Honesty Day kelas III SD Athalia

Selasa 14 Agustus 2018 pukul 16.45 WIB bertempat di Aula A menggema lagu

“Aku senang jadi anak Tuhan…

anak Tuhan haruslah jujur!

jujur jujur jujur itu… keren”

sebagai tanda berakhirnya acara Honesty Day hari itu.

Honesty Day merupakan satu hari yang dikhususkan bagi siswa-siswi kelas III SD Athalia untuk belajar tentang karakter “JUJUR”. Tim PK3 dan guru kelas III secara bergantian mengajar dengan menggunakan berbagai macam metode penyampaian. Di awal hari, siswa belajar kejujuran melalui kisah tokoh Alkitab yang dibawakan oleh Bu Netty, selanjutnya Bu Denise memaparkan secara interaktif definisi kejujuran dan dampak atau akibat dari ketidakjujuran melalui berbagai macam ilustrasi yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung oleh siswa-siswi. Selain itu, diadakan permainan-permainan yang dapat diikuti oleh semua peserta Honesty Day dalam kelompok; yang bertujuan untuk melatih dan melihat sejauh mana pemahaman siswa-siswi mengenai karakter jujur. Di akhir hari, siswa-siswi diberi kesempatan untuk menjawab berbagai pertanyaan sebagai ulasan atas peristiwa yang terjadi sepanjang hari itu, yang kembali menguji  dan membutuhkan kejujuran siswa.

Kiranya antusiasme dalam berproses untuk menghidupi karakter jujur terus dimiliki oleh siswa-siswi dan para guru meski Honesty Day telah berakhir. (Dewi – PK3).

honesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camp

honesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camphonesty_camp

Orderly Camp kelas IV SD Athalia

Karakter Tertib adalah karakter yang dipelajari dan dikembangkan di kelas IV, jadi selama satu tahun di kelas IV mereka akan terus belajar karakter ini. Tanggal 10-11 Agustus 2018, siswa-siswi kelas IV SD Athalia mengikuti pembelajaran pengembangan karakter dalam bentuk kegiatan Orderly Camp. Orderly Camp ini adalah salah satu sarana untuk melatih para siswa agar memiliki karakter tertib. Selain agar mereka dapat belajar lebih dalam mengenai karakter tertib ini, para siswa juga dapat semakin menyadari tentang pentingnya memiliki karaker tersebut. Diharapkan karakter tertib dapat semakin tertanam dalam diri setiap siswa dan mereka dapat semakin mengembangkannya dengan terus-menerus belajar mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kegiatan Orderly Camp dimulai dengan kegiatan outbound di Buni Ropes, Ciputat. Tujuan dari kegiatan outbound ini adalah untuk melatih para siswa untuk tertib mengikuti aturan keselamatan, belajar tertib mengikuti aturan games, belajar tertib mengantri, dan tertib mengikuti jadwal kegiatan. Dilanjutkan dengan berenang (yang bersifat tidak wajib) dan mandi di sana. Ini melatih mereka untuk tertib dalam menjaga barang-barang mereka. Setelah itu mereka kembali ke Sekolah Athalia dan menginap semalam di sekolah.

Begitu tiba kembali di sekolah, semua siswa dipersilahkan untuk beristirahat, yang kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama. Acara berikutnya adalah refleksi outboud yaitu merefleksikan kegiatan selama sehari tadi dengan mengingat bilamana mereka telah bertindak tidak tertib dan dalam hal apa saja mereka telah berlaku tidak tertib. Setelah itu, kegiatan diteruskan dengan menonton film dan belajar karakter tertib dari film tersebut. Kegiatan camp hari pertama tersebut ditutup dengan doa malam.

Keesokan harinya, semua siswa peserta Orderly Camp ini mengikuti ibadah. Di dalam ibadah itu mereka belajar tentang dasar dan alasan mengapa setiap kita perlu memiliki karater tertib, yaitu karena Allah kita adalah Allah yang memang menyukai keteraturan, sehingga oleh karena itu dengan menjadi tertib berarti kita telah menyenangkan hati-Nya yang juga sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan. Setelah ibadah, diteruskan dengan sesi dari Tim Pengembangan Karakter. Dalam sesi ini dibagikan tentang perjalanan pembelajaran karakter dengan mengambil contoh dari tokoh Alkitab. Melalui tokoh Alkitab yang memiliki karakter tertib itu para siswa dapat mengambil keteladanan dari tokoh tersebut yang dapat berguna bagi kehidupan mereka. Kegiatan diteruskan dengan permainan dadu yang isinya studi kasus tentang penerapan karakter tertib dalam kehidupan sehari-hari mereka baik di rumah maupun di sekolah.

orderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camporderly_camp

 

Building The Nation By Building Your Children

artikel parenting
Oleh: Beryl Sadewa Lumenta, guru SMP

 

Negara adalah struktur sosial terbesar dalam suatu bangsa. Negara tersusun dari unit-unit sosial lain yang lebih kecil yang saling mempengaruhi dalam hubungan yang kompleks. Unit sosial terkecil itu adalah keluarga. Kalau negara digambarkan sebagai sebuah rumah, maka batu pondasinya, ubin pada lantainya, batu bata pada dindingnya, dan genteng pada atapnya adalah penggambaran dari kumpulan keluarga.

