Dua Hari Puisi di Indonesia

Dua Hari Puisi di Indonesia

Wenny Primandari-Pengajar Bahasa Indonesia SMP

Pernahkah di antara kita merayakan Hari Puisi? Atau barangkali ada yang baru mendengar hari nasional satu ini. Tidak dapat dipungkiri, Hari Puisi memang cukup asing di telinga kita, tapi bukan berarti tidak ada, ya. Hari nasional tersebut sering dirayakan oleh komunitas tertentu saja. Namun, ada baiknya jika kita mengetahuinya juga. Nah, ada yang tahu, kapan diperingatinya?

Kapan Diperingati?

Hari Puisi di Indonesia sangat istimewa karena diperingati dua kali dalam setahun. Ya, Hari Puisi di Indonesia diperingati pada 28 April dan 26 Juli. Yang pertama, Hari Puisi Indonesia dideklarasikan di Pekanbaru, Riau pada 15 November 2012 yang diwakili waktu itu oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri mengatasnamakan para penyair Indonesia yang datang dari berbagai daerah. “Deklarasi Hari Puisi Indonesia” tersebut ditandatangani oleh 30 penyair dari Aceh sampai Papua. Tanggal Hari Puisi Indonesia yang dimaksud adalah 26 Juli yang merupakan tanggal lahir “Si Binatang Jalang”, yakni Chairil Anwar.


Yang kedua, Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April merujuk pada tanggal meninggalnya Chairil Anwar pada 28 April 1949 yang dikebumikan di pemakaman Karet yang sekarang disebut Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta. Chairil Anwar merupakan sastrawan dan penyair pelopor Angkatan ‘45 yang dikenal dan dicatat sebagai penyair yang berpengaruh bagi perkembangan sastra Indonesia.

Apa Maksud Peringatan Hari Puisi?

Peringatan Hari Puisi Indonesia dimaksudkan untuk menghargai serta merayakan keindahan puisi dan mendorong setiap kita untuk mengeksplorasi kreativitas dalam menulis puisi atau menikmati puisi sebagai bentuk seni yang indah. Puisi juga memegang peranan penting dalam kebudayaan manusia karena mampu menginspirasi, merangsang, dan memberikan wawasan baru pada pembacanya.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Jadi, dapat disimpulkan puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang dituangkan dalam tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah serta mengandung makna mendalam.


Puisi merupakan salah satu cara manusia mengungkapkan pikiran, emosi, ide, gagasan, dan perasaan yang sedang dialami ke dalam untaian kalimat-kalimat yang indah dan penuh makna. Siapa pun dapat menulis puisi. Puisi masa kini tidak lagi terjebak ke dalam syarat dan aturan-aturan tertentu, di antaranya satu bait harus terdiri dari empat baris, dalam satu baris memiliki 8 sampai 12 suku kata, sajaknya harus a-a-a-a, dan lain sebagainya. Puisi saat ini lebih dinamis dan fleksibel.


Mari kita perhatikan salah satu contoh puisi paling singkat yang dibuat oleh Sitor Situmorang berikut:

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

Puisi tersebut hanya memiliki satu baris kalimat yang sarat makna. Cukup singkat, bukan? Setiap puisi akan memiliki interpretasi yang berbeda bagi setiap orang yang membacanya. Hal tersebut sangat wajar karena setiap pribadi memiliki latar belakang pengetahuan dan pemahaman masing-masing. Jadi, mari berpuisi untuk sekadar mencurahkan isi hati. Mengikuti aturan tentu boleh, tetapi jangan terjebak di dalam aturan-aturan pembuatan yang membuat kita merasa bahwa berpuisi itu terlalu sulit. Ungkapkan saja perasaan kita ke dalam baris-baris kalimat. Selamat berpuisi.

(sumber: https://kakibukit.republika.co.id/posts/212724/hari-puisi-di-indonesia-ada-dua-28-april-26-juli)

Baca juga: Suluh Literasi di Athalia

Wajib Tahu! Bahasa Kids Zaman Now

Oleh: Marlene Shinta – Staf Research & Development TK Athalia

Lihat, fish-nya lagi bobo.
Mama tunggu di door depan.
Makan banana yang sudah mama cut, ya.

Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti itu? Saat ini, banyak anak berbicara dengan bahasa campuran yang dikenal sebagai bahasa kids zaman now. Pola komunikasi ini sering digunakan orang tua untuk mengenalkan bahasa Inggris. Namun, penggunaannya yang kurang tepat dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak.

