Rajin

rajin

Oleh: Loura Palyama, guru Agama Kristen SMP

 

Mungkin kita pernah mendengar peribahasa, “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.” Peribahasa ini sudah terbukti dari masa ke masa. Ketika masih sekolah maupun kuliah, barangkali seseorang  memiliki  IQ yang tinggi, namun orang itu malas. Pada gilirannya,  ia tidak berhasil. Sebaliknya orang yang waktu sekolah, barangkali nilainya pas-pasan, tetapi berhasil, karena kerajinannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rajin berarti suka bekerja (belajar dsb); getol; sungguh-sungguh bekerja; selalu berusaha giat; kerapkali; terus-menerus; Suatu kegiatan yang terus dilakukan tanpa mudah menyerah. Dalam Yohanes 5:17 tertulis “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus punya karakter rajin bekerja dan Tuhan juga menginginkan kita mempunyai karakter seperti Dia. Dalam Alkitab, kita tidak akan menemukan tulisan yang menjelaskan bahwa Tuhan Yesus sedang bersantai atau bermalas-malasan atau libur pelayanan mau jalan-jalan dulu. Tuhan Yesus menggunakan waktu yang diberikan Bapa dengan semaksimal mungkin. Ia tidak menyia-nyiakan waktu yang ada, sehingga dikatakan seandainya semua pelayanan Yesus dituliskan maka buku sedunia tidak akan cukup (Yoh. 21: 25).

Kalau kita perhatikan semua orang yang Yesus panggil untuk menjadi mitra kerja-Nya, baik orang terpelajar, maupun orang tidak terpelajar, rakyat biasa, orang kaya, laki-laki atau perempuan, maka kita akan mendapati bahwa mereka adalah orang yang rajin bekerja.

Seringkali banyak orang yang mengerjakan sesuatu namun tidak semangat, loyo-loyo. Dan pada akhirnya, hasilnya tidak maksimal. Untuk itu, perlu kita menyimak apa yang dikatakan seorang psikolog bernama Alan Fine. Ia  mengingatkan kita bahwa manusia normal mempunyai 3 unsur F yang sangat penting untuk terus berkembang. Tiga F itu adalah faith (keyakinan), focus dan fire (api semangat). Kita tidak boleh lupa akan kekuatan ketiga F itu, yang menciptakan dan memproduksi energi kita. Pencapaian tujuan itu tentu membutuhkan kerajinan yang luar biasa.

Dari hal di atas, kita melihat bahwa RAJIN adalah hal yang sangat penting. Sebelum dunia menunjukkannya dalam berbagai filsafat dan pandangan dunia, Tuhan sudah mengatakannya kepada kita. Bahkan dalam firman Tuhan banyak teguran pedas yang diberikan pada orang-orang yang malas. Firman Tuhan dalam Amsal 10:4-5 mengatakan “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu.” Dan para pemalas diminta oleh Salomo untuk belajar kepada para semut, agar tidak terjadi kemalangan kepada diri mereka (Ams. 6:6-11).

Jika kita memperhatikan aktivitas semut, mereka tidak pernah berhenti bekerja. Mereka selalu mengumpulkan makanan yang mereka perlukan. Dan mereka tidak pernah kekurangan makanan, karena mereka selalu menjaga agar suplai makanan selalu tersedia. Demikianlah halnya kita dalam bekerja. Rajinlah bekerja seperti semut, sehingga berkat berkelimpahan akan mendatangi kehidupan kita. Tentunya dengan tidak melupakan persekutuan pribadi kita dengan Tuhan.

Banyak juga umat Tuhan yang mengaku sudah rajin beribadah dan bahkan aktif dalam pelayanan tetapi mereka mengeluh karena tidak pernah berhasil dalam pekerjaan atau usaha yang mereka jalani. Mereka beranggapan bahwa hanya dengan rajin bersekutu dengan Tuhan, maka berkat akan tercurah bagi mereka. Padahal selain hubungan intim dengan Tuhan, Tuhan ingin agar kita juga tetap bekerja dengan giat seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia, sebagaimana yang Paulus katakan dalam Kolose 3:23-24 menuliskan, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya”.

Salah satu tokoh Alkitab yang dapat diteladani dalam hal kerajinannya yaitu Paulus. Rasul Paulus tidak hanya giat dalam pelayanan saja, tetapi dia juga giat dalam bekerja agar tidak menyusahkan orang lain. Dia menjadikan dirinya teladan tidak hanya dalam pelayanan, tetapi juga dalam bekerja untuk menghidupi kebutuhannya. Keseimbangan antara pelayanan dan pekerjaan juga harus diperhatikan, jangan sampai kita hanya mengutamakan satu hal saja tetapi menelantarkan hal yang lainnya. Dengan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan pelayanan, maka kita dapat menjadi terang bagi setiap orang yang ada di sekeliling kita dan menjadi saksi di dalam lingkungan sekuler, di mana banyak orang-orang yang tidak mengenal Tuhan akan melihat kebesaran Tuhan terjadi dalam hidup kita.

Bekerjalah dengan rajin agar kita dapat menjadi saluran berkat untuk banyak orang, bekerja juga dalam memberitakan Injil Tuhan, agar banyak orang yang mendengar tentang keselamatan dan mendapatkan keselamatan itu. Giatlah selalu, rajin dalam bekerja dan rajin dalam memuliakan Tuhan, maka hidupmu akan dipenuhi dengan rasa sukacita.

Metamorfosis Camp

Oleh: Rotua Apriliani Simanjuntak

Metamorfosis Camp adalah camp yang diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan siswa dari jenjang SD dengan karakter responsible memasuki jenjang SMP dengan karakter Caring and Sharing, khususnya karakter belas kasih di kelas VII.