Peran keluarga yang sangat penting, dalam unit sosial terkecil inilah, generasi penerus bangsa muncul, tumbuh, dan berkembang. Kuat lemahnya mereka, sangat tergantung pada kondisi keluarga tempat mereka tumbuh dan berkembang. Masa depan bangsa tergantung pada generasi mudanya. Jika generasi muda kuat, maka akan kokoh pulalah bangsa itu, namun jika mereka lemah, akan rapuhlah bangsa itu. Dengan kata lain, keluarga yang sehat, akan menghasilkan generasi muda yang kuat, dan pada gilirannya akan menghasilkan bangsa yang kokoh.

Banyak di antara kita para orang tua, yang mungkin kurang menyadari pengaruh keberadaan keluarga kita bagi perkembangan bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Kita mengakui bahwa seorang duta besar yang bertugas di luar negeri dikatakan sedang menjalankan tugas negara. Begitu pula seorang tentara yang diutus ke perbatasan untuk memperkuat pertahanan. Demikian juga sama halnya dengan seorang dokter yang diutus ke pedalaman Papua untuk mengatasi masalah gizi buruk dan wabah campak. Bagaimana dengan peran kita sebagai orang tua? Kita mungkin bukan duta besar, tentara atau dokter, tapi kita juga sedang menjalankan tugas negara yang tidak kalah pentingnya dengan mereka, kita sedang mendidik generasi muda penerus bangsa.

Mungkin ada yang berpikir bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab guru dan sekolah. Kalau demikian adanya, saya terpaksa harus mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Guru dan sekolah TIDAK pernah dimaksudkan untuk menggantikan peran orang tua dan keluarga. Guru dan sekolah adalah rekan sekerja orang tua dan keluarga dalam mendidik anak. Seperti yang tertulis dalam Ulangan 6, bahwa orang tua diberikan mandat untuk mendidik anak-anak mereka.

Ada tiga aspek dasar dalam pendidikan: aspek kognitif atau pengetahuan, aspek afektif atau sikap/karakter, dan aspek psikomotor atau keterampilan. Mungkin tidak semua orang tua memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan oleh anak untuk dipelajari, dalam hal inilah guru dan institusi sekolah berperan. Dalam pembentukan karakter anak, orang tua dan guru sama-sama berperan dalam membentuk karakter anak. Meskipun demikian, Tuhan memberikan tanggung jawab pendidikan atau pembentukan karakter anak kepada orang tua.

Ulangan 6:7 mengatakan : “… haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ada dua implikasi dari ayat tersebut. Yang pertama adalah bahwa pendidikan (karakter) tidak dapat dilakukan sesekali (apalagi hanya sekali saja) melainkan harus terus-menerus. Yang kedua, pendidikan karakter terhadap anak hanya efektif bila dilakukan dengan cara “bergaul akrab” dengan anak.
Cara terbaik dalam memberikan pendidikan karakter bagi anak adalah dengan menjadi teladan bagi mereka sebab telinga anak mungkin tertutup terhadap nasihat, tetapi matanya selalu terbuka melihat teladan. Dan cara apakah yang lebih baik bagi orang tua dalam memberikan teladan bagi anak-anaknya selain dengan bergaul akrab dengan mereka? Tuhan Yesus tinggal dengan murid-murid-Nya supaya Ia dapat bergaul akrab dengan mereka. Murid-murid Tuhan Yesus setiap hari selalu melihat teladan dari Sang Guru. Di sini tampak jelas bahwa peran orang tua tidak tergantikan oleh guru. Guru tidak mungkin bersama-sama dengan anak setiap hari, sedangkan orang tua tinggal bersama anak.

Walaupun demikian, ada perbedaan besar antara berada di tengah anak-anak, dengan hadir di tengah-tengah mereka. Kita bisa saja berada bersama-sama dengan anak-anak kita, namun mereka tidak merasakan kehadiran kita. Keberadaan kita bisa mereka rasakan kalau ada interaksi antara kita dengan mereka. Pelajaran-pelajaran paling berharga bisa anak-anak kita dapatkan pada saat kita sedang beraktivitas bersama mereka. Momen-momen penting dapat muncul tiba-tiba, kesempatan baik bagi kita untuk menyampaikan nilai-nilai moral kepada anak-anak kita.

Ketika kita membangun karakter anak-anak kita, kita sedang mempersiapkan anak-anak kita menghadapi masa depannya; dan masa depan anak-anak kita adalah masa depan bangsa dan negara kita. Kita sebagai orang tua mengambil bagian yang sangat penting dalam membangun bangsa kita. Bahkan mungkin kita mempunyai peran yang lebih besar dari yang kita bayangkan; karena pemimpin bangsa kita di masa depan bisa jadi salah satu dari anak-anak kita.

