Pantang Menyerah

Oleh: Dwi Handayani, Orang Tua Siswa.

Anak adalah titipan Tuhan yang sangat berharga. Sebagai orang tua, kita pasti ingin menanamkan nilai-nilai kebaikan di hidupnya agar menjadi generasi yang tangguh dan mandiri di masa depannya.

Saya ingin berbagi cerita tentang putri pertama kami. Dia merupakan anak yang patuh dan penyayang, tetapi memiliki sifat pemalu serta cenderung manja. Ketika teman sebayanya mengajaknya bermain, ia lebih memilih lari pulang ke rumah dan hanya mau bermain jika saya menemaninya. Selain itu, daya juangnya masih lemah. Misalnya, saat mencoba membuat benda dari origami dan hasilnya tidak sesuai harapan, ia langsung menyerah dan enggan mencoba kembali.

Sebagai orang tua, kami selalu berusaha membimbing dan menyemangatinya agar lebih percaya diri serta mau berusaha. Kami terus mengingatkan bahwa tidak semua keinginannya dapat langsung terwujud tanpa usaha. Ada kalanya ia harus bekerja keras dan berjuang untuk mencapai sesuatu. Selain itu, kami juga menanamkan nilai syukur atas segala nikmat yang sudah Tuhan berikan. Kami ingin ia memahami bahwa menghargai apa yang dimiliki lebih penting daripada terus meminta lebih, karena masih banyak orang lain yang hidup dalam keterbatasan.

Pantang Menyerah

Pelajaran Berharga dari Sebuah Keinginan

Suatu hari, saat usia anak kami lima tahun, dia minta dibelikan mainan yang cukup mahal bagi kami, yaitu satu set mainan Plants vs Zombies. Kami pun tidak membelikannya karena mainannya sudah cukup banyak di rumah. Beberapa hari kemudian, ketika sedang mengikuti sekolah daring, ia memanggil saya dan menunjukkan layar laptop. Rupanya, ada teman laki-lakinya yang memegang mainan yang ia inginkan. Dengan penuh harap, ia kembali meminta hal yang sama. Namun, jawaban kami tetap tidak berubah. Kami menjelaskan alasan yang sama agar ia belajar memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi.

Beberapa minggu kemudian, terjadi sesuatu yang sangat membekas dalam hati saya. Suatu siang, ia tiba-tiba berkata ingin berjualan. Awalnya, saya mengira ini hanyalah bagian dari permainan jual-jualan seperti biasanya. Saya mengiyakan saja karena dia suka mainan jual-jualan dan mama papanya disuruh menjadi pembeli. Namun, ternyata kali ini berbeda. Ia meminta saya membawakan meja belajar kecilnya ke teras depan rumah. Tidak lama kemudian, ia menempelkan kertas HVS bertuliskan “Mainan ini dijual, ya!” dengan hiasan warna-warni.

Ketika saya bertanya tujuannya, ia dengan penuh semangat menjawab, “Aku mau jualan karena aku mau dapet duit biar bisa beli mainan Zombie.”

Ternyata, tanpa kami sadari, ia mulai memahami pentingnya usaha untuk mendapatkan sesuatu. Ia tidak lagi sekadar meminta, melainkan mulai menunjukkan sikap pantang menyerah dengan mencari cara sendiri untuk mewujudkan keinginannya.

Baca Juga : Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Sikap Pantang Menyerah dalam Berusaha

Tak lama setelah itu, ia masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sekantong mainan serta beberapa camilan dari rak makanan. Dia letakkan berbagai cemilan tersebut, kemudian dia mengambil kertas, gunting, dan selotip. Dengan penuh antusiasme, ia menuliskan harga dan menempelkannya ke bungkus cemilan.

Saat dia meletakkan cemilan ke meja, saya lihat harga satu Beng-Beng Rp1.000.000 dan Nyam-Nyam Rp1.000.000.000. Hampir semua cemilan dia kasih harga fantastis. Saya hanya tertawa dalam hati. Ya… tentunya dia belum paham arti nol sebanyak itu. Walau geli melihat hal itu, saya terharu sekali. Saya tidak menyangka dia akan seniat itu untuk berjualan demi mendapatkan mainan yang dia mau. Entah dari mana asal ide itu, yang pasti saya dan suami cukup kaget melihatnya. Saat itu, saya mengelus rambutnya sambil berkata, “Jadi kamu mau jualan beneran, ya?”

Dia pun menjawab dengan semangat, “Iyaa… nih aku udah tulis harga makanannya, terus aku juga mau jualin mainan yang di kantong yang udah nggak aku suka.”

Melihat semangatnya, saya setuju untuk membantunya. Namun, karena saat itu siang hari dan matahari sangat terik, saya menyarankan untuk berjualan sore saja. Namun, ia tetap bersikeras ingin melanjutkan. Ia bahkan membuka pagar rumah lebar-lebar dan menggeser meja ke depan agar lebih terlihat oleh orang-orang. Dengan penuh semangat, ia duduk menunggu pembeli datang.

Setelah 15 menit berlalu tanpa ada satu pun pembeli, saya hanya bisa mengawasinya dari dalam rumah. Ia tetap duduk diam, mungkin sedang berpikir apakah usahanya akan berhasil atau tidak. Setelah lebih dari 20 menit, akhirnya saya berhasil membujuknya masuk dan berjanji untuk berjualan kembali di sore hari.

Buah dari Sikap Pantang Menyerah

Sore hari pun tiba. Sekitar pukul 4, ia kembali semangat untuk berjualan. Kami berdiskusi mengenai harga yang lebih masuk akal dan memilih mainan yang layak dijual. Mainan kecil diberi harga Rp1.000 atau Rp2.000 agar lebih mudah dibeli oleh anak-anak lain. Kebetulan, di dekat rumah ada musala yang ramai dengan anak-anak mengaji pada sore hari. Kami berharap ada beberapa anak yang tertarik membeli dagangannya.

Setelah mencoba berjualan selama tiga hari, uang yang terkumpul sebanyak 22 ribu rupiah. Dia senang bukan main. Kami berniat mau menambahkan uang untuk membelikan mainan yang dia mau. Saya pun bertanya, “Kamu jadi mau beli mainan Plants vs Zombies?”

