Value vs. Belief, Apakah yang Kita Pegang Benar-Benar Tulus?

Erika Kristianingrum, Orang Tua Siswa.

Bulan November 2021 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti program CARE (Connect – Accept – Restore – Equipt). Program ini merupakan inisiatif dari Bu Charlotte yang bertujuan membantu peserta menemukan jati diri serta menyembuhkan luka batin. Diharapkan, setelah mengikuti program ini, peserta mampu menolong orang lain.

Untuk sementara, program ini berupa pilot project, sehingga pesertanya ditujukan hanya untuk CPR dan CC Sekolah Athalia. Salah satu pertemuan yang paling membekas bagi saya adalah pertemuan ketiga, yang membahas tentang value, belief, dan attitude. Saat itu, kami diminta untuk merenungkan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan masing-masing. Saya dengan yakin menyatakan bahwa value utama saya adalah keluarga. Dalam pandangan saya, keluarga adalah prioritas utama, tempat berlindung, dan ruang yang nyaman untuk kembali. Belief yang saya pegang erat adalah bahwa keluarga merupakan tempat berbagi suka dan duka tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Salah satu contoh attitude yang mencerminkan keyakinan tersebut adalah keputusan saya untuk tidak pernah pergi berlibur hanya bersama teman-teman. Saya meyakini bahwa liburan adalah momen berharga yang seharusnya dinikmati bersama keluarga.

Menyelami Makna Value dalam Keseharian

Setelah pertemuan itu, pikiran saya terusik. Saya mulai mempertanyakan kembali apakah benar keluarga adalah value utama saya, atau ada faktor lain yang lebih mendalam yang belum saya sadari. Saya teringat pesan fasilitator yang menyarankan agar setiap peserta terus menggali lebih dalam tentang keyakinan yang dimiliki.

Malam itu, saya merenungkan banyak hal, terutama dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anak. Sejak awal, saya berusaha mengajarkan mereka untuk memiliki hati yang mau melayani, menjadi berkat bagi orang lain, serta menjunjung tinggi sopan santun dalam pergaulan. Saya juga selalu mendampingi mereka saat belajar agar mereka merasa diperhatikan dan didukung. Begitu juga terhadap suami. Saya selalu menyiapkan segala keperluannya, mengantarnya sampe ke pintu pagar saat dia akan berangkat kerja, dan mengingatkannya untuk makan saat sedang di kantor.

Semua ini saya lakukan dengan keyakinan bahwa keluarga adalah hal terpenting dalam hidup saya. Namun, seiring dengan perenungan yang lebih dalam, saya mulai melihat sudut pandang lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Mengungkap Motivasi di Balik Value

Tuhan perlahan menyingkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam hati saya. Saya mulai menyadari bahwa tindakan yang saya lakukan terhadap anak dan suami bukan sepenuhnya karena keluarga adalah prioritas utama saya. Ada faktor lain yang lebih dominan, yang selama ini tidak saya sadari—yaitu keinginan untuk mendapatkan reputasi yang baik. Ternyata, value saya adalah REPUTASI.

Dalam mendidik anak, saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan berakhlak baik agar orang lain melihat saya sebagai ibu yang berhasil dalam membesarkan anak sesuai ajaran Tuhan. Dalam hubungan dengan suami, saya ingin orang lain melihat saya sebagai istri yang baik dan berbakti. Saya ingin citra diri saya sebagai seorang ibu dan istri mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar.

Tak sadar, air mata saya menetes. Saya sadar bahwa menanggapi panggilan menjadi seorang ibu tidak mudah. Jika anak-anak bersikap tidak baik, orang akan bertanya, “Siapa ibunya?”. Jika terjadi sesuatu terhadap suami, orang akan berpendapat istrinya pasti kurang melayani suaminya dengan baik. Tidak ada penghargaan khusus atau promosi jabatan untuk seorang ibu terutama ibu rumah tangga seperti yang didapat wanita yang mendapatkan promosi jabatan di sebuah perusahaan.

Seorang ibu tidak akan pernah mendapat penghargaan sebagai ibu terbaik dari orang lain selain dari keluarganya sendiri. Setidaknya, hal-hal itulah yang saya percaya selama ini. Oleh karena itu, saya menganggap keluarga begitu penting karena dari keluargalah saya bisa mendapatkan reputasi yang baik. Hal inilah yang ingin saya capai: orang lain harus menilai saya baik.

Mengubah Perspektif: Dari Reputasi ke Rasa Syukur

Namun, akhirnya saya sadar bahwa semua itu pemikiran yang salah. Saya mulai belajar mengubah semua motivasi dalam menanggapi panggilan sebagai ibu rumah tangga dan istri. Saya seharusnya meresponsnya sebagai wujud syukur karena Tuhan sudah begitu besar mengasihi dan memberikan anugrah yang besar kepada saya: seorang suami yang baik dan anak-anak yang manis. Sudah sewajarnya saya melayani mereka sesuai dengan yang Tuhan mau, bukan sebagai alat agar orang melihat dan menilai saya sebagai ibu dan istri yang baik.

