Cara Efektif Menetapkan Batasan untuk Anak Remaja

Oleh: Erika Kristianingrum, orang tua siswa 8R dan 4E

“Bunda jahat… aku mau ganti orang tua aja, semua yang aku lakuin salah!”

Begitulah teriakan putri pertamaku yang saat itu sudah beranjak dewasa. Ia marah ketika saya merebut HP-nya saat ia sedang sibuk chatting di WA dengan teman-temannya sementara ia sedang mengikuti pembelajaran online.

“Ya… memang kamu salah karena tidak memperhatikan gurumu malah sibuk chatting,“ sahut saya. Namun, setelah berkata demikian, saya hanya terdiam. Kata-katanya terasa seperti tamparan keras bagi saya. Saya sadar bahwa sebagai orang tua, saya sering gagal dan perlu berubah. Saya harus berubah agar anak saya juga bisa berubah!

Sebagai orang tua, kita sering kali bingung bagaimana menetapkan batasan untuk anak remaja. Jika terlalu banyak aturan, mereka bisa memberontak dan menjauh dari orang tua. Di sisi lain, jika terlalu longgar di usia mereka yang baru masuk pada masa peralihan, mereka bisa kehilangan arah. Remaja sedang berada dalam masa peralihan. Mereka ingin memiliki otonomi sendiri, tetapi masih butuh bimbingan. Terkadang, pilihan mereka tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, mereka tetap perlu belajar mengambil keputusan untuk masa depan mereka sendiri.

Untuk mengatasi kebingungan ini, saya memutuskan untuk memulai dengan menerima keadaannya. Saya paham bahwa mengikuti sekolah online mungkin bukanlah hal yang mudah bagi anak saya. Ia pasti merasa bosan. Di sisi lain, HP adalah satu-satunya hal yang bisa menghiburnya walaupun dapat mengganggu konsentrasinya. Tetapi, saya pun harus tetap menetapkan batasan untuk anak saya agar ia tetap bertanggung jawab.

Baca Juga : Si Kecil Tidak Mau Sekolah Minggu? Coba Terapkan Ini!

Cara Efektif Menetapkan Batasan untuk Anak Remaja

Cara Menetapkan Batasan untuk Anak agar Tidak Menimbulkan Konflik

Saya sadar bahwa menetapkan batasan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Berikut beberapa hal yang saya lakukan dalam membuat batasan agar tetap dihormati oleh anak tanpa menimbulkan konflik:

  1. Berdiskusi tentang Batasan yang Diterapkan.
    Hal ini saya terapkan khususnya dalam membahas terkait aturan menggunakan HP. Saya akan mendengarkan kebutuhannya dan menjelaskan apa yang harus ia lakukan. Dari diskusi ini, kami akhirnya memperoleh beberapa kesepakatan yang harus dijalani bersama sebagai orang tua dan anak. Dengan ini, anak akan merasa lebih dihargai karena pendapat dan perasaannya didengarkan.
  2. Mengubah Cara Menegur menjadi Lebih Santai.
    Saya juga menyadari bahwa cara menegur sangat berpengaruh terhadap reaksi anak. Oleh karena itu, saya mengubah cara saya berbicara kepada anak saya menjadi lebih santai dan menggunakan intonasi yang lebih lembut. Selain itu, saya tidak akan menegurnya saat sedang capek, lapar, atau mengantuk. Saya sadar bahwa jika saya menegurnya dalam kondisi tersebut, kemungkinan besar justru akan terjadi konflik.

New Features : The Discipline of Choosing Right

Ternyata, setelah saya mengubah diri saya dan berusaha untuk berkomunikasi lebih baik, batasan-batasan yang telah disepakati dapat berjalan tanpa konflik. Sekarang, setiap kali aku bertanya kepadanya, “Masih mau ganti orang tua?”, dengan mantap ia akan menjawab, ‘Tidak… bunda tetap yang terbaik.” Kami pun tertawa bersama.

Harapan Baru, Awal yang Lebih Baik untuk Masa Depan

Oleh: Yanny Kusumawaty – Orang tua siswa X MIPA 2

Sebuah kapal besar dapat bersandar dengan baik di pelabuhan jika memiliki jangkar yang kuat. Jangkar akan menjaga kapal tersebut tetap stabil dan tidak terombang-ambing. Dalam Ibrani 6:19 dikatakan “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.”

Ayat ini adalah janji firman Tuhan bagi kita semua. Ketika kita memiliki pengharapan hanya pada Tuhan, maka jangkar hidup kita akan kuat. Pengharapan kita tidak akan goyah karena telah dilabukan sampai ke belakang tabir, yaitu di tempat Allah Bapa kita.

Baca Juga : Keluarga yang Bersyukur

Harapan Baru Dimulai dari Langkah Iman

Berawal dari suatu hal baru yang Tuhan letakkan di hati kami di tahun 2018, di mana kami merasa bahwa kami perlu renovasi rumah. Bukan untuk bergaya, tetapi karena kondisi bangunan rumah sudah di atas 10 tahun. Banyak bagian yang perlu diperbaiki agar lebih layak. Selain itu, rumah kami hanya memiliki dua kamar, sementara anak kami ada dua dengan gender berbeda. Belum lagi setiap Jumat, rumah kami ada persekutuan komunitas sel group. Jadi rasanya alasan untuk kami merenovasi rumah, sangat kuat. Kami sekeluarga mulai doakan hal ini sambil menabung. Kami letakkan harapan kami pada Tuhan. 

