Kamp Karakter SD Athalia, sebuah sekolah di Serpong, Kelas II – Kerajinan & Kejujuran, 13 September 2024
Klik link di bawah ini untuk melihat foto-foto lainnya dan untuk men-download:
Kamp Karakter SD Athalia, sebuah sekolah di Serpong, Kelas II – Kerajinan & Kejujuran, 13 September 2024
Klik link di bawah ini untuk melihat foto-foto lainnya dan untuk men-download:
Bella Kumalasari-Plt. Kasie. Karakter
Perjalanan 30 tahun Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong diwarnai dengan berbagai musim. Begitu pun ketika kita berbicara mengenai karakter. Pendidikan karakter bak sebuah perjalanan panjang. Ada berbagai hal yang dilewati, jatuh-bangun yang dihadapi, sehingga semuanya merupakan proses yang perlu dijalani. Dunia yang penuh dengan ketergesa-gesaan dan serba instan membuat kita tidak sabar akan proses yang panjang dan tidak mudah. Maka dari itu, kita sebagai pendidik dan orang tua perlu terus mengingatkan diri sendiri akan hal ini ketika mendampingi anak-anak kita, sehingga terus memberikan ruang untuk bertumbuh.
Sekolah Athalia percaya bahwa setiap murid berproses dalam perjalanan panjang karakternya. Meski mungkin tahun lalu tampak ada kemajuan tapi tahun ini tidak, terkadang tampak jelas terkadang samar, Sekolah Athalia percaya bahwa setiap murid tetap berproses dalam perjalanannya masing-masing. Oleh sebab itu, di setiap akhir tahun ajaran Sekolah Athalia mengadakan “Perayaan Karakter” sebagai momen untuk mengapresiasi pertumbuhan sekecil apa pun.
Di dalam perayaan karakter, murid-murid diajak untuk mengingat kembali proses pembelajaran karakter yang telah mereka alami selama satu tahun terakhir. Mereka merefleksikan dan mengevaluasi dirinya dalam proyek-proyek yang sudah dilakukan, serta diajak untuk melihat karya dan penyertaan Tuhan dalam diri mereka dan teman-teman. Guru memberikan apresiasi bagi setiap murid dan memberikan dukungan untuk terus berproses di level berikutnya. Selain guru, orang tua dan sesama murid pun diajak untuk memberikan apresiasi bagi anak-anak dan teman-temannya.
Baca juga : Komunitas Athalia yang Bertumbuh

Guru TK mendoakan satu per satu muridnya dengan rasa haru akan pertumbuhan yang Tuhan berikan dalam diri setiap murid secara unik. Guru dan orang tua siswa SD memberikan apresiasi secara personal kepada setiap anak. Anak-anak terharu membaca surat yang ditulis oleh orang tuanya. Murid-murid SMP juga merasa senang karena dapat bersama teman-teman saling mengenal dan memperhatikan selama satu tahun terakhir. Beberapa murid SMA menangis terharu ketika membaca kartu apresiasi dari teman sekelasnya karena tidak menyangka bahwa teman-temannya memperhatikan dirinya sedemikian rupa. Mereka merasa senang diapresiasi atas usaha yang mereka lakukan sekaligus diterima dalam kelemahan mereka.
Mari kita terus dukung pertumbuhan karakter anak-anak kita untuk makin serupa Kristus. Tahun ajaran yang baru, lembaran yang baru, dengan Tuhan yang sama, dengan kesetiaan dalam perjalanan yang sama. Meskipun mungkin kita merasa lelah karena merasa “Kok begitu lagi, begitu lagi, dibilangin berkali-kali seperti tidak ada bedanya”, kita percaya ketika anak berproses bersama Tuhan, mereka berproses makin dalam dan makin dalam. Meski terkadang tampak sama, ada hal yang Tuhan sedang kerjakan di dalam diri mereka. Mari terus ingat, yang terpenting bukan kecepatannya, tetapi arah yang benar menuju keserupaan dengan Kristus.
Oleh: Grace Maharani Eraputri – Alumni SMA Athalia Angkatan XI
Halo perkenalkan namaku Grace Maharani Eraputri alumni Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong. Aku alumni tahun 2023 dan sekarang aku sedang berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Teknologi Bioproses. Puji Tuhan, aku bisa masuk ke jurusan impianku dan ikut bahagia dengan teman-teman lulusan Athalia yang lulus ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan jurusan yang mereka minati juga. Aku sangat bersyukur diberikan teman-teman seperjuangan, komunitas, dan sekolah yang sangat baik.
