Jangan Takut Berbeda, Jadilah Pribadi Autentik!

Oleh: Betsy K. Witarsa – Konselor SMA

pribadi autentik

Sebagai manusia, kita adalah ciptaan Allah yang paling mulia karena diciptakan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Kita diberi kemampuan untuk berpikir, berencana, merasakan emosi, berekspresi, dan mengambil tindakan. Setiap kita juga memiliki karakteristik, kepribadian, dan bakat unik yang membuat diri kita unik dan berbeda satu dengan yang lain.

Menjadi pribadi autentik berarti memahami diri, menghargai keunikan yang diberikan Tuhan, dan memaksimalkan potensi diri. Kehidupan yang autentik memberikan kepuasan dan makna yang lebih mendalam jika kita mampu melihat diri dari perspektif Allah.

Sayangnya, ada berbagai hal yang seringkali menghambat kita untuk bisa menjadi pribadi yang autentik. Beberapa orang tumbuh dalam lingkungan yang minim teladan dan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan secara sehat, sehingga terbiasa untuk memendam atau bahkan menyangkal pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri. Ada pula yang diberi tuntutan untuk mencapai atau menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak selaras dengan bakatnya, lalu dikritik dan dipandang sebelah mata ketika hasilnya kurang maksimal.

Banyak manusia terbiasa memakai topeng demi mendapat penerimaan dan pengakuan. Ketika hal ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama, sehingga mereka semakin tidak peka dengan pikiran, emosi, dan kebutuhannya sendiri. Kehidupan tidak lagi dilandasi oleh pengenalan yang benar akan diri dan Allah menjadikan hidup mudah terombang-ambing tanpa arah.

Bagaimana Menjadi Pribadi yang Autentik?

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjalani hidup dengan lebih autentik, sembari tetap menjaga keharmonisan relasi dengan orang-orang di sekitar. Kata kuncinya adalah membangun relasi yang baik dan dekat dengan diri sendiri. Kita dapat melatih diri untuk melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Perhatikan dan sadari apa yang terjadi di tubuh kita. Leher atau bahu yang tegang mungkin terkait dengan apa yang ada dalam pikiran, perasaan, pemikiran, dan memori kita. Kondisi fisik dan psikologis kita saling mempengaruhi.
  2. Biasakan memvalidasi pikiran dan perasaan kita, bukan menyangkalnya. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengevaluasi apa yang kita pikirkan dan rasakan, tetapi langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui dan memberi ruang terlebih dahulu. Contoh kalimat validasi yang bisa kita katakan pada diri sendiri yaitu: “Aku menyadari bahwa aku berpikir kalau orang lain lebih beruntung dari diriku dan aku jadi mengasihani diri sendiri”, “Saat ini sedang ada kesedihan yang begitu besar dalam diriku dan aku mengizinkan diriku untuk merasakannya”, dan “Aku sebenarnya tidak suka dengan kecemasan yang sering muncul ini, tetapi aku belajar mengakui bahwa saat ini memang seperti itu kondisinya”.
  3. Kenalilah diri kita sendiri. Apa yang kita kuasai, apa yang kita suka lakukan, apa yang membuat hati kita tergerak, apa yang penting dan bernilai bagi kita, dan semacamnya. Hadapi kebenaran tentang siapa kita dan akuilah jika memang ada aspek-aspek dari diri sendiri yang masih sulit untuk diterima. Kebenaran tidak selalu menyenangkan, tetapi dapat berpotensi membebaskan kita.

Baca juga: Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
(Efesus 4:11-12)

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Angela Duckworth tumbuh dan dibesarkan di dalam keluarga dengan seorang ayah yang meragukan kompetensi intelektual anak-anaknya. Sang ayah dalam berbagai kesempatan mengatakan kepada Angela, “Kamu bukan orang jenius”. Namun, Angela tidak terjebak dalam label itu.

Jauh di dalam lubuk hatinya Angela ingin berkata, “Ayah bilang saya bukan orang jenius dan saya tidak membantahnya. Tetapi ada satu hal yang ingin saya katakan. Saya akan tumbuh dewasa dengan perasaan cinta terhadap apa yang saya lakukan. Saya akan menantang diri saya sendiri setiap hari. Bila terpukul roboh, saya akan bangkit kembali. Saya mungkin bukan orang yang paling pintar di satu komunitas, tapi saya berjuang menjadi orang yang paling tabah.” Menariknya, ia kemudian meraih beasiswa MacArthur, yang sering disebut beasiswa “Genius Grant“.

Apa Itu Grit dan Bagaimana Kita Bisa Menumbuhkannya?

Ide, pemikiran, dan penelitian tentang pengaruh ketabahan untuk mendukung pertumbuhan diri disarikan oleh Angela Duckworth. Dalam bukunya berjudul Grit, Angela Duckworth menjelaskan bahwa ketabahan (grit) dapat bertumbuh melalui empat faktor utama, meliputi :

  1. Minat (Interest)
  2. Latihan (Practice)
  3. Tujuan (Purpose)
  4. Harapan (Hope)

Ketika membahas tentang minat, Angela menyatakan hal yang penting bahwa, “minat akan berkembang bila ada dorongan dari beberapa pendukung, termasuk orang tua, pendidik, pelatih, dan rekan. Mereka memberikan dorongan berkelanjutan dan informasi penting yang membuat Anda semakin menyukai sesuatu.” Kalimat ini dengan tepat menunjukkan bagaimana sebuah komunitas berperan penting dalam membangun minat yang kemudian akan membentuk ketabahan dan mengoptimalkan pertumbuhan diri.