Pada tahun 2020, dunia mengalami perubahan besar dengan datangnya pandemi COVID-19. Suatu kondisi yang sangat baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Banyak orang mengalami kesulitan ekonomi dan rencana kami seolah harus ditunda. Namun, di tengah situasi sulit ini, Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga. Rumah orang tua saya yang diwariskan kepada kami 4 bersaudara tiba-tiba mendapatkan pembeli. Padahal, rumah ini sudah dipasarkan sejak tahun 2015, tetapi tidak pernah ada kesepakatan harga. Prosesnya tidak langsung berjalan lancar. Ada banyak kendala, mulai dari dokumentasi, pajak, hingga proses KPR di bank. Saat itu, pengharapan kami pasang surut. Kami sering bertanya-tanya, “Apakah rumah ini benar-benar akan terjual?”

Namun, di akhir tahun 2020, tepat di hari terakhir tutup buku bank, rumah tersebut akhirnya terjual dengan harga yang kami harapkan. Kami melihat bagaimana Tuhan membuka jalan bagi keluarga kami untuk mewujudkan harapan baru dalam merenovasi rumah.

Penyertaan Tuhan tidak sampai di situ. Kami dipertemukan dengan arsitek yang tidak hanya pintar, tetapi juga mau mendengar kebutuhan kami. Ia menggandeng kontraktor yang baik dan dapat dipercaya. Meski proses renovasi dilakukan di tengah pandemi, semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Tuhan juga menyediakan tempat tinggal sementara dengan harga yang terjangkau. Kami bisa menempatinya selama proses renovasi berlangsung. Semua kebutuhan terasa seperti telah disiapkan dengan sempurna.

Menaruh Harapan Sepenuhnya pada Tuhan

Akhirnya, pada akhir Oktober 2021, proses renovasi selesai tepat waktu. Dana yang kami miliki juga sangat cukup, hanya ada sedikit pinjaman yang kini hampir lunas. Saya bersyukur atas setiap proses ini. Saya melihat bagaimana Tuhan bertanggung jawab penuh atas apa yang telah Ia mulai dengan tidak membiarkan saya terombang-ambing tidak tentu arah.

Kini, kami menikmati rumah yang telah direnovasi dengan nyaman. Semua ini adalah bukti bahwa Tuhan setia dan berkuasa. Ia tidak membiarkan kami terombang-ambing dalam ketidakpastian, karena kami memilih untuk menaruh harapan kepada-Nya.

Tidak mudah dalam melabuhkan pengharapan pada Tuhan, karena natur kita sebagai manusia pastinya menggunakan hal yang bisa dipikirkan oleh logika dan akal kita.  Sedangkan bentuk pengharapan umumnya adalah abstrak, sesuatu yang tidak terlihat, tidak nampak, hanya BERHARAP… 

Namun kembali lagi, jika Tuhan yang menaruhkan suatu yang baru dalam hidup kita untuk kita menaruhkan harapan kita pada Tuhan, percayalah, Dialah jangkar yang kuat dan sempurna, yang sangat aman bagi jiwa kita. 

Allah yang Mahatahu dan Mengetahui Rahasia Hati Kita (Mazmur 44:21)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan (orang tua siswa)

Firman Tuhan: Allah Mengetahui Rahasia Hati Kita

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”
Mazmur 44:21

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahatahu. Ia mengenal setiap ciptaan-Nya secara mendalam — sejak sebelum kita lahir, Ia sudah mengetahui tujuan hidup dan perjalanan kita.
Sifat Allah yang Mahatahu bukan hanya tentang pengetahuan tanpa batas, tetapi juga tentang pemahaman yang penuh kasih terhadap apa yang terbaik bagi kita, bahkan ketika cara-Nya tidak sesuai dengan rencana atau keinginan kita.


Kesaksian Pribadi

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk memimpin PIT (Parents in Touch), yaitu persekutuan doa bersama orang tua dan staf/pendidik di Sekolah Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong.
Namun, situasi saya saat itu cukup menantang. Saya tidak memiliki asisten rumah tangga, dan ketiga anak saya masih kecil — dua di antaranya mengikuti sekolah online, sementara si bungsu baru berusia empat tahun.

Saya pun berdiskusi dengan koordinator PIT dan menjelaskan kemungkinan akan terlambat datang karena harus menemani anak-anak, serta rencana membawa si bungsu saat kegiatan onsite berlangsung dan memohon maaf karena merasa tidak bisa melayani secara maksimal.

Selama minggu-minggu persiapan, saya terus berdoa:

“Tuhan, Engkau tahu isi hati saya. Saya mau melayani, tetapi kalau saat ini belum waktunya, saya akan menerimanya. Namun jika Engkau izinkan, tolong supaya anak saya bisa tenang ketika saya melayani, agar pelayanan tidak terganggu.”

Sempat terlintas untuk mengundurkan diri. Namun ternyata, cara Tuhan bekerja sungguh luar biasa dan di luar dugaan manusia.
Beberapa hari sebelum acara, angka positif COVID-19 kembali meningkat, dan akhirnya PIT diadakan secara online.
Dengan begitu, saya tetap bisa melayani dari rumah sambil menjaga anak-anak.

Saya tidak bersukacita karena pandemi, tetapi saya bersyukur karena Tuhan mengenal pergumulan saya dan memberikan solusi terbaik. Allah sungguh Mahatahu dan penuh kasih terhadap umat-Nya.


