Athalia

Initiative Day adalah salah satu program belajar yang diupayakan Sekolah Athalia untuk mengembangkan karakter inisiatif siswa-siswi kelas V. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 2 Agustus 2018 pada pukul 07.00-16.30. Kegiatan diawali dengan foto per kelas dan dilanjutkan dengan senam di lapangan belakang SD Athalia, kemudian siswa-siswi diarahkan ke aula A untuk mengikuti acara selanjutnya. Tidak seperti Initiative Day biasanya, kali ini anak-anak dengan semangat memasuki ruangan dalam parade grup.

Acara dibuka oleh ibu Dewi selaku kepala SD Athalia dan dilanjutkan dengan ibadah. Firman Tuhan yang melandasi karakter inisiatif disampaikan oleh bapak Haries. Setelah itu, siswa/i mendapat pengarahan tata tertib dan pengumuman proyek dari bu Lisa. Proyek yang diberikan adalah membuat tempat pensil dan bingkai puzzle dari stik es krim dan bahan-bahan lain yang disediakan. Siswa/i tidak diberitahu kapan proyek tersebut harus dikerjakan ataupun dikumpulkan. Hal ini melatih mereka untuk berinisiatif menyelesaikan tugas. Kemudian, mereka dapat istirahat sejenak dengan menikmati snack yang disediakan.

Acara dimulai kembali dengan penjelasan perjalanan karakter siswa/i dan pemaparan sedikit materi; diikuti dengan briefing untuk permainan pos. Siswa/i yang terbagi dalam 8 kelompok ini akan bermain di 4 pos yang mengajarkan mereka untuk berinisiatif dalam menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan. Guru-guru yang menjaga pos tidak memberikan instruksi secara langsung pada mereka namun sesekali hanya menanyakan “Setelah selesai bermain, apa tanggung jawabmu?”atau mengingatkan bahwa kelompok lain juga akan bermain di pos tersebut. Setelah semua permainan selesai, siswa/i diberikan penjelasan secara singkat mengenai makna dari permainan yang telah mereka lakukan.

Setelah lelah bermain, siswa/i makan siang untuk mengisi kembali energi mereka kemudian berkumpul di aula untuk mendapat pemaparan materi yang akan disimulasikan dalam “pencarian harta karun”. Masing-masing kelompok mendapat sebuah peta yang menggambarkan lokasi-lokasi di mana mereka akan mengambil harta karun. Ada 4 amplop harta karun yang harus mereka kumpulkan yang kemudian akan disusun menjadi sebuah puzzle. Namun, selama dalam perjalanan dari 1 lokasi ke lokasi lainnya, mereka akan menemui berbagai macam kondisi yang membutuhkan inisiatif mereka dalam peduli pada sesama dan hal-hal yang terjadi di sekitar mereka, seperti: ada guru yang sakit, ada guru yang kesulitan membawa banyak sekali barang, ada kelas yang berantakan, dan ada sampah yang berserakan. Setelah semua harta karun terkumpul, mereka kembali ke aula untuk mendapat kesimpulan, kemudian diberikan waktu bebas.

Dalam waktu bebas, siswa/i tidak diberikan perintah – mereka dapat beristirahat, bermain, atau diharapkan mereka dapat berinisiatif mengerjakan proyek yang diberikan. Ketika siswa/i berkumpul kembali di aula, hampir semua kelompok telah menyelesaikan proyek mereka, lengkap dengan tempat pensil, 3 buah puzzle yang mereka dapat dari kegiatan-kegiatan sebelumnya, serta bingkai yang telah dihias. Ibu Lisa memimpin pembahasan proyek dan memberi apresiasi atas inisiatif mereka dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Hasil karya mereka dipajang di kelas untuk senantiasa mengingatkan mereka akan karakter inisiatif yang telah mereka pelajari.

