Peran Bahasa Ibu dalam Menjaga Identitas Bangsa

Oleh: Diah Lucky Natalia – Volunter Chaplain

Berdasarkan data Ethnologue, Indonesia merupakan negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Hingga 2018, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian pendidikan dan Kebudayaan telah memetakan dan memverifikasi sebanyak 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk dialek dan subdialek.

Selain bahasa daerah, sekitar 1.700-an suku bangsa di Indonesia memiliki bahasa kesatuan, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa nasional yang mempermudah kita berkomunikasi dengan suku bangsa lainnya.

Peran Bahasa Ibu dalam Menjaga Identitas Bangsa

Peran Bahasa Ibu dalam Kehidupan Sehari-hari

Bahasa yang pertama kali diperkenalkan kepada anak, baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia, disebut sebagai bahasa ibu. Bahasa ini diperkenalkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sejak dini dan akan berkembang menjadi bahasa pertama.

Di beberapa daerah, bahasa daerah masih digunakan secara aktif di lingkungan keluarga. Namun, di perkotaan, banyak orang tua lebih nyaman menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi anak-anak mereka.

Memilih bahasa ibu bagi anak mungkin tidak pernah benar-benar didasarkan pada pengetahuan, tetapi hanya karena kebiasaan atau “agar tidak ketinggalan zaman”. Oleh karena itu, di tengah globalisasi, muncullah bahasa ibu ketiga, yaitu bahasa Inggris.

Seiring perkembangan zaman, muncul fenomena penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, sebagai bahasa utama di beberapa keluarga. Hal ini berangkat dari kekhawatiran orang tua bahwa anaknya akan tertinggal dalam pendidikan dan karier jika tidak menguasai bahasa asing.

Meskipun menguasai bahasa asing memiliki manfaat global, penggunaan yang berlebihan dapat berakibat pada berkurangnya keterikatan anak dengan budaya lokal. Anak-anak yang lebih akrab dengan bahasa asing cenderung mengadopsi pola pikir, gaya hidup, dan nilai-nilai budaya dari negara asal bahasa tersebut.

Bahasa dan Identitas Diri

Tidak banyak yang tahu bahwa bahasa merepresentasikan identitas seseorang. Di dalam sebuah bahasa tersemat ideologi dan nilai luhur sebuah bangsa. Dari bahasa muncullah corak peradaban suatu masyarakat. Terdapat perbedaan budaya antara suku Jawa, Batak, Manado, Toraja, dan Aceh karena bahasa yang digunakan berbeda. Begitu juga dari bahasa Indonesia terbentuklah sebuah identitas, yaitu budaya kebangsaan Indonesia.

Melalui bahasa Indonesia, kita dapat mempelajari budaya melalui karya-karya sastranya. Dongeng-dongeng kedaerahan yang kita baca waktu kecil membentuk identitas kita sebagai orang Indonesia, mulai dari cara bertutur, berperilaku kepada orang yang lebih tua, dan lain sebagainya. Inilah yang membedakan kita dengan bangsa lainnya di dunia ini.

Jika sejak kecil anak dibiasakan menggunakan bahasa asing, dia akan terpapar dengan budaya asing melalui tontonan dan bacaan yang dikonsumsi setiap hari. Tentu dalam bahasa Inggris tidak ada kisah tentang Timun Mas, Roro Jonggrang, dan Malin Kundang. Mari tengok kembali konten-konten yang ada di YouTube dan Netflix, itulah yang akan diinternalisasi oleh anak kita menjadi identitas dan karakternya.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Bahasa Ibu, Bahasa Indonesia

Pilihan sekolah begitu beragam. Sekolah yang menawarkan bilingual bahkan trilingual pun makin banyak. Sebagai orang tua, kita perlu celik memilih apakah anak-anak kita perlu berada di sekolah trilingual? Kembali kepada tujuan menyekolahkan anak: membentuk anak yang berkarakter dan berintegritas atau anak-anak yang menguasai banyak bahasa?

Penyampaian ilmu, ideologi, dan pengajaran agama akan lebih kontekstual jika disampaikan dalam bahasa ibu–dalam konteks ini adalah bahasa Indonesia. Jadi, anak-anak tidak hanya memahami konsep secara verbal, melainkan dapat menyerap substansinya melalui cerita, penerapan dalam kehidupan sehari-hari, dan interaksinya dengan keluarga dan teman.

Selain sebagai upaya pelestarian, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa pengantar di sekolah membangkitkan kepekaan perasaan. Anak jadi terhubung dengan akar budayanya, memahami tradisi, dan menghargai nilai yang dianut oleh bangsa ini.

Jadi, memilih bahasa sebagai bahasa ibu bagi anak bukan berdasarkan rasa takut ketinggalan zaman. Namun, lebih kepada identitas apa yang ingin kita berikan kepada anak? Sungguh baik jika kita masih menguasai bahasa daerah asal dan mengajarkannya kepada anak. Dengan begitu, anak akan tumbuh memiliki identitas kuat kedaerahannya. Ke mana pun dia pergi dan merantau, dia akan tetap memegang teguh identitasnya dan tidak akan terbawa dampak negatif pergaulan modern saat ini.

