13 Tips untuk Mengatasi Kemalasan

Kemalasan sepertinya sudah mendarah daging dalam diri manusia. Namun tetap saja hidup yang penuh dengan kemalasan tidak akan dapat membawa kebaikan. Khususnya saat kita bekerja. Apakah kita dapat mengalahkan kemalasan dan memberi diri yang terbaik untuk menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita? Berikut ini adalah 12 tips mengatasi kemalasan yang dapat membantu kita melawan kemalasan dalam diri.

1. Break down a task into smaller tasks

Kita seringkali menghindari tugas karena kita melihatnya terlalu besar, terlalu membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Memecah tugas menjadi tugas-tugas sederhana dapat mengatasi hal ini. Maka setiap tugas tidak akan terlihat terlalu sulit atau mengintimidasi. Daripada langsung mengerjakan satu tugas besar, kita dapat menyelesaikan tugas-tugas kecil yang tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga. Pendekatan ini dapat diaplikasikan tak hanya dalam mengerjakan tugas, tetapi juga tujuan atau capaian lain yang perlu kita lakukan. Hal ini cenderung dapat mengurangi kemalasan yang sering kita rasakan.

2. Rest, sleep and exercise

Dalam kasus tertentu, kemalasan dapat diakibatkan kelelahan dan kekurangan energi. Jika hal ini yang terjadi, kita perlu beristirahat dan juga memberikan tubuh latihan yang cukup serta udara yang segar.

3. Motivation

Dalam kasus tertentu, alasan dari kemalasan adalah karena kurangnya motivasi. Kita dapat memperkuat motivasi melalui afirmasi/penegasan, visualisasi dan pikiran mengenai pentingnya melakukan dan mengerjakan tugas untuk mencapai tujuan.

4. Have a vision of what and who you want to be

Seringkali dengan merefleksikan diri pada sosok ideal kita, tujuan yang kita ingin capai, kehidupan yang kita inginkan, dapat memotivasi kita untuk memulai aksi kita.

5. Think about benefits

Pikirkan keuntungan-keuntungan yang akan kita raih bila kita mengatasi kemalasan dan mulai bekerja, dari pada berpikir mengenai kesulitan dari tugas-tugas yang ada. Fokus pada kesulitan dari tugas dapat membuat kita menjadi lemah dan putus asa, ingin menghindar dan malas. Penting untuk kita memfokuskan pikiran dan perhatian pada hal yang positif dan tidak fokus pada hal-hal yang menyulitkan/menghambat.

6. Thinking about the consequences

Pikirkan mengenai apa yang akan terjadi bila kita mengalah pada kemalasan dan tidak melaksanakan tugas kita. Pikiran mengenai konsekuensi ini dapat mendorong kita juga untuk mulai mengerjakannya.

7. Doing one thing at a time

Fokuslah untuk mengerjakan satu hal di satu waktu. Jika kita merasa ada banyak hal yang harus dilakukan kita mungkin akan langsung merasa terbanjiri tugas dan membiarkan kemalasan menguasai kita dimana seharusnya kitalah yang menguasai kemalasan kita.

8. Visualization

Imajinasi kita memiliki pengaruh yang besar pada pikiran, kebiasaan dan sikap kita. Visualisasikan diri kita mengerjakan tugas dengan mudah dan penuh semangat. Lakukan hal ini sebelum memulai satu tugas dan juga ketika merasa malas atau ketika pikiran berbisik pada kita untuk meninggalkan tugas-tugas.

9. Repeat affirmations

Katakan pada diri sendiri:

“Saya dapat mencapai tujuan dan target saya.”

“Saya memiliki energi dan motivasi untuk bekerja dan melakukan apa yang saya inginkan.”

“Mengerjakan sesuatu membuat saya lebih kuat.”

“Melakukan sesuatu membuat semua mungkin tercapai.”

10. Regards a task as an exercise

Anggaplah setiap tugas sebagai latihan untuk membuat kita lebih kuat, lebih meyakinkan dan lebih tegas.

11. Procrastination

Hindari penundaan yang merupakan salah satu bentuk kemalasan. Jika ada hal yang harus dilakukan, mengapa tidak melakukannya sekarang dan menyelesaikannya? Kenapa membiarkannya mengganggu pikiran kita?