Siap masuk ke dunia perkuliahan tidak terlepas dari apa yang telah Athalia ajarkan dan bekalkan padaku. Nyatanya, iman dan karakter teguhlah yang menguatkanku selama berkuliah. Sekarang, aku mau sharing perjalananku bersama Tuhan selama bersekolah di Athalia.
Perjalanan yang cukup panjang aku habiskan di Athalia. Aku belajar dan bertumbuh di Sekolah Athalia sejak berumur 3 tahun, alias masih imut di play group. Awal play group aku sangat penakut, banyak anak-anak yang asik bermain tetapi aku cuma duduk mengamati. Tapi menariknya, aku tidak pernah sendiri. Tahukah mengapa? Karena selalu ada Bu Guru yang menggandengku, sama seperti Allah yang menyertai dari awal hidupku. Jadi, kalau kami lagi keluar dari kelas, pasti aku ada di paling depan karena digandeng oleh Bu Guru. Aku merasa diterima dan ketika satu tahun lewat, aku sudah jadi anak paling riang gembira di sekolah menyanyikan lagu-lagu karakter dan beraktivitas bersama teman-teman. Jadi dari cerita tersebut, aku jadi mengenali dan mempelajari karakter kasih. Ketika di Sekolah Dasar, aku dididik tentang penguasaan diri, tentang bagaimana menjadi anak yang taat, sabar, murah hati, setia, dan lain-lain.
Lalu bagaimana aku belajar karakter di Sekolah Athalia ketika di jenjang SMP dan SMA? Pengertian yang jauh lebih berharga lagi ada di SMP dan SMA, karena di sinilah aku mulai belajar peduli dan berkontribusi bagi sesama. Pak Jefry, Captain BB mengajarkanku menjadi orang yang bersandar pada Tuhan meski kondisi menakutkan dan meragukan. Meski mendaki ke gunung saat itu merupakan keputusan yang sulit buat aku, beliau yang meneguhkanku sampai akhirnya terbukti bahwa Tuhan menyertai kami. Jadi, sampai sekarang aku belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bukan pengertian sendiri, caranya dengan berdaya tahan, sabar, dan tekun menghadapi segala sesuatu. Aku juga jadi memahami tujuan Tuhan dalam hidupku dan menurutku itu ajaib dan menarik.
Aku berterima kasih pada Athalia karena telah mendidikku jadi anak Tuhan yang bisa mengimplementasikan karakter-karakter Allah. Semua pengajaran ini akan sangat berguna di masa hidupku. Sekian, terima kasih sudah diberi kesempatan untuk berbagi lewat tulisan ini. Tuhan memberkati.
Oleh: Bella Kumalasari – Staf Karakter Sekolah Athalia
“Life is a choice” adalah slogan yang sering kita dengar. Namun, seorang dosen pernah mengatakan, “Life is not a choice, Life is grace, the way you live is a choice”. Memang kalimat “Life is a choice” sering kali diartikan bahwa hidup ini suka-sukanya kita, tergantung maunya kita. Padahal, sesungguhnya hidup ini adalah anugerah yang Tuhan berikan. Maka, sudah selayaknya menjadi perenungan setiap kita, terutama anak-anak Tuhan, bagaimana kita memaknai hidup ini? SMA Athalia – sebuah sekolah di BSD, Serpong, mengajak siswa untuk merefleksikan anugerah yang sudah Tuhan percayakan kepada setiap mereka melalui kegiatan kamp karakter di kelas XI dengan nama Influencing & Contributing (ICON) Camp 2023.
Kamp Karakter ICON Camp ini diikuti oleh murid-murid kelas XI SMA Athalia. Sesuai dengan profil SMA Athalia yaitu Influencing & Contributing, siswa SMA diajak untuk menjadi pribadi yang berdampak dan berpengaruh bagi sekitarnya. Pada tahun ini, ICON Camp mengangkat tema “My Life, God’s Investment”. Sepanjang acara murid diajak untuk berperan sebagai manajer investasi yang bertanggung jawab untuk mengelola modal yang mereka miliki. Menariknya, modal ini diberikan oleh Allah sebagai investor dan dimaknai sebagai gambar dan rupa Allah yang tercermin melalui karakter.
