Siapakah Athalia Parent Community?

Oleh: Pengurus APC

Athalia Parent Community (APC) merupakan komunitas orang tua siswa Athalia, sebuah sekolah di Serpong, dari Batita–SMA. Seluruh orang tua siswa merupakan anggota APC. Dibentuk pada 2002, APC digagas oleh para orang tua yang rutin mengikuti kelas parenting yang dibawakan oleh Ibu Charlotte Priatna. Fungsi utama APC, yaitu menjembatani komunikasi antara orang tua dengan sekolah sehingga terjalin kemitraan yang baik.

Berikut adalah struktur BPH (Badan Pengurus Harian) APC periode 2020-2022.

APC memiliki struktur organisasi yang terdiri atas BPH, CPR (Coordinator Parents Relation), CC (Class Coordinator), dan orang tua. BPH, CPR, dan CC merupakan pengurus sukarela yang memiliki hati melayani demi kepentingan siswa dan orang tua. CPR, bersama para CC, melakukan fungsi-fungsi konkret untuk mempererat relasi di antara orang tua siswa, serta relasi dengan sekolah.

Program APC

  • PIT (Parent in Touch). Ini merupakan kegiatan persekutuan doa mingguan yang dihadiri orang tua, guru, dan staf. Saat ini, karena kondisi pandemi, PIT diadakan secara daring setiap Rabu pukul 14.00-15.00.
  • GBK (Gerakan Berbagi Kasih). Ini merupakan gerakan berbagi yang dilakukan dengan sukacita dan sukarela oleh siswa, orang tua, guru, staf, bahkan Yayasan, kepada siswa yang orang tuanya sedang mengalami kesulitan keuangan agar bisa tetap bersekolah. Laporan rutin GBK bisa disimak di ALC News yang terbit setiap bulan.
  • Teacher’s Day. Ini merupakan kegiatan tahunan yang dipersiapkan oleh siswa dan orang tua bagi para guru dan staf.
  • Seminar. Berbagai kegiatan seminar bagi orang tua dilakukan untuk meningkatkan awareness, baik dalam hal parenting maupun relasi dengan pasangan (seminar pasangan, seminar parenting).
  • ABC (Athalia Book Club)*. Kegiatan bulanan yang diadakan oleh para orang tua yang memiliki kegemaran membaca. 
  • Family day. Kegiatan kebersamaan yang diadakan tahunan bagi siswa dan orang tua, serta melibatkan guru dan staf*. 
  • Kegiatan sosial. Pada umumnya, APC mengadakan kegiatan buka puasa bersama atau halal bihalal untuk para OB, CS, dan security.*

*Untuk sementara tidak ada kegiatan.

Kami menyambut para orang tua yang baru bergabung ke dalam Komunitas Athalia. Selamat datang di APC! Kami berharap semakin banyak orang tua yang terpanggil untuk melayani dalam wadah APC ini, membuat komunitas ini semakin solid sehingga kemitraan dengan sekolah senantiasa berjalan dengan baik.

Generasi Z vs Sosial Media

Oleh: Fanuel Renaldy Sugiarto

Beberapa bulan terakhir, dunia mengalami perubahan besar akibat pandemi. Segala lini kehidupan dipaksa untuk beradaptasi, termasuk dunia pendidikan. Proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan di sekolah, melainkan dari rumah. Siswa harus mengikuti kelas daring tanpa bisa bertemu langsung dengan teman atau pengajar. Itulah yang dialami para siswa Sekolah Athalia. Mereka memulai tahun ajaran baru melalui layar komputer, bukan di ruang kelas. Pertanyaannya, apakah kondisi ini menjadi masalah serius bagi anak-anak zaman sekarang?

Dunia Digital yang Menjadi Rumah Kedua

Tanpa kita sadari, banyak masalah yang muncul di dalam diri para remaja yang berhubungan dengan platform daring. Namun kini, sudah empat bulan lebih mereka melakukan pembelajaran secara daring—mengumpulkan tugas, melaksanakan ujian sekolah, proyek mata pelajaran, bahkan sesi kelas tatap muka pun harus dilakukan dengan platform daring.

Pertanyaannya, apakah benar mereka sedang beradaptasi dengan metode daring atau sebenarnya sudah menjadi “warga” dunia daring dan teknologi digital? Tidak bisa dipungkiri, anak-anak remaja saat ini adalah generasi digital. Menurut Hanlie Muliani dalam webinar berjudul “Memahami 7 Karakteristik Gen Z dan Parenting Style untuk Gen Z” yang dilaksanakan pada 4-5 Mei 2020, para remaja ini disebut sebagai generasi local residents di zaman kemajuan teknologi sehingga berhasil menciptakan sebuah era baru dalam dunia sosial. Mereka bisa berteman dengan siapa saja dari seluruh dunia hanya dalam sekali klik di komputer atau gadget mereka.

