MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL

mengucap syukur dalam segala hal

Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah
di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
(1 Tesalonika 5:18)

Mungkin beberapa kalimat berikut ini sering kita dengar atau bahkan kadangkala kita sendiri yang mengucapkan:

“Aduh, mengapa setiap pagi harus hujan sih bukan siang saja, aku jadi kesulitan untuk pergi bekerja dan mengantar anak ke sekolah.”
“Nih, jalan setiap hari macet bikin kesel.”
“Susah sekali mengurus anak yang tidak mau mendengarkan orang tua dan guru.”
“Sebel banget sih, orang tuaku sulit sekali mengerti apa yang aku mau.”
“Ini pasanganku tidak mau peduli dengan urusan anak, padahal aku sedang capek.”

Silakan lanjutkan sendiri dengan jujur apa yang sering kita keluhkan setiap hari, tentu ada saja, bukan? Setiap orang punya masalah, keluh kesah, dan kekesalannya sendiri. Tergantung pada kita memilih untuk mensyukuri apa yang sedang terjadi sebagai sebuah proses kehidupan atau kita memilih untuk terus hidup dalam gerutu sehingga kita sulit menikmati hidup dan relasi intim kita dengan Tuhan.

Tentang Perayaan Mengucap Syukur

Mengucap syukur dalam segala hal adalah kehendak Allah bagi kita semua. Tampaknya mudah untuk dilakukan. Namun, pada kenyataannya tidaklah demikian, bukan? Ada kondisi yang membuat kita senang atau menyenangkan baru kita mudah mengucap syukur, dan pada kondisi ketika kita bersedih atau mengalami sesuatu yang tidak menguntungkan maka tidaklah mudah bagi kita untuk mengucap syukur.

Berkaitan dengan hal mengucap syukur, pernahkah Anda mendengar tentang Thanksgiving Day? Yaitu hari libur yang dirayakan masyarakat Amerika Serikat setiap tahun, pada hari Kamis keempat bulan November. Pada hari itu orang Amerika berkumpul, mengadakan pesta dan makan bersama keluarga. Tidak hanya di Amerika Serikat, di Indonesia tepatnya di Minahasa juga terdapat tradisi yang serupa dengan Thanksgiving Day. Tradisi ini disebut “Hari Pengucapan” yang diadakan untuk mengucap syukur saat akhir musim panen, yakni di bulan Juli-Oktober. Thanksgiving Day dan Hari Pengucapan yang dirayakan setahun sekali ini memiliki tujuan yang sama yaitu, mengingatkan kita bahwa kehadiran Tuhan dan keluarga adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang harus kita syukuri.

Bersyukur Kunci Kebahagiaan

Sebagai orang percaya kita diingatkan firman Tuhan untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal. Itu artinya dalam segala kondisi dan keadaan kita terus mengucap syukur. Bersyukurlah jika anggota tubuh kita terasa sakit, artinya diingatkan bahwa kita masih memiliki anggota tubuh yang Tuhan berikan, jika hujan turun, sehingga tidak terjadi kekeringan, untuk anak-anak yang belum bisa mendengarkan kita saat ini, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mendidik mereka, atau untuk orang tua yang belum mengerti kita, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mengasihi dan mendoakan mereka.

Jika kita melatih pikiran dan hati kita setiap hari untuk bersyukur atas setiap anugerah dan kasih Tuhan dalam hidup kita, atas apa yang kita miliki dan tidak kita miliki, hal-hal yang terjadi baik itu suka maupun duka, maka hidup kita akan penuh dengan sukacita dan kebahagiaan. Jadi, kebahagian datang karena kita terus dibentuk menjadi pribadi yang penuh syukur. Bersyukur dalam segala hal dan keadaan. Kiranya Tuhan memampukan Komunitas Athalia baik kita sebagai pemimpin, pendidik, staf, orang tua, maupun siswa memiliki karakter yang terus bersyukur. Tuhan berjalan dengan kita setiap hari dan menggandeng tangan kita dalam segala keadaan. Puji Tuhan!

Baca juga: Sukacita di Tengah Badai: Bagaimana Tetap Bersyukur?

Sukacita di Tengah Badai: Bagaimana Tetap Bersyukur?