Camp ini diadakan selama dua hari satu malam. Dimulai dari hari Jumat pagi, 3 Februari 2017 sampai Sabtu siang, 4 Februari 2017. Dihadiri oleh guru wali kelas VII dan partner, beserta tim Pengembangan Karakter. Adapun kegiatan yang diadakan adalah membuat tas, pembekalan metamorfosis, talent show, games, memasak, bersih-bersih dan refleksi diri. Dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan tersebut, para siswa dilatih untuk berbagi, bekerja sama, disiplin, taat, mendengarkan, sabar, berani, serta mampu menampilkan talenta yang mereka miliki.

Selama camp diadakan banyak pengalaman baru yang siswa-siswi dapatkan, hingga akhirnya mereka berkomitmen untuk menjadi lebih baik lagi.

 

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

metamorfosis_camp

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab: Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Makna Hidup yang Sesungguhnya

Hidup manusia dikatakan bermakna bukan dari seberapa panjang usianya, tetapi dari nilai-nilai yang ia hidupi selama di dunia. Pertanyaannya: Apakah kita sudah mengisi hidup dengan bijaksana selama di dunia?


Kisah Dua Anak dan Pesan Kebijaksanaan Ayah

Ada sebuah kisah tentang seorang ayah dengan dua anak laki-laki. Sebelum meninggal, ia memberikan sejumlah uang kepada keduanya sambil berpesan:

“Gunakan uang ini baik-baik! Jadikan uang ini sebagai modal usaha, supaya engkau menjadi orang berhasil. Tetapi ingat pesanku ini: jangan sampai kepalamu terkena sinar matahari.”

Setelah sang ayah meninggal, kedua anak itu memulai usaha masing-masing. Anak pertama mengartikan pesan itu secara harfiah — setiap hari ia pergi dan pulang dengan membawa payung agar kepalanya tidak terkena matahari. Namun, meskipun berusaha keras melindungi diri dari panas, usahanya justru bangkrut.

Anak kedua memiliki pemahaman berbeda. Ia tidak membeli payung, tetapi datang lebih pagi ke tempat usaha dan bekerja sampai malam. Ia memahami pesan ayahnya secara bijak: jangan bermalas-malasan hingga matahari tinggi, tetapi bekerjalah rajin sejak pagi. Hasilnya, usahanya berhasil dan berkembang. Ia berhasil karena bijaksana memaknai pesan ayahnya.


Apa Itu Bijaksana?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana berarti:

“Selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan); arif; tajam pikiran; serta hati-hati dalam menghadapi kesulitan.”

Tuhan menghendaki agar umat-Nya memiliki hati yang bijaksana dalam menjalani hidup. Namun, orang bijaksana tidak selalu sama dengan orang berpengetahuan tinggi. Banyak orang berilmu belum tentu bijak, tetapi orang bijaksana tahu bagaimana bersikap benar dalam setiap keadaan.

Orang bijaksana adalah orang yang melihat hidup dari sudut pandang Allah dan mengetahui tindakan terbaik sesuai kehendak-Nya. Ia mengenal isi hati Tuhan dan berusaha hidup sesuai Firman-Nya.


Menjadi Bijaksana Menurut Alkitab

Alkitab mengajarkan prinsip penting dalam Amsal 1:7:

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”

Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan, mengakui bahwa Dialah sumber hikmat sejati, serta menjauhi dosa dan kejahatan. Orang yang takut akan Tuhan akan membenci dosa dan memilih hidup dalam kebenaran.

Contoh nyata dapat dilihat dari tokoh-tokoh Alkitab seperti Henokh, Nuh, dan Ayub. Mereka menjauhi kejahatan bukan karena kesempurnaan diri, tetapi karena mereka menghormati Tuhan di atas segalanya.
Sebaliknya, orang yang tidak takut akan Tuhan — betapapun pandainya — pada akhirnya akan binasa.


Contoh Salomo: Hikmat Tanpa Takut akan Tuhan Membawa Kejatuhan

Raja Salomo dikenal sebagai raja paling bijaksana dalam Perjanjian Lama. Ia memohon hikmat dari Tuhan agar dapat memimpin rakyat dengan benar, dan Tuhan mengabulkan permohonannya.
Namun, di kemudian hari, Salomo kehilangan hati yang takut akan Tuhan. Ia menikahi banyak perempuan asing yang tidak mengenal Allah dan akhirnya ikut menyembah berhala.
Salomo mulai mengandalkan dirinya sendiri, tidak lagi melekat kepada Tuhan. Ia lupa bahwa hikmat sejati berasal dari takut akan Tuhan, bukan dari kepandaian manusia. Akibatnya, hidupnya berakhir dalam kehancuran.


Melekat pada Tuhan dan Mencintai Firman-Nya

Orang yang bijaksana memiliki hati yang melekat kepada Tuhan dan mencintai Firman-Nya. Saat hati Salomo menjauh dari Tuhan, ia berhenti mencintai titah Tuhan dan hidupnya mulai jatuh dalam dosa.
Melekat kepada Tuhan berarti tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan Tuhan tinggal di dalam kita.

Daud menulis dalam Mazmur 119:99-100:

“Aku lebih berakal budi dan aku lebih mengerti, sebab aku merenungkan peringatan-peringatan-Mu dan memegang titah-titah-Mu.”

Daud menjadikan Firman Tuhan sebagai isi pikirannya dan gaya hidupnya. Karena itu, untuk menjadi bijaksana, Firman Tuhan harus menjadi pelita bagi kaki kita (Mazmur 119:105).

Alkitab adalah Firman Allah yang mengajarkan mengapa kita hidup, bagaimana menjalani hidup, dan apa yang harus dihindari agar kita bisa hidup dengan bijaksana di hadapan Tuhan.