Belajar Jujur di Hadapan Allah yang Mahatahu

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu terbuka dan jujur di hadapan Tuhan.
Sering kali kita berkata, “I’m okay,” di hadapan orang lain, padahal hati kita sedang tidak baik-baik saja. Namun, Tuhan tahu segalanya, bahkan hal-hal yang kita sembunyikan dari orang lain.

Mazmur 44:21 kembali mengingatkan:

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”

Karena itu, marilah kita belajar seperti pemazmur — jujur dalam setiap keadaan, baik ketika bersukacita maupun ketika merasa lemah, kehilangan, atau khawatir.
Kita boleh datang kepada Tuhan dengan doa yang sederhana namun tulus:

“Tuhan, tolong saya yang lemah ini agar tidak tenggelam dalam perasaan-perasaan ini. Ajari saya untuk kembali memandang-Mu dan percaya penuh pada rencana-Mu.”


Kesimpulan: Allah Tahu yang Terbaik bagi Kita

Allah yang Mahatahu selalu mengetahui isi hati dan kebutuhan kita yang terdalam.
Ia tidak hanya menyelidiki hati, tetapi juga memahami dan menyediakan yang terbaik bagi setiap anak-Nya — sesuai kehendak-Nya, bukan keinginan kita.

Kiranya melalui renungan ini, kita semakin percaya bahwa Tuhan mengenal dan memelihara hidup kita sepenuhnya.
Jujurlah di hadapan-Nya, karena tidak ada yang tersembunyi bagi Allah yang mengetahui rahasia hati manusia.

Allah Yang Maha Kuasa

Saya percaya Tuhanku Maha Kuasa. Dia sanggup melakukan apa pun yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia. —Susiana, Orang Tua Siswa.

Selama empat hari pertama di HICU, Ariel berada dalam kondisi kritis. Empat hari itu pula, hati saya menangis melihat banyak selang di tubuh Ariel. Warna tubuhnya juga berubah menjadi kuning pekat sebagai efek dari sakit paru-paru yang sudah merembet ke hati. Sebagai seorang ibu, saya hanya bisa terus memohon belas kasihan Tuhan karena hanya Dia yang sanggup menyembuhkan Ariel. Saya berdoa agar dokter dan obat-obatan menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk menolong Ariel kembali pulih.

Selama Ariel dirawat di HICU, ada sesuatu yang membuat saya heran. Setiap kali makan, anak saya minta disuapi oleh papanya. Padahal, biasanya dia lebih dekat denganku. Saya melihat mereka bisa mengobrol, bercanda, dan berdoa bersama meskipun Ariel masih kesulitan bicara karena sesak napas.

Baca Juga : Harapan Baru, Awal yang Lebih Baik untuk Masa Depan

Allah Yang Maha Kuasa

Pemulihan Hati dan Tubuh oleh Allah yang Maha Kuasa

Hari keenam Ariel dirawat di HICU menjadi titik balik bagi kami. Saat itu, ia yang justru mengajak kami berdoa bersama. Saya dan suami sangat kaget sekaligus terharu. Biasanya kami yang mengajaknya berdoa. Tapi kali ini, dia yang memimpin. Ariel memegang tangan saya dan suami, kemudian menyatukannya. Dengan suara tersengal-sengal karena sesak napas, dia mulai berdoa. “Tuhan, Ariel percaya bahwa sakit ini bukan untuk membuat Ariel menderita, tapi Tuhan mau membuat keluarga Ariel lebih baik lagi.

Doa itu membuat saya dan suami kaget. Kami berdua menangis. Seketika itu pula, saya merasa Tuhan membukakan mata dan hati saya sambil berkata, “Inilah Aku yang penuh kuasa.” Saya tidak bisa berkata-kata selain mengucap syukur di dalam hati. Tuhan sudah menjamah hati anak saya sedemikian rupa hingga dalam kondisi sakit pun dia bisa melihat rencana indah yang Tuhan siapkan untuk keluarga kami.

Selama sakit sampai harus dirawat di HICU, Ariel menjalani semua rangkaian pengobatan tanpa mengeluh. Namun, saya tidak pernah menyangka, anak saya punya pemikiran seperti dalam doanya itu. Tuhan sungguh menjamah dia!

Setelah melalui berbagai proses, akhirnya kondisi Ariel membaik sehingga dipindahkan ke kamar biasa. Setelah dirawat selama hampir satu bulan di rumah sakit, akhirnya dia diizinkan pulang! Sejak saat itu, Ariel menjadi lebih dekat dengan kami, terlebih papanya. Lagi-lagi, saya diingatkan bahwa Allah yang Maha Kuasa bisa memakai peristiwa apa pun untuk membuat hubungan ayah dan anak menjadi lebih dekat. Saya percaya, semua rancangan-Nya indah karena Ia sangat mengasihi kita.

Allah yang Mahatinggi: Tuhan Segala Tuhan dan Allah Segala Allah

allah yang mahatinggi

Oleh: Welly Alfons Rossall

“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; … Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.”
(Ulangan 10:14, 17)


Allah yang Mencipta dan Berotoritas Atas Segala Sesuatu

Ketika kita berbicara tentang Allah yang Mahatinggi, kita sedang membahas tentang Pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Dialah Allah yang memiliki otoritas tertinggi atas seluruh ciptaan.