Hari Bahasa Ibu Sedunia: Momentum untuk Refleksi

Setiap 21 Februari, dunia memperingati Hari Bahasa Ibu Sedunia. Hari yang digagas oleh UNESCO ini bertujuan untuk menggiatkan kembali penggunaan bahasa ibu di seluruh dunia agar terhindar dari kepunahan. Dari sudut pandang lain, peringatan ini dapat kita jadikan bahan refleksi: sampai mana saya sudah mengajarkan nilai luhur dan budaya bangsa ini kepada anak?

Tak perlu khawatir anak akan tertinggal hanya karena “masih” menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Dengan modernitas yang ada saat ini, anak dapat menjangkau ilmu pengetahuan tanpa batas, kapan pun dan di mana pun.

Hal lain yang juga penting, yaitu serahkan anak kita kepada Sang Empunya. Dialah yang merancangkan jalan hidup anak-anak kita sehingga biarlah Tuhan yang bekerja atas hidup mereka. Sebagai orang tua, tugas kita, yaitu membentuk anak ini memiliki identitas yang kuat, menginternalisasi karakter Kristus di dalam dirinya, dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sandaran hidup.

Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Oleh: Tegar Juel Prakoso – Alumni Angkatan IV SMA Athalia

Sebelum berbicara tentang kasih sejati, perkenankan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Halo, perkenalkan nama saya Tegar Juel Prakoso, biasa dipanggil “Tegar”. Saya adalah alumni SMA Athalia angkatan IV, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini saya mengajar TIK di SMP Athalia kelas 7 dan 8, dan SD Pinus kelas 4-6. Saat ini saya juga sedang melanjutkan studi magister di STT Bethel Indonesia jurusan Pendidikan Agama Kristen. Dalam tulisan ini saya akan membagikan kisah bagaimana saya menemukan kasih sejati dari Tuhan.

Pencarian Kasih Sejati

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari mencari makna dan tujuan hidup. Di Athalia saya diajarkan tentang kasih Tuhan ketika saya mencari kasih yang sejati ini. Bersyukur saya menemukan kasih sejati dari Tuhan yang menurut saya salah satu aspek yang penting bagi kehidupan orang percaya. Konsep kasih dalam kehidupan orang Kristen mengacu pada kasih Tuhan. Kasih Tuhan disebut kasih Agape. Kasih Agape ini bersifat tanpa pamrih dan tulus. Contoh konkret kasih Agape yang tulus berasal dari Tuhan dapat kita lihat dalam Yohanes 3:16, Tuhan mengasihi dunia ini dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus itu sendiri. Sebuah pengorbanan yang tiada ternilai harganya, tidak dapat dibandingkan dengan kasih mana pun di dunia ini.

Cara Saya Menemukan Kasih Sejati

Ketika menjalani kehidupan sebagai orang Kristen, saya merasa bukan hal yang mudah. Banyak hal duniawi yang mengalihkan fokus saya dalam mencari kasih yang sejati itu. Sebagai salah satu anak muda yang hidup di era sekarang ini yang menggoda saya untuk berpaling dari jalur Tuhan. Lantas, bagaimana cara saya menemukan “Kasih Sejati” itu? Ada dua cara saya menemukan kasih yang sejati itu.

Pertama, menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Dalam membangun sebuah hubungan, diperlukan sebuah komunikasi yang intens. Layaknya hubungan bapak dan anaknya. Ketika anak kerap kali menginginkan sesuatu dari bapaknya atau ketika anak tidak dianggap, tidak dipedulikan, bahkan tidak dikasihi di dunia ini, anak bisa mengadu pada Allah dalam doa. Saya memberikan waktu khusus secara teratur untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika bangun pagi atau pun menjelang tidur, tidak lupa berdoa. Terkadang doa yang saya panjatkan berisi curhatan dan harapan yang ingin saya capai. Dan bersyukur, selama saya bersekolah dan mengajar di Athalia selalu diingatkan akan relasi dengan Tuhan. Dalam memulai hari dan menutup hari pasti diingatkan untuk selalu berdoa.

Kedua, mencari kebenaran yang sejati dalam Alkitab. Alkitab adalah sebuah petunjuk bagi orang percaya. Alkitab adalah sumber utama tentang kasih sejati Tuhan Yesus. Hal yang telah Tuhan perbuat telah tertulis semua di dalam Alkitab. Dalam Alkitab kita dapat membaca dan memahami karakter Tuhan, rencana-Nya, dan segala ajaran-Nya. Di Athalia tidak pernah terlepas dari aktivitas devosi. Setiap memulai hari, baik sebagai murid maupun sebagai tenagan pendidik selalu memulai hari dengan devosi. Melalui devosi saya dapat merenungkan isi dari firman Tuhan bersama dengan rekan sesama pengajar maupun bersama dengan siswa.

Respons Terhadap Kasih Tuhan

Tuhan sudah mengasihi kita, apa yang dapat kita lakukan sebagai wujud mengasihi-Nya? Hal yang saya lakukan sebagai respons wujud kasih Tuhan adalah melayani sesama. Menemukan kasih sejati dari Tuhan tidak hanya sebatas pengalaman pribadi, tetapi juga melibatkan pelayanan kepada sesama. Tuhan senang jika kita dapat memanfaatkan segala talenta yang kita miliki untuk melayani-Nya di mana saja. Melayani sebagai worship leader dan bidang multimedia di GBI Anugerah adalah salah satu respons saya sebagai wujud kasih kepada sesama.