Kebijaksanaan Sejati Berasal dari Tuhan

Kebijaksanaan sejati tidak berasal dari ide manusia, tetapi dari Tuhan. Orang yang bijaksana adalah mereka yang takut akan Tuhan, melekat kepada-Nya, dan mencintai serta melakukan Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya sekarang:

Maukah kita menjadi orang yang bijaksana sesuai kehendak Tuhan?

Bijaksana

Siapa yang tidak mengenal kata bijaksana? Tentu kata tersebut bukanlah suatu kata yang baru kita kenal. Bijaksana merupakan kata sifat yang memiliki arti menurut kamus bahasa Indonesia yaitu bertindak sesuai dengan pikiran, akal sehat sehingga menghasilkan perilaku yang tepat, sesuai dan pas, juga pandai dan hati-hati apabila menghadapi kesulitan, dan sebagainya. Biasanya sebelum bertindak selalu disertai dengan pemikiran yang cukup matang sehingga tindakan yang dihasilkan tidak menyimpang dari pemikiran kita. Orang bijaksana tahu hal mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Jadi bisa dikatakan orang bijaksana adalah orang yang mampu mengambil keputusan dengan tepat, baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa memihak secara adil dan obyektif. Sikap seperti ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang, baik itu sebagai pemimpin, pendidik, orang tua, pedagang, atau siapapun.

Kita melihat bahwa banyak orang bermimpi untuk menjadi orang yang terpandang, terkenal, kaya, dan berhasil. Inilah dunia sekarang, dimana setiap individu selalu menilai orang lain berdasarkan apa yang terlihat secara kasat mata dan subyektif. Banyak orang cerdas dan memiliki kecerdasan yang tinggi, namun tidak bijaksana. Mereka menggunakan kemampuannya untuk merugikan banyak orang dan tidak berperilaku adil. Padahal Tuhan menghendaki setiap kita memiliki hati yang bijak dan menjadi pribadi yang bijaksana. Dalam Amsal 3:7 jelas dikatakan “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan”. Apakah kita bisa menilai diri kita sendiri bahwa kita sudah bijak? Biasanya orang lain yang bisa menilainya berdasarkan perkataan, perilaku, dan pemikiran yang mereka lihat dari diri kita sehari-hari.

Apa yang dimaksud dengan bijaksana melalui perkataan? Bijaksana dalam perkataan dimana orang tersebut dapat berinteraksi dengan bahasa yang dimengerti dan direspon oleh semua kalangan, juga mampu melakukannya dengan tenang, tidak buru-buru, dan tegas. Berbicara merupakan komunikasi yang penting dalam menjalin hubungan baik dengan Tuhan maupun sesama. Sebagai seorang pendidik (guru) kita harus menjalin komunikasi dengan orang tua untuk membicarakan tentang perkembangan anaknya, kita perlu sikap yang bijaksana dalam setiap perkataan kita terlebih lagi untuk anak yang berkebutuhan khusus. Begitu juga terhadap anak didik kita sendiri, kita perlu hikmat dari Tuhan untuk dapat menjaga setiap tutur kata kita sehingga setiap kalimat atau perkataan yang keluar dari mulut kita bersifat membangun. Mazmur 39:2 berkata “Aku hendak menjaga diri supaya jangan aku berdosa dengan lidahku”. Firman Tuhan tersebut membahas cara berbicara dan menjaga perkataan kita agar tidak jatuh dalam dosa, juga untuk berkata yang benar sebagai murid Kristus. Sama halnya seorang pemimpin yang menegur bawahannya atau sesama rekan kerja kita. Berilah dampak yang positif dalam perkataan kita dengan baik dan ucapan yang tulus bukan membuat orang tersinggung dan sakit hati.

Bijaksana dalam bertindak, biasanya terlihat saat harus mengambil sebuah keputusan. Salah satu contoh diambil dari kisah Raja Salomo dalam 1 Raja-Raja 3:16-28 dimana Tuhan memberikan hikmat kepadanya dalam mengambil keputusan yang tepat untuk memberikan bayi yang diperebutkan kepada ibunya yang benar.
Kita mungkin pernah mengalami hal yang sama seperti Raja Salomo dengan masalah yang lain. Apa pun masalahnya kita dapat belajar darinya bagaimana bertindak dengan bijaksana, yaitu dengan memohon hikmat dari Tuhan.

1 Raja-Raja 3:9…”Maka berikanlah kepada hambaMu ini hati yang faham, menimbang perkara untuk menghakimi umatMu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umatMu yang sangat besar ini?” Dengan hikmat dari Tuhan, kita akan mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat dan tidak ceroboh, tentunya keputusan/tindakan yang kita lakukan baik dan sesuai dengan kehendakNya.
Dalam mengelola keuangan, kita pun harus memiliki pemikiran yang bijaksana. Kita harus bisa memprioritaskan mana yang utama dan mana yang tidak terlalu penting dilakukan. Kebijaksanaan di sini berhubungan erat dengan pengendalian diri dan menahan hawa nafsu/keinginan. Kita harus menahan diri untuk tidak terpengaruh dengan lingkungan di sekitar kita berada. Senantiasa bersyukur dan mencukupkan dengan kondisi yang ada, tidak berlebih atau kurang tapi cukup.

Jadi untuk dapat menjadi orang yang bijaksana, kita tidak dapat melakukan dengan kekuatan diri kita sendiri, namun harus memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan dengan kerendahan hati kita memohon hikmatnya. Luangkan banyak waktu untuk berdiam diri dan merenungkan firmanNya yang dapat menjadi refleksi hidup kita. Semakin kita menyukai Firman Tuhan, semakin kita dibentuk menjadi pribadi yang bijaksana. Banyak belajar dari buku-buku lain untuk menambah wawasan kita tanpa meninggalkan Alkitab sebagai pegangan utama kita dalam menjalani hidup yang bijaksana. Terus berusaha dan jangan pernah menyerah untuk menjadi baik. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Mazmur 90:12…”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati bijaksana”.