Saat ini, saya masih terus belajar memiliki motivasi yang benar, yaitu sebagai ucapan syukur kepada Tuhan agar hanya nama Tuhan yang dipermuliakan. Saya ingin Tuhan berkenan atas saya karena telah mendengar panggilan sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan yang Dia kehendaki sehingga hanya nama-Nya yang dipermuliakan.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik?

Oleh: Elisa Christantio, Orang tua siswa.

Firman Tuhan yang direnungkan pada Rabu, 6 Oktober 2021 diambil dari Amsal 4: 23, berbunyi:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (TB)

Ketika mendengar kata “menjaga,” umumnya kita akan berpikir tentang sesuatu yang tampak secara fisik. Namun, kita sering lupa bahwa menjaga juga mencakup hal-hal yang tidak kasatmata. Jadi, ketika Alkitab berbicara tentang hati, tentu tidak berbicara tentang fisik. Hati yang dimaksud bukanlah sekadar organ tubuh, tetapi melambangkan pikiran, kehendak, dan batiniah seseorang. Pikiran dan kemauan adalah pusat pengambilan keputusan, tempat di mana setiap pilihan dibuat. Segala sesuatu yang kita putuskan untuk dilakukan berasal dari sana. Lantas, mengapa penting untuk menjaga hati kita?

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

1. Karena kita mencintai Tuhan yang sudah lebih dulu mencintai kita.

Salah satu motivasi terbesar untuk menjaga hati karena kita mencintai Tuhan. Mengasihi Tuhan dan memelihara persekutuan yang erat dengan-Nya harus menjadi landasan utama dalam menjaga hati.

Sebelum pandemi, tugas dan pelayanan mengharuskan saya dan suami bepergian ke luar kota. Kami sudah sepakat walau melayani Tuhan, kami ingin selalu bersama dengan anak-anak. Akhirnya, kami memilih jadwal saat anak-anak libur sekolah agar mereka bisa ikut. Ini bukan keterpaksaan, tetapi hal yang dilakukan dengan sukacita. Kami memilih untuk melakukannya karena rasa sayang. Kami saling mengasihi sehingga kami menempatkan perlindungan untuk hati kami dengan cara seperti ini.

2. Rencana Tuhan

Ketika semua yang kita lakukan mengalir dari hati, mungkin saja rencana Tuhan sedang terjadi dalam hidup kita. Tidak ada yang lebih memuaskan di bumi ini selain melakukan kehendak Tuhan.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 4 Tahun 2021

3. Menyelesaikannya dengan baik

Banyak di antara kita yang memulai dengan baik, tetapi mengakhiri dengan buruk. Amsal mengingatkan agar kita memulai dan mengakhiri dengan baik pula.

Menjalani pekerjaan yang harus sering keluar kota, mewartakan kabar baik, dan melayani bersama-sama keluarga tentu tidak mudah. Namun, kami ingin menyelesaikannya dengan baik. Suatu kali, kami melayani di Desa Pulutan, Wonosari, Gunungkidul. Kami tidak memberi tahu anak-anak tentang kegiatan hari itu. Sesampainya di lokasi, anak kami yang besar bertanya, “Kenapa kita disambut seperti presiden?” Dia bingung karena kehadiran kami disambut meriah. Singkat cerita, kami beramah tamah. Anak kami yang besar waktu itu masih kelas 4 SD, ditanya oleh salah seorang murid lokal tentang bahasa yang dikuasai. Lalu anak kami berkata, “Aku bisa bahasa Mandarin. Wo jiào Nathanael. Nǐ jiào shénme míngzì?” Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Kemudian, anak kami berkata, “Kamu juga bisa, makanya kamu harus rajin belajar.” Lalu, semua orang di sana bertepuk tangan.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik

Melakukan Hal Baik dalam Rencana Tuhan

Hari itu, kami pulang dengan hati bersyukur karena kami mengalami liburan yang luar biasa. Anak-anak mengerti tentang menjaga sekaligus memberi hati untuk orang lain. Kami sekeluarga pun menyelesaikan misi/tujuan Tuhan dalam hidup kami, walau dengan cara yang sederhana.

Menjaga hati bahkan juga dialami tokoh misionaris terhebat sepanjang masa dalam Filipi 3: 12–14. Paulus menyadari bahwa pekerjaannya belum selesai dan dia ingin memastikan bisa menyelesaikannya dengan kuat.

Saya yakin Paulus pun menjaga hatinya. Saya dan kita semua harus melakukan hal baik yang sama.

Sebagai penutup, saya bagikan satu ayat yang merangkum cara menjaga hati: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”– Filipi 4: 8

Selamat merenung. Tuhan Yesus memberkati!

Pantang Menyerah

Oleh: Dwi Handayani, Orang Tua Siswa.

Anak adalah titipan Tuhan yang sangat berharga. Sebagai orang tua, kita pasti ingin menanamkan nilai-nilai kebaikan di hidupnya agar menjadi generasi yang tangguh dan mandiri di masa depannya.