Beda Tapi Berguna

beda tp berguna
Oleh: Corrina Anggasurjana, koordinator bidang studi IPS

 

Pada 21 April 1879 di Jepara lahirlah Raden Ajeng (Ayu) Kartini dari pasangan seorang bangsawan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dan seorang rakyat biasa Mas Ajeng Ngasirah. Aturan masa itu mengharuskan seorang bangsawan mempunyai isteri bangsawan pula, sehingga Kartini memiliki ibu tiri, seorang bangsawan keturunan Raja Madura, yaitu Raden Adjeng Woerjan. Sebagai seorang bangsawan, Kartini berhak memperoleh pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School), walau hanya sampai usia 12 tahun karena menurut adat kebiasaan saat itu, anak perempuan harus tinggal di rumah untuk dipingit. Dimulailah masa-masa yang penuh penderitaan karena seakan terputus dengan dunia luar … penjara saya adalah rumah dan halaman kami, namun bila kami harus selalu tinggal di situ, sesak juga rasanya. Saya teringat karena putus asa yang tidak terhingga berulang kali saya mengempaskan badan pada pintu yang selalu tertutup dan pada dinding batu dingin itu …. Walau demikian, masih ada manfaat yang dapat diperolehnya, yaitu kemampuan berbahasa Belandanya semakin berkembang karena Kartini aktif mengadakan surat menyurat dengan beberapa sahabat pena di Belanda.

Masa pingitan semakin menggelorakan semangat Kartini untuk membaca … berpengetahuan … kehausan akan pendidikan seperti tak terpuaskan. Rupanya sudah jadi warisan keluarga semangat untuk berpendidikan karena kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjadi bupati Demak pada masanya sudah memberikan pendidikan kepada anak-anaknya dengan mendatangkan guru ke rumah, tindakan yang tidak mudah dipahami karena tidak biasa. … Hanya orang yang mempunyai wawasan cukup dapat memilih seorang guru yang tepat, karena di masa itu orang-orang Belanda yang menawarkan diri menjadi guru rumah kebanyakan hanyalah sampah-sampah sosial yang terbuang dari Nederland …. Beberapa tahun sebelum meninggal, kakeknya memberi wejangan kepada putera-puterinya: “Anak-anak, tanpa pengajaran kelak tuan-tuan tiada akan merasai kebahagiaan, tanpa pengajaran tuan-tuan akan semakin memundurkan keturunan kita; ingat-ingat kata-kataku ini.” Hasil pendidikan, kemampuan menulis, dan keberanian menyatakan pendapat dicontohkan juga oleh paman-pamannya. Pangeran Ario Hadiningrat, paman Kartini, menulis tentang Sebab-sebab Kemunduran Prestise Amtenar Pribumi serta Bagaimana Jalan untuk Meningkatkannya Kembali. Paman lainnya, Raden Mas Adipati Ario Tjondronegoro, menerbitkan buku tentang Kesalahan-kesalahan dalam Mengarang dalam Basa Jawa, Pengelanaan di Jawa, serta beberapa tulisannya dalam bahasa Belanda diterbitkan juga oleh majalah Bijdragen voor het Koninklijk Instituut voor de Taal, Land-en Volkenkunde voor Nederlandsch Indië. Bahkan ayahnya pun, menulis dalam bahasa Belanda tentang protes kepada pemerintah Hindia Belanda atas diskriminasi pendidikan.

Kartini sendiri dikenal sebagai seorang penulis yang tulisan-tulisannya dimuat dalam De Hollandsche Lelie, majalah perempuan berpendidikan tinggi di Belanda dan didukung dengan terbitnya sebuah foto di surat kabar De Warheid tentang kongres Women’s International Democratic Federation yang menunjukkan wajah Kartini terpasang di belakang podium. Keterkenalannya itu dimanfaatkan oleh kelompok Gerwani yang mengangkat Kartini tidak hanya sebagai pejuang hak perempuan di bidang pendidikan, tapi juga pejuang anti-feodalisme dan anti-kolonialisme, juga pada edisi 25 April 1964 koran Harian Rakyat, yang dipimpin oleh Njoto, memberitakan perayaan Hari Kartini di Moskow, Bukares, Praha, dan Kuba.

Kartini bahkan menjadi alat politisasi pemerintah Belanda yang ingin menunjukkan pada Inggris bahwa Belanda pun memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan kaum bumi putera. Surat-suratnya yang setelah diseleksi oleh J.H. Abendanon, dibukukan dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” lalu diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa sehingga menginspirasi perjuangan kaum perempuan di berbagai negara. Salah satu hasilnya adalah di Belanda dibentuk Fonds Kartini (Yayasan Kartini), yang mengumpulkan dana untuk membangun sekolah-sekolah di Nusantara. Bahkan Ratu Belanda ikut berdonasi ke yayasan tersebut, walau sekolah-sekolah Kartini baru terwujud setelah diurus oleh Van Deventer.

Jadi, mengapa Hari Kartini terus diperingati dan dihubungkan dengan emansipasi kaum perempuan? Emansipasi yang dimaksud Kartini tercermin dalam suratnya: Kami memohon dengan sangat supaya di sini diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan. Bukanlah karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan orang laki-laki, melainkan karena kami yakin akan pengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan. Kami hendak menjadikan perempuan menjadi lebih cakap dalam melakukan tugas besar yang diletakkan oleh ibu Alam sendiri ke dalam tangannya agar menjadi ibu yang menjadi pendidik anak-anak mereka. Bukankah pada mulanya dari kaum perempuan juga manusia memperoleh pendidikannya. (Surat kepada Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya – 4 Oktober 1902). Ternyata, Hari Kartini layak diperingati karena menjadi pengingat pada perjuangan untuk mempersiapkan perempuan-perempuan yang siap menjadi pengajar yang cakap bagi generasi berikutnya. Kesadaran ini bukan hanya untuk para perempuan tapi kaum laki-laki juga karena ikut berperan dalam menyiapkan perempuan-perempuan seperti yang dimaksud, entah sebagai ayah, kakak, teman, atau pun guru.