Amin.

Rendah Hati

rendah hati

Kerendahan hati adalah sebuah karakter (sifat) sekaligus sebuah sikap (perilaku). Ia disebut sifat karena ia berada di wilayah pikiran dan hati yang berperan besar dalam menghasilkan perilaku manusia. Ia disebut perilaku karena ia harus terwujud dalam perilaku-perilaku tertentu yang oleh khalayak umum diakui sebagai tanda-tanda kerendahan hati. Kerendahan hati sejati muncul apabila keduanya menyatu dan saling melengkapi seperti dua sisi pada satu koin. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu rendah hati apabila kita tidak melihat perilaku-perilaku rendah hati dalam hidupnya. Sebaliknya, kita juga tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa seseorang itu rendah hati melalui perilaku-perilakunya karena ada kemungkinan sikapnya adalah rekayasa dan bukan merupakan dorongan hatinya.

Di tengah jaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, adalah sangat sulit untuk menemukan orang yang rendah hati bahkan mungkin telah ada keraguan (kalau bukan keyakinan) bahwa kerendahan hati sudah tidak relevan lagi karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan sehingga “rendah hati” ditinggalkan oleh banyak orang. Keinginan semua orang untuk menjadi “seseorang” dan penolakan semua orang menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada desakan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting dan berarti serta mendapat pengakuan dari lingkungan dan masyarakat dan akibatnya terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti. Persaingan ini mendorong orang berlomba-lomba untuk menjadi yang utama. Semua orang ingin menjadi nomor satu.

Pandangan Kristen tentang kerendahan hati sangat jelas. Hal yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri mulai dari kerendahan dalam kelahiran-Nya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidup-Nya dan akhirnya kerendahan dalam pengorbanan-Nya di kayu salib. Kerendahan hati Kristiani juga bersifat paradoks sebagaimana Kristus katakan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:11-12). Yakobus menegaskan ini dalam Yakobus 4:10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”.
Rendah hati adalah tentang mengutamakan orang lain dan menempatkan diri sendiri di posisi yang lebih rendah daripada orang lain. Rendah hati adalah tentang menjadi pelayan orang lain dan “mengosongkan” diri sendiri dan menjadi “bukan siapa-siapa”. Menjadi rendah hati adalah perjuangan seumur hidup. Namun kita tidak perlu kuatir karena kita mempunyai Tuhan yang rendah hati dan berjanji menolong kita menjadi rendah hati seperti Dia.

Ciri pribadi yang rendah hati adalah dengan senantiasa bertanggung jawab serta berani mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus jika melakukan kesalahan, baik yang disengaja atau tidak disengaja sekalipun, atau pada saat menyinggung perasaan orang lain. Pribadi rendah hati yaitu manusia yang sangat peduli dengan perasaan orang lain. Empat tanda bahwa seseorang adalah pribadi yang rendah hati yaitu:
Tidak merasa perlu menyombongkan diri.
Bisa menunjukkan empati.
Senang membuat orang lain bahagia.
Melihat semua orang sama.

Menurut Alkitab, ada beberapa upah yang akan kita peroleh jika kita rendah hati, yaitu: makan dan kenyang, jalannya dibimbing Tuhan, bersuka cita, mewarisi negeri, kesejahteraannya berlimpah-limpah, dimahkotai dengan keselamatan, dikasihani Tuhan, memiliki hikmat, menerima pujian, semangatnya dihidupkan oleh Tuhan, terlindung pada hari kemurkaan Tuhan, dibiarkan hidup, dihibur Tuhan, kehormatan dan kehidupan.

Tokoh Alkitab yaitu Daud memiliki hati yang luar biasa. Dia dikenal sebagai orang yang berkenan di hadapan Allah. Berbagai masalah dilalui Daud dengan penuh penderitaan tetapi juga selalu penuh kemenangan. Kuncinya ada di kerendahan hati yang Daud miliki. Kerendahan hati membuat Tuhan berkenan kepada kita. Dia melihat orang-orang yang rendah hati dan mencurahkan berkat-Nya bagi mereka.

Bagaimana menjadi rendah hati? Kita semua sedang belajar untuk itu. Perenungan yang terus-menerus akan anugerah keselamatan yang sudah Bapa berikan melalui Yesus Kristus kepada kita seharusnya bisa menjadi dasar yang kuat sekali untuk kita menjadi rendah hati. Kita “bukan siapa-siapa” tetapi kita diselamatkan-Nya. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tak henti-hentinya bersyukur. Selama kita meyakini bahwa menjadi yang utama di antara orang lain adalah tujuan hidup, selama itu juga kita akan gagal menjadi rendah hati. Marilah kita bersama-sama terus belajar rendah hati sehingga melalui hal tersebut kita boleh menyenangkan hati Allah dan nama Tuhan dipermuliakan.

(Oleh: Endang Ninanta, guru SD)

Tertib

Dalam bahasa Indonesia, kata ‘tertib“ bisa berarti teratur; aturan; rapi; peraturan yang baik. Sedangkan kata “tertib” dalam bahasa Yunani adalah taksis, bisa berarti urutan tetap, pengalihan kekuasaan yang berurut (untuk imam), ketertiban, keteraturan (seperti dalam I Korintus 14:40, segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur), sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.

