Kurikulum Merdeka, Tidak Sekadar Belajar CALISTUNG

Oleh: DR. Yohanes Moeljadi Pranata
Dosen, Peneliti, dan Pengembang Bidang Inovasi Kependidikan

Pada Kamis, 14 Juli 2022, semua guru Sekolah Athalia mulai dari level TK sampai dengan SMA mengikuti pembinaan dari seorang penggiat Kurikulum Merdeka Belajar yang bernama DR. Yohanes Moeljadi Pranata yang juga lebih akrab disapa dengan Pak Moel. Latar belakang beliau sejak 1975 sebagai pendidik dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari level sekolah hingga perguruan tinggi membuat beliau fasih untuk menerjemahkan kepada para awam terkait Kurikulum Merdeka Belajar. Mari kita simak tanya jawab yang dilakukan oleh tim redaksi ALC News seputar Kurikulum Merdeka Belajar.

ALC News: Mengapa pemerintah Indonesia berencana menerapkan Kurikulum Merdeka ini?

Pak Moel: Saat ini pemerintah Indonesia mulai sadar dan bergerak untuk memperbaiki sistem pendidikan di negara ini ke tahap yang lebih baik lagi dan bisa sejajar dengan standar pendidikan internasional. Namun yang terutama adalah menjadikan siswa Indonesia mempunyai Profil Pelajar Pancasila.

ALC News: Apa tantangan yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia terkait persiapan penerapan kurikulum ini?

Pak Moel: Tantangan pertama adalah luasnya geografis Indonesia dan perbedaan peradaban dari megalitikum sampai megapolitan. Beda dengan Singapura dan Finlandia yang luas negaranya lebih sempit dan keberagaman budaya penduduknya lebih sederhana.
Selain itu juga warisan sistem pendidikan dari para pendahulu dimana sistem pendidikan belum dikelola dengan baik. Tantangan terakhir adalah adanya pengaruh politik yang menerapkan sistem sentralistik, dimana semua wilayah Indonesia harus memakai sistem dengan kebijakan yang seragam sesuai ketentuan pemerintah pusat, juga adanya sistem desentralisasi dimana sekolah hanya sebatas pelaksana teknis saja dan belum mengarah pada pengembangan profesional.

ALC News: Apa tolok ukur yang dipakai untuk mengukur kemampuan literasi suatu negara?

Pak Moel: Ada parameter atau tes dengan standar internasional yang bernama PISA (Programme for International student Assessment), bila ingin melihat lebih detail terkait PISA dapat membaca di laman website https://www.oecd.org/pisa/aboutpisa/. Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan ikut tes PISA mulai tahun 2000 sampai sekarang. Hasilnya PISA Indonesia mulai tahun 2000 sampai 2018 didapat siswa dapat membaca teks tapi belum memahami isi teks, apalagi menggunakan teks untuk menganalisis, mengevaluasi, mencipta, dan memecahkan suatu permasalahan yang komplek. Saat ini Indonesia berada di peringkat 72.

ALC News: Langkah konkrit apa yang dilakukan oleh pihak kementrian pendidikan Indonesia?

Pak Moel: Maka Mas menteri (Bapak Nadiem) berencana memperbaiki sistem pendidikan ini dan tentunya dibarengi dengan survei yang mendalam. Rancangan pertama yaitu sekolah penggerak dengan menggunakan Kurikulum Penggerak. Kemudian setelah melalui beberapa penyesuaian dan revisi berubah menjadi Kurikulum Prototipe, dan sampai pada akhirnya lahirlah Kurikulum Merdeka Belajar.

ALC News: Apa tujuan dari Kurikulum Merdeka Belajar ini?

Pak Moel: Tujuannya yaitu ingin memerdekakan guru, siswa, dan sekolah untuk melakukan pembaharuan/ inovasi. Pembaharuan paradigma, pola pikir, keterampilan, dan tenaga pendidik dan kependidikan yang baru. Tapi tidak mungkin suatu sekolah mengganti semuanya itu maka diadakanlah di setiap sekolah guru penggerak untuk menjadi agen yang totalitas dan terdepan dalam pembaharuan Kurikulum Merdeka Belajar. Jadi pemerintah hanya berfungsi sebagai fasilitator saja karena sekolah diberikan kebebasan untuk mendesain kurikulum sekolah masing-masing.

