Apakah Benar Tak Kenal, maka Tak Sayang?

Oleh: Adrianus

Peribahasa “Tak Kenal, maka Tak Sayang” tampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan anak kami saat pertama kali masuk sekolah dasar. Awalnya, kami berharap ia akan menikmati suasana sekolah. Namun, harapan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan. Setiap hari, ia menangis dan menolak masuk kelas. Terus terang, sebagai orang tua, kami berharap anak akan senang ketika berada di sekolah. Namun, harapan itu ternyata jauh dari kenyataan. Saya sempat kaget melihat anak saya menolak masuk kelas dan terus menangis.

Sementara itu, temannya dengan santai dan percaya diri melenggang masuk ke kelas. Anak saya terus menangis, berkata bahwa dia tidak mau sekolah dan mau pulang saja. Saya shock sampai menelepon istri dan berkata, “Apa perlu kita pindahkan sekolahnya?” Padahal, sewaktu mengikuti tes penerimaan siswa baru, anak kami mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Dia juga terlihat senang dan mau sekolah di Athalia. Mungkin anak kami kaget melihat suasana sekolah yang ramai. Saat TK, memang lingkungannya lebih kecil dengan sedikit teman.

Saat pulang ke rumah, terus terang pikiran saya tidak tenang. Saya mengingat kembali ketika dia berusia 2,5 tahun. Dengan riang gembira, dia selalu mengikuti Sekolah Minggu. Begitu juga ketika dia masuk TK. Bahkan, dia kami ikutkan jemputan dan tidak pernah ada masalah sama sekali. Mungkin inilah yang terjadi, ekspektasi orang tua terhadap anak tidak sesuai kenyataan.

Setelah satu minggu mengantar-jemput anak selesai, kami melimpahkan tugas tersebut kepada mobil jemputan. Kami pikir semuanya sudah berlalu. Namun, ternyata kami salah.

Menghadapi Tantangan Awal Sekolah dengan Kesabaran

Suatu pagi, terjadi kehebohan karena anak saya menolak ikut mobil jemputan. Istri saya mengantarnya sampai ke dalam mobil, tetapi anak kami berteriak-teriak tidak mau sekolah. Dia menangis dan memberontak, ingin lompat ke luar mobil. Saya sampai tepok jidat. Kenapa lagi anak ini? Setelah melakukan pembicaraan dengan anak dan sopir jemputan, akhirnya dia mau berangkat sekolah.

Kami bersyukur bahwa fase tersebut akhirnya berakhir.
Seiring berjalannya waktu, anak kami mulai menikmati sekolahnya. Dia bercerita teman-temannya ternyata sangat baik, sangat welcome. Meskipun teman-temannya sebagian besar merupakan siswa Athalia sejak TK, mereka mau mengajaknya bermain dan tidak pernah mengejeknya.

Bahkan, setelahnya, anak kami tidak pernah mau izin tidak masuk sekolah. Ketika dia sakit, dia tidak mau izin. Pernah suatu hari karena lupa dia makan ikan laut sehingga alerginya kumat, di badannya tampak bentol-bentol dan dia merasa kurang sehat. Namun, ketika disuruh pulang oleh wali kelas, dia tidak mau, saking cintanya dengan Sekolah Athalia dia memilih tetap belajar hingga selesai jam sekolah.

Dia bilang kepada mamanya, “Aku tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolah.” Bahkan, ketika sedang demam pun di rumah tetap belajar agar bisa ikut ulangan. Kami terharu ketika melihat perjuangannya mengenal sekolah, lingkungan, teman, dan segala hal baru. Kami menyadari bahwa dengan dukungan dan sayang yang tulus, anak kami dapat melewati tantangan yang awalnya terasa berat.

Baca Juga : Komunitas Athalia yang Bertumbuh

Melewati Tantangan dengan Kasih dan Sayang

Anak kami berhasil naik ke kelas 3 dengan mendapatkan piala hasil kumulatif dari piagam top score yang dia kumpulkan dari kelas 1 sampai kelas 2. Itu adalah momen terindah baginya dan suatu kejutan bagi kami. Bahkan, malam sebelum dia terima rapor, saya bilang, “Ahhh…sepertinya kamu tidak mungkin deh dapat banyak nilai bagus karena agak malas belajar kelas 3 ini. Kalo sampai kamu dapat nilai bagus yang banyak, akan papa belikan jam tangan yang tahan air deh…”

Sekali lagi, ekspetasi orang tua tidak sesuai kenyataan. Ternyata, anak kami malah membawa pulang piala. Saya pun harus memenuhi janji membelikan sebuah jam tangan yang tahan air agar bisa dipakai berenang. Ini adalah momen tepok jidat yang kedua.

Saat anak kami berada di kelas 3, dia mendapatkan rujuan dari RS untuk berobat dan menjalani serangkaian tes di RS Siloam Karawaci. Kami berangkat dari rumah jam 6 pagi karena jarak yang lumayan jauh. Dia berpesan untuk dibawakan seragam dan tas sekolah. Dia berharap proses tes tidak terlalu lama sehingga bisa lanjut pergi ke sekolah. Namun, ternyata proses tes berjalan lama sampai lewat jam makan siang sehingga hari itu dia tidak bisa masuk sekolah.

Puji Tuhan, akhirnya anak kami menemukan dunia yang indah di masa kecilnya untuk belajar banyak hal dan bermain. Kami sebagai orang tua mencoba mengajarkan kepada anak kami dengan memberikan keteladanan hidup, moral, dan iman untuk masa depannya. Dengan luar biasa, Sekolah Athalia membentuknya dengan cara mendidik karakternya untuk menjadi anak yang takut akan Tuhan dan berguna bagi bangsa dan negara, seperti moto sekolah ini “Right From The Start, benar sejak awal. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang, anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.