Dari surat Paulus kepada jemaat di Korintus kita mendapat pemahaman bahwa Allah yang kita kenal adalah Allah yang menghendaki ketertiban. Karena itu kepada jemaat Tesalonika yang tidak tertib ia menasehati  “Saudara-saudara, tegurlah mereka yang hidup dengan tidak tertib” (I Tesalonika 5:14). Kata ‘tidak tertib’ dalam bahasa Yunani adalah ataktos. Kata ini dalam bahasa Indonesia artinya adalah malas, mengacu pada orang yang tidak mau bekerja dan suka mencampuri urusan orang lain (periergazomai, mengerjakan yang sia-sia/hal-hal yang tidak berguna; mereka sibuk tetapi tidak melakukan apa-apa; mereka sibuk dengan hal-hal yang bukan urusannya sendiri), tidak disiplin, tidak mengikuti peraturan, pemberontak (II Tesalonika 3:11). Mereka aktif bahkan hiperaktif tetapi tidak produktif.

Dengan demikian, ketika kita hidup secara tidak teratur, maka sebenarnya kita sedang menjalani hidup yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebagaimana dalam hal kemalasan, ada banyak orang beranggapan itu hanya sebuah sifat yang menjadi kekurangan dan tidak melihat sebagai dosa, banyak orang percaya yang juga berpikir bahwa hidup tidak tertib itu bukanlah dosa. Namun, ketika kita memahami bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka kita mengerti bahwa hidup tidak tertib sebenarnya adalah melawan kehendak Tuhan, melenceng dari tujuan Allah, dan itu artinya dosa.

Semua yang diciptakan Tuhan itu tertib. Amsal 30:27 mengajarkan agar kita belajar dari belalang yang  walaupun tidak ada raja atau atasannya, mereka sangat tertib, berangkat dan pergi bisa bersama-sama dengan teratur sekali. Begitu juga orang yang dewasa (matang rohaninya) akan hidup tertib, sebab ia hidup takut akan Allah dan taat akan Firman-Nya. Sekalipun tidak ada pengarah, supervisor atau orang yang mengawasinya, ia tetap hidup kudus dan taat akan Firman Tuhan seperti belalang ini.

Ketertiban orang percaya bukanlah karena sistem atau taat pada perintah pimpinan, tetapi karena takut, cinta akan Tuhan. Ia  ingin diperkenan Tuhan sehingga berjuang untuk hidup tertib dan baik. Inilah yang  harus terus dikembangkan dan ditingkatkan yaitu tertib karena Tuhan. Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa (Kol 3:17). Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”  (2 Timotius 1:7).

Dengan demikian sesungguhnya hidup tertib bukan hanya cerminan bahwa kita adalah orang-orang yang telah dilahirbarukan oleh Allah, dimana salah satu buktinya adalah mau menaati kehendak Tuhan untuk hidup tertib, tetapi juga sekaligus itu merupakan bentuk ucapan syukur dan kasih kita kepada Tuhan.

Dalam hal apa saja kita perlu hidup tertib? Dalam segala aspek kehidupan. Tertib pada peraturan yang berlaku secara lisan ataupun tidak lisan, selama itu tidak bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan, tertib dalam perjanjian, tertib waktu, tertib dalam pengelolaan keuangan, dan seterusnya. Marilah kita bersama-sama terus belajar dan bertumbuh dalam hidup tertib sehingga melalui hal tersebut kita boleh menyenangkan hati Allah dan nama Tuhan dipermuliakan.

(Oleh: Ruth Irene Chandra, staf Pengembangan Karakter)

Jujur

Jujur

Allah adalah kebenaran dan satu-satunya kebenaran yang mutlak. Sebagai anak Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, maka Allah menginginkan agar kita anak-anak-Nya menjadi orang yang jujur, baik dalam pikiran, perkataan, maupun dalam tindakan kita dengan menjaga hati kita tetap murni (Kis 24:16).

Namun, di dalam menumbuhkan karakter jujur ada beberapa pandangan yang salah dan harus dilihat kembali dalam terang Firman Tuhan sehingga kita sebagai anak-anak-Nya dapat berhati-hati agar tidak terjebak di dalamnya. Beberapa pandangan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Orang yang jujur akan rugi

Semakin lama kejujuran semakin langka kita temukan di dunia ini, karena banyak anggapan bahwa “orang jujur hidupnya sulit jadi kalau mau hidup untung, nyaman dan tidak sulit buat apa jujur?”
Tetapi tahukah kita bahwa banyak sekali firman Tuhan yang diberikan kepada orang yang mau berlaku jujur; seperti “orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.” (Amsal 11:6)
“Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan; tetapi pendurhaka-pendurhaka akan dibinasakan bersama-sama, dan masa depan orang-orang fasik akan dilenyapkan.” (Mazmur 37:37-38)
Sebaliknya Firman Tuhan di dalam Yesaya 28:17 yang memaparkan Tuhan ALLAH akan menyapu bersih perlindungan kebohongan. Artinya orang yang percaya bahwa kebohongan adalah sesuatu yang kuat, menguntungkan, melindungi, sekali waktu ia akan menyadari bahwa semua itu akan dibongkar oleh Tuhan. Sebaliknya, orang yang jujur akan dibela oleh kebenarannya.

2. Itu bukan bohong tapi cerdik

Firman Tuhan yang berkata, “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati,” seringkali disalahartikan oleh mereka karena kurang paham akan maknanya. Kata cerdik sering diganti menjadi licik dan menipu, padahal bukan itu yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus. Sebab kata cerdik yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah gesit dalam pengertian banyak akal/idenya, banyak usahanya, kreatif, dan tidak mudah putus asa. Lebih jauh lagi, kecerdikan ini tidak berdiri sendiri, tetapi harus disertai oleh ketulusan. Tulus di sini artinya benar, jujur, dan baik. Jadi ayat ini tidak dapat digunakan untuk membenarkan perbuatan-perbuatan licik atau penipuan. Harus diingat bahwa prinsip Firman Tuhan adalah ya katakan ya, tidak katakan tidak, selebihnya itu asalnya dari si jahat.