Secara mengejutkan, dia menjawab, “Enggak jadi. Aku mau beli mainan makeup-makeupan aja!” sambil menunjukkan gambarnya di Tokopedia.

Apa pun akhirnya, kami salut atas usahanya, kami pun bersyukur karena anak kami akhirnya dapat memahami jika ingin mendapatkan sesuatu harus berusaha dan tidak pantang menyerah. Oh ya, ternyata dari hasil usaha berjualannya itu pula dia akhirnya belajar bersosialisasi dan lebih percaya diri, bahkan akhirnya mendapatkan teman baru untuk bermain setiap sore hari.

Perjuangan Memenangi Hati Anak

Oleh: anonim, orang tua siswa

Sore itu, seperti biasa saya pulang kantor dengan menggunakan ojek. Beberapa rumah sudah saya lewati, rumah mertua saya sudah tampak. Di balik pagar rumah itu, berdiri manusia kecil kesayangan, yang antusias menunggu saya pulang.

Namun, seperti hari-hari lainnya, yang saya rasakan hanyalah ingin cepat-cepat sampai ke rumah yang berjarak hanya beberapa rumah dari rumah mertua. Saya ingin segera membereskan pekerjaan rumah, seperti mencuci, menyapu, dan lain-lain. Jadi, saya hanya melambaikan tangan kepada anak saya yang sudah menunggu di balik pagar rumah mertua, dan meneruskan perjalanan ke rumah saya sendiri.

Peristiwa itu membuat anak saya bersedih. Dia lari pulang ke rumah dengan terburu-buru, menyusul mamanya. Sampai di rumah, dia melihat mamanya mulai sibuk dengan urusan rumah dan mulai membentak-bentaknya tiap dia mulai mencari perhatian.

Saya tidak bisa menepis tingginya kebutuhan rumah tangga keluarga. Bersama suami, saya bekerja untuk menghidupi keluarga. Kebetulan, suami saya anak tunggal sehingga dia juga harus memenuhi kebutuhan ibunya. Hal itu membuat kami sering pulang kerja sampai malam sehingga putra kami satu-satunya dititipkan ke ibu mertua. Peristiwa itu terus bergulir dari tahun ke tahun sejak anak saya berusia empat tahun sampai dia duduk di sekolah dasar.

Baca Juga : Kiat-Kiat Mendampingi Remaja Saat Menghadapi Masalah

Dampak Pola Asuh yang Salah terhadap Hati Anak

Saya mulai merasa sangat gelisah ketika melihat perubahan perilaku anak saya. Ia sering memberontak, berkata kasar, bahkan mudah marah. Hal yang paling mengkhawatirkan, saat duduk di kelas dua SD, ia pernah mengatakan ingin pergi dari rumah dan lebih baik mati saja. Di sekolah, perilakunya juga menjadi masalah. Saya dan suami beberapa kali mendapat laporan dari guru tentang tindakannya yang sering berteriak, memukul, bahkan menendang teman perempuan. Akibatnya, ia harus menjalani disiplin dari pihak sekolah.

Saya mencoba memahami penyebabnya dan menyadari bahwa anak saya terlalu dimanjakan oleh neneknya. Ia sering dibela meskipun melakukan kesalahan, sehingga tumbuh menjadi anak yang kurang menghormati orang tuanya. Sebelumnya, mertua saya tinggal di luar kota, tetapi setelah suaminya meninggal, ia memilih tinggal dekat dengan kami. Sebagai anak tunggal, suami saya merasa bertanggung jawab terhadap ibunya, yang cenderung protektif dan sering mencampuri rumah tangga kami.

Menghadapi situasi ini, saya justru memilih melarikan diri ke pekerjaan. Saya sengaja menyibukkan diri agar anak lebih sering bersama neneknya, berharap mertua saya tidak terlalu ikut campur dalam keluarga kami. Namun, saya akhirnya menyadari bahwa sikap ini adalah kesalahan besar.

Beberapa tahun kemudian, saya akhirnya memutuskan untuk pindah kerja ke Sekolah Athalia. Sistem kerja di Athalia berbeda dengan kantor lama. Di sini, pekerjaan saya lebih teratur dan jam kerjanya manusiawi. Saya bisa sampai rumah pada sore hari. Athalia memang mengutamakan hubungan antaranggota keluarga. Kami diajarkan untuk menjalin relasi yang baik dalam keluarga dan tidak mengorbankan mereka demi pekerjaan.

Di sini, saya juga belajar tentang cara mendidik anak yang baik. Saya juga belajar tentang tanggung jawab sebagai orang tua. Lewat komunitas ini, saya bertumbuh dalam iman dan punya kerinduan untuk menjadi orang tua yang lebih bertanggung jawab. Seorang rekan atasan menyadarkan saya bahwa Tuhan sudah memberikan saya dan suami tanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak, bukannya dilempar kepada pihak lain.

Memulihkan Hati Anak

Langkah awal yang kami lakukan adalah mengambil jarak dari orang tua. Kami memutuskan untuk mengontrak rumah tak jauh dari tempat kerja saya. Saat itulah saya menyadari bahwa mendidik anak adalah tugas yang sangat menantang. Bekerja sembari full mengurus anak memang tak mudah. Namun, saya mau terus belajar dengan kerendahan hati dan meminta pimpinan Tuhan. Ada kalanya saya kembali merasakan putus asa dan emosional saat melihat anak memberontak, memukul, bahkan menendang saya. Saya menyadari bahwa itu semua adalah buah dari kesalahan saya yang sudah mengabaikannya dan menorehkan luka di hatinya selama bertahun-tahun.

Semenjak punya waktu lebih banyak sepulang kerja, saya sering menemani anak, entah itu bermain bola, naik sepeda, berjalan-jalan di taman, makan es krim, dan lain sebagainya. Saya menikmati tiap waktu bersama dengannya. Dalam kesempatan itulah, saya mengatakan kepadanya bahwa saya mengasihinya, dia begitu berharga di mata saya. Saya pun meminta maaf kepadanya karena sempat mengabaikannya.

Perlahan, hati anak saya mulai tergerak. Perilakunya berubah. Dia menjadi lembut dan mudah dinasehati, serta tidak lagi suka memberontak. Saya melihat perlahan karakternya berubah. Dia jadi lebih peduli terhadap orang lain, punya belas kasihan, dan murah hati. Dia mulai menunjukkan kasih sayangnya terhadap orang tuanya.