Baca Juga : Diatur Waktu atau Mengatur Waktu?

Media Sosial sebagai Jembatan Sosial Generasi Z

Fenomena sosial di kalangan generasi Z menunjukkan bahwa meskipun tidak bisa bertemu langsung, mereka tetap bisa akrab melalui media sosial. Platform seperti Instagram, Twitter, dan Facebook menjadi ruang komunikasi, ekspresi, dan solidaritas. Media sosial memungkinkan remaja menjalin hubungan dan mempertahankan interaksi secara intens. Bahkan, para remaja kini lebih menguasai media sosial dibandingkan orang tua mereka. Jadi, di awal Tahun Pelajaran 2020-2021 ini, apakah menjadi sebuah masalah bagi para remaja saat mereka tidak bisa bertemu teman?

Kebanyakan dari mereka mungkin sedang mengeluh betapa bosannya di rumah dan merindukan untuk bisa kembali bertemu teman-teman di sekolah. Menurut penelitian Barna (2019), kebanyakan dari para remaja ini memang sudah merasa saling terhubung, tetapi perasaan dicintai dan didukung oleh orang lain tidaklah sebesar itu. Itulah mengapa hari-hari ini mereka sangat mudah untuk memiliki teman, tetapi tidak dapat membangun rasa saling mengasihi satu sama lain dengan maksimal karena mereka kesulitan bertemu secara tatap muka.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Generasi Z

Menyikapi fenomena ini, orang tua diharapkan bisa membangun hubungan atau relasi yang hangat dengan anak-anak supaya mereka tetap merasakan dukungan dan punya teman untuk bicara di masa-masa PJJ. Harapannya, lewat hubungan yang dibangun dengan anak-anak, orang tua bisa membimbing para remaja menggunakan media sosial dengan lebih bijak. Kiranya interaksi-interaksi di media sosial atau post yang di-upload boleh menjadi berkat bagi yang melihat dan menyaksikannya.

Biarlah setiap orang tua di awal tahun ajaran ini semakin dimampukan Tuhan untuk membimbing anak remaja mereka tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan di masa-masa pembelajaran online ini.

Referensi:
Barna Group. 2019. The Connected Generation: How Christian Leaders Around the World Can Strengthen Faith and Well-Being Among 18-35-Year-Olds. California: Barna Group.

Menelusuri Sejarah Gerakan Pramuka di Indonesia

Oleh: Rundiyati, S.Pd., Koordinator Kepramukaan

Tenda, api unggun, tali-temali, dan sandi, tentulah tidak asing bagi kita. Itu semua bagian dari kegiatan pramuka. Kata “pramuka” sendiri merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya. Gerakan ini merupakan organisasi pendidikan nonformal dalam bidang kepanduan untuk melatih karakter dan keterampilan. Setiap tanggal 14 Agustus, Indonesia memperingati Hari Pramuka sebagai bentuk penghargaan terhadap gerakan ini.

Sebelum berkembang di Indonesia, gerakan ini telah berkembang terlebih dahulu di Inggris lewat pembinaan remaja yang dilakukan oleh Lord Robert Baden-Powell. Pada 1906–1907, Robert Baden-Powell menulis buku berjudul Scouting for Boys, yang berisi panduan bagi remaja untuk melatih keterampilan, ketangkasan, cara bertahan hidup, dan pengembangan dasar-dasar moral. Gagasan Baden-Powell menyebar ke berbagai negara dan menjadi gerakan kepanduan internasional, termasuk di Indonesia.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Mei 2020

Awal Mula Gerakan Pramuka di Indonesia

Istilah pramuka resmi digunakan untuk menyebut gerakan kepanduan nasional sejak 14 Agustus 1961. Idenya bermula dari gagasan Presiden Soekarno yang ingin menyatukan seluruh gerakan kepanduan di Indonesia karena pada masa itu terdapat 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam tiga federasi organisasi, yaitu PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia), POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia), dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia).

Misi utama gerakan pramuka adalah mendidik pemuda dan pemudi Indonesia sejak usia anak-anak untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan bela negara. Istilah “pramuka” sendiri dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang terinspirasi dari kata “Poromuko”.
Poromuko berarti pasukan terdepan dalam perang, kemudian disesuaikan menjadi Praja Muda Karana. Namun, kata pramuka diejawantahkan menjadi Praja Muda Karana yang berarti jiwa muda yang gemar berkarya. Lambang resmi gerakan ini adalah tunas kelapa, disahkan melalui Keputusan Presiden No. 238 Tahun 1961.

