Rekomendasi Buku untuk Mencari Pasangan Hidup

Judul buku: THE SACRED SEARCH (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)

Informasi terkait buku:

Penulis: Gary Thomas
Penerjemah: Paksi Ekanto Putra
Tahun terbit: Cetakan Kesepuluh, Agustus 2018
Jumlah halaman: 261 halaman

Pada umumnya, dua dari beberapa tugas perkembangan manusia dewasa ialah menjalin hubungan dengan lawan jenis dan menikah. Namun, dalam perjalanan kehidupan, kita hampir tidak pernah diajarkan bagaimana membangun relasi secara formal maupun mencari pasangan hidup. Sering kali, dasar seseorang dalam menjalin relasi dan mengambil keputusan untuk menikah hanyalah karena perasaan jatuh cinta. Padahal, ada faktor-faktor lain yang jauh lebih kuat, mendasar, dan kekal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam memutuskan menikah. Hal-hal inilah yang dikupas secara mendalam dalam buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus).

Mengupas Buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)

Buku ini mengangkat tema relasi dari perspektif iman Kristen. Banyak orang sering bertanya: “Siapa orang yang paling tepat untuk dinikahi?” Namun, penulis buku ini mengarahkan untuk merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: “Mengapa menikah?” Berawal dari pertanyaan ini, penulis mengajak para lajang untuk mengevaluasi alasan terdalam yang melandasi keputusan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Penekanan utama ada pada dasar yang harus berakar pada firman Tuhan dan secara langsung berkaitan dengan pertumbuhan rohani bersama pasangan hidup. Dalam konteks ini, membangun relasi menuju pasangan hidup yang sejalan dengan kehendak Tuhan menjadi tujuan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti dorongan emosional sesaat.

Penulis membahas persoalan yang diperlukan dalam mengembangkan keterampilan berelasi yang mengutamakan Tuhan. Pembaca diajak berefleksi mengenai panggilan hidup dan pengenalan diri secara utuh. Selain itu, pembaca juga diajak untuk melihat bagaimana neuroscience dan psikologis memengaruhi hubungan antarpribadi. Buku ini membahas bagaimana pasangan menjalani panggilan hidup bersama dalam pernikahan. Penulis menekankan pentingnya membangun landasan yang kokoh dalam relasi dengan lawan jenis. Maka dari itu, pembaca diajak mempertimbangkan pandangan dalam memilih calon pasangan di masa mendatang. Lebih jauh lagi, penulis juga membahas hal-hal yang berkaitan dengan intimasi pernikahan dan pembaca diharapkan terbuka menelisik diri sendiri untuk dapat membangun hubungan yang sehat dan kudus dengan pasangan kelak.

Refleksi, Aplikasi, dan Tantangan dalam Membangun Relasi Sejati

Uniknya, buku ini tidak menyajikan tips and trick, tapi justru membuka wawasan pembaca terhadap kemungkinan baik dan buruk ketika berelasi. Misalnya, meninjau kembali gaya pernikahan yang dibahas dalam satu bab, penulis memaparkan berbagai gaya pernikahan yang mungkin mengarah pada kemungkinan gaya pernikahan di masa mendatang. Pembaca juga diajak meninjau gaya pernikahan tersebut. Apakah mampu beriringan dengan seseorang yang sedang digumulkan untuk menjadi pasangan? dan apakah lifestyle tersebut dapat menumbuhkan diri dan pasangan dalam pernikahan?

Kisah ilustrasi yang dipakai dalam tiap bab memang kurang kontekstual dengan tradisi orang Asia. Namun, prinsip yang ditekankan cukup relevan dan tidak hanya mewakili satu budaya tertentu. Istilah bidang kedokteran, psikologi, dan teologi banyak dipakai dalam buku ini.

Gaya tulisan yang bercerita dan bahasa yang mudah dimengerti adalah poin lebih dari buku ini. Pembaca diajak mengambil waktu untuk mengevaluasi diri melalui pertanyaan studi lanjut di tiap bab untuk dijawab. Hal ini menolong pembaca mengurai setiap bahasan yang diterima dan merefleksikannya di dalam diri. Pembaca juga diajak meninjau kembali pengenalan diri serta harapan terhadap hubungan dengan pasangan.