Terima kasih, Athalia!

Melibatkan Tuhan dalam Hidup

Oleh: Elisa Christanto

Sekilas saya melihat tatapan wajah anak saya yang kosong, menatap ke luar jendela. Kepalanya tersandar dengan lesu. Setelah berbincang mengenai ini dan itu, akhirnya saya menemukan jawabannya. Ia merasa letih dengan jadwal belajar yang padat menjelang ujian nasional. Sebagai ibu yang mendampingi di rumah, saya pun merasakan hal itu. Iba sekaligus bangga melihat anak usia SD berjuang keras untuk meraih yang terbaik. Meski baru pulang sekolah, dia punya waktu belajar dan mengerjakan tugas-tugas. Luar biasa!

Saya dan suami melibatkan diri dalam mendukungnya agar tetap semangat. Kami bergandengan tangan untuk menjaga semangatnya sampai lulus UN dengan nilai yang sangat baik. Puji Tuhan. Namun, menjelang usianya yang sudah remaja, sebagai orang tua kami tak hanya ingin melihat anak berkembang secara kognitif alias punya pencapaian bagus dalam hal akademis. Kami butuh sekolah yang mendidik dan mendampingi anak-anak dengan nilai-nilai Kristiani sekaligus memberikan bekal untuk pengembangan karakternya.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Melibatkan Nilai-Nilai Karakter dalam Pendidikan Anak

Anak kami ini sangat peduli dengan orang lain dan paling tidak bisa melihat orang lain bersedih. Hal itu sudah ditunjukkannya sejak ia masih kecil. Bahkan, pada saat TK A, ia sendiri yang bercerita bahwa salah seorang temannya tidak dibawakan bekal. Berhubung bekalnya masih ada, ia memberikan beberapa keping biskuit ke temannya itu tanpa disuruh pengajar.

Namun, di lain sisi ia juga menjadi anak yang tidak tegas. Tidak tegas untuk mengatakan “tidak” terhadap hal-hal yang kurang baik. Contohnya, saat kelas TK A, ada salah seorang temannya yang menggodanya, tetapi ia cuek. Justru temannya itu menjadi emosi dan akhirnya hidungnya ditonjok hingga lebam dan berdarah. Bahkan, dampak dari kejadian itu hidungnya mengalami trauma sehingga sering kali mimisan.

Peristiwa itu menjadi pergumulan kami dan puncaknya ketika di kelas 4 dia mengalami perundungan dari seorang temannya. Suatu hari, dia membawa bekal susu kotak. Lalu, temannya bilang bekalnya sudah habis, tetapi masih lapar dan meminta susu kotak itu. Dengan senang hati anak kami memberikannya.

Namun, rupanya tak berhenti di situ. Besok dan besoknya lagi setiap jam sarapan atau makan siang, anak itu selalu meminta bekal anak kami. Suatu hari, anak kami menolak permintaan temannya karena memang dia tidak membawa bekal lebih. Jawaban itu memicu kemarahan temannya yang berakibat seisi tas sekolah anak kami ditumpahkan di kelas.

Diperlakukan seperti itu, anak kami tetap bergeming. Dia tidak melawan. Salah seorang siswa yang melihat kejadian itu melapor kepada wali kelas dan pengajar. Akhirnya, orang tua anak tersebut dipanggil ke sekolah. Anak itu mendapatkan teguran serta skorsing.

Ketegasan dalam Menghadapi Perundungan

Mungkin maksud anak kami baik, tidak membalas keburukan dengan keburukan. Namun, kemudian kami melihat, ia menjadi anak yang kurang tegas untuk berkata “tidak” untuk hal-hal yang dirasa tidak baik. Ini menjadi satu kerinduan kami sebagai orang tua agar anak kami memiliki karakter yang makin baik dan makin mengenal Allah. Ketika akhirnya tebersit untuk mencari sekolah dengan muatan pendidikan karakter, kami memohon kepada Tuhan untuk campur tangan.

Kami berpikir, tak mudah memindahkan seorang anak remaja ke sekolah yang baru. Kami pun tak jarang mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari orang tua atau teman di sekolah sebelumnya.

Ngapain pindah? Bukannya sekolah di sini sudah bagus?”

“Yakin pindah ke Athalia? Ngapain?” 

Kami berpikir, di mana pun tempat pasti akan ada pertanyaan, dan kadang itu retoris.

Jadi, bersama Tuhan kami terus memantapkan langkah untuk memindahkan anak kami ke Sekolah Athalia.

Fase adaptasi di tempat yang baru, teman-teman yang baru, pengajar dan lingkungan baru tentu bukan hal yang mudah untuk dilewati. Kami sempat khawatir, tetapi kami yakin Tuhan yang pilihkan, Ia pun akan memampukan.

Kami perhatikan, perkembangan anak kami baik sekali. Satu semester terlewati dengan baik. Dia berhasil beradaptasi dalam hal akademis. Sikapnya di kelas juga sangat baik. Bahkan, kami dibuat terharu ketika wali kelas bercerita bahwa anak kami bersikap sangat sopan dan suka menolong teman-temannya.

Menuju semester dua, lagi-lagi Tuhan buat kami mengucap syukur.

Meski anak baru, ia memperoleh piagam besar dan piagam kecil High Achievement untuk mata pelajaran PKN. Senyumnya merekah seakan berhasil menaklukkan tantangan yang berat. Hal itu menjadi pencapaian yang membanggakannya karena pada dasarnya dia tak menyukai pelajaran PKN. Namun, dia justru mencetak prestasi di mata pelajaran tersebut.