Di saat relasi dalam keluarga kami membaik, kami tetap menjaga hubungan baik dengan mertua. Kami menyarankan anak untuk beberapa kali dalam seminggu menengok neneknya. Tak disangka, mertua pun perlahan berubah sikap. Beliau tidak lagi bersikap protektif. Dia akhirnya melepaskan saya dan suami untuk menentukan langkah terbaik bagi rumah tangga kami.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Nomor 3 Tahun 2021

Perjuangan Memenangi Hati Anak

Membimbing Anak di dalam Kebenaran

Mengizinkan Tuhan untuk hadir di tengah rumah tangga saya memberikan dampak yang sangat besar. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, entah apa jadinya hubungan saya dan suami dengan anak dan mertua.

Saat ini, anak saya sudah berada di kelas 9. Saya bersyukur tahun ini dia memutuskan untuk menyerahkan hatinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya untuk lalu dibaptis di gereja tempat kami bertumbuh.

Setiap saya mengingat momen-momen ketika saya hampir kehilangan hati anak saya, saya tidak kuasa menahan air mata. Saya melihat Tuhan bekerja dalam dirinya, “membalikkan hatinya” untuk mau mengasihi orang tuanya dan Tuhan, sungguh suatu anugerah yang luar biasa.

Perjalanan saya dan suami masih panjang untuk mengantar dia ke jenjang kuliah. Saat ini, yang kami bisa kami lakukan adalah terus menabur firman Tuhan setiap hari melalui mezbah keluarga, berdoa, bergantian membaca firman Tuhan, dan menyembah Tuhan. Saya dan suami tidak pernah lupa untuk bertanggung jawab menjadi teladan dan berdoa terus untuk putra kami. Biarlah kehendak Tuhan sepenuhnya digenapi dalam hidupnya.

Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yohanes 1: 4)

Belajar Percaya dan Bergantung kepada Tuhan

Oleh: Andy E. Daniswara

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3: 5)

Saat kelas X, saya mendapat kesempatan menjadi pengurus OSIS. Awalnya, saya ragu karena jadwal sekolah sangat padat. Namun, dengan pengalaman di OSIS SMP, saya percaya dan memberanikan diri untuk menerima tawaran itu.

Masuk ke kepengurusan OSIS SMA, saya belajar banyak hal baru. Saya belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, dan memahami organisasi lebih dalam. Selain itu, saya juga belajar membangun hubungan baik dengan pengajar dan teman-teman.

Setahun berlalu, kepengurusan OSIS berganti. Saya dipercaya teman-teman menjadi ketua OSIS. Saya sadar bahwa semua terjadi karena jalan-Nya. Sejak awal, saya menjadikan Tuhan sebagai fondasi kepemimpinan saya. Setiap kegiatan OSIS selalu saya bawa dalam doa. Saya meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan agar bisa menjalankan tugas dengan baik.

Baca Juga : Value vs. Belief, Apakah yang Kita Pegang Benar-Benar Tulus?

Ujian Kepercayaan

Namun, pada suatu waktu, ada rencana kegiatan OSIS yang tidak mendapat izin karena bentrok dengan kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Gejolak pun muncul di dalam pengurus OSIS. Banyak yang mempertanyakan keputusan sekolah pada waktu itu. Saya pun pada waktu itu mencoba untuk bernegosiasi dengan pembimbing OSIS dan beberapa pengajar yang bersangkutan, tetapi tidak membuahkan hasil. Hal yang lebih mengesalkan lagi, kami tidak terlalu dilibatkan di dalam kegiatan sekolah yang bisa dibilang berskala besar.

Saya bergumul. Saya mulai mempertanyakan Tuhan. Kenapa pada waktu itu Tuhan seperti tidak campur tangan? Kenapa pada waktu itu Tuhan tidak membuka jalan untuk kegiatan OSIS SMA? Karena merasa seperti Tuhan tidak pernah bertindak, pada akhirnya saya kecewa dengan Tuhan.

Kekecewaan saya terhadap Tuhan berdampak hampir ke seluruh aspek hidup saya. Saya jadi jarang baca Alkitab dan saat teduh. Kepribadian saya juga mulai berubah menjadi lebih temperamental. Saya mengatakan apa saja yang ingin saya katakan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Saya menjadi congkak dan egois. Cara pandang saya dalam mengambil keputusan rapat yang biasa didasari dengan hati yang tenang dan damai berubah menjadi penuh kekesalan dan hati yang gundah. Hal ini berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak memuaskan.

Masalah demi masalah terus datang dan selalu selesai dengan tidak memuaskan. Rasanya ada yang kurang dan selalu menghalangi kebahagiaan di dalam diri. Hal ini juga terasa di dalam lingkungan OSIS. Kami, yang biasanya selalu menanggapi ledekan dan kata-kata “manis” sebagai sebuah candaan, berubah jadi lebih mudah tersulut emosinya. Waktu terus berjalan dan saya masih menyimpan rasa kecewa. Rasanya tidak mungkin pada waktu itu berdamai dengan Tuhan.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Oktober – November 2020

Berserah dan Percaya: Menyerahkan Segala Masalah kepada Tuhan

Hingga pada suatu saat di kegiatan OSIS yang diadakan di sekolah, saya menerima pesan dari ibu saya. Isi pesannya pada waktu itu: “Nak, baca Amsal 16, ya.” Dalam hati, saya bertanya-tanya maksudnya. Namun, saya mengikuti saran ibu saya dan membaca kitab yang dimaksud. Saat membacanya, beberapa ayat terngiang-ngiang terus di kepala saya yang membuat saya akhirnya kembali kepada Tuhan.

Namun, pergumulan yang dihadapi setelah itu adalah “memperbaiki” kondisi pribadi dan kondisi di dalam kepengurusan OSIS yang pada waktu itu kian memanas. Banyak hal yang menjadi beban pikiran kami. Kami hanya mengandalkan kepintaran sendiri sehingga masalah-masalah yang ada sulit sekali untuk diselesaikan. Saya akhirnya menyadari kalau ada yang salah. Setelahnya, saya mencoba untuk mendamaikan diri dengan berdoa dan membaca Alkitab.