Buku ini disarankan untuk dibaca oleh kaum muda yang bergumul tentang pasangan hidup, orang tua yang rindu mendampingi anaknya menemukan pasangan hidup yang sepadan dan seimbang, pembimbing rohani, dan pasangan menikah untuk memperkokoh hubungan. Buku ini cocok dipakai dalam persekutuan kelompok-kelompok kecil yang membahas tentang relasi lawan jenis menuju pernikahan.

(KAY)

Rekomendasi Buku Kepemimpinan

lead like jesus

LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman)

Lihat Keterangan Buku Lebih Lanjut

Judul buku: LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman)
Penulis: Ken Blanchard & Phil Hodges
Penerbit: Visimedia
Penerjemah: Dionisius Pare
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 317

Di mana Anda bisa menemukan model kepemimpinan yang dapat mengubah hidup Anda?” Pertanyaan ini menjadi pengantar reflektif dalam buku karya Ken Blanchard dan Phil Hodges, Lead Like Jesus. Berdasarkan telaah mendalam terhadap Kitab Suci (Alkitab), Ken dan Phil menemukan banyak hikmah kepemimpinan melebihi yang mereka pikirkan selama ini. Belajar cara memimpin seperti Yesus membuat kita menemukan perbedaan besar dalam hidup dan dalam kehidupan orang-orang yang kita pimpin.

Transformasi Pribadi melalui Kepemimpinan Yesus

Buku ini diawali dengan refleksi penulis tentang perubahan sudut pandang terhadap makna kepemimpinan.

Sebagai pembaca, kita diajak untuk mengalami transformasi yang dimulai dari kehidupan personal yang kemudian bergerak memimpin orang lain dalam hubungan satu-satu (one on one), lalu memimpin satu tim atau kelompok, dan akhirnya memimpin satu organisasi atau masyarakat. Siklus ini dapat terjadi baik dalam peran hidup pribadi maupun organisasi. Dengan membaca buku ini, kita diharapkan mampu menjadi pemimpin yang memiliki hati untuk melayani seperti yang Yesus lakukan, bukan pemimpin yang ingin dilayani.

Buku ini terdiri atas tujuh bab yang di dalamnya terdiri atas pemaparan penulis mengenai cara sederhana menjadi pemimpin seperti Yesus. Pembaca juga diajak untuk memahami konsep kepemimpinan Yesus. Selain itu, pembaca juga diajak untuk memahami konsep, melakukan refleksi, menyusun rencana aksi, serta mengevaluasi diri melalui jurnal dan pertanyaan panduan.

Setiap prinsip yang disampaikan selalu dikaitkan dengan kebenaran Firman Tuhan dan diperkuat dengan kisah nyata dari penulis serta tokoh-tokoh lain. Selain itu, adanya lembar kerja berupa pertanyaan atau panduan untuk mendukung proses mengalami transformasi kepemimpinan seperti Yesus. Selamat membaca dan merasakan dampak dari buku ini. [PK3]

Referensi :
Blanchard, K., & Hodges, P. 2006. Lead Like Jesus: Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Masa. Jakarta: Visimedia. URL : https://www.leadlikejesus.com/

Rekomendasi Buku Tentang Tokoh-Tokoh Perempuan Indonesia

Judul buku: Lalita
Penulis: Abigail Limuria & Grace Kadiman
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 109 halaman
Cetakan: Ke-8, Mei 2006

Makna Nama Lalita bagi Penulis Buku

Bagi penulis buku ini, nama Lalita yang berasal dari kata Sansekerta merepresentasikan perempuan-perempuan Indonesia yang aktif, tak terbatas, cerdas, tangguh, dan berambisi.


Awal Mula Proyek Lalita

Awalnya, Lalita Project merupakan sebuah proyek pribadi antara dua sahabat muda, Abigail dan Grace. Kegelisahan dan pertanyaan seperti, “Apa artinya menjadi seorang perempuan Indonesia yang mencintai negaranya?” dan “Apakah Indonesia memiliki tokoh-tokoh perempuan hebat? Jika ada, kenapa kita jarang mendengar kisah mereka?” menjadi pendorong bagi penulis untuk memulai perjalanan menemui tokoh-tokoh perempuan Indonesia.


51 Kisah Perempuan Hebat Indonesia

Proyek tersebut akhirnya terlaksana. Mereka berhasil menjumpai dan mewawancarai secara langsung 51 perempuan hebat Indonesia. Hasil wawancara ditulis ulang dan disusun menjadi sebuah buku inspiratif tentang perempuan Indonesia.