Kami pun menasihatinya, “Jika kita melibatkan Tuhan, maka Ia mampu
membuat hal yang paling tidak kita sukai sekalipun, menjadi jalan keberhasilan, Nak…”

Melibatkan Tuhan dalam Setiap Langkah Anak Kami

Sejak hari itu, dia paham bahwa suka atau tidak suka, semua harus dipelajari dengan sungguh-sungguh. Meski demikian, anak kami masih terus berproses di Athalia, hingga ke masa yang akan datang pun ia akan terus berproses. Setidaknya, ia menyelesaikan kelas 7 dengan baik dan dia memasuki kelas 8. Mengingat tujuan utama kami memindahkan sekolahnya, yaitu untuk memberikan yang terbaik untuk pertumbuhan karakternya, tentu saja hal itu menjadi fokus kami.

Satu tahun pertama, hal yang paling mengharukan adalah dia sudah mulai mencuci piring dan gelas yang ia gunakan setelah makan dan minum. Dia juga membantu mamanya menjemur pakaian dan menyapu. Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Setahap demi setahap ini adalah wujud dari pertumbuhan karakternya ke arah yang lebih baik.

Begitu juga dengan sikapnya yang perlahan mulai lebih terbuka. Tadinya ia tidak pernah cerita kalau tidak ditanya. Sekarang, dengan sendirinya, tiap pulang sekolah, dia akan aktif bercerita kepada kami tanpa harus ditanya. 

Selain itu, kini dia punya banyak teman. Bahkan, sejak kelas 7, beberapa kali dia mengajak teman-temannya ke rumah untuk mengerjakan tugas. Anak-anak pun sangat senang mengerjakan tugas bersama. Jika ada kendala dalam membuat presentasi, papanya dengan senang hati membantu anak-anak. Bahkan, dari kegiatan mengerjakan bersama PR itu, kami memiliki ide untuk membuka les pemrograman untuk anak-anak, sesuai skill yang kami dalami.

Itu semua adalah contoh-contoh kecil perubahan yang sangat berarti buat kami. Rupanya, pilihan di Athalia direstui oleh Tuhan. Kami yakin, Tuhan akan melibatkan tangan-Nya dalam perjalanan ini.

Terima kasih, Sekolah Athalia. Kiranya Tuhan memberkati anak-anak, pengajar, kepala sekolah, Ibu Charlotte, karyawan, orang tua, dan semua yang berada di dalam komunitas Athalia.

Rekomendasi Buku untuk Mencari Pasangan Hidup

Judul buku: THE SACRED SEARCH (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)

Informasi terkait buku:

Penulis: Gary Thomas
Penerjemah: Paksi Ekanto Putra
Tahun terbit: Cetakan Kesepuluh, Agustus 2018
Jumlah halaman: 261 halaman

Pada umumnya, dua dari beberapa tugas perkembangan manusia dewasa ialah menjalin hubungan dengan lawan jenis dan menikah. Namun, dalam perjalanan kehidupan, kita hampir tidak pernah diajarkan bagaimana membangun relasi secara formal maupun mencari pasangan hidup. Sering kali, dasar seseorang dalam menjalin relasi dan mengambil keputusan untuk menikah hanyalah karena perasaan jatuh cinta. Padahal, ada faktor-faktor lain yang jauh lebih kuat, mendasar, dan kekal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam memutuskan menikah. Hal-hal inilah yang dikupas secara mendalam dalam buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus).

Mengupas Buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)

Buku ini mengangkat tema relasi dari perspektif iman Kristen. Banyak orang sering bertanya: “Siapa orang yang paling tepat untuk dinikahi?” Namun, penulis buku ini mengarahkan untuk merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: “Mengapa menikah?” Berawal dari pertanyaan ini, penulis mengajak para lajang untuk mengevaluasi alasan terdalam yang melandasi keputusan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Penekanan utama ada pada dasar yang harus berakar pada firman Tuhan dan secara langsung berkaitan dengan pertumbuhan rohani bersama pasangan hidup. Dalam konteks ini, membangun relasi menuju pasangan hidup yang sejalan dengan kehendak Tuhan menjadi tujuan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti dorongan emosional sesaat.

Penulis membahas persoalan yang diperlukan dalam mengembangkan keterampilan berelasi yang mengutamakan Tuhan. Pembaca diajak berefleksi mengenai panggilan hidup dan pengenalan diri secara utuh. Selain itu, pembaca juga diajak untuk melihat bagaimana neuroscience dan psikologis memengaruhi hubungan antarpribadi. Buku ini membahas bagaimana pasangan menjalani panggilan hidup bersama dalam pernikahan. Penulis menekankan pentingnya membangun landasan yang kokoh dalam relasi dengan lawan jenis. Maka dari itu, pembaca diajak mempertimbangkan pandangan dalam memilih calon pasangan di masa mendatang. Lebih jauh lagi, penulis juga membahas hal-hal yang berkaitan dengan intimasi pernikahan dan pembaca diharapkan terbuka menelisik diri sendiri untuk dapat membangun hubungan yang sehat dan kudus dengan pasangan kelak.

Refleksi, Aplikasi, dan Tantangan dalam Membangun Relasi Sejati

Uniknya, buku ini tidak menyajikan tips and trick, tapi justru membuka wawasan pembaca terhadap kemungkinan baik dan buruk ketika berelasi. Misalnya, meninjau kembali gaya pernikahan yang dibahas dalam satu bab, penulis memaparkan berbagai gaya pernikahan yang mungkin mengarah pada kemungkinan gaya pernikahan di masa mendatang. Pembaca juga diajak meninjau gaya pernikahan tersebut. Apakah mampu beriringan dengan seseorang yang sedang digumulkan untuk menjadi pasangan? dan apakah lifestyle tersebut dapat menumbuhkan diri dan pasangan dalam pernikahan?

