
Oleh: Welly Alfons Rossall
“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; … Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.”
(Ulangan 10:14, 17)
Allah yang Mencipta dan Berotoritas Atas Segala Sesuatu
Ketika kita berbicara tentang Allah yang Mahatinggi, kita sedang membahas tentang Pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Dialah Allah yang memiliki otoritas tertinggi atas seluruh ciptaan.
Dalam Alkitab, kuasa Allah kerap dinyatakan melalui peristiwa-peristiwa besar. Salah satu contohnya adalah ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya di Mesir melalui Musa. Saat Firaun mengeraskan hati dan menolak membebaskan bangsa Israel, Allah menurunkan berbagai tulah yang dahsyat.
Kuasa-Nya melampaui para allah Mesir dan bahkan mengendalikan unsur alam semesta. Hingga akhirnya, Firaun harus tunduk kepada otoritas Allah dan membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan.
Allah yang Mengalahkan Semua Allah dan Berkuasa Atas Segala Berhala
Kisah lain yang menunjukkan kebesaran kuasa-Nya adalah ketika patung Dagon, dewa bangsa Filistin, jatuh tersungkur di hadapan tabut perjanjian—simbol kehadiran Allah. Saat itu, bangsa Filistin telah merebut tabut tersebut dan menempatkannya di kuil mereka. Namun keesokan harinya, patung Dagon ditemukan roboh.
Peristiwa ini menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada allah atau kuasa apa pun yang dapat menandingi Allah Israel. Dialah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan.
Mengalami Allah yang Mahatinggi dalam Kehidupan Pribadi
Kisah tentang Allah yang Mahatinggi tidak hanya tertulis di Alkitab—saya pun mengalaminya sendiri.
Pada bulan Agustus 2021, istri saya, Jessica, berpulang ke rumah Bapa. Peristiwa itu sangat mengguncang hati dan membawa kesedihan mendalam. Dalam doa-doa saya, saya sering berkata kepada Tuhan bahwa sosok yang paling saya rindukan untuk jumpai pertama kali setelah meninggal nanti adalah Jessica.
Namun, suatu saat Tuhan berbicara lembut di hati saya, seolah bertanya:
“Siapakah yang lebih engkau kasihi—Aku atau Jessica?”
Pertanyaan itu menembus hati saya. Tuhan sedang mengingatkan bahwa Dia harus menjadi yang terutama dalam hidup ini.
Sejak saat itu, doa saya berubah. Kini, saya berdoa agar semakin mengenal Tuhan dan mengasihi-Nya lebih dalam. Saya ingin, ketika tiba waktunya bertemu muka dengan-Nya, Dialah sosok pertama yang saya rindukan dan ingin peluk dengan penuh kasih.
Belajar Taat dan Bergantung Penuh kepada Allah yang Mahatinggi
Kini saya belajar untuk hidup taat dan berserah penuh kepada Tuhan. Saya ingin berjalan bersama-Nya dengan kerendahan hati, meninggikan Dia di atas segalanya.
Biarlah Allah yang Mahatinggi memimpin setiap langkah hidup ini, sebab hanya Dia yang layak disembah, diagungkan, dan dipercaya sepenuhnya.
✨ Penutup: Hiduplah di Bawah Otoritas Allah yang Dahsyat
Allah yang Mahatinggi bukan hanya Tuhan yang besar dan dahsyat, tetapi juga Allah yang pribadi dan penuh kasih. Ia berdaulat atas langit dan bumi, namun tetap hadir di hati orang yang mau berserah.
Ketika kita menempatkan Allah sebagai yang terutama, hidup kita akan dipimpin oleh kuasa dan kasih yang tidak tertandingi.