Selama proses penyusunan, penulis mengalami perubahan cara pandang terhadap Indonesia, perempuan, dan diri sendiri. Melalui buku ini, penulis berharap dapat membantu pembaca—khususnya perempuan Indonesia—yang masih mengejar mimpi dan mencari jati diri.

Penulis percaya, setiap perempuan Indonesia memiliki hak untuk memilih caranya sendiri dalam melakukan sesuatu untuk Indonesia.


Kisah Inspiratif Silvia Halim

Salah satu tokoh dalam buku ini adalah Silvia Halim. Sewaktu SD, Silvia dikenal sebagai anak pemalas dan tidak suka mengerjakan tugas. Namun, segalanya berubah ketika seorang guru berkata, “Silvia, kamu tidak mungkin bisa berhasil!” Kalimat itu menjadi motivasi yang mengubah hidupnya.

Silvia kemudian menjadi rajin dan berhasil lulus sekolah sebagai juara satu. Ia melanjutkan studi di Nanyang Technological University, Singapura, jurusan teknik sipil. Setelah lulus, Silvia bekerja di bidang konstruksi di Singapura—membangun jalan, jembatan, trotoar, dan terowongan.

Ketika mendengar proyek MRT Jakarta, Silvia berpikir, “Saya kan sudah membantu proyek seperti ini di Singapura, kenapa tidak bantu Indonesia juga?” Berbekal pengalaman, ia diterima sebagai direktur konstruksi PT MRT Jakarta.

Silvia membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan dapat membawa perubahan. Proyek MRT Jakarta baginya bukan sekadar pekerjaan, tapi kontribusi nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.


Ajakan untuk Perempuan Indonesia

Kisah Silvia hanyalah satu dari banyak kisah inspiratif dalam buku Lalita Project. Di akhir buku tidak tertulis “The End”, melainkan pertanyaan, “Kisahmu akan seperti apa?”

Penulis mengajak setiap pembaca untuk berkontribusi bagi Indonesia dengan caranya masing-masing, sebagaimana para tokoh perempuan hebat dalam buku ini. Melalui kisah-kisah nyata ini, pembaca diajak untuk merayakan dan belajar dari pencapaian perempuan Indonesia.


Cara Membeli Buku Lalita Project

Sayangnya, buku ini belum tersedia di toko buku besar. Penjualan buku dilakukan secara mandiri (self-publish).
Jika Bapak/Ibu tertarik membeli buku Lalita Project, silakan menghubungi akun Instagram resmi: @lalitaproject [DEW]

Prinsip Keluarga Kristen Meraih Kebahagiaan Sejati

Judul: Keluarga Bahagia
Penulis: Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit: Momentum
Tebal: 125 halaman
Cetakan: Ke-8, Mei 2006

Buku yang ditulis pada tahun 1991 ini berangkat dari kenyataan bahwa keretakan keluarga dan perceraian terus meningkat, sementara kebahagiaan sejati tampak semakin jauh dari jangkauan. Banyak keluarga mengalami kondisi yang digambarkan sebagai “seperti di neraka”.

Di tengah tekanan masyarakat, agama, dan norma budaya, banyak orang berusaha mempertahankan keharmonisan keluarga hanya secara lahiriah—sekadar dari “kulit luarnya”. Oleh karena itu, penulis buku ini memiliki kerinduan agar kebahagiaan sejati dapat kembali hadir, baik bagi mereka yang telah berkeluarga maupun yang sedang mempersiapkan diri menuju pernikahan. Harapannya, melalui buku ini, kemuliaan dapat kembali kepada Allah sebagai sumber kebahagiaan sejati dalam keluarga Kristen.


Tujuh Bab yang Membahas Prinsip Keluarga Kristen

Buku ini terdiri dari tujuh bab yang membahas topik-topik penting dalam kehidupan keluarga Kristen, antara lain:

  1. Prinsip keluarga Kristen
  2. Alasan pernikahan Kristen
  3. Urutan penting dalam keluarga
  4. Menghormati perkawinan
  5. Harmoni perbedaan laki-laki dan perempuan
  6. Ordo suami-istri Kristen
  7. Kendala dan kunci kebahagiaan keluarga

Keluarga Sebagai Cerminan Kasih Allah Tritunggal

Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa dalam kehendak kekal Allah, Dia membentuk keluarga sebagai komunitas kecil yang mencerminkan kasih dan kebersamaan dalam Pribadi Allah Tritunggal.

