Paduan Suara SD Athalia Tampil dalam Festival

paduan suara sd athalia
Tim paduan suara SD Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong, tampil bersemangat di ajang Penabur International Choir Festival (PICF) 2024, yang berlangsung pada tanggal 9-14 September 2024. Di bawah arahan dan bimbingan conductor Ibu Asafel, tim paduan suara ini telah berhasil membawakan dua lagu berjudul “Naik Delman” dan “Alleluia, Alleluia!”, dengan iringan piano dari Ibu Bulan dan perkusi dari Pak Adit. Berkat latihan yang rutin dan intensif, penampilan para siswa mendapatkan apresiasi dari juri dan penonton, mereka juga dinilai penuh energi dan emosi yang menyentuh hati. Ibu Asafel mengungkapkan kebanggaannya, “Anak-anak ini luar biasa. Mereka belajar bekerja sama dan tampil dengan percaya diri”. Semoga pengalaman ini dapat menjadi motivasi besar bagi mereka untuk terus berkarya di masa depan, memuji dan memuliakan Tuhan melalui musik dan lagu, dan semangat tim paduan suara SD Athalia juga dapat menginspirasi anak-anak Indonesia lainnya untuk berani bermimpi dan berprestasi di kancah internasional”. Baca juga: Prestasi Paduan Suara Sekolah Athalia

Kesan Selama Berada di Lingkungan Sekolah Athalia

Oleh : Vanessa Majesty – Alumni SMA Athalia Angkatan VIII

Masa Sekolah: Tahap Awal Pengenalan Diri

Bagi saya, masa sekolah adalah tahap awal pengenalan diri sebelum melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Pada masa ini, lingkungan sekitar sangat memengaruhi tumbuh kembang anak—terutama dalam hal pendidikan dan pembentukan karakter.

Pendidikan Holistik di Sekolah Athalia

Sebagai alumni SMP dan SMA Athalia, sebuah sekolah di BSD, Serpong, saya bersyukur telah mendapatkan bekal pendidikan yang holistik. Sekolah Athalia tidak hanya fokus pada pengetahuan akademik, tetapi juga membangun iman kepada Kristus dan pendidikan karakter.
Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kerendahan hati, kejujuran, dan kerja sama sangat membantu saya beradaptasi di dunia perkuliahan.

Makna Motto Sekolah Athalia: “Right From The Start”

Selama bersekolah, saya sering mendengar motto Sekolah Athalia, yaitu “Right From The Start.” Dulu, motto ini terasa biasa saja. Namun, setelah lulus dan memasuki dunia perkuliahan, saya mulai memahami maknanya.
Di lingkungan kampus yang penuh dengan orang-orang berprestasi dan berbakat, saya menyadari bahwa karakterlah yang menentukan kemampuan seseorang untuk bertahan dan berkembang. Motto itu akhirnya menjadi pengingat penting bahwa fondasi karakter harus dibangun sejak dini.

Mengasah Bakat dan Potensi Melalui Kegiatan Sekolah

Selain pendidikan akademik, Sekolah Athalia juga mendukung berbagai kegiatan non-akademik yang membantu siswa mengenali potensi diri. Sebagai mahasiswa jurusan musik, saya bersyukur karena Athalia memiliki mata pelajaran musik yang memfasilitasi minat dan bakat saya sejak sekolah.
Dukungan ini membuat saya semakin yakin untuk melanjutkan studi di bidang musik dan mengembangkan kemampuan saya secara profesional.

Refleksi: Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

Ketika saya merefleksikan perjalanan pendidikan saya, saya sadar bahwa pendidikan sejati membentuk manusia yang mampu memanusiakan orang lain. Tujuan akhirnya bukan sekadar mengejar karier, tetapi juga bagaimana menggunakan kemampuan kita untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Dalam proses pembelajaran, semua pihak memiliki peran penting—mulai dari siswa, guru, pihak sekolah, hingga orang tua—dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berintegritas.