Saya ingin berbagi cerita tentang putri pertama kami. Dia merupakan anak yang patuh dan penyayang, tetapi memiliki sifat pemalu serta cenderung manja. Ketika teman sebayanya mengajaknya bermain, ia lebih memilih lari pulang ke rumah dan hanya mau bermain jika saya menemaninya. Selain itu, daya juangnya masih lemah. Misalnya, saat mencoba membuat benda dari origami dan hasilnya tidak sesuai harapan, ia langsung menyerah dan enggan mencoba kembali.

Sebagai orang tua, kami selalu berusaha membimbing dan menyemangatinya agar lebih percaya diri serta mau berusaha. Kami terus mengingatkan bahwa tidak semua keinginannya dapat langsung terwujud tanpa usaha. Ada kalanya ia harus bekerja keras dan berjuang untuk mencapai sesuatu. Selain itu, kami juga menanamkan nilai syukur atas segala nikmat yang sudah Tuhan berikan. Kami ingin ia memahami bahwa menghargai apa yang dimiliki lebih penting daripada terus meminta lebih, karena masih banyak orang lain yang hidup dalam keterbatasan.

Pantang Menyerah

Pelajaran Berharga dari Sebuah Keinginan

Suatu hari, saat usia anak kami lima tahun, dia minta dibelikan mainan yang cukup mahal bagi kami, yaitu satu set mainan Plants vs Zombies. Kami pun tidak membelikannya karena mainannya sudah cukup banyak di rumah. Beberapa hari kemudian, ketika sedang mengikuti sekolah daring, ia memanggil saya dan menunjukkan layar laptop. Rupanya, ada teman laki-lakinya yang memegang mainan yang ia inginkan. Dengan penuh harap, ia kembali meminta hal yang sama. Namun, jawaban kami tetap tidak berubah. Kami menjelaskan alasan yang sama agar ia belajar memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi.

Beberapa minggu kemudian, terjadi sesuatu yang sangat membekas dalam hati saya. Suatu siang, ia tiba-tiba berkata ingin berjualan. Awalnya, saya mengira ini hanyalah bagian dari permainan jual-jualan seperti biasanya. Saya mengiyakan saja karena dia suka mainan jual-jualan dan mama papanya disuruh menjadi pembeli. Namun, ternyata kali ini berbeda. Ia meminta saya membawakan meja belajar kecilnya ke teras depan rumah. Tidak lama kemudian, ia menempelkan kertas HVS bertuliskan “Mainan ini dijual, ya!” dengan hiasan warna-warni.

Ketika saya bertanya tujuannya, ia dengan penuh semangat menjawab, “Aku mau jualan karena aku mau dapet duit biar bisa beli mainan Zombie.”

Ternyata, tanpa kami sadari, ia mulai memahami pentingnya usaha untuk mendapatkan sesuatu. Ia tidak lagi sekadar meminta, melainkan mulai menunjukkan sikap pantang menyerah dengan mencari cara sendiri untuk mewujudkan keinginannya.

Baca Juga : Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Sikap Pantang Menyerah dalam Berusaha

Tak lama setelah itu, ia masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sekantong mainan serta beberapa camilan dari rak makanan. Dia letakkan berbagai cemilan tersebut, kemudian dia mengambil kertas, gunting, dan selotip. Dengan penuh antusiasme, ia menuliskan harga dan menempelkannya ke bungkus cemilan.

Saat dia meletakkan cemilan ke meja, saya lihat harga satu Beng-Beng Rp1.000.000 dan Nyam-Nyam Rp1.000.000.000. Hampir semua cemilan dia kasih harga fantastis. Saya hanya tertawa dalam hati. Ya… tentunya dia belum paham arti nol sebanyak itu. Walau geli melihat hal itu, saya terharu sekali. Saya tidak menyangka dia akan seniat itu untuk berjualan demi mendapatkan mainan yang dia mau. Entah dari mana asal ide itu, yang pasti saya dan suami cukup kaget melihatnya. Saat itu, saya mengelus rambutnya sambil berkata, “Jadi kamu mau jualan beneran, ya?”

Dia pun menjawab dengan semangat, “Iyaa… nih aku udah tulis harga makanannya, terus aku juga mau jualin mainan yang di kantong yang udah nggak aku suka.”

Melihat semangatnya, saya setuju untuk membantunya. Namun, karena saat itu siang hari dan matahari sangat terik, saya menyarankan untuk berjualan sore saja. Namun, ia tetap bersikeras ingin melanjutkan. Ia bahkan membuka pagar rumah lebar-lebar dan menggeser meja ke depan agar lebih terlihat oleh orang-orang. Dengan penuh semangat, ia duduk menunggu pembeli datang.

Setelah 15 menit berlalu tanpa ada satu pun pembeli, saya hanya bisa mengawasinya dari dalam rumah. Ia tetap duduk diam, mungkin sedang berpikir apakah usahanya akan berhasil atau tidak. Setelah lebih dari 20 menit, akhirnya saya berhasil membujuknya masuk dan berjanji untuk berjualan kembali di sore hari.