Nilai-nilai yang dapat dipelajari:
a. Keluarga berperan besar menumbuhkan semangat belajar dan berpengetahuan pada anak-anak.
b. Mengapa hanya Kartini – di antara anak-anak ayahnya, bahkan di antara ratusan perempuan masa itu – yang tergugah untuk “memberontak” pada tekanan adat masa itu? Keunikan itu bisa jadi anugerah yang harus dikembangkan untuk berperan bagi masyarakat – membuka pikiran/wawasan tentang sesuatu. Jadi, kalau punya suatu keistimewaan, kembangkan! Pasti ada maksudnya ketika TUhan mengaruniakan keunikan atau keistimewaan itu (bandingkan kisah Ratu Ester).

How to Create and Enjoy Art?

Oleh: Ni Putu Mustika Dewi, Staf Pengembangan Karakter

enjoy art

Seni atau art berasal dari kata Latin, ars yang memiliki arti keahlian atau hasil karya seseorang. Hal senada dipaparkan dalam KBBI, seni diartikan 1) keahlian membuat karya yang bermutu, 2) karya yang diciptakan dengan keahlian luar biasa, seperti tari, ukiran, lukisan, 3) kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa). Dapat disimpulkan bahwa seni adalah kesanggupan akal atau keahlian untuk membuat karya yang bermutu; bernilai tinggi.

Bila kita memandang warna-warni bunga di taman, beragam serangga atau burung yang hinggap di dahan, birunya langit yang membentang, bintang yang bertaburan, maka bukan hanya keindahan dari beberapa pemandangan itu yang akan kita dapatkan melainkan juga keindahan dan keagungan dari Pribadi yang Mencipta; Sang Seniman Agung. Persis dengan yang dinyatakan Daud dalam mazmurnya “langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan kemuliaan-Nya,” keagungan dari seluruh ciptaan Allah pada dasarnya bukan untuk menceritakan ciptaan itu sendiri, tetapi menceritakan Allah yang menciptakannya.

Manusia dapat menghasilkan karya tulisan, lukisan, ukiran, tarian dan beragam hasil seni lainnya yang bernilai tinggi adalah bukti bahwa manusia segambar dan serupa dengan Allah. Seni adalah suatu karunia yang diberikan Allah. Oleh karena itu, salah satu bentuk ketaatan kita terhadap panggilan-Nya adalah mengembangkan daya seni tersebut dengan tujuan untuk menceritakan dan memberitakan kemuliaan Allah melalui hidup dan karya kita.

Namun ada hal penting yang patut kita sadari dan waspadai terus-menerus saat menjalani kehidupan ini, yakni kita adalah manusia yang keberadaannya sudah jatuh ke dalam dosa dan hidup di dalam dunia yang penuh dosa. Meski hal ini tidak mengakibatkan potensi seni di dalam diri manusia menjadi hilang, arah dan tujuan hakiki dari karya seni yang dilakukan oleh manusialah yang menjadi hilang. Kini seni seakan memiliki kekuatan untuk menjadi berhala. Sejarah pun pernah membuktikannya! Sebuah mahakarya yang dengan sengaja dicipta manusia dengan tujuan untuk memegahkan diri dan menyatakan pemberontakan kepada TUHAN yaitu pembangunan Menara Babel (Kej 11:1-9).

Di dalam hidup Kekristenan, melalui darah Kristus yang menyelamatkan, kini kita dimampukan untuk hidup sesuai dengan tujuan awal Allah menciptakan. Dengan demikian, kita sebagai umat pilihan-Nya memiliki peran dan tanggung jawab kepada dunia untuk mengarahkan seni kepada tujuan yang hakiki yaitu menceritakan kemuliaan TUHAN.

Dalam menjalankan peran dan tanggung jawab tersebut dibutuhkan karakter tahu berterima kasih. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membawa manusia pada kecenderungan alami untuk bersungut-sungut, sehingga seni dipakai untuk memuaskan diri sendiri. Contoh nyata makin maraknya lirik lagu, film dan karya seni yang beredar di pasaran berisi pemujaan hawa nafsu kedagingan manusia. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita “menyatakan penghargaan yang tulus kepada Allah dan orang lain atas segala yang telah Allah atau orang lain berikan di dalam hidup ini,*(hal.101) melalui seni yang dihasilkan dan dinikmati?

Kreativitas menjadi salah satu bahan dasar untuk mencipta karya seni. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10). Melalui ayat ini jelas menyatakan bahwa Allah yang kreatif memberikan kapasitas kepada manusia untuk secara kreatif melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang hendak dilakukan-Nya melalui kita. Dengan kata lain, kreativitas diperlukan untuk melakukan pekerjaan baik tersebut secara efektif.

