Character Excellence, Jilid 1, Mengembangkan Karakter Pribadi

Judul : Character Excellence
Penulis : Rizal Badudu
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit : 2019
Jumlah halaman: 228 halaman

Rizal Badudu, seorang konsultan di bidang peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan karakter, menerbitkan dua buku bertema karakter. Buku ini merupakan salah satu dari trilogi “Excellence”. Buku ini hadir dengan bundle manis dengan buku lainnya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Anak, Siswa, dan Karyawan.

Kali ini, kami akan membahas salah satu bukunya, yaitu Character Excellence, Mengembangkan Karakter Pribadi, dari judulnya terlihat jelas bahwa buku ini menekankan pada pengembangan karakter pribadi.

Rizal Badudu menyertakan panduan istimewa untuk para pembaca yang ingin mengembangkan beberapa karakter untuk self development. Karakter yang menjadi fokus di buku ini, yaitu antusiasme, daya tahan, kerajinan, kerendahan hati, ketulusan, keberanian, ketaatan, ketepatan waktu, perhatian penuh, dan tanggung jawab.

Dalam buku ini, Rizal Badudu juga memberikan penekanan pada korelasi antara mengelola diri dengan mengelola relasi. Menurutnya, ada hubungan timbal balik antara kedua hal tersebut. Jika kita mampu mengelola diri dengan baik, dengan sendirinya relasi kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika kita bisa mengelola relasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada pribadi kita.

Buku ini bisa menjadi bacaan bermakna bagi siapa saja yang ingin mengenal diri lebih baik lagi dan mengembangkan karakter-karakter positif sebagai bekal mengasuh anak (orang tua) dan mendidik siswa (guru). (SO)

Parenting Positif dengan Kasih Tanpa Syarat

parenting positif

Setiap Anak Bernilai, Unik, dan Layak Dihargai

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang tanpa sadar menilai anak berdasarkan standar pribadi mereka. Ketika sekelompok orang tua ditanya, “Berapa nilai anak Anda?”, sebagian besar menjawab 6, 7, atau 8—dan tidak ada yang memberi nilai 10.

Alasannya beragam: anak susah makan, tidak suka sayur, cengeng, jorok, atau sulit mendengarkan orang tua. Padahal, penilaian tersebut sering kali muncul bukan karena kekurangan anak, melainkan karena harapan orang tua yang tidak terpenuhi.
Ini menjadi pengingat bahwa dalam pengasuhan, kita perlu belajar menerima anak apa adanya, bukan menilai berdasarkan ekspektasi pribadi.


Memahami Keunikan Anak dan Rencana Tuhan

Sejak anak lahir ke dunia, Tuhan telah menetapkan rencana-Nya bagi setiap individu. Dalam proses tumbuh kembang, anak menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Ada anak yang sangat aktif dan gemar bergerak ke sana-kemari, ada yang lebih tenang dan suka membaca, dan ada pula yang sangat ingin tahu serta suka bereksperimen. Semua anak memiliki keunikan dan karakter istimewa yang sudah dilukiskan Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.

Tugas orang tua adalah memahami dan mengarahkan potensi tersebut, bukan membandingkan atau memaksakan standar tertentu.


Harapan Orang Tua vs. Realita Anak

Banyak orang tua mulai membangun harapan sejak anak masih dalam kandungan. Harapan akan prestasi, kecerdasan, dan perilaku ideal menjadi tolok ukur keberhasilan anak—dan juga kebanggaan orang tua.

Namun, bagaimana jika anak tidak mencapai prestasi seperti yang diharapkan?
Apakah orang tua masih bisa bangga terhadapnya?
Kebanggaan sejati seharusnya tidak bergantung pada hasil atau pencapaian, melainkan pada usaha dan keunikan anak dalam proses tumbuh kembangnya.


Pesan Parenting: Terima Anak Apa Adanya

Dalam seminar parenting untuk orang tua siswa Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong— kelas kecil (I-III), Ibu Charlotte menegaskan bahwa orang tua boleh memiliki ekspektasi, tetapi ekspektasi itu harus sejalan dengan kemampuan anak.

Orang tua perlu memahami pentingnya menerima anak apa adanya, bukan ada apanya. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikembangkan dengan kasih dan kesabaran. Orang tua perlu mendampingi anak menemukan kekuatannya serta menerima segala kelemahannya dengan hati yang lapang.

Pendekatan ini adalah inti dari parenting positif — pengasuhan yang menekankan pemahaman, empati, dan dukungan tanpa tekanan berlebihan.


Kasih Tanpa Syarat, Fondasi Pengasuhan yang Sehat

Kebanggaan terhadap anak seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus, bukan dari prestasi semata. Kasih tanpa syarat menjadi fondasi utama dalam pengasuhan anak yang sehat.

Ketika anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih percaya diri, jujur terhadap dirinya sendiri, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berkarakter.
Kasih yang tulus juga membantu anak mengembangkan empati, tanggung jawab, dan rasa syukur dalam kehidupannya.


Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Mengasihi dengan Tulus

Menerima anak apa adanya adalah inti dari pengasuhan yang penuh kasih.
Ketika orang tua belajar melepaskan ekspektasi berlebihan dan menggantinya dengan kasih tanpa syarat, anak akan tumbuh lebih bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

Setiap anak adalah anugerah dengan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan menilai, tetapi memahami dan mencintai mereka seutuhnya. (dln)

Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia

Oleh: Beryl Sadewa, guru SMP

Penghargaan untuk Anggota Boys’ Brigade Cabang 4 Sekolah Athalia

Pada Jumat, 6 Desember 2019, Boys’ Brigade (BB) Cabang 4 Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mengadakan kegiatan Award Day.
Acara ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota BB yang telah memenuhi berbagai persyaratan pencapaian di bidang tertentu.

Dalam kegiatan ini, sejumlah lencana diberikan kepada anggota yang berhasil mencapai kriteria yang telah ditetapkan.


Daftar Lencana dan Jumlah Penerimanya

Berikut daftar lencana yang dibagikan pada kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia 2019:

  • Lencana Target: 127 anggota
  • Lencana Perkemahan: 48 anggota
  • Lencana Pelayanan Masyarakat: 123 anggota
  • Lencana Olahraga: 23 anggota
  • Lencana Hobi: 6 anggota
  • Lencana Seni: 15 anggota
  • Lencana Kewarganegaraan: 19 anggota
  • Lencana Pendidikan Agama Kristen: 31 anggota

Setiap lencana memiliki makna dan nilai pembelajaran tersendiri bagi para anggota.


Kriteria dan Proses Perolehan Lencana

Untuk mendapatkan lencana-lencana tersebut, setiap anggota harus memenuhi kriteria tertentu sesuai bidangnya.
Kriteria ini berupa seperangkat kemampuan atau pengetahuan yang diajarkan dalam kegiatan kelas parade BB, serta tugas-tugas yang harus dilakukan di luar kegiatan rutin.

Sebagai contoh:

  • Lencana Pelayanan Masyarakat mensyaratkan anggota melakukan kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, seperti pelayanan di panti asuhan.
  • Lencana Olahraga dan Lencana Hobi menuntut pengembangan keterampilan dan disiplin.

Proses ini mengajarkan setiap anggota untuk berkomitmen, bertanggung jawab, dan berjuang dalam mencapai tujuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.


Pengembangan Empat Aspek Kehidupan

Pemberian lencana bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat motivasi bagi anggota Boys’ Brigade untuk berkembang dalam empat aspek kehidupan:

  1. Pengetahuan (Intellectual) – meningkatkan wawasan dan keterampilan.
  2. Fisik (Physical) – melatih kekuatan dan kedisiplinan tubuh.
  3. Sosial (Social) – menumbuhkan semangat kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.
  4. Spiritual (Spiritual) – memperdalam iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.

Melalui proses memperoleh lencana, para anggota bertumbuh menjadi pribadi yang seimbang dalam aspek intelektual, fisik, sosial, dan spiritual.


Peran NCO dan Officer dalam Award Day

Acara Award Day diatur dan dijalankan oleh NCO (Non-Commissioned Officer), yaitu para anggota BB yang dipercaya sebagai pemimpin rekan-rekannya. Mereka menyiapkan seluruh keperluan acara, mulai dari logistik lencana, perlengkapan, tata cara penyematan, hingga dokumentasi.

Seluruh kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan para Officer (guru pendamping).
Keterlibatan NCO ini tidak hanya memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi latihan berorganisasi dan melayani sesama.


Kesimpulan: Award Day sebagai Ajang Pembentukan Karakter

Kegiatan Award Day Boys’ Brigade Sekolah Athalia bukan hanya tentang pemberian lencana, tetapi juga merupakan perayaan hasil kerja keras, kedisiplinan, dan pertumbuhan karakter siswa.

Melalui kegiatan ini, setiap anggota belajar bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelayan — seorang pemimpin yang memiliki semangat tangguh, hati yang melayani, dan karakter yang berintegritas.
✨ Award Day menjadi momen berharga yang meneguhkan semangat “Sure & Stedfast” — teguh dalam iman dan pelayanan.


Mengasihi Anak Bukan Berarti Memanjakan: Cara Membentuk Daya Juang Anak di Era Modern

daya juang anak

Anak Zaman Sekarang dan Tantangan Kenyamanan

Anak-anak zaman sekarang hidup dalam kenyamanan yang luar biasa. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, teknologi mempermudah segalanya, dan mereka jarang merasakan keterdesakan untuk “bertahan” dalam situasi sulit. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, mudah menyerah, dan kurang daya juang.

Sebagai orang tua, kita sering merasa perlu memberikan yang terbaik untuk anak. Ketika dulu kita mengalami kesulitan, kita tak ingin anak kita mengalami hal yang sama. Kita bekerja keras untuk memberikan fasilitas terbaik, membangun “sangkar emas” agar anak hidup nyaman.

Namun, apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya. Memberikan kenyamanan bukan hal yang buruk, tetapi tanpa tantangan, anak tidak akan belajar menghadapi kehidupan nyata. Suatu saat nanti, mereka akan menghadapi kekecewaan, kegagalan, atau rintangan tanpa kita di sisinya.


Makna Sebenarnya dari Mengasihi Anak

Mengasihi anak bukan berarti menyingkirkan semua kesulitan dari hidupnya.
Mengasihi anak berarti mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Anak perlu dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan berdaya juang tinggi. Daya juang ini adalah keterampilan penting yang harus mereka miliki agar siap menghadapi masa depan.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan daya juang pada anak? Orang tua perlu berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter anak.