Paduan Suara SD Athalia Menerima
Penilaian Juri Internasional sebagai
Terbaik I (Gold I) di Penabur
Internasional Choir Festival 2022

Oleh: Tania Veronina Aipassa – Pembina Padus SD Athalia

Puji Tuhan Sekolah Athalia – sebuah sekolah di Serpong, terus membuka kesempatan untuk setiap anak-anak yang bertalenta dan mau belajar memuji Tuhan melalui paduan suara. Di masa pandemi ini kami mencoba untuk tetap membentuk paduan suara anak khususnya paduan suara Anak SD Athalia. Hal ini tentunya tidaklah mudah dan terdapat banyak sekali tantangan. Tetap semangat melayani Tuhan! Inilah yang menjadi dorongan bagi kami dan anak-anak untuk belajar di dalam Paduan Suara.

Di tahun ini kami kembali mendapat kesempatan untuk mengikuti International Choire Festival 2022. Kami segera melakukan proses pembentukan Paduan Suara, dimulai dari memilih anak yang nantinya akan menjadi perwakilan paduan suara dari SD Athalia. Dalam pemilihan bukan hanya suara yang baik dan indah, namun anak-anak juga harus memiliki kesukaan bernyanyi, berani tampil, mau belajar banyak hal ketika berpaduan suara, serta disiplin yang tinggi. Hal ini tercapai tentunya dengan persetujuan dan dukungan dari orang tua.

Ketika jadwal latihan sudah terbentuk dan dimulai secara on-line sebenarnya tidaklah mudah. Kesulitan yang terjadi adalah anak-anak kurang dapat memahami teknik bernyanyi dengan baik yang disampaikan
oleh pembina secara menyeluruh. Komunikasi yang sering terganggu karena kondisi jaringan internet yang kurang baik, menjadikan perintah atau arahan tidak dapat dipahami dengan jelas oleh anak-anak. Namun, kendala yang terjadi dapat tertutupi dengan adanya semangat yang tinggi dari anak-anak. Di pertengahan jadwal latihan kami mendapatkan kesempatan untuk latihan secara on-site di aula A. Waah.. Ini menjadi dorongan atau semangat baru bagi anak-anak dan pembina padus. Anak-anak lebih dapat mengekspresikan suara dan gerakan-gerakan yang diajarkan. Pembina pun dapat mendengar secara langsung perpaduan suara anak-anak. Tentunya kami tetap memperhatikan protokol kesehatan saat pelaksanaan latihan secara on-site. Anak-anak dapat dengan baik menjaga dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan.

Lagu-lagu yang diberikan untuk dinyanyikan oleh anak-anak adalah lagu-lagu yang mendidik dan terutama memuji nama Tuhan Yesus. Anak-anak melakukan dan bernyanyi dengan sukacita serta menjiwai isi lagu-lagunya.

Paduan Suara SD Athalia, mengikuti festival ini bukan untuk mencari atau mendapatkan juara, namun semua ini agar anak-anak mempunyai pengalaman yang baik serta bersama-sama mempersembahkan pujian indah bagi Tuhan. Anak-anak berusaha melakukan semuanya dengan sukacita, rendah hati, serta yang terutama adalah menyiapkan dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Pada akhirnya kami semua yang tergabung dalam Paduan Suara SD Athalia dapat belajar melayani Tuhan melalui talenta yang Tuhan percayakan dan nama Allah ditinggikan.

Puji Tuhan! Dengan rasa syukur dan rendah hati, Paduan Suara Anak SD Athalia menerima penilaian Juri Internasional sebagai Terbaik I (Gold I) untuk Category Primary School Choir dengan score 83.20.

Terima kasih Sekolah Athalia, para guru dan seluruh orang tua. Tuhan Yesus memberkati karya dan pelayanan kita semua.

Ibadah Natal SMP 2020

Ibadah Natal SMP Athalia 15 Desember 2020
Yesus Datang Membawa Damai


Damai Allah Turun Atas Kita

Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA

Apakah damai itu?

