Pembinaan Karyawan YPK Athalia Kilang Being Firmly Rooted, Being Build Up In Christ

Oleh: Sie Kerohanian (PK3)

Pembinaan Karyawan di Sekolah Athalia

Pembinaan karyawan Sekolah Athalia (YPK Athalia Kilang), sebuah sekolah di Serpong, tahun ini mengundang Ev. Hellen Pratama untuk menolong peserta kembali mengevaluasi kehidupan pribadi-Nya dengan Tuhan.

Kolose 2:6-7 mengingatkan peserta bahwa perjalanan sebagai murid Kristus adalah sebuah perjalanan yang progresif dan harus didasari oleh pengenalan yang benar tentang Tuhan serta adanya relasi yang intim dengan Tuhan. Perjalanan spiritualitas atau pembentukan spiritualitas (spiritual formation) yang demikian, bukanlah hal yang bisa terjadi secara alami melainkan harus dilakukan secara sengaja dan dalam sebuah komunitas dengan pertolongan Roh Kudus. Sehingga dengan demikian pada akhirnya orang percaya dapat menjadi makin serupa Kristus, memuliakan Tuhan dan menjadi berkat buat sesama.


Formasi spiritual terjadi dalam keseharian orang percaya. Setiap hari orang percaya diperhadapkan pada pilihan dan pilihan-pilihan yang dibuat menentukan apakah seseorang akan makin mendekat kepada Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Hal yang ingin dicapai dalam formasi spiritualitas adalah seseorang yang mengasihi Tuhan, diri dan sesama dengan benar. Selain itu juga dapat bertumbuh menjadi seorang yang makin utuh dan kudus, hidup dengan jati diri yang sejati dalam Kristus (David Benner).


Berikut Empat Krisis dalam Kerohanian dan Penyebabnya:

  • Narsisisme (lebih mencintai diri sendiri daripada Tuhan),
  • Pragmatisme (mengutamakan hasil yang menguntungkan daripada apa yang benar di mata Tuhan),
  • Konsumerisme (mendorong kita untuk membeli apa yang tidak perlu dan menuntut situasi untuk selalu memuaskan diri)
  • Burn-out (kelelahan, terus melakukan aktivitas dan tidak beristirahat dengan benar).

Hal yang mendorong munculnya krisis kerohanian adalah hidup dalam manusia lama yang dibentuk oleh dunia ini. Dunia melihat manusia dari apa yang saya punya, apa yang saya lakukan dan apa kata orang sehingga manusia berusaha tampil seperti yang dunia inginkan.

Cara Mengatasi Krisis

Cara mengatasi krisis rohani adalah dengan sengaja menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Efesus 4:22,24). Untuk itu peserta perlu belajar lebih mengenal diri dan mengenal Tuhan sebab makin seseorang mengenal Tuhan, ia akan mampu makin mengenal diri, demikian sebaliknya. Peserta juga harus mendisiplin diri dan terus berlatih hidup sebagai manusia baru. Peserta perlu terus mengevaluasi diri, jujur di hadapan Tuhan dan izinkan Tuhan memproses kehidupannya.

Demikianlah pembinaan kali ini menolong setiap karyawan Athalia melihat relasinya dengan Tuhan lebih penting dari hanya sekadar menjadi pengikut saja. Relasi yang makin dekat dengan Tuhan menolong setiap karyawan untuk hidup terus diubahkan oleh Roh Kudus. Juga makin hari makin menjadi murid Kristus yang menyerupai Dia dalam setiap aspek kehidupan, sehingga nama Tuhan dimuliakan dan setiap karyawan hidupnya bertumbuh dan menjadi berkat.

Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Menjadi Bijak dengan Belajar Sepanjang Hidup: Hikmat dari Amsal

Menjadi Bijak dengan Belajar Sepanjang Hidup: Hikmat dari Amsal

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Amsal 1:5,7

“Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu, dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan… Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”


Belajar Sepanjang Hidup dalam Terang Firman Tuhan

Dalam dunia pendidikan formal, ada masa di mana kita menyelesaikan studi dan memperoleh gelar. Namun, dalam kehidupan nyata, belajar tidak pernah berhenti.
Belajar adalah proses seumur hidup yang harus terus dijalani hingga akhir hayat. Alkitab melalui Amsal 1:5,7 menegaskan bahwa orang yang mau terus belajar, mendengar, menambah ilmu, dan mempertimbangkan sebelum bertindak akan menjadi lebih bijak.