Kisah ilustrasi yang dipakai dalam tiap bab memang kurang kontekstual dengan tradisi orang Asia. Namun, prinsip yang ditekankan cukup relevan dan tidak hanya mewakili satu budaya tertentu. Istilah bidang kedokteran, psikologi, dan teologi banyak dipakai dalam buku ini.

Gaya tulisan yang bercerita dan bahasa yang mudah dimengerti adalah poin lebih dari buku ini. Pembaca diajak mengambil waktu untuk mengevaluasi diri melalui pertanyaan studi lanjut di tiap bab untuk dijawab. Hal ini menolong pembaca mengurai setiap bahasan yang diterima dan merefleksikannya di dalam diri. Pembaca juga diajak meninjau kembali pengenalan diri serta harapan terhadap hubungan dengan pasangan.

Buku ini disarankan untuk dibaca oleh kaum muda yang bergumul tentang pasangan hidup, orang tua yang rindu mendampingi anaknya menemukan pasangan hidup yang sepadan dan seimbang, pembimbing rohani, dan pasangan menikah untuk memperkokoh hubungan. Buku ini cocok dipakai dalam persekutuan kelompok-kelompok kecil yang membahas tentang relasi lawan jenis menuju pernikahan.

(KAY)

Ternyata, Inilah Kunci Keluarga Bertahan ketika Konflik

Oleh: Benny Dewanto

Seorang gadis muda datang kepada sahabatnya dengan hati yang penuh luka. Mulutnya tak mampu membendung umpatan atas segala kekesalannya. Ia bercerita mengenai opa dan omanya yang selama ini telah mengasuhnya sejak usia 3 tahun. Sebagai seorang gadis muda, ia bertumbuh di dalam lingkungan kaum muda yang memberikan banyak gaya hidup. Namun, seiring dengan hal tersebut, opa dan omanya tidak dapat mengerti seluruh perkembangan gaya hidup anak muda zaman sekarang. Tidak aneh bila tiap hari terjadi keributan besar—hanya karena perbedaan nilai hidup. Ditambah lagi ketidakhadiran orang tua kandungnya karena perceraian. Jadilah gadis ini kehilangan arah nilai hidup.

Nilai hidup adalah sebuah dasar sekaligus pengarah hidup seseorang. Seseorang dapat melihat sebuah nilai hidup sebagai sesuatu yang bernilai atau tidak, dilatari oleh banyak hal yang beragam. Artinya, nilai hidup dipengaruhi oleh suatu hal yang tertanam di dalam diri seseorang. Penanaman pemahaman tentang nilai hidup membutuhkan intensitas yang terukur dan memerlukan terang rohani agar konsep nilai itu menjadi yang benar di mata Tuhan. Penanaman tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.

Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 7:1 “… Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Di antara manusia lainnya, yang akan musnah karena nilai hidup yang tidak benar (dosa), Nuh dan keluarganya dibenarkan dan diselamatkan Tuhan. Ketaatan Nuh telah membawa keluarganya juga ikut taat masuk ke dalam bahtera. Tanpa proses penyampaian nilai hidup agar taat kepada Tuhan, tidaklah mungkin bahtera tersebut dapat diisi segala macam binatang dan Nuh sekeluarga.

Baca Juga : Athalia Learning Community New Edisi Mei 2020

Kunci Menemukan Nilai Hidup yang Benar dalam Keluarga

Untuk dapat menemukan nilai hidup yang benar di hadapan Tuhan membutuhkan hikmat. Tanpa hikmat, nilai hidup akan menjadi nilai yang bias, tidak tetap, dan mudah beralih. Hikmat mengarahkan manusia melihat apa yang dikehendaki Tuhan. Kisah Para Rasul 16:19-34 menceritakan kepala penjara yang bertobat ketika melihat Paulus dan Silas diselamatkan Tuhan. Kepala penjara mendapat hikmat bahwa peristiwa yang terjadi kepada Paulus dan Silas merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada. Melalui hikmat, dirinya mendapatkan nilai hidup tentang injil. Nilai hidup itu dibawanya kepada seisi rumahnya, dan mereka merayakan sukacita keselamatan.

Mari kita hidup dengan aliran hikmat, hari demi hari. Karena dunia tidak akan pernah berhenti menawarkan nilai-nilai hidup yang menarik. Tugas kita sebagai orang percaya adalah mula-mula menggembalakan seluruh isi rumah untuk hidup dalam nilai hidup keselamatan. Jangan biarkan kita kering akan hikmat agar dapat melihat nilai hidup yang benar.

Yakobus 1:5 mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah …”. Kehadiran hikmat Allah akan menolong keluarga kita berjalan dengan penuh bijaksana. Melangkahlah bersama keluarga kita dengan hikmat Allah. Tuhan menolong kita semua.

Generasi Z vs Sosial Media

Oleh: Fanuel Renaldy Sugiarto

Beberapa bulan terakhir, dunia mengalami perubahan besar akibat pandemi. Segala lini kehidupan dipaksa untuk beradaptasi, termasuk dunia pendidikan. Proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan di sekolah, melainkan dari rumah. Siswa harus mengikuti kelas daring tanpa bisa bertemu langsung dengan teman atau pengajar. Itulah yang dialami para siswa Sekolah Athalia. Mereka memulai tahun ajaran baru melalui layar komputer, bukan di ruang kelas. Pertanyaannya, apakah kondisi ini menjadi masalah serius bagi anak-anak zaman sekarang?