Saya menemukan satu ayat yang saya percaya menjadi pedoman yang menguatkan saya. Amsal 3: 5 yang berbunyi, “Percayalah kepada Tuhan
dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Akhirnya, saya berdoa dan mencoba menyerahkan semua masalah yang saya hadapi, termasuk OSIS. Puji Tuhan, masalah yang ada Tuhan selesaikan dengan cara-Nya. Saya kembali menjadi pribadi yang tenang dan tidak mudah marah. Puji Tuhan, kondisi di OSIS pun lebih kondusif. Aura persahabatan kembali terasa kental di antara pengurus OSIS.

Masalah di atas membuat saya belajar untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak kecewa kepada-Nya. Berdasarkan pengalaman saya, kekecewaan tersebut justru menimbulkan masalah-masalah baru yang membuat hidup menjadi tidak damai. Dengan kita percaya, berserah, dan bergantung kepada Tuhan, Dia akan membantu kita dan menuntun kita di jalan-Nya.

Sukacita Menjadi Seorang Ibu

Oleh: Valentina

Saya seorang ibu dengan tiga orang anak. Dua orang putri dan satu anak laki-laki. Ketiganya saya rawat dan besarkan seorang diri karena ayahnya bekerja jauh yang pulang beberapa kali dalam satu tahun. Meskipun sangat repot, ada rasa sukacita manakala melihat anak-anak bertumbuh dengan baik.

Dalam mendidik anak, saya berusaha untuk tidak mendikte mereka. Untuk urusan yang berhubungan dengan kegiatan mereka, saya selalu mendiskusikannya, bahkan sejak mereka masih balita. Mereka boleh mengajukan pendapat meskipun saya yang memutuskan. Saya akan menjelaskan alasannya jika ternyata keputusan berbeda dengan pilihan mereka. Begitu pula bila mereka melakukan kesalahan, bukan saja menegurnya, saya harus menerangkan alasan saya marah sampai mereka paham.

Anak-anak juga tidak ada yang mengikuti les mata pelajaran. Saya mendampingi mereka saat belajar di rumah. Namun, ketika mereka kelas tiga SD, saya mulai melepaskan perlahan. Mereka sudah mulai belajar secara mandiri, dan saya hanya memantau. Pada awalnya, nilai agak turun (memang tidak sampai di bawah KKM), tetapi itu tidak apa-apa. Biar mereka belajar bagaimana harus berjuang untuk meraih sesuatu sesuai yang diharapkan. 

Hebatnya, ternyata mereka memiliki standar untuk diri mereka sendiri, tanpa saya perlu memintanya. Mereka begitu bersemangat, sementara saya hanya mengawal dan mendampingi, sambil menggali dan mencari tahu potensi yang ada di dalam diri tiap anak. Ketika saya mulai melihat talenta yang Tuhan karuniakan, saya berusaha untuk mendukung dan terus mengembangkannya.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Sukacita di Tengah Perubahan dan Tantangan

Tidak semua anak memiliki pola perkembangan yang sama. Anak pertama kami lebih membutuhkan perhatian khusus, tapi kami berhasil melewatinya. Saya percaya semua ini adalah campur tangan Tuhan. Roh Kudus yang memberikan kepada mereka hati yang bertanggung jawab, mandiri, dapat membedakan yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tidak. Bahkan jika melakukan kesalahan, mereka terbuka mau bercerita kepada saya. Sebagai orang tua, kami tidak mengalami kesulitan dalam mendidik mereka. Sukacita itu selalu ada dalam perjalanan kami.

Berbeda dengan kedua kakaknya (jaraknya cukup jauh), putra kami yang bungsu setiap hari belajar bersama kelompoknya, tapi tetap di rumah masing-masing. Tentu saja awalnya saya bingung karena saya kira dia cuma sedang mengobrol. Ternyata, dia sedang berdiskusi secara online bersama tiga orang temannya. Di situ saya merasa bangga karena dia memanfaatkan teknologi dengan tujuan baik. Meskipun jika ada waktu, mereka juga bermain game bersama.

Di sinilah saya belajar bahwa beda generasi, beda pula cara asuhnya. Semakin ke sini, mau tidak mau anak akan tumbuh berdampingan dengan teknologi. Karena itu, modal yang saya tanamkan kepada mereka adalah bahwa dalam menjalani hidup, mereka bertanggung jawab kepada Tuhan. Orang tua tidak selalu ada untuk mereka, tetapi ada Tuhan yang menjaga sekaligus mengamati. Saat ini, kedua putri kami sedang menempuh kuliah, dan saat tulisan ini ditulis, keduanya sudah di akhir semester.

Sementara putra bungsu kami duduk di kelas sepuluh. Walaupun ada sedikit riak-riak, segala sesuatu termasuk berjalan dengan lancar. Dalam perjalanan mendidik anak-anak, ada banyak tantangan, tetapi lebih banyak lagi sukacita yang saya rasakan. Kami juga merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah kami. Tuhan telah mempertemukan kami dengan orang-orang dan kondisi yang tepat, seperti salah satunya dengan sekolah dan pengajar Athalia. Dia selalu ada, serta menolong tepat di saat kami membutuhkan pertolongan.

Apakah Benar Tak Kenal, maka Tak Sayang?

Oleh: Adrianus

Peribahasa “Tak Kenal, maka Tak Sayang” tampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan anak kami saat pertama kali masuk sekolah dasar. Awalnya, kami berharap ia akan menikmati suasana sekolah. Namun, harapan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan. Setiap hari, ia menangis dan menolak masuk kelas. Terus terang, sebagai orang tua, kami berharap anak akan senang ketika berada di sekolah. Namun, harapan itu ternyata jauh dari kenyataan. Saya sempat kaget melihat anak saya menolak masuk kelas dan terus menangis.

Sementara itu, temannya dengan santai dan percaya diri melenggang masuk ke kelas. Anak saya terus menangis, berkata bahwa dia tidak mau sekolah dan mau pulang saja. Saya shock sampai menelepon istri dan berkata, “Apa perlu kita pindahkan sekolahnya?” Padahal, sewaktu mengikuti tes penerimaan siswa baru, anak kami mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Dia juga terlihat senang dan mau sekolah di Athalia. Mungkin anak kami kaget melihat suasana sekolah yang ramai. Saat TK, memang lingkungannya lebih kecil dengan sedikit teman.