Namun, belajar yang sejati bukan hanya soal pengetahuan intelektual. Yang terutama adalah mengenal Tuhan sebagai sumber hikmat dan menghormati Dia dalam setiap aspek kehidupan.


Mengutamakan Tuhan dalam Setiap Proses Belajar

Ketika kita memilih untuk mengutamakan Tuhan dan menghormati-Nya dalam setiap keputusan, Tuhan akan menuntun kita menjadi pribadi yang bijak.
Ia membuka mata hati kita untuk melihat setiap hal—baik besar maupun kecil—sebagai pelajaran berharga.
Tuhan juga memampukan kita untuk rendah hati, sehingga kita bisa belajar dari siapa pun: dari anak kecil hingga orang yang dianggap rendah oleh dunia.

Kerendahan hati inilah yang membuat kita terus bertumbuh dalam hikmat. Tuhan menambahkan kebijaksanaan bagi mereka yang mau terus belajar dengan hati yang tunduk kepada-Nya.


Bahaya Berhenti Belajar: Jalan Menuju Kebodohan

Sebaliknya, jika kita berhenti belajar atau menolak untuk diajar, Amsal menuliskan bahwa kita akan menjadi orang bodoh.
Walaupun seseorang tampak cerdas secara intelektual, tanpa takut akan Tuhan ia tidak akan pernah menjadi orang berhikmat.
Ketika seseorang merasa sudah tahu segalanya, kesombongan mulai tumbuh. Ia mengandalkan diri sendiri dan bukan Tuhan, sehingga berhenti bertumbuh dan kehilangan kemampuan untuk berbuah bagi kemuliaan Kristus.


Menjadi Bijak dengan Hidup dalam Takut Akan Tuhan

Setiap orang dihadapkan pada pilihan: menjadi bijak atau menjadi bodoh.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk memilih jalan yang benar—hidup dalam takut akan Tuhan dan terus menjadi seorang pembelajar.
Dengan terus belajar dan memusatkan hati kepada Tuhan, kita akan bertumbuh dalam iman, pengetahuan, dan perbuatan baik.

Tuhan akan memampukan kita melakukan pekerjaan dengan bijak di mana pun kita berada, sehingga hidup kita menjadi buah yang memuliakan nama-Nya.

Kesaksian Selama Mengikuti Retret Karyawan “REST”

Oleh: Rumawar Bornok Nababan – Guru SD PINUS

REST (REhat Sama Tuhan)

Saat mengikuti REST—kegiatan retret tahunan di YPK Athalia Kilang—tahun ini saya melihat perbedaan dari retret sebelumnya. Kali ini saya belajar untuk berdiam diri. Namun, bukan berarti pikiran kosong, tapi agar dapat mendengar suara Tuhan yang menyapa saya dengan lembut. Juga bisa menemukan Tuhan dalam cara yang indah dalam setiap sesi yang saya ikuti.

Kesaksian Selama Mengikuti Retret Karyawan “REST”

Pada REST tahun ini saya merasakan kehadiran Tuhan itu nyata. Selama ini saya cenderung ingin melihat Tuhan dalam bentuk nyata. Namun REST kali ini saya menemukan Tuhan dalam suasana diam.

Sebelum berangkat retret, selama ini saya gelisah karena takut kecelakaan, ada jalan yang rusak, terjal, naik turun, dan lainnya. Nah ketakutan inilah kadang membuat saya tidak bisa menikmati retret tapi stres.

Pertama kali datang ke tempat REST kali ini saya diberi kesempatan berdiam diri. Saya mencari tempat di taman dan duduk di sebuah meja dan kursi yang terbuat dari batu. Saya memperhatikan seekor ulat bulu dan menyadari betapa ajaibnya Tuhan dan bersyukur dapat menikmati ini. Pada waktu sesi doa saya berkesempatan mendoakan dan didoakan, saya sadar bahwa saya butuh komunitas ini untuk mendukung saya.

Kesaksian Setelah Retret Karyawan

Selama ini saya pulang retret selalu letih karena harus mengerjakan lagi pekerjaan yang sama. Namun pada REST kali ini saya bisa menikmati Tuhan. Selama ini saya merasa paling menderita di dunia, paling sedih dan paling miskin. Ketika menderita saya tidak menemukan keindahan yang Tuhan janjikan dan banyak pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan. Kadang saya bertanya mengapa hidup saya seperti ini. Apalagi ketika suami saya dipanggil Tuhan, saya jadi sering menangis dan hidup terasa hampa. Namun pada REST kali ini saya bersyukur bisa menemukan kembali tujuan hidup saya dan ingat kebaikan Tuhan. Tuhan ingatkan saya masih mempunyai anak yang memerlukan saya. Selama ini saya selalu menuntut Tuhan dan sibuk dengan diri sendiri. Namun, kali ini saya bisa menikmati Tuhan dengan cara yang luar biasa. Bahkan sesi demi sesi saya dapat menikmati sampai selesai dengan sukacita.