Menurut KBBI, damai adalah:

1 n tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman   2 a tenteram; tenang 3 n keadaan tidak bermusuhan; rukun

Dalam Bahasa Ibrani “shalom” שלום berarti damai, sejahtera, sentosa, aman, selamat, perdamaian, ketenangan, completeness, sedangkan dalam Bahasa Yunani “eirênê” ειρηνη artinya keadaan tenang, damai, dan sentosa.

Apa yang muncul di pikiran Anda bila mendengar kata “damai”? Ada yang membayangkan burung merpati, pemandangan gunung yang biru dengan lembah hijau dipenuhi bunga-bunga liar yang bermekaran, berdiri di pantai sambil memandang semburat kejinggaan di langit menjelang senja atau aliran sungai yang tenang dengan gemericik lembut, ada juga yang menggambarkannya sebagai berikut.

Bangsa Israel mempunyai pengalaman yang menarik dengan “damai”. Bangsa ini diberi hak istimewa untuk menerima langsung janji datangnya Raja Damai. Namun, mereka mengalami kesulitan untuk memercayainya. Mengapa? Karena yang mereka harapkan dan bayangkan berbeda dengan maksud dan rencana Tuhan.

Nabi Yesaya menubuatkan datangnya Raja Damai (± tahun 740 SM) yang tertulis dalam  Yesaya 9:6–7.

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini. Ternyata bangsa Israel justru mengalami pembuangan ke Babilonia. 

Di mana damai yang dijanjikan?

Ketika Raja Damai itu lahir di dunia (± 700 tahun setelah nubuat tentang ini disampaikan), seperti tercatat dalam Lukas 1 dan 2, Raja itu tidak membebaskan bangsa Israel yang sedang dijajah dan diperbudak oleh bangsa Romawi, bahkan Raja itu mati dengan cara yang sangat hina—disalib—dan setelah kebangkitan-Nya, Raja itu pun naik ke surga tanpa mendirikan kerajaan atau meninggalkan pengganti-Nya secara fisik. Tindakan kaisar-kaisar Romawi bahkan mendorong bangsa Israel untuk berdiaspora, tercerai-berai tanpa tanah air. Di mana damai yang dijanjikan?

Situasi politik selama Perang Dunia I membuka jalan bagi bangsa Israel untuk melakukan Gerakan Zionis (Zionisme), yang memicu pertentangan dan perang berkepanjangan dengan Palestina. Di mana damai yang dijanjikan?

Saat Perang Dunia II meletus, bangsa Israel mengalami holocaust, yaitu genosida terhadap kira-kira enam juta penganut Yahudi di Eropa, suatu gerakan pembunuhan secara sistematis yang dipimpin oleh Adolf Hitler, dan berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai oleh Nazi. Di mana damai yang dijanjikan?

Di mana damai itu? Berita damai itu disampaikan ketika bangsa Israel mengalami situasi-situasi yang tidak menyenangkan, keadaan yang justru terjadi karena ulah mereka sendiri yang menduakan Tuhan, mereka berpaling kepada allah-allah lain yang tidak dapat memberikan ataupun melakukan apa-apa, tetapi Tuhan yang mahabaik memberi jalan keluar dengan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.

Syukur! Janji itu tidak hanya untuk bangsa Israel…. orang Yahudi… tapi untuk semua orang yang percaya kepada Tuhan, pemberi janji itu. Apakah kita akan bersikap seperti bangsa Israel yang memaksakan damai sesuai pandangan dan keinginan sendiri? Damai seperti apa yang Tuhan maksudkan? Berdamai dengan Allah Tritunggal, itulah damai yang sesungguhnya. Karya Kristus di kayu salib membuka jalan perdamaian itu, memulihkan hubungan manusia dengan Allah.

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu (Yohanes 14:27).

Damai yang dianugerahkan-Nya memungkinkan kita menghadapi dan menjalani hari-hari kita dengan damai sejahtera-Nya, sekalipun situasinya tidak menyenangkan karena Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Filipi 4:7). Tugas kitalah untuk membagikan damai itu kepada semua orang karena kita bukan peace owner atau peace keeper, tetapi peace maker.

Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!(Rm 12:18).