Peran Komunitas dalam Membantu Kita Bertumbuh

Alkitab juga menekankan pentingnya komunitas dalam membantu bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menyatakan bahwa Allah memberikan berbagai peran seperti rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar untuk memperlengkapi umat-Nya. Siapa mereka ini bagi komunitas Kristen? Mereka adalah orang tua, para pendidik, rohaniwan, para sahabat, rekan sepelayanan, yang Allah tempatkan di sekitar untuk memperlengkapi kita menemukan dan menekuni panggilan-Nya untuk melayani Tuhan dan sesama. Bagian firman Tuhan ini mengingatkan orang tua dan pendidik untuk memanfaatkan setiap momen dan ruang-ruang perjumpaan untuk memberikan informasi sekaligus inspirasi pertumbuhan diri anak-anak dalam pengasuhan kita.

Sayangnya, tidak semua anak mendapatkan inspirasi dari lingkungan mereka. Sebagian justru mengalami intimidasi, yang menjadi hambatan atau batu sandungan pada pertumbuhan diri dan pencarian panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Bagian firman Tuhan ini juga mengingatkan anak-anak untuk mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih atas kehadiran para penolong dalam pertumbuhan hidup mereka. Dukungan dan kehadiran para penolong di sekitar ini sering kali kurang dihargai, take it for granted, tidak lagi disyukuri, dan tidak mendapat ucapan terima kasih.

Ada yang mengatakan, “kehilangan akan membuktikan keberhargaan suatu kehadiran,” tetapi semoga kita tidak harus mengalami kehilangan lebih dahulu untuk bisa menyadari kehadiran para penolong di sekitar kita.

Baca juga: Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Perjalanan Remaja Mencari Identitas Diri

Anita Latifia-Konselor SMP

Proses Pencarian Identitas Diri

Setiap individu akan mengalami berbagai fase perkembangan dalam hidupnya. Fase remaja merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam proses pencarian identitas diri. Meskipun hal ini merupakan proses seumur hidup yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Namun, masa remaja adalah masa yang sangat signifikan. Menurut Santrock, hal yang penting dari perkembangan identitas diri pada masa remaja, terutama remaja akhir, adalah bahwa untuk pertama kalinya, perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional sang remaja berkembang ke titik di mana ia dapat memilah, memadukan identitas, dan mengenali masa kanak-kanaknya, untuk membangun jalan yang sepantasnya menuju kedewasaan (Santrock, 2010).

Empat Status Identitas Diri

Menurut Santrock, identitas merupakan potret diri seseorang yang terdiri dari banyak bagian, diantaranya keyakinan spiritual; karier yang ditempuh; kepribadian; citra tubuh (body image); minat; suku bangsa/etnis dan lainnya. Dalam proses pembentukan identitas ini, remaja akan melakukan eksplorasi untuk menemukan pilihan mana yang paling sesuai dan nyaman buat dirinya, serta komitmen terhadap pilihannya. Santrock mengatakan bahwa Marcia mengelompokkan identitas individu ke dalam empat status berdasarkan ada tidaknya proses eksplorasi (krisis) serta komitmen yang diambil. Keempat status identitas tersebut adalah:


Identity Diffusion

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi dan belum mengambil komitmen atas pilihannya. Kemungkinan individu pada status ini belum tertarik akan pencarian identitas tersebut.


Identity Foreclosure

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi, tetapi sudah berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini sering kali terjadi oleh karena pilihan orang tua atau figur lain ditambah individu malas untuk melakukan eksplorasi terhadap alternatif-alternatif pilihan lainnya.


Identity Moratorium

Status pada individu yang tengah melakukan eksplorasi, tetapi belum juga berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini membuat individu tersebut kurang teguh pada pilihannya dan mudah goyah jika terdapat alternatif lain yang baru dieksplor.


Identity Achievement

Status pada individu yang telah melakukan eksplorasi dan membuat komitmen terhadap pilihannya.

Usulan Bagi Orang Tua dalam Menemani Remaja Mencari Identitas Diri

Perjalanan pencarian jati diri ini bukan hal yang mudah untuk dilalui oleh setiap remaja. Pendampingan dan dukungan yang tepat dari orang tua merupakan hal yang sangat dibutuhkan para remaja dalam menjalani proses ini. Berikut ini merupakan beberapa usulan yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam menemani perjalanan anak-anak remaja mereka:

  • Menyadari bahwa ini merupakan perjalanan sang anak bersama dengan Tuhan dalam menemukan identitas seperti yang Dia inginkan.
  • Memberikan dukungan moral dan spiritual berdasarkan prinsip-prinsip iman Kristen yang baik, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja untuk berani melakukan eksplorasi diri.
  • Membantu dalam mengevaluasi hasil eksplorasi yang telah dilakukan anaknya dengan memberikan pertimbangan yang sesuai dengan pengenalan orang tua terhadap sang anak.