12. Learn from successful people

Lihatlah orang-orang yang sukses, dan bagaimana mereka tidak membiarkan kemalasan menang. Belajarlah dari mereka, bicara pada mereka dan asosiasikan diri dengan mereka.

13. Pray

Satu hal yang tak boleh kita lupakan saat bekerja adalah memulainya dengan doa. Jika kita percaya bahwa setiap pekerjaan berasal dari Tuhan dan untuk Tuhan saja maka tentunya kita dapat lebih termotivasi untuk menyelesaikannya. Bersandarlah dan minta pertolongan pada Tuhan saat pikiran dan kemalasan menghinggapi diri kita.

Dari tips mengatasi kemalasan di atas, mana yang paling mudah untuk dipraktekkan?

Diterjemahkan dari     : www.successconsciousness.com/overcoming-laziness.html-LDS

“Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga,”

Amsal 12:27

Baca juga: Rajin

Si Kecil yang Rajin (Amsal 6:6-11)

 

karakter_rajin

 

Ada perbedaan yang mencolok antara orang rajin dan malas. Alkitab menggambarkan pemalas sebagai seorang yang “senang tidur, mengantuk, berbaring, dan melipat tangan” (ay.10). Ia membiarkan dirinya dikuasai oleh sikap malas. Ia membiarkan waktu berlalu tanpa berbuat apa-apa. Prinsip hidupnya berbunyi: “sebentar lagi”. Dengan kata lain ia terus menerus menunda-nunda tiap kesempatan yang datang. Ia terbenam dalam mimpi-mimpinya, sehingga tanpa sadar, dengan cepat waktu berlalu. Barulah ia menyadari bahwa ia sudah ketinggalan jauh.

Apa yang terjadi dengan hidupnya kemudian? “Kemiskinan datang seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang bersenjata.” Ia dikuasai oleh kemiskinan. Ia terjebak oleh kemiskinan, dan pada saat itu ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena kesempatan sudah lewat.

Sebaliknya, untuk menjadi seorang yang rajin seseorang perlu belajar kepada semut. Kehidupan semut menjadi sebuah gambaran sebuah tindakan rajin yang perlu dilakukan kita semua. Belajar rajin harus dimulai semenjak kecil. Sewaktu masih kecil, anak-anak harus diingatkan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Satu demi satu pekerjaan dikerjakan hingga selesai karena permintaan orang lain. Sedangkan dalam dunia pekerjaan, banyak orang dewasa juga menyelesaikan tanggung jawabnya karena diawasi oleh sang bos.

Seorang yang rajin tidak membutuhkan seseorang untuk mengingatkan, mengawasi, mendikte, maupun memerintahkan apa yang harus diselesaikan. Meskipun tanpa ada  yang mengawasi, dia akan menyelesaikan semua pekerjaan maupun tanggung jawabnya. Seorang yang rajin itu menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan dirinya bukan hanya pada masa kini namun berefek pada masa depannya.

Ayat 7 menggambarkan semut-semut yang bekerja dengan “tidak ada pemimpin, pengatur, atau penguasanya.” Mereka tidak berpangku tangan menunggu perintah, atau baru bertindak jika disuruh. Mereka menyadari adanya suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, yaitu mengumpulkan makanan. Itulah sebabnya mereka bekerja sama memenuhi kebutuhan tersebut.

Selanjutnya, seorang yang rajin menyelesaikan apa yang telah dimulai dan tahu apa yang dilakukan berguna untuknya. Seorang yang rajin tidak pernah menunda-nunda kesempatan yang ada. Ketika kesempatan datang, seorang yang rajin akan memanfaatkan kesempatan tersebut sehingga ia mendapatkan keuntungan yang maksimal. Ayat 8 menggambarkan semut-semut “menyediakan roti di musim panas, mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” Waktu untuk mencari makanan ternyata sangat terbatas dan tidak bisa datang setiap waktu. Semut-semut menggunakan kesempatan mencari makan itu karena mereka tahu jika kesempatan ini disia-siakan, maka kesempatan itu akan lewat dan mereka bisa mati kelaparan.

Kita semua memiliki waktu yang sama: dua puluh empat jam sehari. Namun cara kita menggunakannya berbeda. Sukses atau tidaknya kita di masa depan ditentukan oleh bagaimana kita menggunakan waktu kita hari ini.

(Oleh: Daniel Santoso Ma, staf Kerohanian, disadur dari Seri Bintang Gaya Hidupku)