Di sisi lain, kita sadari bahwa kreativitas tidak muncul begitu saja. Kreativitas dapat diaktifkan melalui sebuah pemikiran. Jadi apabila pemikiran kita didasarkan pada Firman Allah, maka kreativitas akan digunakan untuk tujuan baik; memuliakan Allah. Namun, apabila pemikiran kita tidak didasarkan pada Firman Allah, kreativitas kita ditujukan untuk hal yang berpusat pada diri sendiri, sesuatu yang egois atau jahat.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah Firman Tuhan mendasari pemikiran kita dalam mengaktifkan kreativitas?

Selain itu, seni dapat menjadi wadah bagi manusia untuk bebas berekspresi. Namun bebas bukan berarti tidak ada aturan, atau pun batasan. Oleh sebab itu dalam mengejawantahkan seni memerlukan karakter taat, yang memiliki pengertian “kebebasan berkreasi di bawah perlindungan otoritas yang Allah tetapkan,”*(hal.134). Dengan menyadari bahwa kita adalah manusia ciptaan sudah semestinya segala yang kita lakukan berada di bawah otoritas Allah Sang Pencipta. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia,” (Kolose 3:23) sehingga karya seni yang kita hasilkan atau nikmati tidak melanggar batas atau nilai-nilai kebenaran Ilahi.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita bebas berkreasi di bawah otoritas yang Allah tetapkan?

Sudahkah kita mencerminkan dan menceritakan kemuliaan Allah melalui karya seni yang kita hasilkan dan nikmati?

Jika Anda mengalami kesulitan, janganlah ragu minta kepada Allah untuk menolong Anda menumbuhkan karakter-karakter Ilahi saat Anda menghasilkan dan menikmati karya seni!

“Christians have deeper and better foundations for serious art than anybody.”

–John Piper-

 

* Sumber: Buku Kuasa Menuju Sukses Sejati: Bagaimana Membangun Karakter dalam Hidup Anda (Jakarta: Yayasan Bangun Karakter Bangsa)

Hatiku Tertuju Pada-Mu

Oleh: Noverman S. Gea, guru SMP

warung teologi

Mazmur 71:8
“Mulutku penuh dengan puji-pujian kepada-Mu, dengan penghormatan kepada-Mu sepanjang hari.”

 

Karya seni merupakan ekspresi yang bisa dihasilkan seseorang untuk mengaplikasikan diri di dalam kehidupan ini. Bagian ini merupakan tanggung jawab setiap insan untuk melakukannya karena setiap orang sudah diberi potensi oleh Tuhan untuk berkarya. Kegiatan untuk mengekspresikan diri inilah yang mendorong semua orang untuk menghasilkan sebuah karya. Namun kegiatan mengekspresikan diri ini kadang tidak didasari dengan tujuan yang tepat melainkan digantikan dengan tujuan-tujuan yang sebenarnya hanya bersifat sekunder.

Berbicara mengenai sejarah karya seni baik itu seni musik, seni rupa, seni tari dan seni teater, sudah terjadi sejak dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan yang menciptakan dunia ini beserta segala isinya merupakan creator seni yang luar biasa. Hal ini mengingatkan kita bagaimana Allah yang adalah creator seni yang luar biasa itu harus disembah oleh bangsa Israel. Musa disuruh mendirikan mezbah dan Musa berkata “Tuhanlah panji-panjiku” (Keluaran 17:15). Kemudian di masanya, raja Daud menyatakan kekagumannya kepada Tuhan dengan cara menari di hadapan Tuhan (2 Sam. 6:21) diiringi berbagai macam alat musik, sambil bernyanyi kepada Tuhan (2 Sam. 6:5). Dan di masa Salomo, Tuhan memerintahkan untuk mendirikan rumah bagi Tuhan dengan segala persiapan mulai dari para seniman yang akan mengerjakan berbagai macam pahatan, sampai kepada persediaan bahan untuk mendirikan rumah bagi Tuhan (Bait Allah).

Ketika bangsa Israel dikeluarkan Tuhan dari perbudakan di tanah Mesir, tujuan utama Tuhan hanyalah satu, yakni “…, supaya mereka beribadah kepada-Ku;…” (Keluaran 8:1). Ini merupakan sebuah dorongan yang disampaikan kepada kita sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, dari ‘kegelapan’ kepada terang Kristus, yakni bahwa tujuan hidup kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Namun, ketika manusia diberikan banyak potensi untuk berkarya maka tujuan manusia melakukannya lebih mengarah kepada pengakuan diri (harga diri), pencarian nafkah (harta), menyenangkan diri (keinginan), dan lainnya yang selalu mengarah pada diri sendiri. Bagian ini pulalah yang sering mendorong manusia untuk berkarya “tanpa batas”.

Dalam buku Modul 4 Pelajaran Musik SMP yang disusun oleh KILANG Orchestra Music School hal. 19, ditulis bahwa Istilah Musik zaman Baroque (berarti ‘sangat dekoratif’) terinspirasi dari gaya arsitektur Jerman dan Austria antara abad 17 dan 18. Pada zaman ini perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh gaya arsitektur pada zaman itu sehingga komposisi musik pada umumnya berbentuk “polifoni”. Pengaruh arsitektur ini sangat terasa pada bagian-bagian dinamika, tempo, dan ekspresi sebuah karya musik. Pada zaman ini pulalah musik masih sangat berorientasi pada penyembahan kepada keagungan Sang Pencipta. Namun pergeseran zaman musik memulai pergeseran makna karya musik: zaman Klasik ke zaman Romantik dan saat ini sudah berada pada zaman Modern.