Dalam Alkitab, kuasa Allah kerap dinyatakan melalui peristiwa-peristiwa besar. Salah satu contohnya adalah ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya di Mesir melalui Musa. Saat Firaun mengeraskan hati dan menolak membebaskan bangsa Israel, Allah menurunkan berbagai tulah yang dahsyat.

Kuasa-Nya melampaui para allah Mesir dan bahkan mengendalikan unsur alam semesta. Hingga akhirnya, Firaun harus tunduk kepada otoritas Allah dan membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan.


Allah yang Mengalahkan Semua Allah dan Berkuasa Atas Segala Berhala

Kisah lain yang menunjukkan kebesaran kuasa-Nya adalah ketika patung Dagon, dewa bangsa Filistin, jatuh tersungkur di hadapan tabut perjanjian—simbol kehadiran Allah. Saat itu, bangsa Filistin telah merebut tabut tersebut dan menempatkannya di kuil mereka. Namun keesokan harinya, patung Dagon ditemukan roboh.

Peristiwa ini menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada allah atau kuasa apa pun yang dapat menandingi Allah Israel. Dialah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan.


Mengalami Allah yang Mahatinggi dalam Kehidupan Pribadi

Kisah tentang Allah yang Mahatinggi tidak hanya tertulis di Alkitab—saya pun mengalaminya sendiri.

Pada bulan Agustus 2021, istri saya, Jessica, berpulang ke rumah Bapa. Peristiwa itu sangat mengguncang hati dan membawa kesedihan mendalam. Dalam doa-doa saya, saya sering berkata kepada Tuhan bahwa sosok yang paling saya rindukan untuk jumpai pertama kali setelah meninggal nanti adalah Jessica.

Namun, suatu saat Tuhan berbicara lembut di hati saya, seolah bertanya:

“Siapakah yang lebih engkau kasihi—Aku atau Jessica?”

Pertanyaan itu menembus hati saya. Tuhan sedang mengingatkan bahwa Dia harus menjadi yang terutama dalam hidup ini.

Sejak saat itu, doa saya berubah. Kini, saya berdoa agar semakin mengenal Tuhan dan mengasihi-Nya lebih dalam. Saya ingin, ketika tiba waktunya bertemu muka dengan-Nya, Dialah sosok pertama yang saya rindukan dan ingin peluk dengan penuh kasih.


Belajar Taat dan Bergantung Penuh kepada Allah yang Mahatinggi

Kini saya belajar untuk hidup taat dan berserah penuh kepada Tuhan. Saya ingin berjalan bersama-Nya dengan kerendahan hati, meninggikan Dia di atas segalanya.

Biarlah Allah yang Mahatinggi memimpin setiap langkah hidup ini, sebab hanya Dia yang layak disembah, diagungkan, dan dipercaya sepenuhnya.


✨ Penutup: Hiduplah di Bawah Otoritas Allah yang Dahsyat

Allah yang Mahatinggi bukan hanya Tuhan yang besar dan dahsyat, tetapi juga Allah yang pribadi dan penuh kasih. Ia berdaulat atas langit dan bumi, namun tetap hadir di hati orang yang mau berserah.

Ketika kita menempatkan Allah sebagai yang terutama, hidup kita akan dipimpin oleh kuasa dan kasih yang tidak tertandingi.

Allah yang Berdaulat

Oleh: Yanny Kusumawaty

Allah yang Berdaulat dalam Kisah Alkitab

“… dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.” (2 Tawarikh 20: 6)

Di 2 Tawarikh 20 dikisahkan tentang Yosafat yang menerima kabar bahwa bani Moab dan bani Amon datang untuk berperang melawannya. Singkat cerita, Yosafat mengalami kemenangan dalam peperangan karena ada kedaulatan Allah atas kemenangan tersebut! Lewat kisah itu dan dengan melihat realitas kehidupan sehari-hari, kita jadi tahu bahwa pernyataan tentang kedaulatan Allah tidak selalu berarti kehidupan seseorang selalu lancar dan baik-baik saja. Justru, kedaulatan Allah akan semakin nyata ketika kita berada dalam kondisi yang kurang nyaman, seperti mengalami kekalahan atau sakit.

Kedaulatan Allah dalam Hidup Saya

Tentang kedaulatan Allah, saya ingin sharing sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 September 2021, saya menerima kabar bahwa kakak mengalami pendarahan otak dan dalam kondisi koma. Saya sangat terkejut karena tidak pernah mendengar cerita kalau Cece—panggilan saya untuk kakak—mengidap penyakit apa pun.

Singkat cerita, saya berangkat ke Surabaya untuk menengok Cece yang dirawat di HCU. Saat itu, saya menyerahkan seluruh harapan untuk kesembuhan Cece kepada Tuhan sambil memohon belas kasih-Nya. Selama 11 hari Cece dalam keadaan koma. Hingga akhirnya pada hari Senin, 11 Oktober 2021, Tuhan memanggil Cece pulang ke rumah Bapa.

Saya dilanda kesedihan yang luar biasa, melebihi ketika kehilangan papa dan mama. Harapan saya untuk kesembuhan Cece tidak terwujud. Pikiran saya mulai dipenuhi oleh pertanyaan: mengapa Cece harus pulang ke rumah Bapa secepat ini? Apakah saya tidak tahu tentang kedaulatan Tuhan? Saya sangat tahu, tetapi secara manusia, saya terus meronta dan mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa. Rasanya, saya tidak terima Cece pergi begitu cepat!