Buah dari Sikap Pantang Menyerah

Sore hari pun tiba. Sekitar pukul 4, ia kembali semangat untuk berjualan. Kami berdiskusi mengenai harga yang lebih masuk akal dan memilih mainan yang layak dijual. Mainan kecil diberi harga Rp1.000 atau Rp2.000 agar lebih mudah dibeli oleh anak-anak lain. Kebetulan, di dekat rumah ada musala yang ramai dengan anak-anak mengaji pada sore hari. Kami berharap ada beberapa anak yang tertarik membeli dagangannya.

Setelah mencoba berjualan selama tiga hari, uang yang terkumpul sebanyak 22 ribu rupiah. Dia senang bukan main. Kami berniat mau menambahkan uang untuk membelikan mainan yang dia mau. Saya pun bertanya, “Kamu jadi mau beli mainan Plants vs Zombies?”

Secara mengejutkan, dia menjawab, “Enggak jadi. Aku mau beli mainan makeup-makeupan aja!” sambil menunjukkan gambarnya di Tokopedia.

Apa pun akhirnya, kami salut atas usahanya, kami pun bersyukur karena anak kami akhirnya dapat memahami jika ingin mendapatkan sesuatu harus berusaha dan tidak pantang menyerah. Oh ya, ternyata dari hasil usaha berjualannya itu pula dia akhirnya belajar bersosialisasi dan lebih percaya diri, bahkan akhirnya mendapatkan teman baru untuk bermain setiap sore hari.

Pemuridan di Masa Pandemi: Be With and Befriend

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia

Billy Graham1 pernah berkata, “Salvation is free, but discipleship costs everything we have.” Kutipan ini sejalan dengan 2 Timotius 4:2 yang berbunyi, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya….”. Firman ini menegaskan pentingnya memberitakan firman Tuhan dalam segala situasi. Jujur, pesan-pesan semacam ini meneguhkan, sekaligus menggelisahkan kita yang melakukan pemuridan.

Pemuridan merupakan amanat agung dari Tuhan Yesus sendiri, yang Dia sampaikan sebelum naik ke surga. Bayangkan seseorang yang hendak pergi untuk selamanya, tentu pesan terakhirnya bukanlah hal remeh seperti, “Jangan lupa matiin kompor!” atau “Ganti gorden ruang tamu”. Pesan terakhir tentu sangat penting. Demikian pula pesan terakhir Tuhan Yesus yaitu pemuridan. Artinya, ini merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang percaya, bukan pilihan.

Namun, semudah itukah melakukannya? Mari kita mengingat aspek yang lain, yaitu bahwa pemuridan juga adalah sebuah privilege atau hak istimewa. Sejak penciptaan, kita dipercaya Allah menjadi kawan sekerja-Nya (Kejadian 1: 28). Apakah Allah membutuhkan bantuan kita? Tentu tidak. Oleh sebab itu, kita mengenalnya sebagai anugerah karena sesungguhnya siapakah kita sehingga dipercayakan hal sebesar itu?

Pemuridan di Masa Pandemi Be With and Befriend

Pemuridan: Anugerah yang Harus Dibagikan

Anugerah Allah tidak berhenti saat penciptaan. Anugerah terbesar dari Allah adalah Putra-Nya yang tunggal yang mengosongkan diri-Nya, berinkarnasi menjadi manusia, mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri-Nya, dan taat bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2: 7–8). Ya, untuk Anda dan saya. Pelayanan yang kita lakukan diawali oleh pelayanan Tuhan Yesus kepada kita. Ketika kita pernah mencicipi anugerah-Nya, tentu kita ingin membawa orang lain untuk juga mencicipinya.

Seperti kalimat D. T. Niles yang sangat terkenal, “Evangelism is just one beggar telling another beggar where to find bread2 atau jika diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia: “Pemberitaan injil seperti seorang pengemis yang memberi tahu pengemis lainnya di mana mendapatkan roti”. Betul, Injil seharusnya benar-benar senikmat itu. Kasih karunia itu mengalir; kita bukan hanya menerimanya, melainkan juga membagikannya kepada orang lain. Kita tidak pernah diminta memberi kasih karunia lebih dari yang pernah kita terima.3

Baiklah, sekarang mari kita bahas secara praktis.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Pemuridan di Masa Pandemi: Tantangan dan Adaptasi

Tidak disangkal bahwa masa pandemi telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita beribadah dan bersekutu. Tiba-tiba, semua aktivitas tatap muka harus dihentikan, memaksa kita untuk beradaptasi. Namun, apakah pemuridan benar-benar harus terhenti? Atau kita harus tetap maju dengan beradaptasi? Ya, kita tetap maju dengan beradaptasi, menyesuaikan diri dengan segala kondisi yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya.

Harus diakui, adaptasi bukanlah hal yang mudah. Kehidupan bergereja di masa pandemi bukan sekadar memindahkan yang luring menjadi daring. Kebutuhan kita sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi secara langsung rasanya sulit sekali digantikan dengan hal-hal yang serbavirtual. Namun, apa iya tidak mungkin? Saya pun awalnya berpikir demikian.