Apakah Tuhan hanya mengurusi damai yang berhubungan dengan hal-hal rohani? Dapatkah Dia menenangkan kekisruhan jasmaniah? Dapat! Laut yang bergelombang pun Dia tenangkan hanya dengan perkataan:

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

 Matius 14:27

Chapel Online SMA Athalia: “Kapal Kandas”

Chapel Online SMA Athalia: “Kapal Kandas”
Jumat, 20 November 2020


Partnership Program I

Kegiatan partnership program yang diselenggarakan pada tanggal 26 Agustus 2020 ini bertujuan untuk memperkenalkan SMP Athalia kepada siswa-siswi SD kelas VI yang akan melanjutkan ke SMP Athalia.

Kegiatan ini diikuti oleh 104 siswa dan 24 guru secara online via aplikasi Zoom, yang dimulai dari pukul 07.30-12.00 WIB. Kegiatan terdiri dari devosi, perkenalan lingkungan sekolah, informasi tentang kegiatan-kegiatan di SMP, perpustakaan, OSIS, dan perkenalan mata pelajaran-mata pelajaran yang ada di SMP Athalia.

Buku Parenting “Learning to Stop”, oleh Ibu Charlotte Priatna

Buku Parenting "Learning to Stop"

“Sampai kapan saya harus melakukan parenting?”

Ini adalah pertanyaan yang menarik untuk dibahas bersama ahlinya!

Tahun ini, praktisi Pendidikan sekaligus pendiri Sekolah Athalia, Charlotte Priatna, menelurkan sebuah buku terbarunya yang berisi pemikiran-pemikirannya mengenai konsep parenting Kristen. Buku ini terdiri atas tujuh bab yang akan mengajak pembaca memahami ulang mengenai fondasi konsep menjadi orang tua, mendidik anak, relasi dengan pihak ketiga (kakek-nenek), memahami tangki emosi anak, hingga mempersiapkan diri melepas anak “ke luar dari sarang”.

Buku ini sudah dapat dipesan melalui link Google form yang tertera pada flyer. Oh ya, kami memberikan harga spesial untuk para guru di seluruh Indonesia selama periode HUT ke-25 Athalia! Sebarkan kabar baik ini!

Punya pertanyaan? Silakan kontak nomor atau scan QR code yang tersedia.*

Yuk, belajar parenting bersama Charlotte Priatna!

*Berlaku jam operasional hari kerja pukul 07.30 – 15.30

Buku Parenting "Learning to Stop"
Buku Parenting "Learning to Stop"
Buku Parenting "Learning to Stop"

Kreatif yuk! Belajar Sains Bersama Anak. Emulsifikasi: Apakah Itu?

Selama mengisi waktu luang, Anda dapat mengajak anak belajar hal baru. Salah satunya belajar sains sederhana: apakah minyak dan air dapat menyatu? Untuk anak-anak usia sekolah dasar, pertanyaan ini mungkin dapat dijawab dengan mudah. Tentu minyak dan air tidak dapat menyatu! Namun, eksperimen tidak berhenti sampai situ. Kali ini, ajak anak untuk belajar lebih dalam lagi, yaitu membuktikan apakah minyak dan air benar-benar tidak dapat menyatu?

Dalam proses kimia, ada yang namanya emulsifikasi. Emulsifikasi adalah pemantapan emulsi dengan menambahkan dua cairan (zat) yang tidak dapat bercampur pada zat ketiga, kemudian dikocok kuat-kuat, misalnya air, minyak, dan deterjen (sabun). Emulsi sendiri merupakan cairan yang terbentuk dari campuran dua zat, zat yang satu terdapat dalam keadaan terpisah secara halus atau merata di dalam zat yang lainnya.

Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air

Jadi, anak-anak akan belajar tentang proses penyatuan air dengan minyak menggunakan cairan lainnya. Tentu eksperimen ini akan membuat anak bertanya-tanya: benarkah minyak dan air dapat menyatu?

Untuk melakukan eksperimen ini, Anda perlu menyediakan bahan-bahan berikut.

  • Botol minum dengan mulut lebar/stoples kaca
  • Air
  • Pewarna makanan
  • Minyak goreng
  • Sabun pencuci piring.