ALC News: Apa target jangka panjang dari Kurikulum Merdeka Belajar ini?

Pak Moel: Targetnya adalah pencapaian tiga kecakapan utama yaitu: kemampuan literasi, pembentukan karakter dasar, dan kemampuan 4C (critical thinking, creative, communication effectively, and collaboration). Jadi lebih dari sekadar mampu di bidang calistung. Semua kecakapan di atas nantinya akan terdeskripsi dalam suatu Profil Pelajar Pancasila.

ALC News: Lalu apa yang dapat dilakukan orang tua siswa untuk mendukung Kurikulum Merdeka Belajar ini?

Pak Moel: Sebenarnya pemerintah beserta tim ahli juga menggandeng orang tua sebagai stake holder untuk menyukseskan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar ini. Pendidikan adalah tanggung jawab utama orang tua dan sekolah hanya sebagai penolong. Paling tidak orang tua mampu mengikuti perkembangan, memahami harus ada perubahan, dan hasil rapot serta akreditasi tidak menjamin kompetensi siswa. Jadi butuh keterlibatan orang tua untuk mendukung sekolah. Sehingga ke depannya siswa memiliki kompetensi untuk menghadapi perubahan yang cukup pesat dan tidak terduga ini. Keluarga harus menjadi pusat pendidikan.

Keluarga sebagai komunitas pertama dalam memberikan contoh nyata berperilaku diharapkan dapat melahirkan siswa yang:

  1. beriman dan bertaqwa/bermoral yang mulia
  2. kemandirian
  3. gotong royong/kolaborasi/jejaring
  4. berpikir kritis
  5. kreatif
  6. berkebhinekaan global

Sebagai penutup untuk Sekolah Athalia adalah Firman Tuhan dari 1 Korintus 15: 10
“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Sekolah Athalia berpusat pada Kristus, berpihak kepada siswa saat menjalankan Kurikulum Merdeka Belajar ini.

Allah adalah Sempurna (Ulangan 32:1-4)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia

Ada banyak hal di dalam dunia ini yang bagi kita mungkin sangat berharga dan mampu melengkapi hidup kita. Tanpa hal-hal itu hidup terasa kurang. Lagu Andra and The Backbone yang berjudul Sempurna, juga mengisahkan tentang seorang wanita yang menurutnya begitu sempurna sehingga dapat melengkapi hidupnya. Namun jika kita renungkan, sesungguhnya semuanya itu bersifat fana, sementara dan dapat lenyap sekejap dan kapan saja. Jika kita menggantungkan hidup kita pada hal-hal yang sementara, kita hanya akan menerima kekecewaan dan kesedihan.

Satu-satunya Pribadi yang dapat kita andalkan hanyalah Tuhan. Ia, adalah Allah Pencipta kita, bukan pelengkap hidup kita yang kalau kita butuh baru kita datang kepada-Nya. Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Semua hal dalam dunia boleh lenyap, asal ada Tuhan. Memiliki Tuhan berarti kita telah memiliki segalanya. Mengapa? Karena Ia adalah Allah yang sempurna; segala sifatnya dan/karakternya sempurna. Kebaikan-Nya sempurna, kasih-Nya sempurna dan kuasa-Nya pun sempurna.

Menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna maka:

  • Kita dapat mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, Allah yang sempurna itu. Kita memang tidak bisa menyelami pemikiran dan kuasa-Nya yang sempurna karena kita terbatas dan Ia sempurna, namun kita dapat yakin bahwa kita dapat bersandar sepenuhnya di dalam Dia, Allah yang sempurna.
  • Kita belajar hidup sempurna untuk merefleksikan gambar kemuliaan-Nya. Sebagaimana Allah yang sempurna, Ia ingin kita juga hidup merefleksikan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu kita harus terus berjuang semakin serupa Kristus dalam seluruh aspek hidup kita supaya ketika orang lain melihat kita, mereka dapat melihat Kristus dalam diri kita dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:48).