Menerima Kedaulatan Allah

Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti mempertanyakan hal tersebut karena menyadari bahwa ketika membiarkan pertanyaan itu terus menguasai diri, lama-kelamaan saya bisa jadi tidak mengakui kedaulatan Tuhan. Saya mulai mengganti pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu dengan mengingat janji Tuhan di Mazmur 23: 4—Tuhan berjanji selalu menyertai, bahkan ketika kita berada di lembah kekelaman sekalipun!

Saya juga disadarkan bahwa kepergian Cece membuat saya merasakan kehadiran banyak orang yang begitu peduli dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menguatkan dan menghibur saya. Mereka melakukannya tanpa kata-kata penghiburan yang klise, tetapi tindakan nyata, yang saya maknai sebagai bagian dari penyertaan Tuhan. Saya tidak sendirian! Bukankah itu hal yang luar biasa? Imanuel!

Apakah setelah itu kesedihan di dalam hati menjadi hilang? Tidak, tetapi saya diingatkan bahwa selalu ada penyertaan Tuhan dalam hidup kita! Kedaulatan-Nya bukan digunakan secara semena-mena dan kejam terhadap manusia, karena semua yang ada di dalam hati dan pikiran Allah adalah kasih. Dalam keterbatasan manusia untuk memahami kedaulatan-Nya, yang kadang tidak menyenangkan dan tidak nyaman buat kita, mari berhenti untuk bertanya “mengapa” dan cobalah melihat lebih dalam tentang penyertaan-Nya di setiap musim kehidupan. Dengan demikian, kita akan dimampukan melewati dan menerima kejadian-kejadian tertentu, serta mengerti bahwa Tuhan selalu memegang kendali atas segala situasi yang kita hadapi!

Value vs. Belief, Apakah yang Kita Pegang Benar-Benar Tulus?

Erika Kristianingrum, Orang Tua Siswa.

Bulan November 2021 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti program CARE (Connect – Accept – Restore – Equipt). Program ini merupakan inisiatif dari Bu Charlotte yang bertujuan membantu peserta menemukan jati diri serta menyembuhkan luka batin. Diharapkan, setelah mengikuti program ini, peserta mampu menolong orang lain.

Untuk sementara, program ini berupa pilot project, sehingga pesertanya ditujukan hanya untuk CPR dan CC Sekolah Athalia. Salah satu pertemuan yang paling membekas bagi saya adalah pertemuan ketiga, yang membahas tentang value, belief, dan attitude. Saat itu, kami diminta untuk merenungkan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan masing-masing. Saya dengan yakin menyatakan bahwa value utama saya adalah keluarga. Dalam pandangan saya, keluarga adalah prioritas utama, tempat berlindung, dan ruang yang nyaman untuk kembali. Belief yang saya pegang erat adalah bahwa keluarga merupakan tempat berbagi suka dan duka tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Salah satu contoh attitude yang mencerminkan keyakinan tersebut adalah keputusan saya untuk tidak pernah pergi berlibur hanya bersama teman-teman. Saya meyakini bahwa liburan adalah momen berharga yang seharusnya dinikmati bersama keluarga.

Menyelami Makna Value dalam Keseharian

Setelah pertemuan itu, pikiran saya terusik. Saya mulai mempertanyakan kembali apakah benar keluarga adalah value utama saya, atau ada faktor lain yang lebih mendalam yang belum saya sadari. Saya teringat pesan fasilitator yang menyarankan agar setiap peserta terus menggali lebih dalam tentang keyakinan yang dimiliki.

Malam itu, saya merenungkan banyak hal, terutama dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anak. Sejak awal, saya berusaha mengajarkan mereka untuk memiliki hati yang mau melayani, menjadi berkat bagi orang lain, serta menjunjung tinggi sopan santun dalam pergaulan. Saya juga selalu mendampingi mereka saat belajar agar mereka merasa diperhatikan dan didukung. Begitu juga terhadap suami. Saya selalu menyiapkan segala keperluannya, mengantarnya sampe ke pintu pagar saat dia akan berangkat kerja, dan mengingatkannya untuk makan saat sedang di kantor.

Semua ini saya lakukan dengan keyakinan bahwa keluarga adalah hal terpenting dalam hidup saya. Namun, seiring dengan perenungan yang lebih dalam, saya mulai melihat sudut pandang lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Mengungkap Motivasi di Balik Value

Tuhan perlahan menyingkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam hati saya. Saya mulai menyadari bahwa tindakan yang saya lakukan terhadap anak dan suami bukan sepenuhnya karena keluarga adalah prioritas utama saya. Ada faktor lain yang lebih dominan, yang selama ini tidak saya sadari—yaitu keinginan untuk mendapatkan reputasi yang baik. Ternyata, value saya adalah REPUTASI.

Dalam mendidik anak, saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan berakhlak baik agar orang lain melihat saya sebagai ibu yang berhasil dalam membesarkan anak sesuai ajaran Tuhan. Dalam hubungan dengan suami, saya ingin orang lain melihat saya sebagai istri yang baik dan berbakti. Saya ingin citra diri saya sebagai seorang ibu dan istri mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar.