Oleh: Antonius Hermawan – Orang tua siswa kelas 4M

Kondisi ekonomi di tahun 2023 diprediksi oleh banyak ekonom akan semakin berat. Selain itu kondisi pandemi dua tahun terakhir seakan tidak berakhir. Bahkan varian baru COVID-19 terus ditemukan, membuat akhir dari pandemi sulit untuk diprediksi. Selain tantangan kesehatan, dunia juga menghadapi ketegangan geopolitik akibat perang Ukraina dan Rusia yang berdampak besar pada ekonomi global. Harga pangan dan energi melonjak, rantai pasokan terganggu, dan banyak negara mengalami ketidakstabilan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa cemas dan terbeban oleh situasi yang sulit.

Mengetahui hal di atas tidak membuat hidup kita jauh lebih mudah, sebaliknya pengetahuan di atas justru menambah beban hidup kita dengan realita yang tidak mudah pula. Mulai dari pemikiran mau makan apa hari ini, konflik dengan teman sekantor atau teman usaha, konflik dengan pasangan, hingga masalah anak-anak. Maka tidak heran, banyak orang mulai bertanya-tanya, “Bagaimana kita dapat tetap bersukacita di tengah kondisi ini?

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Sukacita Sejati dalam Pandangan Alkitab

Alkitab mengajarkan bahwa sukacita sejati tidak berasal dari keadaan eksternal, melainkan dari hubungan kita dengan Tuhan. Rasul Paulus dalam Filipi 4:4-7 menasihatkan, “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!”. Ia bahkan mengulangi perintah ini untuk menegaskan bahwa sukacita dalam Tuhan bukanlah pilihan, tetapi panggilan bagi setiap orang percaya. Menariknya, Paulus menulis surat ini ketika ia sendiri berada dalam kondisi sulit. Namun, ia tetap menekankan pentingnya pengharapan. Bagaimana kita bisa memiliki sukacita seperti ini?

Kuncinya ada dalam Filipi 4:6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Ketika kita menghadapi situasi sulit, kita dapat membawa segala kekhawatiran kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dengan itu, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus.

Janji Tuhan bagi mereka yang hidup dalam doa adalah damai sejahtera yang melampaui segala akal. Filipi 4:7 menegaskan bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Ini berarti bahwa sukacita dan ketenangan sejati tidak bergantung pada perubahan situasi, tetapi pada kehadiran Tuhan yang memelihara kita.

Di tengah segala keadaan yang tidak menentu dan seakan tidak berpengharapan, kita tetap memiliki alasan untuk mengucap syukur. Mengapa? Karena kita memiliki Allah yang senantiasa mendengar doa-doa kita. Kita tidak harus menghadapi segala permasalahan dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, kita dapat datang kepada-Nya dalam doa, menyerahkan setiap kekhawatiran, pergumulan, dan ketakutan kita.

Damai yang Melampaui Akal

Pemeliharaan dalam Kristus menjadi sesuatu yang pasti bagi kita karena Ia bukan Tuhan yang tidak pernah mengalami pencobaan sebagai manusia, melainkan Ia sendiri telah turun sebagai manusia dan taat sampai mati. Artinya Tuhan mengerti segala pergumulan kita.

Ketika kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, kita dapat menghadapi setiap situasi dengan hati yang tenang. Sukacita yang sejati bukanlah hasil dari berpikir positif atau memotivasi diri sendiri, tetapi anugerah dari Tuhan. Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan-Nya, dan karena itu kita memiliki pengharapan yang teguh di dalam Dia.

Jadi sukacita yang dituliskan di sini bukan sukacita sebagai motivasi atau pikiran positif yang kita usahakan, tapi semata-mata karena anugerah Tuhan yang telah dikerjakan di dalam kita, sehingga kita dapat berdoa dalam situasi apapun dalam pemeliharaan damai sejahtera-Nya.

Itulah sukacita yang sejati, bukan sukacita yang didasarkan oleh kondisi sekitar kita, tapi sukacita karena pengharapan di dalam Dia, bahwa kita ini milik-Nya, dan kita selalu dapat berdoa kepada-Nya.

Mari luangkan waktu sejenak untuk merenungkan : Di mana kita menempatkan pengharapan kita hari ini? Apakah kita bersedia melepaskan kekhawatiran kita untuk menggantinya dengan sukacita dan kepercayaan kepada Allah yang berjanji memelihara kita?

