Judul : Character Excellence Penulis : Rizal Badudu Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun terbit : 2019 Jumlah halaman: 228 halaman
Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.
Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.
Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.
Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.
Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.
Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi. Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.
Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan
Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.
Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.
Harapan Orang Tua vs. Realita Anak
Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.
Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan? Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya? Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.
Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya
Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.
Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.
Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.
Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat
Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.
Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter. Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.
Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus
Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih. Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.
Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)
Penghargaan untuk Anggota Boys’ Brigade Cabang 4 Sekolah Athalia
Pada Jumat, 6 Desember 2019, Boys’ Brigade (BB) Cabang 4 Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mengadakan kegiatan Award Day. Acara ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota BB yang telah memenuhi berbagai persyaratan pencapaian di bidang tertentu.
Dalam kegiatan ini, sejumlah lencana diberikan kepada anggota yang berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan.
Daftar Lencana dan Jumlah Penerimanya
Berikut daftar lencana yang dibagikan pada kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia 2019:
Lencana Target: 127 anggota
Lencana Perkemahan: 48 anggota
Lencana Pelayanan Masyarakat: 123 anggota
Lencana Olahraga: 23 anggota
Lencana Hobi: 6 anggota
Lencana Seni: 15 anggota
Lencana Kewarganegaraan: 19 anggota
Lencana Pendidikan Agama Kristen: 31 anggota
Setiap lencana memiliki makna dan nilai pembelajaran tersendiri bagi para anggota.
Kriteria dan Proses Perolehan Lencana
Untuk mendapatkan lencana-lencana tersebut, setiap anggota harus memenuhi kriteria tertentu sesuai bidangnya. Kriteria ini berupa seperangkat kemampuan atau pengetahuan yang diajarkan dalam kegiatan kelas parade BB, serta tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kegiatan rutin.
Sebagai contoh:
Lencana Pelayanan Masyarakat mensyaratkan anggota melakukan kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, seperti pelayanan di panti asuhan.
Lencana Olahraga dan Lencana Hobi menuntut pengembangan keterampilan dan disiplin.
Proses ini mengajarkan setiap anggota untuk berkomitmen, bertanggung jawab, dan berjuang dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Pengembangan Empat Aspek Kehidupan
Pemberian lencana bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat motivasi bagi anggota Boys’ Brigade untuk berkembang dalam empat aspek kehidupan:
Pengetahuan (Intellectual) – meningkatkan wawasan dan keterampilan.
Fisik (Physical) – melatih kekuatan dan kedisiplinan tubuh.
Sosial (Social) – menumbuhkan semangat kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.
Spiritual (Spiritual) – memperdalam iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Melalui proses memperoleh lencana, para anggota bertumbuh menjadi pribadi yang seimbang dalam aspek intelektual, fisik, sosial, dan spiritual.
Peran NCO dan Officer dalam Award Day
Acara Award Day diatur dan dijalankan oleh NCO (Non-Commissioned Officer), yaitu para anggota BB yang dipercaya sebagai pemimpin rekan-rekannya. Mereka menyiapkan seluruh keperluan acara, mulai dari logistik lencana, perlengkapan, tata cara penyematan, hingga dokumentasi.
Seluruh kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan para Officer (guru pendamping). Keterlibatan NCO ini tidak hanya memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi latihan berorganisasi dan melayani sesama.
Kesimpulan: Award Day sebagai Ajang Pembentukan Karakter
Kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia bukan hanya tentang pemberian lencana, tetapi juga merupakan perayaan hasil kerja keras, kedisiplinan, dan pertumbuhan karakter siswa.
Melalui kegiatan ini, setiap anggota belajar bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan — seorang pemimpin yang memiliki semangat tangguh, hati yang melayani, dan karakter yang berintegritas. ✨ Award Day menjadi momen berharga yang meneguhkan semangat “Sure & Stedfast” — teguh dalam iman dan pelayanan.
Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.
Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.
Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.
Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak
Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya. Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.
Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.
Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.
1. Berani Menanggung Risiko
Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.
Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.
Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.
2. Berani Direpotkan
Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.
Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.
Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.
3. Berani Malu
Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.
Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.
Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.
Mengasihi atau Mengasihani?
Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:
“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”
Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan. Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.
Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.
Kesimpulan
Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.
Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.
Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.
📚 Catatan
Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”
Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.
Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.
Makna Belas Kasihan
Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).
Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.
Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).
Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.
Refleksi
Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!
Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.
Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…
Hidup manusia dikatakan bermakna bukan dari seberapa panjang usianya, tetapi dari nilai-nilai yang ia hidupi selama di dunia. Pertanyaannya: Apakah kita sudah mengisi hidup dengan bijaksana selama di dunia?