Sempat saya bertanya kepada Tuhan apakah setelah pulang ini saya masih bisa menikmati Tuhan ketika saya sibuk dalam aktivitas sehari-hari. Kali ini saya mulai belajar bahwa dalam setiap situasi dan keadaan saya bisa menikmatinya karena ada Tuhan.


Bersyukur REST kali ini saya bisa menikmati Tuhan dalam setiap sesi. Hal ini karena acaranya mengalir tanpa merasa diatur dengan jadwal acara yang padat. Puji Tuhan saya bisa merasakan Tuhan dalam tiap moment. Bunyi air, desiran angin, dan setiap hal yang saya lihat, bisa saya rasakan. Oh, ajaib benar Engkau Tuhan. Setelah kembali dari REST saya mempunyai kekuatan baru dalam menghadapi kehidupan saya selanjutnya, karena Tuhan pasti menolong saya.

Pengalaman Selama Mengikuti Retret (REST=REhat Sama Tuhan)

Oleh: Presno Saragih – Kepala Pendidikan Sekolah Athalia dan Pinus

Kisah Sebelum Berangkat Retret

Shalom Bapak/Ibu . . . .

Saya akan sharing-kan pengalaman perjumpaan saya dengan Tuhan dalam retret guru/staf tahun ajaran 2022/2023 ini yang dinamakan “REST”. Tentu saja setiap retret guru/staf Athalia/PINUS, dua buah sekolah di Serpong, Tuhan memberikan berkat-Nya yang melimpah bagi kita semua yang mengikutinya. Namun, dalam retret kali ini saya mengalami “encountering (with) God” yang lebih dalam dan lebih personal dibandingkan retret-retret sebelumnya. Sebelum saya menceritakan apa saja yang Tuhan “nyatakan” kepada saya dalam retret ini, saya ingin bercerita tentang perjuangan saya untuk dapat mengikuti “REST”.

Minggu sore (22 Januari 2023) saya merasa tidak enak badan: meriang, batuk dan pusing sepulang pelayanan dari Purwakarta. Senin (23 Januari 2023) saya berobat ke dokter. Dokter bilang saya menderita radang tenggorokan. Malam itu saya tidak bisa tidur sama sekali. Selasa malam saya bisa tidur walau hanya 2-3 jam. Rabu malam (25 Januari 2023) kembali saya tidak bisa tidur sampai Kamis pagi (26 Januari 2023).

Bagi penderita hipertensi atau diabet atau penderita penyakit jantung, tidak bisa tidur adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Dan saya penderita ketiga-tiganya. Namun dalam anugerah Tuhan saya tetap dapat mengikuti “REST” walaupun dalam keadaan meriang, batuk, pusing, lemas dan kurang tidur. Saya bersyukur dapat mengalami jamahan Tuhan selama mengikuti “REST”.

Pengalaman Selama Mengikuti Retret

Dalam kesempatan kali ini saya akan sharing-kan pengalaman selama mengikuti retret, tentang apa yang saya dapat dari Tuhan melalui sesi “Apa kerjamu di sini?”, devosi pagi di kamar dan dalam sesi penutupan. Dalam sesi “Apa kerjamu di sini?” saya diajar oleh Tuhan bahwa saya tidak punya hak untuk “mengatur-atur” Tuhan dalam skenario hidup saya dan keluarga. Dia berotoritas penuh dalam hidup saya dan keluarga. Apa yang Tuhan buat di dalam hidup saya dan keluarga pasti baik adanya. Pesan tersebut saya dapatkan ketika Bapak Hermanto mengupas ayat-ayat firman Tuhan dalam 1 Raja-raja 19:11-13.

Tidak ada Tuhan dalam angin besar dan kuat yang membelah gunung. Tuhan juga tidak ada dalam gempa yang terjadi waktu itu. Bayangan kita harusnya Tuhan hadir dalam fenomena-fenomena alam yang dahsyat seperti itu. Namun justru hadirat Tuhan nyata di dalam angin sepoi-sepoi. Jadi sesungguhnya Tuhan bisa hadir secara spektakuler atau non spektakuler. Suka-sukanya Tuhan! Yang pasti Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita pada waktunya Tuhan. Kalau Anak-Nya sendiri diberikan-Nya bagi kita apalah lagi sekadar sandang, pangan, papan, dll.