Komisi pemuda di gereja saya memiliki persekutuan per wilayah yang dinamakan “dobar”, alias “doa bareng”. Dahulu kami biasa berkumpul di salah satu rumah ataupun tempat makan atau tempat nongkrong. Namun, sejak pandemi, pertemuan kami dibatasi dengan layar dan koneksi internet. Kondisi ini membuat beberapa dobar merosot. Keterbatasan berbicara, kendala koneksi internet, dan kendala lainnya membuat senda gurau serta percakapan ngalor ngidul dari yang penting hingga yang tidak penting sangat dirindukan.

Namun, justru dalam kondisi ini, pemuridan tetap berjalan dan bahkan bertumbuh. Beberapa anggota yang sebelumnya sulit hadir kini lebih leluasa bergabung. Jarak geografis pun bukan lagi hambatan; bahkan seorang teman dari Los Angeles bisa ikut serta sebagai fasilitator. Pengalaman ini mengajarkan bahwa pemuridan bukan sekadar kebersamaan fisik, tetapi tentang relasi dan pertumbuhan iman. Pandemi menantang kita untuk melihat apa yang benar-benar esensial dalam pemuridan—bukan hanya kebiasaan sosial, tetapi juga hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan dan sesama.

Hadir dan Peduli di Saat Sulit

Sulit bukan berarti mustahil. Justru di saat seperti ini, ketika makin banyak orang yang membutuhkan pertolongan baik secara dukungan moral, ekonomi, spiritual, maupun kesehatan mental, kelompok persekutuan/pemuridan sangat dibutuhkan. Pandemi tidak hanya membawa dampak secara fisik, tetapi juga secara psikologis dan spiritual. Banyak orang mengalami gangguan kecemasan dan depresi.4 Semakin banyak orang yang mencari Tuhan dan membaca Alkitab untuk mendapatkan kekuatan, kedamaian, dan harapan.5 Di saat makin banyak orang yang tertekan dan mencari dukungan, janganlah kita lengah untuk hadir bagi mereka. Mungkin yang mereka butuhkan hanyalah kehadiran dan perhatian yang tulus, seperti kisah yang saya alami berikut ini.

Bagi sekolah, masa pandemi membawa tantangan bagi guru baik dalam menyiapkan materi pelajaran yang menarik, beradaptasi dengan teknologi, maupun berelasi dengan para siswa. Pun bagi siswa itu sendiri. Mereka yang biasanya begitu aktif dipaksa harus di rumah saja. Mungkin tidak terlalu masalah jika lingkungan rumah cukup kondusif dan mendukung kenyamanan dan keamanan anak. Namun, jika tidak, siapa lagi yang mereka harapkan di luar keluarga mereka? Apakah guru dan pembimbing sekolah minggu/remaja hanya bertugas memberikan informasi dan pengetahuan? Tentu tidak. Di sinilah peran guru sebagai gembala dibutuhkan.

Kehadiran dan Perhatian dalam Pemuridan di Masa Pandemi

Suatu hari di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ), saya ikut dalam kelas virtual kelas 1 SD saat Shepherding Time. Seorang siswi tampak murung dan mengungkapkan rasa sedihnya kepada pengajar. Karena ada materi yang harus disampaikan, pengajar menunda percakapan lebih lanjut, namun anak itu tetap terlihat kecewa. Saya hanya bertanya-tanya di dalam hati sambil kasihan: ada apa dengan anak ini?

Akhirnya, Shepherding Time selesai dan anak ini tetap tinggal di ruang virtual bersama pengajar, beberapa asisten pengajar, juga saya. Anak tersebut mengungkapkan bahwa ia sedih karena ingin kembali ke sekolah.

Kami para pendidik mengeluarkan reaksi beragam. Di benak saya terpikir, ya
ampun, karena pengin sekolah
. Saya geli sekaligus iba. Namun, para pengajar menanggapi dan menghibur dengan memberi semangat. Anak itu menjadi antusias sambil memainkan origami kapal yang baru saja dibuatnya saat Shepherding Time. Topik pembicaraan pun beralih karena dengan gembira dia bercerita tentang sudah pernah membuat kapal origami sebelumnya.

Kejadian ini sederhana, tetapi membuat saya berefleksi. Kepolosan seorang anak membuat dia dengan mudah menceritakan kesedihannya dan dengan mudah pula dihiburkan. Yang dia butuhkan hanyalah hal sesederhana itu – kehadiran dan perhatian yang tulus.

Tidak hanya anak kecil, saya juga menyadari bahwa beberapa remaja yang mengikuti KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) daring mencari persahabatan dan perhatian. Mereka berharap bisa merasa lebih terhubung, bukan hanya karena keseruan atau kebosanan. Dalam pengalaman pribadi, perhatian tulus dari teman-teman saya selama masa pandemi sangat membantu saya untuk tetap kuat. Kehadiran dan kasih sayang mereka benar-benar memberi kekuatan yang nyata, yang mengingatkan saya bahwa dalam situasi sulit, kehadiran dan perhatian adalah hal yang sangat berharga.

Memberi Apa yang Telah Diterima

Sering kali kita berpikir dengan rumit: apa yang harus kita lakukan dalam melakukan pemuridan di masa pandemi seperti ini: program, metode, teknologi, acara yang menarik, dan lain sebagainya. Alih-alih sukacita dan berpengharapan, kita justru digerakkan oleh kekhawatiran. Mari berhenti sejenak dan renungkan, sebenarnya apa esensi dari pelayanan ini? Seperti apa hati Tuhan bagi jiwa-jiwa yang kita layani?

