Kasih Karunia dari Allah

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Kasih karunia dari Allah

Lukas 1:30-31
Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Apa itu Kasih Karunia Allah?

Maria mendapat kasih karunia di hadapan Allah. Kasih karunia yang dimaksud oleh malaikat adalah mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi Juru Selamat dunia. Di satu sisi, ini adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa, rahim manusia berdosa dipakai untuk hadir-Nya Yesus, Putra Allah. Namun, di sisi lain tentu ini merupakan tugas yang berat karena Maria masih perawan. Saat itu di Israel, jika seorang wanita yang belum menikah mengandung seorang anak maka ia akan mendapatkan hukuman mati. Karena itu, kasih karunia yang diterima Maria adalah sebuah tanggung jawab mulia dari Allah. Ia menjadi rekan sekerja Allah untuk mewujudkan rencana Allah yang mulia yaitu menyelamatkan manusia yang berdosa.

Apa yang kita pikirkan ketika berbicara mengenai kasih karunia? Apakah berkat-berkat jasmani, kemudahan hidup dan kesenangan dunia ini? Kasih karunia Allah jauh melampaui keindahan dan kenikmatan dunia ini, karena kasih karunia Allah adalah ketika kita bisa menjadi bagian dari penggenapan rencana Allah yang mulia. Kasih Karunia adalah ketika kita bersedia dipakai menjadi hamba-Nya, melakukan kehendak-Nya seperti Maria (Lukas 1:38). Dan dalam prosesnya, Allah tidak meninggalkan umat-Nya.

Kasih Karunia Sebagai Orang Tua

Salah satu kasih karunia Allah bagi kita adalah dengan menjadi orang tua. Tidak semua orang punya kesempatan ini, namun jika kita memilikinya, bersyukurlah. Sebab anak adalah hak istimewa sekaligus tanggung jawab yang mulia dari Allah. Adakalanya tanggung jawab ini terasa berat sebab orang tua dan juga anak-anak sama-sama manusia yang terbatas. Namun, itu bukan berarti orang tua di dalam Tuhan tidak akan mampu mengemban tanggung jawab ini. Sebab kasih karunia Allah juga berarti adanya penyertaan Allah bagi mereka yang dipilih Allah untuk melakukan misi-Nya.

Natal Sebagai Kisah Kasih Karunia dari Allah

The story of Christmas is the story of God’s relentless love for us – Kisah Natal adalah kisah kasih Tuhan yang tiada henti bagi kita (Max Lucado). Oleh karena itu, biarlah momen Natal mengingatkan kita bahwa kasih karunia Allah telah dinyatakan bagi kita dengan kehadiran Kristus yang mengasihi dan menyelamatkan kita. Dan kiranya teladan kasih Allah itu mendorong kita untuk menjadi orang tua yang menyatakan kasih Kristus kepada anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita.

‘GBK: Arena Pendidikan Berbagi’

Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Matthew 25:45).

Sekolah Athalia sejak awal telah mendorong siswa untuk hidup berbagi, khususnya melalui Gerakan Berbagai Kasih (GBK). Gerakan yang dicetuskan dan dikelola oleh para orang tua siswa yang tergabung di dalam Athalia Parents Community (APC) ini telah mentradisi di lingkungan sekolah Athalia. Melihat realita, bahwa ada banyak siswa Athalia yang membutuhkan bantuan dana untuk mencukupi pembiayaan sekolah, maka Sekolah Athalia bersama APC melihat peran strategis gerakan ini. Karena itulah, seluruh siswa, mulai dari SD hingga SMA diharapkan turut ambil bagian.

Menurut hemat saya, gerakan  ini tidak saja sebagai wadah untuk berbagi. Namun gerakan ini juga dapat menjadi wadah pendidikan. Gerakan ini pada dasarnya gerakan mendidik anak untuk memiliki karakter berbagi. Bahwa begitu banyak  anak yang kekurangan secara ekonomi dan begitu banyak anak yang berkecukupan adalah bak sebuah lembaran pelajaran. Pembahasan pembelajarannya adalah yang berkecukupan  menaruh peduli terhadap yang kekurangan (Band, Kis 2:45).

Gerakan berbagi kasih adalah sebuah arena pembelajaran yang amat berharga bagi siswa – dan tentunya orang tua yang menjadi sumber penghidupan si anak – untuk  memperdulikan sekelilling. Apalagi di tengah bangsa Indonesia di mana kesenjangan ekonomi dari tahun ke tahun semakin meninggi. Karena itu, seluruh komunitas Athalia diharapkan menikmati dan mendukung gerakan ini.

Metode pengumpulan Gerakan Berbagi Kasih (GBK) SMA Athalia mengalami perubahan. Sejak semula, pengumpulan GBK dilakukan melalui metode membagikan kotak GBK yang disebar di setiap kelas. Namun setelah dilihat, bahwa metode tersebut tidak efektif. Terlihat dari jumlah GBK yang terkumpul di tingkat SMA menempati posisi terendah setiap bulannya. Karena itulah, Yayasan beserta pimpinan Sekolah Athalia memutuskan bahwa metode pengumpulan GBK diubah.

Sejak 6 Februari 2014, pengumpulan GBK SMA dilakukan melalui ibadah setiap hari Kamis (SMP di ibadah Selasa/Rabu). Selain pertimbangan efektifitas, perubahan ini dilakukan dikarenakan berbagai pertimbangan teologis. Pertama,  bahwa memberi adalah bagian dari ibadah, maka tidak ada yang keliru dengan mengedarkan kantong persembahan selama ibadah.  Kedua, memberi melalui GBK juga berarti memberi untuk Tuhan. Bila kita telusuri konsep persembahan persepuluhan maka orang miskin atau yatim piatu (atau di dalam konteks hari ini kita sebut yang ‘kekurangan’), mendapat bagian dari persembahan persepuluhan yang dibawa ke dalam bait suci (Ulangan 14: 29). Alasan terakhir, mendidik siswa bahwa memberi GBK itu berarti memberi untuk Tuhan, bukan memberi kepada orang-orang yang menerima GBK tersebut. Dengan demikian, tertanam di dalam hati mereka bahwa gerakan yang sedang dilakukan bukan gerakan moral, namun gerakan yang didasari atas persekutuan dan kecintaan kepada Tuhan (band, Mat 25:45). Selamat berbagi! (PP)