Tujuan dan Misi

Setiap anggota pramuka diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan sebagai bekal mengatasi segala permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa keterampilan yang diajarkan adalah menggunakan simpul; mendirikan tenda; mempelajari cuaca; serta menggunakan kompas, peta, dan berbagai sandi. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang ada diharapkan dapat menunjang pendidikan karakter.

Kegiatan ini bersifat menyenangkan karena di dalamnya ada nyanyian, permainan, tepuk tangan, tali-temali, sandi-sandi, dan kegiatan penjelajahan. Berbagai aktivitas ini dilakukan di tempat terbuka sehingga memberi ruang baru bagi siswa untuk mengekspresikan bakat dan minatnya secara bebas dan gembira. Di sisi lain, kegiatan ini juga melatih mental para siswa menjadi kuat karena mereka akan dibekali karakter disiplin, berani, dan bertanggung jawab seperti yang terdapat dalam Dasa Darma (sepuluh bakti) Pramuka.

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

Kami berharap anak-anak semakin mencintai kegiatan pramuka. Selamat Hari Pramuka! Dharmaku kubaktikan agar jaya Indonesia!

Lebih Dekat dengan Siswa melalui “Parent’s Teaching”

Oleh: Elisa Christanto, Orang Tua Siswa

Mengajar Anak TK Lewat Cerita: Awal Sebuah Pengalaman Berharga

Keinginan saya sederhana — mendukung proses belajar mengajar di sekolah anak bungsu saya. Karena itu, saya tidak berpikir panjang ketika mendapat tawaran untuk menjadi relawan dalam program Parent’s Teaching di unit TK Sekolah Athalia.

Kegiatan kali ini mengusung konsep storytelling dengan tema “Kelinci.” Saya pun mulai mempelajari tema tersebut dan menyusun konsep cerita yang menarik. Sambil berjalan, saya juga mengamati karakter anak-anak Pra-TK agar bisa menyesuaikan gaya bercerita.

Untuk mewujudkan ide ini, saya mengajak beberapa orang tua lain untuk berperan sebagai singa dan kelinci. Syukurlah, banyak orang tua Athalia yang ringan tangan dan dengan sukacita bersedia membantu.


Persiapan dan Latihan Menuju Hari Pertunjukan

Kami mengadakan beberapa kali pertemuan dan latihan, hingga tibalah hari pelaksanaan pada 11 Februari 2020.
Meskipun persiapannya terbilang singkat dan sederhana, kami melangkah dengan penuh semangat — karena tahu bahwa momen ini akan berkesan bagi anak-anak.

Kami membawakan cerita tentang singa dan kelinci dalam dua sesi: pagi dan siang.


Sesi Pagi: Anak-Anak Audio Visual yang Menyimak dengan Antusias

Pada sesi pagi, kami terkesima melihat anak-anak yang begitu manis. Mereka duduk rapi dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Saya mengamati bahwa sebagian besar anak-anak bertipe audio-visual, sehingga kisah dengan peraga visual sangat menarik bagi mereka.

Saat diminta berpartisipasi, mereka dengan penuh semangat mendekati “sumur” tempat singa melompat. Suasana begitu hidup dan penuh tawa.


Sesi Siang: Anak-Anak Kinestetik yang Ceria dan Energik

Sesi kedua diikuti oleh anak-anak dari kelas Apple 1 dan Grape 1. Kali ini suasananya lebih ramai dan ceria. Anak-anak terlihat kinestetik dan sangat antusias!

Ketika diminta memanggil karakter dalam cerita, mereka kompak berteriak,

“Kelinciii!” dan “Singa!!!”

Peran singa yang dimainkan dengan penuh penghayatan membuat anak-anak terbawa suasana hingga spontan mundur saat “singa” mendekat. Sebaliknya, kelinci yang lucu dan menggemaskan membuat anak-anak ingin menyapanya.


Manfaat Parent’s Teaching: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Secara keseluruhan, acara ini sangat menyenangkan dan layak dipertahankan. Ada banyak manfaat positif yang bisa dipetik dari kegiatan Parent’s Teaching ini:

  1. Membangun hubungan hangat antara sekolah dan orang tua.
    Melibatkan orang tua dalam proses belajar menciptakan suasana yang luwes dan akrab.
  2. Memanfaatkan talenta orang tua untuk mendukung pembelajaran.
    Setiap orang tua bisa berkontribusi sesuai kemampuan dan keunikannya.
  3. Menumbuhkan rasa percaya antara orang tua dan sekolah.
    Saat orang tua mengetahui bahwa proses belajar di sekolah berjalan baik, mereka merasa lebih nyaman dan percaya pada lembaga pendidikan anaknya.
  4. Mendorong kepedulian terhadap pendidikan anak.
    Sekolah senang bila orang tua turut peduli dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar.