Tak sadar, air mata saya menetes. Saya sadar bahwa menanggapi panggilan menjadi seorang ibu tidak mudah. Jika anak-anak bersikap tidak baik, orang akan bertanya, “Siapa ibunya?”. Jika terjadi sesuatu terhadap suami, orang akan berpendapat istrinya pasti kurang melayani suaminya dengan baik. Tidak ada penghargaan khusus atau promosi jabatan untuk seorang ibu terutama ibu rumah tangga seperti yang didapat wanita yang mendapatkan promosi jabatan di sebuah perusahaan.

Seorang ibu tidak akan pernah mendapat penghargaan sebagai ibu terbaik dari orang lain selain dari keluarganya sendiri. Setidaknya, hal-hal itulah yang saya percaya selama ini. Oleh karena itu, saya menganggap keluarga begitu penting karena dari keluargalah saya bisa mendapatkan reputasi yang baik. Hal inilah yang ingin saya capai: orang lain harus menilai saya baik.

Mengubah Perspektif: Dari Reputasi ke Rasa Syukur

Namun, akhirnya saya sadar bahwa semua itu pemikiran yang salah. Saya mulai belajar mengubah semua motivasi dalam menanggapi panggilan sebagai ibu rumah tangga dan istri. Saya seharusnya meresponsnya sebagai wujud syukur karena Tuhan sudah begitu besar mengasihi dan memberikan anugrah yang besar kepada saya: seorang suami yang baik dan anak-anak yang manis. Sudah sewajarnya saya melayani mereka sesuai dengan yang Tuhan mau, bukan sebagai alat agar orang melihat dan menilai saya sebagai ibu dan istri yang baik.

Saat ini, saya masih terus belajar memiliki motivasi yang benar, yaitu sebagai ucapan syukur kepada Tuhan agar hanya nama Tuhan yang dipermuliakan. Saya ingin Tuhan berkenan atas saya karena telah mendengar panggilan sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan yang Dia kehendaki sehingga hanya nama-Nya yang dipermuliakan.

Rahasia Hubungan yang Baik dan Harmonis

Oleh: Tirza Naftali, orang tua siswa.

Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan (1 Tesalonika 5: 11).

“Kaulah yang terbaik.”

Ketika mendengar frasa ini, kita langsung tahu bahwa frasa ini diucapkan untuk memberikan dukungan/peneguhan. Ketika frasa ini disampaikan kepada orang lain, bisa memberikan dukungan dan bersifat membangun. Kita bisa mengucapkan frasa ini dengan tulus jika memiliki unconditional love (kasih tanpa syarat) dan penerimaan terhadap orang lain.

Bagi orang percaya, dua hal tersebut bisa kita peroleh melalui Kristus karena melalui-Nya Allah mengasihi dan menerima kita tanpa syarat: “…
Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa
.” (Roma 5: 8)

Gambar oleh Bpk. Rizal & Ibu Rina Badudu.

Kasih tanpa syarat ini idealnya kita praktikkan kepada orang lain
sebagai dasar dalam berelasi,
terutama kepada pasangan dan anak. Ketika hal ini terus-menerus dipraktikkan, akan membentuk sebuah siklus yang dapat semakin memperkuat relasi dengan orang lain.

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan penerapan kasih tanpa syarat antara saya dan suami. Saya dan suami memiliki bahasa kasih terkuat yang sama, yaitu sentuhan fisik. Bahasa kasih kedua kami yang berbeda—saya membutuhkan kata-kata penghargaan, sedangkan suami menunjukkan kasih melalui pelayanan. Perbedaan ini kerap menjadi sumber konflik.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Valentines Day concept isolated person situations. Collection of scenes with people celebrating romantic holiday, couples on date, love relationship. Mega set. Vector illustration in flat design

Menerapkan Kasih Tanpa Syarat dalam Hubungan Pasangan

Saya tumbuh dalam lingkungan yang minim kata-kata dorongan, sehingga merasa kekurangan dan berharap pasangan serta anak mengisinya. Sementara itu, suami dididik dalam budaya keluarga yang irit berbicara, mengutamakan kesopanan kepada orang lain, dan menghindari konflik demi ketenangan rumah. Latar belakang pola asuh kami ini juga terbawa ke dalam relasi kami sebagai suami istri.

Ketika konflik muncul, suami saya cenderung untuk diam. Suami saya bahkan bisa dalam beberapa hari “membiarkan” saya yang juga sedang diam. Padahal, di dalam pikiran, saya sangat gelisah. Saya berburuk sangka, merasa tidak dikasihi, karena tidak ada penyelesaian atas masalah kami (bahkan kata “maaf). Selain itu, suami juga kurang mengekspresikan penghargaan kepada saya. Padahal kepada orang lain, dia sangat sopan, tetapi kepada saya, kata-katanya terasa lebih lugas seperti, “Eh, lempar kunci, dong!” atau “Ma, piring, dong!” Padahal, saya sangat membutuhkan kata-kata seperti “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih.”

Situasi seperti demikian membuat saya merasa tidak nyaman. Bersyukur kepada Tuhan, pada 2018 yang lalu gereja kami mengadakan retret pasutri yang dibawakan oleh GI. Julimin dan alm. GI. Wei Tjen. Di acara tersebut, kami diberi kesempatan mengobrol berdua dan di situ kami saling mengungkapkan isi hati satu sama lain.