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pelaku firman-Nya, percaya penuh kepada-Nya dan belajar hidup makin serupa Kristus.

Paduan Suara SD Athalia Menerima
Penilaian Juri Internasional sebagai
Terbaik I (Gold I) di Penabur
Internasional Choir Festival 2022

Oleh: Tania Veronina Aipassa – Pembina Padus SD Athalia

Puji Tuhan Sekolah Athalia – sebuah sekolah di Serpong, terus membuka kesempatan untuk setiap anak-anak yang bertalenta dan mau belajar memuji Tuhan melalui paduan suara. Di masa pandemi ini kami mencoba untuk tetap membentuk paduan suara anak khususnya paduan suara Anak SD Athalia. Hal ini tentunya tidaklah mudah dan terdapat banyak sekali tantangan. Tetap semangat melayani Tuhan! Inilah yang menjadi dorongan bagi kami dan anak-anak untuk belajar di dalam Paduan Suara.

Di tahun ini kami kembali mendapat kesempatan untuk mengikuti International Choire Festival 2022. Kami segera melakukan proses pembentukan Paduan Suara, dimulai dari memilih anak yang nantinya akan menjadi perwakilan paduan suara dari SD Athalia. Dalam pemilihan bukan hanya suara yang baik dan indah, namun anak-anak juga harus memiliki kesukaan bernyanyi, berani tampil, mau belajar banyak hal ketika berpaduan suara, serta disiplin yang tinggi. Hal ini tercapai tentunya dengan persetujuan dan dukungan dari orang tua.

Ketika jadwal latihan sudah terbentuk dan dimulai secara on-line sebenarnya tidaklah mudah. Kesulitan yang terjadi adalah anak-anak kurang dapat memahami teknik bernyanyi dengan baik yang disampaikan
oleh pembina secara menyeluruh. Komunikasi yang sering terganggu karena kondisi jaringan internet yang kurang baik, menjadikan perintah atau arahan tidak dapat dipahami dengan jelas oleh anak-anak. Namun, kendala yang terjadi dapat tertutupi dengan adanya semangat yang tinggi dari anak-anak. Di pertengahan jadwal latihan kami mendapatkan kesempatan untuk latihan secara on-site di aula A. Waah.. Ini menjadi dorongan atau semangat baru bagi anak-anak dan pembina padus. Anak-anak lebih dapat mengekspresikan suara dan gerakan-gerakan yang diajarkan. Pembina pun dapat mendengar secara langsung perpaduan suara anak-anak. Tentunya kami tetap memperhatikan protokol kesehatan saat pelaksanaan latihan secara on-site. Anak-anak dapat dengan baik menjaga dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan.

Lagu-lagu yang diberikan untuk dinyanyikan oleh anak-anak adalah lagu-lagu yang mendidik dan terutama memuji nama Tuhan Yesus. Anak-anak melakukan dan bernyanyi dengan sukacita serta menjiwai isi lagu-lagunya.

Paduan Suara SD Athalia, mengikuti festival ini bukan untuk mencari atau mendapatkan juara, namun semua ini agar anak-anak mempunyai pengalaman yang baik serta bersama-sama mempersembahkan pujian indah bagi Tuhan. Anak-anak berusaha melakukan semuanya dengan sukacita, rendah hati, serta yang terutama adalah menyiapkan dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Pada akhirnya kami semua yang tergabung dalam Paduan Suara SD Athalia dapat belajar melayani Tuhan melalui talenta yang Tuhan percayakan dan nama Allah ditinggikan.

Puji Tuhan! Dengan rasa syukur dan rendah hati, Paduan Suara Anak SD Athalia menerima penilaian Juri Internasional sebagai Terbaik I (Gold I) untuk Category Primary School Choir dengan score 83.20.

Terima kasih Sekolah Athalia, para guru dan seluruh orang tua. Tuhan Yesus memberkati karya dan pelayanan kita semua.

Bahasa Kasihnya Tuhan

bahasa kasihnya Tuhan

Oleh: Lili Irene, M.Th – Staf Kerohanian Sekolah Athalia

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia
dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih
aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing
(1 Korintus 13:1)

Penting yang Mana, Menguasai Banyak Bahasa atau Memiliki Kasih?