Dunia Digital yang Menjadi Rumah Kedua

Tanpa kita sadari, banyak masalah yang muncul di dalam diri para remaja yang berhubungan dengan platform daring. Namun kini, sudah empat bulan lebih mereka melakukan pembelajaran secara daring—mengumpulkan tugas, melaksanakan ujian sekolah, proyek mata pelajaran, bahkan sesi kelas tatap muka pun harus dilakukan dengan platform daring.

Pertanyaannya, apakah benar mereka sedang beradaptasi dengan metode daring atau sebenarnya sudah menjadi “warga” dunia daring dan teknologi digital? Tidak bisa dipungkiri, anak-anak remaja saat ini adalah generasi digital. Menurut Hanlie Muliani dalam webinar berjudul “Memahami 7 Karakteristik Gen Z dan Parenting Style untuk Gen Z” yang dilaksanakan pada 4-5 Mei 2020, para remaja ini disebut sebagai generasi local residents di zaman kemajuan teknologi sehingga berhasil menciptakan sebuah era baru dalam dunia sosial. Mereka bisa berteman dengan siapa saja dari seluruh dunia hanya dalam sekali klik di komputer atau gadget mereka.

Baca Juga : Diatur Waktu atau Mengatur Waktu?

Media Sosial sebagai Jembatan Sosial Generasi Z

Fenomena sosial di kalangan generasi Z menunjukkan bahwa meskipun tidak bisa bertemu langsung, mereka tetap bisa akrab melalui media sosial. Platform seperti Instagram, Twitter, dan Facebook menjadi ruang komunikasi, ekspresi, dan solidaritas. Media sosial memungkinkan remaja menjalin hubungan dan mempertahankan interaksi secara intens. Bahkan, para remaja kini lebih menguasai media sosial dibandingkan orang tua mereka. Jadi, di awal Tahun Pelajaran 2020-2021 ini, apakah menjadi sebuah masalah bagi para remaja saat mereka tidak bisa bertemu teman?

Kebanyakan dari mereka mungkin sedang mengeluh betapa bosannya di rumah dan merindukan untuk bisa kembali bertemu teman-teman di sekolah. Menurut penelitian Barna (2019), kebanyakan dari para remaja ini memang sudah merasa saling terhubung, tetapi perasaan dicintai dan didukung oleh orang lain tidaklah sebesar itu. Itulah mengapa hari-hari ini mereka sangat mudah untuk memiliki teman, tetapi tidak dapat membangun rasa saling mengasihi satu sama lain dengan maksimal karena mereka kesulitan bertemu secara tatap muka.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Generasi Z

Menyikapi fenomena ini, orang tua diharapkan bisa membangun hubungan atau relasi yang hangat dengan anak-anak supaya mereka tetap merasakan dukungan dan punya teman untuk bicara di masa-masa PJJ. Harapannya, lewat hubungan yang dibangun dengan anak-anak, orang tua bisa membimbing para remaja menggunakan media sosial dengan lebih bijak. Kiranya interaksi-interaksi di media sosial atau post yang di-upload boleh menjadi berkat bagi yang melihat dan menyaksikannya.

Biarlah setiap orang tua di awal tahun ajaran ini semakin dimampukan Tuhan untuk membimbing anak remaja mereka tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan di masa-masa pembelajaran online ini.

Referensi:
Barna Group. 2019. The Connected Generation: How Christian Leaders Around the World Can Strengthen Faith and Well-Being Among 18-35-Year-Olds. California: Barna Group.

Rekomendasi Buku Kepemimpinan

lead like jesus

LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman)

Lihat Keterangan Buku Lebih Lanjut

Judul buku: LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman)
Penulis: Ken Blanchard & Phil Hodges
Penerbit: Visimedia
Penerjemah: Dionisius Pare
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 317

Di mana Anda bisa menemukan model kepemimpinan yang dapat mengubah hidup Anda?” Pertanyaan ini menjadi pengantar reflektif dalam buku karya Ken Blanchard dan Phil Hodges, Lead Like Jesus. Berdasarkan telaah mendalam terhadap Kitab Suci (Alkitab), Ken dan Phil menemukan banyak hikmah kepemimpinan melebihi yang mereka pikirkan selama ini. Belajar cara memimpin seperti Yesus membuat kita menemukan perbedaan besar dalam hidup dan dalam kehidupan orang-orang yang kita pimpin.

Transformasi Pribadi melalui Kepemimpinan Yesus

Buku ini diawali dengan refleksi penulis tentang perubahan sudut pandang terhadap makna kepemimpinan.

Sebagai pembaca, kita diajak untuk mengalami transformasi yang dimulai dari kehidupan personal yang kemudian bergerak memimpin orang lain dalam hubungan satu-satu (one on one), lalu memimpin satu tim atau kelompok, dan akhirnya memimpin satu organisasi atau masyarakat. Siklus ini dapat terjadi baik dalam peran hidup pribadi maupun organisasi. Dengan membaca buku ini, kita diharapkan mampu menjadi pemimpin yang memiliki hati untuk melayani seperti yang Yesus lakukan, bukan pemimpin yang ingin dilayani.

Buku ini terdiri atas tujuh bab yang di dalamnya terdiri atas pemaparan penulis mengenai cara sederhana menjadi pemimpin seperti Yesus. Pembaca juga diajak untuk memahami konsep kepemimpinan Yesus. Selain itu, pembaca juga diajak untuk memahami konsep, melakukan refleksi, menyusun rencana aksi, serta mengevaluasi diri melalui jurnal dan pertanyaan panduan.

