Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Sylvia Tiono Gunawan-Staf Kerohanian PK3

Bumi memiliki enam musim yang siklus pergantian atau pembagiannya setiap beberapa bulan sekali. Enam musim tersebut dibagi lagi menjadi dua musim di daerah iklim tropis dan empat musim di daerah iklim subtropis. Dengan kata lain, ada negara yang hanya merasakan dua musim saja, salah satunya adalah Indonesia yang memiliki musim kemarau dan musim hujan. Musim yang ada di bumi juga memiliki pengaruh yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya (https://gramedia.com/literasi/musim/).

Musim Kehidupan yang Terus Berganti

Apa yang terjadi jika sepanjang tahun hanya ada satu musim? Tentu berbagai tanaman dan satwa tidak dapat bertahan hidup, bahkan manusia juga akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Beberapa tanaman hanya dapat tumbuh dengan suhu tertentu di musim tertentu, demikian juga beberapa satwa. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap musim yang ada membawa kebaikan dan memiliki manfaat masing-masing. Musim-musim itu berganti di sepanjang tahunnya untuk menolong setiap makhluk hidup yang ada di bumi ini tetap terpelihara. Inilah salah satu bukti karya Tuhan yang luar biasa. Tuhan bukan hanya menciptakan bumi dan segala isinya, Ia juga menyediakan apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya agar tetap terpelihara dengan baik.

Sama seperti musim yang berganti demikian juga kehidupan kita. Kehidupan adalah suatu hal yang dinamis, terus bergerak, dari hari ke hari tidak selalu sama. Apa yang kita hadapi hari ini, belum tentu kita hadapi esok hari. Kesulitan yang kita pikul hari ini belum tentu kita pikul di momen berikutnya. Tawa kita di hari ini bisa berganti duka di waktu yang lain. Pengkhotbah 3:1 mengatakan “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. Pahami dan ingatlah bahwa Tuhan kita tidak pernah berubah. Kasih setia Tuhan tetap sama baik dulu, sekarang maupun yang akan datang.

Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya

Ayat 11 mengatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Sayangnya, manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir sehingga di saat tertentu dalam kehidupan, kita merasa Tuhan tidak mengasihi dan memedulikan kita.

Seorang penulis Kristen bernama Joyce Meyer pernah berkata beberapa momen kehidupan memang kadang kala bisa terasa sangat berat, tetapi jika kita hanya menemukan kegembiraan di musim-musim tertentu, kita kehilangan hal terbaik dari Tuhan di musim-musim lainnya. Tuhan mau kita menemukan sukacita di setiap momen hidup kita karena itu biarkan Tuhan memproses kita dalam tiap musim kehidupan yang kita lewati supaya kita bertumbuh makin kuat dan indah di hadapan Tuhan.

Tuhan Selalu Hadir

Suka duka bisa datang silih berganti. Namun, dalam kesemuanya itu Tuhan selalu hadir, Ia tidak pernah meninggalkan kita dan mau kita terus mengingat-Nya. Ayat 14 mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. Dalam menyadari keterbatasan kita, mari belajar terus bergantung kepada Tuhan pada setiap musim kehidupan kita.

Baca juga: Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Kita Berharga di Mata Tuhan

Kita Berharga di Mata Tuhan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Yesaya 43:4
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi Engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu

Firman Tuhan ini disampaikan oleh Yesaya kepada orang Israel yang saat itu berada dalam pembuangan. Pembuangan adalah masa di mana Israel dihancurkan oleh Babel dan orang-orang Israel diangkut keluar dari negerinya untuk menjadi budak di Babel. Hal ini terjadi sebagai hukuman atas dosa yang Israel lakukan. Namun, di tengah hukuman yang mereka rasakan, Tuhan tetap baik dan mengasihi mereka.

Sekalipun saat itu Israel belum bertobat, Ia tetap menjanjikan keselamatan kepada umat-Nya. Ia berjanji akan melepaskan mereka dari Babel dan mengembalikan mereka ke negerinya. Keselamatan Tuhan berikan kepada umat-Nya bukan karena Israel baik atau sempurna melainkan karena anugerah Tuhan semata. Tuhan memberikan keselamatan kepada umat-Nya karena di mata-Nya mereka berharga, mulia, dan Ia mengasihi umat-Nya.