Berapa bahasa yang kita kuasai? Mungkin ada yang menguasai satu, dua, bahkan ada yang lebih. Bella Devyatkina, seorang anak usia empat tahun, memukau penonton televisi di negerinya, Rusia, karena berhasil menguasai enam bahasa asing sekaligus. Tentu suatu kebanggaan jika kita bisa menguasai berbagai bahasa yang ada di dunia. Lewat penguasaan berbagai bahasa, selain terlihat keren juga bisa memudahkan kita dalam pergaulan dan berelasi dengan semakin banyak orang.

Ayat 1 Korintus 13:1 menyentak kita dengan mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berkata-kata atau menguasai semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun namun jika kita tidak mempunyai kasih maka itu sia-sia saja.

“Andai kata kulakukan yang luhur mulia, jika tanpa kasih cinta, hampa tak berguna. Ajarilah kami bahasa kasih-Mu agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku”. Ini adalah kutipan sebuah lagu yang sekaligus doa agar kita diajari bahasa kasihnya Tuhan. Ayat sekaligus nyanyian ini mengingatkan kita bahwa memang penting menguasai banyak bahasa, namun yang paling penting bagi kita orang percaya adalah menguasai bahasa kasih atau bahasa cintanya Tuhan.

Kata-kata dan Dampaknya

Mungkin ada di antara kita yang mempunyai kesulitan untuk bisa mengendalikan kata-kata sehingga begitu mudah mengucapkan kata-kata yang kasar dan makian ketika kita marah. Bahkan, ketika berusaha menerapkan bahasa kasihnya Tuhan dengan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatur bahasa yang kita gunakan, tetap saja ada kalanya kita masih terpeleset, bukan?

Bahasa yang kita gunakan sangat mungkin bisa menyakiti orang lain jika kita tidak berhati-hati. Mungkin kita pernah mendengar ada anak-anak atau orang-orang yang sakit hati atau memendam luka oleh kata-kata yang kasar, kritikan, atau dibanding-bandingkan dengan saudaranya/temannya. Semua itu menghancurkan harga diri mereka. Anak-anak yang sejak kecil mendengar kata-kata kasar dari orang di sekitar mereka, seperti orang tua, pendidik, ataupun teman-temannya akan hidup dalam kepahitan. Seorang anak yang tidak pernah dipuji untuk apapun yang ia kerjakan, malah dihina dan diejek, akhirnya putus asa dan memilih jalan pintas. Hal ini sungguh menjadi sebuah ironi, bukan?

Lima Bahasa Kasih

Gary Chapman dalam bukunya, mengatakan ada 5 cara untuk mengekspresikan bahasa kasih, yaitu:

  • Pujian (Words Of Affirmation)
  • Waktu bersama (Quality Time)
  • Tindakan Pelayanan (Art of Service)
  • Menerima Hadiah (Receiving Gift)
  • Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Kelima bahasa kasih yang diungkapkan Gary ini adalah hal-hal yang juga anak-anak kita butuhkan dalam kehidupan mereka. Mereka memerlukan pujian, pemberian penghargaan, waktu yang kita berikan, sentuhan kehangatan, dan tindakan nyata kita kepada mereka.

Bahasa Kasihnya Tuhan

Hal penting yang perlu kita ingat sebagai orang tua dan para pendidik adalah untuk terus berdoa agar kita diajar bahasa kasihnya Tuhan. Dengan bahasa kasih itu kita dapat berkata-kata yang sifatnya membangun dan menguatkan bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Bahasa kasihnya Tuhan yang telah nyata diberikan kepada kita orang berdosa yaitu lewat pengorbanan-Nya. Ia rela mati di atas kayu salib, dihina dan dicemooh, namun tidak membalas. Dengan bahasa kasih yang lemah lembut Tuhan telah menerima kita orang berdosa. Ia berkorban, mengampuni dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu, biarlah kita juga bisa memberikan bahasa kasihnya Tuhan lewat tutur kata yang lembut, membangun dan menguatkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya Tuhan memampukan kita semua.