Suami saya tumbuh dalam lingkungan yang menekankan kesopanan kepada orang lain, tetapi kurang dalam penerimaan diri. Setelah menikah, ia menganggap saya bagian dari dirinya, sehingga merasa tidak perlu menjaga kesopanan seperti kepada orang lain. Suami saya merasa sudah memberikan seluruh cintanya melalui tindakan pelayanan yang dia lakukan kepada saya, tetapi saya tidak bisa merasakan kasihnya karena tidak sesuai dengan bahasa kasih saya. Bagi suami saya, mengucapkan kata “maaf”, “terima kasih”, “tolong” kepada inner circle, termasuk dirinya sendiri, bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Saat konflik, ia lebih memilih diam, bukan karena tidak peduli, tetapi karena takut ucapannya justru memperburuk keadaan.

Langkah Praktis dalam Membangun Hubungan yang Lebih Baik

Ketika mendengarkan isi hati suami, saya merasa sedih karena selama ini saya kesulitan memahami dan menerima dia apa adanya. Padahal, dia sudah begitu berjuang menunjukkan kasihnya kepada saya. Setelah itu, kami bersama-sama mengambil langkah praktis yang terus-menerus dipraktikkan hingga sekarang dan harapannya bisa kami lakukan terus ke depannya.

Berikut beberapa hal yang kami sepakati.

  1. Berjuang bersama Roh Kudus untuk memulihkan diri dari luka masa lalu dengan cara memulihkan relasi saya dengan orangtua. Ketika saya bersedia diproses oleh Tuhan, saya semakin dipulihkan. Relasi saya dengan suami dan anak pun menjadi jauh lebih baik.
  2. Bersedia untuk terus belajar mengasihi satu sama lain dengan bahasa kasih yang sesuai dengan yang diharapkan pasangan.
  3. Berlatih untuk tidak menghakimi pasangan. Ketika sisi gelap salah satu dari kami muncul, pasangan tidak menghakimi dengan berkata, “Tuh,
    kan gua bilang juga apa, kebiasaan sih!”, “Kamu kok, gitu terus, sih”, dan lain-lain.
  4. Mendisiplinkan diri dengan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk kamu/kita dalam menghadapi kelemahan/konflik ini?” Tidak ada lagi “saya vs kamu”. Yang ada adalah “kita vs masalah”.
  5. Menjadi penolong, bukan perongrong. Setiap pagi sebelum beraktivitas, kami akan bertanya, “Mau didoakan apa?” Selain itu, kami terus memegang prinsip: “Kamu memang tidak sempurna, saya pun begitu. Namun, kamu tetaplah yang terbaik yang Tuhan berikan kepada saya.”

Baca Juga : Athalia Leaning Community Nomor 5 Tahun 2021

Ketika kita sedang berada di titik rapuh, kita pasti rindu untuk direngkuh. Oleh karena itu, dari pada memberikan respons berupa penolakan, penghakiman, atau ketidakmengertian, sudahkah kita merangkul sesama, memberinya yang terbaik dalam ketenangan, hiburan, dan penguatan?

Dibentuk dengan Berbagi Hidup

oleh: Merry David

Dari buku Sacred Marriage karya Gary Thomas.

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Matius 7: 1–2).

Gary Thomas dalam bukunya menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam satu rumah, tetapi juga menjadi sarana pembentukan diri. Ketika dua individu berbagi hidup dalam pernikahan, mereka secara alami akan mengalami berbagai tantangan yang dapat memperkuat atau justru melemahkan hubungan. Salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan adalah kecenderungan untuk menghakimi pasangan dan menolak untuk mendengarkan.

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula pasangan kita. Jika kita hanya berfokus pada kekurangan pasangan, kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat kelebihan dan kekuatan yang bisa menjadi inspirasi bagi kita. Oleh karena itu, dalam perjalanan pernikahan, penting bagi kita untuk saling menerima, memahami, dan bertumbuh bersama, bukan saling menghakimi.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 6 Tahun 2021

Berbagi Hidup: Proses Pembelajaran dan Perubahan Diri

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan, apalagi seperti yang sering ditampilkan dalam drama Korea yang penuh dengan keindahan dan romansa. Ketika merenungi tema PIT dengan judul “Dibentuk dengan Berbagi Hidup”, saya mulai berpikir, apa saja yang sudah saya dan suami lalui sebagai pasangan? Di usia pernikahan kami yang baru 13 tahun, kami tidak hanya memiliki banyak persamaan, melainkan juga perbedaan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Gary Thomas, kita bisa belajar dan dibentuk oleh pasangan, saya pun mengalaminya. Contoh beberapa hal yang saya pelajari dari suami saya, yaitu dalam hal percaya kepada orang lain, berani berpendapat, humble, dan lain sebagainya.

Dulunya saya tidak mudah percaya dengan orang lain sehingga saya selektif dalam memilih teman. Hal ini karena saya pernah dikecewakan oleh orang yang saya percayai sehingga tidak mudah bagi saya untuk percaya kepada orang lain lagi. Namun, suami saya mengajarkan saya untuk mau belajar memercayai orang. Misalnya di dalam pekerjaan, saya mulai bisa berbagi tugas dengan rekan kerja ketika saya bekerja sebagai sekretaris. Sebelumnya, semua pekerjaan saya tangani sendiri dan rekan saya hanya melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Dampaknya, saya sering kali kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketika saya mulai belajar untuk memercayai orang lain, hidup saya tentunya menjadi lebih ringan. Dengan demikian, saya juga belajar untuk lebih rendah hati.