Sukacita Menjadi Pencerita

Bagi saya pribadi, menjadi pencerita dalam program ini adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tak pernah terbayang sebelumnya bisa “mengajar” di lingkungan sekolah formal, meski hanya sejenak.

Saya sungguh bersyukur diberi kesempatan ini, karena kegiatan seperti ini bukan hanya tentang sekolah atau orang tua — tetapi tentang anak-anak yang menjadi pusat dari setiap upaya kita.


Ajak Orang Tua Lain untuk Terlibat

Saya berharap semakin banyak orang tua yang mau ikut terlibat dalam kegiatan sekolah anak.
Mari gunakan talenta yang Tuhan berikan untuk menyukakan hati-Nya dengan cara membahagiakan orang lain, termasuk anak-anak kita sendiri.

Yuk, jadikan momen kecil seperti ini sarana besar untuk menanamkan sukacita belajar bagi generasi muda!

Kehangatan yang Terjalin di Pra-event Temu Alumni

Oleh: Martin Manurung, konselor SMA.

Semangat “We Are One” di Usia 25 Tahun Sekolah Athalia

Dalam rangka merayakan HUT ke-25 Sekolah Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong, diadakan serangkaian kegiatan bertema “We Are One.”
Salah satu kegiatan istimewanya adalah Pra-Event Temu Alumni, yang menjadi ajang pemanasan sebelum acara puncak Temu Raya Alumni pada 8 Agustus 2020.

Panitia menargetkan 350 alumnus dari delapan angkatan untuk hadir dan bersatu dalam acara utama nanti. Mereka akan berkumpul, berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mempererat relasi demi menyatukan langkah alumni Sekolah Athalia di berbagai bidang kehidupan.


Tujuan dan Makna Acara Pra-Event Temu Alumni

Mengumpulkan delapan angkatan alumni Athalia yang kini tersebar di berbagai kota, bahkan hingga luar negeri, bukan hal yang mudah. Karena itu, Pra-Event Temu Alumni diadakan dengan dua tujuan utama:

  1. Membangun semangat dan antusiasme alumni menjelang acara puncak Temu Raya.
  2. Menghidupkan kembali rasa kebersamaan dan kekeluargaan setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, baik dengan teman seangkatan maupun para guru.

Persiapan kegiatan ini dilakukan selama kurang lebih dua bulan, melibatkan banyak pihak dari alumni hingga siswa aktif SMA Athalia.


Persiapan oleh Alumni dan Siswa Aktif

Tim panitia terdiri dari para alumni — Keia, Disa, Moses, Adit, Andy, Krishna, Andrew, Kenisha, Kezia Adelia, Fily, dan Marcella — serta beberapa siswa aktif SMA Athalia seperti Kelvin, Jordan, dan Victor.
Keterlibatan lintas generasi ini mencerminkan semangat “We Are One” yang sesungguhnya.

Acara pra-event dilaksanakan pada Sabtu, 29 Februari 2020 pukul 18.00–22.00, dan berhasil menjadi momen penuh sukacita bagi seluruh peserta.


Jalannya Acara: Penuh Canda, Musik, dan Nostalgia

Acara dipandu oleh Bapak Martin Manurung dan Ester Kumala Tantri (Angkatan 3) sebagai MC.
Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Pak Presno, kemudian dilanjutkan dengan permainan tebak lagu yang mencairkan suasana.

Momen ini juga dimanfaatkan untuk saling menyapa dan menanyakan kabar para alumni — termasuk status relasi mereka yang menjadi bahan canda segar di antara teman lama.

Suasana nostalgia semakin terasa lewat kuis kenangan masa SMA dan cerita-cerita “kenakalan lucu” semasa sekolah yang dibagikan oleh beberapa alumni.


Barbeque dan Musik yang Menghangatkan Malam

Keseruan malam itu berlanjut dengan pertunjukan musik dari para alumni dan guru yang menambah keakraban suasana.
Acara semakin meriah ketika para alumni dibagi ke dalam kelompok angkatan untuk barbeque (BBQ) bersama.