Keren! Ini dia Pesona Bahasa Indonesia

Oleh: Selly Christina Siregar, orang tua siswa kelas 8R dan kelas 4E

Gempuran bahasa asing bukanlah hal baru di era globalisasi. Setiap hari, kita mendengar berbagai istilah asing digunakan. Sebagai ibu dengan dua anak yang usianya terpaut jauh, seringkali saya mendengar beberapa kosakata baru yang mereka suka lontarkan di dalam percakapannya. Cerita saya kali ini tentang bagaimana saya memposisikan diri sebagai “wakil dari kaum generasi Y” yang saat mendengar anak-anak masa kini berkomunikasi menggunakan bahasa anak Jaksel.

Berkomunikasi menggunakan bahasa campur-campur atau dikenal sebagai “bahasa anak Jakarta Selatan (Jaksel)” kini mendadak populer. Penggunaan frasa seperti which is, basically, literally, dan bahasa asing lainnya menjadi hal yang biasa. Kedua putra saya pun mulai ikut-ikutan menggunakan bahasa campuran ini.

Menurut saya, kata-kata tersebut sebenarnya adalah kosakata dasar dalam bahasa Inggris. Namun kata-kata ini menjadi populer lantaran banyak dicampur dengan bahasa Indonesia. Masyarakat memandangnya sebagai bagian dari identitas dan eksistensi sosial.

Mungkin saja, ada rasa bangga tersendiri jika seseorang dengan mahir melafalkan bahasa asing, sebagai bahasa tambahan. Penggabungan dua bahasa, kemudian menarik perhatian lantaran dianggap berbeda dari bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya sendiri tidak menilai fenomena ini sebagai hal negatif. Bahasa selalu berkembang mengikuti zaman, termasuk bahasa gaul yang digunakan generasi muda.

Saya masih mengingat tren bahasa gaul era 90-an saat saya duduk di bangku SMP. Ada bahasa gaul yang bokis, yongkru, tengsin, dan borju yang sangat populer dan mendorong setiap orang, untuk ikut-ikutan mengucapkannya. Setiap zaman memiliki ciri khas atau trennya tersendiri. Hal ini termasuk pada bahasa gaul yang banyak dipakai anak muda pada masa tersebut. Namun, pertanyaannya, bagaimana kita menempatkan bahasa Indonesia agar tetap relevan dan keren?

Pentingnya Bahasa sebagai Identitas Bangsa

Memasuki bulan Oktober, rasanya siapa pun akan teringat pada momen bersejarah bangsa Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda. Salah satu butir dalam Sumpah Pemuda 1928 menyatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sejak lama, bahasa Indonesia menyatukan masyarakat dari berbagai suku dan budaya yang beraneka ragam (keren, ya?). Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas nasional.

Dalam aktifitas sehari-hari kami di rumah, saya dan suami memperkenalkan ragam bahasa kepada anak-anak sejak kecil. Saya dan suami berasal dari Sumatera Utara. Namun, dalam praktik keseharian, kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Batak sebagai bahasa kesukuan kami. Bukan berarti bahasa sesuai suku kami dihilangkan ya.. tetapi dengan menggunakan bahasa Indonesia, terasa lebih mudah dipahami maknanya dan melatih mereka juga untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita lihat, beberapa petunjuk di tempat umum, menggunakan bahasa mix atau full in english. Bersama dengan ini, saya memiliki pengalaman pribadi bersama keluarga. Salah satunya adalah petunjuk dalam bahasa asing, tapi jika diartikan memiliki makna yang sama.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Oktober 2022

Bahasa Indonesia Itu Ajaib

Pada suatu kesempatan, saya dan anak-anak menikmati makan siang di sebuah Mal daerah Kota Tangerang Selatan. Di dekat tempat makan, ada galeri ATM. Saat itu, iseng saya bertanya, “Apakah kamu mengetahui, apa kepanjangan ATM, bang?”.

Putra saya menjawab, “Automatic Teller Machine, mam.”

Saya pun menanggapi, “Pakai bahasa Indonesia dong jawabnya..”