Merupakan sebuah anugerah yang Tuhan berikan kepada saya untuk dapat kembali lagi ke Athalia sebagai seorang pengajar. Dulu saya diajar, sekarang saya mengajar. Hal ini sebagai wujud kasih saya kepada Tuhan dan sesama.

Saya bersukacita ketika mengajar murid-murid di Athalia dalam mata pelajaran TIK atau Informatika. Awalnya memang tidak mudah mengajar anak-anak yang telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital saat ini, sehingga saya mencoba mengajar dengan memberikan kasih yang pernah saya terima dari Tuhan. Lewat proses mengajar dengan kasih inilah saya bisa mengajar murid dengan penuh sukacita. Inilah kisah saya sebagai alumni semoga menjadi berkat bagi kita sekalian.

Baca juga: Kasih Sejati Allah

Siapa Sangka? Hal Ini Jadi Momen Paling Berkesan dalam Hidup!

Oleh: Ratu Putri Hiemawan – Kelas 12 IPS 1

Live In merupakan kegiatan yang wajib diikuti siswa-siswi SMA Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, pada tahun ketiga masa studinya. Setelah absen beberapa tahun karena wabah Covid-19, tahun ini Live In kembali diadakan pada 14-19 Januari di Dusun Ngringin, Kecamatan Getasan, Semarang. Berikut merupakan sedikit pengalaman saya dalam kegiatan Live In 2024.

Pada kegiatan Live In ini, puji Tuhan saya diberi kepercayaan untuk menjadi PIC atau ketua dari salah satu bidang, yaitu PAUD/SD. Sebuah tanggung jawab yang baru dan cukup menantang bagi saya karena harus merancang kegiatan untuk 3 hari di PAUD dan SD, sedangkan saya belum memiliki gambaran sedikit pun tentang kondisi di lapangan. Huru-hara dan ketegangan bertambah karena persiapan barang pribadi dan barang bidang yang cukup memusingkan. Belum lagi kegiatan penggalangan dana menjual botol dan kardus bekas, serta mengadakan mini konser yang lumayan menyita waktu dan pikiran di tengah kesibukan sebagai siswi kelas 12. Untung saja semua persiapan dapat selesai tepat waktu dan kami dapat berangkat pada Minggu malam.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya kami sampai di Dusun Ngringin pada Senin pagi. Semua rasa lelah terasa terbayarkan begitu bertemu dengan orang tua asuh yang menyambut kami dengan hangat dan ceria. Saya ditempatkan di rumah Bu Supri yang hanya tinggal berdua dengan anaknya, Ayu yang duduk di kelas 2 SMA. Kedatangan kami membuat Bu Supri senang dan bersemangat karena rumahnya menjadi ramai. Pengalaman ini terasa begitu berkesan karena di sebuah rumah beralaskan semen dan tanah liat, kehangatan dapat kami rasakan dari Bu Supri yang dengan semangat bercerita kepada kami mengenai kehidupannya. Aneh rasanya, mengalami ikatan emosional dengan seseorang yang baru saja kami temui.

Baca juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Menemukan Kebahagiaan dalam Kesederhanaan

Hari-hari di Dusun Ngringin saya jalani dengan gembira. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan dari kegiatan di PAUD/SD, mulai dari melatih kesabaran untuk mengajar dan menghadapi anak kecil, latihan fisik karena harus mengejar anak-anak yang berlarian ke berbagai arah, menghadapi pukulan-pukulan yang mereka layangkan, bahkan mempelajari sedikit demi sedikit bahasa Jawa. Lagi-lagi terasa aneh, karena saya sendiri tidak menyangka saya akan menikmati setiap momen di Dusun Ngringin ini. Setiap harinya, selalu ada hal kecil yang terasa berkesan, baik itu sapaan dari warga “Mau ke mana, Kak?”, “Makan di sini saja, Kak”, “Tinggalnya di rumah siapa, Kak?”, “Mau ikut ke ladang tidak, Kak?”, canda tawa bersama anak-anak, hingga tantangan yang harus kami hadapi dalam mengajar mereka.

Kebersamaan juga kami rasakan dengan Ayu yang kebetulan seumuran dengan kami. Canda tawa kami layangkan sembari mendengar kisah-kisah tentang warga setempat oleh Bu Supri dan Ayu, bahkan dengan tetangga yang kebetulan mampir ke rumah Bu Supri untuk ikut berbincang dengan kami. Teh manis hangat, susu coklat, dan kue-kue kering selalu menjadi teman berbincang kami hingga larut tiap malam.

