
Paduan Suara SD Athalia Tampil dalam Festival



Di tengah situasi pandemi yang penuh tantangan ini, banyak keluarga mengalami perubahan besar dalam hidup mereka. Tidak sedikit yang menghadapi tekanan ekonomi, kesehatan, maupun emosional. Dalam kondisi seperti ini, justru karakter kemurahan hati sangat diperlukan. Karakter ini membuat kita mampu melihat penderitaan orang lain dan tergerak untuk menolong. Kemurahan hati tidak hanya membantu mereka yang kesusahan, tapi juga menguatkan empati dan kasih dalam diri kita.
Sebagai orang tua, kita memiliki peran penting untuk menjadi teladan dalam hal kemurahan hati. Anak-anak belajar bukan hanya dari perkataan, tetapi dari sikap dan tindakan nyata yang mereka lihat setiap hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti berbagi makanan kepada tetangga, mendoakan mereka yang sakit, atau menyisihkan uang jajan untuk membantu sesama. Libatkan anak dalam tindakan kebaikan tersebut, agar anak mengerti arti memberi dan peduli. Karakter ini, jika diajarkan secara konsisten, akan melekat dalam hati anak hingga dewasa.
Mari jadikan masa sulit ini sebagai kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai kebenaran, khususnya murah hati. Jadilah contoh nyata bagi anak, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan aksi penuh kasih. Sebab, saat kita bermurah hati, bukan hanya orang lain yang diberkati, tapi hati kita pun diperkaya.
Sudahkah Anda menunjukkan kemurahan hati hari ini?
Baca Juga : Pengendalian Diri – Tembok Pertahanan Diri
tags :
#sekolahkarakter #pendidikankarakter #sekolahkristen #sekolahathalia #tipsparenting #videoparenting #belajarparenting #characterbasedlearningcommunity #komunitasathalia #murahhati #pedulisesama
Oleh: Sabinah Valentina
Kelas V SD Athalia mengadakan retreat pada hari Rabu, 25–27 September 2019. Kegiatan ini bertempat di Wisma D’Agape, Bogor. Retreat yang bertema “Jesus is the Only One” ini bertujuan untuk membimbing siswa mengerti dan menyadari bahwa Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Selain itu, retreat ini bertujuan untuk membimbing siswa berlatih jujur, kemandirian, dan bertanggung jawab. Diharapkan siswa dapat melakukan berbagai hal saat tanpa orang tua. Siswa dapat bertanggung jawab dalam merapikan barang milik pribadi. Diharapkan mereka juga dapat mengatur waktu agar bisa mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan. Retreat ini juga melatih siswa berinisiatif mengingatkan teman-temannya untuk mengikuti kegiatan yang sudah dirancang, serta menolong teman yang membutuhkan bantuan.
Yohanes 14:6 mengatakan, “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.” Ayat ini menjadi tema sekaligus pedoman bagi kita untuk menyadari dan meyakini bahwa hanya Yesuslah satu-satunya juru selamat yang ada. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat tidak hanya diucapkan melalui kata-kata, melainkan selalu mengandalkan Yesus dalam setiap kehidupan. Yesus selalu ada di awal, di tengah, dan di akhir karena Yesus selalu memimpin, membimbing, dan menyertai hidup kita. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus menjadikan Yesus sebagai satu-satunya juru selamat.
Retreat kelas 5 SD diawali dengan ibadah pembuka yang mengajak setiap siswa memuji dan menyembah Tuhan. Siswa belajar mengenali gambar diri sebagai ciptaan yang istimewa melalui sesi “I am a Special Creation”. Mereka diminta menuliskan refleksi tentang gambar diri di malam api unggun. Kemudian, mereka juga belajar memahami kondisi manusia yang berdosa dan karya keselamatan Kristus dalam sesi “I am a Broken Vessel”. Di dalam sesi ini ada kegiatan membuat proyek menyatukan kembali bejana yang telah hancur bersama teman kelompok.
Pada sesi ke-3 “I am a Disciple of Christ”, siswa belajar menyadari kondisi yang diubahkan oleh Kristus. Selain itu siswa juga diajak untuk menerima panggilan sebagai murid Kristus. Di sesi ke-3 ini siswa mengikuti sebuah permainan yang melatih konsentrasi untuk hanya berfokus pada suatu perintah. Siswa juga membuat proyek dari lilin malam bersama dengan teman kelompok dengan tema “Creation”. Pada sesi yang terakhir yaitu KKR, siswa diajak untuk menyadari dan memercayai Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Siswa pun diminta menuliskan komitmen dalam diri sendiri terhadap kehidupannya dalam sesi “Jesus is The Only One”.
Kegiatan retreat ini sangat membantu setiap siswa untuk semakin belajar dan mengenal kasih Kristus. Bahkan mereka juga diajak untuk membagikannya melalui respons setiap siswa dalam mengikuti sesi-sesi yang ada. Salah satu bentuk kesadaran tersebut melalui antusiasme mereka dalam mengikuti beberapa permainan yang ada. Hanya dengan penyertaan Yesus-lah setiap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar.