Melalui artikel singkat ini, kiranya orang tua bisa lebih memahami proses pencarian identitas pada remaja serta serius dalam mendampingi mereka dalam perjalanan ini.

identitas diri

Referensi:

Santrock, John W. (2010). Life-span Development (thirteenth edition). The McGraw-Hill Companies.

“Siapakah Aku?” Krisis Identitas yang Biasa Dialami Remaja. Yogyakarta: Center for Life-span Development, 2024. Diambil dari: https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/2024/05/04/siapakah-aku-krisis-identitas-yang-biasa-dialami-remaja/

Baca juga: Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Bella Kumalasari – Plt. Kasie Karakter Sekolah Athalia

Visi Sekolah Athalia

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia – sebuah sekolah Kristen di Serpong, dilakukan demi tercapainya visi Sekolah Athalia, yaitu “Siswa yang menjadi murid Tuhan”. Seorang murid mengikuti gurunya dan meniru apa yang dilakukan oleh guru tersebut. Dalam Yohanes 13:34-35, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada para murid-Nya agar saling mengasihi sama seperti Tuhan telah mengasihi mereka. Dengan demikian, semua orang akan tahu kalau mereka adalah murid-murid-Nya. Oleh sebab itu, dasar dari semua karakter yang diajarkan di Sekolah Athalia adalah kasih. Kasih yang sempurna telah dianugerahkan melalui kematian Tuhan Yesus di kayu salib dan itulah yang mendorong setiap kita untuk juga mau mengasihi-Nya dengan hidup makin serupa dengan-Nya.

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia
Gambar 1

Proses Pembinaan Karakter

Sekolah Athalia memberikan pembinaan karakter secara intensional kepada para murid. Ada kesinambungan yang diharapkan terjadi dari TK hingga SMA (gambar 1). Di TK, karakter mulai ditumbuhkan (growing) dan terus dibentuk di masa SD (shaping) sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang kokoh (steadfast person). Di SMP dan SMA mereka mulai diajak untuk memperhatikan sekitar mereka. Karakter-karakter yang dipelajari mendorong mereka untuk peduli dan berbagi (caring and sharing) bahkan berdampak dan berkontribusi (influencing and contributing) bagi sekitar sehingga mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang melayani (servant leader). Karakter yang dipelajari juga tidak hanya diajarkan pada 1 level saja tetapi ada yang diulang di level-level selanjutnya agar murid terus menghidupinya.

Dalam pembinaan karakter yang didasari oleh kasih kepada Tuhan, murid-murid tidak hanya diajar secara kognitif atau teoritis, tetapi juga diberikan contoh-contoh melalui kisah nyata, tokoh, ilustrasi, cerita dongeng, ataupun sharing langsung dari guru dan teman. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk menerapkan karakter yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap murid memiliki “proyek karakter” yang harus dikerjakan baik di rumah maupun di sekolah. Proyek karakter diberikan sesuai dengan usia murid, misalnya: murid TK belajar karakter penuh perhatian dengan cara segera menjawab ketika dipanggil guru/orang tua, murid SD belajar karakter ketertiban dengan melakukan kegiatan sesuai jadwal, murid SMP belajar karakter tanggung jawab dengan membereskan kamar sendiri, murid SMA belajar karakter keberanian untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.

Penerapan

Penerapan karakter dalam keseharian sangat membutuhkan keterlibatan orang tua. Apa saja yang dapat orang tua lakukan untuk mendukung perkembangan karakter anak?

  • Beri ruang untuk berproses.

Untuk dapat melatih karakternya, anak butuh ruang untuk mencoba dan kemungkinan melakukan kesalahan. Orang tua perlu mendukung dengan mengizinkan dan memaklumi hal tersebut.

  • Beri pujian dan respons yang meneguhkan.

Ketika anak melatih karakternya, orang tua dapat memberikan pujian dan peneguhan. Hindari respons yang menghakimi dan membuat anak tidak lagi berani mencoba. Apresiasi setiap perubahan kecil.

  • Beri teladan.

Salah satu cara anak belajar adalah dengan meniru. Orang tua perlu menjadi teladan bagi anak dalam praktik karakter sehari-hari. Dengan demikian, anak mengerti apa yang benar dan salah serta bagaimana melakukannya.

  • Berjalan bersama dalam proyek karakter anak.

Di TK dan SD, orang tua dapat mengingatkan dan memonitor proyek karakternya setiap hari. Di SMP dan SMA, orang tua dapat menjadi teman seperjalanan anak-anaknya dengan berdiskusi mengenai proyek yang sedang dikerjakan anaknya tanpa menghakimi dan menuntut.

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia tidak dapat berjalan sendiri tanpa kerja sama dan keterlibatan orang tua. Mari bergandengan tangan membina karakter anak-anak kita agar mereka dapat bertumbuh makin serupa Kristus dan menjadi berkat bagi sekitarnya.

PERUBAHAN dan PERTUMBUHAN

Tema Tapel 2022/2023

Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.