Saat pandemi Covid-19 melanda, mobilitas fisik menjadi sangat terbatas. Banyak anak kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah, berinteraksi dengan orang lain, bermain di taman, dan bertemu dengan anak seusianya. Bagi orang tua yang sibuk, kadangkala anak lebih sering difasilitasi dengan gawai agar tidak mengganggu kesibukan mereka, sehingga anak dapat tetap diam dan tidak berlarian atau membuat keributan. Saat ini banyak sekali video menarik untuk anak-anak dengan menggunakan bahasa asing. Hal ini dapat mengakibatkan kebingungan bahasa pada anak usia dini.

Menurut dr. Tri Gunadi, A.Md.OT., S.Psi., anak yang baru belajar bicara tapi sudah diajari dua bahasa akan membuat anak kesulitan bicara. Hal ini termasuk jika balita yang sedang belajar bicara malah dipaparkan tayangan televisi. Meskipun tontonan tersebut dikhususkan untuk anak, tetapi hal tersebut akan menimbulkan keterlambatan bicara atau speech delay. Apalagi tayangan televisi dan internet yang sifatnya satu arah. Tanpa arahan dan dampingan dari orang tua, tentu anak cenderung lebih banyak menyimak dibandingkan mencoba berbicara.

Pentingnya Bahasa dalam Perkembangan Anak Usia Dini

Mengapa bahasa sangat penting pada anak usia dini? Bahasa merupakan salah satu faktor utama dalam perkembangan anak. Melalui bahasa, anak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, bersosialisasi, serta memahami instruksi. Dalam proses pembelajaran, bahasa juga merupakan aspek yang harus dikuasai oleh seorang anak untuk memahami bacaan, mengikuti perintah, dan mengerjakan tugas dengan baik.

Bahasa anak terbagi menjadi dua aspek utama, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Kedua aspek ini sangat penting dalam komunikasi sehari-hari. Jika salah satu aspek terganggu, anak akan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.

1. Bahasa Reseptif

Bahasa reseptif adalah kemampuan dalam memahami informasi yang didengar atau dibaca. Kemampuan ini bersifat sebagai input atau masukan yang pastinya mendukung kegiatan menyimak maupun membaca. Menyimak adalah suatu proses mendengarkan dengan penuh perhatian, menangkap, dan memahami makna komunikasi yang disampaikan seseorang. Sementara membaca merupakan kegiatan melihat tulisan dan memahami gambar atau kata yang dibaca. Misalnya, ketika seorang anak mendengar instruksi, ia mampu memahami dan mengikuti petunjuk tersebut dengan benar.

Bahasa reseptif biasanya berkembang lebih dahulu dibanding bahasa ekspresif. Anak yang memiliki bahasa reseptif yang baik mampu mengerti makna komunikasi meskipun belum bisa berbicara dengan lancar.

2. Bahasa Ekspresif

Bahasa ekspresif adalah kemampuan dalam mengungkapkan pikiran dan keinginan melalui komunikasi verbal atau nonverbal. Hal ini membutuhkan kemampuan merangkai pemikiran dan menyusunnya ke dalam kalimat sederhana yang masuk akal dan runut. Misalnya, seorang anak yang lapar bisa mengatakan, “Aku mau makan.” Jika bahasa ekspresifnya kurang berkembang, anak bisa mengalami kesulitan berbicara atau merespons pertanyaan dengan kalimat yang tidak sesuai.

Kedua aspek bahasa ini sangatlah penting dalam perkembangan anak usia dini. Kadang, yang terjadi adalah hanya bahasa reseptifnya saja yang berkembang. Hal ini dapat terlihat ketika anak dapat memahami apa yang dikatakan orang lain, tetapi sulit menyusun kata-kata untuk meresponsnya ataupun sulit untuk mengatakan apa yang hendak ia katakan. Sebaliknya, jika kemampuan ekspresifnya saja yang berkembang, maka anak hanya mampu berbicara, tapi tidak sesuai dengan konteks.

Dampak Bahasa Kids Zaman Now terhadap Perkembangan Anak

Saat ini, banyak orang tua bangga melihat anaknya mengerti bahasa asing, termasuk salah satunya adalah bahasa Inggris. Namun, tanpa disadari, hal ini mengakibatkan anak berbicara dengan bahasa campur-campur. Orang tua pun akhirnya mengikuti pola ini dan menjadikan kebiasaan dalam percakapan sehari-hari dengan sang anak.

Ketika hal ini dilakukan oleh anak sejak dini, ada kemungkinan bahwa mereka akan sulit membedakan bahasa yang benar. Mereka mungkin mengenal banyak kosakata dalam bahasa asing, tetapi tidak memahami maknanya secara utuh. Akibatnya, anak kesulitan merangkai kalimat yang benar saat berbicara.