3. Berbohong demi kebaikan

Adapula anggapan bahwa kita boleh berbohong dengan tujuan untuk kebaikan orang lain atau bersama bahkan diri sendiri. Prinsip seperti ini jelas tidak dikenal di dalam kehidupan Kristiani. Bohong adalah bohong, seberapa kecil pun bohong itu. Bohong tidak dapat menjadi bohong putih karena ia berguna bagi seseorang. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa:

a. Hal yang baik tidak mungkin timbul dari hal yang jahat
“Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” (Roma 3:8)

b. Dusta tidak mungkin berasal dari kebenaran
“Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.” (1 Yohanes 2:21)

c. Mata air tidak dapat memancarkan air tawar dan air pahit sekaligus
“Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.” (Yakobus 13:11-12). Jadi, dari kebohongan tidak akan dapat menghasilkan kebaikan.

d. Kebohongan berasal dari si jahat
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat (Matius 5:37).

Berdasarkan pemaparan di atas kita belajar bahwa hidup jujur dilakukan karena kita adalah gambar dan rupa Tuhan disertai dengan hati yang takut akan Tuhan.Selain itu tidak ada kebenaran yang berasal dari kebohongan sekecil apapun itu.  Semangat hidup jujur, Tuhan memberkati.

(Sumber: Buku “Bertumbuh dalam Karakter Baru”, karya Erich Unarto)

Kejujuran

Kejujuran

“Jika ya hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”.
(Mat 5:37).

Kejujuran merupakan sebuah bagian kehidupan yang semakin langka untuk didapati. Mencari orang yang jujur dan tulus hari ini sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tipu-menipu, manipulasi dan sejenisnya terdapat hampir di semua lini. Orang tidak lagi malu dalam menipu. Jangan-jangan nanti malah orang jujur yang terlihat aneh. Orang semakin tidak takut melakukan kecurangan, orang semakin cenderung berpikir pendek hanya memikirkan kenikmatan sesaat tanpa peduli resiko. Semakin banyak orang yang hidup penuh kecurangan dan semakin tidak tulus dalam memuji. Banyak orang saat ini yang hanya memuji atau mengatakan sesuatu yang baik karena ada motif-motif tertentu di belakangnya.

Alkitab sendiri mengatakan “Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak” (Yak 5:12).  Ayat ini menegaskan  bahwa Allah adalah kebenaran dan satu-satunya kebenaran yang mutlak. Segala sesuatu yang benar datang dari Tuhan dan yang tidak benar disebut dusta, dusta berasal dari yang jahat (Yoh 8:44).

Berikut adalah definisi kejujuran yang diambil dari Encyclopedia Wikipedia: “Jujur adalah sikap moral (dalam perkataan maupun perbuatan) yang mengandung atribut berharga berupa kebenaran, integritas, kesatuan antara tindakan luar dan hati, dan sikap lurus yang berarti juga absennya kebohongan, penipuan, dan pencurian.” Dengan kata lain, jujur adalah sebuah sikap moral dalam perkataan maupun perbuatan yang di dalamnya terkandung kebenaran yang utuh, kesamaan antara tindakan luar dan hati (tanpa topeng), dan sikap yang lurus di mana pada pribadi tersebut tidak melakukan kebohongan, penipuan, dan pencurian.

Artinya kejujuran adalah sesuatu yang utuh; ¼ jujur,  ½ jujur, atau ¾ jujur sekalipun adalah tidak jujur, karena jika seseorang berkata ½ jujur, berarti ada ½  dari informasi tersebut yang merupakan kebohongan. Tidak ada kebohongan di dalam kejujuran.  Itu sebabnya yang namanya kejujuran selalu berkualitas- tanpa mengenal level kualitas. Jujur berarti berpikir, berkata-kata dan bertindak sesuai dengan apa yang sebenarnya dengan hati yang murni, bukan dengan hati yang palsu dengan manipulasi, melebih-lebihkan atau mengurangi sesuatu untuk maksud mencari keuntungan atau merugikan orang lain. Jujur harus dilakukan secara konsisten, di mana pun, kapan pun, dengan siapa pun dalam kondisi apapun, sehingga orang yang jujur akan tetap jujur walaupun hal itu akan beresiko baginya. Orang-orang jujur juga tidak akan mengijinkan praktek-praktek ketidakjujuran terjadi.

Ajaran Kristus tidak mengenal kejujuran kualitas nomor dua, kejujuran kualitas nomor tiga, nomor empat, dan sebagainya. Jujur hanya memiliki satu kualitas, yaitu kualitas nomor satu. Hanya “nampak” jujur – bukanlah kejujuran, karena itu berarti ada kebohongan di baliknya.

Mengapa masih banyak orang-orang yang mengaku mengenal Kristus, mengenal Firman Tuhan  masih saja sulit hidup jujur,  tidak mau memulai komitmen untuk jujur, apalagi menanggung resikonya?  Karena tidak mempercayai janji penyertaan Tuhan bagi orang-orang jujur. Mereka lebih mempercayai kebohongan dunia bahwa orang jujur pasti melarat, pasti tertinggal di belakang. Kadang kala jalan yang ditempuh oleh orang jujur untuk sementara penuh onak dan duri. Tetapi, hasil akhirnya TUHAN Allah mendatangkan kemenangan yang besar bagi orang-orang jujur.