1. Berani Menanggung Risiko

Untuk membentuk kemandirian anak, orang tua perlu melepas sedikit demi sedikit kendali dan menerima risiko yang mungkin muncul.

Contohnya saat anak belajar naik sepeda roda dua. Risiko jatuh tentu besar. Tapi dari proses jatuh dan bangkit, anak belajar arti usaha, ketekunan, dan keberanian.

Tugas orang tua adalah memberi dukungan, bukan menghindarkan mereka dari setiap luka kecil yang akan membuat mereka tumbuh kuat.


2. Berani Direpotkan

Mengajari anak sering kali melelahkan. Misalnya, ketika membiasakan anak makan sendiri, rumah bisa berantakan. Meja kotor, makanan berceceran, dan waktu makan jadi lebih lama.

Namun, kerelaan orang tua untuk direpotkan inilah yang akan membantu anak belajar kemandirian dan mengasah kemampuan motoriknya.

Jadi, jangan terlalu cepat membantu anak hanya demi kenyamanan kita sendiri.


3. Berani Malu

Terkadang, membiarkan anak mengalami kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.

Misalnya, jika anak tidak naik kelas, tentu hal itu membuat kita malu dan kecewa. Namun, di sinilah orang tua belajar menekan ego dan membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, bukan akhir dari segalanya.

Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.


Mengasihi atau Mengasihani?

Pertanyaan penting bagi setiap orang tua adalah:

“Apakah saya sedang mengasihi anak, atau justru mengasihani dia?”

Mengasihani (pity) berarti melindungi anak dari segala kesulitan.
Mengasihi (compassion) berarti menuntun anak melewati kesulitan dengan dukungan dan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak momen sederhana yang bisa menjadi bahan pembelajaran tentang konsekuensi dan pemecahan masalah. Dari hal-hal kecil itulah anak belajar problem solving, introspeksi, dan tanggung jawab.

Ketika seorang anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dunia nyata.


Kesimpulan

Membentuk daya juang anak memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak selalu membuat hidup anak nyaman.

Namun, melalui proses itulah anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi tantangan, dan menemukan makna sejati dari perjuangan.

Mengasihi bukan berarti memanjakan. Mengasihi berarti mempersiapkan anak untuk hidup.


📚 Catatan

Tulisan ini disarikan dari Seminar Parenting SD Kelas 4–6 Sekolah Athalia dengan tema “Kasih atau Kasihan?”

(dln)

Retreat Kelas V SD: Jesus is the Only One

Oleh: Sabinah Valentina

Sekilas tentang Retreat Kelas V

Kelas V SD Athalia mengadakan retreat pada hari Rabu, 25–27 September 2019. Kegiatan ini bertempat di Wisma D’Agape, Bogor. Retreat yang bertema “Jesus is the Only One” ini bertujuan untuk membimbing siswa mengerti dan menyadari bahwa Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Selain itu, retreat ini bertujuan untuk membimbing siswa berlatih jujur, kemandirian, dan bertanggung jawab. Diharapkan siswa dapat melakukan berbagai hal saat tanpa orang tua. Siswa dapat bertanggung jawab dalam merapikan barang milik pribadi. Diharapkan mereka juga dapat mengatur waktu agar bisa mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan. Retreat ini juga melatih siswa berinisiatif mengingatkan teman-temannya untuk mengikuti kegiatan yang sudah dirancang, serta menolong teman yang membutuhkan bantuan.

Yohanes 14:6 mengatakan, “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.” Ayat ini menjadi tema sekaligus pedoman bagi kita untuk menyadari dan meyakini bahwa hanya Yesuslah satu-satunya juru selamat yang ada. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat tidak hanya diucapkan melalui kata-kata, melainkan selalu mengandalkan Yesus dalam setiap kehidupan. Yesus selalu ada di awal, di tengah, dan di akhir karena Yesus selalu memimpin, membimbing, dan menyertai hidup kita. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus menjadikan Yesus sebagai satu-satunya juru selamat.

Kegiatan dan Sesi-Sesi dalam Retreat

Retreat kelas 5 SD diawali dengan ibadah pembuka yang mengajak setiap siswa memuji dan menyembah Tuhan. Siswa belajar mengenali gambar diri sebagai ciptaan yang istimewa melalui sesi “I am a Special Creation”. Mereka diminta menuliskan refleksi tentang gambar diri di malam api unggun. Kemudian, mereka juga belajar memahami kondisi manusia yang berdosa dan karya keselamatan Kristus dalam sesi “I am a Broken Vessel”. Di dalam sesi ini ada kegiatan membuat proyek menyatukan kembali bejana yang telah hancur bersama teman kelompok.

Pada sesi ke-3 “I am a Disciple of Christ”, siswa belajar menyadari kondisi yang diubahkan oleh Kristus. Selain itu siswa juga diajak untuk menerima panggilan sebagai murid Kristus. Di sesi ke-3 ini siswa mengikuti sebuah permainan yang melatih konsentrasi untuk hanya berfokus pada suatu perintah. Siswa juga membuat proyek dari lilin malam bersama dengan teman kelompok dengan tema “Creation”. Pada sesi yang terakhir yaitu KKR, siswa diajak untuk menyadari dan memercayai Yesus adalah satu-satunya juru selamat. Siswa pun diminta menuliskan komitmen dalam diri sendiri terhadap kehidupannya dalam sesi “Jesus is The Only One”.