Setiap prinsip yang disampaikan selalu dikaitkan dengan kebenaran Firman Tuhan dan diperkuat dengan kisah nyata dari penulis serta tokoh-tokoh lain. Selain itu, adanya lembar kerja berupa pertanyaan atau panduan untuk mendukung proses mengalami transformasi kepemimpinan seperti Yesus. Selamat membaca dan merasakan dampak dari buku ini. [PK3]

Referensi :
Blanchard, K., & Hodges, P. 2006. Lead Like Jesus: Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Masa. Jakarta: Visimedia. URL : https://www.leadlikejesus.com/

Inkonsistensi dalam Parenting: Apakah Berbahaya?

Mendidik dan membesarkan anak merupakan tanggung jawab besar yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua. Dalam konteks parenting, peran ini bukan sekadar kewajiban, tetapi panggilan hidup yang harus dijalankan dengan komitmen. Namun, realitas zaman sekarang menunjukkan bahwa banyak ibu turut mengambil peran sebagai pencari nafkah untuk membantu keuangan keluarga. Kondisi ini memunculkan isu baru: kalau begitu, siapakah yang akan mengasuh anak ketika kedua orang tuanya bekerja di luar rumah?

Para orang tua bekerja ini tentu membutuhkan bantuan pihak ketiga untuk menjaga anak mereka. Berbagai pilihan bisa diambil, mulai dari mempekerjakan suster atau asisten rumah tangga, menitipkan ke daycare, atau menitipkan ke keluarga. Yang terakhir ini pada umumnya pihak-pihak yang dianggap dekat dengan keluarga inti, misalnya tante, om, atau kakek dan nenek.

Opsi Parenting untuk Anak

Menitipkan anak kepada kakek dan nenek menjadi opsi paling menarik bagi orang tua yang bekerja. Dari sudut pandang parenting, hal ini dianggap lebih aman karena tetap berada dalam lingkup keluarga inti. Selain itu, mereka dianggap telah berpengalaman mengurus anak. Namun, ada hal yang harus diingat. Ketika orang tua menitipkan anak kepada kakek dan nenek, mereka harus memahami bahwa akan ada nilai-nilai yang berbeda dan hal tersebut bisa saja memunculkan kebingungan pada anak.

Mari kita ambil contoh. Misalnya, peraturan mengenai jam tidur siang. Bagi orang tua, anak wajib tidur siang agar tubuhnya lebih fit di sore hari dan bisa melakukan aktivitas lainnya dengan lebih bersemangat. Sementara itu, kakek dan nenek tidak tega untuk meminta cucu mereka tidur siang ketika masih asyik bermain.

Baca Juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Dampak Inkonsistensi Pola Asuh terhadap Emosi Anak

Adanya nilai yang berbeda ini akan menimbulkan perbedaan gaya parenting. Terjadilah inkonsistensi. Pihak A berkata 1, pihak B berkata 2. Anak pun akan mulai kebingungan. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, akan memengaruhi pertumbuhan emosionalnya yang mengarah kepada rasa frustrasi. Lalu, apa dampak dari kebingungan yang dialami anak ini?

1. Emosi anak menjadi tidak stabil.

Dia akan merasakan banyak kemarahan karena melihat bahwa lingkungannya “tidak nyaman”. Anak usia dini, khususnya, sangat memerlukan kenyamanan. Dengan melakukan aktivitasnya secara konsisten dan teratur, anak lebih mudah menerima kondisinya dan menyadari ekspektasi-ekspektasi yang diberikan kepadanya. Ketika anak berada di lingkungan yang membuatnya dapat memprediksikan kondisinya, dia akan memiliki perilaku yang positif.

2. Tidak bonding dengan orang tua.

Ketika anak melihat bahwa kakek dan neneknya secara konsisten membelanya (selalu berseberangan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh orang tuanya), anak akan melihat bahwa orang tuanya adalah pihak yang “jahat”, yang membuat mereka kesulitan untuk dekat dengan orang tuanya.

3. Merasa bersalah akan konflik yang terjadi.

Ketika ada perbedaan nilai, ada beberapa orang tua yang akhirnya mengonfrontasi kakek dan nenek. Hal ini berujung pada pertengkaran. Jika anak menyaksikan ini, akan muncul perasaan bersalah di dalam dirinya karena menjadi penyebab orang tuanya tidak akur dengan kakek dan neneknya.

4. Sulit mengenal diri dan identitas dirinya lemah.

Ketika anak berhasil mendapatkan nilai 6 di mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dia mendapatkan pujian dari orang tuanya karena sudah bekerja keras untuk mendapatkan nilai cukup. Sementara itu, bagi kakek dan nenek, nilai itu masih jauh dari cukup. Dia didorong untuk mendapatkan nilai lebih. Pengalaman ini yang terjadi di sepanjang hidupnya akan membuatnya kesulitan mengambil sikap.

5. Mengalami kecemasan dan sulit mengatasi masalah di masa dewasa.

Anak dengan pola asuh ganda akan kesulitan memutuskan sesuatu yang baik baginya. Selama hidupnya, dia melihat ada dua nilai berbeda. Ketika dia berada di kondisi harus mengatasi masalahnya sendiri, dia akan cemas karena ragu bahwa dirinya bisa mengambil keputusan yang tepat.

6. Munculnya agresi dan kekerasan.

Dalam kasus-kasus ekstrem, beberapa anak yang mengalami pola asuh yang tidak konsisten dapat membuatnya menjadi kriminal di masa depan. Tindakan kekerasan dilakukan karena dia tidak pernah merasa nyaman dengan lingkungan dan dirinya.