Teguran Kasih dari Tuhan

Saya ditegur oleh Tuhan (dalam devosi pagi di kamar) untuk tidak menjadi orang yang tinggi hati. Saya ditegur lewat ketakutan dan keputusasaan Elia ketika diancam oleh ratu Izebel. Ratu Izebel akan mengutus orang untuk membunuh Elia yang sudah menyembelih 450 nabi Baal. Elia gentar, putus asa dan ingin nyawanya dicabut oleh Tuhan karena ancaman seorang perempuan. Padahal baru saja Elia menyaksikan kuasa Tuhan yang luar biasa yang membinasakan nabi-nabi Baal tsb. Mungkin saja tanpa disadarinya dia beranggapan bahwa dia lah yang mengalahkan nabi-nabi Baal tsb; bukan Tuhan. Itulah sebabnya kali ini dia begitu gentar dan putus asa karena dia mengukur kekuatannya sendiri; dia harus berhadapan dengan seorang ratu. Saya ditegur oleh Tuhan untuk membuang dosa kesombongan saya.

Momen Mengharukan

Terakhir, saya merasa sangat terharu (“goosebump”) dan sangat dikuatkan ketika saya dan rekan-rekan kepala sekolah, kabag dan BOD didoakan oleh semua guru/staf di sesi penutupan. Dalam keadaan berlutut, kami didoakan dengan tangan para pendoa di atas (kepala) kami. Saya secara pribadi sangat bersyukur dan diteguhkan lewat penumpangantangan tersebut (doa). Selain itu saya sangat terharu dan berterima kasih menerima pelayanan para pemimpin Athalia dari mulai keberangkatan menuju 5G sampai dengan tibanya semua peserta “REST” di sekolah Athalia. To God be the Glory.

PERUBAHAN dan PERTUMBUHAN

Tema Tapel 2022/2023

Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.

                Terlebih memasuki tapel 2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema “Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.

Bertahan di Tengah Perubahan

                Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?

Hidup dan Melayani Secara Ilahi

                Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?

Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:

Pancang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga, sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan. Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).

Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:

  • Manusia
    seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.

Pegang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Setelah komunitas memiliki fokus yang sama, yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan, karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.

Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa, perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.

Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.

Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.

Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Setelah mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap pribadi dan komunitas.

Allah yang Tidak Berubah

Oleh: Ngatmiati, Staf Kerohanian Sekolah Athalia.

“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan. Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.
(Mazmur 102:26–28)


Allah yang Tetap Sama dari Dahulu, Sekarang, dan Selamanya

Ketidakberubahan adalah salah satu atribut Allah yang luar biasa. Sifat, kuasa, dan otoritas-Nya tetap sama dari masa ke masa.

Segala sesuatu di dunia akan menjadi usang dan binasa seiring waktu—namun Allah tidak pernah berubah. Ia tetap Allah yang sama dari dahulu kala hingga selama-lamanya.

Kesadaran akan hal ini membawa ketenteraman bagi orang percaya. Fakta bahwa Allah tidak berubah membuat kita mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, karena kita tahu bahwa kasih setia dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang.


allah yang tidak berubah

Refleksi dari Sebuah Peristiwa di Pantai

Saya mendapat pengalaman berharga tentang hal ini ketika berlibur ke rumah keponakan pada akhir tahun lalu. Pada hari terakhir tahun itu—31 Desember 2021—saya menemani cucu keponakan bermain di pantai.

Pagi itu sedikit mendung, dan tidak lama kemudian hujan turun. Saya sempat bimbang: apakah sebaiknya tetap bermain di pantai atau kembali ke rumah? Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap bermain sambil hujan-hujanan. Tak lama kemudian, hujan berhenti dan matahari kembali bersinar.

Tiba-tiba, cucu saya berteriak gembira, “Pelangi! Pelangi!”

Saya mendongak, dan benar—pelangi yang indah membentang di langit. Saat itu hati saya tersentuh. Rasanya seperti pesan pribadi dari Tuhan di penghujung tahun: saya akan menjalani tahun yang baru bersama Allah yang setia pada janji-Nya.

Keyakinan ini membawa ketenangan mendalam, sebab saya tahu bahwa kasih setia dan kuasa Allah tidak pernah berubah. Seperti Ia telah menyertai dan menolong saya di tahun-tahun sebelumnya, demikian pula anugerah-Nya akan terus nyata di tahun yang baru.


