Menabur Sukacita

Sukacita sejati tidak ditentukan oleh kondisi luar. Baik dalam kelimpahan maupun dalam pergumulan, sukacita tetap bisa hadir dalam hati kita. Dalam masa yang penuh tantangan ini, sukacita menjadi kekuatan yang menjaga hati tetap tenang dan penuh harapan. Alih-alih melihat suatu hal dari sisi negatifnya, kita akan melihat sisi positifnya. Dalam video “Menabur Sukacita” ini, Bu Charlotte memberikan inspirasi agar kita dapat menumbuhkan sukacita di dalam keluarga.

Ketika orang tua bersikap positif dan penuh syukur, anak-anak pun ikut merasakan damainya suasana rumah. Sukacita yang terpancar bukan hanya mencerahkan hari diri sendiri, tetapi juga menularkan semangat kepada orang-orang di sekitar kita. Meski menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau situasi tak menentu, kita tetap bisa memberikan sukacita dengan kata-kata penguatan, senyuman, dan tindakan kasih yang sederhana. Mari simak 3 tips dan trik menciptakan sukacita di rumah melalui video ini!

Menabur sukacita bukanlah perkara mudah, namun hal ini dapat dilatih. Ajak keluarga untuk memulai hari dengan doa, pujian, atau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri. Jadikan sukacita sebagai budaya dalam rumah. Ingat, hati yang bersukacita adalah sumber kekuatan. Sudahkah Anda menabur sukacita hari ini?

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)

Baca Juga : Liburan di Rumah Bebas ‘Drama’

tags :

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #videoparenting #tipsparenting #parenting #dirumahaja #homelearning #familyfirst # familytime

Music: www.bensound.com – LEBIH SEDIKIT

Rendah Hati: Kunci Utama Membangun Relasi

rendah hati

Orang tua yang memiliki anak remaja sering kali menghadapi masa-masa sulit dalam membangun komunikasi dengan anaknya. Masa remaja dikenal sebagai fase terjadinya perubahan besar, baik secara emosional, psikologis, maupun sosial. Sikap remaja yang cenderung cuek, lebih suka bergaul dengan teman sebaya, dan tampak enggan mendengarkan nasihat orang tua kerap memicu ketegangan di rumah. Kondisi ini semakin terasa di masa kini, ketika situasi membuat anak dan orang tua harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama di rumah, bahkan hingga 24 jam penuh.

Dalam situasi seperti itu, friksi kecil dapat dengan cepat berubah menjadi konflik yang lebih besar. Ketika orang tua merasa tidak dihargai dan anak merasa dikekang, jarak emosional di antara keduanya bisa semakin melebar. Jika tidak ditangani dengan bijak, hubungan yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh bagi anak justru bisa menjadi sumber luka batin. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mencari pendekatan yang tidak hanya memperbaiki perilaku anak, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dan kuat.

Lantas, apa yang dapat dilakukan oleh orang tua agar relasi dengan anak tetap terjaga, bahkan bertumbuh, tanpa harus merusak kepercayaan yang sudah ada?

Rendah Hati, Kunci Utama Membangun Relasi

Dalam video singkat ini, Ibu Charlotte Priatna mengajak para orang tua untuk mengasah karakter rendah hati. Rendah hati bukan berarti menyerah atau mengabaikan prinsip yang benar. Sebaliknya, rendah hati adalah kesiapan untuk membuka diri, mengakui kelemahan, dan bersedia belajar dari kesalahan, termasuk dalam berelasi dengan anak. Dengan sikap rendah hati, orang tua tidak lagi hanya fokus menuntut anak untuk berubah atau introspeksi. Orang tua pun mau melakukan evaluasi diri: apakah cara berkomunikasi yang diterapkan sudah membangun? Apakah sikap kita sudah cukup memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri? dan lain sebagainya.

Siapkah kita, sebagai orang tua, untuk terus belajar dan bertumbuh?

Baca Juga : Kiat-Kiat Mendampingi Remaja Saat Menghadapi Masalah

Tags:

#tipsparenting #videoparenting #dirumahaja #belajarparenting #belajarkarakter #rendahhati #relasiorangtuadananak #parenthood #sekolahkarakter #sekolahathalia #characterbasedlearningcommunity #rightfromthestart

Music: www.bensound.com

Jangan Marah Dulu! Simak Cara Melatih Kesabaran

Shalom Bapak/Ibu dalam Komunitas Athalia. Bagaimana kabarnya selama #dirumahaja? Sebelum mulai, mari renungkan hal ini sejenak. Dalam kesibukan dan kepenatan di masa pandemi ini, seberapa sering kita mengingat pentingnya kesabaran dalam menjalani hari bersama keluarga?

Pandemi Covid-19 membuat banyak keluarga beraktivitas sepenuhnya di rumah. Awalnya mungkin terasa menyenangkan, tapi lama-kelamaan rutinitas yang monoton bisa menimbulkan rasa jenuh dan bahkan membuat orang tua kehilangan kesabaran. Anak-anak yang aktif sering bertengkar karena berebut remote TV, meminta perhatian terus-menerus, dan membuat rumah terasa kacau.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian ini, kesabaran adalah kunci utama. Kita perlu menyadari bahwa anak-anak juga sedang berjuang menghadapi ketidakpastian. Mereka belum bisa mengelola emosi seperti orang dewasa. Sebagai orang tua, kita ditantang untuk lebih bijak, bukan hanya dalam mengatur rutinitas, tetapi juga dalam mengelola diri sendiri.

Alih-alih terpancing emosi, mari belajar mengatur ulang ekspektasi dan memperbanyak momen kebersamaan yang penuh kasih. Latihan kesabaran bukan berarti menahan amarah saja, tetapi hadir secara utuh, mendengarkan lebih banyak, dan menciptakan suasana rumah yang aman secara emosional. Inilah kesempatan emas untuk memperkuat ikatan batin dengan anak dan membentuk karakter mereka melalui keteladanan yang penuh cinta.

Mari kita jadikan masa ini peluang untuk bertumbuh dalam kesabaran. Tonton kembali video di atas bersama pasangan atau komunitas Anda dan renungkan, “Apakah aku sudah menunjukkan kasih dan kesabaran hari ini?

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Tags : 

#parenting #tipsparenting #videoparenting #charlottepriatna #karaktersabar  #sekolahathalia #sekolahkarakter #rightfromthestart #covid19 #dirumahaja #sekolahdirumah #belajardirumah #physicaldistancing #psbbtangsel