Di tengah gelak tawa dan aroma daging bakar, terlihat para alumni berbincang santai dengan guru-guru yang dulu mengajar mereka.
Kehangatan hubungan antara guru dan murid lama membuat malam itu begitu berkesan.


Dukungan dari Guru, OSIS, dan Orang Tua

Acara pra-event ini juga mendapat dukungan dari perwakilan OSIS SMA Athalia serta orang tua alumni yang turut berkontribusi melalui donasi dan konsumsi.
Beberapa guru SD dan SMP yang pernah mengajar para alumni juga turut hadir, menambah suasana nostalgia semakin kental.

Tercatat 115 alumni dari angkatan pertama hingga ketujuh hadir dalam acara ini — jumlah yang membuktikan semangat kebersamaan masih kuat di antara keluarga besar Sekolah Athalia.


Harapan untuk Temu Raya Alumni 2020

Seluruh peserta, baik alumni maupun guru, tampak antusias dan menikmati setiap momen dalam acara pra-event ini.
Harapannya, Temu Raya Alumni pada 8 Agustus 2020 dapat berlangsung lebih meriah, dihadiri lebih banyak alumnus, dan menjadi momentum penting untuk mempererat relasi seluruh keluarga besar Athalia.

Seminar Pernikahan Marriage Oneness: Menguatkan Kesatuan Pernikahan Kristen

Oleh: Jessica Jeanne P. Rossall

Merayakan HUT ke-25 Sekolah Athalia dengan Seminar Marriage Oneness

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HUT ke-25 Sekolah Athalia—sekolah Kristen di BSD, Serpong—diadakan seminar khusus bagi pasangan suami istri bertema “Marriage Oneness.”
Seminar pernikahan ini diselenggarakan pada Sabtu, 22 Februari 2020, dan dibawakan secara menarik oleh Bapak Rizal dan Ibu Rina Badudu.

Kegiatan ini dihadiri oleh 51 pasangan, terdiri atas orang tua murid Athalia dan Pinus, para guru, staf, serta beberapa peserta dari luar komunitas Athalia.


Konsep Seminar yang Berbeda dan Penuh Kreativitas

Sejak awal, seminar ini dirancang berbeda dari acara-acara biasanya. Tim panitia berupaya menghadirkan pengalaman yang unik, interaktif, dan berkesan bagi setiap pasangan.
Bahkan, sejak peserta tiba di lokasi, mereka sudah merasakan nuansa yang tidak biasa.

Setiap meja telah disiapkan dengan nama pasangan yang telah ditentukan, menciptakan suasana personal. Sebelum duduk, peserta diarahkan untuk berfoto bersama pasangan oleh tim dokumentasi—yang terdiri dari beberapa siswa sukarelawan Athalia—untuk mengabadikan momen berharga tersebut.


Dua Bagian Utama: Sesi Seminar dan Intimate Moment

Acara terbagi menjadi dua bagian utama:

  1. Sesi Seminar, dan
  2. Sesi Intimate Moment.

Sesi Seminar: Menyelami Firman Tuhan tentang Kesatuan Pernikahan

Dalam sesi ini, Bapak Rizal dan Ibu Rina Badudu bergantian membagikan dasar firman Tuhan tentang pernikahan Kristen.
Peserta diajak menyelami kembali makna kesatuan dalam pernikahan dan memahami tantangan-tantangan nyata yang sering dihadapi pasangan, terutama dalam hal komunikasi dan penyelesaian konflik.

Kurangnya kemampuan problem solving sering kali menyebabkan pola konflik yang sama terus berulang. Karena itu, peserta juga dilatih untuk menemukan solusi bersama atas masalah yang sering muncul di rumah tangga.

Sebagai penutup, sesi ini diakhiri dengan analogi “Ballroom Dancing” — simbol keharmonisan dan kerja sama dalam pernikahan. Banyak pasangan menikmati kesempatan ini karena untuk sebagian, ini adalah pengalaman pertama mereka belajar menari berpasangan.


Sesi Intimate Moment: Dari Permainan hingga Tarian Romantis

Tidak berhenti pada teori, panitia menghadirkan berbagai aktivitas yang membuat pasangan terlibat langsung dan saling berinteraksi.

Sesi makan bersama menjadi salah satu momen paling berkesan.
Para istri ditutup matanya dan belajar percaya penuh pada suami, mulai dari mengambil makanan hingga kembali ke tempat duduk.
Sementara itu, para suami melayani istrinya dengan mengambilkan makanan yang disukai dan bahkan menyuapi pasangan mereka.