Dengan menyadari keadaan manusia yang sudah jatuh dalam dosa tetapi telah ditebus oleh karya Kristus di kayu salib mendorong kita untuk terus bertumbuh di dalam karakter yang makin serupa Kristus. Modal itu harus terus dikembangkan agar mendatangkan “cuan” untuk dikembalikan lagi kepada “Sang Pemilik” modal, yaitu ketika kita dapat makin berdampak dan berpengaruh terhadap sekitar kita dan nama Tuhan dimuliakan. Tentu banyak keterbatasan di dalam ilustrasi yang digunakan, tetapi panitia berharap murid-murid dapat menangkap makna yang ingin disampaikan.
Sepanjang dua hari satu malam murid-murid menginap di alam terbuka dengan tenda. Mereka belajar sambil langsung mempraktikkan karakter-karakter yang dipelajari di dalam permainan maupun aktivitas yang ada. Mereka juga diteguhkan melalui sesi-sesi baik secara bersama-sama maupun dalam kelompok kecil. Mereka juga saling bekerja sama dan melayani. Murid-murid juga didorong mengambil komitmen untuk mau lebih berdampak dan berkontribusi terhadap orang-orang di sekitar mereka, mulai dari teman-teman mereka sebagai angkatan ke-XII SMA Athalia.
Kiranya ICON Camp kali ini tidak berlalu begitu saja, tetapi dapat memberi kesan dalam hati setiap murid sehingga mereka memiliki semangat untuk terus berdampak dan berkontribusi, baik saat mereka masih di tingkat SMA maupun nanti ketika mereka sudah memasuki dunia kampus yang lebih luas.
Oleh: Ni Putu Mustika Dewi – Staf Karakter Sekolah Athalia
Pada umumnya peran setiap manusia dalam menjalani kehidupan ini akan bertambah seiring pertambahan usia. Bertambahnya peran mengakibatkan bertambah pula tanggung jawab yang harus diemban. Pertambahan peran dan tanggung jawab ini secara signifikan terjadi saat usia transisi dari anak ke remaja. Saat memasuki usia remaja peran mereka bertambah terkhusus dalam mengatur dirinya sendiri, seperti menentukan waktu untuk belajar mandiri dan waktu hangout, memilih buku atau tontonan seperti apa yang akan dinikmati, hobi atau kesukaan yang akan ditekuni, dan masih banyak lainnya. Pada masa ini, orang tua tidak lagi mendominasi sebagaimana saat anak masih usia kanak-kanak. Remaja sudah diberi kepercayaan untuk menentukan pilihan meski masih di dalam pengawasan. Oleh sebab itu, tanggung jawab mereka untuk menjaga kepercayaan yang orang tua berikan pun bertambah dibanding pada usia sebelumnya.
Bukan hanya pertambahan peran dan tanggung jawab, remaja mengalami perubahan fisik dan mental, di tengah-tengah identitas diri yang belum ajek. Semua perubahan ini dapat menyebabkan remaja menghadapi tantangan terberat dalam hidup mereka. Oleh sebab itu, perlu sekali pendampingan orang yang lebih dewasa dalam menjalani proses perubahan ini. Sekolah Athalia berkomitmen untuk mendampingi murid saat memasuki masa ini. Program harian, mingguan, bahkan tahunan SMP Athalia, dirancang untuk menjadi sarana bagi murid Athalia yang menginjak masa remaja agar makin paham identitas diri, peran, dan tanggung jawab mereka bahkan mulai peduli kepada orang lain.
SMP Athalia, sebuah sekolah yang berlokasi di Serpong ini, memiliki beberapa kegiatan yang berkaitan dengan proses belajar karakter, yaitu Kamp Karakter. Beberapa di antara adalah MetCamp dan CaSCamp. Pertama, MetCamp yang merupakan akronim dari Metamorphosis Camp. Siswa kelas VII akan mengikuti MetCamp pada semester genap. Kegiatan ini digambarkan seperti sebuah “jembatan” antara pembelajaran karakter SD dengan SMP. Berbagai aktivitas yang dilakukan dalam MetCamp dirancang untuk mengingatkan, dan meneguhkan kembali karakter tanggung jawab yang sudah ditanamkan sejak SD, seperti arti tanggung jawab berdasarkan firman Tuhan, yaitu alasan kita hidup bertanggung jawab adalah sebagai respons akan kasih Tuhan yang sudah mengorbankan dirinya untuk menebus hidup kita. Selain itu, murid diajak untuk melihat perbedaan peran dan tanggung jawab saat duduk di bangku SD dengan kini saat di SMP, dan bagaimana seharusnya mereka merespons peran dan tanggung jawab yang sudah dipercayakan di hadapan-Nya.
