Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA, staf Research & Development SMA Athalia
Apakah contoh pembicaraan di atas sudah terjadi dalam komunikasi antara orang tua dan anak? Sudahkan komunikasi antara orang tua dan anak mencakup percakapan yang mendorong anak untuk berpikir? Apakah anak diajak mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan?
Diskusi yang didasarkan pemikiran yang kritis akan menghasilkan kesimpulan yang matang. Proses ini membantu anak belajar mengambil keputusan dengan bijak. Oleh karena itu, orang tua perlu melatih dan membiasakan anak mengembangkan proses berpikir kritis yang benar. Hal ini juga menjadi fokus dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu ciri ‘Pelajar Pancasila’ adalah kemampuan bernalar kritis. Apa itu berpikir kritis?
Berpikir kritis atau critical thinking merupakan keterampilan yang memungkinkan seseorang memproses informasi secara objektif, baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan ini melibatkan :
- Menghubungkan berbagai informasi untuk menemukan pola atau kesimpulan.
- Menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum menerima atau menolaknya.
- Merefleksikan dan mengevaluasi pemikiran sendiri, sehingga tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.
Pelajar yang memiliki kemampuan berpikir kritis tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga meneliti, menilai, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil kesimpulan.
Bagaimana Melatih Anak Berpikir Kritis?
Agar anak terbiasa berpikir kritis, mereka perlu mengembangkan beberapa keterampilan penting, misalnya:
- Menubuhkan rasa ingin tahu. Sebagai orang tua, kita bisa merangsang keingintahuan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, seperti “Apakah ada cara pandang lain untuk menyikapi hal ini?”, “Bila kamu yang jadi menteri keuangan, kira-kira solusi apa yang akan kamu ambil?”, dan lain sebagainya. Pertanyaan terbuka ini mendorong anak untuk berpikir lebih dalam dan melihat berbagai sudut pandang.
- Kreatif dalam Berpikir. Kreativitas dapat diasah dengan latihan sederhana, misalnya beri satu kata dan minta anak mengajukan tiga pertanyaan yang dimulai dengan kata “jika….”.
- Tekun dalam Berpikir. Ketekunan penting agar anak tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah. Ajarkan mereka untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekitar situasi tersebut untuk memperluas pemahaman dan wawasan.
Membiasakan anak untuk berpikir kritis akan membuat mereka siap dan mau untuk berusaha mencari informasi yang relavan ketika menghadapi suatu persoalan. Selain itu, anak juga akan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, terlatih menanyakan pertanyaan yang bermakna, mempertimbangkan berbagai alternatif sudut pandang, menggunakan logikanya, menghindari asumsi, dan mempertimbangkan berbagai peluang.
Orang tua harus mendorong anak-anak untuk mencari kebenaran dengan belajar bernalar dan berdebat secara sehat sehingga anak-anak tidak akan hanya menelan apa saja yang ditawarkan kepada mereka tanpa mempertimbangkannya. Anak-anak remaja yang terbiasa berdebat secara sehat dengan orang tuanya akan mengembangkan kemandirian dan keteguhan yang membuat mereka lebih tahan terhadap tekanan teman sebaya, termasuk yang berkaitan dengan narkoba, alkohol, atau pun isu-isu negatif yang mewarnai dunia para remaja.
Baca Juga : Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!
Dengan melatih berpikir kritis, anak tidak hanya tumbuh menjadi individu yang cerdas dan logis, tetapi juga memiliki keteguhan dan kepedulian yang akan membawa dampak positif bagi dirinya dan masyarakat.
The simple believes everything, but the prudent gives thought to his steps. Proverbs 14:15 (ESV)