Tak terasa, tibalah kami di hari terakhir, saat kami harus pulang. Malam sebelumnya seperti biasa, kami kembali berbincang hingga larut malam, saat itu hujan deras dan mati lampu. Bu Supri sempat bercanda, “Besok pasti telat ini, Kak, hujan gede,” seperti tak ingin kami pergi. Benar saja, hujan bertahan hingga esok paginya sehingga kami memiliki waktu lebih lama untuk perpisahan. Kami yang awalnya mengira akan rindu rumah, sekarang malah enggan pulang. Isak tangis dan janji untuk kembali mengiringi perpisahan kami dengan Dusun Ngringin. Sungguh berat rasanya, terlebih saat Bu Supri mengungkapkan kesepiannya dan betapa ia bahagia rumahnya menjadi ramai. Namun, tentunya setiap perjumpaan akan menemui perpisahan. Hujan mengiringi kepulangan kami, seakan ikut menangis menyaksikan perpisahan yang terjadi.

Baca Juga : Athalia Learning Community News – Edisi Maret 2024

Live In 2024: Sebuah Pelajaran Berkesan

Jujur, awalnya saya tidak terlalu antusias dalam mengikuti kegiatan Live In ini. Tapi ternyata, Dusun Ngringin mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar bahwa tidak perlu memiliki segalanya untuk bisa memberikan yang terbaik, ketulusan merupakan yang utama. Kegiatan ini benar-benar mengajarkan saya keindahan dari kesederhanaan dan pentingnya orang-orang yang kita sayangi.

Siapa sangka, sesuatu yang saya kira membosankan justru jadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya? Kini, saya justru menjadi salah satu orang yang paling merindukan setiap momennya. Live In 2024 bukan sekadar perjalanan. Ini adalah cerita yang akan terus saya kenang.

Kasih Sejati Allah

kasih sejati tuhan

Oleh: Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Kasih dari Dunia

Secuplik bait lagu,”Belum pernah ada kasih di dunia sanggup mengubahkan hidupku, selain kasih-Mu Yesus …” Sungguh sebuah pernyataan iman yang besar bahwa di dunia ini kita sulit menemukan kasih yang sejati selain di dalam Tuhan Yesus.

Berbagai kisah tentang kasih yang mungkin pernah kita dengar baik kasih antara orang tua kepada anak, suami kepada istri, kakak kepada adik, sahabat kepada sahabat selalu membuat kita terharu, bukan? Di dalam kasih yang dinyatakan selalu ada pengorbanan. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit pula kasih yang ditunjukkan ada alasan atau pamrih di baliknya, sehingga sering timbul pertanyaan kenapa begitu sulit sekali untuk menemukan kasih tanpa pamrih di dunia ini.

Kita mungkin pernah mendengar banyak orang tua yang katanya mengasihi anaknya tetapi menuntut anaknya untuk melakukan apa yang diingini orang tuanya. Suami yang mengatakan bahwa ia mengasihi istrinya tetapi menuntut istri untuk tampil sempurna. Kakak yang katanya mengasihi adiknya, tetapi meminta balasan atas apa yang dilakukan. Teman yang berkata mengasihi temannya tetapi meminta ia untuk setuju dengan semua yang dilakukan. Pengajar yang hanya akan mengasihi muridnya jika mereka bersikap baik. Sungguh ironis berbagai kisah kasih di dunia ini pada akhirnya berujung dengan kisah sedih di mana setiap orang yang ada di dalamnya terlibat konflik berkepanjangan. Kenapa? Karena kasih manusia selalu menuntut dan ada pamrihnya.

Kasih dari Allah

Berbeda sekali dengan kasih Allah yang tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan atau balasan. Dalam Alkitab ada istilah yang dipakai untuk menunjukkan kasih yang seperti ini, yaitu kasih Agape. Kasih yang merupakan kasih Allah kepada manusia. Kasih sejati yang memberi tanpa meminta balasan, bahkan rela memberikan nyawa kepada orang yang dikasihi.

Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah bahkan memberikan anak-Nya yang Tunggal untuk mati di atas kayu salib bagi kita manusia. Ada banyak orang yang bersedia mati untuk orang baik tetapi untuk orang tidak baik dan berdosa, siapa yang mau mati? Hanya Allah yang mau melakukannya bagi kita orang berdosa ini. Inilah “kasih sejati” itu. Allah mengasihi kita sebagaimana kita apa adanya, tanpa memandang status atau kedudukan kita. Kasih yang hadir di setiap musim kehidupan kita suka maupun duka. Kasih Sejati-Nya merangkul dan memeluk kita.

Kiranya kita melekat kepada kasih sejati Allah dalam menempuh hidup di dunia dan terus-menerus belajar untuk membagikan kasih sejati itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Tuhan memberkati.

No Matter what storm you face
You need to know that God loves you.
He has not abandoned you

Franklin Graham

Baca juga: Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Siapa yang Memegang Kendali Hidup Kita?

Oleh: Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur
(Filipi 4:6)

Memasuki tahun 2024 tentunya kita bersyukur bisa sampai di saat ini. Namun, jika harus menatap ke depan maka pertanyaannya siapa yang tidak khawatir? Mungkin sebagian dari kita mengalaminya. Setiap hari ada saja yang membuat kita khawatir. Kita khawatir akan kesehatan, keuangan, keluarga, relasi kita dengan orang lain dan masih banyak kekhawatiran yang kita alami setiap hari. Sampai-sampai kekhawatiran mungkin saja mengendalikan hidup kita.