Kedua, Caring & Sharing Camp (CaSCamp), yang digambarkan sebagai bengkel karakter. Kegiatan ini dirancang bagi murid-murid kelas VIII untuk membantu mereka mengevaluasi diri sendiri sudah sejauh mana mereka paham nilai-nilai kebenaran Caring & Sharing berdasarkan firman Tuhan, mengidentifikasi hal-hal penghambat dalam menghidupi karakter tersebut, serta memberi kesempatan kepada mereka untuk memikirkan upaya perbaikan yang dapat dilakukan di kemudian hari.
Pada tahun ajaran ini, CaSCamp sudah diadakan onsite di sekolah, pada 10-11 Februari 2023. Sebelumnya, diadakan Pra CaSCamp selama seminggu penuh pada tanggal 1-7 Februari 2023. Para murid diajak untuk menantang diri dalam mewujudkan kasih mereka kepada diri sendiri, keluarga, dan sesama.
Kiranya melalui program tahunan yang sudah dirancang ini, murid-murid kelas VII dan VIII untuk dapat mengingat, mengevaluasi, serta makin bertumbuh menjadi remaja yang memiliki karakter Kristus. Kiranya Tuhan menolong.
Oleh: Ni Putu Mustika Dewi – staff pengembangan karakter Sekolah Athalia
Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong, didirikan dengan sebuah visi “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan”. Sesungguhnya visi ini bukan hanya ditujukan bagi siswa melainkan juga bagi seluruh anggota komunitas (orang tua, guru, staf, dan yayasan). Sebagaimana orang dapat saling mengenal melalui identitas atau karakteristik tertentu, demikian halnya dengan diri kita sebagai murid Tuhan. Dalam Yohanes 13:35, Tuhan Yesus memaparkan bahwa semua orang akan tahu bahwa kita adalah murid Tuhan, kalau kita saling mengasihi. Dengan demikian, KASIH menjadi identitas hidup murid-murid-Nya.
Namun, kasih yang Kristus ajarkan sangat berbeda dengan kasih yang diajarkan oleh dunia ini. Berikut contoh kasih yang biasa kita temui, orang tua yang membesarkan anaknya dengan harapan nantinya sang anak bisa membalas budi. Seorang yang taat beribadah dan melakukan aturan-aturan agama memiliki tujuan mendapat berkat atau pahala. Seorang yang dengan murah hati memberi apa yang dimiliki kepada orang lain, didasarkan pada motif untuk mendapat kedamaian di hati. Masih banyak contoh lainnya yang membuktikan bahwa kasih manusia kepada sesama bahkan kepada Tuhan tidaklah tulus dan masih mengharapkan imbalan.
Lain halnya dengan kasih yang ditunjukkan dan diajarkan oleh Allah. Kasih ini adalah kasih tanpa pamrih dan tanpa syarat. Kasih yang sudah dibuktikan secara nyata di atas kayu salib, pada saat Ia menyerahkan diri-Nya untuk menebus hidup kita. Saat itu kita bukanlah yang baik dan layak untuk dikasihi tetapi Tuhan Yesus mau mengorbankan diri-Nya bagi kita (Roma 5:8). Akibat dari karya penebusan yang diberikan-Nya, orang-orang pilihan-Nya dimampukan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Jadi, ada perbedaan besar antara kasih yang dilakukan oleh murid-murid Tuhan dengan yang bukan, yaitu pada motif atau alasan. Murid-murid Tuhan saling mengasihi didasarkan pada motif karena Kristus terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi kasih merupakan bentuk respons kita terhadap kasih Allah yang besar itu. Bukan didasarkan pada motif supaya mendapat imbalan, berkat, atau supaya hidup damai dan bahagia.
Selain kasih, ciri lain dari seorang murid Tuhan adalah hidup semakin serupa dengan-Nya yang ditampilkan melalui kualitas-kualitas karakter ilahi. Setiap pola pikir, sikap dan tindakan kita diarahkan atau ditujukan pada keserupaan dengan Kristus. Semakin hari kualitas-kualitas karakter Kristus semakin nyata terlihat melalui hidup kita.
Berdasarkan pemaparan di atas, kita menyadari bahwa hidup menjadi seorang murid Tuhan bukanlah perkara yang mudah. Kita sangat membutuhkan pertolongan dari Allah Roh Kudus untuk memampukan, mengingatkan, menegur dan menuntun kita pada kebenaran. Layaknya dua sisi koin mata uang, selain ketergantungan akan pertolongan dari Allah Roh Kudus, kita juga harus berupaya dalam mendisiplinkan diri. Kita harus bersedia hidup taat pada kehendak-Nya. Jika kita tidak mau mendengarkan dan lebih memilih untuk mengikuti kedagingan, maka besar kemungkinan kita akan jatuh dalam dosa dan sulit untuk bertumbuh semakin serupa Kristus. Hal ini sependapat dengan Jerry Bridges, “Sebagaimana pesawat mustahil terbang dengan satu sayap, demikianlah kita pun mustahil berhasil mengejar kekudusan dengan bergantung saja atau disiplin saja. Kita mutlak harus memiliki keduanya.” (Disiplin Anugerah, hal.144)
Oleh sebab itu, ada sebuah upaya nyata yang dilakukan oleh Sekolah Athalia dalam mendidik siswa menjadi murid Tuhan. Cara nyata tersebut yaitu dengan dirancangnya sebuah kurikulum pembelajaran karakter yang berkesinambungan dari TK hingga SMA.
Bagi siswa yang berada pada masa kanak-kanak (usia 3-8 tahun) sampai pra-remaja (usia 8-12 tahun), diupayakan pembentukan pribadi yang kokoh (Steadfast Person). Pribadi yang mampu berpikir, memilih, dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang benar. Selain itu, siswa juga didorong/dilatih untuk bertumbuh menjadi pengikut yang baik (Followership). Khusus bagi siswa TK tahapan yang akan diajarkan dalam kelas adalah pertumbuhan dalam karakter dasar (Growing). Sedangkan bagi siswa SD difokuskan pada pembentukan karakternya (Shaping). Bagi siswa yang berada pada masa remaja (13-18 tahun) diupayakan pengembangan lebih lanjut untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki prinsip melayani (Servant Leader). Dengan berbagai karakter yang dibudayakan sampai kelas 6 SD, diharapkan sifat kepemimpinan (Leadership) akan relatif mudah ditanamkan dan dibentuk dalam pribadi siswa. Khusus bagi siswa SMP tahapan dalam proses pembelajaran mereka adalah peduli dan berbagi (Caring & Sharing). Selanjutnya, pada masa SMA siswa didorong untuk berkontribusi atau memiliki dampak positif (Influencing & Contributing).
Secara khusus pada tahun pelajaran 2022-2023 ini, kurikulum karakter diwujudkan dalam berbagai kegiatan dan proses pembelajaran karakter baik di dalam maupun luar kelas. Salah satunya adalah disediakan sebuah ruang perjumpaan antara guru (Wali Kelas dan Pendamping Wali Kelas) bersama dengan siswa yang diberi nama “kelas Shepherding”. Kelas ini dirancang khusus untuk memperkenalkan dan membudayakan karakter ilahi. Adapun strategi yang digunakan dalam kelas ini agar pembelajaran karakter tidak berujung hanya pada ranah kognitif semata adalah dengan adanya sharing life guru (WK dan PWK) sebagai gembala serta sharing life siswa sebagai pribadi yang digembalakan. Kiranya melalui sharing life yang akan dibagikan itu baik guru maupun siswa dapat memaknai bahwa perjalanan menjadi murid Tuhan, yang berujung pada keserupaan dengan Kristus adalah perjalanan yang dilalui bersama. Meski prosesnya panjang dan tidak mudah, guru dan siswa dapat saling mengingatkan bahwa ada kasih Tuhan yang menyelamatkan dan yang menjadi dasar dari segala tindakan.
Sumber:
Bridges, J. 2009. Disiplin Anugerah: Peran Allah dan Peran Kita dalam Mengejar Kekudusan. Bandung: Pionir Jaya.
Badudu, R, dkk. 2021 (Versi 1). Manual Kurikulum Karakter Sekolah Athalia. Jakarta.
Baca Juga: SHEPHERDING TIME, Melihat dan meniru cara Yesus mengajar (Markus 4:1, 33-34)