Setelah makan, acara dilanjutkan dengan permainan seru bertema “I Know You.”
Setiap pasangan duduk saling membelakangi, lalu menjawab beberapa pertanyaan tentang pasangannya. Setelah itu, jawaban mereka dicocokkan — menghasilkan banyak tawa, candaan, dan juga kehangatan.


Momen Puncak: Berdansa Bersama Pasangan

Satu momen paling istimewa pun tiba.
Setiap pasangan diberi kesempatan untuk berdansa bersama diiringi lagu lembut, menciptakan suasana penuh kasih dan romantis.
Bagi banyak peserta, ini menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan — seolah waktu berhenti sejenak untuk menikmati keintiman bersama pasangan.

Acara kemudian ditutup oleh Bu Charlotte dengan doa.
Beliau menyampaikan harapan agar setiap pasangan semakin diberkati dan dimampukan menjaga kesatuan dalam pernikahan mereka.


Refleksi: Kesatuan yang Diperkuat oleh Kasih

Seminar Marriage Oneness bukan sekadar kegiatan rohani, tetapi juga sebuah perjalanan emosional dan spiritual bagi para peserta untuk memperdalam hubungan mereka.
Lewat pengalaman sederhana namun bermakna — seperti berdansa, bermain, dan saling melayani — para pasangan belajar kembali bahwa pernikahan adalah kerja sama yang indah di hadapan Tuhan.

foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan
foto seminar pernikahan

Pentingnya Bahasa Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak

Oleh: Lidia Kurniasari, Guru Bahasa Indonesia SMA

Bahasa sebagai Alat Interaksi Sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup berdampingan dan membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi serta bersosialisasi. Kemampuan ini sangat penting untuk memperkecil kesalahpahaman dalam komunikasi. Salah satu instrumen utama yang membantu manusia berinteraksi adalah bahasa.

Bahasa berperan penting sebagai alat komunikasi. Kemampuan berbahasa yang baik dapat meningkatkan kualitas interaksi dan mempererat hubungan antarindividu.


Peran Keluarga dalam Pemerolehan Bahasa Ibu

Konsep komunikasi pertama kali dipelajari di lingkungan tempat seseorang dilahirkan — yaitu keluarga. Orang tua memegang peranan penting dalam proses pemerolehan bahasa pada anak, yang dikenal sebagai bahasa ibu atau mother tongue.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai oleh manusia sejak lahir melalui interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak belajar bahasa pertama dengan cara mendengar komunikasi di sekitarnya, menyimpannya dalam “gudang bahasa”, lalu mengolahnya menjadi kalimat.


Bahasa Ibu sebagai Dasar Cara Berpikir

Kemampuan seseorang menguasai bahasa ibu berpengaruh besar terhadap proses belajar berikutnya. Bahasa menjadi dasar cara berpikir, membentuk pola logika dan pemahaman anak terhadap dunia di sekitarnya.

Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari pentingnya penggunaan bahasa ibu dalam pembentukan karakter anak. Saat anak mulai memasuki lingkungan masyarakat yang lebih luas, bahasa ibu membantu mereka memahami nilai, norma, dan budaya bangsanya sendiri.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membangun kemampuan berbahasa anak antara lain:

  • Siapa yang berbicara dan diajak bicara,
  • Tempat dan waktu interaksi,
  • Topik pembicaraan, serta
  • Bahasa yang digunakan.

Dengan memahami hal-hal tersebut, orang tua dapat membantu anak menggunakan bahasa secara tepat dan berkarakter.


Tantangan Pelestarian Bahasa Ibu di Era Digital

Anak-anak zaman sekarang lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau melalui media sosial. Mereka cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing karena menganggap hal itu membuka peluang karier dan koneksi global.

Pandangan tersebut tidak salah, namun tanggung jawab mempertahankan bahasa ibu tidak boleh diabaikan. Bahasa adalah jendela untuk memandang realitas kehidupan. Hilangnya bahasa berarti hilangnya cara pandang, nilai, etika, dan norma suatu bangsa.

Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kecintaan pada bahasa ibu, sembari tetap memberikan kesempatan anak belajar bahasa asing. Dengan begitu, anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.


Peran Sekolah dan Orang Tua dalam Melestarikan Bahasa Ibu

Sekolah juga memiliki peran penting dalam pelestarian bahasa ibu. Contohnya, Sekolah Athalia—sebuah sekolah di BSD, Serpong— sebagai sekolah Kristen yang menekankan pembentukan karakter, berkomitmen menjadi wadah bagi siswa untuk mencintai bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Kesadaran bersama antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan penggunaan bahasa ibu baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Dengan memberikan teladan yang baik, anak-anak akan lebih mudah memahami nilai luhur bangsanya melalui bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.