Tuhan Yesus datang ke dunia memberikan diri-Nya sendiri. Dia memberikan kehadiran dan perhatian yang nyata kepada semua kaum. Demikian juga seharusnya kita. Meskipun pemuridan di masa pandemi bukanlah suatu hal yang mudah dan membutuhkan harga yang besar, ingatlah: kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki, sebaliknya, kita hanya dapat memberikan apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Be with and befriend! Bagikan kehadiran dan perhatian/persahabatan yang tulus kepada mereka yang kita muridkan, sebagaimana Allah telah hadir dan memperhatikan kita terlebih dahulu.

Referensi.

  1. Billy Graham, “Billy Graham: What’s the Cost of Following Jesus Christ?,” Billy Graham Evangelistic Association, 2 Agustus 2017, https://billygraham.org/audio/billy-graham-whats-the-cost-of-following-jesus-christ/.
  2. Evangelism Coach, “Evangelism Quotes and Quotations,” Evangelism Coach, 20 April 2019, https://www.evangelismcoach.org/evangelism-quotes-and-quotations/.
  3. Kyle Idleman, Grace Is Greater, trans. Tim Literatur Perkantas Jatim (Grand Rapids: Baker Books, 2017), 66.
  4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, “Masalah Psikologis di Era Pendemi Covid-19,” Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, 14 Mei 2020, http://pdskji.org/home.
  5. Kate Shellnutt, “2020’s Most-Read Bible Verse: ‘Do Not Fear’,” Christianity Today, 3 Desember 2020, https://www.christianitytoday.com/news/2020/december/most-popular-verse-youversion-app-bible-gateway-fear-covid.html.

Makna Sejati Takut Akan Tuhan

makna takut akan tuhan

Oleh: Sylvia Radjawane

Apa yang Kita Pikirkan Saat Mendengar Kata “Takut”?

Setiap mendengar kata takut, apa yang kita pikirkan?
Bagi banyak orang, kata ini sering diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif. Namun, ada satu jenis rasa takut yang justru paling positif di dunia ini — yaitu takut akan Tuhan.

Rasa takut yang satu ini membawa saya untuk mengalami hubungan yang semakin akrab dan indah dengan Tuhan. Mengapa demikian? Karena dalam hubungan yang terjalin itu, saya mengenal Tuhan bukan sebagai pribadi yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang penuh kasih karunia dan kuasa, yang setia menemani setiap langkah hidup saya.


Belajar dari Kehidupan Musa

Saya belajar dari kehidupan Nabi Musa, yang ucapannya tercantum dalam Ulangan 9:19. Musa adalah tokoh Alkitab yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Namun, perjalanan hidupnya yang fenomenal tidak terjadi seketika. Awalnya, Musa menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan alasan, “Aku tidak pandai berkata-kata.” Ia merasa tidak layak diutus untuk memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian.

Ketika akhirnya Musa memutuskan untuk menjalani panggilan Tuhan, perjalanan itu membawanya kepada hubungan yang semakin karib dengan Tuhan.
Ia bahkan berani berkata, “Walau aku tahu Tuhan murka dengan apa yang sudah dilakukan bangsa Israel, tapi aku kenal Tuhanku dan Ia akan mendengarkan permohonanku.”
Pernyataan ini menunjukkan adanya hubungan yang istimewa antara Musa dan Tuhan — hubungan yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang benar-benar takut akan Tuhan.


Pengalaman dalam Kehidupan Pribadi

Dalam pengalaman pribadi saya, takut akan Tuhan bukan berarti saya harus melakukan segala sesuatu yang baik hanya karena takut akan hukuman Tuhan. Saya bisa saja patuh kepada Tuhan, tetapi tanpa memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.

Namun, Tuhan menginginkan hubungan yang berkualitas dengan saya. Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan.

Saat saya hidup dalam rasa takut yang benar kepada Tuhan, hubungan yang karib dan istimewa dengan-Nya membuat saya memiliki kesadaran untuk tetap dekat dengan Tuhan — dan justru takut untuk menjauh dari-Nya.


Hidup Berkenan di Hadapan Tuhan

Perspektif ini membawa saya pada keputusan hidup seperti berikut:

“Saya memutuskan dengan sadar untuk memilih cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, karena hubungan kami sangat istimewa. Saya ingin mempertahankannya demi kebaikan saya sendiri, yaitu pertumbuhan iman saya.”

Apakah mudah melakukan komitmen seperti ini? Mungkin tidak.
Namun, saya percaya hanya Tuhan yang sanggup memperbesar kapasitas hati saya untuk memiliki dan menjalankan komitmen seperti ini.


Hadiah dari Tuhan

Tuhan berkenan kepada orang yang hidupnya takut akan Dia.
Selalu ada berkat dan hadiah yang menanti bagi mereka yang memiliki rasa takut yang benar — bukan karena rasa terpaksa, tetapi karena kasih dan penghormatan yang tulus.