Kiranya pengalaman Israel bersama Tuhan menjadi pengingat bahwa saat ini kita pun dikasihi-Nya. Tuhan memandang setiap anak-Nya berharga dan mulia sehingga memberikan yang paling berharga untuk menyelamatkan kita, yaitu nyawa Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Meskipun kita lemah dan terbatas, Ia tidak membuang kita. Sebaliknya, Ia mau terus merangkul dan menopang kita karena Ia mengasihi kita dengan anugerah-Nya. Percayalah dan bersyukurlah untuk kasih-Nya. Lebih daripada itu, Ia pun rindu, kita memiliki cara pandang dan sikap yang sama kepada sesama kita terutama pasangan dan anak-anak kita. Mari belajar menghargai kehadiran mereka, menerima dan mengasihi mereka dengan segala keunikannya sebagaimana Tuhan memandang kita berharga dan mengasihi kita.

Baca juga: Kita Berharga di Mata Tuhan

Mengakhiri dengan Baik

Mengakhiri dengan baik

Oleh: Ngatmiati – Staf kerohanian Sekolah Athalia

Sebuah peribahasa berbunyi, “hangat-hangat tahi ayam”. Peribahasa ini mengandung makna melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya di awal. Pada awalnya giat atau semangat melakukannya, namun pada akhirnya mulai malas dan akhirnya mungkin saja pekerjaan yang dilakukan tidak terselesaikan. Hal yang penting bukan hanya kita memulai dengan baik, namun juga perlu menyelesaikannya dengan baik pula.

Teladan Paulus

Hal ini mengingatkan kita pada frasa yang diucapkan oleh Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:24 dan 2 Timotius 4:7. Di kedua ayat tersebut, Paulus menyinggung tentang mencapai garis akhir. Paulus menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai suatu pertandingan. Pertandingan di dalam bahasa aslinya mengandung makna perlombaan, perjuangan, dan pergumulan. Paulus telah memulai pertandingan dengan baik, ia pun rindu bisa mengakhirinya dengan baik pula. Secara khusus pertandingan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pertandingan iman dalam berjuang memberitakan atau menyaksikan Injil kasih karunia Allah. Dalam pertandingannya itu, Paulus mengalami banyak tantangan dan pergumulan (Kis. 20:19; 2 Kor. 11:23-28). Meski demikian, Paulus menolak untuk menyerah. Ia tetap memelihara imannya sampai akhir sambil terus bergantung pada kasih karunia Tuhan yang melimpah dalam hidupnya.

Bagaimana dengan Kita?

Sama halnya dengan Paulus, kita semua sedang menjalani pertandingan iman di dalam hidup kita dalam peran kita masing-masing di mana pun kita berada. Untuk dapat mencapai garis akhir dengan baik seringkali tidak mudah. Ada banyak tantangan yang kita hadapi yang menggoda kita untuk berhenti di tengah jalan ataupun menjalaninya dengan tidak benar. Hendaknya dalam menjalani setiap pertandingan yang kita ikuti kita senantiasa memelihara iman kita. Apapun kesulitan yang kita hadapi kita jalani dengan iman dan ketaatan kepada Tuhan. Terlebih lagi dalam setiap pertandingan kita, mari kita jadikan itu sebagai ajang untuk menyaksikan Injil kasih karunia Allah yang telah kita terima kepada orang-orang di sekitar kita. Baik itu anak didik kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, maupun di lingkup yang lebih luas dalam pelayanan maupun bermasyarakat. Sebagaimana Paulus menantikan mahkota yang Tuhan sediakan baginya jika ia mencapai garis akhir dengan tetap memelihara imannya, mari jadikan itu sebagai penyemangat bagi kita.

Baca juga: Setia Sampai Akhir

Setia Sampai Akhir

setia sampai akhir

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

1 Korintus 9:24
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

Dalam bagian firman Tuhan ini, Paulus menjelaskan bahwa ia adalah manusia bebas karena Kristus telah menyelamatkannya. Namun, ia tidak mau menggunakan kebebasannya untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, ia berusaha menjaga kehidupannya sedemikian rupa supaya melalui hidupnya yang baru ia dapat bersaksi tentang Tuhan dan menjadi berkat untuk orang lain. Paulus bersikap demikian karena ia sadar bahwa keselamatan yang diperolehnya adalah anugerah yang dibayar mahal oleh Kristus. Mengikut Kristus tidak boleh setengah-setengah dan harus setia sampai akhir.