Saat pulang ke rumah, terus terang pikiran saya tidak tenang. Saya mengingat kembali ketika dia berusia 2,5 tahun. Dengan riang gembira, dia selalu mengikuti Sekolah Minggu. Begitu juga ketika dia masuk TK. Bahkan, dia kami ikutkan jemputan dan tidak pernah ada masalah sama sekali. Mungkin inilah yang terjadi, ekspektasi orang tua terhadap anak tidak sesuai kenyataan.

Setelah satu minggu mengantar-jemput anak selesai, kami melimpahkan tugas tersebut kepada mobil jemputan. Kami pikir semuanya sudah berlalu. Namun, ternyata kami salah.

Menghadapi Tantangan Awal Sekolah dengan Kesabaran

Suatu pagi, terjadi kehebohan karena anak saya menolak ikut mobil jemputan. Istri saya mengantarnya sampai ke dalam mobil, tetapi anak kami berteriak-teriak tidak mau sekolah. Dia menangis dan memberontak, ingin lompat ke luar mobil. Saya sampai tepok jidat. Kenapa lagi anak ini? Setelah melakukan pembicaraan dengan anak dan sopir jemputan, akhirnya dia mau berangkat sekolah.

Kami bersyukur bahwa fase tersebut akhirnya berakhir.
Seiring berjalannya waktu, anak kami mulai menikmati sekolahnya. Dia bercerita teman-temannya ternyata sangat baik, sangat welcome. Meskipun teman-temannya sebagian besar merupakan siswa Athalia sejak TK, mereka mau mengajaknya bermain dan tidak pernah mengejeknya.

Bahkan, setelahnya, anak kami tidak pernah mau izin tidak masuk sekolah. Ketika dia sakit, dia tidak mau izin. Pernah suatu hari karena lupa dia makan ikan laut sehingga alerginya kumat, di badannya tampak bentol-bentol dan dia merasa kurang sehat. Namun, ketika disuruh pulang oleh wali kelas, dia tidak mau, saking cintanya dengan Sekolah Athalia dia memilih tetap belajar hingga selesai jam sekolah.

Dia bilang kepada mamanya, “Aku tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolah.” Bahkan, ketika sedang demam pun di rumah tetap belajar agar bisa ikut ulangan. Kami terharu ketika melihat perjuangannya mengenal sekolah, lingkungan, teman, dan segala hal baru. Kami menyadari bahwa dengan dukungan dan sayang yang tulus, anak kami dapat melewati tantangan yang awalnya terasa berat.

Baca Juga : Komunitas Athalia yang Bertumbuh

Melewati Tantangan dengan Kasih dan Sayang

Anak kami berhasil naik ke kelas 3 dengan mendapatkan piala hasil kumulatif dari piagam top score yang dia kumpulkan dari kelas 1 sampai kelas 2. Itu adalah momen terindah baginya dan suatu kejutan bagi kami. Bahkan, malam sebelum dia terima rapor, saya bilang, “Ahhh…sepertinya kamu tidak mungkin deh dapat banyak nilai bagus karena agak malas belajar kelas 3 ini. Kalo sampai kamu dapat nilai bagus yang banyak, akan papa belikan jam tangan yang tahan air deh…”

Sekali lagi, ekspetasi orang tua tidak sesuai kenyataan. Ternyata, anak kami malah membawa pulang piala. Saya pun harus memenuhi janji membelikan sebuah jam tangan yang tahan air agar bisa dipakai berenang. Ini adalah momen tepok jidat yang kedua.

Saat anak kami berada di kelas 3, dia mendapatkan rujuan dari RS untuk berobat dan menjalani serangkaian tes di RS Siloam Karawaci. Kami berangkat dari rumah jam 6 pagi karena jarak yang lumayan jauh. Dia berpesan untuk dibawakan seragam dan tas sekolah. Dia berharap proses tes tidak terlalu lama sehingga bisa lanjut pergi ke sekolah. Namun, ternyata proses tes berjalan lama sampai lewat jam makan siang sehingga hari itu dia tidak bisa masuk sekolah.

Puji Tuhan, akhirnya anak kami menemukan dunia yang indah di masa kecilnya untuk belajar banyak hal dan bermain. Kami sebagai orang tua mencoba mengajarkan kepada anak kami dengan memberikan keteladanan hidup, moral, dan iman untuk masa depannya. Dengan luar biasa, Sekolah Athalia membentuknya dengan cara mendidik karakternya untuk menjadi anak yang takut akan Tuhan dan berguna bagi bangsa dan negara, seperti moto sekolah ini “Right From The Start, benar sejak awal. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang, anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.

Terima kasih, Athalia!

Melibatkan Tuhan dalam Hidup

Oleh: Elisa Christanto

Sekilas saya melihat tatapan wajah anak saya yang kosong, menatap ke luar jendela. Kepalanya tersandar dengan lesu. Setelah berbincang mengenai ini dan itu, akhirnya saya menemukan jawabannya. Ia merasa letih dengan jadwal belajar yang padat menjelang ujian nasional. Sebagai ibu yang mendampingi di rumah, saya pun merasakan hal itu. Iba sekaligus bangga melihat anak usia SD berjuang keras untuk meraih yang terbaik. Meski baru pulang sekolah, dia punya waktu belajar dan mengerjakan tugas-tugas. Luar biasa!

Saya dan suami melibatkan diri dalam mendukungnya agar tetap semangat. Kami bergandengan tangan untuk menjaga semangatnya sampai lulus UN dengan nilai yang sangat baik. Puji Tuhan. Namun, menjelang usianya yang sudah remaja, sebagai orang tua kami tak hanya ingin melihat anak berkembang secara kognitif alias punya pencapaian bagus dalam hal akademis. Kami butuh sekolah yang mendidik dan mendampingi anak-anak dengan nilai-nilai Kristiani sekaligus memberikan bekal untuk pengembangan karakternya.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Melibatkan Nilai-Nilai Karakter dalam Pendidikan Anak

Anak kami ini sangat peduli dengan orang lain dan paling tidak bisa melihat orang lain bersedih. Hal itu sudah ditunjukkannya sejak ia masih kecil. Bahkan, pada saat TK A, ia sendiri yang bercerita bahwa salah seorang temannya tidak dibawakan bekal. Berhubung bekalnya masih ada, ia memberikan beberapa keping biskuit ke temannya itu tanpa disuruh pengajar.