“Fear ensures compliance; Fear of God inspires commitment.”
Rasa takut biasa menuntut kepatuhan; takut akan Tuhan menumbuhkan komitmen.

Belas Kasihan, Bertindak dengan Empati

belas kasihan

Belas kasihan sering disamakan dengan rasa kasihan, padahal keduanya berbeda secara mendasar. Perasaan ini berangkat dari pemahaman yang tulus terhadap penderitaan orang lain, lalu diikuti dengan niat untuk membantu dengan cara yang menghargai martabat mereka.

Dalam belas kasihan, kita tidak hanya hadir untuk membantu, tapi juga mendorong orang lain agar bangkit dan mandiri. Ini adalah bentuk empati aktif yang menolak hubungan yang timpang. Seseorang yang berbelas kasih tidak sekadar merasa iba, tapi juga bertindak dengan bijak, tidak merendahkan, dan tidak menciptakan ketergantungan. Misalnya, saat anak kesulitan belajar di rumah, kita bisa memilih untuk memahami tantangan anak, lalu mendukungnya menemukan kekuatan dari dalam dirinya sendiri.

Mari simak video ini!

Baca Juga : Titik Temu Antargenerasi – Terhubung dan Terlibat

Cobalah refleksikan: dalam interaksi harian kita, lebih sering mana kita merasa kasihan, dan kapan terakhir kita benar-benar berbelas kasih?

Baca Juga: Belas Kasihan

 

Berbagi: Ajarkan Anak Hidup Hemat dan Peduli Sesama

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak besar bagi berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal ekonomi. Banyak orang yang menghadapi tantangan finansial, mulai dari pengurangan pendapatan, kehilangan pekerjaan, hingga meningkatnya kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, justru terbuka peluang berharga untuk mengajarkan nilai-nilai penting kepada anak, salah satunya adalah bagaimana bijak dalam menggunakan uang dan sumber daya yang lain. Selain itu, yang tak kalah penting adalah belajar berbagi.

Bagaimana cara memulainya? Salah satu triknya adalah dengan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan penuh makna akan lebih efektif. Misalnya, melibatkan anak dalam menyusun anggaran belanja keluarga, tantang mereka menabung untuk barang impian, dan ajak berdiskusi tentang pentingnya berbagi. Kegiatan seperti mendaur ulang barang lama untuk dijadikan hadiah atau proyek kreatif juga bisa memperkuat nilai hemat sekaligus melatih empati.

Ingin tahu lebih banyak cara kreatif dan inspiratif untuk mengajarkan hidup hemat pada anak?

Yuk, tonton video ini bersama keluarga dan temukan inspirasinya!

Dengan membiasakan anak untuk hemat dan berbagi, kita tidak hanya menanamkan nilai finansial, tetapi juga membentuk karakter yang bijak, peduli, dan bertanggung jawab sejak dini.

Sudahkah kita memberi contoh hidup bijak dan peduli kepada anak-anak kita? Karena sejatinya, anak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Mari jadikan momen ini sebagai langkah awal membangun kebiasaan baik dalam keluarga!

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #hemat #hiduphemat #memberi #sharing

Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir

tabah

Setiap orang tua tentu ingin membesarkan anak mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan kepala tegak. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, membangun karakter tabah menjadi sangat penting. Dengan karakter ini, kita akan tetap bertahan dalam situasi sulit dan menyelesaikannya sampai akhir. Namun, bagaimana cara terbaik dalam membentuk anak-anak menjadi sosok yang tabah?

Melalui video “Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir“, Ibu Charlotte Priatna mengupas soal karakter tabah. Beliau mengatakan bahwa dalam karakter ini, ada proses pembelajaran yang konsisten dan penuh keteladanan yang perlu dilakukan oleh orang dewasa, khususnya orang tua.

Selain keteladanan, proses mendidik anak agar memiliki karakter ini juga membutuhkan ruang untuk mereka menghadapi kesulitan sendiri. Memberikan mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah, mengelola emosi, dan bangkit dari kegagalan akan memperkuat jiwa dan mental mereka.

Kiranya video ini tidak hanya mengajak kita merenung, tetapi juga mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lembut dalam membentuk karakter anak. Karena dalam setiap proses belajar bertahan, kita pun sedang diproses untuk menjadi lebih tabah.

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #karakter #tabah #endurance

Memupuk Kemurahan Hati

Di tengah situasi pandemi yang penuh tantangan ini, banyak keluarga mengalami perubahan besar dalam hidup mereka. Tidak sedikit yang menghadapi tekanan ekonomi, kesehatan, maupun emosional. Dalam kondisi seperti ini, justru karakter kemurahan hati sangat diperlukan. Karakter ini membuat kita mampu melihat penderitaan orang lain dan tergerak untuk menolong. Kemurahan hati tidak hanya membantu mereka yang kesusahan, tapi juga menguatkan empati dan kasih dalam diri kita.