Mengenai Kekhawatiran

Alkitab berkata dalam Matius 6:25, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan jangan khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa normal saja kita khawatir sebagai manusia tetapi Tuhan mengingatkan bahwa Ia mengendalikan hidup kita sehingga tidak perlu khawatir yang berlebihan.

Pertanyaan mengenai siapa yang memegang kendali atas hidup kita mungkin akan memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang merasakan bahwa selama ini hidupnya dikendalikan oleh orang, waktu, uang, bahkan kesenangan atau kesukaan akan sesuatu yang berlebihan. Menurut beberapa orang, dunia kita saja sering terlihat tidak terkendali akibat bencana alam, kecelakaan, kekerasan, perang, dan lain sebagainya.

Lalu, apakah Tuhan benar-benar memegang kendali atas dunia dan hidup kita? Apakah Ia hanya menciptakan segala sesuatu tetapi semua yang berjalan di luar kendali-Nya? Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuat kita khawatir? Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat atas semua ciptaan-Nya. Ia memiliki otoritas tertinggi dan mutlak atas segala sesuatu. Meskipun kadang kita khawatir dan kebingungan dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa kita jawab tetapi Tuhan tetap aktif bekerja atas dunia ini.

Tuhan Selalu Menyertai

Terakhir, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita atau mengabaikan kita (Ibrani 13:5). Dia mengetahui dengan baik segala sesuatu yang terjadi menurut hikmat, kasih, dan rencana-Nya yang baik buat kita dalam menghadapi tahun 2024 ini. Oleh sebab itu, apa pun kekhawatiran kita, kekhawatiran keluarga kita, semuanya kita serahkan pada kendali-Nya dalam doa dan permohonan sembari mengucap syukur. Tuhan memampukan kita untuk menjalani tahun 2024. Tuhan beserta kita dan tetap semangat.

HIDDEN CURRICULUM dan NULL CURRICULUM

HIDDEN CURRICULUM dan NULL CURRICULUM

Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA – Staf Research & Development SMA Athalia

Makna Kurikulum

Menurut KBBI kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Cakupan kurikulum berisi uraian bidang studi yang terdiri atas beberapa macam mata pelajaran yang disajikan secara kait-berkait. Jadi, kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Juga merupakan semua kegiatan yang diberikan kepada peserta didik sebagai tanggung jawab sekolah.

Hidden Curriculum

Kenyataannya pembelajaran yang berlangsung di sekolah tidak hanya tentang kurikulum formal yang diikuti peserta didik berupa pengetahuan dan keterampilan. Ada yang disebut hidden curriculum, yaitu mengacu pada pelajaran, nilai, dan perspektif yang tidak tertulis, tidak resmi, dan seringkali tidak disengaja yang dipelajari peserta didik di sekolah. Contohnya bagaimana mereka seharusnya berinteraksi dengan teman, guru, dan orang-orang lainnya. Juga tentang bagaimana mereka seharusnya memandang perbedaan – ras, kelompok, atau bahkan kelas lain – atau ide dan perilaku apa yang dianggap dapat diterima atau tidak dapat diterima. Jadi, hidden curriculum menyiratkan seperangkat moral dan perilaku yang diserap siswa dari lingkungan sekolah.

Null Curriculum

Ada juga yang disebut null curriculum, yaitu kurikulum yang tidak diajarkan, topik yang dihilangkan, pengalaman dan pilihan yang tidak diberikan kepada peserta didik. Null curriculum bisa jadi sama pentingnya dengan kurikulum formal, karena dapat membentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik secara signifikan. Namun, terkadang guru mengabaikan beberapa konten atau keterampilan, karena dianggap tidak penting atau karena kebijakan pemerintah. Contoh null curriculum di Inggris, pelajaran agama tidak dimasukkan dalam program pelajaran atau tidak ada kebijakan mengenai pendidikan seks di Iran. Ada dampak yang akan dirasakan peserta didik ketika menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan topik-topik tersebut di masyarakat.

Hidden Curriculum dan Null Curriculum dalam Keluarga

Kehidupan dalam keluarga pun ada semacam kurikulum yang secara sadar disusun orang tua bagi anak-anaknya tapi ada juga bentuk hidden curriculum dan null curriculum yang mungkin secara tidak sadar dijalankan. Contohnya ada yang disebut imitasi, yaitu proses ketika seorang anak melihat orang tuanya sebagai figur utama yang layak ditiru. Tentunya orang tua ingin anak-anaknya meniru hal-hal baik yang dilakukannya. Namun, seringkali secara tidak sadar justru melakukan hal-hal yang tidak ingin anak tiru, tetapi teramati dan terekam oleh anak-anak. Pernah terjadi, orang tua mengajukan beasiswa kepada pihak sekolah dengan alasan kesulitan ekonomi. Akan tetapi, ketika kunjungan ke rumahnya terlihat barang-barang branded dan berharga tinggi yang digunakan oleh keluarga itu. Nilai apa yang akan anak-anak miliki melihat kenyataan tersebut?