Keluarga menjadi wadah untuk belajar berkasih-kasihan, berkomunikasi, dan saling memperhatikan satu sama lain, sebagaimana Allah berelasi dalam Tritunggal-Nya. Karena itu, pernikahan Kristen merupakan bagian dari rencana Allah dalam menciptakan manusia, yakni untuk menjadi cerminan kasih dan keharmonisan ilahi (halaman 5).


Rantai Otoritas dalam Keluarga Kristen

Penulis juga menekankan pentingnya rantai atau urutan otoritas universal (the chain of authority of the universe) dalam kehidupan keluarga Kristen. Rantai otoritas ini menjadi dasar keharmonisan hidup:

  • Allah adalah kepala Kristus
  • Kristus adalah kepala laki-laki
  • Laki-laki adalah kepala perempuan
  • Ayah dan ibu adalah kepala anak-anak

Ketika urutan ini dipahami dan dijalankan dengan benar, keluarga akan hidup dalam keharmonisan dan terhindar dari kekacauan. Sebaliknya, kekacauan dalam kehidupan manusia muncul karena rantai ini diabaikan atau dilanggar.


Prinsip-Prinsip Keluarga yang Bersifat Aplikatif

Buku ini menawarkan banyak prinsip praktis untuk membangun keluarga yang kuat dan bahagia. Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya relevan bagi pasangan yang baru menikah, tetapi juga bagi mereka yang telah lama berumah tangga.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan keluarga, karena setiap hari adalah kesempatan baru untuk mengoreksi arah hidup. Buku ini ditulis dengan gaya aplikatif, sehingga pembaca lebih mudah memahami dan menerapkan prinsip firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.


Menghidupi Arti Keluarga di Zaman Modern

Di masa kini, ketika banyak keluarga memiliki lebih banyak waktu bersama, buku ini dapat menjadi panduan untuk merenungkan kembali arti membentuk keluarga dan pentingnya sistem keluarga Kristen di tengah arus pandangan modern yang sering bertentangan dengan nilai-nilai Alkitab.

Mari gunakan waktu berharga ini untuk memandang keluarga dari sudut pandang kehendak Tuhan—membangun rumah tangga yang berlandaskan kasih, otoritas yang benar, dan kebahagiaan sejati di dalam Allah. [MRT]

Buku Character Excellence, Jilid 2, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan

Judul: Character Excellence Jilid 2
Penulis: Rizal Badudu
Penerbit: Kompas
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 308 halaman

buku Character Excellence membantu dalam mengembangkan karakter

Melanjutkan Pembelajaran Karakter dari Jilid 1

Setelah sebelumnya kami merekomendasikan buku Character Excellence Jilid 1, kini saatnya kita melanjutkan perjalanan dengan buku Character Excellence Jilid 2: Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.

Sama seperti jilid pertama, penulis kembali memberikan panduan membaca yang efektif agar pembaca dapat memperoleh manfaat maksimal. Buku ini terdiri dari tiga bagian utama dengan masing-masing dua bab, dan ditutup dengan bagian akhir berjudul “Penutup Sua.”


Panduan Membaca Berdasarkan Tahap Kehidupan

Penulis buku Character Excellence Jilid 2 memahami bahwa setiap pembaca berada di tahapan hidup yang berbeda, sehingga memberikan panduan membaca yang spesifik agar isi buku dapat diaplikasikan secara tepat.

Berikut panduannya:

  • Bagi orang muda (masih sekolah/kuliah, belum menikah, belum bekerja): cukup membaca empat bab awal dan bab 5 dari Character Excellence Jilid 1.
  • Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak yang belum bersekolah: lanjutkan ke Bagian III (Bab 6 dan 7) dalam jilid 2.
  • Bagi yang memiliki anak usia sekolah: lanjutkan ke Bagian IV (Bab 8 dan 9).
  • Bagi yang bekerja di lingkungan sekolah atau kampus: tetap fokus pada Bagian IV (Bab 8 dan 9).
  • Bagi yang sudah bekerja di bidang apa pun: baca Bagian V (Bab 10 dan 11).

Penulis juga menganjurkan agar pembaca memilih dua kualitas karakter utama untuk dipelajari lebih mendalam, serta tetap mengikuti karakter yang sama di bab-bab selanjutnya untuk memperkaya pemahaman.
Bagian “Penutup Sua” disarankan untuk selalu dibaca oleh semua pembaca.