Tetap Bersyukur dalam Keadaan Apapun

Bersyukur

Apakah alasan kita mengucap syukur kepada Tuhan? Mungkin seribu alasan dapat kita ucapkan: “Dipromosikan naik jabatan; omsetnya bertambah, sembuh dari penyakit, anak naik kelas, menang undian berhadiah, dan lain-lain”. Coba perhatikan alasan-alasan yang kita ucapkan. Semua alasan didasarkan hanya pada kondisi baik yang kita alami. Dapatkah kita mengucap syukur di kala hidup kita sedang berada di titik terbawah kehidupan? Dapatkah kita berterima kasih ketika semuanya sedang meninggalkan kita?  Sanggupkah kita bersyukur untuk setiap ujian hidup yang kita alami?
Kepada jemaat di Tesalonika, Paulus mengingatkan agar mereka selalu mengucap syukur. I Tesalonika 5:18 berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.  Menariknya, kondisi jemaat di Tesalonika waktu itu bukanlah dalam keadaan baik. Jemaat Tesalonika tidak dalam keadaan berlimpah, maupun aman. Banyak tantangan yang dialami oleh jemaat di Tesalonika sebagai jemaat yang mula-mula. Penganiayaan, curiga, tentangan dari orang-orang Yahudi akan keberadaan mereka dialami secara nyata oleh jemaat di Tesalonika.
Jika melihat keadaan lahiriah mereka pada waktu itu, maka sangatlah lumrah jika jemaat di Tesalonika mengeluh,  bersungut-sungut, maupun menutup diri. Namun, kenyataannya sungguh berbeda dimana jemaat di Tesalonika tetap hidup dalam pengharapan dan sukacita di dalam Tuhan. Dan Paulus menegaskan bahwa melalui ucapan syukur jemaat di Tesalonika semakin dikuatkan imannya menghadapi tantangan yang ada.
Melalui I Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”,  kita belajar tentang tiga hal:

  • Pertama, perhatikan frasa “dalam segala hal”. Paulus ingin menegaskan bahwa baik kondisi pribadi maupun keadaan sekitar kita tidak boleh menjadi acuan dalam mengucapkan syukur. Jika keadaan saya baik, tidak ada masalah dan bahkan diberkati, barulah saya mengucap syukur. Paulus ingin memperluas cara berpikir kita mengenai alasan bersyukur. Paulus mengganggap penderitaan, penganiayaan, penolakan, dan bahkan kematian sekalipun dapat menjadi alasan bagi setiap orang Kristen untuk bersyukur. Bagi Paulus, justru dalam hal-hal yang buruk sekalipun kuasa Allah bekerja menopang kita.
  • Kedua, perhatikan frasa “dikehendaki Allah … bagi kamu”. Rupa-rupanya, kehidupan yang bersyukur bukan hanya sekedar ciri atau karakteristik hidup Kristiani. Namun, hidup bersyukur merupakan sebuah kehidupan yang diinginkan Allah bagi umat-Nya. Pada dasarnya, Allah selalu menghendaki hidup yang baik bagi umat-Nya. Namun, hidup dikatakan baik oleh Allah tidak selalu ditandai oleh keadaan jasmani/fisik yang baik pula. Yang menjadi kunci dalam hidup bersyukur adalah kondisi hati yang dapat menerima apapun. Kondisi hati inilah yang menjadi fokus bagaimana Allah mendidik kita. Keadaan yang kurang baik, ataupun buruk tidak boleh mempengaruhi kondisi hati kita yang harus selalu tertuju kepada Allah; menerima yang baik maupun yang kurang baik terjadi dalam hidup kita.
  • Ketiga, perhatikan frasa “di dalam Kristus Yesus”. Konsep mengucap syukur  haruslah berdasar pada diri Tuhan Yesus. Tidak ada berkat yang lebih besar dari apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus di kayu salib: pengorbanan yang sempurna. Sehingga jika kita mencari-cari alasan untuk bersyukur, maka alasan yang paling utama dalam kita bersyukur adalah mensyukuri karya keselamatan dalam Tuhan Yesus. Berkat lainnya sebenarnya hanyalah tambahan belaka karena yang terutama telah dianugerahkan oleh Allah melalui Tuhan Yesus.

Jadi apakah alasan kita memiliki hidup bersyukur? Yang terutama bukanlah materi dan berkat, namun keselamatan yang Allah kerjakan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Mari kita selalu hidup bersyukur. Tuhan memberkati.

(Oleh: Daniel Santoso Ma, Bagian Kerohanian Sekolah Athalia)