Ada kalanya orang tua tidak membicarakan atau membahas secara sengaja nilai-nilai yang perlu anak miliki, misalnya kesetiaan. Ketika anak disuruh rajin datang ke gereja, apakah anak tahu bahwa tujuannya adalah membangun nilai kesetiaan pada kepercayaan/imannya? Ketika anak diminta ikut dalam acara-acara keluarga, ingatkan mereka tentang kesetiaan pada keluarganya misalnya orang tuanya dan saudara-saudaranya. Adakah hal-hal yang dihindari atau dianggap tidak penting sehingga orang tua tidak memberikan pengajaran dan pendidikan pada anak padahal mungkin mereka akan menghadapi hal-hal tersebut di masyarakat sehingga mereka tidak tahu bagaimana menyikapi dan mengatasinya?

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
(2 Timotius 2:2)

Diatur Waktu atau Mengatur Waktu?

Oleh: Eliada Christara – Alumni SMA Athalia Angkatan IV

Hai semua pembaca setia website Sekolah Athalia! Perkenalkan saya Eliada Christara, alumni SMA Athalia angkatan IV, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Sebuah kesempatan yang baik untuk berbagi secuplik kisah tentang perjuangan saya dalam mengatur waktu.

Belakangan ini, istilah “kaum rebahan” semakin populer di kalangan Gen Z. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menunda pekerjaan dengan alasan seperti “masih ada besok” atau “masih pagi, nanti saja”. Kebiasaan ini tentunya tidak asing karena ketika masih anak-anak, kita sering inkonsisten dalam waktu bermain–extend mulai dari 10 menit lagi, 20 menit lagi, dan seterusnya sampai menang. Di sisi lain, ada pula yang terlalu strict dalam menjadwalkan waktu, sehingga tidak memberikan ruang untuk hal-hal di luar kontrol yang mungkin tanpa disadari sama pentingnya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada anak-anak atau remaja, tetapi juga di berbagai tahap kehidupan. Baik siswa, mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga menghadapi tantangan dalam mengelola waktu. Semakin besar tanggung jawab yang kita emban, semakin sulit pula membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, diri sendiri, dan aktivitas lainnya. Banyak orang berpikir bahwa mereka mampu mengatur waktu dengan baik. Namun, kenyataannya, tidak sedikit yang justru merasa diatur oleh waktu. Pertanyaannya, kita termasuk yang mana? Yang diatur waktu atau mengatur waktu?

Pergulatan Mengatur Waktu

Kesulitan mengatur waktu saya jumpai pada masa perkuliahan di STT SAAT. Seperti anak kuliah pada umumnya, saya juga mengalami culture shock dalam membagi waktu. Meski berada di lingkup asrama yang kehidupannya sangat terjadwal, tetapi saya mengalami kesulitan. Beban tugas yang beruntun, jadwal kuliah yang padat, serta berbagai kegiatan di luar akademik membuat saya kewalahan. Sungguh rasanya berbeda dengan masa sekolah yang masih bisa longgar dan menunda-nunda. Bahkan, saya sempat terkena thypus akibat tekanan tersebut.

Saya juga pernah berada di 2 fase ekstrem yang berlawanan. Ada satu titik, saya menjalani hidup tanpa mengatur waktu sama sekali dan hanya mengikuti arus. Namun, di lain waktu, saya terlalu disiplin hingga tidak memberi ruang hal lain mengintervensi waktu saya sepenting apapun itu. Meski begitu, keduanya ternyata bukan solusi yang tepat.

Beruntungnya, pendidikan karakter yang saya dapatkan di sekolah menolong saya untuk lebih bijak dalam mengatur waktu. Saya belajar bahwa tanggung jawab dan pengendalian diri adalah dua hal yang saling berkaitan.

Beberapa prinsip yang membantu saya, antara lain:

  1. Membedakan yang penting dan kurang penting. Tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus. Menyusun prioritas membantu kita fokus pada tugas yang benar-benar mendesak.
  2. Menyeimbangkan antara tugas dan istirahat. Keseimbangan antara belajar, bekerja, dan beristirahat sangat penting agar tidak mengalami kelelahan berlebihan.
  3. Bersikap fleksibel namun tetap disiplin. Memiliki jadwal yang terstruktur memang penting, tetapi kita juga perlu memberi ruang untuk hal-hal yang tidak terduga.
  4. Menyesuaikan aktivitas dengan tanggung jawab utama. Misalnya, mengurangi kegiatan kampus yang kurang esensial agar tidak mengganggu tugas akademik.

Baca Juga : 13 Tips untuk Mengatasi Kemalasan

Peran Tuhan dalam Manajemen Waktu

Sehebat apapun strategi yang kita buat, mengatur waktu tetap menjadi perjuangan yang tidak mudah. Manusia lemah, mudah tergoda untuk malas dan menunda, mudah terlena untuk mengerjakan yang bukan prioritas, bahkan kita lupa meluangkan waktu untuk Tuhan dalam mendengarkan firman-Nya setiap hari.

Oleh karena itu, penting untuk meminta pertolongan Tuhan dalam mengatur waktu. Dengan bimbingan-Nya, kita bisa lebih disiplin, konsisten, dan bijaksana dalam menentukan prioritas. Bahkan, hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari pun adalah anugerah-Nya.