Namun, di lain sisi ia juga menjadi anak yang tidak tegas. Tidak tegas untuk mengatakan “tidak” terhadap hal-hal yang kurang baik. Contohnya, saat kelas TK A, ada salah seorang temannya yang menggodanya, tetapi ia cuek. Justru temannya itu menjadi emosi dan akhirnya hidungnya ditonjok hingga lebam dan berdarah. Bahkan, dampak dari kejadian itu hidungnya mengalami trauma sehingga sering kali mimisan.

Peristiwa itu menjadi pergumulan kami dan puncaknya ketika di kelas 4 dia mengalami perundungan dari seorang temannya. Suatu hari, dia membawa bekal susu kotak. Lalu, temannya bilang bekalnya sudah habis, tetapi masih lapar dan meminta susu kotak itu. Dengan senang hati anak kami memberikannya.

Namun, rupanya tak berhenti di situ. Besok dan besoknya lagi setiap jam sarapan atau makan siang, anak itu selalu meminta bekal anak kami. Suatu hari, anak kami menolak permintaan temannya karena memang dia tidak membawa bekal lebih. Jawaban itu memicu kemarahan temannya yang berakibat seisi tas sekolah anak kami ditumpahkan di kelas.

Diperlakukan seperti itu, anak kami tetap bergeming. Dia tidak melawan. Salah seorang siswa yang melihat kejadian itu melapor kepada wali kelas dan pengajar. Akhirnya, orang tua anak tersebut dipanggil ke sekolah. Anak itu mendapatkan teguran serta skorsing.

Ketegasan dalam Menghadapi Perundungan

Mungkin maksud anak kami baik, tidak membalas keburukan dengan keburukan. Namun, kemudian kami melihat, ia menjadi anak yang kurang tegas untuk berkata “tidak” untuk hal-hal yang dirasa tidak baik. Ini menjadi satu kerinduan kami sebagai orang tua agar anak kami memiliki karakter yang makin baik dan makin mengenal Allah. Ketika akhirnya tebersit untuk mencari sekolah dengan muatan pendidikan karakter, kami memohon kepada Tuhan untuk campur tangan.

Kami berpikir, tak mudah memindahkan seorang anak remaja ke sekolah yang baru. Kami pun tak jarang mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari orang tua atau teman di sekolah sebelumnya.

Ngapain pindah? Bukannya sekolah di sini sudah bagus?”

“Yakin pindah ke Athalia? Ngapain?” 

Kami berpikir, di mana pun tempat pasti akan ada pertanyaan, dan kadang itu retoris.

Jadi, bersama Tuhan kami terus memantapkan langkah untuk memindahkan anak kami ke Sekolah Athalia.

Fase adaptasi di tempat yang baru, teman-teman yang baru, pengajar dan lingkungan baru tentu bukan hal yang mudah untuk dilewati. Kami sempat khawatir, tetapi kami yakin Tuhan yang pilihkan, Ia pun akan memampukan.

Kami perhatikan, perkembangan anak kami baik sekali. Satu semester terlewati dengan baik. Dia berhasil beradaptasi dalam hal akademis. Sikapnya di kelas juga sangat baik. Bahkan, kami dibuat terharu ketika wali kelas bercerita bahwa anak kami bersikap sangat sopan dan suka menolong teman-temannya.

Menuju semester dua, lagi-lagi Tuhan buat kami mengucap syukur.

Meski anak baru, ia memperoleh piagam besar dan piagam kecil High Achievement untuk mata pelajaran PKN. Senyumnya merekah seakan berhasil menaklukkan tantangan yang berat. Hal itu menjadi pencapaian yang membanggakannya karena pada dasarnya dia tak menyukai pelajaran PKN. Namun, dia justru mencetak prestasi di mata pelajaran tersebut.

Kami pun menasihatinya, “Jika kita melibatkan Tuhan, maka Ia mampu
membuat hal yang paling tidak kita sukai sekalipun, menjadi jalan keberhasilan, Nak…”

Melibatkan Tuhan dalam Setiap Langkah Anak Kami

Sejak hari itu, dia paham bahwa suka atau tidak suka, semua harus dipelajari dengan sungguh-sungguh. Meski demikian, anak kami masih terus berproses di Athalia, hingga ke masa yang akan datang pun ia akan terus berproses. Setidaknya, ia menyelesaikan kelas 7 dengan baik dan dia memasuki kelas 8. Mengingat tujuan utama kami memindahkan sekolahnya, yaitu untuk memberikan yang terbaik untuk pertumbuhan karakternya, tentu saja hal itu menjadi fokus kami.

Satu tahun pertama, hal yang paling mengharukan adalah dia sudah mulai mencuci piring dan gelas yang ia gunakan setelah makan dan minum. Dia juga membantu mamanya menjemur pakaian dan menyapu. Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Setahap demi setahap ini adalah wujud dari pertumbuhan karakternya ke arah yang lebih baik.

Begitu juga dengan sikapnya yang perlahan mulai lebih terbuka. Tadinya ia tidak pernah cerita kalau tidak ditanya. Sekarang, dengan sendirinya, tiap pulang sekolah, dia akan aktif bercerita kepada kami tanpa harus ditanya. 

Selain itu, kini dia punya banyak teman. Bahkan, sejak kelas 7, beberapa kali dia mengajak teman-temannya ke rumah untuk mengerjakan tugas. Anak-anak pun sangat senang mengerjakan tugas bersama. Jika ada kendala dalam membuat presentasi, papanya dengan senang hati membantu anak-anak. Bahkan, dari kegiatan mengerjakan bersama PR itu, kami memiliki ide untuk membuka les pemrograman untuk anak-anak, sesuai skill yang kami dalami.

Itu semua adalah contoh-contoh kecil perubahan yang sangat berarti buat kami. Rupanya, pilihan di Athalia direstui oleh Tuhan. Kami yakin, Tuhan akan melibatkan tangan-Nya dalam perjalanan ini.

Terima kasih, Sekolah Athalia. Kiranya Tuhan memberkati anak-anak, pengajar, kepala sekolah, Ibu Charlotte, karyawan, orang tua, dan semua yang berada di dalam komunitas Athalia.