Suatu hari ada seorang pimpinan perusahaan yang sedang mencari orang untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin. Maka ia mengumpulkan semua karyawan dan memberi bibit tanaman untuk dirawat. Setiap orang menerima satu bibit tanaman. Setelah beberapa minggu masing-masing orang saling bercerita tentang perkembangan bibit tanamannya ada yang mulai tumbuh tunas, dan ada yang mulai berbunga. Sementara seorang karyawan bernama Jimmy tidak menemukan perkembangan pada bibit tanamannya, padahal dia sudah menyiram, memupuk, dan merawatnya dengan baik setiap hari. Setelah hampir satu tahun sang pimpinan mengumpulkan semua karyawan dengan membawa tanamannya. Jimmy tidak ingin pergi hari itu karena tidak ada perkembangan apapun pada bibit tanamannya. Akhirnya dia pergi juga dengan hati yang sedih, dengan muka tertunduk malu, karena inilah waktunya ia akan kehilangan pekerjaannya. Semua karyawan yang lain telah membawa tanaman yang indah dan tumbuh subur, hati Jimmy semakin ciut. Tibalah waktunya sang pemimpin mengumumkan siapa yang berhak menggantikan posisinya. “Saya telah menemukan orang yang tepat, orang yang rajin dan ulet, yang menyiram, memupuk dan merawat tanaman dengan baik…., (Jimmy semakin tertunduk malu), dan orang yang berhak menggantikan posisi saya adalah…..  Jimmy, semua kaget. Ternyata sang pimpinan memberi bibit tanaman yang sudah direbus terlebih dahulu, sehingga bibit itu tidak mungkin bertumbuh. Kejujuran mendatangkan berkat yang luar biasa – Yesaya 33:15-16. Orang jujur hidupnya dijamin oleh TUHAN Allah. Di mana ada kejujuran, maka TUHAN Allah akan memerintahkan berkat-berkat-Nya ke dalam perbendaharaan atau ke dalam lumbung-lumbung atau ke dalam pundi-pundi orang-orang jujur.

Beberapa tahun yang lalu saya mengikuti kegiatan orientasi staf selama  kurang lebih satu bulan, dan dana dikumpulkan dari orang-orang yang bersedia mendukung. Setelah dana sudah cukup, ternyata masih ada dana yang masuk ke rekening saya. Pada saat itu ada keinginan untuk diam, toh tidak ada yang tahu…, tapi hati saya sangat gelisah dan akhirnya memberitahu kepada pimpinan, bahwa ada sejumlah uang yang masuk ke rekening saya. Setelah saya jujur, ada suka cita yang melimpah di hati saya. Seringkali yang membuat kita tidak jujur bukan karena kejujuran itu merugikan sama sekali, melainkan karena kita menginginkan lebih dari yang seharusnya.  Jika kita menginginkan sesuatu lebih dari seharusnya hingga kita berdusta/mencuri, maka pertanyaannya, siapa/apa yang ada di hati kita? Tuhan atau sesuatu yang lain (uang/benda/kesenangan) yang sedang kita kejar?

Kejujuran berkaitan dengan siapa penguasa hati kita.  Jika Tuhan adalah raja di hati kita, maka tidak sulit untuk membuat komitmen hidup jujur. Sebuah komitmen berarti sesuatu yang dilakukan kapan saja, di mana saja, terhadap siapa saja, tidak bergantung sikon (situasi kondisi).  Maukah kita membiarkan Tuhan yang sudah kita kenal itu, untuk sungguh-sungguh menjadi raja di hati kita, hingga kita dapat berkomitmen hidup jujur?  Marilah kita belajar untuk hidup jujur dan dalam ketulusan. Patut diakui bahwa untuk hidup jujur memang tidak gampang, sungguh butuh iman untuk dapat hidup jujur.   Kejujuran dibangun dengan mempercayai janji Tuhan. Kejujuran datang dari hati yang takut akan Tuhan (Ams 14:2). Bagaimana dengan kita? Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup jujur. Soli Deo Gloria.

 

(Oleh: Martha Sirait, guru Agama SMA)

Si Kecil yang Rajin (Amsal 6:6-11)

 

karakter_rajin

 

Ada perbedaan yang mencolok antara orang rajin dan malas. Alkitab menggambarkan pemalas sebagai seorang yang “senang tidur, mengantuk, berbaring, dan melipat tangan” (ay.10). Ia membiarkan dirinya dikuasai oleh sikap malas. Ia membiarkan waktu berlalu tanpa berbuat apa-apa. Prinsip hidupnya berbunyi: “sebentar lagi”. Dengan kata lain ia terus menerus menunda-nunda tiap kesempatan yang datang. Ia terbenam dalam mimpi-mimpinya, sehingga tanpa sadar, dengan cepat waktu berlalu. Barulah ia menyadari bahwa ia sudah ketinggalan jauh.

Apa yang terjadi dengan hidupnya kemudian? “Kemiskinan datang seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang bersenjata.” Ia dikuasai oleh kemiskinan. Ia terjebak oleh kemiskinan, dan pada saat itu ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena kesempatan sudah lewat.

Sebaliknya, untuk menjadi seorang yang rajin seseorang perlu belajar kepada semut. Kehidupan semut menjadi sebuah gambaran sebuah tindakan rajin yang perlu dilakukan kita semua. Belajar rajin harus dimulai semenjak kecil. Sewaktu masih kecil, anak-anak harus diingatkan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Satu demi satu pekerjaan dikerjakan hingga selesai karena permintaan orang lain. Sedangkan dalam dunia pekerjaan, banyak orang dewasa juga menyelesaikan tanggung jawabnya karena diawasi oleh sang bos.

Seorang yang rajin tidak membutuhkan seseorang untuk mengingatkan, mengawasi, mendikte, maupun memerintahkan apa yang harus diselesaikan. Meskipun tanpa ada  yang mengawasi, dia akan menyelesaikan semua pekerjaan maupun tanggung jawabnya. Seorang yang rajin itu menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan dirinya bukan hanya pada masa kini namun berefek pada masa depannya.

Ayat 7 menggambarkan semut-semut yang bekerja dengan “tidak ada pemimpin, pengatur, atau penguasanya.” Mereka tidak berpangku tangan menunggu perintah, atau baru bertindak jika disuruh. Mereka menyadari adanya suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, yaitu mengumpulkan makanan. Itulah sebabnya mereka bekerja sama memenuhi kebutuhan tersebut.