Pengalaman Sebagai Panitia Mengajarkan Menghargai Hal-Hal Kecil

Oleh: Galvin Farrel N. U. – Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023

Perkenalkan nama saya Galvin Farrel Nathanael Ulag. Saya diminta untuk menjadi Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023. Puji Tuhan, Athalia Cup akhirnya dapat dilaksanakan kembali setelah vakum kurang lebih 4 tahun. Sebenarnya, apa Athalia Cup itu? Athalia Cup adalah ajang perlombaan olahraga antar sekolah yang diselenggarakan oleh Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Tahun ini terdapat dua cabang olahraga yang diadakan, yaitu futsal dan basket. Tujuan dari Athalia Cup adalah untuk mengembangkan potensi diri secara khusus dalam bidang olahraga dan mempererat hubungan antar sekolah.

Pengalaman sebagai Panitia

Tentunya banyak sekali pengalaman yang saya peroleh sebagai panitia Athalia Cup 2023. Posisi sebagai Koordinator Bidang Pertandingan adalah salah satu posisi yang sangat penting perannya dalam Athalia Cup. Namun, tidak ada keraguan dalam hati saya saat menerima tawaran posisi tersebut. Saya berkomitmen akan bekerja keras untuk kelancaran jalannya Athalia Cup. Berada di posisi ini memberi saya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatur sebuah acara yang cukup besar dengan rapi dan memperhatikan detail-detail kecil supaya acara dapat berjalan dengan lancar. Ini tidak mudah bagi saya karena saya bukanlah orang yang rapi dalam bertugas dan memperhatikan detail-detail kecil.

Proses persiapan Athalia Cup benar-benar membentuk saya untuk memperhatikan detail-detail pekerjaan sekecil apapun. Jika ada detail yang terlewat pasti akan berdampak untuk saya sebagai Koordinator Bidang, bahkan berdampak untuk bidang lain yang bekerja sama dengan bidang pertandingan. Dari awal sampai akhir, guru pendamping selalu mengingatkan kami untuk membuat laporan pencatatan dengan detail. Pernah beberapa kali saya tidak mencatat dengan detail perlengkapan yang digunakan table Athalia Cup. Ketika saya ditanya guru pendamping, saya kesulitan untuk menjawab karena tidak mencatat dengan detail. Belajar dari pengalaman tersebut, saya membiasakan diri mencatat dengan detail setiap hasil pembahasan atau tugas bidang. Catatan yang detail ini membuat saya lebih siap ketika mendapat pertanyaan dari orang lain terkait dengan bidang pertandingan. Saya bisa menjawab dengan lancar karena apa yang saya tulis dengan detail, sangat membantu ketika ditanyakan mengenai bidang yang saya pegang.

Puji Tuhan, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini karena pengalaman yang berharga ini sangat berguna untuk masa depan saya, saat bersekolah, kuliah, dan bekerja. Melalui penyertaan Tuhan, saya belajar menjadi seorang pemimpin yang detail sehingga dapat mengarahkan pertandingan selama satu minggu dengan baik dan terstruktur.

Aksen SMA Athalia

Oleh: Joan Adalia Budiman – Koordinator Bidang Acara AKSEN 2023

Apa Itu Aksen?

Aksen, atau Ajang Kreativitas dan Seni, merupakan kegiatan pentas seni tahunan yang diselenggarakan oleh SMA Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong. Aksen menjadi wadah bagi seluruh siswa-siswi Sekolah Athalia untuk berkontribusi, baik sebagai panitia, pemeran, maupun penampil.

Setelah dua tahun vakum akibat pandemi COVID-19, Aksen akhirnya kembali digelar tahun lalu, meski tanpa Athalia Cup. Tahun ini, Sekolah Athalia kembali menghadirkan Aksen bersamaan dengan Athalia Cup, membawa semangat baru bagi seluruh siswa.


Konsep Unik Aksen: Siswa Sebagai Bintang Utama

Berbeda dari sekolah lain yang biasanya menutup acara olahraga antar sekolah dengan penampilan musisi tamu, SMA Athalia mengusung konsep berbeda.
Dalam Aksen, siswa-siswi SMP dan SMA Athalia sendiri menjadi bintang utama yang menampilkan bakat mereka di atas panggung.

Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa setiap siswa memiliki potensi kreatif dan talenta luar biasa yang layak untuk ditampilkan dan dikembangkan.


Charity Night: Bentuk Nyata Karakter “Influencing and Contributing”

Salah satu kegiatan istimewa dalam Aksen adalah Charity Night, sebuah malam amal yang menjadi wujud nyata nilai karakter Sekolah Athalia: Influencing and Contributing.
Melalui acara ini, siswa diajak untuk memberikan dampak positif kepada komunitas sekitar, belajar berbagi, dan berkontribusi bagi sesama.


Pengalaman Pribadi: Menjadi Bagian dari Aksen 2023

Sebagai Koordinator Bidang Acara, menjadi bagian dari Aksen 2023 merupakan pengalaman luar biasa dan berharga.
Awalnya, rasa tidak percaya diri muncul karena tanggung jawab yang besar. Saya sempat merasa belum cukup mampu untuk memimpin dan merancang konsep acara besar yang akan disaksikan ratusan orang.