Dikutip dari detikcom, dr. Meta Hanindita, Sp.A menyatakan bahwa anak yang bingung dengan beberapa bahasa dapat mengalami keterlambatan bicara. Mereka lebih memilih diam karena tidak yakin dengan kata-kata yang ingin diucapkan.

Baca Juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Kapan Anak Bisa Dikenalkan dengan Bahasa Asing?

Menurut psikolog anak Dr. Seto Mulyadi**), anak sebaiknya diajarkan bahasa ibu terlebih dahulu. Bahasa ibu, seperti bahasa Indonesia, harus dikuasai secara penuh terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa kedua.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari anak sejak lahir. Jika anak sudah lancar dalam bahasa ibu, baik secara reseptif maupun ekspresif, barulah ia bisa belajar bahasa asing.

Setiap orang tua ingin anaknya memiliki kemampuan bahasa yang baik. Oleh karena itu, penting untuk memberikan fondasi yang kuat dengan mengajarkan satu bahasa terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa lain.

Bahasa kids zaman now memang terdengar menggemaskan. Namun, jika digunakan terus-menerus tanpa kontrol, hal ini bisa berdampak negatif pada kemampuan komunikasi anak. Mari kita ajarkan bahasa dengan benar agar anak dapat tumbuh dengan kemampuan komunikasi yang optimal.

Sumber : 
*Indriani, N. (21 Des 2015). Balita Sering Nonton Program TV Anak Berbahasa Asing, Bagus atau Tidak Ya?. https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-3101347/balita-sering-nonton-program-tv-anak-berbahasa-asing-bagus-atau-tidak-ya
**kutipan asli. Hafadzoh, S. (1 Nov 2018). Saran Kak Seto Jika Ajari Anak 2 Bahasa Sejak Dini. https://www.haibunda.com/parenting/20181031202514-61-28288/saran-kak-seto-jika-ajari-anak-2-bahasa-sejak-dini

Keren! Ini dia Pesona Bahasa Indonesia

Oleh: Selly Christina Siregar, orang tua siswa kelas 8R dan kelas 4E

Gempuran bahasa asing bukanlah hal baru di era globalisasi. Setiap hari, kita mendengar berbagai istilah asing digunakan. Sebagai ibu dengan dua anak yang usianya terpaut jauh, seringkali saya mendengar beberapa kosakata baru yang mereka suka lontarkan di dalam percakapannya. Cerita saya kali ini tentang bagaimana saya memposisikan diri sebagai “wakil dari kaum generasi Y” yang saat mendengar anak-anak masa kini berkomunikasi menggunakan bahasa anak Jaksel.

Berkomunikasi menggunakan bahasa campur-campur atau dikenal sebagai “bahasa anak Jakarta Selatan (Jaksel)” kini mendadak populer. Penggunaan frasa seperti which is, basically, literally, dan bahasa asing lainnya menjadi hal yang biasa. Kedua putra saya pun mulai ikut-ikutan menggunakan bahasa campuran ini.

Menurut saya, kata-kata tersebut sebenarnya adalah kosakata dasar dalam bahasa Inggris. Namun kata-kata ini menjadi populer lantaran banyak dicampur dengan bahasa Indonesia. Masyarakat memandangnya sebagai bagian dari identitas dan eksistensi sosial.

Mungkin saja, ada rasa bangga tersendiri jika seseorang dengan mahir melafalkan bahasa asing, sebagai bahasa tambahan. Penggabungan dua bahasa, kemudian menarik perhatian lantaran dianggap berbeda dari bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya sendiri tidak menilai fenomena ini sebagai hal negatif. Bahasa selalu berkembang mengikuti zaman, termasuk bahasa gaul yang digunakan generasi muda.

Saya masih mengingat tren bahasa gaul era 90-an saat saya duduk di bangku SMP. Ada bahasa gaul yang bokis, yongkru, tengsin, dan borju yang sangat populer dan mendorong setiap orang, untuk ikut-ikutan mengucapkannya. Setiap zaman memiliki ciri khas atau trennya tersendiri. Hal ini termasuk pada bahasa gaul yang banyak dipakai anak muda pada masa tersebut. Namun, pertanyaannya, bagaimana kita menempatkan bahasa Indonesia agar tetap relevan dan keren?