Tahun Ajaran Baru “Melangkah dengan Iman”

Oleh: Bella Kumalasari, Staf Karakter – PK3

Mengakhiri dan memasuki tahun ajaran baru dengan situasi bekerja dan belajar dari rumah tentu bukan menjadi kebiasaan kita. Situasi ini terasa asing, mungkin aneh. Di satu sisi, suasana belajar dari rumah bisa terasa nyaman, tetapi di sisi lain juga menyedihkan dan membawa gejolak di dalam hati.

Pandemi Covid-19 seolah membawa kita masuk ke dalam ketidakpastian yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mudahnya konektivitas global melalui internet, dan hadirnya artificial intelligent, kita justru dihadapkan dengan ‘musuh’ yang bahkan tidak bisa kita lihat. Virus yang sangat kecil ini memorakporandakan seluruh rencana yang mungkin sudah kita susun sejak awal tahun atau bahkan tahun lalu.

Beberapa rencana yang telah disusun sejak lama seperti liburan atau bertemu dengan keluarga di kampung halaman terpaksa harus ditunda. Sementara itu, kebijakan-kebijakan pemerintah yang terus diperbarui membuat sebagian masyarakat kebingungan, tetapi rasanya tidak kunjung menjawab persoalan. Ajakan untuk hidup di ‘normal’ yang baru sudah dicanangkan dengan gamblang. Namun, apakah semudah itu menjalaninya?

Dapat dikatakan bahwa pandemi ini menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Mungkin kita mulai meragukan Allah, jiwa kita lelah dan terkuras, atau kita sangat khawatir dan mulai bertanya, “Sampai kapan kita akan bertahan?” Namun, alih-alih menjadi semakin terpuruk karena kondisi ini (atau kondisi lainnya kalaupun bukan virus corona), mari kita datang kepada Allah, Sang Batu Karang yang teguh.

Allah Berdaulat dalam Setiap Tahun Ajaran Baru

Allah adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu—termasuk dalam kesulitan yang kita anggap pahit. Ia mengizinkan segala sesuatu terjadi dalam kendali-Nya, bukan karena Ia gemar melihat manusia menderita, melainkan karena hikmat-Nya yang sempurna dan kasih-Nya yang tidak berubah. Allah tidak bertindak secara plin-plan. Ia tidak dikuasai oleh kebingungan atau perubahan. Dalam segala penderitaan, penyakit, bencana, atau krisis, Tuhan tetap memegang kendali. Justru karena kita tidak mampu memahami-Nya sepenuhnya, maka Ia layak dipercaya.

John Piper (2020) menyampaikan bahwa, “Kedaulatan yang memerintah atas penyakit adalah juga kedaulatan yang menopang dalam masa kehilangan. Kedaulatan yang mencabut nyawa adalah kedaulan yang juga mampu menaklukkan maut dan membawa orang-orang percaya ke surga dan kepada Kristus. Kedaulatan yang dapat menghentikan wabah virus corona. Meski sekarang tidak melakukannya, adalah kekuatan yang sama yang memelihara jiwa-jiwa yang sekarang ada di dalamnya”.

Kita mungkin tidak memahami jalan pikiran-Nya. Namun, firman-Nya mengajarkan bahwa tidak seekor burung pipit pun jatuh tanpa izin-Nya. Bahkan rambut di kepala kita pun terhitung. Maka, kita dapat yakin bahwa tidak ada virus pun hadir tanpa sepengetahuan-Nya. Kabar baiknya, kita jauh lebih berharga dibanding banyak burung pipit (Mat. 10:29–31).


Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Juni – Juli Tahun 2020

Allah yang Mengasihi Kita

Lebih dari sekadar berdaulat, Allah juga adalah Pribadi yang mengasihi kita. Roma 8:32 menyatakan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakan mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Kerelaan Allah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal telah membuktikan kasih-Nya kepada kita sekaligus menegaskan betapa Ia akan memakai seluruh kedaulatan-Nya untuk “mengaruniakan segala sesuatu kepada kita”. Ya, segala sesuatu, termasuk ketika “… kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari …” (Roma 8:36) demi kemuliaan-Nya—entahkah membawa kita melewati bahaya maut ini dengan selamat ataupun seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat selanjutnya, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Keberadaan Allah yang berdaulat sekaligus mengasihi saya membuat kita dapat melangkah dengan yakin bahwa ada tangan yang memegang hidup kita dengan sempurna meskipun kita tidak dapat melihat berpuluh-puluh langkah ke depan. Kedaulatan-Nya dalam menciptakan dunia ini, kasih-Nya dalam kisah penebusan di kayu salib dan kubur yang kosong, tidak berhenti sebagai kisah klasik beribu-ribu tahun yang lalu ataupun suatu kisah “dongeng” yang indah dalam kekekalan kelak. Ia ada saat ini, di sisi Anda dan saya, terlibat dan menentukan ini dan itu dalam setiap detik kehidupan kita, “… supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia” (1 Tes. 5:10).


Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menghidupi Tahun Ajaran Baru dalam Rengkuhan Kasih-Nya

Di tengah semua perubahan, marilah kita menyambut tahun ajaran baru dengan iman yang diperbarui. Kita memiliki Tuhan yang tidak pernah keliru dan senantiasa menyertai. Kedaulatan dan kasih-Nya bukanlah teori, melainkan kenyataan yang bisa kita alami setiap hari.

Mari mengarahkan hati kepada-Nya. Selamat memulai tahun ajaran baru di dalam rengkuhan kasih dan kedaulatan-Nya yang tak pernah berubah.

*Artikel ini merupakan sebuah refleksi dari beberapa referensi buku dan webinar, meliputi Coronavirus and Christ (John Piper, 2020), Where Is God in A Coronavirus World? (John Lennox, 2020), serta webinar apologetika mengenai kejahatan dan penderitaan oleh Bedjo Lie, M.Th.

Dampak Pola Asuh pada Karakter Anak

Oleh: Sinsi dan Aegis, Orang Tua Siswa

Kami mengingat kembali saat anak kami masih duduk di bangku TKB dan harus mengikuti tes kematangan sebagai salah satu syarat masuk SD Athalia. Masa itu merupakan pengalaman iman yang luar biasa bagi kami dalam hal tumbuh kembang anak.