Selanjutnya, seorang yang rajin menyelesaikan apa yang telah dimulai dan tahu apa yang dilakukan berguna untuknya. Seorang yang rajin tidak pernah menunda-nunda kesempatan yang ada. Ketika kesempatan datang, seorang yang rajin akan memanfaatkan kesempatan tersebut sehingga ia mendapatkan keuntungan yang maksimal. Ayat 8 menggambarkan semut-semut “menyediakan roti di musim panas, mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” Waktu untuk mencari makanan ternyata sangat terbatas dan tidak bisa datang setiap waktu. Semut-semut menggunakan kesempatan mencari makan itu karena mereka tahu jika kesempatan ini disia-siakan, maka kesempatan itu akan lewat dan mereka bisa mati kelaparan.

Kita semua memiliki waktu yang sama: dua puluh empat jam sehari. Namun cara kita menggunakannya berbeda. Sukses atau tidaknya kita di masa depan ditentukan oleh bagaimana kita menggunakan waktu kita hari ini.

(Oleh: Daniel Santoso Ma, staf Kerohanian, disadur dari Seri Bintang Gaya Hidupku)

Tetap Bersyukur dalam Keadaan Apapun

Bersyukur

Apakah alasan kita mengucap syukur kepada Tuhan? Mungkin seribu alasan dapat kita ucapkan: “Dipromosikan naik jabatan; omsetnya bertambah, sembuh dari penyakit, anak naik kelas, menang undian berhadiah, dan lain-lain”. Coba perhatikan alasan-alasan yang kita ucapkan. Semua alasan didasarkan hanya pada kondisi baik yang kita alami. Dapatkah kita mengucap syukur di kala hidup kita sedang berada di titik terbawah kehidupan? Dapatkah kita berterima kasih ketika semuanya sedang meninggalkan kita?  Sanggupkah kita bersyukur untuk setiap ujian hidup yang kita alami?
Kepada jemaat di Tesalonika, Paulus mengingatkan agar mereka selalu mengucap syukur. I Tesalonika 5:18 berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.  Menariknya, kondisi jemaat di Tesalonika waktu itu bukanlah dalam keadaan baik. Jemaat Tesalonika tidak dalam keadaan berlimpah, maupun aman. Banyak tantangan yang dialami oleh jemaat di Tesalonika sebagai jemaat yang mula-mula. Penganiayaan, curiga, tentangan dari orang-orang Yahudi akan keberadaan mereka dialami secara nyata oleh jemaat di Tesalonika.
Jika melihat keadaan lahiriah mereka pada waktu itu, maka sangatlah lumrah jika jemaat di Tesalonika mengeluh,  bersungut-sungut, maupun menutup diri. Namun, kenyataannya sungguh berbeda dimana jemaat di Tesalonika tetap hidup dalam pengharapan dan sukacita di dalam Tuhan. Dan Paulus menegaskan bahwa melalui ucapan syukur jemaat di Tesalonika semakin dikuatkan imannya menghadapi tantangan yang ada.
Melalui I Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”,  kita belajar tentang tiga hal:

  • Pertama, perhatikan frasa “dalam segala hal”. Paulus ingin menegaskan bahwa baik kondisi pribadi maupun keadaan sekitar kita tidak boleh menjadi acuan dalam mengucapkan syukur. Jika keadaan saya baik, tidak ada masalah dan bahkan diberkati, barulah saya mengucap syukur. Paulus ingin memperluas cara berpikir kita mengenai alasan bersyukur. Paulus mengganggap penderitaan, penganiayaan, penolakan, dan bahkan kematian sekalipun dapat menjadi alasan bagi setiap orang Kristen untuk bersyukur. Bagi Paulus, justru dalam hal-hal yang buruk sekalipun kuasa Allah bekerja menopang kita.
  • Kedua, perhatikan frasa “dikehendaki Allah … bagi kamu”. Rupa-rupanya, kehidupan yang bersyukur bukan hanya sekedar ciri atau karakteristik hidup Kristiani. Namun, hidup bersyukur merupakan sebuah kehidupan yang diinginkan Allah bagi umat-Nya. Pada dasarnya, Allah selalu menghendaki hidup yang baik bagi umat-Nya. Namun, hidup dikatakan baik oleh Allah tidak selalu ditandai oleh keadaan jasmani/fisik yang baik pula. Yang menjadi kunci dalam hidup bersyukur adalah kondisi hati yang dapat menerima apapun. Kondisi hati inilah yang menjadi fokus bagaimana Allah mendidik kita. Keadaan yang kurang baik, ataupun buruk tidak boleh mempengaruhi kondisi hati kita yang harus selalu tertuju kepada Allah; menerima yang baik maupun yang kurang baik terjadi dalam hidup kita.
  • Ketiga, perhatikan frasa “di dalam Kristus Yesus”. Konsep mengucap syukur  haruslah berdasar pada diri Tuhan Yesus. Tidak ada berkat yang lebih besar dari apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus di kayu salib: pengorbanan yang sempurna. Sehingga jika kita mencari-cari alasan untuk bersyukur, maka alasan yang paling utama dalam kita bersyukur adalah mensyukuri karya keselamatan dalam Tuhan Yesus. Berkat lainnya sebenarnya hanyalah tambahan belaka karena yang terutama telah dianugerahkan oleh Allah melalui Tuhan Yesus.

Jadi apakah alasan kita memiliki hidup bersyukur? Yang terutama bukanlah materi dan berkat, namun keselamatan yang Allah kerjakan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Mari kita selalu hidup bersyukur. Tuhan memberkati.

(Oleh: Daniel Santoso Ma, Bagian Kerohanian Sekolah Athalia)