Solusi Parenting: Menetapkan Batasan dan Membangun Komunikasi

Jika saat ini Anda sedang mengalami masalah serupa, segera ambil tindakan dengan memberikan batasan-batasan. Perjelas bahwa aturan dan nilai-nilai Andalah yang harus diajarkan kepada anak.

Untuk memperdalam pemahaman tentang inkonsistensi dalam parenting, Anda dapat menyaksikan program Athalia on Parenting edisi 18 Juli 2020. Episode ini bertajuk “Pihak Ketiga Tidak Tega: Bisakah Kita Menyela?” dan membahas secara komprehensif tentang peran pihak ketiga dalam pengasuhan anak.

Silakan klik link ini untuk menonton: https://www.youtube.com/watch?v=ZRaKNWTTLz8


Menelusuri Sejarah Gerakan Pramuka di Indonesia

Oleh: Rundiyati, S.Pd., Koordinator Kepramukaan

Tenda, api unggun, tali-temali, dan sandi, tentulah tidak asing bagi kita. Itu semua bagian dari kegiatan pramuka. Kata “pramuka” sendiri merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya. Gerakan ini merupakan organisasi pendidikan nonformal dalam bidang kepanduan untuk melatih karakter dan keterampilan. Setiap tanggal 14 Agustus, Indonesia memperingati Hari Pramuka sebagai bentuk penghargaan terhadap gerakan ini.

Sebelum berkembang di Indonesia, gerakan ini telah berkembang terlebih dahulu di Inggris lewat pembinaan remaja yang dilakukan oleh Lord Robert Baden-Powell. Pada 1906–1907, Robert Baden-Powell menulis buku berjudul Scouting for Boys, yang berisi panduan bagi remaja untuk melatih keterampilan, ketangkasan, cara bertahan hidup, dan pengembangan dasar-dasar moral. Gagasan Baden-Powell menyebar ke berbagai negara dan menjadi gerakan kepanduan internasional, termasuk di Indonesia.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Mei 2020

Awal Mula Gerakan Pramuka di Indonesia

Istilah pramuka resmi digunakan untuk menyebut gerakan kepanduan nasional sejak 14 Agustus 1961. Idenya bermula dari gagasan Presiden Soekarno yang ingin menyatukan seluruh gerakan kepanduan di Indonesia karena pada masa itu terdapat 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam tiga federasi organisasi, yaitu PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia), POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia), dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia).

Misi utama gerakan pramuka adalah mendidik pemuda dan pemudi Indonesia sejak usia anak-anak untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan bela negara. Istilah “pramuka” sendiri dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang terinspirasi dari kata “Poromuko”.
Poromuko berarti pasukan terdepan dalam perang, kemudian disesuaikan menjadi Praja Muda Karana. Namun, kata pramuka diejawantahkan menjadi Praja Muda Karana yang berarti jiwa muda yang gemar berkarya. Lambang resmi gerakan ini adalah tunas kelapa, disahkan melalui Keputusan Presiden No. 238 Tahun 1961.

Tujuan dan Misi

Setiap anggota pramuka diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan sebagai bekal mengatasi segala permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa keterampilan yang diajarkan adalah menggunakan simpul; mendirikan tenda; mempelajari cuaca; serta menggunakan kompas, peta, dan berbagai sandi. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang ada diharapkan dapat menunjang pendidikan karakter.

Kegiatan ini bersifat menyenangkan karena di dalamnya ada nyanyian, permainan, tepuk tangan, tali-temali, sandi-sandi, dan kegiatan penjelajahan. Berbagai aktivitas ini dilakukan di tempat terbuka sehingga memberi ruang baru bagi siswa untuk mengekspresikan bakat dan minatnya secara bebas dan gembira. Di sisi lain, kegiatan ini juga melatih mental para siswa menjadi kuat karena mereka akan dibekali karakter disiplin, berani, dan bertanggung jawab seperti yang terdapat dalam Dasa Darma (sepuluh bakti) Pramuka.

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

Kami berharap anak-anak semakin mencintai kegiatan pramuka. Selamat Hari Pramuka! Dharmaku kubaktikan agar jaya Indonesia!

Belas Kasihan, Bertindak dengan Empati

belas kasihan

Belas kasihan sering disamakan dengan rasa kasihan, padahal keduanya berbeda secara mendasar. Perasaan ini berangkat dari pemahaman yang tulus terhadap penderitaan orang lain, lalu diikuti dengan niat untuk membantu dengan cara yang menghargai martabat mereka.

Dalam belas kasihan, kita tidak hanya hadir untuk membantu, tapi juga mendorong orang lain agar bangkit dan mandiri. Ini adalah bentuk empati aktif yang menolak hubungan yang timpang. Seseorang yang berbelas kasih tidak sekadar merasa iba, tapi juga bertindak dengan bijak, tidak merendahkan, dan tidak menciptakan ketergantungan. Misalnya, saat anak kesulitan belajar di rumah, kita bisa memilih untuk memahami tantangan anak, lalu mendukungnya menemukan kekuatan dari dalam dirinya sendiri.

Mari simak video ini!

Baca Juga : Titik Temu Antargenerasi – Terhubung dan Terlibat

Cobalah refleksikan: dalam interaksi harian kita, lebih sering mana kita merasa kasihan, dan kapan terakhir kita benar-benar berbelas kasih?

Baca Juga: Belas Kasihan

 

Kreatif yuk! Belajar Sains Bersama Anak. Emulsifikasi: Apakah Itu?