Kehidupan mengikut Kristus diumpamakan seperti sebuah pertandingan oleh Paulus. Dalam sebuah pertandingan, kita tidak boleh hanya bersemangat dan gigih di awal, namun harus menuntaskannya sampai akhir dengan sekuat tenaga untuk memperoleh mahkota. Demikian juga dalam mengikut Kristus. Ketika pertama mengenal Kristus, kita mungkin begitu bersemangat dan mau melakukan segala sesuatu untuk Tuhan. Namun dengan berjalannya waktu, tanpa sadar semangat dan kasih yang mula-mula mulai surut. Doa, ibadah, baca Alkitab dan hal-hal rohani lainnya bisa jadi terasa hambar, tidak lagi menggetarkan hati. Belum lagi ketika kesulitan yang tak kunjung usai membuat kita lelah untuk terus bertahan dalam iman hingga akhir. Atau, mungkin juga ketika segala sesuatu terlalu lancar, kita melihat berkat Tuhan sebagai hal yang biasa sehingga kita makin kehilangan arah dan jauh dari Tuhan.

Bagaimana dengan kita hari ini? Masihkah kita berjuang dengan gigih untuk terus dekat kepada Tuhan? Melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak membiarkan hambatan apapun menghalangi kita dengan gigih mengikut Tuhan seumur hidup kita. Mari kita terus berjuang setia sampai akhir sehingga dalam pertandingan iman, kelak kita memperoleh mahkota surgawi.

Menjadi Bijak dengan Belajar Sepanjang Hidup: Hikmat dari Amsal

Menjadi Bijak dengan Belajar Sepanjang Hidup: Hikmat dari Amsal

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Amsal 1:5,7

“Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu, dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan… Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”


Belajar Sepanjang Hidup dalam Terang Firman Tuhan

Dalam dunia pendidikan formal, ada masa di mana kita menyelesaikan studi dan memperoleh gelar. Namun, dalam kehidupan nyata, belajar tidak pernah berhenti.
Belajar adalah proses seumur hidup yang harus terus dijalani hingga akhir hayat. Alkitab melalui Amsal 1:5,7 menegaskan bahwa orang yang mau terus belajar, mendengar, menambah ilmu, dan mempertimbangkan sebelum bertindak akan menjadi lebih bijak.

Namun, belajar yang sejati bukan hanya soal pengetahuan intelektual. Yang terutama adalah mengenal Tuhan sebagai sumber hikmat dan menghormati Dia dalam setiap aspek kehidupan.


Mengutamakan Tuhan dalam Setiap Proses Belajar

Ketika kita memilih untuk mengutamakan Tuhan dan menghormati-Nya dalam setiap keputusan, Tuhan akan menuntun kita menjadi pribadi yang bijak.
Ia membuka mata hati kita untuk melihat setiap hal—baik besar maupun kecil—sebagai pelajaran berharga.
Tuhan juga memampukan kita untuk rendah hati, sehingga kita bisa belajar dari siapa pun: dari anak kecil hingga orang yang dianggap rendah oleh dunia.

Kerendahan hati inilah yang membuat kita terus bertumbuh dalam hikmat. Tuhan menambahkan kebijaksanaan bagi mereka yang mau terus belajar dengan hati yang tunduk kepada-Nya.


Bahaya Berhenti Belajar: Jalan Menuju Kebodohan

Sebaliknya, jika kita berhenti belajar atau menolak untuk diajar, Amsal menuliskan bahwa kita akan menjadi orang bodoh.
Walaupun seseorang tampak cerdas secara intelektual, tanpa takut akan Tuhan ia tidak akan pernah menjadi orang berhikmat.
Ketika seseorang merasa sudah tahu segalanya, kesombongan mulai tumbuh. Ia mengandalkan diri sendiri dan bukan Tuhan, sehingga berhenti bertumbuh dan kehilangan kemampuan untuk berbuah bagi kemuliaan Kristus.


Menjadi Bijak dengan Hidup dalam Takut Akan Tuhan

Setiap orang dihadapkan pada pilihan: menjadi bijak atau menjadi bodoh.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk memilih jalan yang benar—hidup dalam takut akan Tuhan dan terus menjadi seorang pembelajar.
Dengan terus belajar dan memusatkan hati kepada Tuhan, kita akan bertumbuh dalam iman, pengetahuan, dan perbuatan baik.

Tuhan akan memampukan kita melakukan pekerjaan dengan bijak di mana pun kita berada, sehingga hidup kita menjadi buah yang memuliakan nama-Nya.