Kegiatan retreat ini sangat membantu setiap siswa untuk semakin belajar dan mengenal kasih Kristus. Bahkan mereka juga diajak untuk membagikannya melalui respons setiap siswa dalam mengikuti sesi-sesi yang ada. Salah satu bentuk kesadaran tersebut melalui antusiasme mereka dalam mengikuti beberapa permainan yang ada. Hanya dengan penyertaan Yesus-lah setiap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar.

Melangkah Dengan Iman

Oleh: Naomi Fransisca Halim, S.Th

“I am not quite sure—but I am going to trust, and I am going to obey”
Saya tidak begitu yakin—tetapi saya akan tetap percaya dan saya akan tetap taat.

Penggalan kalimat ini diucapkan oleh seorang pemuda yang hadir dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berlangsung di Brockton, Massachusetts. Ketika Daniel Towner seorang pemimpin pujian, mendengar kalimat ini ia menuliskannya dan mengirim tulisannya itu kepada seorang penulis syair, bernama J.H. Sammis. Dari kalimat itulah, Sammis menulis sebuah hymn yang kita kenal dengan judul “Trust and Obey (Percaya dan Taat).”

Melangkah dengan Iman

Perjalanan mengikut Tuhan adalah proses belajar mempercayai dan menaati Tuhan tiada henti. Hal ini dialami oleh Abraham, Bapa orang beriman. Dalam Kejadian 22: 2, Allah berfirman, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Dalam ayat ini, permintaan Allah kepada Abraham sangat jelas. Allah meminta anaknya yang tunggal, yang ia kasihi sebagai korban persembahan (terj. Bahasa Inggris “your son,” “your only son,” “Isaac,” “whom you love”). Padahal Allah berjanji bahwa keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut dengan keturunanmu (Ibr. 11:18).

Alkitab tidak mencatat perasaan Abraham pada saat itu. Alkitab melanjutkan kisah ini dengan memperlihatkan tindakan Abraham. Dengan hati yang taat, Abraham segera/keesokan harinya bangun, memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Kemudian berangkatlah Abraham ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Sungguh suatu teladan ketaatan yang luar biasa. Abaraham melangkah dengan iman. Ketaatan Abraham adalah ketaatan yang tidak masuk akal. Bagaimanakah mungkin seseorang dapat dengan segera memilih untuk taat kepada Allah ketika diminta untuk menyerahkan anaknya?

PENGALAMAN IMAN BERSAMA ALLAH DI MASA LAMPAU

Abraham memiliki sejarah hubungan yang kaya dengan Allah. Kisah Allah menguji Abraham di perikop ini bukanlah ujian pertama baginya. Ini adalah ujian terakhir dalam kehidupannya. Menurut tradisi Yahudi, Abraham mengalami sepuluh pencobaan termasuk kisah ini. Namun dalam pencobaan-pencobaan tersebut, tidak pernah ia mendapati Allah lalai menepati janji-Nya dan mengecewakan dirinya. Pengalaman imannya di masa lampau inilah yang membuat ia dapat mempersiapkan segala sesuatu, melayangkan pandangannya ke gunung Moria dan rela mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal (Ibr. 11:17).

Adakah pengalaman iman dalam hidup kita? Setiap orang percaya dapat memiliki pengalaman iman dengan Allah. Pengalaman ini dapat terjadi apabila kita mulai melangkah dengan hati yang taat berlandaskan Firman Tuhan. Mungkin sekarang Allah sedang berbicara kepada diri kita mengenai pekerjaan, mengenai uang, mengenai anak, atau sesuatu hal yang lain. Beranikan dirimu melangkah dengan hati yang penuh ketaatan. Sekalipun kelihatannya mustahil, beranikanlah diri untuk melangkah dalam hal apa pun yang diperintahkan-Nya, baik kepada kita sekeluarga maupun secara pribadi.

PENGENALAN YANG BENAR TERHADAP PRIBADI ALLAH

Setelah tiga hari perjalanan, Abraham meminta bujangnya untuk tinggal dan menunggu. Dalam ayat 5, Abraham berkata kepada dua bujangnya, “…kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu” (penekanannya pada kata “sesudah itu kami kembali kepadamu”).

Kepastian bahwa Ishak dan Abraham akan datang kembali dari sembahyang bukanlah sebuah ungkapan kosong. Ini adalah pengenalannya dan keyakinannya terhadap Pribadi Allah yang tidak mengingkari janji-Nya. Allah berjanji bahwa yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak (21:12). Walaupun, dalam perikop ini tidak dijelaskan mengapa Abraham berkata seperti itu, tetapi Ibrani 11:17-19 membantu para pembacanya memahami kata-katanya. Pada ayat 19 “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali ”.