                Terlebih memasuki tapel 2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema “Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.

Bertahan di Tengah Perubahan

                Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?

Hidup dan Melayani Secara Ilahi

                Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?

Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:

Pancang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga, sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan. Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).

Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:

  • Manusia
    seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.

Pegang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Setelah komunitas memiliki fokus yang sama, yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan, karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.

Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa, perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.

Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.

Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.

Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Setelah mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap pribadi dan komunitas.

Mendidik Anak dengan Cara Allah

Mendidik Anak dengan Cara Allah

Oleh: Chandria Wening Krisnanda (Konselor Bina Karir Sekolah Athalia)

Perjalanan Gary dan Anne Marie Ezzo, pasangan suami istri penggagas kelas parenting GKGW (Growing Kids God’s Way), dimulai pada tahun 1984. Mereka terpanggil untuk berbagi prinsip praktis dalam mendidik anak yang berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Pelayanan mereka dimulai dari enam pasangan suami istri di Los Angeles melalui kelas “Membesarkan Anak dengan Cara Allah” atau “Growing Kids God’s Way”. Kini, konsep GKGW telah tersebar luas dan menjadi berkat bagi banyak keluarga, termasuk Komunitas Sekolah Athalia.


Tujuan Utama Kelas Parenting GKGW

1. Membentuk Anak untuk Memuliakan Tuhan, Bukan Manusia

Banyak orang tua tanpa sadar memosisikan anak sebagai objek tanpa hak, menuntut penghormatan berlebihan dengan alasan pendisiplinan. Padahal, segala hormat dan kemuliaan sejatinya hanya milik Tuhan.
Kelas parenting GKGW mengingatkan bahwa mendidik anak bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi untuk kemuliaan Allah.


2. Memberikan Petunjuk Praktis Berdasarkan Prinsip Alkitabiah

Setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam mendidik anak. Namun, Gary dan Anne Marie Ezzo menyusun silabus terintegrasi berdasarkan karakter iman Kristen agar setiap prinsip pengasuhan memiliki makna rohani dan tidak menjadi kesia-siaan di hadapan Allah Bapa.


3. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Orang Tua

Apakah Anda pernah merasa ragu saat mendisiplin anak atau gelisah melihat anak menangis? Banyak orang tua mengalami hal serupa.
Kelas GKGW hadir untuk meneguhkan orang tua agar memiliki keyakinan dalam menjalankan perannya. Rasa percaya diri ini bersumber dari Firman Tuhan yang menyatakan kebenaran serta penerapan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kepercayaan diri yang kokoh, orang tua dapat mengembangkan kemampuan mendidik anak dengan lebih berkualitas.


4. Menolong Orang Tua Melihat Masa Remaja dengan Pandangan Positif

“Anakku sudah ABG dan mulai sulit diatur…” — keluhan seperti ini sering terdengar di kalangan orang tua.

Gary dan Anne Marie Ezzo mengajarkan bahwa masa remaja bukanlah masa yang menakutkan. Justru, dengan berpegang pada standar Tuhan, mendidik anak remaja dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membangun hubungan yang lebih erat.


5. Menjangkau Hati dan Pikiran Generasi yang Akan Datang

Menurut Gary dan Anne Marie Ezzo, dibutuhkan dua generasi untuk melihat dampak nyata dari perubahan cara pikir. Mereka rindu agar para orang tua memiliki pola pikir yang alkitabiah sehingga dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Perubahan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir orang tua, yang kemudian menjangkau anak-anak dan cucu mereka.


Dampak Kelas Parenting GKGW di Komunitas Sekolah Athalia

Lima tujuan tersebut menjadi dasar bagi Sekolah Athalia untuk menyelenggarakan kelas parenting GKGW beberapa tahun lalu. Banyak pasangan merasa terberkati dan mengalami perubahan dalam keluarga mereka.


Testimoni Peserta Kelas GKGW

Beryl & Anita

Kami mengikuti GKGW karena ingin mendidik anak dengan benar. Banyak prinsip baru yang kami pelajari di setiap pertemuan. Kini, kami memiliki relasi yang lebih hangat dengan anak remaja kami berkat penerapan nilai-nilai GKGW.
Kami berharap kelas ini dapat memberkati keluarga besar kami agar pola asuh yang benar dapat diterapkan secara lebih luas.

Djulia

Saat saya dan suami memutuskan untuk taat menerapkan ajaran GKGW, kami melihat perubahan nyata dalam relasi keluarga. Prosesnya memang panjang, bahkan hingga anak-anak dewasa kami tetap menerapkannya.
Harapan kami, kelak anak-anak kami juga mau belajar GKGW ketika mereka sudah berkeluarga.


Melanjutkan Tongkat Estafet Pengasuhan Kristen

Semoga Komunitas Sekolah Athalia terus melanjutkan tongkat estafet dari Gary dan Anne Marie Ezzo untuk melahirkan generasi masa depan yang benar sejak awal, yang hidup sesuai dengan Firman Tuhan.


Sumber

Ezzo, G., & Ezzo, A.M. (2001). Let The Children Come-Along The Virtuous Way: Membesarkan Anak dengan Cara Allah. Bogor: Yayasan Bina Keluarga Indonesia..