Selama mengisi waktu luang, Anda dapat mengajak anak belajar hal baru. Salah satunya belajar sains sederhana: apakah minyak dan air dapat menyatu? Untuk anak-anak usia sekolah dasar, pertanyaan ini mungkin dapat dijawab dengan mudah. Tentu minyak dan air tidak dapat menyatu! Namun, eksperimen tidak berhenti sampai situ. Kali ini, ajak anak untuk belajar lebih dalam lagi, yaitu membuktikan apakah minyak dan air benar-benar tidak dapat menyatu?

Dalam proses kimia, ada yang namanya emulsifikasi. Emulsifikasi adalah pemantapan emulsi dengan menambahkan dua cairan (zat) yang tidak dapat bercampur pada zat ketiga, kemudian dikocok kuat-kuat, misalnya air, minyak, dan deterjen (sabun). Emulsi sendiri merupakan cairan yang terbentuk dari campuran dua zat, zat yang satu terdapat dalam keadaan terpisah secara halus atau merata di dalam zat yang lainnya.

Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air
Minyak zaitun di dalam segelas air

Jadi, anak-anak akan belajar tentang proses penyatuan air dengan minyak menggunakan cairan lainnya. Tentu eksperimen ini akan membuat anak bertanya-tanya: benarkah minyak dan air dapat menyatu?

Untuk melakukan eksperimen ini, Anda perlu menyediakan bahan-bahan berikut.

  • Botol minum dengan mulut lebar/stoples kaca
  • Air
  • Pewarna makanan
  • Minyak goreng
  • Sabun pencuci piring.

Sebelum memulai eksperimen, Anda perlu memberikan pengantar kepada anak mengenai eksperimen kali ini.

  1. Memberikan pertanyaan: Apakah minyak dan air dapat bercampur dengan sempurna?
  2. Menjelaskan secara sederhana definisi emulsifikasi dan emulsi.
  3. Mempraktikkannya dengan melakukan eksperimen sederhana.

Mari mulai bereksperimen!

  1. Masukkan pewarna makanan ke dalam air.
  2. Tambahkan dua sendok air lagi ke dalam wadah.
  3. Tuangkan dua sendok minyak goreng ke dalam wadah tersebut.
  4. Tutup wadah, kemudian minta anak untuk mengocok botol tersebut sekuat tenaga. Bisa juga dengan mengaduknya menggunakan sendok.
  5. Letakkan botol itu dan minta anak memperhatikan cairan di dalamnya.

Saatnya berdiskusi!

Hentikan eksperimen sejenak, kemudian ajak anak untuk berdiskusi.

  1. Minta anak untuk menjelaskan hasil pengamatannya. Pancing anak untuk mempertanyakan fenomena tersebut.
  2. Jelaskan secara sederhana untuk memberikan konsep tentang perbedaan massa jenis pada cairan. Anda dapat menjelaskan kepada anak bahwa molekul yang ada di dalam air maupun minyak terikat kuat satu sama lain sehingga mereka tertarik dengan molekulnya sendiri. (Air terikat dengan molekulnya sendiri, minyak terikat dengan molekulnya sendiri.)
  3. Minta anak untuk memperhatikan eksperimennya kembali. Minyak berada di atas air. Jelaskan secara sederhana mengenai massa jenis atau kepadatan minyak yang lebih ringan dari air sehingga membuatnya berada di atas air.

Mari lanjutkan eksperimen ini!

Lanjutkan eksperimen ini dengan mengajak anak menambahkan satu cairan lagi, yaitu sabun pencuci piring.

  1. Tuangkan sabun pencuci piring ke dalam gelas berisi minyak dan air. Rasio sabun dengan minyak 1:1.
  2. Aduk campuran ketiganya sampai air dan minyak berubah warna menjadi keruh dan muncul busa.

Diskusikan lagi!

Ketika berhasil melakukan emulsifikasi sederhana ini, kembali ajak anak untuk berdiskusi. Utarakan pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Setelah mengaduk, apa yang terjadi? (Jawaban: minyak dan air dapat tercampur dengan sempurna.)
  2. Apa yang membuat minyak dan air—yang tadinya tidak dapat bercampur—tercampur dengan sempurna? (Jawaban: dicampur dengan sabun cuci piring.)
  3. Proses apa yang baru saja terjadi? (Jawaban: emulsifikasi.)
  4. Apa istilah untuk cairan minyak dan air yang sudah tercampur rata tersebut? (Jawaban: emulsi.)

Belajar sains bersama anak ternyata menyenangkan, ya! Selamat menikmati waktu berkualitas dengan anak! [SO]

Informasi tambahan:


Anda dapat menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin agar anak memahami konsep ini. Jangan lupa untuk menciptakan suasana yang menyenangkan agar anak tak merasa sedang “belajar serius”.
Dalam proses emulsifikasi, sabun pencuci piring inilah zat ketiga, yang disebut pengemulsi (emulgator) yang memiliki sifat mengikat dua cairan lainnya (minyak dan air).

Hal sederhana yang dapat dijadikan contoh adalah saat mencuci piring. Ketika piring yang penuh bekas minyak dibasahi menggunakan air kemudian ditambahkan sabun pencuci piring, minyak, air, dan busa menyatu dengan sempurna! Ketika Anda membilas piring tersebut, minyak dan air pun akan larut bersamaan, menghasilkan sebuah piring yang bersih dan siap digunakan kembali.

Ide eksperimen: https://bobo.grid.id/read/081247351/eksperimen-sederhana-mengapa-air-dan-minyak-tidak-tercampur?page=3
Referensi lain: dari berbagai sumber