Aegis dan Sinsi memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Aegis bertumbuh dalam keluarga yang seperti broken home, tetapi orang tuanya tidak bercerai. Sementara itu, Sinsi tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih, harmonis, dan sangat kekeluargaan. Orang tua Sinsi biasa menunjukkan kasih dengan cara memanjakan anak-anaknya. Bisa dibilang level memanjakan kebanyakan orang kepada cucunya sudah diterapkan kepada anak-anaknya.

Begitu Sinsi hamil hingga melahirkan, keluarganya sangat bersukacita. Kami diminta tinggal di rumah Sinsi. Anak kami mendapatkan curahan perhatian dan kasih sayang dari kakek dan neneknya. Apa pun yang diminta selalu dituruti bahkan ditawari segala hal karena itulah bahasa kasih mereka dan mereka ingin cucunya senang. Ada beberapa kebiasaan yang tumbuh dalam diri anak kami, yang kalau menurut pandangan orang mungkin terlalu berlebihan. Begitulah cara orang tua Sinsi menunjukkan kasih sayang mereka terhadap cucunya.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Nomor 2 Tahun 2021

Dampak Pola Asuh pada Karakter Anak

Konflik dalam Pola Asuh

Sayangnya, pola asuh orang tua Sinsi ini membuat kami sebagai suami istri sering bertengkar. Aegis tidak setuju dengan perlakuan yang diterima anak kami. Sinsi, sebagai anak, merasa tidak berdaya melawan orang tuanya yang sangat mengasihi cucu mereka. Sinsi sempat bertanya-tanya, apakah benar memanjakan cucu akan sampai “merusak” anak itu? Bukankah anak itu akan berubah dengan sendirinya kalau sudah beranjak besar (bisa mandiri dan lain sebagainya)?

Pertengkaran kami semakin intens dan kami jarang merasakan damai dan sukacita. Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah rumah, memisahkan diri dari keluarga Sinsi. Dalam proses ini, terjadi perdebatan yang cukup intens dengan orang tua Sinsi. Namun, kami sudah sepakat untuk menyelamatkan rumah tangga kami.

Ternyata, pindah rumah tidak menyelesaikan masalah. Orang tua Sinsi tetap ingin dekat dengan cucunya dan datang ke rumah hampir tiap hari. Puncak dari isu di keluarga kami muncul ketika kami dipanggil Kepala TK Athalia. Pada pertemuan tersebut, Bu Risna dan Bu Elita menyampaikan bahwa anak kami tidak lulus tes kematangan. Mereka juga menceritakan, ketika menjalani tes tersebut, anak kami berperilaku sangat buruk. Dia tidak mau mengikuti instruksi yang diberikan, bahkan sampai memarahi pengajar yang sedang mengobservasinya.

Mendengar informasi tersebut, kami kaget sekali. Di rumah, anak ini tidak pernah berkata kasar. Namun, ternyata dia bisa sampai marah-marah dan berucap kasar kepada pengajar di sekolah. Hati kami hancur. Namun, di titik ini, Sinsi menyadari bahwa efek pola asuh yang salah sangat memengaruhi perkembangan seorang anak. Sejak saat itu, kami kembali bersatu, bertekad mengubah pola asuh selama ini dan memperbaiki perilaku dan karakternya.

Perubahan dan Tantangan

Kami bersyukur Athalia masih memberikan kesempatan kepada anak kami untuk mengikuti tes kematangan kedua. Tak mau buang waktu, kami melakukan langkah nyata. Kami berbicara kepada orang tua Sinsi mengenai kondisi anak kami dan meminta pengertian mereka tentang beberapa hal yang sudah kami sepakati. Memang tidak mudah menyampaikan ini kepada orang tua, tetapi kami harus melakukannya demi kebaikan anak kami.

Kami membuat aturan yang jelas dan memberlakukan rutinitas harian yang harus diikuti. Selain itu, kami juga memberikan konsekuensi jika anak kami menunjukkan ketidaktaatan. Kami juga mengajak anak untuk berbicara dari hati ke hati. Melalui percakapan dari hati ke hati, kami juga menjelaskan bahwa selama ini pola asuh yang kami terapkan tidaklah tepat. Kami mengajak anak untuk memahami bahwa hidup tidak bisa sesuka hati, sebagaimana diajarkan dalam firman Tuhan. Tanggung jawab dan kebaikan kepada orang lain harus dimulai dengan belajar untuk taat dan berlaku baik.

Proses itu kami jalani, tetapi harus diakui sangat tidak mudah. Sekalipun sekolah dan kami sudah berusaha keras untuk memperbaiki karakter anak kami, kemajuannya sangat lambat karena sisa-sisa pola asuh terdahulu.

Kemudian, Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepada keluarga kami dengan membukakan jalan lain yang tidak pernah kami duga. Waktu itu, pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Kami pun bisa fokus mendidik anak berdua saja. Anak kami dapat menghabiskan waktu lebih banyak bersama orang tuanya dan jarang berinteraksi dengan kakek-neneknya. Kesempatan ini kami pakai semaksimal mungkin untuk menanamkan nilai-nilai baru dan karakter baik kepadanya. Pada saat itu, kami merasakan belas kasihan Tuhan karena anak kami mampu mengerti dan memahami didikan dan teguran yang kami berikan kepadanya.

Baca Juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Kasih Tuhan dalam Perjalanan Kami

Proses yang kami alami masih berlangsung hingga saat ini. Ada kalanya kami masih menghadapi riak-riak kecil dalam perjalanan ini. Namun, kami bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kami sendirian menjalani ini semua.

Tuhan memperkenalkan kami kepada Sekolah Athalia. Kami merasakan perhatian yang begitu besar dari pihak sekolah melalui diskusi dan percakapan dengan kami. Juga, dengan perhatian yang mereka berikan kepada anak kami.

Saat ini, anak kami sudah duduk di kelas 2 SD dan mulai memahami tugas dan tanggung jawabnya. Perilakunya sudah jauh lebih baik dibandingkan dua tahun lalu. Kami sekeluarga masih terus berproses bersama Tuhan dan Sekolah Athalia. Kiranya kisah kami dapat menjadi berkat bagi kemuliaan Tuhan. Amin.