ICON Camp SMA Athalia 2022

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia

Pendidikan Karakter di Sekolah Athalia

Pendidikan karakter di Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong, telah dimulai sejak dini. Siswa dibentuk untuk menjadi pribadi yang bersukacita, bertanggung jawab atas kewajibannya, serta peduli dengan sekitar. Semua itu bertujuan mempersiapkan siswa agar dapat memberi dampak dan berkontribusi secara lebih luas bagi masyarakat. Apalagi sebentar lagi mereka juga akan memasuki dunia perguruan tinggi. Oleh sebab itu, profil karakter siswa SMA Athalia adalah Influencing and Contributing.

Kamp Karakter di SMA Athalia

ICON Camp (Influencing and Contributing Camp) menjadi salah satu sarana pembentukan karakter siswa SMA Athalia. Acara ini diadakan secara khusus di kelas 11. Melalui kamp ini, siswa diingatkan kembali mengenai karakter yang mereka pelajari selama di jenjang SMA. Mereka diberi ruang untuk mengevaluasi diri sudah sejauh mana belajar dan menghidupi karakter-karakter yang dibinakan. Juga untuk mengembangkan karakter-karakter tersebut di masa mendatang dengan lebih baik.

Tema ICON Camp Tahun Ini

ICON Camp SMA Athalia tahun ini mengangkat tema “Be You Till Full”. Para guru mencermati, pembelajaran di masa pandemi memang dilakukan secara terbatas. Namun, di sisi lain siswa memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya. Bukankah hal ini dapat menjadi kesempatan untuk mendorong siswa memaksimalkan minat dan bakatnya untuk berdampak dan berkontribusi secara lebih luas?

Sebelum pelaksanaan ICON Camp, siswa menjalani tes psikologi untuk mengenal bakat dan minatnya. Setelah itu mereka dibagi ke dalam kelompok dengan anggota yang memiliki kecerdasan berbeda-beda. Mereka diminta untuk merancang sebuah proyek ICON yang akan disayembarakan pada hari H. Di sini, setiap siswa belajar untuk bekerja sama dan mengambil bagian dalam melakukan proyek ICON.

Acara ICON Camp

Ketika hari ICON Camp tiba, siswa mengikuti acara selama dua hari. Di hari pertama mereka dipandu untuk mengenal diri. Selain itu juga memaksimalkan kelebihan untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui materi, permainan, dan diskusi. Di hari kedua, siswa diberi kesempatan untuk mendengarkan pemaparan dari beberapa narasumber. Para narasumber ini adalah mereka yang sudah menunjukkan influencing and contributing dalam hidupnya. Contohnya seperti mendirikan rumah baca di daerah terpencil serta membuka usaha pengolahan sampah.

Kisah ICON dari para narasumber ditutup dengan presentasi siswa mengenai proyek ICON yang sudah mereka rancang. Dari lima belas kelompok, terpilih tiga kelompok dengan rancangan proyek terbaik.

Proyek-proyek terbaik:

  • Pertama adalah Thrift It, yaitu penjualan baju bekas layak pakai ataupun baju-baju sisa ekspor sebagai salah satu cara mencari dana. Nnantinya dana yang terkumpul didonasikan kepada orang yang membutuhkan.
  • Kedua adalah Ecomplex, yaitu pengolahan sampah dapur (sisa kulit buah dan sayuran busuk). Sampah organik ini diolah menjadi produk daur ulang berupa pupuk cair.
  • Ketiga, Maskerin (masker kain), merupakan proyek mengampanyekan gerakan memakai masker kain daripada masker sekali pakai.

Harapan untuk Peserta ICON Camp

Kiranya melalui proyek-proyek yang akan direalisasikan ini, siswa dapat berlatih untuk merencanakan, mengelola, serta memperjuangkan sesuatu yang dapat membawa pengaruh dan dampak bagi sesama dan lingkungan. Proyek ICON menjadi miniatur proyek-proyek nyata yang dapat dilakukan oleh siswa di masa yang akan datang dalam lingkup yang lebih luas. Karena sesungguhnya setiap siswa dipanggil untuk menjadi murid Tuhan yang menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

Membentuk Karakter Caring and Sharing Pada Anak

Caring and Sharing merupakan profil karakter SMP Athalia. Untuk menolong siswa semakin menghidupi karakter ini, Sekolah Athalia menyelenggarakan kegiatan Caring and Sharing Camp (Cas-Camp). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi kelas VIII. Acara puncak dilaksanakan pada Jumat, 11 Maret 2022. Meskipun begitu, beberapa hari sebelumnya, para pelajar telah memulai rangkaian kegiatan dengan berbagai challenge caring and sharing di rumah. Hal ini dilakukan dengan membantu anggota keluarga atau menunjukkan kepedulian kepada orang di sekitar.

Pada puncak acara, pelajar dibagi menjadi beberapa kelompok dan masuk ke break out room di aplikasi Zoom. Mereka mengikuti berbagai permainan yang dirancang untuk melatih sikap caring and sharing bersama teman-teman sekelompok. Di akhir acara, siswa diteguhkan melalui kebenaran firman Tuhan sebagai dasar hidup dalam karakter ini. Firman Tuhan dibawakan oleh Lao Shi Wendy, seorang youth pastor, yang membimbing siswa untuk merenungkan makna mengasihi diri dan sesama.