Fokus Buku: Mengembangkan Karakter dalam Lingkungan Lebih Luas

Jika jilid pertama menekankan pengembangan karakter pribadi, maka jilid kedua ini memperluas fokusnya ke area sosial dan profesional: anak, siswa, serta karyawan.

Buku ini membahas sepuluh kualitas karakter utama, yaitu:

  1. Antusiasme
  2. Daya tahan
  3. Kerajinan
  4. Kerendahan hati
  5. Ketulusan
  6. Keberanian
  7. Ketaatan
  8. Ketepatan waktu
  9. Perhatian penuh (mindfulness)
  10. Tanggung jawab

Setiap karakter dibahas secara mendalam melalui beberapa pendekatan menarik:

  • Definisi karakter
  • Ilustrasi nyata
  • Penerapan praktis dalam kehidupan sehari-hari
  • Bentuk pujian dan apresiasi
  • Sikap dan tindakan yang dapat dilakukan orang tua
  • Kisah inspiratif yang menggugah dan meneguhkan pemahaman pembaca

Pendekatan yang menyeluruh ini membuat buku Character Excellence Jilid 2 tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga alat pembentukan karakter yang bisa diterapkan di keluarga, sekolah, maupun lingkungan kerja.


Refleksi: Bertumbuh dalam Karakter, Menjadi Berkat bagi Sekitar

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk terus berproses dalam pengembangan diri, sekaligus berperan aktif dalam membentuk karakter positif di lingkungan masing-masing — baik sebagai orang tua, pendidik, maupun rekan kerja.

Setiap kualitas karakter yang dipelajari adalah langkah menuju perubahan yang lebih baik, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi anak, siswa, dan komunitas di sekitar kita.

Semoga setiap karakter yang dibahas dalam buku ini menolong kita untuk bertumbuh dalam kasih, tanggung jawab, dan integritas.
Tuhan memberkati! 🙏 (SO)

Character Excellence, Jilid 1, Mengembangkan Karakter Pribadi

Judul : Character Excellence
Penulis : Rizal Badudu
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit : 2019
Jumlah halaman: 228 halaman

Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.

Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.

Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.

Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.

Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)

Gadis Pejuang Iman

Athalia Student Territory

Sumi San lahir dalam sebuah keluarga yang miskin. Hutang mengharuskan ayahnya mendekam beberapa lama di dalam penjara. Pada saat ayahnya keluar dari penjara, sang ayah memutuskan untuk bekerja ke kota. Karena pekerjaan di kota pasti akan sangat sibuk, maka ayahnya mengajak Sumi untuk ikut serta dengannya untuk mengurusi kebutuhannya. Sifat Sumi yang sangat rajin, telaten dan mandiri, menjadi pertimbangan. Ayah Sumi yakin, Sumi pasti akan dapat menolong dan merawatnya dengan baik.

Akhirnya Sumi dan ayahnya menyewa sebuah tempat di kota untuk mereka jadikan tempat tinggal. Suatu hari ayah Sumi membawa seorang temannya yang bernama Shigeru. Shigeru akan tinggal serumah dengan mereka agar biaya sewa dapat dibagi dua. Ayah Sumi berharap uang hasil bekerja dapat ia tabung lebih banyak sehingga hutang-hutang keluarganya dapat segera lunas. Awalnya semua berjalan dengan lancar, sampai suatu hari ketika Sumi dan ayahnya berencana untuk kembali ke kampung halaman mereka di Funo, Shigeru meminta Sumi untuk tinggal bersamanya di kota. Ternyata selama ini Shigeru sudah menaruh hati pada Sumi San. Namun pada saat permintaannya ditolak oleh Sumi, maka Shigeru menjadi marah dan menodai Sumi. Rasa sedih yang mendalam dialami oleh Sumi San, namun ia tidak mau menceritakan apa yang ia alami kepada orang tuanya karena ia khawatir akan membuat mereka cemas. Sumi San yang pergi ke kota dengan wajah gembira kini pulang ke kampung halaman dengan wajah yang sedih.

Setelah tinggal beberapa lama di Funo, kesedihan Sumi akhirnya sirna, hal ini disebabkan karena ia menyukai kehidupan di Funo dan terlebih  lagi karena ia dapat berkenalan dan menjadi dekat dengan salah seorang pemuda bernama Katzuo.