Kisah Dua Anak dan Pesan Kebijaksanaan Ayah
Ada sebuah kisah tentang seorang ayah dengan dua anak laki-laki. Sebelum meninggal, ia memberikan sejumlah uang kepada keduanya sambil berpesan:
“Gunakan uang ini baik-baik! Jadikan uang ini sebagai modal usaha, supaya engkau menjadi orang berhasil. Tetapi ingat pesanku ini: jangan sampai kepalamu terkena sinar matahari.”
Setelah sang ayah meninggal, kedua anak itu memulai usaha masing-masing. Anak pertama mengartikan pesan itu secara harfiah — setiap hari ia pergi dan pulang dengan membawa payung agar kepalanya tidak terkena matahari. Namun, meskipun berusaha keras melindungi diri dari panas, usahanya justru bangkrut.
Anak kedua memiliki pemahaman berbeda. Ia tidak membeli payung, tetapi datang lebih pagi ke tempat usaha dan bekerja sampai malam. Ia memahami pesan ayahnya secara bijak: jangan bermalas-malasan hingga matahari tinggi, tetapi bekerjalah rajin sejak pagi. Hasilnya, usahanya berhasil dan berkembang. Ia berhasil karena bijaksana memaknai pesan ayahnya.
Apa Itu Bijaksana?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana berarti:
“Selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan); arif; tajam pikiran; serta hati-hati dalam menghadapi kesulitan.”
Tuhan menghendaki agar umat-Nya memiliki hati yang bijaksana dalam menjalani hidup. Namun, orang bijaksana tidak selalu sama dengan orang berpengetahuan tinggi. Banyak orang berilmu belum tentu bijak, tetapi orang bijaksana tahu bagaimana bersikap benar dalam setiap keadaan.
Orang bijaksana adalah orang yang melihat hidup dari sudut pandang Allah dan mengetahui tindakan terbaik sesuai kehendak-Nya. Ia mengenal isi hati Tuhan dan berusaha hidup sesuai Firman-Nya.
Menjadi Bijaksana Menurut Alkitab
Alkitab mengajarkan prinsip penting dalam Amsal 1:7:
“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”
Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan, mengakui bahwa Dialah sumber hikmat sejati, serta menjauhi dosa dan kejahatan. Orang yang takut akan Tuhan akan membenci dosa dan memilih hidup dalam kebenaran.
Contoh nyata dapat dilihat dari tokoh-tokoh Alkitab seperti Henokh, Nuh, dan Ayub. Mereka menjauhi kejahatan bukan karena kesempurnaan diri, tetapi karena mereka menghormati Tuhan di atas segalanya. Sebaliknya, orang yang tidak takut akan Tuhan — betapapun pandainya — pada akhirnya akan binasa.
Contoh Salomo: Hikmat Tanpa Takut akan Tuhan Membawa Kejatuhan
Raja Salomo dikenal sebagai raja paling bijaksana dalam Perjanjian Lama. Ia memohon hikmat dari Tuhan agar dapat memimpin rakyat dengan benar, dan Tuhan mengabulkan permohonannya. Namun, di kemudian hari, Salomo kehilangan hati yang takut akan Tuhan. Ia menikahi banyak perempuan asing yang tidak mengenal Allah dan akhirnya ikut menyembah berhala. Salomo mulai mengandalkan dirinya sendiri, tidak lagi melekat kepada Tuhan. Ia lupa bahwa hikmat sejati berasal dari takut akan Tuhan, bukan dari kepandaian manusia. Akibatnya, hidupnya berakhir dalam kehancuran.
Melekat pada Tuhan dan Mencintai Firman-Nya
Orang yang bijaksana memiliki hati yang melekat kepada Tuhan dan mencintai Firman-Nya. Saat hati Salomo menjauh dari Tuhan, ia berhenti mencintai titah Tuhan dan hidupnya mulai jatuh dalam dosa. Melekat kepada Tuhan berarti tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan Tuhan tinggal di dalam kita.
Daud menulis dalam Mazmur 119:99-100:
“Aku lebih berakal budi dan aku lebih mengerti, sebab aku merenungkan peringatan-peringatan-Mu dan memegang titah-titah-Mu.”
Daud menjadikan Firman Tuhan sebagai isi pikirannya dan gaya hidupnya. Karena itu, untuk menjadi bijaksana, Firman Tuhan harus menjadi pelita bagi kaki kita (Mazmur 119:105).
Alkitab adalah Firman Allah yang mengajarkan mengapa kita hidup, bagaimana menjalani hidup, dan apa yang harus dihindari agar kita bisa hidup dengan bijaksana di hadapan Tuhan.
Kebijaksanaan Sejati Berasal dari Tuhan
Kebijaksanaan sejati tidak berasal dari ide manusia, tetapi dari Tuhan. Orang yang bijaksana adalah mereka yang takut akan Tuhan, melekat kepada-Nya, dan mencintai serta melakukan Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya sekarang:
Maukah kita menjadi orang yang bijaksana sesuai kehendak Tuhan?