Kesadaran akan Kasih Yesus

Sebelum Friman disampaikan, pelajar diminta berdiskusi mengenai pandangan dan pemikiran mereka terhadap fenomena mengasihi diri dan sesama. Dunia mengenal beberapa perilaku mengasihi diri yang salah, seperti operasi plastik, menikah dengan diri sendiri atau menunjukkan kekurangan fisik demi mendapatkan pengakuan. Fenomena keliru lainnya juga disoroti, seperti pernikahan dengan sesama jenis, hologram tokoh anime, atau mengadopsi boneka sebagai anak. Setelah mendengarkan diskusi mereka, Lao Shi Wendy membahas isu-isu tersebut dari sudut pandang Alkitab. Beliau mengupas dua prinsip caring and sharing berdasarkan ayat Alkitab yang terambil dalam Lukas 7: 36-47.

Dalam Lukas 7: 36-47, diceritakan tentang seorang perempuan berdosa yang melayani Yesus. Perempuan tersebut membasahi kaki-Nya dengan air mata lalu menyeka dengan rambutnya, meminyaki kaki Yesus, bahkan rela dipandang najis karena menyeka dan mencium kaki Yesus. Ia melakukan itu semua karena sadar betapa ia amat berdosa dan membutuhkan pengampunan. Yesus mengasihi dan mengampuninya! Inilah yang menjadi prinsip pertama dalam melakukan tindakan caring and sharing.

Prinsip kedua dijelaskan dengan kisah Simon yang mendapat teguran dari Yesus karena ia tidak melayani-Nya saat Yesus datang ke rumahnya. Yesus menanyakan tentang perumpamaan orang yang berutang 500 dan 50 dinar. Jika keduanya dibebaskan dari utang, siapakah yang lebih mengasihi si pembebas utang? Simon menjawab, yang berhutang lebih besar—500 dinar.

Lewat kisah ini, Lao Shi Wendy ingin menekankan bahwa orang yang merasa sedikit diampuni, akan sedikit juga berbuat kasih. Semakin besar seseorang menyadari pengampunan yang diberikan baginya, ketidaklayakannya menerima pengampunan tersebut, maka akan semakin besar kasih yang ditunjukkan bagi Yesus, bahkan sesama!

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

Caring and Sharing yang Tulus, Bukan Citra Diri

Selanjutnya, Lao Shi Wendy juga mengingatkan bahwa CaS (Caring and Sharing) bukanlah:

  1. Keselamatan
  2. Penerimaan
  3. Pencitraan
  4. Kompromi.

Lebih dari itu, sebagai anak Tuhan yang sudah diselamatkan, kita harus melakukan tindakan caring and sharing dengan tulus karena Yesus telah lebih dulu mengasihi dan menerima kita apa adanya. Yang menjadi pertanyaan refleksi: sudahkan kita secara pribadi merasakan kasih Allah yang begitu besar? Bukan hanya sebagai bahan perenungan, tetapi para siswa juga didorong untuk terus mempraktikkan beberapa hal untuk menunjukkan caring and sharing, yaitu:

  • Kasihilah sesamamu manusia – segala prioritas terhadap diri sendiri perlu diarahkan untuk kebutuhan orang lain.
  • Berikan perhatian – secara intentional, menghubungi teman-teman yang ada di sekitar, menanyakan kabar, dan mendoakan mereka.
  • Berikan pertolongan – mendiskusikan dengan orang tua untuk memberikan bantuan kepada orang di sekitar yang sedang membutuhkan.
  • Lakukan kebenaran – jika ada orang di sekitar kita yang belum mengenal Tuhan, jangan menggosip, mencibir, atau mem-bully. Namun, kasihi mereka sebagai sesama manusia, perkenalkan kepada Kristus, dan ajak ke gereja. Share your life!

Kiranya melalui kegiatan CaS-Camp ini, para siswa kelas VIII dapat mengingat, mengevaluasi, serta semakin bertumbuh dalam karakter tanggung jawab dan berkontribusi lebih luas kepada sesama melalui tindakan caring and sharing. Tentu saja, pertumbuhan karakter membutuhkan waktu dan proses sepanjang hidup. Oleh karena itu, siswa membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, yaitu orang tua, pengajar, dan komunitas yang sehat untuk berjalan bersama! (MRT)

Tips Mengasihi Ketika Merasa Terluka

Mungkinkah seseorang mengasihi walau terluka? Pertanyaan ini mungkin menantang hati dan logika kita.

Bila mengasihi dalam kondisi terluka adalah sebuah pilihan, rasanya tidak banyak orang yang akan memilihnya. Kasih biasanya dinyatakan melalui sesuatu yang indah, menghibur, menyenangkan bahkan membahagiakan. Sangat jarang kasih diekspresikan melalui bentuk yang menyakitkan atau menyedihkan. Sebuah fenomena yang paradoks, mengasihi sekaligus terluka. Namun justru dalam paradoks itulah makna terdalam dari kasih terungkap.