Sebelum memulai eksperimen, Anda perlu memberikan pengantar kepada anak mengenai eksperimen kali ini.

  1. Memberikan pertanyaan: Apakah minyak dan air dapat bercampur dengan sempurna?
  2. Menjelaskan secara sederhana definisi emulsifikasi dan emulsi.
  3. Mempraktikkannya dengan melakukan eksperimen sederhana.

Mari mulai bereksperimen!

  1. Masukkan pewarna makanan ke dalam air.
  2. Tambahkan dua sendok air lagi ke dalam wadah.
  3. Tuangkan dua sendok minyak goreng ke dalam wadah tersebut.
  4. Tutup wadah, kemudian minta anak untuk mengocok botol tersebut sekuat tenaga. Bisa juga dengan mengaduknya menggunakan sendok.
  5. Letakkan botol itu dan minta anak memperhatikan cairan di dalamnya.

Saatnya berdiskusi!

Hentikan eksperimen sejenak, kemudian ajak anak untuk berdiskusi.

  1. Minta anak untuk menjelaskan hasil pengamatannya. Pancing anak untuk mempertanyakan fenomena tersebut.
  2. Jelaskan secara sederhana untuk memberikan konsep tentang perbedaan massa jenis pada cairan. Anda dapat menjelaskan kepada anak bahwa molekul yang ada di dalam air maupun minyak terikat kuat satu sama lain sehingga mereka tertarik dengan molekulnya sendiri. (Air terikat dengan molekulnya sendiri, minyak terikat dengan molekulnya sendiri.)
  3. Minta anak untuk memperhatikan eksperimennya kembali. Minyak berada di atas air. Jelaskan secara sederhana mengenai massa jenis atau kepadatan minyak yang lebih ringan dari air sehingga membuatnya berada di atas air.

Mari lanjutkan eksperimen ini!

Lanjutkan eksperimen ini dengan mengajak anak menambahkan satu cairan lagi, yaitu sabun pencuci piring.

  1. Tuangkan sabun pencuci piring ke dalam gelas berisi minyak dan air. Rasio sabun dengan minyak 1:1.
  2. Aduk campuran ketiganya sampai air dan minyak berubah warna menjadi keruh dan muncul busa.

Diskusikan lagi!

Ketika berhasil melakukan emulsifikasi sederhana ini, kembali ajak anak untuk berdiskusi. Utarakan pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Setelah mengaduk, apa yang terjadi? (Jawaban: minyak dan air dapat tercampur dengan sempurna.)
  2. Apa yang membuat minyak dan air—yang tadinya tidak dapat bercampur—tercampur dengan sempurna? (Jawaban: dicampur dengan sabun cuci piring.)
  3. Proses apa yang baru saja terjadi? (Jawaban: emulsifikasi.)
  4. Apa istilah untuk cairan minyak dan air yang sudah tercampur rata tersebut? (Jawaban: emulsi.)

Belajar sains bersama anak ternyata menyenangkan, ya! Selamat menikmati waktu berkualitas dengan anak! [SO]

Informasi tambahan:


Anda dapat menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin agar anak memahami konsep ini. Jangan lupa untuk menciptakan suasana yang menyenangkan agar anak tak merasa sedang “belajar serius”.
Dalam proses emulsifikasi, sabun pencuci piring inilah zat ketiga, yang disebut pengemulsi (emulgator) yang memiliki sifat mengikat dua cairan lainnya (minyak dan air).

Hal sederhana yang dapat dijadikan contoh adalah saat mencuci piring. Ketika piring yang penuh bekas minyak dibasahi menggunakan air kemudian ditambahkan sabun pencuci piring, minyak, air, dan busa menyatu dengan sempurna! Ketika Anda membilas piring tersebut, minyak dan air pun akan larut bersamaan, menghasilkan sebuah piring yang bersih dan siap digunakan kembali.

Ide eksperimen: https://bobo.grid.id/read/081247351/eksperimen-sederhana-mengapa-air-dan-minyak-tidak-tercampur?page=3
Referensi lain: dari berbagai sumber