Anak saya terdiam sejenak lalu berkata, “Itu sudah benar, mam. Aku menjawab dengan pengertiannya langsung, kalau dalam bahasa Indonesia, aku tidak tahu…”

Jawabannya membuat saya tersenyum. Saya kemudian menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia, ATM berarti Anjungan Tunai Mandiri. Kata ini dialihbahasakan, sehingga memiliki makna yang sama dengan istilah aslinya. Tentu saja kita tahu bahwa ATM itu sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, Automatic Teller Machine. Namun siapa pun pencetus kata itu, berhasil menciptakan kata yang saat disingkat tetap sama dengan bahasa aslinya. “Wah…benar juga ya mam, keduanya memiliki pengertian yang sama,” putera saya menanggapi.

Sebagai ibu, saya merasa senang bisa memberikan wawasan baru kepada anak saya. Hal sederhana seperti ini berhasil membuatnya mengetahui pengertian dalam 2 bahasa.

Baca Juga : Peran Bahasa Ibu dalam Menjaga Identitas Bangsa

Menanamkan Cinta pada Bahasa Indonesia

Dari sini saya belajar bahwa pembelajaran bahasa harus memberikan pemahaman mendalam kepada pelajar dan kaum muda. Berbahasa Indonesia bukan sekadar keterampilan, tetapi juga bagian dari identitas yang harus dikomunikasikan dengan baik dan benar. Bahasa yang benar berarti sesuai dengan kaidah, sedangkan bahasa yang baik harus sesuai dengan konteks dan situasi. Jangan sampai hanya karena terbiasa menggunakan bahasa asing, kita kehilangan kebanggaan terhadap bahasa sendiri.

Jika dibiarkan, rasa enggan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari bisa semakin meluas. Tentu hal ini akan berakhir kepada penurunan mentalitas berbahasa serta ancaman kepunahan bahasa. Wah.. jika demikian yang terjadi, akan memengaruhi identitas kita sebagai Warga Negara Indonesia.

Tips sederhana yang mungkin bisa terus kita ingatkan untuk generasi penerus terutama yaitu anak-anak kita adalah dengan menanamkan rasa cinta terhadap bangsa, budaya, dan bahasanya kepada generasi penerus. Cinta terhadap Indonesia bukan hanya sebatas status sebagai warga negara, tetapi juga kebanggaan terhadap keberagaman budaya, bahasa, dan agama yang dimiliki bangsa ini. Kita bisa memulainya dengan membiasakan anak bertutur kata sopan, berbicara dengan baik dan benar, serta menghindari kata-kata kasar. Bahasa mencerminkan karakter seseorang, dan etika dalam berkomunikasi sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan kata lain, kita harus terus mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Membiasakan diri berbahasa Indonesia juga melatih tata bahasa kita agar semakin terjaga. Hal ini akan berdampak dan mendukung perkembangan Bangsa Indonesia dengan memperluas kehadirannya di dunia internasional. Dengan bahasa kita menyapa, dengan bahasa kita berkarya.

Selamat memperingati Bulan Bahasa, Oktober 2022!

Berdoa bagi Indonesia

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia.

Kondisi Jemaat Kristen di Zaman Kaisar Nero

Jemaat saat itu mengalami tekanan yang besar. Kaisar Nero yang terkenal kejam adalah raja yang memerintah dan seringkali mengeluarkan keputusan yang mempersulit orang Kristen. Bahkan ketika ia melakukan tindakan korupsi, ia menjadikan orang Kristen sebagai kambing hitam. Sehingga oleh karenanya banyak orang Kristen yang akhirnya dianiaya karena imannya. Sekalipun demikian, Paulus tetap mendorong jemaat untuk berdoa bagi para pemimpin negara mereka. Paulus meminta jemaat untuk tidak berdoa bagi diri sendiri saja tetapi juga untuk orang lain termasuk raja-raja dan semua pembesar. Sebab hanya Tuhan yang dapat mengubah kekerasan hati para pemimpin dan melindungi mereka dari tekanan yang ada.


