Mengakhiri dengan Baik

Mengakhiri dengan baik

Oleh: Ngatmiati – Staf kerohanian Sekolah Athalia

Sebuah peribahasa berbunyi, “hangat-hangat tahi ayam”. Peribahasa ini mengandung makna melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya di awal. Pada awalnya giat atau semangat melakukannya, namun pada akhirnya mulai malas dan akhirnya mungkin saja pekerjaan yang dilakukan tidak terselesaikan. Hal yang penting bukan hanya kita memulai dengan baik, namun juga perlu menyelesaikannya dengan baik pula.

Teladan Paulus

Hal ini mengingatkan kita pada frasa yang diucapkan oleh Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:24 dan 2 Timotius 4:7. Di kedua ayat tersebut, Paulus menyinggung tentang mencapai garis akhir. Paulus menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai suatu pertandingan. Pertandingan di dalam bahasa aslinya mengandung makna perlombaan, perjuangan, dan pergumulan. Paulus telah memulai pertandingan dengan baik, ia pun rindu bisa mengakhirinya dengan baik pula. Secara khusus pertandingan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pertandingan iman dalam berjuang memberitakan atau menyaksikan Injil kasih karunia Allah. Dalam pertandingannya itu, Paulus mengalami banyak tantangan dan pergumulan (Kis. 20:19; 2 Kor. 11:23-28). Meski demikian, Paulus menolak untuk menyerah. Ia tetap memelihara imannya sampai akhir sambil terus bergantung pada kasih karunia Tuhan yang melimpah dalam hidupnya.

Bagaimana dengan Kita?

Sama halnya dengan Paulus, kita semua sedang menjalani pertandingan iman di dalam hidup kita dalam peran kita masing-masing di mana pun kita berada. Untuk dapat mencapai garis akhir dengan baik seringkali tidak mudah. Ada banyak tantangan yang kita hadapi yang menggoda kita untuk berhenti di tengah jalan ataupun menjalaninya dengan tidak benar. Hendaknya dalam menjalani setiap pertandingan yang kita ikuti kita senantiasa memelihara iman kita. Apapun kesulitan yang kita hadapi kita jalani dengan iman dan ketaatan kepada Tuhan. Terlebih lagi dalam setiap pertandingan kita, mari kita jadikan itu sebagai ajang untuk menyaksikan Injil kasih karunia Allah yang telah kita terima kepada orang-orang di sekitar kita. Baik itu anak didik kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, maupun di lingkup yang lebih luas dalam pelayanan maupun bermasyarakat. Sebagaimana Paulus menantikan mahkota yang Tuhan sediakan baginya jika ia mencapai garis akhir dengan tetap memelihara imannya, mari jadikan itu sebagai penyemangat bagi kita.

Baca juga: Setia Sampai Akhir

Setia Sampai Akhir

setia sampai akhir

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

1 Korintus 9:24
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

Dalam bagian firman Tuhan ini, Paulus menjelaskan bahwa ia adalah manusia bebas karena Kristus telah menyelamatkannya. Namun, ia tidak mau menggunakan kebebasannya untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, ia berusaha menjaga kehidupannya sedemikian rupa supaya melalui hidupnya yang baru ia dapat bersaksi tentang Tuhan dan menjadi berkat untuk orang lain. Paulus bersikap demikian karena ia sadar bahwa keselamatan yang diperolehnya adalah anugerah yang dibayar mahal oleh Kristus. Mengikut Kristus tidak boleh setengah-setengah dan harus setia sampai akhir.

Kehidupan mengikut Kristus diumpamakan seperti sebuah pertandingan oleh Paulus. Dalam sebuah pertandingan, kita tidak boleh hanya bersemangat dan gigih di awal, namun harus menuntaskannya sampai akhir dengan sekuat tenaga untuk memperoleh mahkota. Demikian juga dalam mengikut Kristus. Ketika pertama mengenal Kristus, kita mungkin begitu bersemangat dan mau melakukan segala sesuatu untuk Tuhan. Namun dengan berjalannya waktu, tanpa sadar semangat dan kasih yang mula-mula mulai surut. Doa, ibadah, baca Alkitab dan hal-hal rohani lainnya bisa jadi terasa hambar, tidak lagi menggetarkan hati. Belum lagi ketika kesulitan yang tak kunjung usai membuat kita lelah untuk terus bertahan dalam iman hingga akhir. Atau, mungkin juga ketika segala sesuatu terlalu lancar, kita melihat berkat Tuhan sebagai hal yang biasa sehingga kita makin kehilangan arah dan jauh dari Tuhan.

Bagaimana dengan kita hari ini? Masihkah kita berjuang dengan gigih untuk terus dekat kepada Tuhan? Melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak membiarkan hambatan apapun menghalangi kita dengan gigih mengikut Tuhan seumur hidup kita. Mari kita terus berjuang setia sampai akhir sehingga dalam pertandingan iman, kelak kita memperoleh mahkota surgawi.

Allah adalah Sempurna (Ulangan 32:1-4)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia

Ada banyak hal di dalam dunia ini yang bagi kita mungkin sangat berharga dan mampu melengkapi hidup kita. Tanpa hal-hal itu hidup terasa kurang. Lagu Andra and The Backbone yang berjudul Sempurna, juga mengisahkan tentang seorang wanita yang menurutnya begitu sempurna sehingga dapat melengkapi hidupnya. Namun jika kita renungkan, sesungguhnya semuanya itu bersifat fana, sementara dan dapat lenyap sekejap dan kapan saja. Jika kita menggantungkan hidup kita pada hal-hal yang sementara, kita hanya akan menerima kekecewaan dan kesedihan.

Satu-satunya Pribadi yang dapat kita andalkan hanyalah Tuhan. Ia, adalah Allah Pencipta kita, bukan pelengkap hidup kita yang kalau kita butuh baru kita datang kepada-Nya. Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Semua hal dalam dunia boleh lenyap, asal ada Tuhan. Memiliki Tuhan berarti kita telah memiliki segalanya. Mengapa? Karena Ia adalah Allah yang sempurna; segala sifatnya dan/karakternya sempurna. Kebaikan-Nya sempurna, kasih-Nya sempurna dan kuasa-Nya pun sempurna.

Menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna maka:

  • Kita dapat mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, Allah yang sempurna itu. Kita memang tidak bisa menyelami pemikiran dan kuasa-Nya yang sempurna karena kita terbatas dan Ia sempurna, namun kita dapat yakin bahwa kita dapat bersandar sepenuhnya di dalam Dia, Allah yang sempurna.
  • Kita belajar hidup sempurna untuk merefleksikan gambar kemuliaan-Nya. Sebagaimana Allah yang sempurna, Ia ingin kita juga hidup merefleksikan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu kita harus terus berjuang semakin serupa Kristus dalam seluruh aspek hidup kita supaya ketika orang lain melihat kita, mereka dapat melihat Kristus dalam diri kita dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:48).

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pelaku firman-Nya, percaya penuh kepada-Nya dan belajar hidup makin serupa Kristus.

Belas Kasihan

belas kasihan

Oleh: Bapak Presno Saragih, Kabid. Pendidikan

Yesus yang Penuh Belas Kasihan

Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.

Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.

Makna Belas Kasihan

Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).

Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.

Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).

Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.

Refleksi

Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!

Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.

Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…

Baca Juga: Belas Kasihan Adalah Kunci