Semua karya seni (dalam sudut pandang seni) pasti berharga dan penting. Tetapi tidak semua karya seni memiliki makna yang baik dan memberi pengaruh yang baik juga. Oleh sebab itu, kita sebagai pelaku dan atau penikmat seni harus berhati-hati untuk memberi input yang baik agar output atau karya yang kita hasilkan berkenan di hadapan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan dari karya setiap manusia yakni memuliakan Dia.

Kegiatan Live in Kelas IX di Desa Tegalombo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah

live in SMP

Perjalanan panjang yang ditempuh dalam waktu lebih kurang 17 jam dari Sekolah Athalia sampai Desa Tegalombo akhirnya berbuah manis. Selama 2 hari 3 malam, 126 siswa-siswi kelas IX SMP Athalia bisa belajar banyak hal saat tinggal bersama masyarakat setempat dan hidup jauh dari lingkungan yang biasa mereka tempati. Proses pembelajaran ini dinamakan live in, dengan mengusung tema Caring and Sharing; sesuai dengan tema karakter yang mereka pelajari. Live in ini dilaksanakan di dukuh Tawangrejo, desa Tegalombo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada tanggal 30 Januari-2 Februari 2018. Siswa-siswi tinggal bersama orang tua asuh yang telah ditentukan, dan didampingi oleh 15 orang guru yang telah ditunjuk oleh pihak sekolah.

Selama live in ini siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang sudah ditentukan untuk melakukan beberapa kegiatan yaitu fun day, melukis mural tembok PAUD, penghijauan lingkungan, kerja bakti, pertandingan futsal, sembako murah, dan bazar pakaian.
Pada kegiatan fun day siswa-siswi Athalia diberikan kesempatan untuk bernyanyi memuji Tuhan, mendengar Firman Tuhan, bermain serta membuat prakarya bersama siswa-siswi PAUD & KB Yasuka Tegalombo. Kedua belah pihak baik siswa-siswi dari Athalia maupun siswa-siswi PAUD terlihat sangat antusias mengikuti acara fun day ini. Siswa-siswi Athalia dapat melihat bahwa keceriaan dan semangat siswa-siswi PAUD untuk belajar tidak dipengaruhi oleh keterbatasan fasilitas pada sekolah tersebut.
Di luar ruangan sekolah, kelompok siswa yang tergabung dalam tim mural dengan penuh ketekunan menuangkan karya mereka berupa gambar mural pada tembok depan sekolah tersebut. Pengerjaan mural yang memerlukan waktu dua hari ini telah berhasil mengubah tembok putih tanpa hiasan menjadi tembok yang penuh gambar berwarna-warni dan sangat menarik.
Di lingkungan sekitar gereja dan rumah warga, kelompok siswa bidang penghijauan bekerja bersama-sama dengan tangguh menanam bibit kelapa kopyor di bawah teriknya matahari. Kelapa kopyor ditanam karena wilayah desa ini adalah daerah pesisir yang pada saat musim kemarau lingkungan desa akan sangat gersang dan panas.
Pada hari kedua, kelompok siswa-siswi bidang kerja bakti dengan penuh sukacita mengecat tembok ruangan sekolah PAUD dan membersihkannya. Selanjutnya ruangan tersebut dipakai sebagai tempat makan siang bersama dengan warga sekitar. Di tengah-tengah kepadatan kegiatan yang dilakukan selama dua hari ini, ada beberapa siswa-siswi Athalia yang dengan sukarela ikut pertandingan persahabatan (voli atau futsal) dengan siswa-siswi serta remaja desa Tegalombo. Di halaman parkir samping gereja, kelompok siswa-siswi yang lain tanpa lelah menawarkan pakaian layak pakai kepada warga pada bazar murah dengan kisaran harga Rp 5,000 s/d Rp 10,000. Pakaian-pakaian tersebut adalah hasil pengumpulan yang dilakukan oleh pihak sekolah, siswa dan orang tua Athalia. Di dalam gereja, kelompok penjualan sembako dengan sigap memasukkan minyak goreng 2 liter dan 1 kg gula pasir ke dalam 325 kantong plastik. Sembako ini dijual kepada warga yang sudah mendapatkan kupon dengan harga Rp 10,000/plastik. Hasil penjualan pakaian dan sembako murah ini dipakai untuk menyumbang pembangunan gedung sekolah PAUD. Selain kegiatan-kegiatan yang dilakukan, siswa Athalia juga memberikan sumbangan berupa buku-buku cerita anak, buku mata pelajaran yang dapat digunakan oleh gereja atau sekolah di sana.

Diharapkan nilai-nilai seperti hidup mandiri, peka dan peduli terhadap lingkungan, serta mau berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan tidak berakhir dengan berakhirnya live in ini melainkan terus dihidupi oleh siswa/i di mana pun dan kapan pun.