Allah adalah Sempurna (Ulangan 32:1-4)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia

Ada banyak hal di dalam dunia ini yang bagi kita mungkin sangat berharga dan mampu melengkapi hidup kita. Tanpa hal-hal itu hidup terasa kurang. Lagu Andra and The Backbone yang berjudul Sempurna, juga mengisahkan tentang seorang wanita yang menurutnya begitu sempurna sehingga dapat melengkapi hidupnya. Namun jika kita renungkan, sesungguhnya semuanya itu bersifat fana, sementara dan dapat lenyap sekejap dan kapan saja. Jika kita menggantungkan hidup kita pada hal-hal yang sementara, kita hanya akan menerima kekecewaan dan kesedihan.

Satu-satunya Pribadi yang dapat kita andalkan hanyalah Tuhan. Ia, adalah Allah Pencipta kita, bukan pelengkap hidup kita yang kalau kita butuh baru kita datang kepada-Nya. Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Semua hal dalam dunia boleh lenyap, asal ada Tuhan. Memiliki Tuhan berarti kita telah memiliki segalanya. Mengapa? Karena Ia adalah Allah yang sempurna; segala sifatnya dan/karakternya sempurna. Kebaikan-Nya sempurna, kasih-Nya sempurna dan kuasa-Nya pun sempurna.

Menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna maka:

  • Kita dapat mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, Allah yang sempurna itu. Kita memang tidak bisa menyelami pemikiran dan kuasa-Nya yang sempurna karena kita terbatas dan Ia sempurna, namun kita dapat yakin bahwa kita dapat bersandar sepenuhnya di dalam Dia, Allah yang sempurna.
  • Kita belajar hidup sempurna untuk merefleksikan gambar kemuliaan-Nya. Sebagaimana Allah yang sempurna, Ia ingin kita juga hidup merefleksikan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu kita harus terus berjuang semakin serupa Kristus dalam seluruh aspek hidup kita supaya ketika orang lain melihat kita, mereka dapat melihat Kristus dalam diri kita dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:48).

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pelaku firman-Nya, percaya penuh kepada-Nya dan belajar hidup makin serupa Kristus.

PERUBAHAN dan PERTUMBUHAN

Tema Tapel 2022/2023

Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.

                Terlebih memasuki tapel 2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema “Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.

Bertahan di Tengah Perubahan

                Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?

Hidup dan Melayani Secara Ilahi

                Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?

Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:

Pancang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga, sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan. Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).

Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:

  • Manusia
    seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.

Pegang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Setelah komunitas memiliki fokus yang sama, yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan, karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.

Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa, perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.

Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.

Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.

Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Setelah mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap pribadi dan komunitas.

Allah yang Tidak Berubah

Oleh: Ngatmiati, Staf Kerohanian Sekolah Athalia.

“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan. Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.
(Mazmur 102:26–28)


Allah yang Tetap Sama dari Dahulu, Sekarang, dan Selamanya

Ketidakberubahan adalah salah satu atribut Allah yang luar biasa. Sifat, kuasa, dan otoritas-Nya tetap sama dari masa ke masa.

Segala sesuatu di dunia akan menjadi usang dan binasa seiring waktu—namun Allah tidak pernah berubah. Ia tetap Allah yang sama dari dahulu kala hingga selama-lamanya.

Kesadaran akan hal ini membawa ketenteraman bagi orang percaya. Fakta bahwa Allah tidak berubah membuat kita mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, karena kita tahu bahwa kasih setia dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang.


allah yang tidak berubah

Refleksi dari Sebuah Peristiwa di Pantai

Saya mendapat pengalaman berharga tentang hal ini ketika berlibur ke rumah keponakan pada akhir tahun lalu. Pada hari terakhir tahun itu—31 Desember 2021—saya menemani cucu keponakan bermain di pantai.

Pagi itu sedikit mendung, dan tidak lama kemudian hujan turun. Saya sempat bimbang: apakah sebaiknya tetap bermain di pantai atau kembali ke rumah? Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap bermain sambil hujan-hujanan. Tak lama kemudian, hujan berhenti dan matahari kembali bersinar.

Tiba-tiba, cucu saya berteriak gembira, “Pelangi! Pelangi!”

Saya mendongak, dan benar—pelangi yang indah membentang di langit. Saat itu hati saya tersentuh. Rasanya seperti pesan pribadi dari Tuhan di penghujung tahun: saya akan menjalani tahun yang baru bersama Allah yang setia pada janji-Nya.