Kisah paradoks ini, menjadi kisah yang spektakuler, kisah kasih yang berkorban dan menyelamatkan dunia. Kisah hidup Kristus, Sang Juruselamat. Dalam 1 Yohanes 3:16 tertulis, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Melalui kematian-Nya, Kristus menunjukkan kualitas kasih yang sejati.

Rasul Yohanes mengingatkan para pengikut Kristus untuk hidup meneladani Sang Juruselamat. Menyatakan kasih kepada sesama sampai menyerahkan nyawanya. Apa artinya hal ini bagi kita? Artinya, jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi, akan ada pembuktian atas perasaan kasih tersebut. Karena kasih tidak berhenti pada perasaan, tetapi kasih dibuktikan melalui tindakan nyata dan pengorbanan diri.

Mengasihi Lewat Tindakan

Mengikuti teladan Kristus yang menyerahkan nyawanya bagi orang lain adalah tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri. Mengasihi artinya bersedia untuk menanggalkan ego, berempati, bahkan rela berkorban bagi orang lain. Untuk hal inilah kita, para pengikut-Nya dipanggil. Adakah kerelaan untuk tidak selalu mengutamakan diri sendiri?

Bila kita mengatakan bahwa kita mengasihi sesama kita, mengasihi orang-orang di sekitar kita, adakah kepedulian terhadap orang lain tampak dalam tindakan? Jika kita katakan bahwa kita mengasihi orang lain, adakah kita memiliki kerelaan untuk membantu, mendampingi, bahkan ikut menanggung kesulitan yang sedang dihadapi orang lain? Apakah kita berjuang untuk menghidupi kebenaran ini dalam diri, demikian kita dapat mengatakan bahwa kasih bukanlah sekadar perasaan, mengasihi adalah tindakan.

Perlu juga diingat bahwa tidak semua tindakan baik kepada orang lain didasari oleh kasih. Untuk dapat mengetahuinya kita perlu merenungkan motivasi kita dalam bertindak. Apakah sesuatu yang kita perbuat adalah tindakan yang disertai kasih, ataukah tindakan karena mementingkan kepentingan diri?

1 Korintus 13:3: “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”

Rasul Paulus mengingatkan untuk memperhatikan dasar dari tindakan kita. Manusia memiliki potensi untuk bisa melakukan sesuatu yang terlihat baik, tetapi tidak didasari oleh kasih. Manusia mudah melihat rupa. Ada orang yang sepertinya mengasihi, memberi dirinya untuk orang lain, tetapi dasar tindakan itu belum tentu berasal dari kasih. Kasih yang sejati tidak berpusat pada cinta akan diri sendiri. Mengasihi adalah tindakan yang rela mengorbankan diri dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain.

Kasih dalam Keluarga dan Komunitas

Seorang ayah yang mengasihi anggota keluarganya akan membuktikan kasihnya melalui tindakan merawat dan melindungi seluruh anggota keluarganya dan bukan sebaliknya. Para orang tua akan bekerja keras demi keluarganya, melakukan tanggung jawabnya demi kesejahteraan anggota keluarganya. Namun, jika tidak disertai kasih kepada seluruh anggota keluarganya, misalnya tidak memberikan diri untuk relasi yang intim dengan keluarganya, dan hadir dalam kehidupan mereka, apakah mereka melakukan seluruh tanggung jawab tersebut karena kasih? Marilah kita merenungi adakah kasih itu hidup dalam diri dan apakah kehidupan kita meneladani kasih Kristus yang rela menyerahkan nyawa bagi orang lain?

Bagi tenaga kependidikan, yang telah bekerja keras dan rela berkorban demi pendidikan para murid, adakah kasih dalam diri, memiliki kerinduan untuk membangun relasi dengan para murid, dan mendasari seluruh tindakannya atas dasar kasih?

Baca Juga : Keluarga yang Bersyukur

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, jika kita tidak berupaya keras mewujudkan kasih kepada Tuhan melalui seluruh aspek dalam hidup kita. Mengasihi artinya akan mengampuni walau dilukai, kasih sejati akan dengan sabar memberi kesempatan, kasih sejati akan bertahan dalam kesulitan, kasih sejati akan memampukan seseorang tetap mengasihi orang yang melukainya. Perwujudan kasih sejati tidak hanya tampak melalui kata-kata yang diucapkan atau tindakan yang dilakukan, tetapi juga melalui niat terdalam yang mendorong setiap perilaku. Kasih sejati hanya bersumber pada Dia yang telah menjalaninya terlebih dahulu. Di tengah relasi yang rapuh dan dunia yang sering menyakitkan, kasih yang lahir dari sumber ilahi akan tetap bertahan. Ia menjadi kekuatan yang memungkinkan seseorang untuk tetap mengasihi, bahkan ketika hatinya sendiri sedang terluka.

Artikel Oleh: Nostagia Pax Nikijuluw, M.Div.

Bijak Menggunakan Media Sosial

Oleh: Ni Putu Dewi, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia.