-UNIT SMP-

 

Live In SMP Hari IILive In SMP Hari IILive In SMP Hari IILive In SMP Hari IILive In SMP Hari IILive In SMP Hari IILive In SMP Hari IILive In SMP Hari IILive In SMP Hari IIILive In SMP Hari IIILive In SMP Hari IIILive In SMP Hari IIILive In SMP Hari IIILive In SMP Hari III

Untuk Apa Kita Berencana Jika Semua Sudah Ditentukan?

Oleh: Ni Putu Mustika Dewi, staf Pengembangan Karakter

Saat memasuki awal tahun, kita cenderung merencanakan banyak hal (ini dan itu) untuk dilakukan sepanjang tahun. Namun, pernahkah kita bertanya-tanya untuk apa kita (manusia) melakukan perencanaan jika toh segala sesuatunya sudah TUHAN tentukan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penting bagi kita untuk memahami dengan benar siapa TUHAN yang kita percaya dan siapa diri kita sebagai manusia yang adalah ciptaan-Nya.
TUHAN Allah yang kita sembah adalah Tuhan yang menciptakan kita segambar dan serupa dengan-Nya (Kejadian 1:26) dengan tujuan untuk menikmati Dia dan memuliakan-Nya.
Manusia tidak memiliki kuasa penuh atas waktu, tempat atau apa pun juga di dalam hidupnya, karena sebagai ciptaan kita ada dalam keterbatasan. Oleh sebab itu, untuk menjalani kehidupan ini Allah memperlengkapi manusia dengan akal budi dan kehendak. Manusia tidak diciptakan seperti robot atau wayang oleh TUHAN, tetapi diminta Allah untuk bertanggung jawab atas kehendaknya dan keputusannya. Namun, di dalam kebebasan manusia yang terbatas itu, Allah yang tak terbatas tetap pegang kendali penuh atas kehidupan ini. Tidak ada satu pun kejadian yang terlewatkan dari mata Allah.

Jika demikian, masih perlukah manusia berencana?
Perencanaan merupakan lambang hikmat sekaligus lambang keterbatasan. Hari depan sangat tidak bisa menentu, oleh sebab itu manusia melakukan perencanaan. Perencanaan yang dibuat bukan untuk mengontrol segala sesuatu di depan melainkan sebagai antisipasi (atau sebisa mungkin meminimalisir resiko) dari apa yang akan dihadapi nanti.
Oleh sebab itu, biarlah di dalam perencanaan kita akan masa depan yang tidak menentu, kita dapat belajar terbuka terhadap kendali Allah dengan berkata: Jika Tuhan berkehendak maka saya akan ….

Sumber:
 Alkitab
 Buku “Mengambil Keputusan seusai Firman Tuahn”, karya Haddon W. Robinson
 Ringkasan Khotbah Pdt. Ivan Kristiano “Jika Allah Berkehendak” di GRII Andika, 6 Juli 2014)

The Consistency of The New Year Resolution

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter

resolusi

Tahun baru identik dengan sesuatu yang baru. Dalam mengawali tahun yang baru, kita sering membuat resolusi, sebuah tekad yang akan kita lakukan di sepanjang satu tahun mendatang. “Saya berjanji akan lebih baik dalam hal …” begitu kira-kira kita ucapkan. Namun seiring berjalannya waktu, tekad itu pun mulai memudar. Kita mulai kompromi dan berkata “Yah.. sudahlah..” atau bahkan tidak berkata apa-apa tentang tekad kita tersebut karena mengingatnya pun tidak. Tahun yang baru tidak hanya membutuhkan sebuah tekad yang baru. Tentu hal itu baik, namun konsistensi diperlukan untuk mempertahankan tekad itu sampai akhir tahun.
Menurut KBBI, konsistensi berarti ketetapan, kemantapan, kekentalan, kepadatan, dan ketahanan. Ijinkan saya menjabarkan konsistensi dalam dua hal, yaitu antusiasme dan kesetiaan.

1. Antusiasme
Konsistensi membutuhkan semangat dan tekad yang kuat, yang sering kita sebut dengan antusiasme. Sebuah buku menuliskan bahwa kata antusias berasal dari dua kata Yunani: “en” yang berarti “di dalam” dan “theos” yang berarti “Allah”. Jadi antusias berarti diinspirasi dan digerakkan oleh Allah. Hal ini mengingatkan kita tentang dasar dari segala sesuatu yg kita perjuangkan. Antusiasme tidak hanya sekedar semangat atau minat, namun lebih dari itu, ada Tuhan yang menggerakkan di dalam diri kita.
Antusiasme adalah hasrat yang begitu kuat untuk mengejar sesuatu. Pada kenyataannya, orang yang tidak mengenal Tuhan pun bisa seolah memiliki antusiasme, misalnya Saulus. Namun, tentu dasarnya berbeda. Dasar dari antusiasme bagi orang yang mengenal Tuhan adalah kenyataan yang begitu menggetarkan bahwa Allah terlebih dahulu menyelamatkan kita sehingga kita ingin memberikan yang terbaik bagi-Nya sebagai rasa syukur kita yang tidak terbendung. Oleh karena itu, sudah semestinya kita berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa dalam segala sesuatu, seperti yang Rasul Paulus katakan dalam Kolose 3:23 (TB) “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Sebaliknya, orang yang tidak mengenal Allah giat karena keinginan untuk memenuhi kepuasan pribadi.
Lalu, bagaimana cara mempertahankannya? Karena antusiasme tidak dihasilkan oleh usaha kita sendiri melainkan oleh Allah, maka kita perlu bersekutu dengan Roh Kudus dalam Firman Tuhan. “Janganlah padamkan Roh”, Firman Tuhan yang tertulis dalam 1 Tesalonika 5:19.