Baca Juga : Kenali Bahasa Kasih Pasangan: Kunci Hubungan Harmonis

Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Belajar Mempercayai Orang Lain

Dahulu, saya adalah orang yang tertutup atau antisosial. Namun, kemudian saya belajar bersedia membuka diri. Perubahan ini memungkinkan saya untuk melayani Tuhan bersama banyak orang. Apalagi ketika saya sudah menjadi orang tua dan anak saya bersekolah di Athalia. Mau tidak mau saya harus bersosialisasi dengan banyak orang tua lainnya karena di Athalia ada komunitas orang tua. Ketika saya bersedia diubah, saya merasa sangat terbantu dalam bersosialisasi dan berani ketika diminta melayani menjadi CPR lalu sekarang di BPH APC, serta berani melayani di gereja lokal kami.

Saya bersyukur suami tidak pernah menghakimi kekurangan saya ini. Dia membantu saya untuk terus memperbaiki diri. Begitu juga sebaliknya, saya juga belajar untuk tidak menghakimi kekurangan suami. Saya sadar, ketika saya menunjukkan jari telunjuk ke orang lain, sesungguhnya ada empat jari lainnya yang menunjuk ke diri saya.

Demikian sharing dari saya, kiranya Tuhan Yesus memberkati. Terima kasih.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik?

Oleh: Elisa Christantio, Orang tua siswa.

Firman Tuhan yang direnungkan pada Rabu, 6 Oktober 2021 diambil dari Amsal 4: 23, berbunyi:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (TB)

Ketika mendengar kata “menjaga,” umumnya kita akan berpikir tentang sesuatu yang tampak secara fisik. Namun, kita sering lupa bahwa menjaga juga mencakup hal-hal yang tidak kasatmata. Jadi, ketika Alkitab berbicara tentang hati, tentu tidak berbicara tentang fisik. Hati yang dimaksud bukanlah sekadar organ tubuh, tetapi melambangkan pikiran, kehendak, dan batiniah seseorang. Pikiran dan kemauan adalah pusat pengambilan keputusan, tempat di mana setiap pilihan dibuat. Segala sesuatu yang kita putuskan untuk dilakukan berasal dari sana. Lantas, mengapa penting untuk menjaga hati kita?

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

1. Karena kita mencintai Tuhan yang sudah lebih dulu mencintai kita.

Salah satu motivasi terbesar untuk menjaga hati karena kita mencintai Tuhan. Mengasihi Tuhan dan memelihara persekutuan yang erat dengan-Nya harus menjadi landasan utama dalam menjaga hati.

Sebelum pandemi, tugas dan pelayanan mengharuskan saya dan suami bepergian ke luar kota. Kami sudah sepakat walau melayani Tuhan, kami ingin selalu bersama dengan anak-anak. Akhirnya, kami memilih jadwal saat anak-anak libur sekolah agar mereka bisa ikut. Ini bukan keterpaksaan, tetapi hal yang dilakukan dengan sukacita. Kami memilih untuk melakukannya karena rasa sayang. Kami saling mengasihi sehingga kami menempatkan perlindungan untuk hati kami dengan cara seperti ini.

2. Rencana Tuhan

Ketika semua yang kita lakukan mengalir dari hati, mungkin saja rencana Tuhan sedang terjadi dalam hidup kita. Tidak ada yang lebih memuaskan di bumi ini selain melakukan kehendak Tuhan.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 4 Tahun 2021

3. Menyelesaikannya dengan baik

Banyak di antara kita yang memulai dengan baik, tetapi mengakhiri dengan buruk. Amsal mengingatkan agar kita memulai dan mengakhiri dengan baik pula.

Menjalani pekerjaan yang harus sering keluar kota, mewartakan kabar baik, dan melayani bersama-sama keluarga tentu tidak mudah. Namun, kami ingin menyelesaikannya dengan baik. Suatu kali, kami melayani di Desa Pulutan, Wonosari, Gunungkidul. Kami tidak memberi tahu anak-anak tentang kegiatan hari itu. Sesampainya di lokasi, anak kami yang besar bertanya, “Kenapa kita disambut seperti presiden?” Dia bingung karena kehadiran kami disambut meriah. Singkat cerita, kami beramah tamah. Anak kami yang besar waktu itu masih kelas 4 SD, ditanya oleh salah seorang murid lokal tentang bahasa yang dikuasai. Lalu anak kami berkata, “Aku bisa bahasa Mandarin. Wo jiào Nathanael. Nǐ jiào shénme míngzì?” Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Kemudian, anak kami berkata, “Kamu juga bisa, makanya kamu harus rajin belajar.” Lalu, semua orang di sana bertepuk tangan.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik

Melakukan Hal Baik dalam Rencana Tuhan

Hari itu, kami pulang dengan hati bersyukur karena kami mengalami liburan yang luar biasa. Anak-anak mengerti tentang menjaga sekaligus memberi hati untuk orang lain. Kami sekeluarga pun menyelesaikan misi/tujuan Tuhan dalam hidup kami, walau dengan cara yang sederhana.

Menjaga hati bahkan juga dialami tokoh misionaris terhebat sepanjang masa dalam Filipi 3: 12–14. Paulus menyadari bahwa pekerjaannya belum selesai dan dia ingin memastikan bisa menyelesaikannya dengan kuat.

Saya yakin Paulus pun menjaga hatinya. Saya dan kita semua harus melakukan hal baik yang sama.

Sebagai penutup, saya bagikan satu ayat yang merangkum cara menjaga hati: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”– Filipi 4: 8

Selamat merenung. Tuhan Yesus memberkati!