Keadaan ekonomi keluarga yang sangat sulit akhirnya memaksa Sumi untuk pergi ke Kobe dan bekerja sebagai tukang tenun sambil melanjutkan sekolahnya di malam hari. Sumi bekerja dan belajar dengan sangat rajin, hingga akhirnya kesibukannya yang sangat padat membuatnya terkena bronchitis dan beri-beri. Ia dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan dan terpaksa kembali ke kampung halaman karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan baginya untuk bekerja kembali.

Setelah kondisi kesehatan Sumi membaik, Sumi memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke Hirosima. Ia mengambil jurusan juru rawat. Akhirnya Sumi dapat menyelesaikan pendidikannya dan bekerja sebagai juru rawat pada sebuah rumah sakit. Namun sebuah kabar menyedihkan datang dari kampung halamannya. Sumi mendapat berita bahwa ibunya meninggal dan ia harus segera pulang ke Funo.

Kesedihan mendalam kembali menghampirinya, selain karena kematian Ibunya juga karena ia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai juru rawat. Ia harus tinggal di Funo untuk mengurus rumah tangga. Sebagai anak tertua Sumi sadar bahwa beban itu harus ia pikul. Keputusan ini sungguh bukan hal yang mudah bagi Sumi. Namun, ia dan ayahnya yakin bahwa mereka dapat mengatasi kesulitan yang sedang terjadi dan segalanya pasti akan kembali normal dengan bantuan dewa Hotoke San. Sumi dan keluarganya adalah penganut agama Budha. Prinsip hidupnya didasarkan pada ajaran tersebut, yaitu bahwa “hidup hanyalah soal nasib semata, biarpun manusia dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban hidupnya”. Sumi dibesarkan dalam ajaran ini dan ia menyerahkan hidupnya pada nasib. Ia berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah yang terjadi dalam hidupnya dan berharap mudah-mudahan nasib baik akan menghampirinya pada masa yang akan datang.

Di samping mengurus rumah tangga, Sumi juga terus memperdalam pengetahuan keperawatannya. Ia berharap suatu hari nanti dapat bekerja pada sebuah distrik dengan penghasilan yang jauh lebih besar daripada penghasilan di rumah sakit. Nasib baik nampaknya berpihak pada Sumi, ia diterima sebagai perawat di Badan Kesehatan Distrik di bagian timur Kobe.

Suatu hari, Sumi mendapat tugas baru. Ia ditugaskan merawat Machan, putra tunggal keluarga Komatsu yang menderita bisul pada kakinya. Tugas tesebut mengharuskannya untuk datang setiap hari ke rumah Machan. Kedatangan Sumi selalu disambut gembira oleh Machan, mereka berdua benar-benar telah menjadi sahabat. Namun secara diam-diam, Komatsu, ayah Machan, menaruh perhatian khusus kepada Sumi dan ia memikirkan segala cara untuk mendapatkan Sumi. Sumi mengetahui hal tersebut, dan karenanya ia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Komatsu, mengingat Komatsu sudah memiliki istri. Sumi akhirnya pindah ke Tokyo.

Namun tanpa ia sangka keberadaannya di Tokyo diketahui oleh Komatsu dan Komatsu sengaja datang ke Tokyo untuk menemuinya dan untuk memaksanya menikah dengan Jiro. Jiro adalah adik Komatsu.

Sumi sama sekali tidak dapat menolak paksaan Komatsu untuk menikah dengan Jiro adiknya. Tanpa sepengetahuan Sumi, Komatsu telah mendatangi ayah Sumi dan meminta agar Sumi dinikahkan dengan Jiro. Komatsu berjanji kepada ayah Sumi bahwa ia akan membantu keluarga Sumi melunasi hutang. Perjodohan adalah hal yang biasa pada waktu itu. Karena tidak memiliki pilihan, akhirnya Sumi setuju pada rencana perjodohan itu. Ia tahu bahwa keputusannya itu akan membuatnya kehilangan orang yang ia cintai yaitu Kazuo dan harus hidup dekat oleh bayang-bayang Komatsu.

               Ternyata Jiro bukanlah pria baik-baik. Jiro selalu menghabiskan sepanjang malam dengan minuman keras dan wanita. Sumi tinggal sendirian di rumah, rasa sepi mulai menghampirinya dan ia bertekad untuk mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Namun, pikiran tersebut segera dibuangnya jauh-jauh ketika ia mengingat hutang ayahnya yang belum lunas.