2. Kesetiaan
Ketika berbicara mengenai kesetiaan, saya pun teringat pada pengalaman saya melayani di suatu daerah selama satu tahun yang lalu. Saya merasa sudah coba lakukan yang terbaik yang saya bisa dan mengusahakan ini dan itu, namun seolah tidak ada hasil yang tampak. Saya protes pada Tuhan dan Tuhan menegur saya. Tuhan menyadarkan saya bahwa yang Dia minta hanyalah kesetiaan saya dalam melakukan apa yang Dia percayakan, bukannya menuntut hasil atau pun “menghasilkan sesuatu”.
Dalam perumpamaan tentang talenta, sang tuan memberikan apresiasi kepada hamba-hambanya dengan mengatakan “baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Matius 25:21, 23). Kesetiaan sudah semestinya mengiringi antusiasme. Tidak cukup kita digerakkan dalam satu moment saja. Tuhan menuntut kesetiaan kita.
Tentu akan ada banyak hal yang sulit untuk dihadapi dalam memperjuangkan sesuatu, namun Tuhan ingin kita setia pada hidup yang Tuhan percayakan karena Dia terlebih setia. Ibrani 12:1-3 mengatakan “marilah kita … berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. … Ingatlah selalu akan Dia … supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Itulah kuncinya: mata yang tertuju pada Yesus.

Kiranya momen tahun baru ini mengajak kita mengambil sebuah resolusi yang sungguh-sungguh kita ikrarkan di hadapan Tuhan, apa yang Tuhan mau kita lakukan di tahun ini. Biarlah kita memiliki dasar yang benar sebagai sumber yang terus menggerakkan kita. Marilah terus menujukan mata kita kepada-Nya sehingga kita dimampukan untuk setia sampai akhir.

Selamat menempuh tahun yang baru bersama dengan Tuhan 🙂

Bijaksana

Oleh: Reggy Sebastian Sapetu, guru Agama SMA

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (Matius 7:24-25).

Pengertian tentang bijaksana di sini bukan hanya berbicara tentang kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat. Akan tetapi, kita harus memahaminya sebagai sebuah dasar berpikir dan bertindak dalam menjalani kehidupan setiap hari. Sama seperti Musa di dalam doanya kepada Tuhan, “ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana,” Musa lebih melihat kepada penyertaan Tuhan di dalam hari-hari yang telah dan akan dia lalui. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang yang bijaksana kita harus terus melibatkan Tuhan dalam hidup kita. Inilah yang akan menjadi dasar yang kokoh, yang akan selalu memimpin kita pada hidup yang bijaksana. Permasalahannya adalah: dalam hari-hari kehidupan kita, berapa banyak kita melibatkan Tuhan dalam setiap apa yang kita pikirkan, katakan, dan perbuat?

Sangat jelas di sini bahwa syarat mutlak untuk menjadi seorang yang bijaksana adalah mendengar dan melakukan apa yang difirmankan Tuhan. Inilah langkah yang harus kita tempuh saat ini, yaitu mulai belajar untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Yesus mengajarkan tentang bagaimana membangun sebuah dasar yang kuat dan dasar itu adalah Yesus sendiri, melalui apa yang Ia firmankan. Satu hal lagi yang harus kita pahami adalah bahwa dasar ini berbicara tentang dasar yang teguh dan kekal di dalam Tuhan (bukan hal yang sementara).

Banyak orang Kristen yang tidak menyediakan waktu khusus untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan dengan alasan terlalu sibuk. Tanpa kita sadari sebenarnya kita sedang membangun sebuah dasar yang rapuh dalam hidup kita, yang akhirnya akan membuat kita mudah tergoyahkan imannya ketika menghadapi permasalahan hidup. Ketakutan, kekuatiran yang berlebihan, putus asa, dan bahkan meragukan keberadaan Tuhan, bisa menimpa kita jika tidak memiliki dasar yang kuat.

Oleh karena itu, sudah selayaknyalah kita menyediakan waktu untuk Tuhan secara pribadi. Mulailah untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan, melalui kehidupan doa dan firman yang teratur, sehingga kita bisa peka dengan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan setiap hari. Dengan dasar ini, maka kita akan menjadi pribadi yang bijaksana, yang bisa menjadi berkat bagi orang lain dan memuliakan Tuhan senantiasa.

Hidup bijaksana sangatlah penting terutama dalam menghadapi tantangan di zaman sekarang ini, terlebih di dalam panggilan kita sebagai seorang pendidik bagi anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita. Mungkin di satu sisi kita tidak bisa mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih ini, kita kalah dengan generasi ini dalam hal penguasaan teknologi informasi, penggunaan social media, dll. Akan tetapi, dengan hati yang bijaksana, Tuhan akan senantiasa menuntun dan memberikan hikmat kepada kita untuk mendidik anak-anak kita, terlebih kerinduan kita adalah agar mereka pun memiliki dasar yang teguh di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus.