Oleh: Erika Kristianingrum, orang tua siswa 8R dan 4E
“Bunda jahat… aku mau ganti orang tua aja, semua yang aku lakuin salah!”
Begitulah teriakan putri pertamaku yang saat itu sudah beranjak dewasa. Ia marah ketika saya merebut HP-nya saat ia sedang sibuk chatting di WA dengan teman-temannya sementara ia sedang mengikuti pembelajaran online.
“Ya… memang kamu salah karena tidak memperhatikan gurumu malah sibuk chatting,“ sahut saya. Namun, setelah berkata demikian, saya hanya terdiam. Kata-katanya terasa seperti tamparan keras bagi saya. Saya sadar bahwa sebagai orang tua, saya sering gagal dan perlu berubah. Saya harus berubah agar anak saya juga bisa berubah!
Sebagai orang tua, kita sering kali bingung bagaimana menetapkan batasan untuk anak remaja. Jika terlalu banyak aturan, mereka bisa memberontak dan menjauh dari orang tua. Di sisi lain, jika terlalu longgar di usia mereka yang baru masuk pada masa peralihan, mereka bisa kehilangan arah. Remaja sedang berada dalam masa peralihan. Mereka ingin memiliki otonomi sendiri, tetapi masih butuh bimbingan. Terkadang, pilihan mereka tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, mereka tetap perlu belajar mengambil keputusan untuk masa depan mereka sendiri.
Untuk mengatasi kebingungan ini, saya memutuskan untuk memulai dengan menerima keadaannya. Saya paham bahwa mengikuti sekolah online mungkin bukanlah hal yang mudah bagi anak saya. Ia pasti merasa bosan. Di sisi lain, HP adalah satu-satunya hal yang bisa menghiburnya walaupun dapat mengganggu konsentrasinya. Tetapi, saya pun harus tetap menetapkan batasan untuk anak saya agar ia tetap bertanggung jawab.
Baca Juga : Si Kecil Tidak Mau Sekolah Minggu? Coba Terapkan Ini!

Cara Menetapkan Batasan untuk Anak agar Tidak Menimbulkan Konflik
Saya sadar bahwa menetapkan batasan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Berikut beberapa hal yang saya lakukan dalam membuat batasan agar tetap dihormati oleh anak tanpa menimbulkan konflik:
- Berdiskusi tentang Batasan yang Diterapkan.
Hal ini saya terapkan khususnya dalam membahas terkait aturan menggunakan HP. Saya akan mendengarkan kebutuhannya dan menjelaskan apa yang harus ia lakukan. Dari diskusi ini, kami akhirnya memperoleh beberapa kesepakatan yang harus dijalani bersama sebagai orang tua dan anak. Dengan ini, anak akan merasa lebih dihargai karena pendapat dan perasaannya didengarkan. - Mengubah Cara Menegur menjadi Lebih Santai.
Saya juga menyadari bahwa cara menegur sangat berpengaruh terhadap reaksi anak. Oleh karena itu, saya mengubah cara saya berbicara kepada anak saya menjadi lebih santai dan menggunakan intonasi yang lebih lembut. Selain itu, saya tidak akan menegurnya saat sedang capek, lapar, atau mengantuk. Saya sadar bahwa jika saya menegurnya dalam kondisi tersebut, kemungkinan besar justru akan terjadi konflik.
New Features : The Discipline of Choosing Right
Ternyata, setelah saya mengubah diri saya dan berusaha untuk berkomunikasi lebih baik, batasan-batasan yang telah disepakati dapat berjalan tanpa konflik. Sekarang, setiap kali aku bertanya kepadanya, “Masih mau ganti orang tua?”, dengan mantap ia akan menjawab, ‘Tidak… bunda tetap yang terbaik.” Kami pun tertawa bersama.