Pengenalan yang benar terhadap Allah adalah salah satu hal penting dalam mengikut Yesus. Kita harus mengetahui siapa Dia agar iman yang kita miliki bukanlah iman yang melompat dalam gelap. Satu-satunya cara memiliki pengenalan yang benar adalah dengan membaca dan merenungkan firman-Nya setiap hari dan meminta Allah berbicara kepada kita secara pribadi. Dengan begitu, walaupun pencobaan menghampiri kita, kita akan dikuatkan oleh firman-Nya.

Penutup

Abraham, Bapa orang beriman, mengalami berbagai situasi yang jauh dari jangkauan logika manusia. Tetapi ia tidak bimbang karena ketidakpercayaannya, melainkan terus diperkuat dalam imannya dan tetap memuliakan Allah (Rm. 4:20). Demikian juga kita harus melatih diri kita agar memiliki pengalaman iman dan pengenalan yang benar terhadap Pribadi Allah. Yakinkanlah diri kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita yang mengasihi Dia. Ia menuntun kita untuk melangkah dengan iman.


Sekilas tentang Met Camp Kelas VII SMP Athalia 2019

Oleh: Loura Palyama, guru Agama Kristen SMP

Tentang Metamorphosis Camp

Metamorphosis Camp atau Met Camp adalah sebuah kegiatan karakter yang wajib diikuti oleh siswa-siswi kelas VII SMP Athalia. Berbagai aktivitas yang dilakukan dalam Met Camp ini ditujukan untuk mengingatkan dan meneguhkan kembali karakter yang telah dikembangkan di SD. Karakter tersebut adalah karakter tanggung jawab. Dalam kegiatan ini juga ditujukan untuk memperkenalkan profil Caring and Sharing dalam proses pembentukan karakter di SMP Athalia.

Aktivitas-aktivitas Seru dalam Met Camp

Kegiatan Met Camp dimulai dengan permainan kelompok di luar ruangan. Games yang dipersiapkan bukan hanya berfokus pada aktivitas yang seru dan menyenangkan. Namun lebih dari itu, games ini memiliki makna yang dapat dipelajari oleh peserta camp. Adapun hal-hal yang dipelajari di antaranya: karakter inisiatif, tepat waktu, pengendalian diri, rajin dan kerja sama. Kesan yang sempat didengar dari peserta adalah adanya momen yang tak terlupakan, yaitu ketika peserta camp diberikan sebuah aturan. Aturannya yaitu saat haus hanya boleh minum air mineral sedangkan minuman yang disediakan di samping air mineral adalah es mambo. Ternyata, ada peserta camp yang cukup tergoda dengan es mambo nyaris tidak dapat mengendalikan diri. Di tengah kelelahan setelah beraktivitas dan udara panas di siang hari, permainan ini merupakan sebuah contoh proses belajar mengendalikan diri.


Kegiatan Met Camp lainnya adalah role play. Pada kegiatan ini panitia telah mempersiapkan beberapa orang yang melibatkan guru, siswa kelas 9, maupun petugas cleaning service. Mereka bertugas memerankan berbagai keadaan yang mengajak siswa untuk peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka secara langsung. Kejadian rekaan telah direkam sebelumnya kemudian ditampilkan lalu didiskusikan secara bersama-sama dengan suasana yang ringan dan fun. Melalui cara ini dimaksudkan agar peserta mudah memahami maksud dan tujuan dari sesi ini dan dapat mengambil sikap yang tepat. Caring and Sharing dimulai dari tanggung jawab terhadap diri sendiri yang dilanjutkan dengan tanggung jawab kepada sesama dan lingkungan.


Ada juga sesi tanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Dalam sesi ini, peserta diajarkan untuk berbelanja dan memasak sendiri makanan untuk makan malam mereka. Para peserta berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan menu makanan mereka serta memilih beberapa orang untuk berbelanja kebutuhan untuk memasak.

Hal-hal yang juga Dipelajari dalam Met Camp

Ada banyak hal yang mereka pelajari dari kegiatan ini, salah satunya mengenai jenis sayuran. Ada hal lucu ketika peserta camp pergi berbelanja. Ternyata banyak yang tidak tahu bentuk dari bumbu masak yang akan mereka beli. Oleh karenanya, hal ini berakibat mereka salah membeli bumbu yang diperlukan untuk memasak. Peserta camp diwajibkan memasak dan makan sayur. Mereka pun didorong untuk saling menolong satu dengan yang lain agar masakan mereka matang dan memiliki rasa yang enak. Mereka juga diajarkan untuk bertanggung jawab dengan dana yang diberikan.


Kegiatan lainnya adalah pembekalan sex education oleh Ibu Charlotte Priatna dan Bapak Martin Manurung. Kegiatan ini diadakan terkait dengan semakin bertumbuhnya mereka menjadi remaja. Beberapa konselor dari SD dan SMA serta beberapa staf PK3 pun terlibat sebagai fasilitator.


Di hari kedua, peserta camp belajar mengenai proses metamophosis yang tidak mudah dan membutuhkan usaha. Sudah saatnya mereka tidak hanya bertanggung jawab pada diri sendiri melainkan juga Caring and Sharing pada sesama.


Melalui Metamorphosis Camp banyak peserta yang mengaku menikmati dan belajar banyak dari kegiatan camp ini. Metamophosis Camp menjadi bermakna walaupun dibungkus dengan aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Sungguh bersyukur untuk pelaksanaan camp yang berjalan dengan baik. Kiranya setelah Met Camp ini, siswa-siswi mau terus diproses dan belajar untuk lebih bertanggung jawab. Bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri dan peka terhadap lingkungan serta orang lain.