Pentingnya Bahasa sebagai Identitas Bangsa

Memasuki bulan Oktober, rasanya siapa pun akan teringat pada momen bersejarah bangsa Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda. Salah satu butir dalam Sumpah Pemuda 1928 menyatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sejak lama, bahasa Indonesia menyatukan masyarakat dari berbagai suku dan budaya yang beraneka ragam (keren, ya?). Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas nasional.

Dalam aktifitas sehari-hari kami di rumah, saya dan suami memperkenalkan ragam bahasa kepada anak-anak sejak kecil. Saya dan suami berasal dari Sumatera Utara. Namun, dalam praktik keseharian, kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Batak sebagai bahasa kesukuan kami. Bukan berarti bahasa sesuai suku kami dihilangkan ya.. tetapi dengan menggunakan bahasa Indonesia, terasa lebih mudah dipahami maknanya dan melatih mereka juga untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita lihat, beberapa petunjuk di tempat umum, menggunakan bahasa mix atau full in english. Bersama dengan ini, saya memiliki pengalaman pribadi bersama keluarga. Salah satunya adalah petunjuk dalam bahasa asing, tapi jika diartikan memiliki makna yang sama.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Oktober 2022

Bahasa Indonesia Itu Ajaib

Pada suatu kesempatan, saya dan anak-anak menikmati makan siang di sebuah Mal daerah Kota Tangerang Selatan. Di dekat tempat makan, ada galeri ATM. Saat itu, iseng saya bertanya, “Apakah kamu mengetahui, apa kepanjangan ATM, bang?”.

Putra saya menjawab, “Automatic Teller Machine, mam.”

Saya pun menanggapi, “Pakai bahasa Indonesia dong jawabnya..”

Anak saya terdiam sejenak lalu berkata, “Itu sudah benar, mam. Aku menjawab dengan pengertiannya langsung, kalau dalam bahasa Indonesia, aku tidak tahu…”

Jawabannya membuat saya tersenyum. Saya kemudian menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia, ATM berarti Anjungan Tunai Mandiri. Kata ini dialihbahasakan, sehingga memiliki makna yang sama dengan istilah aslinya. Tentu saja kita tahu bahwa ATM itu sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, Automatic Teller Machine. Namun siapa pun pencetus kata itu, berhasil menciptakan kata yang saat disingkat tetap sama dengan bahasa aslinya. “Wah…benar juga ya mam, keduanya memiliki pengertian yang sama,” putera saya menanggapi.

Sebagai ibu, saya merasa senang bisa memberikan wawasan baru kepada anak saya. Hal sederhana seperti ini berhasil membuatnya mengetahui pengertian dalam 2 bahasa.

Baca Juga : Peran Bahasa Ibu dalam Menjaga Identitas Bangsa

Menanamkan Cinta pada Bahasa Indonesia

Dari sini saya belajar bahwa pembelajaran bahasa harus memberikan pemahaman mendalam kepada pelajar dan kaum muda. Berbahasa Indonesia bukan sekadar keterampilan, tetapi juga bagian dari identitas yang harus dikomunikasikan dengan baik dan benar. Bahasa yang benar berarti sesuai dengan kaidah, sedangkan bahasa yang baik harus sesuai dengan konteks dan situasi. Jangan sampai hanya karena terbiasa menggunakan bahasa asing, kita kehilangan kebanggaan terhadap bahasa sendiri.

Jika dibiarkan, rasa enggan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari bisa semakin meluas. Tentu hal ini akan berakhir kepada penurunan mentalitas berbahasa serta ancaman kepunahan bahasa. Wah.. jika demikian yang terjadi, akan memengaruhi identitas kita sebagai Warga Negara Indonesia.

Tips sederhana yang mungkin bisa terus kita ingatkan untuk generasi penerus terutama yaitu anak-anak kita adalah dengan menanamkan rasa cinta terhadap bangsa, budaya, dan bahasanya kepada generasi penerus. Cinta terhadap Indonesia bukan hanya sebatas status sebagai warga negara, tetapi juga kebanggaan terhadap keberagaman budaya, bahasa, dan agama yang dimiliki bangsa ini. Kita bisa memulainya dengan membiasakan anak bertutur kata sopan, berbicara dengan baik dan benar, serta menghindari kata-kata kasar. Bahasa mencerminkan karakter seseorang, dan etika dalam berkomunikasi sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan kata lain, kita harus terus mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Membiasakan diri berbahasa Indonesia juga melatih tata bahasa kita agar semakin terjaga. Hal ini akan berdampak dan mendukung perkembangan Bangsa Indonesia dengan memperluas kehadirannya di dunia internasional. Dengan bahasa kita menyapa, dengan bahasa kita berkarya.

Selamat memperingati Bulan Bahasa, Oktober 2022!