Value vs. Belief, Apakah yang Kita Pegang Benar-Benar Tulus?

Erika Kristianingrum, Orang Tua Siswa.

Bulan November 2021 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti program CARE (Connect – Accept – Restore – Equipt). Program ini merupakan inisiatif dari Bu Charlotte yang bertujuan membantu peserta menemukan jati diri serta menyembuhkan luka batin. Diharapkan, setelah mengikuti program ini, peserta mampu menolong orang lain.

Untuk sementara, program ini berupa pilot project, sehingga pesertanya ditujukan hanya untuk CPR dan CC Sekolah Athalia. Salah satu pertemuan yang paling membekas bagi saya adalah pertemuan ketiga, yang membahas tentang value, belief, dan attitude. Saat itu, kami diminta untuk merenungkan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan masing-masing. Saya dengan yakin menyatakan bahwa value utama saya adalah keluarga. Dalam pandangan saya, keluarga adalah prioritas utama, tempat berlindung, dan ruang yang nyaman untuk kembali. Belief yang saya pegang erat adalah bahwa keluarga merupakan tempat berbagi suka dan duka tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Salah satu contoh attitude yang mencerminkan keyakinan tersebut adalah keputusan saya untuk tidak pernah pergi berlibur hanya bersama teman-teman. Saya meyakini bahwa liburan adalah momen berharga yang seharusnya dinikmati bersama keluarga.

Menyelami Makna Value dalam Keseharian

Setelah pertemuan itu, pikiran saya terusik. Saya mulai mempertanyakan kembali apakah benar keluarga adalah value utama saya, atau ada faktor lain yang lebih mendalam yang belum saya sadari. Saya teringat pesan fasilitator yang menyarankan agar setiap peserta terus menggali lebih dalam tentang keyakinan yang dimiliki.

Malam itu, saya merenungkan banyak hal, terutama dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anak. Sejak awal, saya berusaha mengajarkan mereka untuk memiliki hati yang mau melayani, menjadi berkat bagi orang lain, serta menjunjung tinggi sopan santun dalam pergaulan. Saya juga selalu mendampingi mereka saat belajar agar mereka merasa diperhatikan dan didukung. Begitu juga terhadap suami. Saya selalu menyiapkan segala keperluannya, mengantarnya sampe ke pintu pagar saat dia akan berangkat kerja, dan mengingatkannya untuk makan saat sedang di kantor.

Semua ini saya lakukan dengan keyakinan bahwa keluarga adalah hal terpenting dalam hidup saya. Namun, seiring dengan perenungan yang lebih dalam, saya mulai melihat sudut pandang lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Mengungkap Motivasi di Balik Value

Tuhan perlahan menyingkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam hati saya. Saya mulai menyadari bahwa tindakan yang saya lakukan terhadap anak dan suami bukan sepenuhnya karena keluarga adalah prioritas utama saya. Ada faktor lain yang lebih dominan, yang selama ini tidak saya sadari—yaitu keinginan untuk mendapatkan reputasi yang baik. Ternyata, value saya adalah REPUTASI.

Dalam mendidik anak, saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan berakhlak baik agar orang lain melihat saya sebagai ibu yang berhasil dalam membesarkan anak sesuai ajaran Tuhan. Dalam hubungan dengan suami, saya ingin orang lain melihat saya sebagai istri yang baik dan berbakti. Saya ingin citra diri saya sebagai seorang ibu dan istri mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar.

Tak sadar, air mata saya menetes. Saya sadar bahwa menanggapi panggilan menjadi seorang ibu tidak mudah. Jika anak-anak bersikap tidak baik, orang akan bertanya, “Siapa ibunya?”. Jika terjadi sesuatu terhadap suami, orang akan berpendapat istrinya pasti kurang melayani suaminya dengan baik. Tidak ada penghargaan khusus atau promosi jabatan untuk seorang ibu terutama ibu rumah tangga seperti yang didapat wanita yang mendapatkan promosi jabatan di sebuah perusahaan.

Seorang ibu tidak akan pernah mendapat penghargaan sebagai ibu terbaik dari orang lain selain dari keluarganya sendiri. Setidaknya, hal-hal itulah yang saya percaya selama ini. Oleh karena itu, saya menganggap keluarga begitu penting karena dari keluargalah saya bisa mendapatkan reputasi yang baik. Hal inilah yang ingin saya capai: orang lain harus menilai saya baik.

Mengubah Perspektif: Dari Reputasi ke Rasa Syukur

Namun, akhirnya saya sadar bahwa semua itu pemikiran yang salah. Saya mulai belajar mengubah semua motivasi dalam menanggapi panggilan sebagai ibu rumah tangga dan istri. Saya seharusnya meresponsnya sebagai wujud syukur karena Tuhan sudah begitu besar mengasihi dan memberikan anugrah yang besar kepada saya: seorang suami yang baik dan anak-anak yang manis. Sudah sewajarnya saya melayani mereka sesuai dengan yang Tuhan mau, bukan sebagai alat agar orang melihat dan menilai saya sebagai ibu dan istri yang baik.

Saat ini, saya masih terus belajar memiliki motivasi yang benar, yaitu sebagai ucapan syukur kepada Tuhan agar hanya nama Tuhan yang dipermuliakan. Saya ingin Tuhan berkenan atas saya karena telah mendengar panggilan sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan yang Dia kehendaki sehingga hanya nama-Nya yang dipermuliakan.

Posted in Kisah Inspiratif and tagged , , , , , , , , , , , .