Belas Kasihan

belas kasihan

Oleh: Bapak Presno Saragih, Kabid. Pendidikan

Yesus yang Penuh Belas Kasihan

Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.

Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.

Makna Belas Kasihan

Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).

Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.

Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).

Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.

Refleksi

Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!

Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.

Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…

Baca Juga: Belas Kasihan Adalah Kunci

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab: Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Makna Hidup yang Sesungguhnya

Hidup manusia dikatakan bermakna bukan dari seberapa panjang usianya, tetapi dari nilai-nilai yang ia hidupi selama di dunia. Pertanyaannya: Apakah kita sudah mengisi hidup dengan bijaksana selama di dunia?


Kisah Dua Anak dan Pesan Kebijaksanaan Ayah

Ada sebuah kisah tentang seorang ayah dengan dua anak laki-laki. Sebelum meninggal, ia memberikan sejumlah uang kepada keduanya sambil berpesan:

“Gunakan uang ini baik-baik! Jadikan uang ini sebagai modal usaha, supaya engkau menjadi orang berhasil. Tetapi ingat pesanku ini: jangan sampai kepalamu terkena sinar matahari.”

Setelah sang ayah meninggal, kedua anak itu memulai usaha masing-masing. Anak pertama mengartikan pesan itu secara harfiah — setiap hari ia pergi dan pulang dengan membawa payung agar kepalanya tidak terkena matahari. Namun, meskipun berusaha keras melindungi diri dari panas, usahanya justru bangkrut.

Anak kedua memiliki pemahaman berbeda. Ia tidak membeli payung, tetapi datang lebih pagi ke tempat usaha dan bekerja sampai malam. Ia memahami pesan ayahnya secara bijak: jangan bermalas-malasan hingga matahari tinggi, tetapi bekerjalah rajin sejak pagi. Hasilnya, usahanya berhasil dan berkembang. Ia berhasil karena bijaksana memaknai pesan ayahnya.


Apa Itu Bijaksana?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana berarti:

“Selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan); arif; tajam pikiran; serta hati-hati dalam menghadapi kesulitan.”

Tuhan menghendaki agar umat-Nya memiliki hati yang bijaksana dalam menjalani hidup. Namun, orang bijaksana tidak selalu sama dengan orang berpengetahuan tinggi. Banyak orang berilmu belum tentu bijak, tetapi orang bijaksana tahu bagaimana bersikap benar dalam setiap keadaan.

Orang bijaksana adalah orang yang melihat hidup dari sudut pandang Allah dan mengetahui tindakan terbaik sesuai kehendak-Nya. Ia mengenal isi hati Tuhan dan berusaha hidup sesuai Firman-Nya.


Menjadi Bijaksana Menurut Alkitab

Alkitab mengajarkan prinsip penting dalam Amsal 1:7:

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”

Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan, mengakui bahwa Dialah sumber hikmat sejati, serta menjauhi dosa dan kejahatan. Orang yang takut akan Tuhan akan membenci dosa dan memilih hidup dalam kebenaran.

Contoh nyata dapat dilihat dari tokoh-tokoh Alkitab seperti Henokh, Nuh, dan Ayub. Mereka menjauhi kejahatan bukan karena kesempurnaan diri, tetapi karena mereka menghormati Tuhan di atas segalanya.
Sebaliknya, orang yang tidak takut akan Tuhan — betapapun pandainya — pada akhirnya akan binasa.


Contoh Salomo: Hikmat Tanpa Takut akan Tuhan Membawa Kejatuhan

Raja Salomo dikenal sebagai raja paling bijaksana dalam Perjanjian Lama. Ia memohon hikmat dari Tuhan agar dapat memimpin rakyat dengan benar, dan Tuhan mengabulkan permohonannya.
Namun, di kemudian hari, Salomo kehilangan hati yang takut akan Tuhan. Ia menikahi banyak perempuan asing yang tidak mengenal Allah dan akhirnya ikut menyembah berhala.
Salomo mulai mengandalkan dirinya sendiri, tidak lagi melekat kepada Tuhan. Ia lupa bahwa hikmat sejati berasal dari takut akan Tuhan, bukan dari kepandaian manusia. Akibatnya, hidupnya berakhir dalam kehancuran.


Melekat pada Tuhan dan Mencintai Firman-Nya

Orang yang bijaksana memiliki hati yang melekat kepada Tuhan dan mencintai Firman-Nya. Saat hati Salomo menjauh dari Tuhan, ia berhenti mencintai titah Tuhan dan hidupnya mulai jatuh dalam dosa.
Melekat kepada Tuhan berarti tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan Tuhan tinggal di dalam kita.

Daud menulis dalam Mazmur 119:99-100:

“Aku lebih berakal budi dan aku lebih mengerti, sebab aku merenungkan peringatan-peringatan-Mu dan memegang titah-titah-Mu.”

Daud menjadikan Firman Tuhan sebagai isi pikirannya dan gaya hidupnya. Karena itu, untuk menjadi bijaksana, Firman Tuhan harus menjadi pelita bagi kaki kita (Mazmur 119:105).