Namun, seiring waktu, berbagai proses seperti rapat acara, penyusunan naskah drama, latihan penampil, hingga persiapan properti membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Meski ada tantangan dan hambatan, dukungan dari teman-teman dan guru membuat semua terasa lebih ringan.


Pelajaran Berharga dari Aksen

Mengikuti Aksen tidak hanya mengasah kemampuan organisasi, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan.
Beberapa hal yang saya pelajari antara lain:

  1. Kerendahan hati untuk mendengarkan orang lain, terutama saat melakukan kesalahan.
  2. Manajemen waktu, agar kegiatan belajar dan tugas kepanitiaan bisa seimbang.
  3. Pengorbanan dan dedikasi, karena untuk menghasilkan karya besar dibutuhkan usaha dan komitmen.

Penutup: Aksen sebagai Wadah Pertumbuhan dan Syukur

Menjadi bagian dari Aksen adalah pengalaman yang penuh makna dan patut disyukuri.
Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memampukan saya melalui setiap prosesnya.
Aksen bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga ajang pembentukan karakter, kreativitas, dan iman siswa SMA Athalia.

Liburan di Rumah Bebas ‘Drama’

Oleh: Hilda Davina S. – Staf Parenting PK3

Penilaian Akhir Semester (PAS) baru saja selesai. Hari libur menanti di depan mata. Anak-anak pun bersukacita menyambutnya. Liburan adalah waktu di mana anak-anak bisa rehat sejenak dari rutinitas belajar selama satu semester. Namun, di balik sukacita anak-anak, terdengar beberapa keluhan dari orang tua antara lain, “Anakku kalau liburan malah bangun siang,” atau “Anakku kalau di rumah, tiap hari main HP karena bingung mau main apa.

Keluhan-keluhan tersebut sering terucap saat anak-anak menjalani masa liburan di rumah. Dalam situasi ini, hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh rutinitas yang tidak sengaja terbentuk karena aktivitas anak di rumah turut ‘berlibur’ saat anak berada di rumah. Oleh sebab itu, orang tua perlu menciptakan rutinitas yang berkesinambungan untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak.

Rutinitas yang Sehat agar Liburan di Rumah Tetap Seru

Agar liburan tetap menyenangkan tanpa menghilangkan kebiasaan baik, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menerapkan disiplin di rumah:

1. Instruksi yang Jelas.

Orang tua perlu mengomunikasikan dengan jelas perilaku yang diharapkan dari anak dan menetapkan batasan. Hal ini bisa dilakukan dengan menciptakan rutinitas yang teratur, stabil, dan nyaman. Rutinitas dapat membantu mengembangkan perilaku dan kontrol pribadi pada anak-anak.

Agar anak dapat menikmati rutinitas mereka, ajak mereka untuk terlibat dalam membuat jadwal dan aturan yang akan disepakati bersama. Di samping itu, orang tua bisa berkreasi bersama anak untuk membuat poster dan menempelkannya di tempat yang gampang dilihat oleh seluruh anggota keluarga.

2. Berikan Pujian dan Semangat.

Pujian dan dorongan semangat dapat meningkatkan rasa percaya dan harga diri anak. Berikan apresiasi atas usaha mereka, contohnya saat mereka mendapatkan nilai baik.

Selain itu, pujian juga dapat diberikan ketika anak-anak menceritakan keberhasilan kecil yang mereka raih. Pujian paling efektif adalah pujian yang datangnya tanpa diharapkan anak. Contohnya, orang tua memberi pujian ketika anak membereskan kamarnya tanpa diminta. Pujian yang tidak diharapkan akan lebih berarti bagi anak dan menjadi motivasi untuk terus berusaha mencapai keberhasilan.

3. Berikan Konsekuensi.

Jelaskan terlebih dahulu perilaku seperti apa yang orang tua harapkan dan konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan jika mereka berbuat sebaliknya. Contohnya, jika anak tidak mau merapikan mainannya, maka mainan tersebut akan disimpan di gudang dalam waktu tertentu. Dengan demikian, anak belajar memahami tanggung jawab atas tindakannya.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

4. Jadilah Teladan.

Sikap orang tua memberi pengaruh yang besar pada anak. Anak perlu teladan orang tua yang selalu taat pada aturan, yang tentunya bersumber pada ketaatan kepada Tuhan. Contohnya, jika orang tua menerapkan aturan ‘tidak ada gawai saat makan,’ maka orang tua juga harus menerapkannya. Dengan demikian, anak melihat orang tua sebagai orang yang adil dan berpegang pada aturan yang telah disepakati.

Kedisiplinan membutuhkan proses panjang, tetapi dengan konsistensi dan kesabaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih rajin dan taat. Melalui proses ini, orang tua juga akan dibentuk menjadi pribadi yang lebih tegas tapi tetap penuh kasih dan sabar dalam mendidik anak-anak.

Sumber:
Ezzo, G. & Ezzo, A. M. 2001. Membesarkan Anak dengan Cara Allah.
Family routines: how and why they work. Diambil dari https://raisingchildren.net.au/pre-teens/behaviour/behaviour-management-ideas/family-routines