Sebagai orang tua, kita memiliki peran penting untuk menjadi teladan dalam hal kemurahan hati. Anak-anak belajar bukan hanya dari perkataan, tetapi dari sikap dan tindakan nyata yang mereka lihat setiap hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti berbagi makanan kepada tetangga, mendoakan mereka yang sakit, atau menyisihkan uang jajan untuk membantu sesama. Libatkan anak dalam tindakan kebaikan tersebut, agar anak mengerti arti memberi dan peduli. Karakter ini, jika diajarkan secara konsisten, akan melekat dalam hati anak hingga dewasa.


Mari jadikan masa sulit ini sebagai kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai kebenaran, khususnya murah hati. Jadilah contoh nyata bagi anak, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan aksi penuh kasih. Sebab, saat kita bermurah hati, bukan hanya orang lain yang diberkati, tapi hati kita pun diperkaya.

Sudahkah Anda menunjukkan kemurahan hati hari ini?

Baca Juga : Pengendalian Diri – Tembok Pertahanan Diri

tags :

#sekolahkarakter #pendidikankarakter #sekolahkristen #sekolahathalia #tipsparenting #videoparenting #belajarparenting #characterbasedlearningcommunity #komunitasathalia #murahhati #pedulisesama

Pentingnya Bahasa Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak

Oleh: Lidia Kurniasari, Guru Bahasa Indonesia SMA

Bahasa sebagai Alat Interaksi Sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup berdampingan dan membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi serta bersosialisasi. Kemampuan ini sangat penting untuk memperkecil kesalahpahaman dalam komunikasi. Salah satu instrumen utama yang membantu manusia berinteraksi adalah bahasa.

Bahasa berperan penting sebagai alat komunikasi. Kemampuan berbahasa yang baik dapat meningkatkan kualitas interaksi dan mempererat hubungan antarindividu.


Peran Keluarga dalam Pemerolehan Bahasa Ibu

Konsep komunikasi pertama kali dipelajari di lingkungan tempat seseorang dilahirkan — yaitu keluarga. Orang tua memegang peranan penting dalam proses pemerolehan bahasa pada anak, yang dikenal sebagai bahasa ibu atau mother tongue.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai oleh manusia sejak lahir melalui interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak belajar bahasa pertama dengan cara mendengar komunikasi di sekitarnya, menyimpannya dalam “gudang bahasa”, lalu mengolahnya menjadi kalimat.


Bahasa Ibu sebagai Dasar Cara Berpikir

Kemampuan seseorang menguasai bahasa ibu berpengaruh besar terhadap proses belajar berikutnya. Bahasa menjadi dasar cara berpikir, membentuk pola logika dan pemahaman anak terhadap dunia di sekitarnya.

Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari pentingnya penggunaan bahasa ibu dalam pembentukan karakter anak. Saat anak mulai memasuki lingkungan masyarakat yang lebih luas, bahasa ibu membantu mereka memahami nilai, norma, dan budaya bangsanya sendiri.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membangun kemampuan berbahasa anak antara lain:

  • Siapa yang berbicara dan diajak bicara,
  • Tempat dan waktu interaksi,
  • Topik pembicaraan, serta
  • Bahasa yang digunakan.

Dengan memahami hal-hal tersebut, orang tua dapat membantu anak menggunakan bahasa secara tepat dan berkarakter.


Tantangan Pelestarian Bahasa Ibu di Era Digital

Anak-anak zaman sekarang lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau melalui media sosial. Mereka cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing karena menganggap hal itu membuka peluang karier dan koneksi global.

Pandangan tersebut tidak salah, namun tanggung jawab mempertahankan bahasa ibu tidak boleh diabaikan. Bahasa adalah jendela untuk memandang realitas kehidupan. Hilangnya bahasa berarti hilangnya cara pandang, nilai, etika, dan norma suatu bangsa.

Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan kecintaan pada bahasa ibu, sembari tetap memberikan kesempatan anak belajar bahasa asing. Dengan begitu, anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.


Peran Sekolah dan Orang Tua dalam Melestarikan Bahasa Ibu

Sekolah juga memiliki peran penting dalam pelestarian bahasa ibu. Contohnya, Sekolah Athalia—sebuah sekolah di BSD, Serpong— sebagai sekolah Kristen yang menekankan pembentukan karakter, berkomitmen menjadi wadah bagi siswa untuk mencintai bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Kesadaran bersama antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan penggunaan bahasa ibu baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Dengan memberikan teladan yang baik, anak-anak akan lebih mudah memahami nilai luhur bangsanya melalui bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.


Menumbuhkan Cinta Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah

Pemerintah Indonesia telah menetapkan slogan:
“Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Pelajari Bahasa Asing.”

Slogan ini mengandung pesan kuat agar masyarakat, terutama generasi muda, tetap menjadikan bahasa ibu sebagai jati diri bangsa. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah harus diutamakan dan dilestarikan, sementara bahasa asing dipelajari sebagai jembatan komunikasi global.


Kesimpulan: Bahasa Ibu adalah Identitas dan Karakter Bangsa

Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya dan cerminan karakter bangsa. Melalui bahasa itu, anak belajar berpikir, beretika, dan memahami nilai kehidupan.

Peran orang tua dan guru sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh teknologi.
Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan tanamkan kebanggaan berbahasa kepada generasi penerus bangsa.