Alkitab adalah Firman Allah yang mengajarkan mengapa kita hidup, bagaimana menjalani hidup, dan apa yang harus dihindari agar kita bisa hidup dengan bijaksana di hadapan Tuhan.


Kebijaksanaan Sejati Berasal dari Tuhan

Kebijaksanaan sejati tidak berasal dari ide manusia, tetapi dari Tuhan. Orang yang bijaksana adalah mereka yang takut akan Tuhan, melekat kepada-Nya, dan mencintai serta melakukan Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya sekarang:

Maukah kita menjadi orang yang bijaksana sesuai kehendak Tuhan?

Membangun Daya Juang Remaja

Oleh : CHarlotte Priatna

Mungkin lebih tepat bila judul di atas dibaca sebagai sebuah pertanyaan skeptis. Masih ada kah daya juang remaja kita? Remaja sekarang lebih terkesan memble alias melempem. Dimana api roh atau kobaran spirit mereka? Nyaris tak bersinar? Apa yang menyebabkan keadaan mereka seperti itu? Lain dengan remaja dan pemuda tempo dulu yang menyingsingkan lengan baju untuk turut berjuang memperebutkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Masih jelas dalam ingatan kita sejarah bangsa yang diwarnai oleh gelora semangat kaum muda.

Tentu saja pergeseran yang terjadi sekarang ini bukan tanpa sebab. Pola atau gaya hidup masyarakat berubah, ditambah lagi fenomena tantangan hidup sekarang berbeda dari masa lalu. Semua ini perlu diantisipasi dan disikapi dengan cara yang berbeda namun bijak.

I. Mengapa remaja sekarang kehilangan daya juang?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat dilihat berdasarkan tiga kondisi:

  • zaman
  • orang tua
  • anak

1. Kondisi Jaman

Tantangan hidup sekarang ini berbeda. Kesulitan yang ada bukan yang terlihat tapi lebih banyak yang tidak terlihat. Secara faktual hidup sekarang jauh lebih mudah dibanding prakemerdekaan. Tidak ada himpitan penjajah yang memaksa kita untuk berjuang lebih keras, tidak ada ancaman terhadap keselamatan jiwa, tak perlu mengungsi, hukum pun berlaku dengan jelas. Berbagai fasilitas kian menyerbu, apa pun mudah didapat, asal punya uang. Berbagai perangkat elektronik canggih, hiburan, bahkan mainan pun tidak ketinggalan. Para pencipta mainan seolah berlomba mengisi waktu luang anak, memanfaatkan sekaligus merogoh kocek orang tua yang rela menyenangkan hati anak sebagai ganti waktu yang terhilang akibat kesibukan mengejar tuntutan karir. Tantangan yang tak kelihatan itu membuat remaja tidak sadar bahwa mereka juga sedang di bawah penjajahan, dikuasai berbagai keinginan yang membuat mereka menyimpang dari fokus hidup yang seharusnya.

Gaya hidup hedonis yang mengacu kepada materialisme juga turut memberi andil dalam mereduksi daya juang remaja saat ini. Segala sesuatu tidak lagi dinilai dari sebuah perjuangan. Usaha yang ditunjukkan seseorang tidak dihargai, bahkan dianggap absurd. Otak dan uang menjadi prioritas dalam ”membeli” harga diri. Seseorang yang pandai, kaya, cantik akan lebih dihargai dari pada yang sederhana, rajin, tekun tapi jujur! Demi uang remaja rela melakukan apa pun, bahkan menjual dirinya sekali pun.

2. Kondisi Orang Tua

Orang tua makin fokus pada karir demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Makin banyak remaja yang tumbuh dalam asuhan babysitter/pembantu rumah tangga. Anak tidak diajar mandiri, semua dilakukan oleh pembantu. Orang tua jarang berada di rumah, tidak cukup memberi arahan dan didikan, baik pada pembantu maupun si anak, sehingga semua hal dikerjakan pembantu. Anak tidak dilatih untuk melakukan sesuatu sesuai usia dan kekuatannya.

Tuntutan karir dan ekonomi mengkondisikan orang tua untuk tidak memiliki banyak anak. Makin banyak keluarga yang hanya punya satu atau dua anak. Kondisi ini memicu orang tua memiliki sayang yang berlebihan pada anak. Namun karena orang tua harus fokus pada karir, rasa sayang digantikan dengan hal lain. Anak diberi kemudahan dan berbagai fasilitas. Orang tua berusaha semaksimal mungkin agar anak tidak mengeluarkan keringat maupun air mata. Anak tidak lagi memiliki rasa lapar, karena belum sempat lapar mereka sudah dijejali dengan berbagai hal yang mengenyangkan, bahkan sampai berlebih hingga ”luber”. Sebenarnya kondisi ini membuat anak kehilangan ”nafsu”, tidak mengenal rasa nikmat dan puas karena segala sesuatu diperoleh tanpa perjuangan, bahkan tanpa perlu meminta. Anak tidak dapat lagi membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Orang tua juga merasa bersalah jika anaknya ”menderita”. Ada sebagian orang tua yang ingin balas dendam akan kehidupannya yang susah di masa lampau, tanpa menyadari bahwa berbagai kesulitan itu lah yang membuatnya berhasil mencapai apa yang dicapainya sekarang.