Keinginan dan niat Komatsu untuk menikahkan Sumi dengan Jiro pada dasarnya tidaklah baik. Tujuan utamanya bukanlah untuk membahagiakan Sumi ataupun adiknya Jiro, namun hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Komatsu ingin agar Sumi dapat tinggal dekat dengannya sehingga ia dapat menjalankan rencana jahatnya pada Sumi. Kesempatan itu akhirnya tiba. Pada saat Jiro tidak ada di rumah, maka Komatsu menyelinap masuk ke kamar sumi dan ingin menodainya. Untunglah teriakan dan jeritan minta tolong Sumi didengar oleh kakak Komatsu yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Kakak Komatsu akhirnya menyelamatkannya dan membawanya ke sebuah rumah dekat pantai yang ditinggali oleh seorang janda bernama Yamada.

Sumi San akhirnya tinggal dengan Yamada beberapa bulan dengan hati yang penuh kebencian kepada Komatsu. Karena perasaan benci yang sangat besar, akhirnya suatu malam Sumi menjalankan suatu ritual yang biasa dilakukan oleh orang Jepang untuk melampiaskan kebencian pada seseorang. Beberapa bulan kemudian, Sumi San mendapat informasi bahwa Komatsu menjadi gila dan meninggal di rumah sakit. Seiring dengan kematian Komatsu, akhirnya Sumi pulang ke rumahnya.

Pada saat Sumi tinggal di rumah Yamada, ia pernah dikenalkan dengan seorang yang bernama Koide. Koide adalah seorang Kristen. Koide menceritakan mengenai kasih Tuhan kepada Sumi San, namun Sumi tidak dapat percaya bahwa Tuhan mengasihinya setelah begitu banyak penderitaan yang dialaminya.

Pada saat Sumi sudah kembali ke rumahnya, rasa sepi kembali menghampirinya. Suatu saat Koide mengajaknya untuk menghadiri kebaktian Kristen. Sumi pada dasarnya tidak tertarik untuk ikut, namun ia akhirnya memutuskan untuk ikut karena ia tidak mau tinggal sendirian di rumah dan kesepian. Akhirnya Sumi selalu menghadiri kebaktian tersebut, namun ia tetap tidak mau percaya kepada Tuhan. Baginya Tuhan itu harus dapat dilihat dan dibuktikan keberadaannya. Tuhan itu harus dapat diterima oleh akal pikiran.

Suatu hari Pendeta Honda dan Koide mengajak sumi untuk berdoa, pada saat itulah Sumi merasakan perubahan dalam dirinya. Akal logikanya mulai pudar dan dia mulai percaya kepada Tuhan. Ia tetap tidak melihat Tuhan, namun ia merasakan bahwa Tuhan itu benar-benar nyata. Perubahan didalam diri Sumi berlangsung dengan perlahan tapi pasti. Ia yakin bahwa dirinya adalah milik Kristus.

Dua tahun kemudian terjadi perang pasifik. Rumah Sumi tak luput dari keganasan perang tersebut. Semuanya hancur terkena Bom. Ia dan suaminya Jiro akhirnya memutuskan untuk pulang ke Funo, kampung halamannya. Di tengah perjalanan menuju Funo, Jiro pergi begitu saja meninggalkan Sumi. Pada saat yang sama seorang pria menyapa Sumi dan begitu ia tahu bahwa sumi adalah seorang perawat, maka ia menawari pekerjaan kepada Sumi sebagai perawat di desa Sawadani. Begitulah akhirnya Sumi kembali bekerja, namun kali ini ia bekerja dengan cara yang berbeda. Sumi menjalani hidupnya dengan rasa bahagia dan selalu melayani pasiennya dengan penuh kesabaran. Tak jarang juga Sumi menceritakan mengenai Tuhan Yesus kepada para pasiennya.