Keyakinan ini membawa ketenangan mendalam, sebab saya tahu bahwa kasih setia dan kuasa Allah tidak pernah berubah. Seperti Ia telah menyertai dan menolong saya di tahun-tahun sebelumnya, demikian pula anugerah-Nya akan terus nyata di tahun yang baru.


Pelajaran dari Seekor Anak Kucing

Masih di pantai yang sama, saat saya duduk santai, seekor anak kucing tiba-tiba mendekat dan duduk di pangkuan saya. Tak lama, ia tertidur dengan tenang. Ketika saya mencoba mengangkat tangan, kucing kecil itu menariknya kembali, seolah takut kehilangan kehangatan.

Momen sederhana itu membuat saya merenung:

Apakah saya juga seperti anak kucing itu terhadap Allah?
Apakah saya ingin selalu dekat dan tidak menjauh dari-Nya?

Karena hanya bersama Allah yang tidak berubah, saya dimampukan untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan tenang.

Kasih setia dan kuasa-Nya tidak lekang oleh waktu — tetap sama dari generasi ke generasi.


🌈 Penutup

Melalui pelangi dan kehadiran seekor anak kucing, Allah seakan mengingatkan bahwa Dia tetap setia dan tidak berubah. Di tengah dunia yang terus berganti, satu hal yang pasti:

Tuhan yang sama yang menolong kemarin, adalah Tuhan yang juga akan memelihara kita hari ini dan selamanya.

Allah yang Mahatinggi: Tuhan Segala Tuhan dan Allah Segala Allah

allah yang mahatinggi

Oleh: Welly Alfons Rossall

“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; … Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.”
(Ulangan 10:14, 17)


Allah yang Mencipta dan Berotoritas Atas Segala Sesuatu

Ketika kita berbicara tentang Allah yang Mahatinggi, kita sedang membahas tentang Pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Dialah Allah yang memiliki otoritas tertinggi atas seluruh ciptaan.

Dalam Alkitab, kuasa Allah kerap dinyatakan melalui peristiwa-peristiwa besar. Salah satu contohnya adalah ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya di Mesir melalui Musa. Saat Firaun mengeraskan hati dan menolak membebaskan bangsa Israel, Allah menurunkan berbagai tulah yang dahsyat.

Kuasa-Nya melampaui para allah Mesir dan bahkan mengendalikan unsur alam semesta. Hingga akhirnya, Firaun harus tunduk kepada otoritas Allah dan membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan.


Allah yang Mengalahkan Semua Allah dan Berkuasa Atas Segala Berhala

Kisah lain yang menunjukkan kebesaran kuasa-Nya adalah ketika patung Dagon, dewa bangsa Filistin, jatuh tersungkur di hadapan tabut perjanjian—simbol kehadiran Allah. Saat itu, bangsa Filistin telah merebut tabut tersebut dan menempatkannya di kuil mereka. Namun keesokan harinya, patung Dagon ditemukan roboh.

Peristiwa ini menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada allah atau kuasa apa pun yang dapat menandingi Allah Israel. Dialah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan.


Mengalami Allah yang Mahatinggi dalam Kehidupan Pribadi

Kisah tentang Allah yang Mahatinggi tidak hanya tertulis di Alkitab—saya pun mengalaminya sendiri.

Pada bulan Agustus 2021, istri saya, Jessica, berpulang ke rumah Bapa. Peristiwa itu sangat mengguncang hati dan membawa kesedihan mendalam. Dalam doa-doa saya, saya sering berkata kepada Tuhan bahwa sosok yang paling saya rindukan untuk jumpai pertama kali setelah meninggal nanti adalah Jessica.

Namun, suatu saat Tuhan berbicara lembut di hati saya, seolah bertanya:

“Siapakah yang lebih engkau kasihi—Aku atau Jessica?”

Pertanyaan itu menembus hati saya. Tuhan sedang mengingatkan bahwa Dia harus menjadi yang terutama dalam hidup ini.

Sejak saat itu, doa saya berubah. Kini, saya berdoa agar semakin mengenal Tuhan dan mengasihi-Nya lebih dalam. Saya ingin, ketika tiba waktunya bertemu muka dengan-Nya, Dialah sosok pertama yang saya rindukan dan ingin peluk dengan penuh kasih.