Ada juga yang ingin menaikkan gengsinya di mata orang lain melalui keberadaan si anak. Maka anak menjadi simbol gengsi orang tua, hanya menjadi ”boneka pajangan” yang siap didandani tanpa memiliki otoritas atas dirinya. Orang tua lebih menekankan pada prestasi akademis anak, dan mengabaikan sisi keahlian hidup anak, yang menyangkut cara anak menghadapi masalah, menghindari godaan, menyelesaikan perselisihan, meredam nafsu, dll.

3. Kondisi Anak

Bisa juga kondisi anak stress dan tertekan karena tuntutan jaman yang kian hari kian memaksa anak-anak kita menjadi idola atau sang juara dalam berbagai perlombaan, turnamen, dan olimpiade. Orang tua rela merogoh kocek mereka untuk mengikutsertakan anaknya dalam berbagai kegiatan perlombaan dimana-mana setiap minggunya. Piala dan piagam seolah menumpuk hanya untuk membeli sebuah prestise atau harga diri.

Anak-anak pun mudah mendapat apa yang diinginkan, tanpa perlu bersusah payah untuk mendapatkannya. Hal ini pula yang memicu anak untuk kurang menghargai apa yang dimilikinya. Anak kurang merawat barang-barangnya, tidak menghargai kepemilikan orang lain, bahkan tidak menghargai orang lain! Easy come, easy go kata orang. Anak tidak terganggu bila barang miliknya ada yang rusak, apakah itu pensil yang hanya ribuan perak hingga handphone jutaan rupiah. Apa pun bisa dengan mudahnya raib dari tangan atau tas miliknya, dan tragisnya, mudah pula memperoleh kembali (yang baru tentunya) ketika mereka mengeluarkan jurus rengek memelas kepada orang tua mereka yang hatinya lembek alias gampang dimanipulasi.

Tidak memiliki goal, tujuan dan cita-cita. Kalau pun ada, selalu dilihat dari sisi keuntungannya. Berapa banyak yang bisa diperoleh? Hukum ekonomi pun berlaku: mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Nilai-nilai hidup dianggap usang. Budi pekerti dan karakter pun terbuang. Orang tua dan anak remajanya sudah tergerus oleh gaya hidup seperti sekarang ini.

Pola hidup instant. Pentas ’idola’ marak di mana-mana dan menjadi jalan pintas untuk cepat kaya dan terkenal. Bagaimana cara cepat jadi pintar, mudah bisa lulus, cepat banyak uang? Dan lain sebagainya. Proses tidak lagi menjadi unsur yang dipentingkan. Itu lah yang dunia tawarkan pada remaja kita. Yang penting ada duitnya. Hal ini juga berkaitan dengan orang tua yang berpikir bahwa anak adalah investasi, jadi yang penting anak bisa cari duit. Mau jadi apa terserah.

II. Apakah benar remaja sudah kehilangan daya juang atau justru mereka sedang memperjuangkan hal lain ?

Tentu saja gaya hidup mengubah tujuan dan sasaran perjuangan remaja. Sering kita dengar ”Hidup enjoy aja lageee…” (sukses=enjoy, kegagalan adalah enjoy yang tertunda). Buat apa susah? Hidup untuk kesenangan dan kesenangan untuk hidup. Kesuksesan hidup tidak lagi dilihat sebagai perjuangan tapi kenikmatan. Asal nikmat, itu sudah pasti sukses. Jadi anak-anak kita sedang berjuang mencari kenikmatan, hiburan, just for fun, entertainment, game dll.
Berjuang tapi sambil jalan santai. Kalau dapat ya syukur, kalau tidak juga tidak apa-apa. Tentu saja ini bukan berserah seperti yang Tuhan inginkan tapi lebih kepada menyerah.

III. Bagaimana supaya remaja memiliki daya juang ? Filipi 3 : 14

  • Berlari, bukan berjalan apalagi merangkak. Kaki mereka sudah kuat untuk berlari. Tubuhnya pun sudah cukup mampu untuk diajak berlari
  • Memiliki tujuan, dan fokus pada tujuan itu. Sekarang ini ada terlalu banyak fokus sehingga remaja kita kehilangan fokus yang sesungguhnya
  • Bukan kemudahan yang diberikan pada remaja, tapi latihan yang keras supaya ”tubuh” siap untuk diajak berlari. Untuk hidup senang dan enak tidak perlu latihan, tapi untuk sanggup hidup susah remaja perlu dilatih dan dipersiapkan. Supaya, jika mengalami kesulitan, mereka justru tambah kuat, bukan bunuh diri!
  • Hidup adalah perlombaan, hidup adalah perjuangan. Harus diselesaikan hingga tuntas. Setiap orang tanpa kecuali. Mau tidak mau. Tidak ada kata mundur, yang ada hanya maju.
  • 1 Yoh 2 : 15 – 17 menjelaskan kepada kita bahwa dunia menawari kita, dan remaja – remaja kita khususnya, pemenuhan atas segala keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Padahal dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya.

Jadi, untuk membuat remaja memiliki daya juang, harus dimulai dari Anda sebagai orang tuanya. Anda bisa memilih, mau bayar di muka atau bayar di belakang. Pikirkan lah itu!