Metamorphosis Camp (MetCamp) merupakan kegiatan tahunan SMP Athalia yang diperuntukkan bagi seluruh siswa kelas VII. Kegiatan ini bertujuan sebagai jembatan pembelajaran karakter bagi siswa yang baru lulus dari jenjang SD dan masuk ke SMP. Pada tahun pelajaran ini, profil karakter siswa SD Athalia adalah Tanggung Jawab, sedangkan profil karakter siswa SMP adalah Caring and Sharing.

Sesuai dengan namanya, “metamorphosis” berarti perubahan. Kami berharap, para siswa semakin menyadari bahwa mereka akan mengalami beberapa perubahan di usia remaja—tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal tanggung jawab. Kini, tanggung jawabnya bukan hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain, yang merupakan wujud nyata dari caring & sharing.

Generasi Z dan Tantangan Digital

Para siswa SMP Athalia tahun ini termasuk dalam Generasi Z (Gen Z), sehingga kehidupan mereka sangat dekat dengan gadget dan media sosial. Kondisi pandemi Covid-19 juga membuat keseharian mereka terus terkoneksi dengan internet. Hal inilah yang mendasari bahasan salah satu sesi berjudul “Tanggung Jawab Remaja dalam Penggunaan Media Sosial dan Internet”.

Sesi ini dibawakan oleh Pak Christian Naa dengan sangat interaktif. Dibuka dengan pertanyaan, “Apa kata firman Tuhan mengenai media sosial dan teknologi? Apakah ada hukum Taurat yang secara rinci mengatakan tentang penggunaan handphone dan Instagram?” Jawabannya: tidak ada! Namun, bukan berarti Alkitab tidak memberikan prinsip tentang cara hidup yang benar di zaman ini.

Di dalam 1 Korintus 10: 23-24 & 31, Paulus memaparkan secara jelas tentang prinsip hidup yang tidak akan tergerus oleh zaman.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Jangan seorang pun yang mencari keuntungan sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. …

Aku menjawab: jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Artinya, kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus di atas kayu salib diperbolehkan melakukan “segala sesuatu”.

Pak Christian menekankan bahwa sebelum melakukan sesuatu, kita perlu mengajukan empat pertanyaan penting:

1. Apakah “sesuatu” itu berguna?
2. Apakah “sesuatu” itu membangun orang lain?
3. Apakah “sesuatu” itu untuk keuntungan/kepentingan orang lain, bukan hanya tentang diri saya?
4. Apakah “sesuatu” itu untuk kemuliaan nama Tuhan?

Empat pertanyaan ini menjadi landasan dalam menilai tindakan, termasuk saat menggunakan media sosial. Untuk mempermudah para siswa memahami sesi ini, Pak Christian Naa memberikan sebuah ilustrasi. Misalnya, saat kita liburan ke Swiss dan melihat gunung yang besar di sana. Kita memfoto dan mengunggahnya di Instagram dengan captionHow Great Thou Art”. Pertanyaannya: apakah motivasinya untuk menyombongkan diri, atau untuk menunjukkan kehebatan Allah sebagai Pencipta?

Tidak hanya soal motif, media sosial juga memberi banyak pengaruh lain dalam kehidupan. Contohnya, beberapa orang yang terlalu fokus di media sosial jadi tidak memperhatikan relasi dengan orang lain di dunia nyata, keinginan untuk menunjukkan hanya sisi baik dan keren di media sosial, menyebarkan berita bohong, bahkan menjadi pelaku cyber bullying. Lalu bagaimana cara agar kita bijak dalam menggunakan media sosial?

Baca Juga : Cara Efektif Menetapkan Batasan untuk Anak Remaja

Tips Bijak Menggunakan Media Sosial

Berikut adalah beberapa tips bijak menggunakan media sosial dari sesi ini.

  1. Bagikan hal baik yang kita lihat dan dengar.
  2. Hindari memberikan like atau comment pada konten yang bersifat negatif. Ingat bahwa algoritma media sosial bekerja berdasarkan aktivitas pengguna. Media sosial tetaplah aplikasi yang tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, sehingga frekuensi kemunculan konten-konten tergantung pada postingan yang sering kita beri perhatian melalui like dan comment.
  3. Selalu periksa kebenaran suatu informasi dari beberapa sumber terpercaya sebelum membagikannya di media sosial.
  4. Berhati-hatilah dalam melakukan obrolan melalui Direct Message dengan
    orang yang tidak dikenal.

Sesi ini juga menekankan bahwa apa yang kita bagikan di media sosial menunjukkan siapa diri kita, sehingga perlu berhikmat dalam mengunggah sesuatu di media sosial. Sebelum sesi berakhir, Pak Christian Naa juga mengajak para siswa kelas VII untuk melakukan social media check up dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut secara pribadi.

  1. Apa yang ingin saya tunjukkan melalui media sosial?
  2. Apakah saya menampilkan sosok pribadi yang sama, baik di media sosial maupun dunia nyata?
  3. Siapa saja yang saya follow sehingga memengaruhi cara pikir dan perilaku saya?

Sesi ini memberikan wawasan mendalam mengenai tanggung jawab remaja dalam dunia media sosial dan internet. Setelah mengikuti sesi ini, siswa kelas VII SMP Athalia diharapkan dapat semakin bijak dalam memilih, membagikan, dan merespons konten digital.