Belajar Taat dan Bergantung Penuh kepada Allah yang Mahatinggi

Kini saya belajar untuk hidup taat dan berserah penuh kepada Tuhan. Saya ingin berjalan bersama-Nya dengan kerendahan hati, meninggikan Dia di atas segalanya.

Biarlah Allah yang Mahatinggi memimpin setiap langkah hidup ini, sebab hanya Dia yang layak disembah, diagungkan, dan dipercaya sepenuhnya.


✨ Penutup: Hiduplah di Bawah Otoritas Allah yang Dahsyat

Allah yang Mahatinggi bukan hanya Tuhan yang besar dan dahsyat, tetapi juga Allah yang pribadi dan penuh kasih. Ia berdaulat atas langit dan bumi, namun tetap hadir di hati orang yang mau berserah.

Ketika kita menempatkan Allah sebagai yang terutama, hidup kita akan dipimpin oleh kuasa dan kasih yang tidak tertandingi.

Makna Sejati Takut Akan Tuhan

makna takut akan tuhan

Oleh: Sylvia Radjawane

Apa yang Kita Pikirkan Saat Mendengar Kata “Takut”?

Setiap mendengar kata takut, apa yang kita pikirkan?
Bagi banyak orang, kata ini sering diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif. Namun, ada satu jenis rasa takut yang justru paling positif di dunia ini — yaitu takut akan Tuhan.

Rasa takut yang satu ini membawa saya untuk mengalami hubungan yang semakin akrab dan indah dengan Tuhan. Mengapa demikian? Karena dalam hubungan yang terjalin itu, saya mengenal Tuhan bukan sebagai pribadi yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang penuh kasih karunia dan kuasa, yang setia menemani setiap langkah hidup saya.


Belajar dari Kehidupan Musa

Saya belajar dari kehidupan Nabi Musa, yang ucapannya tercantum dalam Ulangan 9:19. Musa adalah tokoh Alkitab yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Namun, perjalanan hidupnya yang fenomenal tidak terjadi seketika. Awalnya, Musa menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan alasan, “Aku tidak pandai berkata-kata.” Ia merasa tidak layak diutus untuk memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian.

Ketika akhirnya Musa memutuskan untuk menjalani panggilan Tuhan, perjalanan itu membawanya kepada hubungan yang semakin karib dengan Tuhan.
Ia bahkan berani berkata, “Walau aku tahu Tuhan murka dengan apa yang sudah dilakukan bangsa Israel, tapi aku kenal Tuhanku dan Ia akan mendengarkan permohonanku.”
Pernyataan ini menunjukkan adanya hubungan yang istimewa antara Musa dan Tuhan — hubungan yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang benar-benar takut akan Tuhan.


Pengalaman dalam Kehidupan Pribadi

Dalam pengalaman pribadi saya, takut akan Tuhan bukan berarti saya harus melakukan segala sesuatu yang baik hanya karena takut akan hukuman Tuhan. Saya bisa saja patuh kepada Tuhan, tetapi tanpa memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.

Namun, Tuhan menginginkan hubungan yang berkualitas dengan saya. Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan.

Saat saya hidup dalam rasa takut yang benar kepada Tuhan, hubungan yang karib dan istimewa dengan-Nya membuat saya memiliki kesadaran untuk tetap dekat dengan Tuhan — dan justru takut untuk menjauh dari-Nya.


Hidup Berkenan di Hadapan Tuhan

Perspektif ini membawa saya pada keputusan hidup seperti berikut:

“Saya memutuskan dengan sadar untuk memilih cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, karena hubungan kami sangat istimewa. Saya ingin mempertahankannya demi kebaikan saya sendiri, yaitu pertumbuhan iman saya.”

Apakah mudah melakukan komitmen seperti ini? Mungkin tidak.
Namun, saya percaya hanya Tuhan yang sanggup memperbesar kapasitas hati saya untuk memiliki dan menjalankan komitmen seperti ini.


Hadiah dari Tuhan

Tuhan berkenan kepada orang yang hidupnya takut akan Dia.
Selalu ada berkat dan hadiah yang menanti bagi mereka yang memiliki rasa takut yang benar — bukan karena rasa terpaksa, tetapi karena kasih dan penghormatan yang tulus.

“Fear ensures compliance; Fear of God inspires commitment.”
Rasa takut biasa menuntut kepatuhan; takut akan Tuhan menumbuhkan komitmen.