Menumbuhkan Cinta Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah

Pemerintah Indonesia telah menetapkan slogan:
“Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Pelajari Bahasa Asing.”

Slogan ini mengandung pesan kuat agar masyarakat, terutama generasi muda, tetap menjadikan bahasa ibu sebagai jati diri bangsa. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah harus diutamakan dan dilestarikan, sementara bahasa asing dipelajari sebagai jembatan komunikasi global.


Kesimpulan: Bahasa Ibu adalah Identitas dan Karakter Bangsa

Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya dan cerminan karakter bangsa. Melalui bahasa itu, anak belajar berpikir, beretika, dan memahami nilai kehidupan.

Peran orang tua dan guru sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh teknologi.
Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan tanamkan kebanggaan berbahasa kepada generasi penerus bangsa.

Cairnya Kebersamaan dalam Natal Parents In Touch (PIT) 2019

Elisa Christanto, (orang tua siswa)

Parents In Touch (PIT) adalah kegiatan kolaborasi oleh orang tua, guru, dan staf yang ada di dalam wadah komunitas Athalia. Ini bukan sembarang kegiatan karena di dalam PIT-lah orang tua, guru, dan staf di komunitas Athalia bergandengan tangan saling mendukung di dalam persekutuan doa.

Pada Rabu, 11 Desember 2019, PIT merayakan Natal. Persekutuan kali ini terasa begitu istimewa karena PIT yang biasanya dibagi dua sesi, digabung sehingga kami bisa saling menyapa dan berkenalan—bagi yang belum saling mengenal. Kami juga kedatangan beberapa tamu spesial yang baru datang untuk pertama kalinya.

Pada Natal PIT kali ini, kami diajak untuk merenungi firman Tuhan yang diambil dari 1 Yohanes 2:2. Bu Nosta, sebagai pembawa firman, menyampaikan bahwa Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa. Bukan hanya dosa kita, tetapi dosa seluruh dunia. Meski demikian, pendamaian dosa itu diberikan-Nya jika kita menuruti perintah-perintah-Nya. Sudah seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur bahwa Yesus datang sebagai pendamai dosa-dosa kita.

Kebersamaan dalam Komunitas

Seperti sesi PIT biasanya, kami menutupnya dengan doa dan melanjutkannya dengan kebersamaan. Beragam hidangan telah tersedia. Momen kali ini terasa spesial karena baik para orang tua maupun staf menjadi penyedia santapan kami pada hari itu. Sembari menyantap makanan, kami larut dalam perbincangan. Kami saling bertukar kabar dan berbagi cerita.

Suasana itu tak berjarak, tak bersekat. Guru, orang tua, dan staf saling membaur, bercerita layaknya seorang sahabat. Saling mendengar cerita, bahkan tak kikuk untuk saling memuji dan melepas tawa bersama. Di mana lagi bisa kita jumpai persahabatan seperti ini jika bukan di dalam komunitas Athalia?

Saya merefleksikannya dari renungan yang disampaikan dalam Natal PIT yang lalu. Yesus hadir ke dunia untuk menjadi Juru Pendamai dosa dunia alias menjadi Juru Selamat. PIT menjadi sarana yang membentuk hati dan sikap setiap orang yang hadir agar semakin dimampukan dan dilayakkan untuk mendapat pendamaian atas dosa-dosa.

Di dalam PIT, kami menemui banyak kesaksian yang bisa memberkati kami. Saat melangkah keluar dari aula E, kami bisa membawa berkat itu dan menyampaikannya kepada lebih banyak jiwa di luar sana. Hati yang gelisah bagaikan tersiram air yang sejuk. Beberapa datang dengan hati yang sedih, hati yang keras, hati yang patah. Yang lainnya menopang, menguatkan, dan memberikan penghiburan. Di dalam komunitas ini, kami berbagi sukacita dan mendoakan setiap anak yang ada di sekolah ini.

Kerinduan bersekutu

Aktivitas yang terjadi setiap sesi PIT menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana hati dan sikap kami turut dibentuk di dalam persekutuan ini. Doa, yang notabene merupakan cara untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, juga menjadi fokus utama dalam persekutuan ini.

Sebagai orang tua siswa yang merasa sangat diberkati oleh persekutuan ini, kami mengharapkan semakin banyak anggota komunitas ini yang bergabung dalam PIT. Kami merasa menemukan komunitas yang tepat untuk bersama mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Komunikasi kami dengan Tuhan di dalam doa semakin intens.