Kondisi Bangsa Kita

Hari ini kita berada di Indonesia dengan segala carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah 77 tahun negara kita merdeka. Namun, entah berapa banyak rakyat yang sungguh-sungguh merdeka dari kemiskinan, bebas beribadah, mengenyam pendidikan, dan menikmati kerukunan. Ada begitu banyak kepentingan dari segelintir orang yang ingin meraup kenikmatan dengan cara memecah-belah persatuan bangsa dan bertindak korup dalam berbagai aspek. Kita mungkin sudah lelah dengan berbagai berita bobroknya negeri ini. Namun, di tengah semua itu, pernahkah kita bersyukur untuk hal baik yang masih ada di negeri ini? Pernahkah kita berdoa bagi bangsa Indonesia dalam doa pribadi kita? Sudahkah kita menaikkan permohonan dan doa syafaat bagi pemimpin bangsa ini dan semua jajaran pemerintahan? Sudahkah kita mendoakan mereka yang bertindak jahat agar Tuhan menyadarkan mereka? Ataukah kita lebih sering mengeluh dan mencela tanpa pernah berdoa bagi mereka?

Berdoa Bagi Indonesia

Melalui bagian firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak hanya berdoa bagi diri kita dan orang-orang yang kita kasihi saja. Kita diingatkan juga untuk berdoa bagi orang-orang di sekitar kita termasuk pemimpin negara kita yang duduk dalam pemerintahan. Doakanlah mereka supaya kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka digunakan dengan bertanggung jawab untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Doakan juga supaya mereka yang bertindak jahat dan memecah belah bangsa melalui isu suku, agama dan berbagai hal lainnya disadarkan dari kejahatan mereka. Berdoa agar mereka berbalik dari segala kejahatan mereka dan belajar mencintai bangsa ini dengan benar. Mari kita belajar mengasihi negara di mana kita hidup, bekerja dan berlindung dengan cara mendoakan kesejahteraan dan keamanan bangsa ini.

Hari Kunjung Perpustakaan

Oleh: Hana Kristina Purba, M.A, Koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia.

Tahukah kamu?

Tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan dan hari gemar membaca. Jadi Bulan September menjadi bulan yang istimewa untuk perpustakaan.
Kegiatan ini adalah sebagai wujud komitmen pemerintah beserta masyarakat Indonesia untuk menggerakkan produktivitas masyarakat, mengembangkan kemampuannya, serta salah satu upaya dalam merealisasikan cita-cita bangsa. Oleh karena itu, perpustakaan Sekolah Athalia juga mendukung komitmen tersebut dengan mengadakan berbagai kegiatan positif untuk meningkatkan kecintaan kepada perpustakaan terlebih lagi untuk meningkatkan minat baca anggota perpustakaan. Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat penting untuk terus dilaksanakan setiap tahunnya.

Fakta menarik seputar perpustakaan Sekolah Athalia:

Sekolah Athalia mempunyai dua jenis perpustakaan:

  • Perpustakaan anak (bagi siswa TK dan SD) dengan jumlah koleksi sebanyak 11.272
  • Perpustakaan SMP dan SMA dengan jumlah koleksi sebanyak 17.438.

Ada jadwal kunjungan rutin setiap harinya secara bergiliran mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI di perpustakaan anak.

Pada perpustakaan SMP dan SMA sudah dilengkapi dengan aplikasi pencarian buku secara on-line bernama OPAC sehingga pengunjung lebih mudah menemukan pilihan bukunya.

Nama Pustakawan:
– Ibu Diana (perpustakaan anak)
– Ibu Mega ( perpustakaan SMP)
– Ibu Gusti.(perpustakaan SMA)


Prestasi: akreditasi A untuk perpustakaan SMA

Apa saja yang dilakukan dalam kegiatan ini?

  1. Menuliskan kesan dan harapan untuk perpustakaan Sekolah Athalia pada sebuah
    kertas, lalu kertas tersebut ditempelkan pada samping rak-rak buku.
  2. Mengikuti kuis berhadiah tentang serba-serbi perpustakaan
  3. Kegiatan “membaca bersuara” (read aloud) di perpustakaan anak.
  4. Apresiasi bagi pengunjung teraktif dalam berkunjung dan meminjam buku.
  5. Disediakan makanan ringan bagi semua pengunjung.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan!
Mari gemar membaca….

hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan
hari kunjung perpustakaan