BERDUKA DAN BERIMAN

Oleh: Agape Ndraha, staf Sekolah Athalia

berduka dan beriman

Bagaimana Menghadapi Dukacita

 “Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman seharusnya menghadapi dukacita?

Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya (Kejadian 23:2). Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses (baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”). Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan,  karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka.

Dukacita dalam Kehidupan Orang Beriman

Dalam Roma 12:15, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka.

Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti
orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan
” (1 Tesalonika 4:13). Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya.

Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati.

Cara Pandang Kristiani Terhadap Kehidupan dan Kematian

Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti bekerja memberi buah (Filipi 1:21). Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan adalah hal yang dirindukannya.

Dalam buku Grief Obeserved, C.S. Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam permainan menyusun kartu bridge hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu jatuh dan konsekuensi fatal terjadi.

Memproses Dukacita

Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka, mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup ini?”

Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya (lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”).

Tokoh yang Berduka dalam Kisah Alkitab

Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini (Ayub 3:10-11). Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan.

Penghiburan di Antara Sesama Orang Percaya

Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa cara.

  1. Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
  2. Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran.
  3. Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka.

Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku (Mazmur 119:92)

Baca juga: Memahami Dukacita

Dapatkah Tawa Membantu Meringankan Penyakit Saya?

Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak sorai.
-Mazmur 126: 2a-

Menurut penelitian University of Chicago yang terkenal, memiliki selera humor yang baik dapat menambah delapan tahun masa hidupmu. Itu bukanlah kejutan bagi kita yang ingat bagian yang terkenal dalam majalah Reader’s Digest: “Laughter, the Best Medicine” yang artinya Tawa, Obat Terbaik.

Klinik Mayo mengonfirmasi penemuan ini. Mereka mengatakan bahwa tertawa “menstimulasi jantung, paru-paru, dan otot-otot Anda, dan menambah endorphin yang dilepaskan otak Anda.” Lebih jauh lagi, tawa dapat “menstimulasi peredaran darah dan membantu otot untuk santai, keduanya akan membantu mengurangi beberapa gejala fisik stress.” Kalau Anda kesakitan, klinik tersebut mengusulkan: “Tawa dapat mengurangi rasa sakit dengan membuat tubuh memproduksi obat penahan sakitnya sendiri.”

Tentu saja, ketika Anda berada di tengah-tengah kasus gawat darurat, seperti yang dialami Bonnie dan anak laki-lakinya, tertawa merupakan hal terakhir yang ingin Anda lakukan. Ternyata… itu memang hal terakhir yang mereka lakukan.

Ini pun Akan Berlalu

Anak laki-lakiku yang berusia 21 tahun dibawa ke ruang IGD dalam kesakitan hebat.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku berdoa. Aku memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kebaikan-Nya: bahwa anakku akan langsung ditangani; bahwa para dokter dapat segera memberikan diagnosis dan meringankan rasa sakitnya.

Jalan yang kupilih menuju rumah sakit melewati gereja, tempat pesan di papannya menyita perhatianku- tetapi baru bisa dipahami belakangan.

Di ruang IGD, Tuhan sungguh menunjukkan kebaikan-Nya kepada kami. Anakku langsung ditangani; para perawat melihat betapa kesakitan dirinya dan memasukkan kami ke kamar perawatan terakhir yang masih kosong; dan dokter langsung mendiagnosis krisis yang dialami anakku. Menurut dokter, anakku kesakitan gara-gara batu ginjal yang butuh melewati sistem tubuhnya.

Di sana dan saat itu juga, aku tahu pesan di papan gereja merupakan kedipan humoris dari Tuhan. Tulisan itu berbunyi: “Ini pun akan berlalu”!

Bonnie Bickerstaff

Bonnie sangat lega melihat anaknya tidak kesakitan lagi hingga ia tidak tahan untuk tertawa ketika bayangan papan itu kembali terlintas di benaknya.

Kita boleh yakin bahwa anak laki-lakinya tidak tertawa saat dia berusaha mengeluarkan batu ginjal itu. Aduh! Setiap detik rasa sakit itu pasti terasa seperti selamanya.

Kalau Anda tenggelam dalam cobaan penuh rasa sakit hari ini, bertanya-tanya apakah Anda mampu bertahan satu menit lagi, ada cahaya harapan di ujung terowongan. Cahaya itu adalah Yesus.

Akulah terang dunia.
Yohanes 8:12

Sumber:
Rushnell, Squire; Duart, Louise. 2013. Godwink Stories. Jakarta: PT Gramedia.