Kehidupan tanpa doa bagaikan makanan tanpa garam. Hambar, hampa, kelu, sendu, dan sulit menemukan sukacita. Dengan doa, apalagi berdoa bersama-sama di dalam nama Yesus Kristus, semuanya menjadi benderang dan terasa indah.

Mari, kita satukan hati untuk berdoa bersama dalam “Parents In Touch” setiap Rabu.

We wish you a Merry Christmas 2019, and happy New Year 2020.

God bless!

Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch
Parents In Touch

Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia

Oleh: Beryl Sadewa, guru SMP

Penghargaan untuk Anggota Boys’ Brigade Cabang 4 Sekolah Athalia

Pada Jumat, 6 Desember 2019, Boys’ Brigade (BB) Cabang 4 Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mengadakan kegiatan Award Day.
Acara ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota BB yang telah memenuhi berbagai persyaratan pencapaian di bidang tertentu.

Dalam kegiatan ini, sejumlah lencana diberikan kepada anggota yang berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan.


Daftar Lencana dan Jumlah Penerimanya

Berikut daftar lencana yang dibagikan pada kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia 2019:

  • Lencana Target: 127 anggota
  • Lencana Perkemahan: 48 anggota
  • Lencana Pelayanan Masyarakat: 123 anggota
  • Lencana Olahraga: 23 anggota
  • Lencana Hobi: 6 anggota
  • Lencana Seni: 15 anggota
  • Lencana Kewarganegaraan: 19 anggota
  • Lencana Pendidikan Agama Kristen: 31 anggota

Setiap lencana memiliki makna dan nilai pembelajaran tersendiri bagi para anggota.


Kriteria dan Proses Perolehan Lencana

Untuk mendapatkan lencana-lencana tersebut, setiap anggota harus memenuhi kriteria tertentu sesuai bidangnya.
Kriteria ini berupa seperangkat kemampuan atau pengetahuan yang diajarkan dalam kegiatan kelas parade BB, serta tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kegiatan rutin.

Sebagai contoh:

  • Lencana Pelayanan Masyarakat mensyaratkan anggota melakukan kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, seperti pelayanan di panti asuhan.
  • Lencana Olahraga dan Lencana Hobi menuntut pengembangan keterampilan dan disiplin.

Proses ini mengajarkan setiap anggota untuk berkomitmen, bertanggung jawab, dan berjuang dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.


Pengembangan Empat Aspek Kehidupan

Pemberian lencana bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat motivasi bagi anggota Boys’ Brigade untuk berkembang dalam empat aspek kehidupan:

  1. Pengetahuan (Intellectual) – meningkatkan wawasan dan keterampilan.
  2. Fisik (Physical) – melatih kekuatan dan kedisiplinan tubuh.
  3. Sosial (Social) – menumbuhkan semangat kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.
  4. Spiritual (Spiritual) – memperdalam iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.

Melalui proses memperoleh lencana, para anggota bertumbuh menjadi pribadi yang seimbang dalam aspek intelektual, fisik, sosial, dan spiritual.


Peran NCO dan Officer dalam Award Day

Acara Award Day diatur dan dijalankan oleh NCO (Non-Commissioned Officer), yaitu para anggota BB yang dipercaya sebagai pemimpin rekan-rekannya. Mereka menyiapkan seluruh keperluan acara, mulai dari logistik lencana, perlengkapan, tata cara penyematan, hingga dokumentasi.

Seluruh kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan para Officer (guru pendamping).
Keterlibatan NCO ini tidak hanya memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi latihan berorganisasi dan melayani sesama.


Kesimpulan: Award Day sebagai Ajang Pembentukan Karakter

Kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia bukan hanya tentang pemberian lencana, tetapi juga merupakan perayaan hasil kerja keras, kedisiplinan, dan pertumbuhan karakter siswa.

Melalui kegiatan ini, setiap anggota belajar bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan — seorang pemimpin yang memiliki semangat tangguh, hati yang melayani, dan karakter yang berintegritas.
Award Day menjadi momen berharga yang meneguhkan semangat “Sure & Stedfast” — teguh dalam iman dan pelayanan.


Mengasihi Anak Bukan Berarti Memanjakan: Cara Membentuk Daya Juang Anak di Era Modern

daya juang anak

Anak Zaman Sekarang dan Tantangan Kenyamanan

Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.

Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.

Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.


Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak

Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya.
Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.


1. Berani Menanggung Risiko

Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.

Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.

Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.


2. Berani Direpotkan

Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.

Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.

Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.


3. Berani Malu

Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.

Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.

Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.


Mengasihi atau Mengasihani?

Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:

“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”

Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan.
Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.

Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.


Kesimpulan

Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.

Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.

Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”

(dln)