Setelah tinggal beberapa lama di Sawadani, Sumi sangat prihatin dengan keadaan desa tersebut, khususnya dengan keadaan para pemudanya. Sumi melihat banyak remaja putri yang hamil diluar nikah dan melahirkan anak tanpa memperdebatkan siapa ayah dari anak tersebut. Hamil diluar nikah adalah hal yang lumrah di desa itu. Berangkat dari keprihatinan itulah, Sumi berinisiatif untuk mengadakan kebaktian di rumahnya untuk mengenalkan Yesus kepada para penduduk khususnya para pemuda. Akhirnya atas usul pendeta Honda, Sumi mengundang pendeta Hasimoto untuk memimpin kebaktian di rumahnya. Empat kebaktian telah dilaksanakan, dan banyak penduduk yang datang. Para pemuda bahkan datang secara khusus untuk berbicara kepada pendeta Hasimoto dan Sumi mengenai kekhawatiran dan penyesalan mereka akan dosa yang sudah mereka perbuat saat ini. Akhirnya dua puluhan orang menyerahkan diri untuk ikut Yesus dan dibabtis.

Ketenangan dan kenyamanan yang dirasakan Sumi di Sawandani ternyata tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu yang singkat, keadaan berubah drastis. Pendeta Budha memberi tekanan kepada penduduk untuk melarang anggota keluarga mereka menghadiri pembelajaran firman Tuhan di rumah Sumi, para penduduk yang sudah menyerahkan diri untuk mengikut Yesus mengalami banyak tantangan untuk tetap setia pada imannya, Sumi diusir dari rumahnya dan didiagnosis menderita penyakit berbahaya bahkan Dokter mengatakan bahwa ia hanya dapat bertahan hidup beberapa bulan saja.

Bagaimana kehidupan Sumi dan nasib orang-orang percaya di Sawandani berikutnya?

Silahkan baca kisah lengkapnya di buku “Gadis Pejuang Iman”.

-IB/ Tim Karakter-

Referensi: http://www.sabda.org/

Aiko Di Tokyo

Aiko di Tokyo

Aiko berlari menuju ibunya sambil meneteskan air mata, padahal tadi pagi ia pergi dan bermain dengan temannya dengan wajah gembira.

“Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?” Tanya Aiko kepada ibunya.

“Tidak, kita tidak miskin, Aiko. Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain,” kata ibu.

“Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai,” kata Aiko. “Apakah yang dapat kita berikan?”

“Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberikan sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap di kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur,” ibu memberi contoh.

“Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain,” kata Aiko.

“Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu,” jawab ibu meyakinkan Aiko.

Aiko mencari tahu apa yang dapat ia berikan pada orang lain. Ia membongkar barang-barang yang ia miliki, tas, alat tulis dan segala sesuatu yang ia miliki. Namun ia tidak menemukan apapun. Tiba-tiba wajahnya nampak gembira.

“Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan,” kata Aiko.

Ya, Aiko telah menemukan sesuatu yang dapat ia berikan kepada orang lain dan ia dapat memberikannya kepada banyak orang, bahkan kepada seluruh orang tanpa berkurang sedikit pun. Sehingga ia dapat terus memberi dan memberi tanpa pernah kehabisan.

Aiko sangat senang karena ia telah menemukan sesuatu untuk dibagikan pada orang lain. Namun kini hati Aiko kembali sedih. Suatu malam Aiko mendengar bahwa adiknya Toru yang pintar akan dinaikkan melompat satu kelas tahun depan. Jadi tahun depan ia akan sekelas dengan adiknya.

Aiko sangat senang dengan keberhasilan Toru, namun ia sangat sedih karena ia harus satu kelas dengan Toru. Teman-temannya pasti akan mengejeknya kembali. Apa yang harus ia lakukan?

Suatu hari paman Ogawa berkunjung dan membawa kabar yang sungguh mengejutkan bagi Aiko. Sebuah kabar yang mengharuskan Aiko berteman dengan Kenichi yang sangat egois dan pemarah, dengan bapak dan ibu Ito yang penuh kasih, dan nenek yang selalu menghiburnya. Bahkan ia harus mengalami peristiwa badai topan yang merubuhkan rumah bapak dan ibu Ito serta menimpa tubuh Genji, seorang anak lelaki yang suka melempar bapak dan ibu Ito dengan sayur-sayuran. Apa yang harus Aiko lakukan?

Bagaimana kelanjutan kisah Aiko? Yuk, baca cerita lengkapnya dalam Buku “Aiko di Tokyo”. Bukunya dapat dibeli di toko buku terdekat atau untuk siswa Athalia dapat dipinjam dari Perpustakaan SMP. Tanyakan saja pada ibu Hana, ibu Ita, atau ibu Ros letaknya di mana ya…… Selamat membaca …

-IB/ Karakter-