Pelajaran dari Seekor Anak Kucing

Masih di pantai yang sama, saat saya duduk santai, seekor anak kucing tiba-tiba mendekat dan duduk di pangkuan saya. Tak lama, ia tertidur dengan tenang. Ketika saya mencoba mengangkat tangan, kucing kecil itu menariknya kembali, seolah takut kehilangan kehangatan.

Momen sederhana itu membuat saya merenung:

Apakah saya juga seperti anak kucing itu terhadap Allah?
Apakah saya ingin selalu dekat dan tidak menjauh dari-Nya?

Karena hanya bersama Allah yang tidak berubah, saya dimampukan untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan tenang.

Kasih setia dan kuasa-Nya tidak lekang oleh waktu — tetap sama dari generasi ke generasi.


🌈 Penutup

Melalui pelangi dan kehadiran seekor anak kucing, Allah seakan mengingatkan bahwa Dia tetap setia dan tidak berubah. Di tengah dunia yang terus berganti, satu hal yang pasti:

Tuhan yang sama yang menolong kemarin, adalah Tuhan yang juga akan memelihara kita hari ini dan selamanya.

Makna Sejati Takut Akan Tuhan

makna takut akan tuhan

Oleh: Sylvia Radjawane

Apa yang Kita Pikirkan Saat Mendengar Kata “Takut”?

Setiap mendengar kata takut, apa yang kita pikirkan?
Bagi banyak orang, kata ini sering diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif. Namun, ada satu jenis rasa takut yang justru paling positif di dunia ini — yaitu takut akan Tuhan.

Rasa takut yang satu ini membawa saya untuk mengalami hubungan yang semakin akrab dan indah dengan Tuhan. Mengapa demikian? Karena dalam hubungan yang terjalin itu, saya mengenal Tuhan bukan sebagai pribadi yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang penuh kasih karunia dan kuasa, yang setia menemani setiap langkah hidup saya.


Belajar dari Kehidupan Musa

Saya belajar dari kehidupan Nabi Musa, yang ucapannya tercantum dalam Ulangan 9:19. Musa adalah tokoh Alkitab yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Namun, perjalanan hidupnya yang fenomenal tidak terjadi seketika. Awalnya, Musa menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan alasan, “Aku tidak pandai berkata-kata.” Ia merasa tidak layak diutus untuk memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian.

Ketika akhirnya Musa memutuskan untuk menjalani panggilan Tuhan, perjalanan itu membawanya kepada hubungan yang semakin karib dengan Tuhan.
Ia bahkan berani berkata, “Walau aku tahu Tuhan murka dengan apa yang sudah dilakukan bangsa Israel, tapi aku kenal Tuhanku dan Ia akan mendengarkan permohonanku.”
Pernyataan ini menunjukkan adanya hubungan yang istimewa antara Musa dan Tuhan — hubungan yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang benar-benar takut akan Tuhan.


Pengalaman dalam Kehidupan Pribadi

Dalam pengalaman pribadi saya, takut akan Tuhan bukan berarti saya harus melakukan segala sesuatu yang baik hanya karena takut akan hukuman Tuhan. Saya bisa saja patuh kepada Tuhan, tetapi tanpa memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.

Namun, Tuhan menginginkan hubungan yang berkualitas dengan saya. Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan.

Saat saya hidup dalam rasa takut yang benar kepada Tuhan, hubungan yang karib dan istimewa dengan-Nya membuat saya memiliki kesadaran untuk tetap dekat dengan Tuhan — dan justru takut untuk menjauh dari-Nya.


Hidup Berkenan di Hadapan Tuhan

Perspektif ini membawa saya pada keputusan hidup seperti berikut:

“Saya memutuskan dengan sadar untuk memilih cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, karena hubungan kami sangat istimewa. Saya ingin mempertahankannya demi kebaikan saya sendiri, yaitu pertumbuhan iman saya.”

Apakah mudah melakukan komitmen seperti ini? Mungkin tidak.
Namun, saya percaya hanya Tuhan yang sanggup memperbesar kapasitas hati saya untuk memiliki dan menjalankan komitmen seperti ini.


Hadiah dari Tuhan

Tuhan berkenan kepada orang yang hidupnya takut akan Dia.
Selalu ada berkat dan hadiah yang menanti bagi mereka yang memiliki rasa takut yang benar — bukan karena rasa terpaksa, tetapi karena kasih dan penghormatan yang tulus.

“Fear ensures compliance; Fear of God inspires commitment.”
Rasa takut biasa menuntut kepatuhan; takut akan Tuhan menumbuhkan komitmen.