Sebelum menutup serangkaian acara di Initiative Day, siswa/i diberikan snack sore. Initiative Day ditutup dengan pembagian souvenir sebagai bentuk apresiasi atas pembelajaran yang mereka telah lakukan selama satu hari itu. Mereka juga menuliskan komitmen pada lembar komitmen/ proyek yang akan mereka lakukan di sekolah/ di rumah selama semester 1.

Initiative Day telah berakhir, namun pembelajaran karakter akan terus berlangsung di keseharian mereka di kelas 5 ini, bahkan sampai seumur hidup. Ada banyak cerita menarik yang terjadi selama kegiatan Initiative Day. Ada anak yang sudah taat aturan, ada juga yang masih harus diberi waktu untuk akhirnya menyadari bahwa ia perlu mengikuti aturan tanpa terus diingatkan. Ada anak yang cuek terhadap guru yang sakit, namun ada juga yang rela tidak ikut melanjutkan permainan bersama kelompoknya untuk menemani guru tersebut. Ada yang peka membereskan kelas yang berantakan, ada pula yang awalnya tidak menyadari apa yang harus dilakukan namun mau kembali di tengah pengejaran “harta karun”-nya untuk membereskan kelas. Seberapapun perkembangan karakter anak-anak kita, kita percaya bahwa Tuhanlah yang bekerja di dalam hati setiap mereka. Tuhan yang menyatakan diri-Nya untuk mereka kenal, akan memampukan anak-anak kita untuk dapat bertumbuh dan membuahkan karakter Kristus dalam hidup mereka. (Bella – PK3).

initiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_dayinitiative_day

Diligent Day (DDay) kelas II SD Athalia

Pagi itu, di kala mentari mulai beranjak naik seluruh siswa-siswi kelas II SD Athalia dengan sigap mengisi plastik yang disediakan oleh guru dengan sampah-sampah yang mereka temukan di sepanjang jalan kawasan Sekolah Athalia hingga bundaran blok A. Acara jalan pagi ini merupakan satu dari beberapa acara Diligent Day (DDay) yang diadakan Jumat lalu tanggal 24 Agustus 2018. DDay dirancang bagi siswa-siswi kelas II untuk secara khusus belajar karakter rajin selama satu hari dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Saat ibadah pagi Bu Desni memperkenalkan satu tokoh Alkitab yaitu Yusuf yang dapat dicontoh karakternya yang rajin. Siswa-siswi juga belajar rajin dari kisah Si Semut Kecil yang dibawakan oleh Bu Dewi PK3.  Seusai mendengarkan beberapa fakta tentang semut, siswa mengurutkan comic strip acak sehingga menjadi satu rangkaian kisah yang baik. Sesi selanjutnya, di dalam kelompok siswa-siswi diberi kesempatan untuk dapat merasakan berbagai tantangan dalam menghidupi karakter rajin melalui 4 pos permainan yang disediakan selama 80 menit. Pada setiap pos, siswa-siswi harus secara kompak menyebutkan tagline atau menyanyikan lagu rajin kepada penjaga pos sebagai salah satu syarat agar dapat bermain.

Siswa-siswi pun dapat melihat dampak nyata dari kerajinan atau kemalasan yang dipaparkan melalui silent reading kisah “Si Burung Kecil” dan film “Ah Boy”. Beberapa siswa terlihat menitikkan air mata seusai menonton film “Ah Boy”. Sesi dilanjutkan oleh Bu Denise yang mengulas seluruh pembelajaran rajin yang sudah dilalui siswa-siswi pada pos-pos permainan tadi. Akhirnya, DDay ditutup dengan sesi sharing antara Wali Kelas dan siswa-siswi, dengan leluasa siswa-siswi dapat menceritakan pengalaman mereka selama satu hari itu.

Kiranya melalui DDay ini siswa-siswi mulai mengerti arti penting, tantangan dan akibat dari karakter rajin dalam hidup mereka. (Dewi – PK3).

diligent_daydiligent_daydiligent_daydiligent_daydiligent_day

diligent_daydiligent_daydiligent_daydiligent_daydiligent_daydiligent_daydiligent_daydiligent_day